Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
TS
raganagori
Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
Selamat malam, agan-agan.
Cuma mau menyampaikan, STAY SAFE AND MAINTAIN YOUR HEALTH.
Dunia sedang dilanda musibah epidemi yang mematikan, Namun percayalah ini bukanlah yang pertama bagi manusia. Tetap berkepala dingin, bergerak, dan jaga diri serta orang-orang yang disayangi.
Sedikit tambahan, ada cerita baru, karena ane entah lagi kesambet inspirasi dari mana. Selamat menikmati.
Malam agan-agan, tengah malam ini, ijinkan ane sedikit berbagi cerita baru yang bener-bener baru ane bikin hari ini. Mungkin akan agak sedikit berbeda gaya penulisannya dengan cerita-cerita ane sebelumnya, tapi semoga tetap bisa menghibur agan sekalian.
Oya, cerita ini sengaja ane bagi dua, untuk menjaga agar tidak terlalu panjang. Part duanya mudah-mudahan bisa segera ane upload siang nanti. Mohon ditunggu ya.
Spoiler for Catatan Ketujuh : Translucent (part 1):
“Kamu masih perawan ndak?”
Itulah pertanyaan pertama yang dilontarkan Radit pada Windra, perempuan manis keturunan Tiongkok-Jawa yang dikenalnya saat hari pertama martikulasi. Aku sudah lama mengenal lelaki bernama Radit ini, jika bisa dibilang, kami adalah teman semasa kecil; Jadi bisa dibilang aku tidak begitu terkejut dengan pemilihan kata dan pikiran anak berambut ikal ini.
Namun, tentu saja bukan disitu masalahnya.
Lawan bicaranya adalah seorang perempuan, yang tak pernah ia kenal sebelumnya, dan ia mengajukan pertanyaan absurd tersebut seakan bagian kolom wajib administrasi di Kelurahan. Tolonglah.
Windra, objek dari pertanyaan tidak wajar yang menyerempet pelecehan itu, sejenak tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Sepasang matanya tertegun memandang sosok sinting yang bahkan tak menunjukkan ekspresi apapun, bahkan sekedar isyarat, “itu bercanda”, sekalipun. Setelah beberapa detik terdiam, perempuan itu memasang ekspresi yang sudah seharusnya ia pasang dalam situasi semacam itu, berbalik kembali ke kursinya, secara tragis mengabaikan tangan kanan Radit yang mengambang di udara. Lelaki itu berpaling padaku dengan ekspresi datarnya yang biasa,
“Jangan memasang ekspresi, aku salah apa, itu dihadapanku...!” Ujarku, diikuti dengan helaan nafas. Saat aku menarik Radit menjauh dari sana, telingaku menangkap desisan Windra yang jelas berkata, “freak.”
Begitulah hari pertama martikulasi kami. Cara kami memulai episode kehidupan SMA kami.
***************
Beberapa minggu berlalu, aliran waktu membawa kami semua mulai terbiasa dengan lignkungan baru ini. Pelajaran-pelajaran awal tidak terlalu menyulitkan, meski tugas bertumpuk seperti surat cinta yang tidak pernah kudapatkan semasa hidupku. Kami juga sudah mulai akrab dengan beberapa kawan baru di kelas, bahkan dengan Windra yang sedikit demi sedikit mulai bersedia berbicara padaku yang notabene adalah orang yang selalu berada di samping pria mesum yang menanyakan keperawanannya.
Sikap alamiah manusia adalah berkelompok. Lebih jauh, kecenderungan itu adalah mendekatkan diri dengan individu-individu lain yang membuat mereka merasa paling nyaman; Artinya, sudah menjadi qodrat manusia untuk berkumpul dan membentuk kelompok-kelompok kecil daripada berakrab-akrab dengan kelompok besar. Setidaknya, itulah yang tertulis dalam buku materi sosiologi yang kubaca. Begitupun dengan kami berdua, entah sejak kapan dan bagaimana, kami perlahan berkumpul dan akrab dengan beberapa teman lain dan pada akhirnya sering melakukan beberapa kegiatan bersama di luar kelas.
Orang-orang baru yang hadir diantara kami adalah : Juan, Kalia, dan yang agak mengherankan, Windra. Juan adalah seorang laki-laki bertubuh pendek dengan hidung hidung setegak gunung; cara yang aneh untuk mendefinisikan seseorang, tapi memang itulah ciri khas Juan. Kalia adalah perempuan paling enerjik yang pernah kutemui sepanjang hidupku. Dia tidak memiliki wajah yang bisa dibilang cantik, namun memiliki kepribadian yang mampu menarik banyak orang untuk menjadi temannya. Dia memiliki rambut panjang hitam nan lurus sepunggung yang sering diikat membentuk ponytail, berhidung pesek, dan gigi depan yang sedikit tidak rata meski tidak mengurangi penampilan secara keseluruhan. Ah...meski tidak rupawan benar, Kalia memiliki satu poin menarik sebagai perempuan remaja : ia memiliki bentuk badan yang bagus, terutama pnggulnya. Terakhir, adalah Windra, dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dia perempuan keturunan yang pastinya memiliki kulit dan wajah yang seputih mutiara. Windra adalah perempuan yang kemungkinan besar sangat stylish, karena wangi tubuhnya yang selalu semerbak tiap kali aku berada di dekatnya. Dia adalah tipe yang down to earth, karena semua orang di kelas tahu sejak hari pertama bahwa dia adalah putri tunggal seorang direktur perusahaan manufaktur peralatan rumah tangga skala internasional.
“Ji, perpus yuk!”, seru Radit tiba-tiba membangunkanku dari lamunan.
“Boleh. Nganggur atau mau ngerjain sesuatu?”
“Nganggur aja sih. Udah lama juga gak jenguk Bu Hilda...”, jawab pemuda itu sambil menyisir rambut ruwetnya dengan tangan ke arah depan.
“Mau ngajak yang lain?”, tawarku. Dia menggeleng.
“Tadi udah ngajak Kalia, sih. Tapi kayaknya dia ada rencana...”
“Kalia...” Gumamku. Aku menyandarkan kepala di atas meja dan menghadap padanya, menatap pemuda yang selama sepuluh tahun ini
tidak pernah menyebut satu perempuan secara spesifik. “Hmm....”
“Kenapa? Maksud dari hmmmm mu itu apa?!”
“Tidak ada...” Ujarku sok tak acuh. Sekilas aku bisa melihat sinar yang tak pernah kulihat berpendar dari sepasang mata jernih Radit.
“Hei, sebelum itu ke perpus. Mau ke Gramex...?” Ujarku menyebut nama Toko Buku besar yang menjadi tempat favorit kami sejak kecil untuk berbelanja komik dan perlengkapan sekolah tiap semester baru.
“Ada komik baru?”, tanyanya. Aku menggeleng.
“Bukaann.. ada novel yang mau aku beli. Kali aja ada di Gramex.”
“Heehh...novel siapa? Dorian J? Cheam Brian?”, lagi-lagi aku menggeleng.
“Penulis lokal kok. Rangga Wirianto.”
“Heeh... tumben suka sama karya lokal. Tentang apaan sih?”
“Ucapanmu seakan mengatakan aku benci produk dalam negeri... Yah... gak tahu juga sih, aku sekedar dapat rekomendasi dari sepupuku, Mbak Laras. Katanya bagus bangetttt....”, jawabku mengelak. Tidak mungkin kuungkapkan saat seperti ini.
“Kapan-kapan pinjem, ya!”, ujar Radit sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
“Nanti. Kalau aku sudah bosen...”
Setelah bel pulang berbunyi. Kami berdua melaju menuju Gramex dengan sepeda motorku. Kebiasaan kami di toko buku ialah, meski kami berangkat bersama, dan meskipun salah seorang diantara kami hanya bertujuan untuk menemani, kami tidak pernah berkeliling bersama. Kami berdua langsung berpisah begitu memasuki toko dan berpetualang sendiri-sendiri. Alasannya sederhana, selera kami berbeda jauh soal buku. Hal itu tidak bisa disatukan. Radit adalah penggemar berat komik dan buku-buku yang mengandung desain visual menarik, sementara aku adalah meskipun tidak membenci komik, adalah penggemar buku-buku full-body text dan tema-tema yang bertema “berat” bagi kepala mengambang Radit yang bebas. Tentu saja seiring dengan waktu, toleransi kami atas perbedaan tumbuh. Tapi tetap saja, selera kami tidak pernah benar-benar bersatu. Solusinya, daripada saling ribut, kami lebih suka membebaskan satu sama lain, dan bertemu lagi saat hendak pulang.
Itulah kenapa aku berani mengajaknya membeli novel karya Rangga Wirianto. Dia tidak akan terlalu tertarik dengan isinya, meski mungkin sedikit bertanya-tanya.
“Oke, setengah jam lagi ketemu ya!! Cuma beli satu kan? Gak ada tambahan, kan?!!” tanyanya mengonfirmasi kebiasaan lepas kendaliku. Aku hanya menyengir.
Setelah mengambil buku yang kuinginkan, dan berkeliling sebentar, aku segera mengambil antrian di kasir. Sambil menunggu giliran, aku menyebar pandangan ke berbagai sudut toko, dan langsung menemukan sosok pria berambut ikal itu di wilayah rak buku komik. Sesuai dugaanku. Tanpa sadar, seulas senyum terulas di bibirku. Gerak waktu melambat dalam ruang luas Gramex, mengalirkan waktu kembali ke masa lalu. Jutaan episode telah kami lalui bersama, dan kami tidak pernah benar-benar berubah. Kami berdua masih bersama, seperti dulu.
Setelah membayar, aku menghampiri sosok yang masih berkutat dengan komik di hadapannya. Dan entah karena mendengar langkah atau merasakan kehadiranku, dia berpaling. Aku hendak tersenyum, hingga akhirnya aku sadar bahwa pandangan matanya tidak tertuju padaku. Ia menerjang menembus sesuatu, seseorang, di belakangku. Praktis, akupun menoleh mengikuti arah matanya; Di sana, berjarak tak lebih dari beberapa langkah dari tempatku berdiri, seorang perempuan berpinggul bagus tampak tengah membaca komik di sisi lain rak. Dia adalah Kalia.
“Kalia...?” Aku mengambil inisiatif menyapa.
Perempuan itu menoleh, dan lantas langsung tersenyum lebar. Saat itu aku menyadari betapa manis senyum perempuan itu.
“Aji? Radit? Kalian juga beli komik?”, tanyanya sambil mendekati kami.
“Ah... enggak. Aku cuma beli novel... yang dititipkan sepupuku. Radit hanya menemani. Kamu suka komik?”, kucoba mengalihkan objek pembicaraan.
“Ya... banget sebenarnya. Sejak kecil, aku suka komik dan buku-buku cerita. Ini aku rencananya mau beli novel sama komik favoritku yang baru rilis...”, jelasnya. Aku mengangguk-angguk, seraya melirik ke arah Radit. Pemuda itu hanya diam seperti mati kutu. Tidak tampak sikap liarnya yang biasa.
“Kalau gitu, Kalia, kamu mau ikut kita sekalian habis ini ke Perpus? Kami mau baca-baca di sana juga...” Tawarku. Bisa kulihat dari sudut mataku, Radit berjengit.
“Maaffff banget, Ji, Dit. Habis ini aku juga sudah janji ke Mama buat bantu-bantu acara di rumah. Kakak perempuanku nikah minggu depan. Jadi keluarga sedang banyak persiapan... Sumpah deh, lain kali! Pasti!”, jawab Kalia sambil menempelkan kedua telapak tangannya di depan muka dan membungkuk.
“Oo.... baiklah. Lain kali...” Ujarku. Radit kembali layu.
“Baiklah, kalian berdua. Aku balik dulu, ya....!!”, seru Kalia berlalu ke kasir.
Kami berdua memperhatikan sosok ceria itu dalam hening. Lalu aku berbalik, dan menepuk pundak Radit,
“Kau tidak apa-apa?”
“Apa maksud pertanyaan itu?”, jawab Radit berusaha menutupinya. Aku terkekeh pelan.
“Lanjut ke Perpus!!”, seruku. Radit hanya bergumam dan mengangguk. Ia berjalan di depanku, sedangkan aku memang sengaja
mengambil posisi di belakangnya agar aku bisa memandangi punggung sosok kawan masa kecilku itu.
Dia berbohong. Aku tahu itu. Dan aku bersyukur karena dia telah memilih untuk berbohong di depanku. Setidaknya, aku tidak perlu terluka lebih jauh dengan kenyataan lain di depanku. Akupun telah berbohong. Aku telah merasa, sejak Radit berkenalan dengan Kalia, itu akan menjadi titi balik yang mengubah sejarah panjang sepuluh tahun kebersamaan kami berdua. Aku telah munafik, dengan berharap dunia baru ini tidak akan mengubah aku ataupun Radit.
Sambil terus menatap punggu yang membungkuk karena lesu itu, hembusan angin dingin meremas ulu hatiku, melahirkan rasa ngilu di dadaku. Rasa sakit yang berasal dari satu lagi kenyataan hidup yang menghantam, saat aku sadar bahwa Raditlah yang akan berubah, tumbuh, dan hidup. Sementara aku tertinggal di dunia lamaku, dan masih mencintainya.