Lemah
Quote:
Keesokan harinya di sekolah
“yang kamu jadi mau ngomong?”, kata Wina di depan kelasku
“jadi yang, ayo sini”, kataku membawa Wina ke depan lab
“ngomong apa yang? Sepenting apa?”, katanya
“tentang hubungan kita yang”, kataku
Sontak wajah Wina menjadi khawatir.
“sebelum nya aku mau kamu jangan marah dan jangan ngerasa gimana-gimana yang”, kataku
“ngomong apa sih yang??”, kata Wina dengan mata berkaca-kaca
“jadi gini yang”, kataku sambil memegang tangan Wina
“kemarin kak Suci liat kita di kelas kamu, dia marah-marah sama aku. Aku yakin sekarang dia benci sama aku, dan aku ga tau harus gimana. Aku tau kalo aku salah, ga bisa kontrol diri aku, aku harusnya bisa nahan kamu yang. Tapi aku ga bisa”, kataku
“terus yang?”, kata Wina
Akupun memegang tangan Wina erat.
“salah ya aku sayang kamu? Aku baru pertama kali ini ngerasa kaya gini yang. Setiap sama aku aku ga bisa kontrol diri aku, pikiran aku blank. Aku ga nyangka aku selemah ini sama kamu yang”, kataku sambil memegang pipi Wina
“ga salah yang, aku malah seneng. Aku juga minta maaf, Cuma sama kamu aku kaya gini yang. Kamu kan tau aku pernah pacaran tapi pegangan aja aku ga berani. Sama kamu aku bisa ngelakuin semuanya, aku ga ngerasa takut atau apapun”, kata Wina memasang wajah manja
“setiap kamu manja aku selalu pengen peluk kamu yang, aku juga ga ngerti kenapa. Semua yang kamu lakuin ke aku bikin aku lupa sama yang lain dan Cuma inget sama kamu. Aku takut. Aku takut kalau aku kehilangan kontrol lebih dari yang kemarin yang”, kataku
“sayang, kamu ga perlu khawatir, setiap yang kamu lakuin ke aku, aku suka dan aku seneng yang”, katanya sambil memegang pipiku
Perasaan itu muncul lagi, melihat wajahnya pikiranku langsung blank dan secara perlahan wajahku pun mendekati Wina.
“yang, muka kamu kedeketan”, kata Wina
“maaf”, kataku dengan wajah yang memanas
“hmmm”, katanya menggelengkan kepala
“aku suka”, lanjutnya lalu mencium keningku.
Akupun menghela nafas, sambil memegang erat tangan Wina
“yang muka kamu merah banget, aku suka. Maaf ya di kening”, kata Wina
tak lama suasana sekolah sudah mulai ramai. Kamipun masih duduk sambil ngobrol ringan. Wina pun memegang dadaku.
“kamu masih deg-degan ini yang, ga apa-apa?”, kata Wina
“ga apa-apa ko, nanti pas belajar juga ilang”, kataku
“yang”, kata Wina melihatku dengan wajahnya yang manja
“yang jangan kaya gitu nah”, kataku
“hehehe. Maaf-maaf. Beneran yang kamu lucu banget, aku baru liat kamu kaya gini”, kata Wina sambil mendekap tanganku.
Tak lama bel masuk pun berbunyi.
“udah masuk yang., ayo”, kata Wina
“yaang”, kataku dengan nada memelas
“yang kamu jangan kaya gitu dong aku kan jadi pengen sama kamu nih”, kata Wina menepuk pipiku
Akhirnya kami ke kelas masing-masing. Saat kembali ke kelas Luna menyambutku, entah kenapa dia berbeda dari yang kemarin.
“udah pacarannya?’, tanya Luna
Aku hanya diam dan mempersiapkan buku.
“aku ko di cuekin sih”, kata Luna
“apa Lun?”, kataku
“udah pacarannya?”, kata Luna
Akupun hanya mengangguk. Pelajaran hari ini penuh dengan kegiatan praktek, terutama praktek biologi, kamipun mau tidak mau kotor-kotoran dengan tanah dan tanaman yang ada di sekitar sekolah.
“bentar lagi istirahat kalian bikin laporannya nanti kumpulin di ruangan guru ya”, kata guru biologi
Kamipun mengantri di keran dekat lab untuk membersihkan tangan, dan bel istirahat pun berbunyi. Setelah mencuci tangan aku langsung bergegas ke kelas Wina.
Aku pun bertemu Wina yang sedang berlari.
“kamu ngapain lari?”, kataku
“huff. Huff. Aku.. mau.. ke kelas.. kamu”, katanya terengah-engah
“ko kita samaan sih, aku juga mau ke kelas kamu tau”, kataku
Diapun menaruh jari di bibirnya dan memandangku dengan pandangan manja. Aku langsung memegang tangan Wina dan mengarah ke kantin.
“yang pelan-pelan kali megangnya”, kata Wina
“abis kamu kaya gitu ngeliatnya”, kataku
“hehehe. Suka kan tapinya?”, goda Wina
“udah ah yang, aku laper”, kataku
Kamipun makan nasi uduk. Selesai makan kita habiskan waktu ngobrol dan bercanda di kantin. Saat jam istirahat selesai pun kami tidak langsung kekelas, kami menunggu semua siswa pergi baru kami berpisah. Mungkin agak berlebihan tapi itu yang kulakukan saat bersama Wina.
“kamu hati-hati yang”, kataku
“yang, kelas aku deket loh. Dah”, katanya
Dan dia tersandung
“tuh kan aku bilang juga apa. Hati-hati”, kataku
“hehehe. Iya sayang”, Wina pun sudah ke kelasnya.
Akupun berjalan ke kelas, sampai kelas ternyata guru juga baru masuk. Pelajaran sekarang itu tata boga sampai pulang, dan sekarang ini praktek lagi. Aku pun menyiapkan celemek dan sarung tangan plastik. Untuk kelompok dari dulu tidak pernah berubah karena nama yang dekat aku, Luna dan Rathi selalu sekelompok, begitu juga Vivi.
“Teo, kamu siapin tempat nya ya buat kita”, kata Luna
Aku tidak menjawab langsung ke luar kelas, saat di ruang tata boga kami di bagikan resep makanan yang harus di masak. Tak lama kelompokku sudah berkumpul, dan ku berikan resep pada mereka. Luna pun memberikan komando apa saja yang di butuhkan, kami pun segera menyiapkan. Ketua kelompok memenag di pegang oleh Luna karena dia yang pintar dalam hal memasak.
“Teo, kamu blender bumbunya yah, aku nyiapin ayamnya”, kata Luna
Akupun mengikuti instruksinya. Oh iya, saat tata boga aku pasti selalu bawa handsaplas karena tanganku sering terluka entah karena apa. Untuk kelompok sebisa mungkin aku bersikap profesional, tanpa memikirkan masalah pribadi ku dengan kelompok.
“Teo, bantuin angkat ayamnya”, kata Rathi
“Teo, panasin minyaknya”, kata Vivi
“Teo ini, Teo itu, Teo, Teo Teo”, begitulah yang terjadi, karena aku cowo sendiri di kelompok.
“sekarang tinggla proses goreng aja ya, Teo tolong aduk ayamnya tapi jangan cept-cepet”, kata Luna
Akupun melakukannya. Entah berapa tetes minyak panas yang kena tangan, dan tanpa sadar telunjukku berdarah, akupun menutupnya dengan handsaplas, begitu juga jari tengahku.