- Beranda
- Stories from the Heart
KABUT (Horror Story)
...
TS
endokrin
KABUT (Horror Story)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 19-05-2019 05:10
disturbing14 dan 30 lainnya memberi reputasi
29
620K
Kutip
2.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#130
Quote:
CHAPTER 1
Di setiap penghujung bulan desember orang-orang pasti punya cara tersendiri untuk merayakan malam pergantian tahun. Ada yang memilih berkumpul bersama keluarganya sambil makan-makan direstoran, ada juga yang menghadiri acara-acara besar semacam konser atau pesta kembang api yang diadakan statiun tv lokal. Atau mau yang lebih intim, berkumpul bersama keluarga besar sambil bakar-bakar diteras rumah dan menyalakan kembang api kecil-kecilan. namun bagi orang kampung, tahun baru bukanlah sebuah kewajiban yang harus dirayakan, jadi untuk anak rantau sepertiku tidak ada alasan untuk pulang.
Entah berapa kali tahun baru yang aku habiskan hanya duduk-duduk diam dikamar kosan atau bahkan ketiduran. Namun berbeda dengan akhir tahun ini, aku ingin menorehkan sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Ingin menghabiskan tahun ini dengan sebuah perayaan, sekalian juga sebagai pesta karena dua bulan yang lalu aku baru saja diwisuda dan telah resmi menjadi sarjana. Bukan sebuah perayaaan glamor disebuah café ataupun kamar karaoke, bukan juga dengan pesta miras oplosan dikamar kosan, atau menyaksikan penari striptis di sebuah klub malam. Jelas aku tak sanggup melakukan semua itu, bukan saja karena alasan dosa dan takut masuk neraka tapi status yang berubah dari mahasiswa menjadi pengangguran membuat semua itu menjadi sangat tidak mungkin untuk dilakukan.
Naik gunung, belakangan ini menjadi sebuah trend generasi milenial. aku bukan anggota mapala dikampus, sekalipun aku anak kampung tapi menjelajah gunung adalah hal yang baru buatku. Maklum dikampungku banyak sekali pantangan memasuki daerah yang belum terjamah. Jangankan gunung, hutan sebelah kampung saja aku tidak berani memasukinya. Katanya banyak dedemitnya, hewan buas dan masih banyak lagi cerita-cerita orang kampung untuk melarang anaknya pergi jauh-jauh kedalam hutan.
Rencana naik gunung ini diawali dari sebuah obrolan iseng disore hari. Ketika itu Baim, entah aku harusnya menyebutnya teman atau apa, karena bagi dia melebeli hubungan dengan kata teman atau sahabat itu terlalu berat. Ketika ada dua orang yang memutuskan untuk menjadi sahabat itu artinya ada kewajiban-kewajiban tidak langsung yang harus dipenuhi, seperti tidak boleh menghianati, harus saling menolong dan istilah-isitlah lainnya. dia bukan manusia yang suka dengan kewajiban, maka Baim lebih suka menyebut hubungan kami berdua ini dengan sebutan “interaksi antar manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan”. Pemikirannya sangat rumit sekali, orang yang baru mengenalnya mungkin akan menganggap bawah dia sudah gila. Walaupun begitu kami sering berkumpul bersama, entah ditempat tongkrongan ataupun dikosan.
“Kita rayakan digunung saja, ditemani segelas kopi dan sebatang rokok kretek menghabiskan malam.”
“Naik gunung bagiku mungkin hal baru, tapi bagi kamu kan bukan tantangan lagi. Katanya mau menutup akhir tahun dengan hal yang berkesan ?”
“Aku belum pernah naik gunung diluar jawa barat.”
Baim lebih berpengalaman soal mendaki. Hampir seluruh gunung dijawa barat pernah ia daki. Entah berapa kali dia turun naik gunung hanya untuk mengantar adik-adik kelasnya dikampus. Kecintaannya pada gunung sudah melebihi besar gunung itu sendiri, begitu yang pernah dia katakan.
“Nanti aku ajak yang lain, biar makin rame.”
“ Kalau mau rame naik kora-kora , jangan naik gunung.”
“Dasar sundal, kalau Cuma kita berdua yang berangkat bukan pesta namanya tapi kencan.”
“Pesta ? kita kan mau naik gunung bukan pesta.”
“Terserah, pokonya nanti aku ajak sekalian si Imron.”
“Okelah. Kalau banyak orang makin banyak makanan. Sekarang aku mau mengunjungi pacarku dulu.” jawab Baim sambil beranjak dari duduknya.
Pacar yang dimaksud Baim adalah gunung manglayang yang ada diperbatasan bandung dan sumedang. Gunung itu yang paling sering dia daki, mungkin karena manglayang satu-satunya gunung terdekat dikota tempat kami merantau ini. kalau sudah ingin mendaki dia tak peduli lagi pada waktu, Baim bisa berangkat jam 7 pagi, jam 12 malam, atau kapanpun dia ingin pergi.
Baim yang bernama lengkap Ibrahim ini anak dari juragan tanah dikampungnya, dia tak pernah mau menyelesaikan kuliah dengan alasan masih betah. Umurnya mungkin beberapa tahun lebih tua dariku. Ketika teman seangkatannya kini sudah bekerja dan bekerluarga, dia masih tetap memilih hidup menggelandang dikota orang. Entah apa tujuan hidupnya hanya dia dan tuhan saja yang tahu.
Dua hari sebelum tanggal 31 desember, aku mengajak Imron. Dia teman dekatku yang lebih normal, kita masuk kuliah bareng dan lulus bareng, walaupun kita dari kota yang berbeda tapi nasib sebagai anak rantau telah menyatukan kita. dia telah bekerja lebih dulu dibanding aku. Dia bekerja disebuah restoran cepat saji, kerjanya setiap hari menjual ayam goreng kepada pelanggan sambil sesekali menawarkan CD.
“Wah naik gunung ? kamu kan anak kampung. Pemandangan hutan dan alam itu bukan hal baru lagikan ? kenapa ga ngajak ke diskotik saja, kita kan belum pernah nyoba.”
Alasanku mengiyakan ajakan Baim naik gunung sebenarnya bukan alasan yang begitu puitis macam quote-qoute yang sering diucapkan oleh para pecinta alam. Bagiku naik gunung hanya untuk mendapatkan foto bagus dipuncak kemudian dipamerkan di media sosial agar bisa mengundang decak kagum teman-teman, sesederhana itu.
“Kamu itu selama ini hidup terlalu nyaman. Sesekali harus mencoba melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan. Mumpung masih muda, mumpung ada umur.”
“Terlalu nyaman mukamu. Tiap akhir bulan selalu kekurangan uang. Tes CPNS gagal terus, ijasah sarjanaku tidak bisa dijadikan modal buat dapat kerjaan bagus, Cuma mentok jadi pelayan.” Jawab Imron kesal.
“Lah bukannya cita-citamu ingin menjadi pelayan masyarakat. Melayani orang dikantor pemerintahan dan direstoran emang apa bedanya ? intinya kan sama-sama melayani.”
“Setidaknya kalau aku jadi PNS, minimal hidupku aman bisa dapet uang pensiunan.”
“Masih muda kok pikirannya sempit begitu, masih banyak peluang lain. Jadi pengusaha, kita itu sebagai generasi baru yang terdidik harus menciptakan peluang kerja bukan mencari kerja.”
“Mukamu, ngasih petuah ke orang tapi sendirinya masih jadi pengangguran.” Imron tambah kesal.
“hehe..”
Akhirnya setelah obrolan cukup panjang dan merayunya habis-habisan Imron mengiyakan ajakanku untuk naik gunung. Alasannya sederhana, karena aku membolehkannya membawa teman wanitanya yang sedang ia dekati ditempat kerja.
Tanggal 31 desember kita janjian untuk bertemu di terminal Cicaheum, tujuan pendakian adalah gunung yang berada di jawa tengah. Tapi gunung mana yang akan kami daki belum ditentukan. kata Baim gampang datang dulu saja ke jawa tengah, nanti kalau sudah sampai disana kita tinggal milih gunung saja.
Aku dan Imron datang bersama setelah pergi ke tempat penyewaan alat-alat camping. Maklum kami bukan anak gunung seperti Baim yang memliki perlatan lengkap. Setelah membeli 4 tiket bus Budiman kami duduk didepan terminal, tidak begitu lama seorang wanita datang menghampiri kami.
“Hesti” begitu ucap wanita itu memperkenalkan diri.
“Topan.” Balasku sambil tersenyum. Teman wanita si Imron ini begitu cantik dan manis, dia memang pandai memilih wanita.
Waktu sudah menunjukan jam 3 sore, bus baru ada nanti sekitar jam 4. Tapi Baim belum juga datang, kami sempat gelisah, jangan-jangan dia tidak jadi datang. Imron mencoba menghubunginya, namun nomernya tidak aktif.
Sore itu langit diterminal Cicaheum tampak gelap, tetes-tetes air mulai jatuh dari langit. Terdengar suara gelegar petir sebagai pertanda hujan deras akan datang. bus jurusan kami, baru tiba diterminal, para penumpang mulai masuk mengamankan kursi. Aku menyuruh Hesti dan Imron untuk masuk duluan, sementara aku berkeliling terminal untuk mencari keberadaan Baim.
Dipintu masuk terminal terlihat Baim sedang berjalan, dia menggendong keril. Wajahnya tampak berkeringat dan baju yang dipakainya begitu kotor dan lecek. Begitu aku mengampirinya dan bertanya, ternyata dia baru turun dari gunung manglayang. Semalam dia menginap disana seorang diri.
“Gila, bakalan mogok baru turun terus sekarang mau naik lagi ?”
“Tenang, semalam itu itung-itung pemanasan. Nanti kan bisa istirahat di bus.” Jawabnya enteng, namun dari matanya ai terlihat lelah.
Kami berempat sudah duduk didalam bus. Baim langsung tertidur dikursinya, mungkin karena kelelahan. Sementara Imron Nampak sibuk sedang berbincang dikursi belakang dengan teman wanitanya.
Hujan turun begitu derasnya ketika bus kami berangkat. aku lupa bahwa bulan oktober sampai april adalah musim hujan. Aku hanya berharap semoga saja nanti dijawa tengah hujan tidak turun selama kami melakukan pendakian.
Sambil menatap pemandangan disepanjang jalan dari balik kaca bus aku tersenyum, ini pendakian pertama sekaligus perjalanan jauhku untuk yang pertama kali. Uang tabungan yang aku keluarkan untuk tiket bus dan modal perjalanan harus seimbang dengan pemandangan dan pengalaman yang akan aku dapatkan, harus.
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
Diubah oleh endokrin 18-05-2017 21:34
regmekujo dan 17 lainnya memberi reputasi
18
Kutip
Balas
Tutup