- Beranda
- Stories from the Heart
Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
...
TS
raganagori
Jurnal Langit : Malam Terakhir Sebelum Kematian (KUMPULAN CERPEN)
Selamat malam, agan-agan.
Cuma mau menyampaikan, STAY SAFE AND MAINTAIN YOUR HEALTH.
Dunia sedang dilanda musibah epidemi yang mematikan, Namun percayalah ini bukanlah yang pertama bagi manusia. Tetap berkepala dingin, bergerak, dan jaga diri serta orang-orang yang disayangi.
Sedikit tambahan, ada cerita baru, karena ane entah lagi kesambet inspirasi dari mana. Selamat menikmati.
NEW STORY :
Catatan Keempat Belas : Satu Hari dalam Hidup Elang
CATATAN JURNAL LANGIT :
Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian
Catatan Kedua : Belajar Untuk Mencintaimu
Catatan Ketiga : Rasa Yang Dibawa Oleh hujan
Catatan Keempat : Tangan Kurus Ibu
Catatan Kelima : Lucid Dream
Catatan Keenam : Tidak Ada Makam Di Kotaku
Catatan 7.1 : Translucent (part 1)
Catatan 7.2 : Translucent (part 2)
Catatan Kedelapan : Garis Batas
Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 1)
Catatan 9.2 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 2)
Catatan Kesepuluh : Dua Denyut
Catatan Kesebelas : Punggung Ibu
Catatan 12.1 : Kisah Kisah Bulan Oktober (Part I)
Catatan 12.2 : Kisah Klise Bulan Oktober (Part II)
Catatan Ketiga belas : Separuh dan Kau
Cuma mau menyampaikan, STAY SAFE AND MAINTAIN YOUR HEALTH.
Dunia sedang dilanda musibah epidemi yang mematikan, Namun percayalah ini bukanlah yang pertama bagi manusia. Tetap berkepala dingin, bergerak, dan jaga diri serta orang-orang yang disayangi.
Sedikit tambahan, ada cerita baru, karena ane entah lagi kesambet inspirasi dari mana. Selamat menikmati.
NEW STORY :
Catatan Keempat Belas : Satu Hari dalam Hidup Elang
CATATAN JURNAL LANGIT :
Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian
Catatan Kedua : Belajar Untuk Mencintaimu
Catatan Ketiga : Rasa Yang Dibawa Oleh hujan
Catatan Keempat : Tangan Kurus Ibu
Catatan Kelima : Lucid Dream
Catatan Keenam : Tidak Ada Makam Di Kotaku
Catatan 7.1 : Translucent (part 1)
Catatan 7.2 : Translucent (part 2)
Catatan Kedelapan : Garis Batas
Catatan 9.1 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 1)
Catatan 9.2 : Benang-Benang Kusut Di Kepalaku (Part 2)
Catatan Kesepuluh : Dua Denyut
Catatan Kesebelas : Punggung Ibu
Catatan 12.1 : Kisah Kisah Bulan Oktober (Part I)
Catatan 12.2 : Kisah Klise Bulan Oktober (Part II)
Catatan Ketiga belas : Separuh dan Kau
Diubah oleh raganagori 09-05-2020 02:46
tien212700 dan 56 lainnya memberi reputasi
57
11.1K
Kutip
35
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
raganagori
#1
Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian
Ini adalah cerita ane yang pertama , berjudul Penghibur Bagi Yang Kesepian
Selamat menikmati ya gan.
Mohon kritik dan sarannya
Selamat menikmati ya gan.
Mohon kritik dan sarannya
Spoiler for Catatan Pertama : Penghibur Bagi Yang Kesepian:
Jangan percaya dengan manusia modern yang mendadak bicara seperti layaknya filsuf. Kalian tahu kan, seseorang yang menggunakan diksi-diksi puitis dalam kalimatnya, dan berbicara dengan wajah yang dibuat seakan-akan ruh Socrates yang telah datang ke kamarnya di malam hari untuk mengajaknya berdiskusi tentang hidup, kematian, serta keadilan. Orang-orang seperti itu, bisa jadi hanyalah korban dari salah satu penyakit gila paling berbahaya umat manusia : Takut akan kekalahan. Mereka, bisa jadi, adalah orang-orang yang sudah kalah. Gagal, menghadapi segala sesuatu yang ada di depannya, lalu untuk menyalurkan rasa malu atas kekalahan tersebut, ia menjelma menjadi Aristoteles dalam beberapa malam. Membuat sebuah alibi yang dikemas dengan kalimat indah nan puitis, sebuah alibi yang memungkinkan mereka melarikan diri dari kegagalan, dan menyangkal fakta bahwa mereka tidak mampu mengatasi masalah.
Sendirian, di bawah remang lampu, aku mencoba mengurai awan-awan yang menggelayut di horizonku. Serupa kabut, begitu pekat awan-awan itu. Aku mencoba menyingkirkannya sekuat tenaga. Namun, selayaknya kabut, manusia tidak punya alat yang cukup canggih untuk menyingkirkan kabut dalam sekejap secara tuntas. Kepekatan itu, perlahan mengalir lambat menuju dadaku. Merambat meninggalkan perasaan ganjil dalam setiap jejaknya, dan kemudian membungkus sesuatu di ulu hatiku. Sejurus kemudian, hawa dingin menyergap dadaku, tepat di mana kabut itu membungkusnya. Sebuah hawa dingin yang seganjil sumbernya, membuat bulu kudubku serentak berdiri. Hawa dingin itu begitu ganjil hingga mengundang ketakutan dalam benakku.
Pernahkah kalian merasakan perasaan seperti itu?
Aku harap pernah, karena aku tidak mau menjadi manusia pertama yang merasakan perasaan takut seperti ini.
Apa yang membuatku setakut ini? Aku penasaran. Rasa takut ini berpadu dengan kengiluan yang menggelisahkan di dada. Perasaan yang sungguh tidak nyaman. Lama aku terdiam memandangi langit, mencari sepatah kata yang mampu mendefinisikan kebingunganku. Netbook ku masih masih menyala, menampilkan office word dengan lembar kerja yang masih kosong. Kuraih cola disebelahku, berharap dengan karbondioksidanya mampu menyingkap kabut dan perasaan tidak nyaman ini. Namun, semuanya jadi semakin buruk. Aku merenung beberapa lama lagi, dan kemudian sedikit tersentak saat, mungkin, menemukan jawabannya.
Inikah rasa tidak berdaya? Perasaan kalah?
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kedua orang tuaku sudah tidur. Aku belum menghasilkan apapun di laptopku. Dan perasaan kalut itu masih menggelayutiku. Kuambil dompetku, mengecek sisa uangnya, dan berjalan menuju swalayan dekat rumah. Kuambil sebotol minuman keras yang masih legal diperjualbelikan secara bebas, dan membawanya ke kasir, seorang laki-laki muda berusia kira-kira sama seperti kakakku. Dia agak mendelik dan terkejut melihat apa yang kubeli. Memang ini pertama kalinya aku membeli miras, dan selama ini mungkin kasir itu menilaiku sebagai remaja baik-baik karena tidak pernah bertindak nyeleneh seperti ABG-ABG tanggung yang biasanya berkumpul di pintu gerbang perumahan seberang. Namun sesaat kemudian, dia berusaha mengembalikan raut wajahnya, dan berusaha tidak bertanya apapun. Aku membayar miras itu, dan berjalan pulang. Aku memang tidak pernah minum, menyentuh sebotolpun tidak pernah. Tapi malam ini, entah kenapa, aku ingin mencoba sesekali. Bukannya aku sangat depresi atau semacamnya, hanya rasa kalut ini, membuatku ingin mencoba sesuatu yang lebih kuat dari sekedar sekaleng cola.
Ah... lagipula itu bukan benar-benar miras, hanya mereknya saja.
Kubuka dan kutenggak miras pertamaku di halaman belakang. Rasanya tidak begitu enak, pikirku. Namun, beberapa teguk kemudian, kabut yang membungkus ulu hatiku perlahanlahan tersingkap seiring dengan aliran miras yang melalui tenggorokanku. Sekali lagi, aku memandang ke langit malam, dan awan-awan itu masih belum beranjak.
Sebuah pesan masuk ke handphoneku.
....aku udah gak tahu harus ngomong apa lagi...
Mataku yang mulai berat, hanya menangkap potongan kalimat itu. Sebilah pisau mengiris jantungku. Enggan sudah aku membaca lebih lanjut. Kuletakkan HP dan melanjutkan lamunanku yang terasa semakin melayang dengan sekaleng miras ditanganku.
Pesan dari Braham, teman satu jurusanku, rekan kerjaku dalam riset maupun organisasi, sahabatku, dan kini jadi orang yang paling membenciku, kurasa. Lelaki asal Banyuwangi yang sempurna. Berwajah tampan, berkulit putih, cerdas, berjiwa pemimpin, dan di atas semuanya, alim. Kami pertama kali bertemu saat himpunan jurusan meminta kami berdua menjadi tutor sebaya bagi rekan-rekan jurusan. Setelah itu pertemuan kami berlanjut ke lomba-lomba riset sebagai rekan. Dia dengan kelebihan kuantitatifnya, dan aku dengan penguasaan konsep serta analisa induktif yang lumayan bisa diandalkan. Mereka bilang(teman-teman jurusan), kami layaknya pasangan serasi, karena memang kemampuan kami yang saling melengkapi.
Keterlibatan dalam dunia organisasi kampus membawa kami semakin jauh dalam ikatan persahabatan yang bersifat platonis. Saat itu, aku menikmati sanjungan-sanjungan dan persahabatan kami. Aku menikmati panggung utama yang kami tempati, dan gelar yang disematkan pada kami berdua. Namun, serupa pada akhirnya, suatu mekanisme mendorong ku turun dari panggung secepat aku naik. Aku tidak akan menceritakannya di sini. Sepotong kalimat dari Braham sudah cukup menjelaskan padaku dan kalian betapa dia kecewa. Aku mencoba melupakan semuanya, dan kembali menenggak minuman keras yang sudah kehilangan khasiatnya itu. Kabut itu kembali menyelimuti ulu hatiku.
“Menurutku Tuhan itu kesepian...” Gumamku sambil menatap langit-langit perpustakaan.
Rina, anggota pecinta lingkungan jurusan, Eco Campus, mengangkat wajahnya mendengar ucapanku. Air mukanya berubah, ia memiringkan kepalanya, tanda meminta konfirmasi atas kalimat yang didengarnya.
“ Kok bisa?”
“ Karena kita ada...”
“Maksudnya...?”
“ Apa tujuannya menciptakan manusia?” Ujarku sambil membalik halaman The Class karya Erich Seagal. Cerita yang menarik, dan setelah dua jam menghabiskan halaman demi halaman, aku mulai merasa aku sedikit mirip dengan salah satu tokoh utamanya, Andrew Eliot. Datar di luar, berusaha bersikap sebagaimana aturan, dan menghadapi kegagalan.
“ Kalau menurut Qur’an sih untuk menyembah Allah kan?” Jawabnya sederhana.
“ Kenapa dia butuh disembah?”
“ Bukan Allah yang butuh, justru kita yang butuh... karena penyembahan pada Allah itu kan bentuk kepasrahan dan kepercayaan kita padaNya, dan setahuku, bentuk penyerahan diri dan ibadah kita padaNya adalah mekanisme penyaluran sifat dasar manusia yang membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi daripadanya...”
“ Aku tidak menolak fakta itu. Kita menyembah, beribadah karena itu untuk memenuhi kebutuhan spiritual kita. Menghilangkan dahaga jiwa yang kesepian. Sebenarnya itu sebuah kosekuensi logis dari penciptaan. Seperti aplikasi komputer dan segala softwarenya, jiwa kita memang sudah dirancang untuk membutuhkan Tuhan. Maksudku, kebutuhan kita, rasa lapar, haus, ngantuk, dan kebutuhan untuk berserah diri serta mengakui Tuhan, tak ubahnya seperti serangkaian program yang diciptakan Tuhan sebagai pencipta kita yang kemudian dimasukkan dalam inti ruh kita, seperti... kau tahu, operating system komputer...”
Rina diam memandangku.
“ Yang jadi pertanyaanku adalah kenapa kita dipgrogram untuk membutuhkannya? Membutuhkan Tuhan? Kenapa kita diprogram untuk menyembahnya...? Entah kenapa, hal itu membawaku pada sebuah pemikiran seperti yang sudah aku katakan di awal....”
“ Gak paham. Jelasin” Rina menutup buku Ekonomi Hijaunya.
“Begini...” Aku meletakkan Erich Seagal.
“ Seperti yang udah aku bilang, kita menyembah karena kita membutuhkan tuhan, dan kita membutuhkan tuhan karena itu merupakan keinginan dasar dalam ruh kita, yang diciptakan pula oleh tuhan. Dengan sedikit logika, kita bisa sampai pada hipothesis bahwa keinginan dasar itupun juga merupakan ciptaan tuhan, seperti layaknya sub-sistem dalam sistem operasi. Menangkap?”
Rina mengangguk.
“ Nah, menurutmu kenapa tuhan, sesuai dengan perkiraanku, menciptakan keinginan dasar itu?”
Ia terdiam.
“ Ia ingin diakui oleh ciptaannya. Sampai sini ada penyangkalan?”
Rina menggeleng.
“ Pengakuan. Sebuah tanda akan adanya eksistensi. Seperti manusia, yang mencari aktualisasi dan menuntut pengakuan dari manusia lain. Itu hasrat mendasar kita. Menurutmu kenapa kita ingin diakui oleh orang lain?”
“Karena... ingin dilihat...?”
“Nope.... karena dengan diakui, manusia bisa berkumpul dengan manusia lainnya. Berinteraksi, bersosialisasi, dan melakukan berbagai hal bersama-sama. Lebih dari itu, manusia, dengan berkumpul dengan manusia lain, dia bisa menghilangkan perasaan kesepian yang paling dia takuti...”
Sampai sini, Rina mulai melongo.
“Maksudmu...”
“ Hanya perkiraan, kubilang, sekedar bunga rampai logika-logika sederhana. Namun, tidak pernahkah terpikir olehmu? tuhan yang masa esa, tunggal manunggal. Pemiliki segalanya, bahkan kematian. Kenapa... dia masih menciptakan kita? Apa yang ingin dia buktikan? Itu saja.”
Rina masih melongo.
“ Ya... Bukan berarti aku menolak Tuhan. 100% aku percaya akan keberadaannya. Bahkan dengan seluruh penemuan fisika terbaru, kau pikir masih memungkinkan menolak keberadaan sesuatu yang lebih di atas jagat raya? Hanya pengecut bodoh yang masih melakukannya. Bahkan tanpa itu semua, dengan logika awam saja, menurutmu bagaimana bumi, planet, atau apapun jenis benda-benda angkasa bisa memiliki gravitasi? Dari mana asal energi? Kenapa takaran oksigen dan seluruh elemen di bumi ini bisa begitu tepat dan cermat hingga mendukung berlangsung kehidupan luar biasa? Mereka berusaha menjawabnya, namun tak pernah lengkap tanpa pengakuan terhadap kekuatan di luar mereka. Woi... Hentikan ekspresi bodohmu!”
Rina memperbaiki air mukanya. “Entah aku harus kagum atau waspada dengan cara berpikirmu. Pastikan saja kau tidak mengatakan itu di forum terbuka, orang sulit menerima pemikiran sensitif seperti itu.”
“Aku tidak pernah punya pikiran untuk mengungkapnya, meskipun mungkin akan kupertimbangkan untuk kutulis dalam cerpenku. Dalam kata, gagasan seperti ini, selalu menjadi daya tarik utama.” Ujarku seraya memainkan bulpoin.
“Terserah....”
Lalu kami diam.
Seorang anak berusia kira-kira lima tahun, dengan kaos merah garis-garis putih dan bercelana jins membuat keributan di perpustakaan. Tampaknya anak salah satu staf di sini, karena salah seorang pegawai kemudian datang dan menggendongnya pergi. Suaranya masih samar-samar terdengar, namun entah kenapa, rasanya jadi lebih hening daripada sebelumnya. Tepatnya, hening yang canggung. Beberapa menit kemudian, Rina mencoba memulai pembicaraan kembali,
“Lalu, bagaimana?”
Aku mengerti ke mana arah pembicaraan ini, namun aku masih mencoba upaya terakhir mengalihkan pembicaraan
“ Kau tahu, aku sebenarnya penasaran dengan butterfly effect yang kita bicarakan kemarin...”
Bodoh. Aku tersadar, ini malah memancingku pada ingatan yang tidak pernah kukunjungi lagi. Aku menutup rapat mulutku, dan meraih kembali Erich Seagal. Rina memandangku lama. Kelihatannya dia juga memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan, meskipun aku tidak yakin dia paham kaitan apa yang dia pahami dengan butterfly effect barusan.
Kami memutuskan pulang saat adzan maghrib berkumandang. Rina menuju Masjid, setelah aku menggelengkan kepala atas ajakannya untuk salat. Di Negeri ini, di masa ini, ketika kealiman menjadi budaya populer, aku tidak pernah bisa menemukan kenyamanan lagi. Telingaku senang mendengar adzan, namun tidak dengan hatiku. Yang ada hanya keresahan, dan pertanyaan.
“ Sampai kapan semua ini berjalan?”
Aku memilih untuk pulang duluan. Setelah kukirim pesan ke Rina, aku melaju menuju jalanan kelam yang ramai oleh keletihan dan kerinduan. Di sepanjang jalan, aku merenungkan semuanya. Alasan kenapa Braham membenciku, kenapa aku mengecewakannya dan seluruh kawan-kawan lain, serta kenapa aku memilih untuk mengacuhkan mereka. Namun, setelah sampai di depan pagar rumah, aku tidak menemukan jawabannya utuh untuk merangkai semuanya. Padahal, waktu tempuh rumahku dan perpustakaan kota Surabaya kurang lebih adalah satu jam.
Di kamar, kulanjutkan perenunganku. Mataku menatap lurus dan kosong pada langit-langit kamar yang putih kusam. Di sudutnya, berhiaskan oleh jaring laba-laba. Mama selalu protes mengenai itu. Katanya, itu bukti kamarku hanya satu tingkat di atas gudang. Biasanya, aku hanya mengangguk diam. Kamarku memang hampir mirip gudang; buku-buku yang tidak tertampung dengan rak kayu bertebaran di setiap sudut dan lantai. Aku selalu ingin pnya perpustakaan pribadi kelak, karenanya tiap bulan aku berbelaja buku. Dan biasanya, aku selalu bersama Braham, Anggi, berserta Nuril. Kami adalah penggemar buku. Dan kami sama-sama suka menulis. Itulah yang menyatukan kami sebagai tim sempurna dalam setiap perlombaan karya tulis ilmiah. Biasanya, aku selalu satu tim dengan Braham, dan Nuril dengan Anggi, atau sebaliknya. Tidak selalu memang kami menang, namun tidak bisa dibilang selalu kalah. Setidaknya dalam lomba, salah satu diantara kami memiliki peluang 80% menyabet tiga besar. Sesunguhnya aku lebih suka menulis puisi dan cerpen, daripada karya tulis ilmiah yang begitu formal. Namun, jurusan kami adalah jurusan serius yang menuntut data, bukan rasa. Objektif bukan subjektif. Ya... bagaimana lagi, begitu pikirku pada awalnya.
Kami sangat dekat, dan rasanya menyenangkan. Namun jika dipikir lagi, seharusnya aku sudah bisa menebak bahwa sesuatu bakal terjadi. Sesuatu yang baik, seperti pasir, tak pernah bisa kau genggam terlalu lama dan kuat, pada akhirnya, semua akan kembali seperti saat sebelum kau merengkuhnya, dan di tanganmu, hanya akan ada kerikil dan pasir hitam yang melekat kuat. Dan akhirnya, dua minggu lalu, pasir itu luruh dari tanganku. Sederhana : Aku menunjukkan siapa diriku sebenarnya, dan mereka tidak bisa menerimanya, lalu pergi.
“Aku tidak tahu harus bilang bagaimana lagi...” Kata itu kembali terngiang. Aku menghela nafas panjang. Rasanya, awan di malam itu kembali hadir, dan sama pekatnya. Aku merana, karena tidak berdaya. Kabut itu menghimpun dirinya, dan mendobrak masuk melalui hidung menuju otak. Kini pikiranku begitu pekat, dan tak dapat kubayangkan apapun selain kegelapan yang menyesakkan. Aku tahu seharusnya tak pernah dekat dengan mereka, terutama Braham, karena aku tahu dia sangat menyukai Nuril. Dan aku tahu, seharusnya aku tidak pernah bergabung dalam organisasi yang sama dengan mereka. Beberapa saat kemudian, kesadaran tersebut muncul bagaikan tunas kacang hijau yang kujadikan bahan eksperimen saat SMP. Ia menghadirkan kenyataan yang sudah kulupakan begitu lama.
Aku adalah orang yang sakit. Sangat, sangat sakit.
Aku sudah busuk, bahkan hingga intinya. Tidak mungkin bagiku masih punya harapan untuk hidup dan menikmati hangatnya rengkuhan pasir terlalu lama. Aku sudah tahu ini, dan melupakannya, karena mereka dengan acuhnya mengabaikan semua tanda peringatan yang kupasang saat pertama kali bertemu.
Jika aku tidak pernah dekat dengan mereka, aku tidak akan pernah diajak satu organisasi dengan mereka, jika tidak satu organisasi dengan mereka, aku tidak akan pernah berangkat menuju diklat di Vila bodoh itu, jika aku tidak pernah bergabung sebagai panitia diklat, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk... mencoba menggagahi Nuril. Dan jika itu semua tidak terjadi, setidaknya aku tidak akan pernah merasa sesakit ini. Aku yang sadar memiliki hasrat menyimpang yang tidak bisa diganggu gugat setiap malam datang, seharusnya tidak pernah melibatkan diri dalam hal yang membuka celah bagi monster biadab dalam diriku. Semua terlanjur. Aku diskors, dan menunggu keputusan rapat dewan kehormatan organisasi yang sudah jelas: aku dipecat. Tidak masalah bagiku, toh, dari awal bukan keinginanku sendiri bergabung dalam organisasi ini. Dan kurasa, bukan itu hal terburuk yang bakal menimpaku.
Mendadak, kabut itu lenyap. Dan pikiranku seperti disiram oleh cahaya rembulan. Sepertinya, memang itu alasannya kenapa aku masih bisa tersenyum di hadapan mereka; Karena aku adalah manusia yang menyimpan mosnter dalam hatinya. Karena aku busuk, dan aku menyadari itu. Sudah merupakan kewajaran bagi seorang monster untuk memangsa santapan di depannya. Kemudian, aku mengingat setiap potong adegan di malam saat aku menyelinap ke kamar putri, mendekati tubuh Nuril yang berada di sudut. Dalam gelap, dapat kulihat tubuhnya : Tanpa jilbab, rambut hitamnya terurai, mempercantik wajah bulat putihnya. Selimutnya tersingkap, menunjukkan tubuh segar berisinya yang terbalut jubah tidur warna putih dengan motif bunga di daerah pinggangnya. Ia telentang, seakan memamerkan dada montoknya yang membusung sehat, padahal jubahnya sudah sangat longgar. Bahkan sebelum kusentuhpun, sepasang bukit itu tampak kenyal dan hangat. Mengingat itu semua, aku bergairah. Nafasku berat.
Aku masih menatap langit-langit kamarku. Namun, tangan kananku kini merengkuh kenikmatannya sendiri. Bayanganku akan malam itu, semakin kuat, dan aku semakin menikmatinya. Dalam kondisi seperti itu, aku teringat akan Tuhan dan Rani. Tuhan yang kesepian, dan Rani yang setia meski tahu akan sisi lainku. Lucu. Saat kenikmatanku mencapai klimaks, sebuah pemikiran menghampiriku; Tuhan yang kesepian, membutuhkan hiburan. Dan, mungkin ini cara Tuhan menghibur diri. Menciptakan Braham yang sempurna, dan monster seperti aku. Menciptakan manusia yang tidak sempurna dan memberikan kebaikan serta kejahatan dalam hati setiap insan. Anugerah terbesarnya pada manusia ialah kebebasan untuk memilih, mana sisi yang dipilih manusia. Namun tidak cuma itu, Tuhan juga memberikan keleluasaan pada manusia untuk membuat alternatif baru : menciptakan kebaikan dan kejahatannya sendiri. Mencampurkannya, mengkreasikannya seperti bagaimana manusia bekreasi dengan seluruh elemen di dunia ini. Dan itulah aku, si monster yang menemukan kebaikannya sediri; menjadi salah satu penggerak dunia ini, dan tentu saja, penghibur Tuhan.
Aku klimaks. Nafasku terengah-engah dengan tubuh lemas tak bertenaga. Tangan kananku letih, dan aku masih menatap langit-langit. Mungkin besok atau lusa, aku akan ditangkap polisi. Diadili. Mungkin itu lebih baik, dan sudah seharusnya seperti itu. Hukum berjalan, keadilan bumi dijatuhkan. Kehidupan berlangsug seperti biasa. Masyarakat tenang dan damai dalam kehidupan mereka yang indah ideal.
Dengan lemah, kualihkan padanganku ke arah jam dinding di dekat dapur, Ah... sudah pukul dua malam. Aku terlalu banyak berpuisi malam ini.
Sendirian, di bawah remang lampu, aku mencoba mengurai awan-awan yang menggelayut di horizonku. Serupa kabut, begitu pekat awan-awan itu. Aku mencoba menyingkirkannya sekuat tenaga. Namun, selayaknya kabut, manusia tidak punya alat yang cukup canggih untuk menyingkirkan kabut dalam sekejap secara tuntas. Kepekatan itu, perlahan mengalir lambat menuju dadaku. Merambat meninggalkan perasaan ganjil dalam setiap jejaknya, dan kemudian membungkus sesuatu di ulu hatiku. Sejurus kemudian, hawa dingin menyergap dadaku, tepat di mana kabut itu membungkusnya. Sebuah hawa dingin yang seganjil sumbernya, membuat bulu kudubku serentak berdiri. Hawa dingin itu begitu ganjil hingga mengundang ketakutan dalam benakku.
Pernahkah kalian merasakan perasaan seperti itu?
Aku harap pernah, karena aku tidak mau menjadi manusia pertama yang merasakan perasaan takut seperti ini.
Apa yang membuatku setakut ini? Aku penasaran. Rasa takut ini berpadu dengan kengiluan yang menggelisahkan di dada. Perasaan yang sungguh tidak nyaman. Lama aku terdiam memandangi langit, mencari sepatah kata yang mampu mendefinisikan kebingunganku. Netbook ku masih masih menyala, menampilkan office word dengan lembar kerja yang masih kosong. Kuraih cola disebelahku, berharap dengan karbondioksidanya mampu menyingkap kabut dan perasaan tidak nyaman ini. Namun, semuanya jadi semakin buruk. Aku merenung beberapa lama lagi, dan kemudian sedikit tersentak saat, mungkin, menemukan jawabannya.
Inikah rasa tidak berdaya? Perasaan kalah?
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kedua orang tuaku sudah tidur. Aku belum menghasilkan apapun di laptopku. Dan perasaan kalut itu masih menggelayutiku. Kuambil dompetku, mengecek sisa uangnya, dan berjalan menuju swalayan dekat rumah. Kuambil sebotol minuman keras yang masih legal diperjualbelikan secara bebas, dan membawanya ke kasir, seorang laki-laki muda berusia kira-kira sama seperti kakakku. Dia agak mendelik dan terkejut melihat apa yang kubeli. Memang ini pertama kalinya aku membeli miras, dan selama ini mungkin kasir itu menilaiku sebagai remaja baik-baik karena tidak pernah bertindak nyeleneh seperti ABG-ABG tanggung yang biasanya berkumpul di pintu gerbang perumahan seberang. Namun sesaat kemudian, dia berusaha mengembalikan raut wajahnya, dan berusaha tidak bertanya apapun. Aku membayar miras itu, dan berjalan pulang. Aku memang tidak pernah minum, menyentuh sebotolpun tidak pernah. Tapi malam ini, entah kenapa, aku ingin mencoba sesekali. Bukannya aku sangat depresi atau semacamnya, hanya rasa kalut ini, membuatku ingin mencoba sesuatu yang lebih kuat dari sekedar sekaleng cola.
Ah... lagipula itu bukan benar-benar miras, hanya mereknya saja.
Kubuka dan kutenggak miras pertamaku di halaman belakang. Rasanya tidak begitu enak, pikirku. Namun, beberapa teguk kemudian, kabut yang membungkus ulu hatiku perlahanlahan tersingkap seiring dengan aliran miras yang melalui tenggorokanku. Sekali lagi, aku memandang ke langit malam, dan awan-awan itu masih belum beranjak.
Sebuah pesan masuk ke handphoneku.
....aku udah gak tahu harus ngomong apa lagi...
Mataku yang mulai berat, hanya menangkap potongan kalimat itu. Sebilah pisau mengiris jantungku. Enggan sudah aku membaca lebih lanjut. Kuletakkan HP dan melanjutkan lamunanku yang terasa semakin melayang dengan sekaleng miras ditanganku.
Pesan dari Braham, teman satu jurusanku, rekan kerjaku dalam riset maupun organisasi, sahabatku, dan kini jadi orang yang paling membenciku, kurasa. Lelaki asal Banyuwangi yang sempurna. Berwajah tampan, berkulit putih, cerdas, berjiwa pemimpin, dan di atas semuanya, alim. Kami pertama kali bertemu saat himpunan jurusan meminta kami berdua menjadi tutor sebaya bagi rekan-rekan jurusan. Setelah itu pertemuan kami berlanjut ke lomba-lomba riset sebagai rekan. Dia dengan kelebihan kuantitatifnya, dan aku dengan penguasaan konsep serta analisa induktif yang lumayan bisa diandalkan. Mereka bilang(teman-teman jurusan), kami layaknya pasangan serasi, karena memang kemampuan kami yang saling melengkapi.
Keterlibatan dalam dunia organisasi kampus membawa kami semakin jauh dalam ikatan persahabatan yang bersifat platonis. Saat itu, aku menikmati sanjungan-sanjungan dan persahabatan kami. Aku menikmati panggung utama yang kami tempati, dan gelar yang disematkan pada kami berdua. Namun, serupa pada akhirnya, suatu mekanisme mendorong ku turun dari panggung secepat aku naik. Aku tidak akan menceritakannya di sini. Sepotong kalimat dari Braham sudah cukup menjelaskan padaku dan kalian betapa dia kecewa. Aku mencoba melupakan semuanya, dan kembali menenggak minuman keras yang sudah kehilangan khasiatnya itu. Kabut itu kembali menyelimuti ulu hatiku.
“Menurutku Tuhan itu kesepian...” Gumamku sambil menatap langit-langit perpustakaan.
Rina, anggota pecinta lingkungan jurusan, Eco Campus, mengangkat wajahnya mendengar ucapanku. Air mukanya berubah, ia memiringkan kepalanya, tanda meminta konfirmasi atas kalimat yang didengarnya.
“ Kok bisa?”
“ Karena kita ada...”
“Maksudnya...?”
“ Apa tujuannya menciptakan manusia?” Ujarku sambil membalik halaman The Class karya Erich Seagal. Cerita yang menarik, dan setelah dua jam menghabiskan halaman demi halaman, aku mulai merasa aku sedikit mirip dengan salah satu tokoh utamanya, Andrew Eliot. Datar di luar, berusaha bersikap sebagaimana aturan, dan menghadapi kegagalan.
“ Kalau menurut Qur’an sih untuk menyembah Allah kan?” Jawabnya sederhana.
“ Kenapa dia butuh disembah?”
“ Bukan Allah yang butuh, justru kita yang butuh... karena penyembahan pada Allah itu kan bentuk kepasrahan dan kepercayaan kita padaNya, dan setahuku, bentuk penyerahan diri dan ibadah kita padaNya adalah mekanisme penyaluran sifat dasar manusia yang membutuhkan sesuatu yang lebih tinggi daripadanya...”
“ Aku tidak menolak fakta itu. Kita menyembah, beribadah karena itu untuk memenuhi kebutuhan spiritual kita. Menghilangkan dahaga jiwa yang kesepian. Sebenarnya itu sebuah kosekuensi logis dari penciptaan. Seperti aplikasi komputer dan segala softwarenya, jiwa kita memang sudah dirancang untuk membutuhkan Tuhan. Maksudku, kebutuhan kita, rasa lapar, haus, ngantuk, dan kebutuhan untuk berserah diri serta mengakui Tuhan, tak ubahnya seperti serangkaian program yang diciptakan Tuhan sebagai pencipta kita yang kemudian dimasukkan dalam inti ruh kita, seperti... kau tahu, operating system komputer...”
Rina diam memandangku.
“ Yang jadi pertanyaanku adalah kenapa kita dipgrogram untuk membutuhkannya? Membutuhkan Tuhan? Kenapa kita diprogram untuk menyembahnya...? Entah kenapa, hal itu membawaku pada sebuah pemikiran seperti yang sudah aku katakan di awal....”
“ Gak paham. Jelasin” Rina menutup buku Ekonomi Hijaunya.
“Begini...” Aku meletakkan Erich Seagal.
“ Seperti yang udah aku bilang, kita menyembah karena kita membutuhkan tuhan, dan kita membutuhkan tuhan karena itu merupakan keinginan dasar dalam ruh kita, yang diciptakan pula oleh tuhan. Dengan sedikit logika, kita bisa sampai pada hipothesis bahwa keinginan dasar itupun juga merupakan ciptaan tuhan, seperti layaknya sub-sistem dalam sistem operasi. Menangkap?”
Rina mengangguk.
“ Nah, menurutmu kenapa tuhan, sesuai dengan perkiraanku, menciptakan keinginan dasar itu?”
Ia terdiam.
“ Ia ingin diakui oleh ciptaannya. Sampai sini ada penyangkalan?”
Rina menggeleng.
“ Pengakuan. Sebuah tanda akan adanya eksistensi. Seperti manusia, yang mencari aktualisasi dan menuntut pengakuan dari manusia lain. Itu hasrat mendasar kita. Menurutmu kenapa kita ingin diakui oleh orang lain?”
“Karena... ingin dilihat...?”
“Nope.... karena dengan diakui, manusia bisa berkumpul dengan manusia lainnya. Berinteraksi, bersosialisasi, dan melakukan berbagai hal bersama-sama. Lebih dari itu, manusia, dengan berkumpul dengan manusia lain, dia bisa menghilangkan perasaan kesepian yang paling dia takuti...”
Sampai sini, Rina mulai melongo.
“Maksudmu...”
“ Hanya perkiraan, kubilang, sekedar bunga rampai logika-logika sederhana. Namun, tidak pernahkah terpikir olehmu? tuhan yang masa esa, tunggal manunggal. Pemiliki segalanya, bahkan kematian. Kenapa... dia masih menciptakan kita? Apa yang ingin dia buktikan? Itu saja.”
Rina masih melongo.
“ Ya... Bukan berarti aku menolak Tuhan. 100% aku percaya akan keberadaannya. Bahkan dengan seluruh penemuan fisika terbaru, kau pikir masih memungkinkan menolak keberadaan sesuatu yang lebih di atas jagat raya? Hanya pengecut bodoh yang masih melakukannya. Bahkan tanpa itu semua, dengan logika awam saja, menurutmu bagaimana bumi, planet, atau apapun jenis benda-benda angkasa bisa memiliki gravitasi? Dari mana asal energi? Kenapa takaran oksigen dan seluruh elemen di bumi ini bisa begitu tepat dan cermat hingga mendukung berlangsung kehidupan luar biasa? Mereka berusaha menjawabnya, namun tak pernah lengkap tanpa pengakuan terhadap kekuatan di luar mereka. Woi... Hentikan ekspresi bodohmu!”
Rina memperbaiki air mukanya. “Entah aku harus kagum atau waspada dengan cara berpikirmu. Pastikan saja kau tidak mengatakan itu di forum terbuka, orang sulit menerima pemikiran sensitif seperti itu.”
“Aku tidak pernah punya pikiran untuk mengungkapnya, meskipun mungkin akan kupertimbangkan untuk kutulis dalam cerpenku. Dalam kata, gagasan seperti ini, selalu menjadi daya tarik utama.” Ujarku seraya memainkan bulpoin.
“Terserah....”
Lalu kami diam.
Seorang anak berusia kira-kira lima tahun, dengan kaos merah garis-garis putih dan bercelana jins membuat keributan di perpustakaan. Tampaknya anak salah satu staf di sini, karena salah seorang pegawai kemudian datang dan menggendongnya pergi. Suaranya masih samar-samar terdengar, namun entah kenapa, rasanya jadi lebih hening daripada sebelumnya. Tepatnya, hening yang canggung. Beberapa menit kemudian, Rina mencoba memulai pembicaraan kembali,
“Lalu, bagaimana?”
Aku mengerti ke mana arah pembicaraan ini, namun aku masih mencoba upaya terakhir mengalihkan pembicaraan
“ Kau tahu, aku sebenarnya penasaran dengan butterfly effect yang kita bicarakan kemarin...”
Bodoh. Aku tersadar, ini malah memancingku pada ingatan yang tidak pernah kukunjungi lagi. Aku menutup rapat mulutku, dan meraih kembali Erich Seagal. Rina memandangku lama. Kelihatannya dia juga memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan, meskipun aku tidak yakin dia paham kaitan apa yang dia pahami dengan butterfly effect barusan.
Kami memutuskan pulang saat adzan maghrib berkumandang. Rina menuju Masjid, setelah aku menggelengkan kepala atas ajakannya untuk salat. Di Negeri ini, di masa ini, ketika kealiman menjadi budaya populer, aku tidak pernah bisa menemukan kenyamanan lagi. Telingaku senang mendengar adzan, namun tidak dengan hatiku. Yang ada hanya keresahan, dan pertanyaan.
“ Sampai kapan semua ini berjalan?”
Aku memilih untuk pulang duluan. Setelah kukirim pesan ke Rina, aku melaju menuju jalanan kelam yang ramai oleh keletihan dan kerinduan. Di sepanjang jalan, aku merenungkan semuanya. Alasan kenapa Braham membenciku, kenapa aku mengecewakannya dan seluruh kawan-kawan lain, serta kenapa aku memilih untuk mengacuhkan mereka. Namun, setelah sampai di depan pagar rumah, aku tidak menemukan jawabannya utuh untuk merangkai semuanya. Padahal, waktu tempuh rumahku dan perpustakaan kota Surabaya kurang lebih adalah satu jam.
Di kamar, kulanjutkan perenunganku. Mataku menatap lurus dan kosong pada langit-langit kamar yang putih kusam. Di sudutnya, berhiaskan oleh jaring laba-laba. Mama selalu protes mengenai itu. Katanya, itu bukti kamarku hanya satu tingkat di atas gudang. Biasanya, aku hanya mengangguk diam. Kamarku memang hampir mirip gudang; buku-buku yang tidak tertampung dengan rak kayu bertebaran di setiap sudut dan lantai. Aku selalu ingin pnya perpustakaan pribadi kelak, karenanya tiap bulan aku berbelaja buku. Dan biasanya, aku selalu bersama Braham, Anggi, berserta Nuril. Kami adalah penggemar buku. Dan kami sama-sama suka menulis. Itulah yang menyatukan kami sebagai tim sempurna dalam setiap perlombaan karya tulis ilmiah. Biasanya, aku selalu satu tim dengan Braham, dan Nuril dengan Anggi, atau sebaliknya. Tidak selalu memang kami menang, namun tidak bisa dibilang selalu kalah. Setidaknya dalam lomba, salah satu diantara kami memiliki peluang 80% menyabet tiga besar. Sesunguhnya aku lebih suka menulis puisi dan cerpen, daripada karya tulis ilmiah yang begitu formal. Namun, jurusan kami adalah jurusan serius yang menuntut data, bukan rasa. Objektif bukan subjektif. Ya... bagaimana lagi, begitu pikirku pada awalnya.
Kami sangat dekat, dan rasanya menyenangkan. Namun jika dipikir lagi, seharusnya aku sudah bisa menebak bahwa sesuatu bakal terjadi. Sesuatu yang baik, seperti pasir, tak pernah bisa kau genggam terlalu lama dan kuat, pada akhirnya, semua akan kembali seperti saat sebelum kau merengkuhnya, dan di tanganmu, hanya akan ada kerikil dan pasir hitam yang melekat kuat. Dan akhirnya, dua minggu lalu, pasir itu luruh dari tanganku. Sederhana : Aku menunjukkan siapa diriku sebenarnya, dan mereka tidak bisa menerimanya, lalu pergi.
“Aku tidak tahu harus bilang bagaimana lagi...” Kata itu kembali terngiang. Aku menghela nafas panjang. Rasanya, awan di malam itu kembali hadir, dan sama pekatnya. Aku merana, karena tidak berdaya. Kabut itu menghimpun dirinya, dan mendobrak masuk melalui hidung menuju otak. Kini pikiranku begitu pekat, dan tak dapat kubayangkan apapun selain kegelapan yang menyesakkan. Aku tahu seharusnya tak pernah dekat dengan mereka, terutama Braham, karena aku tahu dia sangat menyukai Nuril. Dan aku tahu, seharusnya aku tidak pernah bergabung dalam organisasi yang sama dengan mereka. Beberapa saat kemudian, kesadaran tersebut muncul bagaikan tunas kacang hijau yang kujadikan bahan eksperimen saat SMP. Ia menghadirkan kenyataan yang sudah kulupakan begitu lama.
Aku adalah orang yang sakit. Sangat, sangat sakit.
Aku sudah busuk, bahkan hingga intinya. Tidak mungkin bagiku masih punya harapan untuk hidup dan menikmati hangatnya rengkuhan pasir terlalu lama. Aku sudah tahu ini, dan melupakannya, karena mereka dengan acuhnya mengabaikan semua tanda peringatan yang kupasang saat pertama kali bertemu.
Jika aku tidak pernah dekat dengan mereka, aku tidak akan pernah diajak satu organisasi dengan mereka, jika tidak satu organisasi dengan mereka, aku tidak akan pernah berangkat menuju diklat di Vila bodoh itu, jika aku tidak pernah bergabung sebagai panitia diklat, aku tidak akan pernah punya kesempatan untuk... mencoba menggagahi Nuril. Dan jika itu semua tidak terjadi, setidaknya aku tidak akan pernah merasa sesakit ini. Aku yang sadar memiliki hasrat menyimpang yang tidak bisa diganggu gugat setiap malam datang, seharusnya tidak pernah melibatkan diri dalam hal yang membuka celah bagi monster biadab dalam diriku. Semua terlanjur. Aku diskors, dan menunggu keputusan rapat dewan kehormatan organisasi yang sudah jelas: aku dipecat. Tidak masalah bagiku, toh, dari awal bukan keinginanku sendiri bergabung dalam organisasi ini. Dan kurasa, bukan itu hal terburuk yang bakal menimpaku.
Mendadak, kabut itu lenyap. Dan pikiranku seperti disiram oleh cahaya rembulan. Sepertinya, memang itu alasannya kenapa aku masih bisa tersenyum di hadapan mereka; Karena aku adalah manusia yang menyimpan mosnter dalam hatinya. Karena aku busuk, dan aku menyadari itu. Sudah merupakan kewajaran bagi seorang monster untuk memangsa santapan di depannya. Kemudian, aku mengingat setiap potong adegan di malam saat aku menyelinap ke kamar putri, mendekati tubuh Nuril yang berada di sudut. Dalam gelap, dapat kulihat tubuhnya : Tanpa jilbab, rambut hitamnya terurai, mempercantik wajah bulat putihnya. Selimutnya tersingkap, menunjukkan tubuh segar berisinya yang terbalut jubah tidur warna putih dengan motif bunga di daerah pinggangnya. Ia telentang, seakan memamerkan dada montoknya yang membusung sehat, padahal jubahnya sudah sangat longgar. Bahkan sebelum kusentuhpun, sepasang bukit itu tampak kenyal dan hangat. Mengingat itu semua, aku bergairah. Nafasku berat.
Aku masih menatap langit-langit kamarku. Namun, tangan kananku kini merengkuh kenikmatannya sendiri. Bayanganku akan malam itu, semakin kuat, dan aku semakin menikmatinya. Dalam kondisi seperti itu, aku teringat akan Tuhan dan Rani. Tuhan yang kesepian, dan Rani yang setia meski tahu akan sisi lainku. Lucu. Saat kenikmatanku mencapai klimaks, sebuah pemikiran menghampiriku; Tuhan yang kesepian, membutuhkan hiburan. Dan, mungkin ini cara Tuhan menghibur diri. Menciptakan Braham yang sempurna, dan monster seperti aku. Menciptakan manusia yang tidak sempurna dan memberikan kebaikan serta kejahatan dalam hati setiap insan. Anugerah terbesarnya pada manusia ialah kebebasan untuk memilih, mana sisi yang dipilih manusia. Namun tidak cuma itu, Tuhan juga memberikan keleluasaan pada manusia untuk membuat alternatif baru : menciptakan kebaikan dan kejahatannya sendiri. Mencampurkannya, mengkreasikannya seperti bagaimana manusia bekreasi dengan seluruh elemen di dunia ini. Dan itulah aku, si monster yang menemukan kebaikannya sediri; menjadi salah satu penggerak dunia ini, dan tentu saja, penghibur Tuhan.
Aku klimaks. Nafasku terengah-engah dengan tubuh lemas tak bertenaga. Tangan kananku letih, dan aku masih menatap langit-langit. Mungkin besok atau lusa, aku akan ditangkap polisi. Diadili. Mungkin itu lebih baik, dan sudah seharusnya seperti itu. Hukum berjalan, keadilan bumi dijatuhkan. Kehidupan berlangsug seperti biasa. Masyarakat tenang dan damai dalam kehidupan mereka yang indah ideal.
Dengan lemah, kualihkan padanganku ke arah jam dinding di dekat dapur, Ah... sudah pukul dua malam. Aku terlalu banyak berpuisi malam ini.
Diubah oleh raganagori 19-04-2017 14:38
indriketaren memberi reputasi
1
Kutip
Balas