Kakak
Quote:
“kamu makannya nafas napa yang”, kata Wina
Tak lama makananku pun habis
“laper yang, abis kerja itu enaknya makan”, kataku
“emang kamu kerja apa?”, kata Luna
“bikin tugas Luna”, kataku
“ya elah Teo, Cuma nulis doang ga manggul karung kan”, kata Luna meledek
“makan yang”, kataku ke Wina
“iya ni aku mau makan ko”, katanya
Akupun mengambil nasi bungkus Wina.
“ih ko di ambil?”, kata Wina
“gantian kan yang, tadi aku di suapin”, kataku
“sini aaaaa”, kataku
“enak banget, aku ga da yang nyuapin”, kata Luna
“sini aku suapin Lun”, kata Wina
“yang telen dulu makanannya tumpah-tumpah tuh”, kataku sambil membersihkan tumpahan nasi
“maaf-maaf”, kata Wina
Setelah mereka selesai makan tak lama bel pulang pun berbunyi.
“udah bel aja”, kata Luna
Akupun melihat jam dan sudah jam 13.30.
“kamu langsung pulang yang?”, tanya Wina
“iya, ga da kegiatan kan abis ini”, kataku
“yang tadi gimana?”, kata Wina
“yang mana?”, kataku heran
Wina pun melirik Luna
“apa sih yang?”, kataku bingung
“ih masa kamu udah lupa”, kata Wina
“beneran deh aku ga ngerti maksud kamu apa”, kataku
“beneran kamu ga ngerti?”, kata Wina
Akupun menggelengkan kepala.
“ini yang”, Wina menyentuh bibirku
“oh itu”, kataku
“waaaaahhhh, kalian ternyata udah...”, kata Luna sambil menyimbolkannya dengan tangan
“eh, bukan gitu Lun”, kataku
“udah lah bilang aja, gimana rasanya Win?”, kata Luna
Wina pun hanya tersipu malu.
“udah lah Lun, jangan di bahas”, kataku
“aku cemburu Teo, mangkanya aku mau tau”, kata Luna dengan serius
“ga ada bedanya kan”, kataku
Suasana menjadi memanas dengan seketika
“ya beda lah”, kata Luna
“udah lah Lun ga penting juga di bahas”, kataku yang kesal
“ayo yang pulang”, kataku sambil memegang tangan Wina
“bentar Win, aku mau tau. Dan aku harus tau”, kata Luna
Akupun melepas tangan Luna dari Wina dan pergi meninggalkan Lun dan ke kelas Wina, ternyata kelas Wina sudah kosong.
“kalian bisa ga sih tunggu!”, kata Luna yang menyusul kami
“kenapa lagi sih Lun!”, kataku dengan nada tinggi
“yang, kamu beres-beres terus kita pulang”, lanjutku
Wina pun langsung membereskan buku dan alat tulisnya, lalu merangkul tanganku. Akupun berjalan menuju pintu namun Luna
menghadangku.
“apa lagi Lun”, kataku
“aku ga ngomong sama kamu Teo, aku ngomong sama Wina”,kata Luna
Namun Wina tidak menjawab apa-apa
“udah lah Lun ga pantes ngebahas hal kaya gitu”, kataku
Dan akupun berdebat dengan Luna, untungnya lokasi kelas Wina ini di pojok dan tidak terlalu banyak yang lewat sehingga kami tidak jadi bahan tontonan.
“yang, Lun. Udah jangan berantem”,kata Wina
“aku suka Lun”, kata Wina
“yang”, kataku
“udah ga apa-apa yang”, kata Wina
“aku suka banget Lun, semua yang ada di Teo aku suka”, lanjut Wina
“masa?”, kata Luna
“coba buktiin”, lanjutnya menantang
“kalian apa-apan sih?! Udah lah yang kita pulang”, kataku
“aku ga perlu buktiin apa-apa sama kamu Lun, karena Teo udah milih aku dan aku udah pilih Teo”, kata Wina tegas
“kalau gitu kamu bohong suka semua yang ada di Teo, aku ga percaya!”, kata Luna lebih tegas
Wina langsung mendorongku dan mencium bibirku. Akupun mendorongnya pelan.
“yang, kamu...”, Wina menutup bibirku dengan jarinya
“you promise me”, katanya dengan manja dan pandangan yang sayu.
Akupun terpepet ke tembok dan mulai hilang kendali akan diriku, aku sudah tidak bisa menggunakan logika lagi, sentuhan Wina di pipiku seakan menghapus logika ku untuk berhenti.
“udah aku buktiin kan”, kata Wina
Aku masih mengatur nafasku, seluruh tubuhku memanas. Aku duduk sambil bersandar di tembok. Terlihat Luna menggigit bibirnya.
“udah lah”, kataku masih terengah-engah
Aku mengambil nafas panjang sejenak dan mencoba kembali normal, lalu berdiri
“yang kita pulang”, kataku memegang tangan Wina
“kamu beneran sayang sama Wina?”, kata Luna kepadaku
“iya Lun”, kataku
“secepat itu? padahal kalian deket belum lama tapi bisa secepet itu kamu lupain Rathi, aku, Vivi”,katanya
“gua ga lupa sama siapapun Lun, gua inget semuanya. Dan gua inget apa yang kalian lakuin sama gua, tapi gua sekarang sama Wina, gua ngasih sepenuhnya perasaan gua sama Wina”, kataku
“dan aku yang ga pernah bisa milikin kamu Teo”, katanya meneteskan air mata
“kamu ga pernah sayang sepenuhnya ke aku, waktu itu ada Rathi, sekarang ada Wina, aku masih jaga perasaan aku buat kamu sampai sekarang, tapi ga pernah aku punya kesempatan buat milikin kamu”, lanjutnya dan ia mulai menangis.
Wina melepaskan peganganku dan memeluk Luna.
“aku yakin Teo sayang sama kamu Lun, Cuma memang waktu aja yang belum tepat”, kata Wina menenangkan Luna
“aku tunggu di luar yang”, kataku sambil meninggalkan mereka.
Akupun keluar kelas, dan saat aku keluar betapa kagetnya aku ternyata ada kak Suci yang melihatku dengan tajam.