nganggur
Quote:
“yang, yang!”, teriak Wina
“eh, kenapa?”, kataku
“kamu tuh kalo udah jalan ga pernah focus sama hal lain ya”. Kata Wina
“maaf-maaf, ada apa?”, kataku
“aku mau ke kelas kamu ini, bareng”, katanya
Akhirnya kamipun jalan bersama, di depan kelas terlihat Luna sudah ada di sana.
“hei, sejoli”, sapa Luna
“apa sih Lun”, kataku yang langsung masuk ke kelas
Akupun menaruh tas di bangku sebelah Luna, mulai sekarang aku duduk bersama Luna, setelah mengecek semua buku pelajaran, akupun keluar kelas. Terlihat Luna dan Wina sedang tertawa.
“kayanya seru banget”, kataku, lalu duduk di sebelah Wina
“ini Luna lagi cerita yang”, kata Wina
“aku masuk dulu ya”, kataku
“eh kamu mau kemana? Jangan masuk nah yang. Sini duduk lagi”, kata Wina
“kalians eru banget jadinya aku masuk aja”, kataku
Namun Luna menahanku
“kemana sih, sini napa. Kamu mah sendiri mulu kan kalau di dalem juga”, kata Luna
Akupun duduk kembali di sebelah Wina
“duduk di tengah yang”, kata Wina
“sama aja yang duduk di mana juga kan yang penting duduk”, kataku
“udah deh duduk dulu di tengah”, kata Wina agak memaksa
“ni udah nih duduk di tengah”, kataku
Mereka berduapun hanya tersenyum tak jelas.
“kenapa sih pada senyum gajelas?”, kataku
“ga apa-apa yang”, kata Wina
“curigaan mulu sih kamu Teo, emang ga boleh ya kita senyum?”, kata Luna
“yang aku mau tanya hal penting boleh? Mumpung ada Luna juga di sini”, kata Wina
“nanya apa sih serius banget”, kataku
“tapi kamu jangan marah”, katanya
“ada hubungannya sama Luna?”, kataku
“iya ada”, kata Wina
Akupun melirik Luna
“apa sih Teo, gua aja ga tau Wina mau ngomong apa”, kata Luna
“yaudah aku ga marah, kamu mau ngomong apa emangnya?”, kataku
“kamu masih sayang sama Luna?”, katanya
Mendengar itu aku langsung melirik Luna lagi
“maksud kamu apa nanya gitu?”, kataku
“aku nanya aja yang”, kata Wina dengan wajah serius
“aku ga mau jawab”, kataku
“jawab yang”, kata Wina
“ga”, kataku
“yaudah kalo gitu, Lun kamu masih sayang sama Teo?”, kata Wina
“eh, ko nanya gua sih kan tadi mau nanya Teo”, kata Luna
“jawab Lun”, kata Wina
“heemh, masih”, kata Luna
“sekarang kamu jawab yang”, kata Wina
“kenapa sih harus bahas hal ini Win?”, kataku agak kesal
“aku mau tau aja”, kata Wina
“terserah”, kataku yang langsung berjalan ke kelas.
“yang tunggu”, kata Wina memegang tanganku
“aku ga suka bahas hal ini Win. Serius”, kataku
“maaf-maaf aku Cuma mau tau aja”, kata Wina
“sini duduk lagi”, kata Wina
“udah jam 7”, kataku
“hari ini ga da pelajaran, semuanya di kasih tugas”, kata Wina
Aku pun menghela nafas.
“ko ga da pengumumannya?”, kataku
“dari tadi yang, kamu tuh kalo udah focus sama satu hal ga ngeh sama hal lain”, kata Wina
“emang tuh kalo dia udah focus, ga kan merhatiin yang lain”, kata Luna
“jangan mulai deh Lun”, kataku
“maaf-maaf”, kata Luna
“kalian udah gad a masalah kan?”, kata Wina
“masalah apa yang?”, kataku
“ya masalah apa kek, dulu kan kamu ga deket banget sama Luna sekarang aku liat udah mulai biasa”, kata Wina
“aku ga ada masalah sih sama Luna, tapi ga tau tuh Luna kaya gimana”, kataku
“aku juga gad a masalah yang penting banget sih Win, Cuma…, katanya
“Cuma apa Lun?”, tanya Wina
Luna melihat ke arahku
“apa?”, kataku
“ga, bukan apa-apa”, kata Luna
“yaudah aku mau ke kantin dulu, ada yang mau nitip?”, kataku
“aku nitip jus yang”, kata Wina
“aku nitip susu anget”, kata Luna
“mana uangnya Lun”, katku
“ko Cuma aku yang di tagih uang”, kata Luna
“mau ga nih?”, kataku
“iya iya, woooo”, kata Luna sambil memberikan uang
Akupun pergi kekantin membelikan jus dan susu hangat, lalu membeli nasi uduk untuk diriku
“nih susu, ini jus”, kataku
“makasih ya”, kata mereka kompak
“kamu emang belum sarapan?”, kata Wina
“belum, aku ga suka sarapan”, kataku sambil membuka bungkus nasi
“sini-sini”, kata Wina sambil mengambil nasi udukku
“ko di ambil?”, kataku
“sini aku suapin kamu”, kata Wina
“ga da sendok yang”, kataku
“ya pake tangan lah yang, kamu mah gimana sih”, kata Wina
“enaknya makan disuapin”, kata Luna
“sini aaaa”, kata Wina
“malu yang”, kataku
“malu kenapa?”, kata Wina
“tuh banyak yang lewat kan”, kataku
“mmmhh. Terus gimana dong”, kata Wina
“aku makan sendiri aja”, kataku
“ga boleh, aku mau suapin. Nah, sini-sini”, kata Wina menarik tanganku ke arah lab
“kamu makan di sini aja ga banyak orang kan”, kata Wina
“tapi…”, kataku
“ga ada tapi-tapi ah yang, kalo kamu masih malu tutup mata aja”, kata Wina
Akupun menutup mataku dan membuka mulut. Suapan Wina sangat lembut. Aku tidak membuka mata sampai satu suapan yang membuatku mau tidak mau membuka mata.