Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk yang berasal dari hp gue pun berbunyi. Tanpa mempedulikannya, gue tetap memilih untuk merokok sejenak sambil terus bersantai di teras rumah ini.
“tuh bunyi lagi tuh, kayaknya penting deh” ucap dina tiba-tiba
“yaudah kamu aja yang buka deh, aku lagi males megang hp”
Spontan dina pun mengambil handphone gue dan meihat chat tersebut. Raut wajahnya pun seketika berubah menjadi sedikit sinis ketika melihat chat yang masuk ke handphone gue.
“Khansa siapa?”
Kontan gue terdiam mendengar ucapannya. Rokok yang sedaritadi gue bakar pun gue biarkan terbakar dengan sendirinya tanpa menghisapnya kembali.
“khansa siapa? ” Tanya dina lagi
“dia kakak kelas aku pas kita sma.”
“teruus? Kok dia bisa ngeline? Nanyain kamu dimana lagi”
“jadi pas waktu itu aku di Jakarta aku ketemu dia ga sengaja di mall. Dia barista café di mall itu, din”
“terus ya yaudah karena emang dulu kenal, aku sama dia tukeran contact”
“tapi aku gapernah chat sama dia kok, aku aja bingung tiba-tiba dia chat aku” ucap gue lagi
Dina tersenyum. Beberapa saat kemudian ia memberikan handphone gue kepada gue kembali.
“bales aja tuh,penting kali”
Gue mengangguk dan membalas chat tersebut. Suasana di teras ini pun kembai seperti biasa dan dina tampak tidak memusingkan masalah khansa. Tak berapa lama kemudian, gue bersiap pulang untuk segera beristirahat.
*****
Rutinitas gue di bandung mulai cukup membosankan. Kehidupan gue hanya berisi perkuliahan gue, rey, dan tak lupa seseorang perempuan yang selalu menunggu gue untuk kembali ke Jakarta, yaitu dina.
Jumat ini pun gue melakukan hal yang seperti biasa gue lakukan setiap dua minggu sekali, yaitu pulang ke Jakarta.Tak lupa, gue pun mengabari dina bahwa gue sudah berada di jalan untuk kembali ke Jakarta.
“kamu hati hati ya. Aku kuliah sampe malem hari ini tapi” ucap suara dari seberang sana
“mau dijemput?”
“boleh, jam delapan aku baru selesai.”
“okeey”
Gue mematikan telefon tersebut dan masih terfokus kepada jalanan tol ini. Gue memperhatikan jam yang berada di tangan kiri gue dan mendapati bahwa jam di tangan kiri gue menunjukkan pukul 2 siang. Jalanan di tol pun terbilang cukup lancar dan gue bisa memangkas waktu Jakarta- bandung menjadi dua setengah jam. Seteleh berfikir sejenak, gue memutuskan menuju suatu café favorit gue untuk membunuh waktu-waktu gue.
Satu Caramel High Rise menjadi pilihan gue kali ini. Setelah mendapatkan minuman tersebut, gue berjalan menuju smoking room yang berada di lantai dua café ini. Gue merogoh saku gue lalu mencari handphone gue untuk sekedar melihat notifikasi-notifikasi yang berada di handphone gue.
Jam di tangan kiri gue pun sudah menunjukkan pukul enam sore. Beberapa saat kemudian, geu sudah berada di jalan kembali untuk menjemput dina.
Setelah hampir dua jam berada di jalan, gue pun akhhirnya sampai di kampus dina dan langsung menelfon dina.
“kamu dimana?” tanya gue
“udah mau ke parkiraan nih, tunggu yah”
“oke”
Lima belas menit kemudian, sosok dina pun muncul menghampiri gue. Tanpa butuh waktu yang lama, kami pun langsung keuar dari kampus ini untuk sekedar mencari makan.
“mat”
Gue menoleh sejenak dan kembali terfokus kepada jalanan.
“kenapa?”
“aku mau cerita”
“cerita aja”
“jadii” ucapnya sambil mengeluarkan nafas sejenak
“aku lagi didekein sama cowok, temen seangkatan aku. Namanya brian”
“terus?”
“ya risih aja sih, kayak aku lagi ke kantin terus tiba-tiba ada dia juga. Kadang-kadang suka maksa nganterin balik atau ngajak makan bareng gitu”
“baru baru ini juga dia ngeadd aku gitu. Ya emang siha ku sekelompok sama dia, cuman kadang risih aja dia sering ngajak jalan dengan alesan ya ngerjain tugas kelompok itu”
Gue mendengus dan hanya mengangguk ketika dina sedang menceritakan hal ini. Sejujurnya gue juga sama sekali tidak punya rasa cemburu kepada brian dikarenakan gue sangat mempercayai pacar gue.
“dia tau kamu punya pacar?” tanya gue
“tau kayaknya, ya kan foto profile aku juga sama kamu”
“yaiyasih ya… yaudah aku percaya kok sama kamu, din”
“yang penting kamu cerita aja ya kalo ada apa-apa , okey?” ucap gue lagi
Dina pun langsung mengangguk dan tersenyum simpul kepada gue.
“oh iya, bentar lagi kan liburan. Aku mau sekalian izin juga ya?’
“kamu mau kemana?” tanya gue tiba-tiba
“aku sama temen temen kampus aku mau ke singapur”
“berapa hari emangnyaa?”
“5 hari sayang, boleh kan?” ucapnya sambil memasang muka memelas
“ya boleh lah, liburan lama ini. Masih banyak waktu kok ketemu kamu mah”
“emang liburan kapan sih?” tanya gue
“kalo kampus aku mah bulan depan udah libur, paling gajauh beda kok”
“tapi”
“si brian brian itu ikut?” tanya gue
“iya dia ikut..”
Gue menarik nafas sejenak dan mencoba tersenyum kepada dina.
“yaudah, aku percaya kok sama kamu, din”
*****
Sabtu siang yang cukup cerah menemani gue di perjalanan menuju suatu mall di daerah Jakarta Selatan. Rencananya hari ini gue akan menjemput dina yang sedang mengerjakan tugas kelompok di suatu outlet di mall ini.
Kemudian, gue merogoh saku gue guna mencari handphone gue dan langsung menelfon dina.
“halo, aku otw ya” ucap gue
“aku selesainya masih lama loh, nggapapa?”
“berapa jam lagi emang?”
“paling tiga jam lagi lah sekitar jam empat”
“yaudah nggapapa kok,aku nunggu di tempat kopi biasa ya?”
“okeey” sahutnya dari seberang sana dan langsung mematikan telfon gue.
Sesampainya di mall ini, gue pun langsung menuju tempat favorit gue , yaitu sebuah kedai kopi yang namanya sangat terkenal di Jakarta. Lalu, gue mulai memesan minuman tersebut dan melihat sosok khansa yang sedang berjaga di tempat ini.
“hai sa”
Khansa menoleh ke arah gue dan tersenyum kearah gue.
“hei, ketemu lagi kita”
“hahaha iya nih, gue kan kalo ke mall ini pasti kesini soalnya”
Khansa kembali tersenyum dan mulai meninggalkan gue. Lima menit kemudian, ia berjalan lagi ke arah gue sambil membawa minuman yang gue pesan.
“nih minumannya”
“thanks ya, yaudah gue duluan deh ya sa”
“eh ron” ucapnya tiba-tiba
“lo duduk dimana?”
“paling diluar, tempat kayak biasa gue kalo disini” ucap gue sambil menunjuk ke tempat favorit gue
“yaudah kalo gue ga sibuk nanti gue kesitu ya”
Gue mengangguk dan langsung meninggalkan khansa unntuk mencari tempat favorit gue. Setelah mendapatkan tempat duduk, gue langsung menikmati minuman yang gue pesan dan membakar rokok gue perlahan.
Sesekali gue memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dan kendaraan yang yang sering membunyikan klakson karena ketidak sabaran mereka.
“hei”
Gue menoleh mencari suara tersebut dan melihat khansa sudah menarik kursi yang berada di depan gue dan duduk tepat di tempat itu.
“udah kelar kerjanya?” tanya gue
“kebetulan lagi ganti shift sih, jadi sebenernya gue udah selesai kerja”
“lo lagi nunggu orang?” tanya khansa lagi
“iya, lagi nunggu cewek gue sih. Dia lagi ngerjain tugas sama kelompoknya disini”
“ooh ceritanya udah laku nih sekarang?”
“hahaha ya bisa dibilang gitu sih. Lo sendiri gimana?”
“gimana apanya nih? Cowok maksud lo?”
“yaiyalah, emang lo kira gue nanya apaan?” tanya gue sambil tertawa pelan
Khansa tersenyum, kemudian ia mencoba mengikat rambutnya yang agak panjang menjadi ekor kuda dan sedikit membenerkan frame kacamata yang sedang ia pakai.
“ada sih yang deket, cuman lo tau gue kan gue gasuka sama yang namanya keterikatan”
“teruus?”
“ya yaudah, gue nyaman jalanin ini. Cowok gue sendiri yang dulunya masih belom bisa nerima sekarang pelan-pelan udah biasa kok”
Gue terkekeh pelan dan kemudian menghisap rokok gue lalu mematikannya di asbak yang disediakan.
“tapi lo ngakuin dia?”
“yaiyalah, kita sama-sama ngakuin kalo kita sama-sama sayang. Tapi ya sekali lagi, di dalam hubungan gue ga ada kasus nembak kayak orang-orang sekarang”
Gue mengangguk-ngangguk dan mulai mengerti jalan dari pikiran seseorang perempuan di depan gue.
“terus caranya lo tau kalo dia dan lo yakin sama hubungan ini tanpa adanya ikatan gimana sa?”
Sejenak khansa yang sedang memainkan handphonenya kembali terfokus dengan pertanyaan yang gue lontarkan.
“simple, lo pasti nyadar kalo dia orang yang tepat buat lo. He’s the one for me”
“terus gimana ceritanya lo bisa tau kalo dia juga nganggap lo itu sama kayak lo nganggep dia?”
Khansa tersenyum, sesekali bola matanya terfokus kepada bola mata gue.
“act ron. Semua perilaku dia udah ngedeskripsiin kalo gue adalah orang yang berarti buat dia”
“gue kayaknya mesti cabut nih, udah dijemput sama cowok gue. Kalo lo butuh temen ngobrol dan lo lagi di sekitar sini, kesini aja.”
“daah!” ucapnya sambil melambaikan tangan dan tak lama kemudian ia pun mulai berjalan keluar meninggalkan gue.
*****
Jam di tangan kiri gue menunjukkan pukul empat tepat dan gue masih berada di kedai kopi ini sambil menikmati rokok yang gue punya dan minuman gue yang sudah mulai habis. Suatu chat dari dina pun cukup membuat gue tersenyum karena ia memberitahu bahwa tugasnya sudah selesai dan ia sedang berjalan menuju tempat gue.
Tak lupa, I-pod gue beserta earphone yang gue miliki ikut menemani gue di dalam situasi yang cukup membosankan ini. Sepuluh menit gue menunggu, Nampak dina pun sudah berada di tempat ini dan berjalan menuju tempat gue berada bersama teman-temannya.
“heei!, udah lama banget pasti ya”
Gue mendengus pelan dan mulai mengacak-ngacak rambutnya.
“lo liat sendiri aja nih gue jamuran disini”
“tapi kenalan dulu nih sama temen aku”
Seseorang perempuan dengan muka oriental pun mendekati gue dan memberikan jabatan tangan kepada gue. Perempuan ini bernama Clara.Kemudian, seseorang perempuan lagi dengan muka indo dan style yang layaknya seperti anak Jakarta juga mulai memperkenalkan dirinya kepada gue. Dia bernama Olla.
Gue tersenyum dan mulai menjabai tangan mereka satupersatu sambil memperkenalkan diri gue. Namun diantara mereka , ada seseorang laki-laki dengan tatapan matanya yang sangat dingin menatap gue. Seseorang lelaki dengan potongan rambut yang mengikuti gaya rambut anak sekarang dengan style pakaiannya yang sangat modis mulai menghampiri gue.
“nama gue brian”