- Beranda
- Stories from the Heart
Si Macan Kampus
...
TS
simacankampus
Si Macan Kampus
MEMOAR SI MACAN KAMPUS
Prolog
Sebelum saya jadi jurnalis, sebelum saya jadi stand-up comedian, saya adalah seorang macan kampus. Saya mau berbagi cerita soal pengalaman saya selama kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad ’97 hingga dijuluki Macan Kampus. Tapi untuk sampai di cerita bagaimana saya mendapat julukan itu di kampus, saya mau cerita dulu masa masih berseragam putih abu-abu. Masa ketika masih jadi remaja tanggung dengan hormon yang bergejolak.
---
Daftar Isi (Biar Kaya Buku. Hehehehe)
Prolog - Memoar Si Macan Kampus
( Part 2 ) - Bimbel Oh Bimbel
( Part 3 ) - Mau Jadi Musisi
( Part 4 ) - Cinta Monyet
( Part 5 ) - Kanuragan
( Part 6 ) - Karma
( Part 7 ) - Rumah Singgah
( Part 8 ) - LULUS!
---
Mari kita kembali ke pertengahan tahun ’90.
Waktu itu saya adalah salah seorang murid di SMAN 3 Bogor. Berat badan saya masih 55 kg. Dengan tinggi badan 177 cm, jadinya terlihat kurus dan agak memprihatinkan. Kalau kamu melihat foto saya waktu kelas 2 SMA, itu lebih memprihatinkan lagi. Rambut cepak membuat saya terlihat lebih tak menarik. Malah, kalau saya melihat foto saya waktu kelas 1 dan pertengahan kelas 2 SMA, itu terlihat tua sekali. Seorang kawan, ketika melihat foto itu, mengatakan saya seperti Benjamin Button. Itu loh, film yang diperankan oleh Brad Pitt. Bukan, bukan maksudnya saya ketika SMA terlihat seperti Brad Pitt, tapi di film itu diceritakan si Benjamin Button yang siklus hidupnya bukan dari bayi lalu menjadi tua, tapi malah sebaliknya.
Lebih dari satu tahun, saya berambut cepak. Semua karena saya jadi anggota Korps Taruna SMAN 3 Bogor, sebuah organisasi ekstra kurikuler pasukan pengibar bendera. Saya bergabung bukan karena sukarela, tapi karena “dijebloskan” ke sana. Saya tak tahu seperti apa prosesnya sekarang, yang jelas, di jaman saya dan beberapa angkatan sebelumnya, semua anggota Korps Taruna dimasukan ke dalam dua kelas khusus, setelah melewati proses seleksi berdasarkan tinggi badan dan wawancara (dilakukan ketika kami daftar ulang ke SMA) yang bahkan saya awalnya tak sadar itu untuk keperluan penerimaan ekstra kurikuler di sekolah. Alasannya: supaya kalau mau mengikuti lomba baris berbaris dan harus meninggalkan ruang kelas, mudah ijinnya, karena satu kelas. Pada prakteknya, tak semua yang dijebloskan ke sana, mau ikut latihan baris berbaris.
Tahun 1994, saya diterima di SMAN 3 Bogor dan masuk sebagai angkatan VII di Korps Taruna SMAN 3 Bogor. Kelas I-8 dan kelas I-4 adalah dua kelas Taruna angkatan kami. Hampir semuanya tingginya di atas 170 cm, kecuali seorang teman kami, Achmad Hadiyatul Munawar alias Awank, yang tingginya di bawah 170 cm. Hingga sekarang, kami tak tahu kenapa dia bisa masuk kelas kami. Entah petugas administrasi salah memasukkan dia, entah karena dia dianggap punya potensi. Meskipun hingga lulus, kami tak tahu potensi dia apa, selain punya rumah yang besar di daerah Cigombong, Sukabumi, dan sering kami jadikan tempat kumpul hingga menginap. Selain rumahnya paling besar di antara kami, setiap menginap di sana, kami selalu dijamu.
Oke, mumpung sedang membahas Korps Taruna, saya mau cerita sedikit pengalaman ketika aktif jadi paskibra.
Saya tak tahu seperti apa kegiatan paskibra di sekolah lain, yang jelas Korps Taruna SMAN 3 Bogor, kegiatannya setiap Minggu pagi selalu latihan baris berbaris. Maka, ini membuat saya tak pernah libur di rumah begitu masuk SMA. Kalau dipikir-pikir sekarang sih, kenapa saya dulu mau ya, disuruh baris di bawah sinar matahari, latihan fisik macam push up, scot jump, lari, dan lain-lain padahal saya juga bisa mengelak datang, toh ada beberapa teman kami yang tak ikut latihan dan baik-baik saja di kelas.
Panas terik hujan deras kami tetap berlatih. Dan hebatnya badan di usia belasan, sepertinya daya tahan tubuh sedang bagus-bagusnya. Tak ada itu yang namanya pilek setelah hujan-hujanan. Tak pernah masuk angin. Tak ada flu. Badan boleh saja cungkring 55 kg, tapi sungguh tahan banting.
Oya, sebelum resmi menjadi anggota Korps Taruna, kami harus mengikuti kegiatan pelantikan berupa kemping di kawasan perkebunan teh di Gunung Mas, Puncak, Bogor. Udaranya kurang ajar sungguh menusuk tulang ketika malam hari. Dan kami tak diberi kesempatan memakai jaket. Ketika jurit malam (kegiatan jalan-jalan di malam hari terus mengikuti jalur yang disediakan untuk bertemu dengan pos-pos yang disediakan), kami bertemu sekelompok anggota silat Cimande yang sedang ujian kenaikan tingkat. Melihat mereka, saya jadi merasa kegiatan pelantikan kami tak ada apa-apanya. Kami hanya disuruh push up dan semacamnya yang sering kami lakukan setiap Minggu, paling seram juga dibentak senior. Tapi anak-anak silat Cimande, tak hanya dibentak, tapi juga ditendang dan dipukul. Tanpa pandang usia. Saya melihat anak kecil, mungkin masih SD, sekujur badannya ditendang seniornya. Meskipun anak itu meringis kesakitan, kegiatan itu tetap saja dilakukan. Mungkin sekarang, anak kecil itu sudah sakti mandraguna.
Saya tak tahu, apakah sekarang Korps Taruna SMAN 3 Bogor masih menjalankan prosesi pelantikan seperti kami dulu. Dan saya juga tak tahu apakah sekarang masih ditempatkan di dua kelas khusus. Serta saya juga tak tahu apakah para seniornya masih memberikan doktrin kuat pada anggotanya. Maklum, dulu kami merasa bahwa kami adalah paskibra paling bagus se-Bogor.
“Satu-satunya paskibra yang dimasukan di kelas khusus, ya kita.”
“Kalian ini siswa pilihan. Siswa terbaik di SMA 3.”
“Korps Taruna adalah paskibra yang disegani di Bogor.”
Nyatanya, ketika kami ikut lomba baris berbaris antar SMA se Kota Bogor, kami tak juara. Bahkan masuk 3 besar pun tidak.
Selain jadi anggota paskibra, saya juga ikut ekstra kurikuler silat. Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong [PPS BETAKO] Merpati Putih, sebuah perguruan silat dari Yogyakarta. Merpati Putih adalah bentuk pendek dari Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening, yang artinya mencari sampai mendapat, tindakan yang benar dalam ketenangan. Bukan hanya gerakan beladiri yang dipelajari di Merpati Putih (selanjutnya kita singkat saja menjadi MP), tapi juga ilmu pernafasan.
Nah, makanya, selama SMA, kehidupan saya tak dilepaskan dari dua hal itu. Kelas satu latihan baris dan silat, kelas 2 melatih baris dan silat ditambah nongkrong, kelas 3 latihan silat dan nongkrong. Lalu, pertanyaannya: kapan belajarnya? Haha.
Eh iya, dari tadi cerita soal ekskulnya, tapi belum cerita seperti apa sekolahnya.
SMAN 3 Bogor beralamat di Jalan Pakuan No 4, Bogor. Buat yang pernah ke Bogor, dari gerbang tol Jagorawi yang di Bogor, belok kiri maka kira-kira 400 meter kamu akan menemukan SMA 3. Angkutan kota yang melintas di depan SMA 3 adalah angkot 06. Makanya kalau corat coret di dinding, sering ditulis 3 BGR 406, atau Fuckone 406, alias Jalan Pakuan No. 4, naek 06. Waktu saya masih kelas 1, lapangan upacara kami hanyalah berupa lapangan berbatu kerikil yang ukurannya tak terlalu luas, karena di antara bangunan sekolah yang berbentuk kotak, ada dua kelas melintang di tengah. Bangunan kelas itu akhirnya diruntuhkan ketika saya kelas 2, sehingga kami punya lapangan basket yang bagus, sekaligus jadi lapangan upacara.
Sekarang, di dekat SMA 3, tepatnya di Jl. Pajajaran, sudah banyak gedung pertokoan. Dulu, hanya ada beberapa bengkel mobil, dan gedung yang sekarang jadi pertokoan, adalah semak-semak di tanah kosong. Dulu, bangunan paling besar selain sekolah kami adalah Mesjid Raya. SMAN 3 Bogor adalah salah satu SMA bergengsi ketika saya masuk, dan sepertinya sih masih begitu hingga kini. Walau begitu, angkatan sebelumnya, murid SMA 3 terkenal beringas. Sering terjadi perkelahian antar kelas, bahkan hingga saling tusuk. Kalau tawuran, murid SMA 3 Bogor biasanya melawan STM. Ketika saya baru masuk, cerita yang entah mitos atau fakta itu, sering didengungkan oleh senior. Cerita yang sangat sesuai segmen remaja yang masih penuh gejolak. Ada semacam kebanggaan semu bahwa murid SMA 3 Bogor, terkenal pemberani.
Tahun ’90-an sering sekali terjadi tawuran antar pelajar. Setiap hari, berita di televisi tak pernah luput dari berita soal tawuran pelajar, khususnya di ibukota. Pelajar saling lempar batu, kejar-kejaran di jalanan sambil memutar-mutar sabuk yang ujungnya dipasangi gir sepeda yang sudah diasah jadi tajam. Sekarang, sudah jarang berita pelajar tawuran. Entah karena pelajarnya sudah banyak sarana menyalurkan gejolak kawula muda nya, atau karena sekarang yang tawuran adalah lebih banyak orang dewasa.
Sepanjang saya sekolah, baru mengalami 2 kali kejadian yang mungkin bisa dikategorikan tawuran. Pertama, ketika satu hari, ada sekelompok pelajar menghampiri area sekolah kami dan saya juga kurang ingat bagaimana detinya, yang jelas, tiba-tiba saya diajak teman-teman untuk melawan anak STM yang cari gara-gara. Tak ada aksi lempar batu, untungnya. Hanya ada aksi baku hantam tangan kosong, dan saya sendiri karena refleks melihat bambu panjang yang tergeletak di jalanan, langsung saya gunakan untuk menakut-nakuti musuh pelajar dari sekolah lain. Latihan silat dua kali seminggu, tapi ketika terjadi tawuran, saya malah terlalu pengecut untuk menggunakan keahlian yang dilatih itu. Kejadian kedua adalah ketika corat-coret dalam rangka merayakan kelulusan. Dari pagi hingga siang, pelajar dari sekolah tetangga, yaitu SMA PGRI 1 Bogor, aman-aman saja ketika melintas di depan sekolah kami. Tapi selepas jam 1, tiba-tiba ada yang mengomandoi kami bahwa pelajar SMA PGRI 1 Bogor menyerang kami, sehingga kami harus menyerang ke sekolah mereka dan menghadang semua pelajar dari sekolah itu yang melintas. Kalau dipikir dengan kepala dingin dan tak mudah terpancing emosi, mungkin saja kejadian itu hanya bohong, kemungkinan besar ada yang menyebarkan kebohongan supaya kami emosi dan ikut tawuran terakhir sebelum lulus. Saya rasa, yang begini ini sering terjadi. Bukan hanya dalam konteks tawuran pelajar, tapi juga di kehidupan sekarang. Banyak orang yang mudah terpancing emosi atas sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Di sub judul berikutnya, saya akan cerita seperti apa masa sekolah saya. Kalau begini, saya menyesal dulu ketika SMA tak menulis buku harian. Coba dulu saya menuliskan setiap hari yang saya jalani, pasti sekarang saya tak kesulitan mengingat kejadian apa saja yang menarik selama masa remaja. Tapi, ya saya juga tak akan menyangka kalau ternyata kehidupan saya akan ada yang mau membaca dan menerbitkannya ke dalam buku. Maklum, saya bukan tipe orang yang penuh perencanaan. Bukan orang yang sudah tahu apa yang mau dilakukan di masa depan. Bukan tipe orang yang berpikir jauh ke depan. Saya ini tipe orang yang lebih mementingkan hari ini. Menikmati yang sedang dijalani. Memang, kalau kata motivator sih, pandangan hidup “gimana nanti” ini bukan pandangan hidup yang ideal. Harusnya kan, “Nanti gimana?” tapi saya tak mau hidup terlalu menguatirkan yang belum terjadi. Meskipun kata Utha Likumahuwa, esok kan masih ada, kata saya mah, esok belum tentu ada. Jadi, ya nikmati saja hari ini.
Ah sial. Kenapa saya malah jadi seperti motivator begini, ya?
Prolog
Sebelum saya jadi jurnalis, sebelum saya jadi stand-up comedian, saya adalah seorang macan kampus. Saya mau berbagi cerita soal pengalaman saya selama kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad ’97 hingga dijuluki Macan Kampus. Tapi untuk sampai di cerita bagaimana saya mendapat julukan itu di kampus, saya mau cerita dulu masa masih berseragam putih abu-abu. Masa ketika masih jadi remaja tanggung dengan hormon yang bergejolak.
---
Daftar Isi (Biar Kaya Buku. Hehehehe)
Prolog - Memoar Si Macan Kampus
( Part 2 ) - Bimbel Oh Bimbel
( Part 3 ) - Mau Jadi Musisi
( Part 4 ) - Cinta Monyet
( Part 5 ) - Kanuragan
( Part 6 ) - Karma
( Part 7 ) - Rumah Singgah
( Part 8 ) - LULUS!
---
Mari kita kembali ke pertengahan tahun ’90.
Waktu itu saya adalah salah seorang murid di SMAN 3 Bogor. Berat badan saya masih 55 kg. Dengan tinggi badan 177 cm, jadinya terlihat kurus dan agak memprihatinkan. Kalau kamu melihat foto saya waktu kelas 2 SMA, itu lebih memprihatinkan lagi. Rambut cepak membuat saya terlihat lebih tak menarik. Malah, kalau saya melihat foto saya waktu kelas 1 dan pertengahan kelas 2 SMA, itu terlihat tua sekali. Seorang kawan, ketika melihat foto itu, mengatakan saya seperti Benjamin Button. Itu loh, film yang diperankan oleh Brad Pitt. Bukan, bukan maksudnya saya ketika SMA terlihat seperti Brad Pitt, tapi di film itu diceritakan si Benjamin Button yang siklus hidupnya bukan dari bayi lalu menjadi tua, tapi malah sebaliknya.
Lebih dari satu tahun, saya berambut cepak. Semua karena saya jadi anggota Korps Taruna SMAN 3 Bogor, sebuah organisasi ekstra kurikuler pasukan pengibar bendera. Saya bergabung bukan karena sukarela, tapi karena “dijebloskan” ke sana. Saya tak tahu seperti apa prosesnya sekarang, yang jelas, di jaman saya dan beberapa angkatan sebelumnya, semua anggota Korps Taruna dimasukan ke dalam dua kelas khusus, setelah melewati proses seleksi berdasarkan tinggi badan dan wawancara (dilakukan ketika kami daftar ulang ke SMA) yang bahkan saya awalnya tak sadar itu untuk keperluan penerimaan ekstra kurikuler di sekolah. Alasannya: supaya kalau mau mengikuti lomba baris berbaris dan harus meninggalkan ruang kelas, mudah ijinnya, karena satu kelas. Pada prakteknya, tak semua yang dijebloskan ke sana, mau ikut latihan baris berbaris.
Tahun 1994, saya diterima di SMAN 3 Bogor dan masuk sebagai angkatan VII di Korps Taruna SMAN 3 Bogor. Kelas I-8 dan kelas I-4 adalah dua kelas Taruna angkatan kami. Hampir semuanya tingginya di atas 170 cm, kecuali seorang teman kami, Achmad Hadiyatul Munawar alias Awank, yang tingginya di bawah 170 cm. Hingga sekarang, kami tak tahu kenapa dia bisa masuk kelas kami. Entah petugas administrasi salah memasukkan dia, entah karena dia dianggap punya potensi. Meskipun hingga lulus, kami tak tahu potensi dia apa, selain punya rumah yang besar di daerah Cigombong, Sukabumi, dan sering kami jadikan tempat kumpul hingga menginap. Selain rumahnya paling besar di antara kami, setiap menginap di sana, kami selalu dijamu.
Oke, mumpung sedang membahas Korps Taruna, saya mau cerita sedikit pengalaman ketika aktif jadi paskibra.
Saya tak tahu seperti apa kegiatan paskibra di sekolah lain, yang jelas Korps Taruna SMAN 3 Bogor, kegiatannya setiap Minggu pagi selalu latihan baris berbaris. Maka, ini membuat saya tak pernah libur di rumah begitu masuk SMA. Kalau dipikir-pikir sekarang sih, kenapa saya dulu mau ya, disuruh baris di bawah sinar matahari, latihan fisik macam push up, scot jump, lari, dan lain-lain padahal saya juga bisa mengelak datang, toh ada beberapa teman kami yang tak ikut latihan dan baik-baik saja di kelas.
Panas terik hujan deras kami tetap berlatih. Dan hebatnya badan di usia belasan, sepertinya daya tahan tubuh sedang bagus-bagusnya. Tak ada itu yang namanya pilek setelah hujan-hujanan. Tak pernah masuk angin. Tak ada flu. Badan boleh saja cungkring 55 kg, tapi sungguh tahan banting.
Oya, sebelum resmi menjadi anggota Korps Taruna, kami harus mengikuti kegiatan pelantikan berupa kemping di kawasan perkebunan teh di Gunung Mas, Puncak, Bogor. Udaranya kurang ajar sungguh menusuk tulang ketika malam hari. Dan kami tak diberi kesempatan memakai jaket. Ketika jurit malam (kegiatan jalan-jalan di malam hari terus mengikuti jalur yang disediakan untuk bertemu dengan pos-pos yang disediakan), kami bertemu sekelompok anggota silat Cimande yang sedang ujian kenaikan tingkat. Melihat mereka, saya jadi merasa kegiatan pelantikan kami tak ada apa-apanya. Kami hanya disuruh push up dan semacamnya yang sering kami lakukan setiap Minggu, paling seram juga dibentak senior. Tapi anak-anak silat Cimande, tak hanya dibentak, tapi juga ditendang dan dipukul. Tanpa pandang usia. Saya melihat anak kecil, mungkin masih SD, sekujur badannya ditendang seniornya. Meskipun anak itu meringis kesakitan, kegiatan itu tetap saja dilakukan. Mungkin sekarang, anak kecil itu sudah sakti mandraguna.
Saya tak tahu, apakah sekarang Korps Taruna SMAN 3 Bogor masih menjalankan prosesi pelantikan seperti kami dulu. Dan saya juga tak tahu apakah sekarang masih ditempatkan di dua kelas khusus. Serta saya juga tak tahu apakah para seniornya masih memberikan doktrin kuat pada anggotanya. Maklum, dulu kami merasa bahwa kami adalah paskibra paling bagus se-Bogor.
“Satu-satunya paskibra yang dimasukan di kelas khusus, ya kita.”
“Kalian ini siswa pilihan. Siswa terbaik di SMA 3.”
“Korps Taruna adalah paskibra yang disegani di Bogor.”
Nyatanya, ketika kami ikut lomba baris berbaris antar SMA se Kota Bogor, kami tak juara. Bahkan masuk 3 besar pun tidak.
Selain jadi anggota paskibra, saya juga ikut ekstra kurikuler silat. Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong [PPS BETAKO] Merpati Putih, sebuah perguruan silat dari Yogyakarta. Merpati Putih adalah bentuk pendek dari Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening, yang artinya mencari sampai mendapat, tindakan yang benar dalam ketenangan. Bukan hanya gerakan beladiri yang dipelajari di Merpati Putih (selanjutnya kita singkat saja menjadi MP), tapi juga ilmu pernafasan.
Nah, makanya, selama SMA, kehidupan saya tak dilepaskan dari dua hal itu. Kelas satu latihan baris dan silat, kelas 2 melatih baris dan silat ditambah nongkrong, kelas 3 latihan silat dan nongkrong. Lalu, pertanyaannya: kapan belajarnya? Haha.
Eh iya, dari tadi cerita soal ekskulnya, tapi belum cerita seperti apa sekolahnya.
SMAN 3 Bogor beralamat di Jalan Pakuan No 4, Bogor. Buat yang pernah ke Bogor, dari gerbang tol Jagorawi yang di Bogor, belok kiri maka kira-kira 400 meter kamu akan menemukan SMA 3. Angkutan kota yang melintas di depan SMA 3 adalah angkot 06. Makanya kalau corat coret di dinding, sering ditulis 3 BGR 406, atau Fuckone 406, alias Jalan Pakuan No. 4, naek 06. Waktu saya masih kelas 1, lapangan upacara kami hanyalah berupa lapangan berbatu kerikil yang ukurannya tak terlalu luas, karena di antara bangunan sekolah yang berbentuk kotak, ada dua kelas melintang di tengah. Bangunan kelas itu akhirnya diruntuhkan ketika saya kelas 2, sehingga kami punya lapangan basket yang bagus, sekaligus jadi lapangan upacara.
Sekarang, di dekat SMA 3, tepatnya di Jl. Pajajaran, sudah banyak gedung pertokoan. Dulu, hanya ada beberapa bengkel mobil, dan gedung yang sekarang jadi pertokoan, adalah semak-semak di tanah kosong. Dulu, bangunan paling besar selain sekolah kami adalah Mesjid Raya. SMAN 3 Bogor adalah salah satu SMA bergengsi ketika saya masuk, dan sepertinya sih masih begitu hingga kini. Walau begitu, angkatan sebelumnya, murid SMA 3 terkenal beringas. Sering terjadi perkelahian antar kelas, bahkan hingga saling tusuk. Kalau tawuran, murid SMA 3 Bogor biasanya melawan STM. Ketika saya baru masuk, cerita yang entah mitos atau fakta itu, sering didengungkan oleh senior. Cerita yang sangat sesuai segmen remaja yang masih penuh gejolak. Ada semacam kebanggaan semu bahwa murid SMA 3 Bogor, terkenal pemberani.
Tahun ’90-an sering sekali terjadi tawuran antar pelajar. Setiap hari, berita di televisi tak pernah luput dari berita soal tawuran pelajar, khususnya di ibukota. Pelajar saling lempar batu, kejar-kejaran di jalanan sambil memutar-mutar sabuk yang ujungnya dipasangi gir sepeda yang sudah diasah jadi tajam. Sekarang, sudah jarang berita pelajar tawuran. Entah karena pelajarnya sudah banyak sarana menyalurkan gejolak kawula muda nya, atau karena sekarang yang tawuran adalah lebih banyak orang dewasa.
Sepanjang saya sekolah, baru mengalami 2 kali kejadian yang mungkin bisa dikategorikan tawuran. Pertama, ketika satu hari, ada sekelompok pelajar menghampiri area sekolah kami dan saya juga kurang ingat bagaimana detinya, yang jelas, tiba-tiba saya diajak teman-teman untuk melawan anak STM yang cari gara-gara. Tak ada aksi lempar batu, untungnya. Hanya ada aksi baku hantam tangan kosong, dan saya sendiri karena refleks melihat bambu panjang yang tergeletak di jalanan, langsung saya gunakan untuk menakut-nakuti musuh pelajar dari sekolah lain. Latihan silat dua kali seminggu, tapi ketika terjadi tawuran, saya malah terlalu pengecut untuk menggunakan keahlian yang dilatih itu. Kejadian kedua adalah ketika corat-coret dalam rangka merayakan kelulusan. Dari pagi hingga siang, pelajar dari sekolah tetangga, yaitu SMA PGRI 1 Bogor, aman-aman saja ketika melintas di depan sekolah kami. Tapi selepas jam 1, tiba-tiba ada yang mengomandoi kami bahwa pelajar SMA PGRI 1 Bogor menyerang kami, sehingga kami harus menyerang ke sekolah mereka dan menghadang semua pelajar dari sekolah itu yang melintas. Kalau dipikir dengan kepala dingin dan tak mudah terpancing emosi, mungkin saja kejadian itu hanya bohong, kemungkinan besar ada yang menyebarkan kebohongan supaya kami emosi dan ikut tawuran terakhir sebelum lulus. Saya rasa, yang begini ini sering terjadi. Bukan hanya dalam konteks tawuran pelajar, tapi juga di kehidupan sekarang. Banyak orang yang mudah terpancing emosi atas sesuatu yang belum jelas kebenarannya.
Di sub judul berikutnya, saya akan cerita seperti apa masa sekolah saya. Kalau begini, saya menyesal dulu ketika SMA tak menulis buku harian. Coba dulu saya menuliskan setiap hari yang saya jalani, pasti sekarang saya tak kesulitan mengingat kejadian apa saja yang menarik selama masa remaja. Tapi, ya saya juga tak akan menyangka kalau ternyata kehidupan saya akan ada yang mau membaca dan menerbitkannya ke dalam buku. Maklum, saya bukan tipe orang yang penuh perencanaan. Bukan orang yang sudah tahu apa yang mau dilakukan di masa depan. Bukan tipe orang yang berpikir jauh ke depan. Saya ini tipe orang yang lebih mementingkan hari ini. Menikmati yang sedang dijalani. Memang, kalau kata motivator sih, pandangan hidup “gimana nanti” ini bukan pandangan hidup yang ideal. Harusnya kan, “Nanti gimana?” tapi saya tak mau hidup terlalu menguatirkan yang belum terjadi. Meskipun kata Utha Likumahuwa, esok kan masih ada, kata saya mah, esok belum tentu ada. Jadi, ya nikmati saja hari ini.
Ah sial. Kenapa saya malah jadi seperti motivator begini, ya?
Diubah oleh simacankampus 19-05-2017 15:54
anasabila memberi reputasi
1
9.4K
50
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
simacankampus
#32
Kanuragan (Part 5)
Saya selalu ingin jadi orang sakti mandraguna. Jadi pendekar. Makanya kalau nonton film Kung Fu di mana jagoannya bisa lompat dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah—biasa disebut ilmu meringankan tubuh—saya sering berkhayal kalau saya bisa begitu rasanya bakal menyenangkan. Saya sering membayangkan diri saya kebal terhadap senjata tajam. Bisa punya kekuatan super. Bisa menjatuhkan orang dengan sekali pukul. Saya tak tahu dari mana semua keinginan dan khayalan ini berasal. Apakah karena terlalu banyak menonton film bela diri, atau memang karena merasa diri lemah tak berdaya?
Atau jangan-jangan karena waktu SD, saya rajin mendengarkan dua sandiwara radio: Misteri Gunung Merapi dan Saur Sepuh. Saya sudah lupa cerita detilnya seperti apa si Misteri Gunung Merapi, yang jelas, di sandiwara horror itu ada tokoh jahatnya yang bernama Mak Lampir yang kalau tertawa terkekeh menyeramkan. Lalu ada jagoannya yang bernama Sembara. Intinya si Mak Lampir itu menteror desa, lah. Lalu Saur Sepuh bercerita tentang kehidupan di Kerajaan Madangkara, dengan rajanya bernama Brama Kumbara yang punya jurus bernama Ajian Serat Jiwa. Waktu Saur Sepuh diangkat ke layar lebar, saya senang bukan main. Satu kali, di program TVRI yang bernama Apresiasi Musik Indonesia, sebuah program yang membahas film lokal, dibahas teknologi canggih yang dipakai film Saur Sepuh. Untuk adegan Brama Kumbara menaiki burung raksasa, dibuatlah burung raksasa dengan ukuran sebenarnya. Brama naik burung itu, dan kepalanya bergerak ke kanan ke kiri. Waktu pertama kali nonton itu sih, rasanya seperti baru melihat teknologi luar biasa, pencapaian sinematik yang hebat. Tak berapa lama, teknologinya dipakai ketika lebaran untuk membuat patung orang sedang memukul beduk sambil goyang-goyang badannya. Lantas, ketika SMP [atau SMA ya? Saya lupa] serial Return of The Condor Heroes dan To Liong To, adalah dua serial yang rajin saya tonton. Return of the Condor Heroes adalah serial yang popular, dengan tokoh utamanya Andy Lau. Saking popularnya serial itu, Indosiar mendatangkan Andy Lau ke acara Gebyar BCA. Lagu pembuka serial itu pun pasti membekas di benak para penonton setianya.
Siapa yang merubah hatiku?
Siapa yang membuat kita satu?
Yah begitulah dua lirik pembukanya. Belakangan, penyanyi lagu soundtrack serial itu jadi penyanyi terkenal: Yuni Shara. Kisah cinta antara Bibi Lung dan Kakak Yo Ko adalah salah satu kisah cinta yang menghiasi masa remaja saya dan jutaan orang lainnya di Indonesia. Saking terpengaruhnya saya oleh cerita silat dan kung fu, saya pernah punya keinginan untuk belajar bela diri di kuil shaolin. Ada serial Shaolin Kung Fu yang diputar di RCTI setelah serial Wiro Sableng [maafkan kalau saya salah data], yang sangat saya suka dan makin membuat saya ingin belajar kung fu di kuil shaolin. Lagu pembuka serialnya samar-samar masih saya ingat sampai sekarang.
Huh! Hah! Huh! Hah!
Hutan belantara, tempat menempa
Menjalani hidup jadi pendekar
Apapun saya lakukan demi kanuragan.
Makanya, ketika ikut Merpati Putih, saya sempat ikut-ikutan eksplorasi ilmu kanuragan. Sebenarnya di Merpati Putih tak melibatkan hal mistis. Semua murni pernafasan dan ilmu bela diri tangan kosong. Tak ada itu kepercayaan soal jin penjaga manusia, atau khodam. Nah, dari salah seorang senior di SMA, yang bernama Taufik Hidayat alias Aat, saya dikenalkan pada hal-hal yang condong ke mistis. Kata Aat, semua manusia dijaga oleh jin yang selalu mengikutinya. Itu yang disebut khodam. Teorinya, kita bisa mengenal lebih dekat khodam kita, dan kalau sudah kenal, bisa disuruh-suruh. Semacam asisten pribadi tapi tak terlihat lah.
Lalu, ada yang namanya nyambet. Saya kurang tahu padanan dalam bahasa Indonesianya. Pokoknya, nyambet itu adalah semacam mengambil atau memasukan ke dalam jiwa. Nyambet macan, artinya mengambil roh macan yang gaib sehingga kita bisa berperilaku seperti macan, punya kekuatan seperti macan, bisa melompat seperti macan. Kalau dipikir-pikir sekarang sih, agak menggelikan. Sudah jelas manusia mahluk paling sempurna, eh ini malah mau jadi seperti binatang. Semua karena Aat. Dia bahkan yang memberi saya bacaan-bacaan setelah sholat. Bukan demi ibadah karena Alloh SWT, tapi demi mengenal diri sendiri, katanya sih begitu. Padahal, ibadah atau menyebut nama Alloh itu harusnya karena mengharap ridho Alloh, bukan karena ingin sakti, meskipun sok memakai alasan demi mengenal diri sendiri.
Aat adalah Ketua Taruna dan Ketua Merpati Putih (sebelum saya). Bisa dibilang, dia adalah salah satu orang yang berpengaruh di masa remaja saya. Membuat saya mau latihan baris. Membuat saya mau latihan silat. Membuat saya mau mengurus organisasi ekskul Merpati Putih. Membuat saya mengenal doktrin. Waktu masih SMA sih, saya tak sadar. Belakangan saya sadar, banyak doktrin yang berhasil Aat terapkan di benak saya: mulai dari doktrin soal Taruna adalah ekskul yang terbaik, hingga doktrin bahwa saya punya potensi jadi pemimpin. Yah, minimal, dia berjasa membangkitkan rasa percaya diri saya. Meskipun itu tak berhasil diterapkan dalam konteks mendekati perempuan.
Aat badannya gemuk. Untuk ukuran anak SMA, dia sudah terlihat seperti bapak-bapak. Dia pintar sekali berbicara. Disegani di SMA, baik di kalangan anak-anak baik yang aktif di sekolah, maupun anak-anak tongkrongan yang berandalan. Saya selalu yakin bahwa dia sakti, meskipun tak pernah melihat langsung dia mempraktekan ilmunya. Yang jelas sih, saya rasa kalaupun dia dipukul, badannya yang gemuk akan menahan diri dari pukulan orang. Aat lah yang kemudian setelah lulus membawa saya berlatih ilmu pernafasan ke daerah Padalarang. Saya rela naik motor dari Bandung, demi berlatih ilmu pernafasan dan berharap jadi sakti mandraguna. Dia membuat saya yakin bahwa kalau saya berlatih dengan keras, saya bakal bisa menyuruh orang melakukan apa yang saya mau, hanya dengan pikiran. Aat juga lah yang memberi saya Isim, alias jimat kalau bahasa awamnya. Ada semacam tulisan dari huruf Arab gundul ditulis memakai tinta merah di atas semacam kain yang entah dari bahan apa, lalu diberi kepada saya. Tak pernah saya bertanya apa itu arti tulisannya. Meskipun dia bilang ini hanya perantara dari Allah, dan tetap Dia yang memberi kekuatan, tetap saja pada dasarnya ada nuansa musyrik alias menduakan Tuhan dari kegiatan itu. Aat bilang, itu untuk menambah wibawa. Saya tak pernah tahu, apakah jimat itu berhasil membuat orang-orang melihat saya berwibawa. Kalaupun teman-teman dan adik-adik kelas, bersikap akrab dan hangat kepada saya, sepertinya itu karena memang kami rajin nongkrong bareng. Bukan karena saya berwibawa, dan wibawanya datang dari kain yang bertuliskan huruf Arab gundul yang entah apa artinya.
Selain Aat, sosok yang lekat dengan kanuragan di masa remaja saya, adalah para pelatih Merpati Putih. Pak Tole dan Mas Pur. Pak Tole adalah atlit beladiri, pekerjaan utamanya adalah melatih silat. Badannya kecil. Tingginya sepertinya tak lebih dari 160 cm. Rambutnya sudah berwarna putih. Wajahnya bijak, murah senyum, tapi saya dengar dia pernah menotok kondektur bis yang menagih ongkos berlebihan. Perawakannya mengingatkan saya pada tokoh-tokoh guru beladiri di film. Kecil, tapi jagoan. Saya pernah berkunjung ke rumahnya di Bogor. Sangat sederhana, sehingga membuat saya berpikir bahwa gaji Pak Tole dari mengajar kami silat, kuranglah besar. Tapi, iuran anggota pun kadang banyak yang menunggak. Itu salah satu yang membuat saya sibuk di SMA: menagih iuran anggota Merpati Putih. Serba salah. Tak ditagih, butuh kas untuk biaya operasional. Ditagih, banyak yang tak mau bayar, dengan dalih jarang latihan.
Mas Pur adalah seorang prajurit Angkatan Darat di Divisi Zeni—saya dan teman sering membahas ini, soal bahwa Mas Pur tentara yang seniman, bukan tentara yang bagian perang. Waktu saya masih SMA sih, pangkatnya Prajurit Kepala. Orangnya cengengesan, sering tertawa. Wajahnya khas tentara Jawa. Lebih tinggi dari Pak Tole. Mas Pur adalah orang yang humoris. Kalau dia yang melatih silat, kami masih bisa tertawa di lapangan. Suaranya cempreng dan nada bicaranya selalu tinggi. Mas Pur membuat sosok tentara di benak saya jadi menyenangkan. Bukan sosok orang berseragam yang seram dan galak.
Tapi, meskipun saya berlatih beladiri sejak kelas 1, tetap saja saya penakut. Kalau naik bis kota di perjalanan pulang ke rumah, dan di dalam bis ada segerombolan pelajar STM, tetap saja saya deg-degan. Padahal, belum tentu juga mereka mau mengganggu saya. Begitu juga ketika turun bis dan pulang ke rumah di Gunung Putri. Setiap turun di Jalan Cagak [pertigaan antara jalan raya dan jalan menuju perumahan saya], jantung selalu berdebar. Takut dipalak. Meskipun selama saya tinggal di sana baru sekali dipalak--ketika SMP saja, itu pun karena saya berharap dipalak dengan niat kalau dipalak akan melawan tapi nyatanya malah ciut—tetap saja, setiap pulang sendirian selalu was-was akan bertemu anak-anak kampung [saya tinggal di perumahan, dan kami menyebut anak-anak asli Gunung Putri sebagai anak-anak kampung] yang iseng dan meminta uang.
Selain ingin sakti mandraguna, saya juga ingin jadi pahlawan super yang punya kekuatan super. Mau jadi pembasmi kejahatan. Saya sebal melihat orang-orang jahat. Kalau saya punya kekuatan super, setiap melihat copet di bis kota, pasti bakal saya hajar. Maklum, saya sering melihat copet kalau berangkat dan pulang sekolah, tapi tak berani berbuat apa-apa. Mereka selalu bergerombol. Saya yang cungkring pasti habis babak belur kalau dihajar gerombolan copet. Nah, kalau saja saya seperti Superman. Tak mempan ditembak atau dibacok, sudah pasti copet-copet di bis kota, akan saya hentikan. Tak apalah main hakim sendiri, yang penting rasa kesal saya terhadap orang-orang jahat bisa terlampiaskan. Kalau saya bisa punya kekuatan seperti Superman, saya bisa melihat tembus pandang. Yang itu tak usah diterangkan lebih lanjut. Kamu tahu maksudnya lah. Hehehe.
Selain Superman, pahlawan super lainnya yang saya sukai, adalah Batman. Dia tak punya kekuatan super, tapi jago bela diri dan punya banyak duit. Pelajaran berharga dari Batman, kalau mau fokus membantu orang lain, lebih baik keuangan kita sudah mapan alias uang bukan masalah utama buat kita. Saya suka kostum Batman yang hitam-hitam, memakai topeng. Terlihat maskulin. Cuma, yang saya masih heran sampai sekarang, Bruce Wayne itu kan rumahnya besar sekali, seperti istana, tapi dia cuma punya satu pelayan atau pengurus rumah atau pembantu: Alfred. Orang setua Alfred mengurusi rumah sebesar istana sendirian. Saya tak pernah melihat di film ada pembantu lain selain Alfred di rumah Bruce Wayne—kalau begitu, dia pelit ya. Tak mau mempekerjakan pembantu lain di rumah itu. Bahkan pembantu yang pulang hari pun tak pernah terlihat. Hebat sekali Alfred. Sepertinya dia punya kekuatan super. Dan semoga saja Alfred digaji sangat tinggi. Mengurusi rumah yang sangat besar sendirian, dan mengurusi majikan yang kerjanya 24 jam. Kadang, pulang ke rumah dengan luka-luka. Alfred harus bertugas sebagai perawat juga. Pantas saja Alfred jomblo hingga tua. Dia tak punya waktu mengurus dirinya sendiri, karena waktunya sudah habis buat mengurusi Bruce Wayne.
Ngomong-ngomong soal pahlawan super, kan suka ada tuh, adegan ketika Clark Kent berubah jadi Superman. Clark biasanya terlihat sudah memakai kostum Superman di dalam kemejanya. Makanya, ketika dia berubah, adegannya Clark membuka dua kancing kemejanya hingga terlihat logo S di dada. Dipikir-pikir, repot juga ya jadi pahlawan super. Harus selalu siap sedia memakai kostum dan memakainya di balik pakaian sehari-hari. Dan yang masih saya bingung, kan Superman memakai boots. Kalau dia memakai kostum Superman di balik kemeja biasanya, itu sepatu boots nya masa’ bisa masuk ke sepatu biasanya dia? Lalu, jubahnya juga hebat sekali, ya, bisa disembunyikan di balik kemeja.
Akhirnya, itu membuat saya sedikit lega bahwa kenyataannya saya tak mungkin bisa jadi pahlawan super. Bayangkan, kalau benar saya pahlawan super dan harus siap sedia memakai kostum, untuk jaga-jaga ada yang butuh bantuan, pasti akan repot sekali kalau mules dan harus buang air besar di WC sekolah. Saya ini tipe yang rajin buang air besar. Setiap pagi, saya pasti nyetor di WC sekolah. Ada dua tipe: WC cowok dan WC bukan khusus cewek sebetulnya tapi mayoritas dipakai cewek. WC cowok, jorok sekali. Gelap, bau pesing, dan kotor, tapi aman dan santai dipakai untuk nongkrong lama. Sedangkan WC yang biasa dipakai cewek, bersih, terang, tak bau, tapi tak tenang nongkrong lama, karena biasanya cewek antriannya panjang, dan kalau kita berlama-lama, pasti itu cewek-cewek sudah resah. Dan biasanya, begitu kita keluar setelah buang air besar, aromanya masih hangat-hangat menyesakkan dada. Maka akan potensial membuat malu.
Waktu saya masih sekolah, di SMA 3 Bogor belum ada WC duduk. Masih WC jongkok. Saya ini tipe yang kalau buang air besar harus membuka celana dan sepatu. Tak bisa buang air besar sambil duduk dan masih memakai celana serta sepatu. Jadi, semua harus dilepas. Urutannya: buka sepatu, lalu buka celana. Usahakan cari tempat yang lebih tinggi, supaya celana tak kena lantai WC yang kotor dan basah. Kalau WC nya sejajar lantainya, alias tak ada di tempat yang lebih tinggi, maka saya biasanya naik ke bak mandinya untuk membuka celana. Dengan begitu, celana aman dan tetap kering. Begitu juga ketika harus memakai celana kembali. Naik ke tempat yang lebih tinggi, pakai celana, lalu terakhir sepatu.
Bayangkan kalau saya pahlawan super yang sudah memakai kostum di balik seragam saya? Wah, kalau buang air besar pasti akan lebih repot lagi. Sudah gitu, sedang asik nongkrong menikmati proses bongkar muat, eh ada yang butuh bantuan.
Saya selalu ingin jadi orang sakti mandraguna. Jadi pendekar. Makanya kalau nonton film Kung Fu di mana jagoannya bisa lompat dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah—biasa disebut ilmu meringankan tubuh—saya sering berkhayal kalau saya bisa begitu rasanya bakal menyenangkan. Saya sering membayangkan diri saya kebal terhadap senjata tajam. Bisa punya kekuatan super. Bisa menjatuhkan orang dengan sekali pukul. Saya tak tahu dari mana semua keinginan dan khayalan ini berasal. Apakah karena terlalu banyak menonton film bela diri, atau memang karena merasa diri lemah tak berdaya?
Atau jangan-jangan karena waktu SD, saya rajin mendengarkan dua sandiwara radio: Misteri Gunung Merapi dan Saur Sepuh. Saya sudah lupa cerita detilnya seperti apa si Misteri Gunung Merapi, yang jelas, di sandiwara horror itu ada tokoh jahatnya yang bernama Mak Lampir yang kalau tertawa terkekeh menyeramkan. Lalu ada jagoannya yang bernama Sembara. Intinya si Mak Lampir itu menteror desa, lah. Lalu Saur Sepuh bercerita tentang kehidupan di Kerajaan Madangkara, dengan rajanya bernama Brama Kumbara yang punya jurus bernama Ajian Serat Jiwa. Waktu Saur Sepuh diangkat ke layar lebar, saya senang bukan main. Satu kali, di program TVRI yang bernama Apresiasi Musik Indonesia, sebuah program yang membahas film lokal, dibahas teknologi canggih yang dipakai film Saur Sepuh. Untuk adegan Brama Kumbara menaiki burung raksasa, dibuatlah burung raksasa dengan ukuran sebenarnya. Brama naik burung itu, dan kepalanya bergerak ke kanan ke kiri. Waktu pertama kali nonton itu sih, rasanya seperti baru melihat teknologi luar biasa, pencapaian sinematik yang hebat. Tak berapa lama, teknologinya dipakai ketika lebaran untuk membuat patung orang sedang memukul beduk sambil goyang-goyang badannya. Lantas, ketika SMP [atau SMA ya? Saya lupa] serial Return of The Condor Heroes dan To Liong To, adalah dua serial yang rajin saya tonton. Return of the Condor Heroes adalah serial yang popular, dengan tokoh utamanya Andy Lau. Saking popularnya serial itu, Indosiar mendatangkan Andy Lau ke acara Gebyar BCA. Lagu pembuka serial itu pun pasti membekas di benak para penonton setianya.
Siapa yang merubah hatiku?
Siapa yang membuat kita satu?
Yah begitulah dua lirik pembukanya. Belakangan, penyanyi lagu soundtrack serial itu jadi penyanyi terkenal: Yuni Shara. Kisah cinta antara Bibi Lung dan Kakak Yo Ko adalah salah satu kisah cinta yang menghiasi masa remaja saya dan jutaan orang lainnya di Indonesia. Saking terpengaruhnya saya oleh cerita silat dan kung fu, saya pernah punya keinginan untuk belajar bela diri di kuil shaolin. Ada serial Shaolin Kung Fu yang diputar di RCTI setelah serial Wiro Sableng [maafkan kalau saya salah data], yang sangat saya suka dan makin membuat saya ingin belajar kung fu di kuil shaolin. Lagu pembuka serialnya samar-samar masih saya ingat sampai sekarang.
Huh! Hah! Huh! Hah!
Hutan belantara, tempat menempa
Menjalani hidup jadi pendekar
Apapun saya lakukan demi kanuragan.
Makanya, ketika ikut Merpati Putih, saya sempat ikut-ikutan eksplorasi ilmu kanuragan. Sebenarnya di Merpati Putih tak melibatkan hal mistis. Semua murni pernafasan dan ilmu bela diri tangan kosong. Tak ada itu kepercayaan soal jin penjaga manusia, atau khodam. Nah, dari salah seorang senior di SMA, yang bernama Taufik Hidayat alias Aat, saya dikenalkan pada hal-hal yang condong ke mistis. Kata Aat, semua manusia dijaga oleh jin yang selalu mengikutinya. Itu yang disebut khodam. Teorinya, kita bisa mengenal lebih dekat khodam kita, dan kalau sudah kenal, bisa disuruh-suruh. Semacam asisten pribadi tapi tak terlihat lah.
Lalu, ada yang namanya nyambet. Saya kurang tahu padanan dalam bahasa Indonesianya. Pokoknya, nyambet itu adalah semacam mengambil atau memasukan ke dalam jiwa. Nyambet macan, artinya mengambil roh macan yang gaib sehingga kita bisa berperilaku seperti macan, punya kekuatan seperti macan, bisa melompat seperti macan. Kalau dipikir-pikir sekarang sih, agak menggelikan. Sudah jelas manusia mahluk paling sempurna, eh ini malah mau jadi seperti binatang. Semua karena Aat. Dia bahkan yang memberi saya bacaan-bacaan setelah sholat. Bukan demi ibadah karena Alloh SWT, tapi demi mengenal diri sendiri, katanya sih begitu. Padahal, ibadah atau menyebut nama Alloh itu harusnya karena mengharap ridho Alloh, bukan karena ingin sakti, meskipun sok memakai alasan demi mengenal diri sendiri.
Aat adalah Ketua Taruna dan Ketua Merpati Putih (sebelum saya). Bisa dibilang, dia adalah salah satu orang yang berpengaruh di masa remaja saya. Membuat saya mau latihan baris. Membuat saya mau latihan silat. Membuat saya mau mengurus organisasi ekskul Merpati Putih. Membuat saya mengenal doktrin. Waktu masih SMA sih, saya tak sadar. Belakangan saya sadar, banyak doktrin yang berhasil Aat terapkan di benak saya: mulai dari doktrin soal Taruna adalah ekskul yang terbaik, hingga doktrin bahwa saya punya potensi jadi pemimpin. Yah, minimal, dia berjasa membangkitkan rasa percaya diri saya. Meskipun itu tak berhasil diterapkan dalam konteks mendekati perempuan.
Aat badannya gemuk. Untuk ukuran anak SMA, dia sudah terlihat seperti bapak-bapak. Dia pintar sekali berbicara. Disegani di SMA, baik di kalangan anak-anak baik yang aktif di sekolah, maupun anak-anak tongkrongan yang berandalan. Saya selalu yakin bahwa dia sakti, meskipun tak pernah melihat langsung dia mempraktekan ilmunya. Yang jelas sih, saya rasa kalaupun dia dipukul, badannya yang gemuk akan menahan diri dari pukulan orang. Aat lah yang kemudian setelah lulus membawa saya berlatih ilmu pernafasan ke daerah Padalarang. Saya rela naik motor dari Bandung, demi berlatih ilmu pernafasan dan berharap jadi sakti mandraguna. Dia membuat saya yakin bahwa kalau saya berlatih dengan keras, saya bakal bisa menyuruh orang melakukan apa yang saya mau, hanya dengan pikiran. Aat juga lah yang memberi saya Isim, alias jimat kalau bahasa awamnya. Ada semacam tulisan dari huruf Arab gundul ditulis memakai tinta merah di atas semacam kain yang entah dari bahan apa, lalu diberi kepada saya. Tak pernah saya bertanya apa itu arti tulisannya. Meskipun dia bilang ini hanya perantara dari Allah, dan tetap Dia yang memberi kekuatan, tetap saja pada dasarnya ada nuansa musyrik alias menduakan Tuhan dari kegiatan itu. Aat bilang, itu untuk menambah wibawa. Saya tak pernah tahu, apakah jimat itu berhasil membuat orang-orang melihat saya berwibawa. Kalaupun teman-teman dan adik-adik kelas, bersikap akrab dan hangat kepada saya, sepertinya itu karena memang kami rajin nongkrong bareng. Bukan karena saya berwibawa, dan wibawanya datang dari kain yang bertuliskan huruf Arab gundul yang entah apa artinya.
Selain Aat, sosok yang lekat dengan kanuragan di masa remaja saya, adalah para pelatih Merpati Putih. Pak Tole dan Mas Pur. Pak Tole adalah atlit beladiri, pekerjaan utamanya adalah melatih silat. Badannya kecil. Tingginya sepertinya tak lebih dari 160 cm. Rambutnya sudah berwarna putih. Wajahnya bijak, murah senyum, tapi saya dengar dia pernah menotok kondektur bis yang menagih ongkos berlebihan. Perawakannya mengingatkan saya pada tokoh-tokoh guru beladiri di film. Kecil, tapi jagoan. Saya pernah berkunjung ke rumahnya di Bogor. Sangat sederhana, sehingga membuat saya berpikir bahwa gaji Pak Tole dari mengajar kami silat, kuranglah besar. Tapi, iuran anggota pun kadang banyak yang menunggak. Itu salah satu yang membuat saya sibuk di SMA: menagih iuran anggota Merpati Putih. Serba salah. Tak ditagih, butuh kas untuk biaya operasional. Ditagih, banyak yang tak mau bayar, dengan dalih jarang latihan.
Mas Pur adalah seorang prajurit Angkatan Darat di Divisi Zeni—saya dan teman sering membahas ini, soal bahwa Mas Pur tentara yang seniman, bukan tentara yang bagian perang. Waktu saya masih SMA sih, pangkatnya Prajurit Kepala. Orangnya cengengesan, sering tertawa. Wajahnya khas tentara Jawa. Lebih tinggi dari Pak Tole. Mas Pur adalah orang yang humoris. Kalau dia yang melatih silat, kami masih bisa tertawa di lapangan. Suaranya cempreng dan nada bicaranya selalu tinggi. Mas Pur membuat sosok tentara di benak saya jadi menyenangkan. Bukan sosok orang berseragam yang seram dan galak.
Tapi, meskipun saya berlatih beladiri sejak kelas 1, tetap saja saya penakut. Kalau naik bis kota di perjalanan pulang ke rumah, dan di dalam bis ada segerombolan pelajar STM, tetap saja saya deg-degan. Padahal, belum tentu juga mereka mau mengganggu saya. Begitu juga ketika turun bis dan pulang ke rumah di Gunung Putri. Setiap turun di Jalan Cagak [pertigaan antara jalan raya dan jalan menuju perumahan saya], jantung selalu berdebar. Takut dipalak. Meskipun selama saya tinggal di sana baru sekali dipalak--ketika SMP saja, itu pun karena saya berharap dipalak dengan niat kalau dipalak akan melawan tapi nyatanya malah ciut—tetap saja, setiap pulang sendirian selalu was-was akan bertemu anak-anak kampung [saya tinggal di perumahan, dan kami menyebut anak-anak asli Gunung Putri sebagai anak-anak kampung] yang iseng dan meminta uang.
Selain ingin sakti mandraguna, saya juga ingin jadi pahlawan super yang punya kekuatan super. Mau jadi pembasmi kejahatan. Saya sebal melihat orang-orang jahat. Kalau saya punya kekuatan super, setiap melihat copet di bis kota, pasti bakal saya hajar. Maklum, saya sering melihat copet kalau berangkat dan pulang sekolah, tapi tak berani berbuat apa-apa. Mereka selalu bergerombol. Saya yang cungkring pasti habis babak belur kalau dihajar gerombolan copet. Nah, kalau saja saya seperti Superman. Tak mempan ditembak atau dibacok, sudah pasti copet-copet di bis kota, akan saya hentikan. Tak apalah main hakim sendiri, yang penting rasa kesal saya terhadap orang-orang jahat bisa terlampiaskan. Kalau saya bisa punya kekuatan seperti Superman, saya bisa melihat tembus pandang. Yang itu tak usah diterangkan lebih lanjut. Kamu tahu maksudnya lah. Hehehe.
Selain Superman, pahlawan super lainnya yang saya sukai, adalah Batman. Dia tak punya kekuatan super, tapi jago bela diri dan punya banyak duit. Pelajaran berharga dari Batman, kalau mau fokus membantu orang lain, lebih baik keuangan kita sudah mapan alias uang bukan masalah utama buat kita. Saya suka kostum Batman yang hitam-hitam, memakai topeng. Terlihat maskulin. Cuma, yang saya masih heran sampai sekarang, Bruce Wayne itu kan rumahnya besar sekali, seperti istana, tapi dia cuma punya satu pelayan atau pengurus rumah atau pembantu: Alfred. Orang setua Alfred mengurusi rumah sebesar istana sendirian. Saya tak pernah melihat di film ada pembantu lain selain Alfred di rumah Bruce Wayne—kalau begitu, dia pelit ya. Tak mau mempekerjakan pembantu lain di rumah itu. Bahkan pembantu yang pulang hari pun tak pernah terlihat. Hebat sekali Alfred. Sepertinya dia punya kekuatan super. Dan semoga saja Alfred digaji sangat tinggi. Mengurusi rumah yang sangat besar sendirian, dan mengurusi majikan yang kerjanya 24 jam. Kadang, pulang ke rumah dengan luka-luka. Alfred harus bertugas sebagai perawat juga. Pantas saja Alfred jomblo hingga tua. Dia tak punya waktu mengurus dirinya sendiri, karena waktunya sudah habis buat mengurusi Bruce Wayne.
Ngomong-ngomong soal pahlawan super, kan suka ada tuh, adegan ketika Clark Kent berubah jadi Superman. Clark biasanya terlihat sudah memakai kostum Superman di dalam kemejanya. Makanya, ketika dia berubah, adegannya Clark membuka dua kancing kemejanya hingga terlihat logo S di dada. Dipikir-pikir, repot juga ya jadi pahlawan super. Harus selalu siap sedia memakai kostum dan memakainya di balik pakaian sehari-hari. Dan yang masih saya bingung, kan Superman memakai boots. Kalau dia memakai kostum Superman di balik kemeja biasanya, itu sepatu boots nya masa’ bisa masuk ke sepatu biasanya dia? Lalu, jubahnya juga hebat sekali, ya, bisa disembunyikan di balik kemeja.
Akhirnya, itu membuat saya sedikit lega bahwa kenyataannya saya tak mungkin bisa jadi pahlawan super. Bayangkan, kalau benar saya pahlawan super dan harus siap sedia memakai kostum, untuk jaga-jaga ada yang butuh bantuan, pasti akan repot sekali kalau mules dan harus buang air besar di WC sekolah. Saya ini tipe yang rajin buang air besar. Setiap pagi, saya pasti nyetor di WC sekolah. Ada dua tipe: WC cowok dan WC bukan khusus cewek sebetulnya tapi mayoritas dipakai cewek. WC cowok, jorok sekali. Gelap, bau pesing, dan kotor, tapi aman dan santai dipakai untuk nongkrong lama. Sedangkan WC yang biasa dipakai cewek, bersih, terang, tak bau, tapi tak tenang nongkrong lama, karena biasanya cewek antriannya panjang, dan kalau kita berlama-lama, pasti itu cewek-cewek sudah resah. Dan biasanya, begitu kita keluar setelah buang air besar, aromanya masih hangat-hangat menyesakkan dada. Maka akan potensial membuat malu.
Waktu saya masih sekolah, di SMA 3 Bogor belum ada WC duduk. Masih WC jongkok. Saya ini tipe yang kalau buang air besar harus membuka celana dan sepatu. Tak bisa buang air besar sambil duduk dan masih memakai celana serta sepatu. Jadi, semua harus dilepas. Urutannya: buka sepatu, lalu buka celana. Usahakan cari tempat yang lebih tinggi, supaya celana tak kena lantai WC yang kotor dan basah. Kalau WC nya sejajar lantainya, alias tak ada di tempat yang lebih tinggi, maka saya biasanya naik ke bak mandinya untuk membuka celana. Dengan begitu, celana aman dan tetap kering. Begitu juga ketika harus memakai celana kembali. Naik ke tempat yang lebih tinggi, pakai celana, lalu terakhir sepatu.
Bayangkan kalau saya pahlawan super yang sudah memakai kostum di balik seragam saya? Wah, kalau buang air besar pasti akan lebih repot lagi. Sudah gitu, sedang asik nongkrong menikmati proses bongkar muat, eh ada yang butuh bantuan.
0