- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Kasih Anak Samarinda
...
TS
jorghymub61
Kisah Kasih Anak Samarinda
Quote:
Quote:
MY STORY
- PART 1: KELUARGA GUE BROKEN HOME
- PART 2: WELCOME JAKARTA
- PART 3: GALAU OH GALAU
- PART 4: ICHA HAMIL
- PART 5: GUE DIPANGGIL KIPLI
- PART 6: KIPLI MULAI NAKAL
- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 1)
- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 2)
- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 1)
- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 2)
- PART 8: KIPLI KERJA HALAL
- PART 9: KIPLI NIATNYA MOVE ON, TAPI...
- PART 10: GOODBYE MRA!
- DAILY: NGUKUR BAJU ANAK DI BPK PENABUR
- PART 11: PEDEKATE KE CK (BAG 1)
- PART 12: PEDEKATE KE CK (BAG 2)
- PART 14: TAMA GALAU
- PART 15: BABY AND SWEETY JADI ABSURD
- PART 16: KIPLI NGAMEN LAGI
Quote:
Diubah oleh jorghymub61 17-05-2017 15:43
oldschoolheroes memberi reputasi
1
80.3K
562
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jorghymub61
#123
PART 4: ICHA HAMIL
Beberapa hari setelah gue tahu kalau rencana nyokap gue adalah mengajak gue tinggal di sini, di Bekasi. Gue pun berniat untuk pinjam handphone nyokap gue supaya bisa kasih kabar ke Icha dan teman-teman gue.
Tapi gue bener-bener kaget karena saat gue ambil handphone nyokap dan lihat buku telepon, sudah gak ada satu pun nomor orang-orang yang gue kenal di sana. Gue pun langsung tanya nyokap.
“Loh ma, ini nomor temen-temen ku kok ndak ada semua? Mama ganti nomor kah?,” tanya gue panik.
“Ndak tau,” jawab nyokap gue ketus.
“Mama hapus kah?,” tanya gue lagi.
“Dibilang ndak tau, hilang sendiri mungkin,” kata nyokap gue.
“Ma, serius nah, aku mau hubungi temen ku, penting,” ujar gue mendesak nyokap.
“Orang dikasih tau, mama ndak tahu,” jawabnya mulai marah.
“Ah elah,” gerutu gue sambil lempar handphone ke kursi. Gue yakin kalau nyokap gue sudah menghapus semua kontak-kontak itu.
Mulai saat itu, gue gak tau gimana cara menghubungi Icha dan temen-temen gue yang ada di Samarinda. Gue pun sudah berusaha untuk memaksa nyokap gue untuk bisa kasih tau atau gimana lah ya supaya gue bisa hubungi temen-temen gue di Samarinda. Tapi, nihil, hasilnya sia-sia, nyokap gue tetep bersikukuh pura-pura gak tau. Dia berharap untuk gue bisa melupakan Samarinda dan memulai hidup baru di Bekasi. Sejak saat itu, gue gak pernah lagi dibolehin pegang handphone nyokap.
Gak terasa, waktu pun dengan begitu cepatnya berjalan. Gue menjalani hidup dengan penuh rasa galau sudah lebih dari tiga bulan. Makan, tidur, nonton tv, main gitar, begitulah keseharian gue di kontrakan. Gue masih gak mau keluar kontrakan atau cari teman di sekitar sini. Pikiran gue masih kebayang-bayang Samarinda, terutama tentang Icha. Dia lagi apa? Gimana kabarnya? Pokoknya semua yang berhubungan dengan Dia.
“Tit.. Tit.. Tit.. Tit…,” begitu bunyi notifikasi SMS handphone noki* jadul nyokap gue.
Kebetulan, nyokap gue lagi gak ada di kontrakan, gak ingat gue lagi kemana tuh nyokap. Gak biasanya nyokap tinggalin handphonenya. Entah kenapa, gue berinisiatif untuk membaca SMS tersebut. Tak disangka, ternyata SMS itu berisikan kata singkat yang bikin jantung gue berdebar.
“Tam..”, tulisnya singkat.
Namun, bukan karena kata singkat itu yang membuat gue deg-degan tapi pengirimnya yang ternyata adalah Tko. Dengan sigap, gue langsung bawa handphone itu ke luar kontrakan. Kebetulan di dekat kontrakan ada kebun kosong yang ada pohon rindangnya. Gue pun duduk di situ dan berniat untuk membalas SMS dari Tere.
“Ter, ini Aku Tama, gimana kabar di sana? Gimana kabar Icha? Aku diculik mama ku, ndak bisa pulang ke Samarinda,” balas gue. Setelah SMS gue itu, cukup lama gue menunggu sambil lihat-lihat ke belakang gue takutnya nyokap tiba-tiba datang, jadi gue siap-siap lari, haha. Asli ini Tere kok lama banget balasnya, sampe gue beberapa kali missed call, gak ada tanggepan juga. Gue ga berani telepon karena waktu itu pulsa nyokap sisa Rp 2.000 an perak.
“Tit.. Tit… Tit…,” bunyi SMS yang ternyata Tko. Gue pun langsung buru-buru buka SMS tersebut.
“Kemana aja kamu, Gimana bilangnya ya Tam. Icha bentar lagi mau nikah. Dia hamil sama C,” tulis Tere dalam SMS itu.
“Nikah? Hamil? Sama C? Gimana ceritanya Tko?,” tanya gue sambil nahan perasaan, ya you know lah gimana perasaan gue baca SMS itu.
“Aku ndak tau juga, Icha juga gak mau cerita ke Aku. Dia cuma bilang gitu sama Aku. Kamu sih gak pulang-pulang,” balas Tko.
Di bawah pohon itu gue langsung termenung, diam tanpa bisa berpikir secara jernih. Selama ini, berbulan-bulan, gue bertanya-tanya tentang Icha. Gue menahan rasa rindu, gue menahan rasa galau saat ingin bertemu Dia. Gue berharap Dia bisa menunggu gue. Gue kira dia bisa sabar. Tapi ternyata, harapan gue itu cuma semu saja. Galau? Hancur? Berantakan? Ya, perasaan gue sudah gak karuan lagi. Galau karena gak bisa pulang ke Samarinda, mungkin masih bisa gue tahan. Tapi sekarang gue malah gak mau pulang ke Samarinda lagi. Gue gak tau mau apa, mau kemana, mau gimana, bingung.
Gue pun akhirnya pulang, sebelumnya, gue udah hapus SMS dari Tko tadi. Gue juga gak simpan nomor Tko karena gua sudah bener-bener kesal dan gak mau berhubungan dengan mereka. Sampainya di kontrakan, nyokap gue sudah nunggu di depan teras.
“Tam, lihat hape mama gak? Dari mana kamu?,” tanyanya.
“Nih, dari kebun tadi,” jawab gue sambil nyodorin handphonenya.
Gue pun langsung masuk ke dalam dan tiduran sambil meratapi nasib apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan buat gue ini.
***
Siapa sih C ini? Sebelumnya sudah gue ceritakan bahwa C merupakan saudara dari Fs, temen nongkrong gue. C biasanya mengantar Fitri ke rumah Tko. Karena Dia sering mengantar Fs, C pun juga mulai kenal dengan Icha.
Dari sinilah, pertarungan gue dan C dimulai. C ternyata juga menyimpan perasaan sama Icha dan mengambil cukup banyak strategi untuk melakukan pendekatan. Tetapi sayang banget karena Icha ternyata sudah suka duluan sama gue. Hal ini gue ketahui karena waktu itu gue pernah tanya ke Icha saat udah jadian.
“Kok dulu Kamu gak mau sama C?,” tanya gue.
“Ndak ah, Aku sudah terlanjur suka sama Kamu,” jawabnya sambil senyum-senyum.
Kayaknya penjelasan soal C ini gak usah terlalu panjang ya karena cukup geram juga kalau ingat sama orang ini, hehe. Intinya, menurut informasi yang gue dapat dari Fitri dan mata kepala sendiri, C ini Playboy Cap Kutu. Kerjaannya gonta-ganti pacar karena kebetulan dia punya motor yang cukup bagus jaman itu, Satr*a F 150.
Kalau ada yang tanya kenapa Icha gak suka sama C walau punya motor bagus? Seperti yang gue jelasin sebelumnya, Icha orangnya sederhana, kalau lihat orang gak dari hartanya. Tapi gue gak ngerti juga kenapa Dia kok bisa hamil sama ini orang, pertanyaan besar juga buat gue.
***
Dalam lamunan gue, banyak sekali pertanyaan yang mengelilingi pikiran gue. Sesekali gue pun mulai menyalahkan nyokap gue. Kalau saja nyokap gue gak ngajak gue ke sini, pasti hal ini gak akan mungkin terjadi. Tapi gue masih bisa menahan pikiran-pikiran negative di otak gue.
Malam harinya, gue ambil gitar, gue mulai menuangkan apa yang gue rasakan ke dalam petikan dan genjrengan lagu-lagu ngawur. Tanpa gue tulis liriknya, gue meracau sambil menatap langit. Gue merasa kalau saat ini langit menertawakan gue.
Gue memiliki harapan kepada wanita yang gue cintai saat itu, tapi yang gue dapat malah cuma pengkhianatan yang pahit kayak gini.
Akhirnya terciptalah sebuah lagu yang menceritakan tentang bagaimana kebodohan gue yang ditertawakan oleh langit. Betapa bodohnya gue mau tertipu sama cinta yang semu. Sumpah gak enak banget sob diketawain sama langit. Tapi itulah yang gue rasain malam itu.
Gue lupa nama judulnya, sumpah gak ingat, kwkw. Daripada gak ada judul, dan ini kan lagu gue, jadi terserah gue, oleh karena itu gue kasih judul ulang yaitu:
Aslinya, lagu ini kayak reggae gitu. Gak melow, tapi karena gue gak ada rekaman lamanya, jadi gue rekam ulang.. Tapi sayang, suara gue bener-bener gak layak kalau dibuat kayak versi aslinya. Suara gue dah kacau sekarang, haha. Kalau kata temen gue, akil baligh, haha.
Beberapa hari setelah gue tahu kalau rencana nyokap gue adalah mengajak gue tinggal di sini, di Bekasi. Gue pun berniat untuk pinjam handphone nyokap gue supaya bisa kasih kabar ke Icha dan teman-teman gue.
Tapi gue bener-bener kaget karena saat gue ambil handphone nyokap dan lihat buku telepon, sudah gak ada satu pun nomor orang-orang yang gue kenal di sana. Gue pun langsung tanya nyokap.
“Loh ma, ini nomor temen-temen ku kok ndak ada semua? Mama ganti nomor kah?,” tanya gue panik.
“Ndak tau,” jawab nyokap gue ketus.
“Mama hapus kah?,” tanya gue lagi.
“Dibilang ndak tau, hilang sendiri mungkin,” kata nyokap gue.
“Ma, serius nah, aku mau hubungi temen ku, penting,” ujar gue mendesak nyokap.
“Orang dikasih tau, mama ndak tahu,” jawabnya mulai marah.
“Ah elah,” gerutu gue sambil lempar handphone ke kursi. Gue yakin kalau nyokap gue sudah menghapus semua kontak-kontak itu.
Mulai saat itu, gue gak tau gimana cara menghubungi Icha dan temen-temen gue yang ada di Samarinda. Gue pun sudah berusaha untuk memaksa nyokap gue untuk bisa kasih tau atau gimana lah ya supaya gue bisa hubungi temen-temen gue di Samarinda. Tapi, nihil, hasilnya sia-sia, nyokap gue tetep bersikukuh pura-pura gak tau. Dia berharap untuk gue bisa melupakan Samarinda dan memulai hidup baru di Bekasi. Sejak saat itu, gue gak pernah lagi dibolehin pegang handphone nyokap.
Gak terasa, waktu pun dengan begitu cepatnya berjalan. Gue menjalani hidup dengan penuh rasa galau sudah lebih dari tiga bulan. Makan, tidur, nonton tv, main gitar, begitulah keseharian gue di kontrakan. Gue masih gak mau keluar kontrakan atau cari teman di sekitar sini. Pikiran gue masih kebayang-bayang Samarinda, terutama tentang Icha. Dia lagi apa? Gimana kabarnya? Pokoknya semua yang berhubungan dengan Dia.
“Tit.. Tit.. Tit.. Tit…,” begitu bunyi notifikasi SMS handphone noki* jadul nyokap gue.
Kebetulan, nyokap gue lagi gak ada di kontrakan, gak ingat gue lagi kemana tuh nyokap. Gak biasanya nyokap tinggalin handphonenya. Entah kenapa, gue berinisiatif untuk membaca SMS tersebut. Tak disangka, ternyata SMS itu berisikan kata singkat yang bikin jantung gue berdebar.
“Tam..”, tulisnya singkat.
Namun, bukan karena kata singkat itu yang membuat gue deg-degan tapi pengirimnya yang ternyata adalah Tko. Dengan sigap, gue langsung bawa handphone itu ke luar kontrakan. Kebetulan di dekat kontrakan ada kebun kosong yang ada pohon rindangnya. Gue pun duduk di situ dan berniat untuk membalas SMS dari Tere.
“Ter, ini Aku Tama, gimana kabar di sana? Gimana kabar Icha? Aku diculik mama ku, ndak bisa pulang ke Samarinda,” balas gue. Setelah SMS gue itu, cukup lama gue menunggu sambil lihat-lihat ke belakang gue takutnya nyokap tiba-tiba datang, jadi gue siap-siap lari, haha. Asli ini Tere kok lama banget balasnya, sampe gue beberapa kali missed call, gak ada tanggepan juga. Gue ga berani telepon karena waktu itu pulsa nyokap sisa Rp 2.000 an perak.
“Tit.. Tit… Tit…,” bunyi SMS yang ternyata Tko. Gue pun langsung buru-buru buka SMS tersebut.
“Kemana aja kamu, Gimana bilangnya ya Tam. Icha bentar lagi mau nikah. Dia hamil sama C,” tulis Tere dalam SMS itu.
“Nikah? Hamil? Sama C? Gimana ceritanya Tko?,” tanya gue sambil nahan perasaan, ya you know lah gimana perasaan gue baca SMS itu.
“Aku ndak tau juga, Icha juga gak mau cerita ke Aku. Dia cuma bilang gitu sama Aku. Kamu sih gak pulang-pulang,” balas Tko.
Quote:
Di bawah pohon itu gue langsung termenung, diam tanpa bisa berpikir secara jernih. Selama ini, berbulan-bulan, gue bertanya-tanya tentang Icha. Gue menahan rasa rindu, gue menahan rasa galau saat ingin bertemu Dia. Gue berharap Dia bisa menunggu gue. Gue kira dia bisa sabar. Tapi ternyata, harapan gue itu cuma semu saja. Galau? Hancur? Berantakan? Ya, perasaan gue sudah gak karuan lagi. Galau karena gak bisa pulang ke Samarinda, mungkin masih bisa gue tahan. Tapi sekarang gue malah gak mau pulang ke Samarinda lagi. Gue gak tau mau apa, mau kemana, mau gimana, bingung.
Gue pun akhirnya pulang, sebelumnya, gue udah hapus SMS dari Tko tadi. Gue juga gak simpan nomor Tko karena gua sudah bener-bener kesal dan gak mau berhubungan dengan mereka. Sampainya di kontrakan, nyokap gue sudah nunggu di depan teras.
“Tam, lihat hape mama gak? Dari mana kamu?,” tanyanya.
“Nih, dari kebun tadi,” jawab gue sambil nyodorin handphonenya.
Gue pun langsung masuk ke dalam dan tiduran sambil meratapi nasib apa yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan buat gue ini.
***
Siapa sih C ini? Sebelumnya sudah gue ceritakan bahwa C merupakan saudara dari Fs, temen nongkrong gue. C biasanya mengantar Fitri ke rumah Tko. Karena Dia sering mengantar Fs, C pun juga mulai kenal dengan Icha.
Dari sinilah, pertarungan gue dan C dimulai. C ternyata juga menyimpan perasaan sama Icha dan mengambil cukup banyak strategi untuk melakukan pendekatan. Tetapi sayang banget karena Icha ternyata sudah suka duluan sama gue. Hal ini gue ketahui karena waktu itu gue pernah tanya ke Icha saat udah jadian.
“Kok dulu Kamu gak mau sama C?,” tanya gue.
“Ndak ah, Aku sudah terlanjur suka sama Kamu,” jawabnya sambil senyum-senyum.
Kayaknya penjelasan soal C ini gak usah terlalu panjang ya karena cukup geram juga kalau ingat sama orang ini, hehe. Intinya, menurut informasi yang gue dapat dari Fitri dan mata kepala sendiri, C ini Playboy Cap Kutu. Kerjaannya gonta-ganti pacar karena kebetulan dia punya motor yang cukup bagus jaman itu, Satr*a F 150.
Kalau ada yang tanya kenapa Icha gak suka sama C walau punya motor bagus? Seperti yang gue jelasin sebelumnya, Icha orangnya sederhana, kalau lihat orang gak dari hartanya. Tapi gue gak ngerti juga kenapa Dia kok bisa hamil sama ini orang, pertanyaan besar juga buat gue.
***
Dalam lamunan gue, banyak sekali pertanyaan yang mengelilingi pikiran gue. Sesekali gue pun mulai menyalahkan nyokap gue. Kalau saja nyokap gue gak ngajak gue ke sini, pasti hal ini gak akan mungkin terjadi. Tapi gue masih bisa menahan pikiran-pikiran negative di otak gue.
Malam harinya, gue ambil gitar, gue mulai menuangkan apa yang gue rasakan ke dalam petikan dan genjrengan lagu-lagu ngawur. Tanpa gue tulis liriknya, gue meracau sambil menatap langit. Gue merasa kalau saat ini langit menertawakan gue.
Gue memiliki harapan kepada wanita yang gue cintai saat itu, tapi yang gue dapat malah cuma pengkhianatan yang pahit kayak gini.
Akhirnya terciptalah sebuah lagu yang menceritakan tentang bagaimana kebodohan gue yang ditertawakan oleh langit. Betapa bodohnya gue mau tertipu sama cinta yang semu. Sumpah gak enak banget sob diketawain sama langit. Tapi itulah yang gue rasain malam itu.
Gue lupa nama judulnya, sumpah gak ingat, kwkw. Daripada gak ada judul, dan ini kan lagu gue, jadi terserah gue, oleh karena itu gue kasih judul ulang yaitu:
Quote:
Quote:
Aslinya, lagu ini kayak reggae gitu. Gak melow, tapi karena gue gak ada rekaman lamanya, jadi gue rekam ulang.. Tapi sayang, suara gue bener-bener gak layak kalau dibuat kayak versi aslinya. Suara gue dah kacau sekarang, haha. Kalau kata temen gue, akil baligh, haha.
Diubah oleh jorghymub61 23-04-2017 13:20
efti108 memberi reputasi
1



