(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!
thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Hari sangat dingin karena baru saja selesai hujan. Bau tanah basah masih tercium dengan jelas di hidungku.
Dingin yang menyengat membuat perutku terasa lapar. Sehingga aku memutuskan untuk keluar dari Apartementku dan mencari makan.
Mungkin mie rebus yang dijual oleh abang nasi goreng gerobak akan sangat enak di malam dingin seperti ini.
Waktu itu sudah terlalu larut untuk meminta pacarku yang kebetulan tinggal dekat denganku untuk pergi menemaniku mencari makanan, sehingga aku memilih untuk pergi sendiri. Tanpa menyadari kalau itulah kesalahan terbesar yang kulakukan malam itu.
Cukup sial bagiku kalau abang nasi goreng yang biasa berdagang di sekitar apartementku tidak berdagang malam itu. Namun, aku sudah terlanjur sangat ingin makan mie rebus. Karena itu, aku memutuskan untuk berjalan sedikit untuk mencari tukang nasi goreng yang biasanya berdagang di sekitar gerbang perumahan yang berada di dekat apartementku.
Untuk mencapai ke tempat itu, aku harus melewati gedung kosong yang sudah lama terbengkalai.
Aku merasa sedikit merinding ketika melewati gedung itu.
"Uhh.... kalau bukan karena perut ini sudah nagih, aku nggak akan deh mau lewat depan sini.." gumamku untuk menghilangkan takut.
Aku mempercepat langkahku untuk segera melewati gedung kosong itu.
Huff... untung saja tidak ada 'mereka' yang menggangguku.
Lucky!! tidak jauh dari situ aku menemukan abang nasi goreng yang sedang berdagang. Aku segera membeli mie rebus yang kuidamkan itu.
Dan sekarang, aku harus berjalan kembali melewati gedung tua itu.
Kali ini... aku nggak sebegitu beruntung...
Ketika melangkahkan kaki di depan gedung kosong itu, seluruh bulu kudukku merinding, dan jantungku memburu tanpa sebab.
'deg... deg.... deg.....'
Dengan suara degup jantungku yang semakin terdengar aku melangkah dengan ragu-ragu.
Dan tepat ketika aku hampir melewati gedung tua itu...
Terdengar suara teriakan yang melengking dan membelah malam.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!!!!!"
Sesosok tubuh terjatuh dari dengan kencang ke tanah. 'BRUKK!!!!' suara keras terdengar ketika tubuh itu terhantam ke tanah.
Aku terpaku karena kejadian itu. Apakah aku baru saja menyaksikan orang bunuh diri?
Atau.....
'BRAAKKKKK!!!!'
Tiba-tiba, jari-jari kurus kering mengguncang pagar gedung itu.
Aku terjatuh terduduk karena terkejut.
Dan di sana, di balik jeruji pagar yang membatasiku, sebuah sosok berdarah-darah sedang memegang pagar dengan jarinya yang kurus kering.
Kepalanya benar-benar hancur tidak karuan dan tertutupi oleh cairan merah darah dan cairan putih yang mengalir dari rongga matanya. salah satu bahunya tampak berada pada posisi yang tidak seharusnya dan pinggangnya terpuntir ke arah yang terbalik dari yang seharusnya...
"Toloooooooong......." bisik sosok itu.
"Hiii....." aku ketakutan sampai tidak bisa berdiri.
"Lepaaaaskaann....." lirih sosok itu lagi.
"Ahh?? ahhhh??....." lidahku terasa kelu dan gemetar. Kepalaku benar-benar kosong melihat sosok mengerikan di hadapanku itu.
Tangan kurus itu berusaha menggapai-gapaiku.
Kalau bukan karena tertahan oleh pagar, mahluk itu akan mencapaiku.
Namun, dengan horror aku mendengar suara derit pagar besi itu.
Astaga!!! pagar itu hampir roboh!!!
Dengan ketakutan aku berusaha memaksa agar kakiku yang lemas mau bergerak. Sementara derit dari pagar itu semakin keras terdengar.
"Aahhhhh!!!" teriakku ketakutan ketika ujung jari dari mahluk itu hampir menyentuh kakiku.
"Lepaaaskaaaaaan!!!" ucap mahluk itu lagi sambil berusaha menggapai kakiku.
Aku menarik kakiku yang terjulur rapat-rapat, supaya mahluk itu tidak dapat menggapainya. Namun hal itu malah membuat mahluk itu mencakar-cakar dengan beringas udara di depanku.
"Lepaskaaaaaannn!! AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH!!!!!"
Tiba-tiba, mahluk itu tertarik dengan cepat ke belakang, seakan-akan ada sesuatu yang menariknya mundur dengan paksa.
Mahluk itu terseret di sepanjang lapangan berumput tinggi yang tidak terurus di sekitar gedung tua itu.
Aliran darah mengikuti tubuh terseret dari mahluk itu...
Sosok itu terus terarik... terus,,,,, sampai akhirnya tubuh itu menghantam dinding gedung.
Namun, 'sesuatu' kekuatan apapun yang menarik mahluk itu tidak berhenti sampai di situ. Mahluk itu kembali tertarik ke arah atas, menyusuri tembok luar gedung itu dan meninggalkan jejak darah yang tercetak jelas di tembok abu-abunya.
Kemudian mahluk itu terhenti tiba-tiba dan tertarik masuk ke salah satu jendela yang bagaikan lubang karena sudah tidak berkaca.
Tak lama kemudian, suara itu kembali terdengar...
"AAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!!!!"
Sosok itu kembali melemparkan dirinya untuk terjun bebas ke tanah.
Tak lama kemudian, terdengar lagi bunyi 'BRUKK!!' ditambah dengan bunyi berderak yang mengerikan.
Pada saat itulah aku langsung bagaikan melompat pada kedua kakiku yang masih terasa lemas. Dengan oleng aku berlari sekuat-kuatnya menembus malam. Menjauhi gedung tua itu secepat yang kubisa.
Aku benar-benar melupakan rasa laparku, bahkan aku tidak sadar kapan mie rebus yang kubeli tadi terlepas dari tanganku.
Malam itu, yang ingin kulakukan adalah meringkuk untuk bersembunyi dalam selimutku.
Dan berharap, suara seperti ada sesuatu yang menggaruk jendela apartementku itu bukanlah mahluk yang tadi itu...
Tapi sepertinya harapanku agak mustahil...
Karena sayup-sayup aku mendengar suara "lepaskaann......"