- Beranda
- Stories from the Heart
T University 2 (Season 2)
...
TS
anism
T University 2 (Season 2)

Cover Super Keren by Awayaye <Ane minta
> Terima banyak untuk respon positif agan dan aganwati di thread sebelumnya. T University.
Bagi yang belum membacanya. Bisa mengklik judul dibawah ini.
T University
Spoiler for Daftar Isi/Case 1 : Lost Son:
Case 1 Finish
Spoiler for Case 2 : Lativa's Twins Terror:
Case 2 Finish
Spoiler for Case 3 : Arelia And Edward:
Case 3 Finish
Spoiler for Samantha And Mom:
Finish
Spoiler for Case 4 : Johnny Comes Back To China or England:
Case 4 Finish
Spoiler for Case 5 : King Killer's Son:
Case 5 Finish
Spoiler for Case 6 : Losing In A Plane:
Diubah oleh anism 30-05-2019 17:56
anasabila memberi reputasi
1
21.7K
198
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#59
Samantha And Mom 1
“Apa kerinduan terdalammu?”, Johnny mengulang gaya bicara seorang psikolog dengan gaya dibuat-buat.
Lativa tersenyum dibuatnya. Iya.
Mereka baru saja selesai mengikuti seminar bersama seorang psikolog.
“Aku merindukan kecerdasan seorang Arelia.”, jawab Romeo jujur. Dan ujung-ujungnya mereka jadi diolok-olok.
“Ibu”, tanpa dikira-kira Samantha menjawab. Sontak semua olokan itu berhenti. Mereka semua tertuju pada lulusan kedokteran tersebut.
Memandangnya dengan muka yang sedikit kecewa.
“Bukankah kamu sudah bisa bertemu dengan ibumu setiap saat?”, ujar Arelia.
“Iya. Namun sikapnya benar-benar berubah. Dia sepertinya…. berhati-hati terhadapku.”, jelas Samantha sedih.
“Dia menganggapmu pembunuh.”, tusuk Brian. Sontak Brian menahan erangan karena perutnya diberi kepalan ringan bersamaan oleh Romeo dan Johnny.
“Bagaimana mungkin seorang ibu menganggap anaknya seorang pembunuh?”, tukas Romeo. Jawaban tersebut diamini oleh Arelia dengan sebuah anggukan.
“Bagaimana kalau kita mengunjunginya bersama-sama.”, tawar Lativa. Akhir-akhir ini Lativa sangat suka pertemuan dan berkumpul. Mungkin efek dari pertemuan dengan saudaranya.
“Kamu benar juga, Lativa…”, seru Samantha memeluk Lativa.
“Kalian semua juga mau ikut?”.
Semua mengangguk antusias.
“Apa kerinduan terdalammu?”, Johnny mengulang gaya bicara seorang psikolog dengan gaya dibuat-buat.
Lativa tersenyum dibuatnya. Iya.
Mereka baru saja selesai mengikuti seminar bersama seorang psikolog.
“Aku merindukan kecerdasan seorang Arelia.”, jawab Romeo jujur. Dan ujung-ujungnya mereka jadi diolok-olok.
“Ibu”, tanpa dikira-kira Samantha menjawab. Sontak semua olokan itu berhenti. Mereka semua tertuju pada lulusan kedokteran tersebut.
Memandangnya dengan muka yang sedikit kecewa.
“Bukankah kamu sudah bisa bertemu dengan ibumu setiap saat?”, ujar Arelia.
“Iya. Namun sikapnya benar-benar berubah. Dia sepertinya…. berhati-hati terhadapku.”, jelas Samantha sedih.
“Dia menganggapmu pembunuh.”, tusuk Brian. Sontak Brian menahan erangan karena perutnya diberi kepalan ringan bersamaan oleh Romeo dan Johnny.
“Bagaimana mungkin seorang ibu menganggap anaknya seorang pembunuh?”, tukas Romeo. Jawaban tersebut diamini oleh Arelia dengan sebuah anggukan.
“Bagaimana kalau kita mengunjunginya bersama-sama.”, tawar Lativa. Akhir-akhir ini Lativa sangat suka pertemuan dan berkumpul. Mungkin efek dari pertemuan dengan saudaranya.
“Kamu benar juga, Lativa…”, seru Samantha memeluk Lativa.
“Kalian semua juga mau ikut?”.
Semua mengangguk antusias.
Diubah oleh anism 16-04-2017 20:04
0