- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Kasih Anak Samarinda
...
TS
jorghymub61
Kisah Kasih Anak Samarinda
Quote:
Quote:
MY STORY
- PART 1: KELUARGA GUE BROKEN HOME
- PART 2: WELCOME JAKARTA
- PART 3: GALAU OH GALAU
- PART 4: ICHA HAMIL
- PART 5: GUE DIPANGGIL KIPLI
- PART 6: KIPLI MULAI NAKAL
- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 1)
- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 2)
- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 1)
- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 2)
- PART 8: KIPLI KERJA HALAL
- PART 9: KIPLI NIATNYA MOVE ON, TAPI...
- PART 10: GOODBYE MRA!
- DAILY: NGUKUR BAJU ANAK DI BPK PENABUR
- PART 11: PEDEKATE KE CK (BAG 1)
- PART 12: PEDEKATE KE CK (BAG 2)
- PART 14: TAMA GALAU
- PART 15: BABY AND SWEETY JADI ABSURD
- PART 16: KIPLI NGAMEN LAGI
Quote:
Diubah oleh jorghymub61 17-05-2017 15:43
oldschoolheroes memberi reputasi
1
80K
562
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jorghymub61
#101
PART 3: GALAU OH GALAU
Semenjak tau kalau Om Bbg adalah suami dari nyokap gue, dan sekarang gue tinggal sama mereka di Bekasi. Pikiran gue mulai gak karuan. Oh ya, kalau dilihat secara fisik, Om Bbg ini putih, hidungnya lumayan besar, rambut belah tengah kayak Vino G Bastian.
Hari itu, gue pinjem handphone nyokap gue untuk menghubungi seseorang yaitu pacar gue di Samarinda. Kebetulan memang gue kalau perlu pakai handphone selalu pinjem nyokap. Nomor-nomor orang yang gue kenal pun lengkap di buku teleponnya. Maklum ya, gue gak punya handphone saat itu. Ngenes memang.
Namanya Icha (cewek), Dia adalah seorang gadis lugu yang hanya lulusan SD. Orangnya pendek, kalau perkiraan gue mungkin tingginya cuma sekitar 160 cm, kulitnya putih tapi gak terlalu putih juga, rambutnya panjang sampai bahu, kalau senyum matanya menyerupai bulan sabit. Kalau soal paras, relatif aja lah ya.
Dia merupakan seorang Pembina pramuka di salah satu sekolah di Loa Bakung, Samarinda, gue lupa nama sekolahnya apa.
“Cha, lagi apa? Maaf aku baru ngabarin lagi soalnya baru sempat,” tanya ku mengawali SMS.
“Lagi nonton tv aja, kamu kapan pulang nah? Kangen aku,” jawabnya, ya lewat SMS juga.
Gue pun sejenak berpikir, loh iya juga ya, kapan gue pulang? Kok gue gak pernah tanya ke nyokap gue kapan pulangnya. Sebentar lagi kan juga gue harus Ujian Nasional.
“Ma, kapan Aku pulangnya? Bentar lagi UN loh, Aku kan mau belajar juga, gak bawa buku Aku,” tanya ku ke nyokap.
“Ntar,” jawabnya jutek.
“Ntarnya itu kapan ma,” desak gue.
“Ndak usah pulang juga gak papa, ngapain juga di sana,” jawabnya lagi tambah jutek.
“Lah gimana ma, kan Aku harus UN ini,” jawab gue mulai risau.
“Gampang, nanti Paket C aja, sama aja kayak SMA. Nanti mama yang urus, kamu tenang aja,” selorohnya sambil pergi ke warung.
Gue pun terdiam dan bingung mau balas apa ke Icha soal pertanyaannya mengenai kapan gue pulang lagi ke Samarinda.
“Belum tau Cha, tunggu kabar dari mama nih,” jawab gue lewat SMS ke Icha yang sempat terhenti karena gue harus tanya ke nyokap tadi.
“Ya udah deh, tapi jangan lama-lama yah,” balas Icha.
Gue pun mulai meratapi apa maksud dari nyokap gue karena ya sikapnya itu sudah mulai ketebak. Gue beranggapan kalau nyokap gue seakan ingin menculik gue ke sini. Soalnya dari gelagatnya saat menjawab pertanyaan gue tadi sudah menjurus ke sana. Semenjak gue tinggal sama bokap, memang beberapa kali nyokap gue memberikan isyarat untuk gue tinggal sama nyokap. Tapi gue milih bokap karena kondisinya yang memang lebih membutuhkan bantuan. Terlebih lagi ketiga adek gue gak ada yang mau tinggal sama bokap.
Eh ya, tapi kalem aja dulu ya soal nyokap gue, soalnya sampai dengan part 1 hingga part 3 di kisah ini, nyokap gue terkesan jadi tokoh antagonis. Tapi sebenarnya enggak kok, Dia hanya seorang Ibu yang menginginkan semua anaknya berkumpul. Namun mungkin dengan cara-cara yang agak ekstrim.
Balik lagi ke perasaan galau gue yang mulai berpikir kalau memang gue harus menetap di sini, gimana gue ketemu Icha? Dari sinilah gue mulai galau.
“Ma, Aku mau pulang, gak mau tau!,” teriak gue ke nyokap.
“Iya ntar,” jawabnya singkat sambil merengutkan wajahnya.
“Pokoknya gak mau tau Aku mau pulang, kalau gak hari ini, besok,” mata gue mulai memerah nahan nangis.
“Ndak ada uang,” jawabnya lagi.
Tangis gue pun pecah dan mendesak supaya nyokap gue bisa memulangkan gue kembali ke Samarinda supaya bisa ikut UN dan sekaligus bisa ketemu Icha. Selanjutnya, mungkin ya lu bisa tau lah ya apa yang terjadi. Pertengkaran antara anak dan Ibu yang terdiri dari ancaman-ancaman, caci makian, dan sejenisnya.
Tapi ternyata, usaha gue untuk mendesak nyokap supaya bisa memulangkan gue sia-sia saja. Nyokap tetep bersikukuh untuk mempertahankan gue. Kalau sebelumnya cuma gue yang nangis, sekarang nyokap juga mulai ikutan nangis. Dia meluk gue sambil menangis.
“Nak, mama cuma ingin satu nak, kita tinggal bareng, gak terpisah, itu aja,” ucapnya sambil nangis.
“Tiap malem mama nangis cuma karena gak ngeliat anak-anak mama tinggal bareng mama,” sambungnya lagi.
Gue pun cuma bisa diam sambil menangis juga. Gue juga gak nyangka kalau sampai segitunya perasaan seorang Ibu saat kehilangan anaknya.
Dari kejadian itu, gue pun mulai melunak, gue mulai bisa menerima antara dilema kembali ke Samarinda atau mewujudkan keinginan nyokap gue. Gue pun galau berat dan minta tolong sama nyokap untuk belikan gitar, yang murah-murah aja.
Siang harinya gue minta gitar, malam harinya, Om Bbg atau bokap tiri gue pulang dari kerja dengan membawa gitar baru buat gue.
Mulai dari situ, gue pun mulai menuangkan isi hati gue ke dalam lagu-lagu yang gue buat sendiri. Walau lagunya gak bagus, tapi lumayan untuk bisa mengurangi rasa sakit di hati ini, asik, haha!
Akhirnya tercipta sebuah lagu yang gue beri judul “Ku Tlah Pergi Jauh”. Untuk video musiknya sudah gue cantumin di Part 1.
Lagu ini menceritakan tentang bagaimana perasaan gue waktu itu yang berniat untuk merelakan Icha agar bisa hidup dengan orang lain, begitu juga dengan gue. Semua itu gue lakukan demi keinginan nyokap gue.
***
Mengenang awal mula gue mengenal Icha yaitu saat gue bermain ke rumah Tko (cewek). Salah satu temen cewek gue dari SMK TI Airlangga. Dia ini orang NTB, ya orang timur gitu lah ya. Kulitnya gak putih, tapi yang bikin beda dari Dia ini punya rambut lurus, gak keriting.
Selain Tko, ada juga Fpp (cowok) dan Fs (cewek) yang suka ngumpul bareng di rumah Tko. Terutama gue sama Fpp sedangkan Fs tergantung dari C (cowok), saudaranya, karena Fs biasanya diantar oleh C.
Fpp orangnya kurus, tingginya kurang lebih sama gue, sekitar 173 cm, giginya ada hitam di tengah karena pernah konsumsi narkoba waktu SMP. Fs, orangnya cebol, tingginya mungkin cuma sekitar 155 cm, rambutnya keriting, dan paling nyinyir. Kalau C, orangnya kayak apa ya, kurus kering, kepala bulet kecil tapi kuping besar, hidung pun pesek, jidat lebar, agak aneh sih kalau menurut gue. Pokoknya gitu lah.
Nanti, C pun turut menghiasi kehidupan cinta gue sama Icha. C vs Gue, ya menang gue lah! Tapi sayang, takdir berkata lain, #sedih. Simak aja terus ceritanya nanti ya!
Nah balik lagi ke topik, Icha ini adalah tetangga jauh dari Tko. Rumahnya sekitar satu kilometer dari rumah Tko, namun Dia sering main juga ke rumah Tko.
Saat itu, Icha main ke rumah Tko bareng adeknya yang bernama “Ah lupa gue namanya, dah mencoba untuk mengingat tapi bener-bener lupa. Daripada salah mending gue sebut adeknya Icha aja ya”. Adeknya Icha ini nanti akan didekati oleh Fpp, namun sayang karena adeknya Icha menolak mawar pemberan Fpp saat Ia menyatakan cinta kepadanya. Tragis ya.
Oke kembali lagi ke Icha yang main ke rumah Tko, kebetulan ada gue dan Fpp di sana juga. Kami pun diperkenalkan sama Tko. Gue sih masih gak ada gimana-gimana sama dia karena ya namanya juga baru kenal kan ya.
Terus seiring berjalannya waktu, kita jadi lumayan sering ketemu. Gue gak tau juga kenapa kok dia selalu ada setiap gue sama Fpp main ke rumah Tko.
Lama-lama, Fpp sama Tko pun mulai nyomblangin gue sama Icha. Gue pun juga jadi mulai tertarik dan berpikir, mungkin kalau jodoh, kenapa nggak.
Waktu terus berjalan, gue sama Icha pun semakin hari semakin dekat. Kita mulai saling mengenal satu sama lainnya dan merasa cocok. Pada akhirnya tiba kalau itu, gue beranikan diri main ke tempat Dia latihan pramuka. Kebetulan kalau dari rumah Tko hanya sekitar 700 meter.
Sesampainya di sekolah tempat Icha latihan pramuka, gue panggil dia, gue ajak dia ke kantin sekolah yang memang sebelumnya gue pantau kosong. Dengan jantung yang deg-degan, jauh lebih deg-degan dari naik pesawat pertama kali. Dengan tangan yang gemetar, gue ajak dia duduk di kantin itu.
“Cha, kita kan sudah kenal lama nih, kamu mau gak jadi pacar Aku?,” tanya gue langsung gak pake basa basi. Suasana pun yang tadinya sepi langsung jadi hening, entah kenapa.
“Iya,” jawabnya sambil senyum dan menundukkan wajahnya.
Seketika itu, gue pegang tangannya dan mengajaknya untuk kembali ke tempat latihan pramuka. Tapi belum sampai dekat tempat latihan, Dia melepaskan tangannya dari tangan gue. Terus gue disuruh pulang ke rumah Tere, nanti Dia menyusul ke sana. *Sorry kalau gue ceritainnya gak ada romantis-romantisnya, karena memang gue orangnya gak romantis, cuek, apa adanya dan to the point.
Sekitar satu jam setelah gue menunggu Dia di rumah Tko, barulah Dia datang dengan pakaian dan tubuh yang kotor penuh lumpur. Ternyata setelah gue tanya agak memaksa, Dia habis kena hukuman karena berbicara dengan orang asing berduaan. Jadi, itu adalah peraturan saat latihan pramuka yang harus ditaati oleh siapapun. Gue pun merasa bersalah dan minta maaf sama Dia.
“Duh Cha, maaf ya, Aku gak tau kalau ada aturan gitu nah,” ucap gue meminta maaf.
“Ndak papa kok, kamu ndak salah,” jawabnya halus sambil membersihkan lumpur di kakinya.
Semenjak itu, hubungan gue sama Icha pun mulai lebih intensif. Gue mulai berani berkunjung ke rumahnya terutama saat malam minggu. Nah, karena gue orangnya males kalau jalan sendirian, gue suka ngajak Fpp. Eh ternyata, Fpp diam-diam suka sama adeknya Icha. Namanya, gue masih lupa sampe sekarang, jadi ya masih kita sebut dengan adeknya Icha aja dulu.
Fpp pun akhirnya minta bantuan gue sama Icha untuk bisa mendekati adeknya Icha itu. Namun sayang sekali karena seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya, Fpp mendapat penolakan saat hari H menyatakan cintanya. Padahal Fpp bawain adeknya Icha bunga mawar loh, sayang banget ditolak.
Adapun membahas soal kenapa gue sayang banget “saat itu” sama Icha yaitu kesederhanaannya yang bikin gue salut. Dia orangnya juga mandiri banget. Waktu itu, gue masih pakai motor astrea tahun 90an yang dibeliin sama bokap gue. Kalau dibandingin sama temen-temen gue yang pakai motor bagus, lumayan miris sih. Tapi Dia gak pernah sama sekali mengeluh.
Selain latihan pramuka, ternyata Icha juga bekerja di sebuah counter handphone yang berlokasi di dekat situ juga. Kadang, kalau gue punya waktu, gue sempatkan untuk jemput atau antar dia kerja. Nah, saat mengantar atau jemput ini, Icha gak pernah meminta stop atau berhenti di kejauhan agar gak ada orang yang tahu kalau dia diantar sama cowok yang hanya menggunakan motor astrea.
Hari itu adalah hari ulang tahunnya, kayaknya gue gak perlu sebutin tanggal dan bulannya ya karena takut kena lempar piring sama bini gue yang sekarang kalo dia baca story ini, haha.
Gue minta bantuan Ferdi untuk bisa membelikan Icha kalung karena gue pikir kalo Dia pake kalung bakal bikin Dia makin manis aja kelihatannya.
“Fpp, temenin Aku nah ke Citra, kawa kah?,” tanya gue ke Fpp lewat SMS. (Kawa itu artinya bisa)
“Ya udah, kapan kam handak ke sananya?,” jawab Fpp. (Kam handak itu artinya kamu mau”
“Sekarang, kawa kah?,” jawab gue singkat.
“Kawa ai, kam ke rumah unda ja sekarang,” balas Fpp. (Unda itu artinya Aku)
Setelah gue pergi ke rumahnya, Kita berdua pun pada akhirnya meluncur ke Pasar Citra Niaga untuk bisa mencari kalung yang pengen gue beli. Akhirnya gue pun dapat kalung yang gue rasa bagus dengan harga yang terjangkau. Harga kalungnya Rp 25 ribu. Murah ya? Kalau buat gue, uang segitu dah lumayan gede karena gue tiap hari cuma dapet sangu/uang jajan Rp 5 ribu.
Keesokan harinya, gue pun langsung ke rumah Icha. Menjemputnya, bukan untuk jalan-jalan ke mall atau ke taman, tapi ke rumah Tko. Jujur aja gue gak punya uang lagi untuk mengajaknya jalan selain ke rumah Tko. Kalau gak salah ingat, di dompet gue kala itu cuma ada Rp 3 ribu aja, sebelumnya ada Rp 5 ribu tapi sudah dipakai untuk beli bensin. Saat itu harga bensin premium masih Rp 1.800 gan, masih murah.
Sesampainya di rumah Tko, gue pun langsung memberikan kalung yang udah gue persiapkan itu. Saat itu gue lihat wajahnya sangat senang dan menyukai kalung yang gue pilih. Bentuk kalungnya itu memiliki liontin hati dengan warna seperti emas putih, walau palsu, tapi cukup bagus untuk dilihat. Sayangnya, gak ada ucapan-ucapan romantis selain selamat ulang tahun yang mainstream. Itu ya gak bukan dan gak lain karena gue orangnya bukan tipikal yang romantis.
Kalau soal kenangan yang mungkin masih gue inget sampai sekarang yaitu saat berboncengan di atas motor astrea mengelilingi jalan di sekitar Loa Bakung bareng dia. Bercengkrama dan tertawa bareng membahas banyak hal. Namun kini, itu semua adalah masa lalu.
Stop berbicara soal romantisme bersama mantan, gue juga akan masukkin cerita yang cukup absurd menurut gue. Pengalaman yang mungkin gak akan gue lupakan seumur hidup. Ini masih berhubungan dengan Icha.
Hal ini terjadi karena adanya Kak Atn yang merupakan kakak dari Tko. Kak Atn ini bisa dibilang preman di daerah situ. Badannya penuh tatto. Orangnya sih baik, tapi kalau marah atau gak suka, dia akan blak-blakan. Dia merasa tidak suka dengan Icha karena berpacaran sama gue. Dia merasa risih kalau Icha dan gue seakan numpang pacaran di rumahnya. Oleh karena itulah, gue berinisiatif untuk bisa mencari tempat yang bisa untuk dijadikan tempat berduaan.
Di daerah Loa Bakung, tempatnya masih sepi, terdapat beberapa rumah kosong yang belum jadi di pinggir jalan. Jadi gue pikir, mungkin oke saja kalau numpang duduk-duduk di rumah kosong tersebut. Hitung-hitung berteduh dari panas.
Namun nahas karena gue sama Icha malah dituduh berbuat macam-macam sama salah seorang warga di situ. Kami pun bagaikan orang yang tengah kepergok.
“Hey, kalian ngapain di sini! Mesum ya!,” teriaknya.
“Ndak kok, kami cuma duduk aja,” jawab gue panic.
“Kalian anak mana? Tinggal dimana ikam bedua nih,” tanyanya.
“Maaf pak, kami gak ngapa-ngapain kok, kami cuma numpang duduk saja,” gue jawab dengan jawaban yang sama.
“Halah bohong kam ni! Kecil-kecil sudah macam-macam,” kelakarnya.
“Bener pak, kami ndak ngapa-ngapain, sumpah Demi Allah,” ujar gue ngotot karena memang gue merasa gak melakukan apa-apa.
“Ya sudah, sini kam bebinian ku pukul tangan ikam”, ujarnya sambil mengacungkan kayu yang memang dari awal sudah dibawa olehnya. (Bebinian itu artinya wanita/cewek)
“Jangan pak, Saya aja pak yang dipukul,” jawab gue membela Icha yang sudah sangat ketakutan.
“Ya udah sini,” jawabnya sambil nyomot tangan gue.
“Plak plak plak,” bunyi pukulan kayu itu menghujam tangan gue. Dalam hati gue, kalau Icha sekali, gue sekali, harusnya kan cuma dua kali, ini kok tiga kali? Kampret!
“Sudah sana kalian pergi dari sini, sampai ulun liat kam di sini lagi, ku seret ke RT ikam!”, teriaknya mengusir kita. (Ulun artinya Aku, Kam dan Ikam artinya sama yaitu Kamu)
Akhirnya, gue dan Icha pun pergi dari sana. Sepanjang jalan, Icha menangis sambil peluk gue dengan sangat kencang. Di sepanjang jalan itu pula gue berusaha menenangkan Dia dan meminta maaf karena sudah memilih tempat yang salah.
***
Begitulah kurang lebih kisah cinta gue saat masih bersama Icha. Sebenarnya mungkin ada banyak sekali kenangan yang gak mungkin gue ceritakan semua. Karena masih banyak kisah hidup gue yang harus dikupas. Oh ya, akhirnya gue inget nama adeknya Icha, yaitu Sr.
Sebuah lagu pun akhirnya tercipta dari kenangan-kenangan itu.
Semenjak tau kalau Om Bbg adalah suami dari nyokap gue, dan sekarang gue tinggal sama mereka di Bekasi. Pikiran gue mulai gak karuan. Oh ya, kalau dilihat secara fisik, Om Bbg ini putih, hidungnya lumayan besar, rambut belah tengah kayak Vino G Bastian.
Hari itu, gue pinjem handphone nyokap gue untuk menghubungi seseorang yaitu pacar gue di Samarinda. Kebetulan memang gue kalau perlu pakai handphone selalu pinjem nyokap. Nomor-nomor orang yang gue kenal pun lengkap di buku teleponnya. Maklum ya, gue gak punya handphone saat itu. Ngenes memang.
Namanya Icha (cewek), Dia adalah seorang gadis lugu yang hanya lulusan SD. Orangnya pendek, kalau perkiraan gue mungkin tingginya cuma sekitar 160 cm, kulitnya putih tapi gak terlalu putih juga, rambutnya panjang sampai bahu, kalau senyum matanya menyerupai bulan sabit. Kalau soal paras, relatif aja lah ya.
Dia merupakan seorang Pembina pramuka di salah satu sekolah di Loa Bakung, Samarinda, gue lupa nama sekolahnya apa.
“Cha, lagi apa? Maaf aku baru ngabarin lagi soalnya baru sempat,” tanya ku mengawali SMS.
“Lagi nonton tv aja, kamu kapan pulang nah? Kangen aku,” jawabnya, ya lewat SMS juga.
Gue pun sejenak berpikir, loh iya juga ya, kapan gue pulang? Kok gue gak pernah tanya ke nyokap gue kapan pulangnya. Sebentar lagi kan juga gue harus Ujian Nasional.
“Ma, kapan Aku pulangnya? Bentar lagi UN loh, Aku kan mau belajar juga, gak bawa buku Aku,” tanya ku ke nyokap.
“Ntar,” jawabnya jutek.
“Ntarnya itu kapan ma,” desak gue.
“Ndak usah pulang juga gak papa, ngapain juga di sana,” jawabnya lagi tambah jutek.
“Lah gimana ma, kan Aku harus UN ini,” jawab gue mulai risau.
“Gampang, nanti Paket C aja, sama aja kayak SMA. Nanti mama yang urus, kamu tenang aja,” selorohnya sambil pergi ke warung.
Gue pun terdiam dan bingung mau balas apa ke Icha soal pertanyaannya mengenai kapan gue pulang lagi ke Samarinda.
“Belum tau Cha, tunggu kabar dari mama nih,” jawab gue lewat SMS ke Icha yang sempat terhenti karena gue harus tanya ke nyokap tadi.
“Ya udah deh, tapi jangan lama-lama yah,” balas Icha.
Gue pun mulai meratapi apa maksud dari nyokap gue karena ya sikapnya itu sudah mulai ketebak. Gue beranggapan kalau nyokap gue seakan ingin menculik gue ke sini. Soalnya dari gelagatnya saat menjawab pertanyaan gue tadi sudah menjurus ke sana. Semenjak gue tinggal sama bokap, memang beberapa kali nyokap gue memberikan isyarat untuk gue tinggal sama nyokap. Tapi gue milih bokap karena kondisinya yang memang lebih membutuhkan bantuan. Terlebih lagi ketiga adek gue gak ada yang mau tinggal sama bokap.
Eh ya, tapi kalem aja dulu ya soal nyokap gue, soalnya sampai dengan part 1 hingga part 3 di kisah ini, nyokap gue terkesan jadi tokoh antagonis. Tapi sebenarnya enggak kok, Dia hanya seorang Ibu yang menginginkan semua anaknya berkumpul. Namun mungkin dengan cara-cara yang agak ekstrim.
Balik lagi ke perasaan galau gue yang mulai berpikir kalau memang gue harus menetap di sini, gimana gue ketemu Icha? Dari sinilah gue mulai galau.
“Ma, Aku mau pulang, gak mau tau!,” teriak gue ke nyokap.
“Iya ntar,” jawabnya singkat sambil merengutkan wajahnya.
“Pokoknya gak mau tau Aku mau pulang, kalau gak hari ini, besok,” mata gue mulai memerah nahan nangis.
“Ndak ada uang,” jawabnya lagi.
Tangis gue pun pecah dan mendesak supaya nyokap gue bisa memulangkan gue kembali ke Samarinda supaya bisa ikut UN dan sekaligus bisa ketemu Icha. Selanjutnya, mungkin ya lu bisa tau lah ya apa yang terjadi. Pertengkaran antara anak dan Ibu yang terdiri dari ancaman-ancaman, caci makian, dan sejenisnya.
Tapi ternyata, usaha gue untuk mendesak nyokap supaya bisa memulangkan gue sia-sia saja. Nyokap tetep bersikukuh untuk mempertahankan gue. Kalau sebelumnya cuma gue yang nangis, sekarang nyokap juga mulai ikutan nangis. Dia meluk gue sambil menangis.
“Nak, mama cuma ingin satu nak, kita tinggal bareng, gak terpisah, itu aja,” ucapnya sambil nangis.
“Tiap malem mama nangis cuma karena gak ngeliat anak-anak mama tinggal bareng mama,” sambungnya lagi.
Gue pun cuma bisa diam sambil menangis juga. Gue juga gak nyangka kalau sampai segitunya perasaan seorang Ibu saat kehilangan anaknya.
Dari kejadian itu, gue pun mulai melunak, gue mulai bisa menerima antara dilema kembali ke Samarinda atau mewujudkan keinginan nyokap gue. Gue pun galau berat dan minta tolong sama nyokap untuk belikan gitar, yang murah-murah aja.
Siang harinya gue minta gitar, malam harinya, Om Bbg atau bokap tiri gue pulang dari kerja dengan membawa gitar baru buat gue.
Mulai dari situ, gue pun mulai menuangkan isi hati gue ke dalam lagu-lagu yang gue buat sendiri. Walau lagunya gak bagus, tapi lumayan untuk bisa mengurangi rasa sakit di hati ini, asik, haha!
Akhirnya tercipta sebuah lagu yang gue beri judul “Ku Tlah Pergi Jauh”. Untuk video musiknya sudah gue cantumin di Part 1.
Lagu ini menceritakan tentang bagaimana perasaan gue waktu itu yang berniat untuk merelakan Icha agar bisa hidup dengan orang lain, begitu juga dengan gue. Semua itu gue lakukan demi keinginan nyokap gue.
***
Mengenang awal mula gue mengenal Icha yaitu saat gue bermain ke rumah Tko (cewek). Salah satu temen cewek gue dari SMK TI Airlangga. Dia ini orang NTB, ya orang timur gitu lah ya. Kulitnya gak putih, tapi yang bikin beda dari Dia ini punya rambut lurus, gak keriting.
Selain Tko, ada juga Fpp (cowok) dan Fs (cewek) yang suka ngumpul bareng di rumah Tko. Terutama gue sama Fpp sedangkan Fs tergantung dari C (cowok), saudaranya, karena Fs biasanya diantar oleh C.
Fpp orangnya kurus, tingginya kurang lebih sama gue, sekitar 173 cm, giginya ada hitam di tengah karena pernah konsumsi narkoba waktu SMP. Fs, orangnya cebol, tingginya mungkin cuma sekitar 155 cm, rambutnya keriting, dan paling nyinyir. Kalau C, orangnya kayak apa ya, kurus kering, kepala bulet kecil tapi kuping besar, hidung pun pesek, jidat lebar, agak aneh sih kalau menurut gue. Pokoknya gitu lah.
Nanti, C pun turut menghiasi kehidupan cinta gue sama Icha. C vs Gue, ya menang gue lah! Tapi sayang, takdir berkata lain, #sedih. Simak aja terus ceritanya nanti ya!
Nah balik lagi ke topik, Icha ini adalah tetangga jauh dari Tko. Rumahnya sekitar satu kilometer dari rumah Tko, namun Dia sering main juga ke rumah Tko.
Saat itu, Icha main ke rumah Tko bareng adeknya yang bernama “Ah lupa gue namanya, dah mencoba untuk mengingat tapi bener-bener lupa. Daripada salah mending gue sebut adeknya Icha aja ya”. Adeknya Icha ini nanti akan didekati oleh Fpp, namun sayang karena adeknya Icha menolak mawar pemberan Fpp saat Ia menyatakan cinta kepadanya. Tragis ya.
Oke kembali lagi ke Icha yang main ke rumah Tko, kebetulan ada gue dan Fpp di sana juga. Kami pun diperkenalkan sama Tko. Gue sih masih gak ada gimana-gimana sama dia karena ya namanya juga baru kenal kan ya.
Terus seiring berjalannya waktu, kita jadi lumayan sering ketemu. Gue gak tau juga kenapa kok dia selalu ada setiap gue sama Fpp main ke rumah Tko.
Lama-lama, Fpp sama Tko pun mulai nyomblangin gue sama Icha. Gue pun juga jadi mulai tertarik dan berpikir, mungkin kalau jodoh, kenapa nggak.
Waktu terus berjalan, gue sama Icha pun semakin hari semakin dekat. Kita mulai saling mengenal satu sama lainnya dan merasa cocok. Pada akhirnya tiba kalau itu, gue beranikan diri main ke tempat Dia latihan pramuka. Kebetulan kalau dari rumah Tko hanya sekitar 700 meter.
Sesampainya di sekolah tempat Icha latihan pramuka, gue panggil dia, gue ajak dia ke kantin sekolah yang memang sebelumnya gue pantau kosong. Dengan jantung yang deg-degan, jauh lebih deg-degan dari naik pesawat pertama kali. Dengan tangan yang gemetar, gue ajak dia duduk di kantin itu.
“Cha, kita kan sudah kenal lama nih, kamu mau gak jadi pacar Aku?,” tanya gue langsung gak pake basa basi. Suasana pun yang tadinya sepi langsung jadi hening, entah kenapa.
“Iya,” jawabnya sambil senyum dan menundukkan wajahnya.
Seketika itu, gue pegang tangannya dan mengajaknya untuk kembali ke tempat latihan pramuka. Tapi belum sampai dekat tempat latihan, Dia melepaskan tangannya dari tangan gue. Terus gue disuruh pulang ke rumah Tere, nanti Dia menyusul ke sana. *Sorry kalau gue ceritainnya gak ada romantis-romantisnya, karena memang gue orangnya gak romantis, cuek, apa adanya dan to the point.
Sekitar satu jam setelah gue menunggu Dia di rumah Tko, barulah Dia datang dengan pakaian dan tubuh yang kotor penuh lumpur. Ternyata setelah gue tanya agak memaksa, Dia habis kena hukuman karena berbicara dengan orang asing berduaan. Jadi, itu adalah peraturan saat latihan pramuka yang harus ditaati oleh siapapun. Gue pun merasa bersalah dan minta maaf sama Dia.
“Duh Cha, maaf ya, Aku gak tau kalau ada aturan gitu nah,” ucap gue meminta maaf.
“Ndak papa kok, kamu ndak salah,” jawabnya halus sambil membersihkan lumpur di kakinya.
Semenjak itu, hubungan gue sama Icha pun mulai lebih intensif. Gue mulai berani berkunjung ke rumahnya terutama saat malam minggu. Nah, karena gue orangnya males kalau jalan sendirian, gue suka ngajak Fpp. Eh ternyata, Fpp diam-diam suka sama adeknya Icha. Namanya, gue masih lupa sampe sekarang, jadi ya masih kita sebut dengan adeknya Icha aja dulu.
Fpp pun akhirnya minta bantuan gue sama Icha untuk bisa mendekati adeknya Icha itu. Namun sayang sekali karena seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya, Fpp mendapat penolakan saat hari H menyatakan cintanya. Padahal Fpp bawain adeknya Icha bunga mawar loh, sayang banget ditolak.
Adapun membahas soal kenapa gue sayang banget “saat itu” sama Icha yaitu kesederhanaannya yang bikin gue salut. Dia orangnya juga mandiri banget. Waktu itu, gue masih pakai motor astrea tahun 90an yang dibeliin sama bokap gue. Kalau dibandingin sama temen-temen gue yang pakai motor bagus, lumayan miris sih. Tapi Dia gak pernah sama sekali mengeluh.
Selain latihan pramuka, ternyata Icha juga bekerja di sebuah counter handphone yang berlokasi di dekat situ juga. Kadang, kalau gue punya waktu, gue sempatkan untuk jemput atau antar dia kerja. Nah, saat mengantar atau jemput ini, Icha gak pernah meminta stop atau berhenti di kejauhan agar gak ada orang yang tahu kalau dia diantar sama cowok yang hanya menggunakan motor astrea.
Hari itu adalah hari ulang tahunnya, kayaknya gue gak perlu sebutin tanggal dan bulannya ya karena takut kena lempar piring sama bini gue yang sekarang kalo dia baca story ini, haha.
Gue minta bantuan Ferdi untuk bisa membelikan Icha kalung karena gue pikir kalo Dia pake kalung bakal bikin Dia makin manis aja kelihatannya.
“Fpp, temenin Aku nah ke Citra, kawa kah?,” tanya gue ke Fpp lewat SMS. (Kawa itu artinya bisa)
“Ya udah, kapan kam handak ke sananya?,” jawab Fpp. (Kam handak itu artinya kamu mau”
“Sekarang, kawa kah?,” jawab gue singkat.
“Kawa ai, kam ke rumah unda ja sekarang,” balas Fpp. (Unda itu artinya Aku)
Quote:
Setelah gue pergi ke rumahnya, Kita berdua pun pada akhirnya meluncur ke Pasar Citra Niaga untuk bisa mencari kalung yang pengen gue beli. Akhirnya gue pun dapat kalung yang gue rasa bagus dengan harga yang terjangkau. Harga kalungnya Rp 25 ribu. Murah ya? Kalau buat gue, uang segitu dah lumayan gede karena gue tiap hari cuma dapet sangu/uang jajan Rp 5 ribu.
Keesokan harinya, gue pun langsung ke rumah Icha. Menjemputnya, bukan untuk jalan-jalan ke mall atau ke taman, tapi ke rumah Tko. Jujur aja gue gak punya uang lagi untuk mengajaknya jalan selain ke rumah Tko. Kalau gak salah ingat, di dompet gue kala itu cuma ada Rp 3 ribu aja, sebelumnya ada Rp 5 ribu tapi sudah dipakai untuk beli bensin. Saat itu harga bensin premium masih Rp 1.800 gan, masih murah.
Sesampainya di rumah Tko, gue pun langsung memberikan kalung yang udah gue persiapkan itu. Saat itu gue lihat wajahnya sangat senang dan menyukai kalung yang gue pilih. Bentuk kalungnya itu memiliki liontin hati dengan warna seperti emas putih, walau palsu, tapi cukup bagus untuk dilihat. Sayangnya, gak ada ucapan-ucapan romantis selain selamat ulang tahun yang mainstream. Itu ya gak bukan dan gak lain karena gue orangnya bukan tipikal yang romantis.
Kalau soal kenangan yang mungkin masih gue inget sampai sekarang yaitu saat berboncengan di atas motor astrea mengelilingi jalan di sekitar Loa Bakung bareng dia. Bercengkrama dan tertawa bareng membahas banyak hal. Namun kini, itu semua adalah masa lalu.
Stop berbicara soal romantisme bersama mantan, gue juga akan masukkin cerita yang cukup absurd menurut gue. Pengalaman yang mungkin gak akan gue lupakan seumur hidup. Ini masih berhubungan dengan Icha.
Hal ini terjadi karena adanya Kak Atn yang merupakan kakak dari Tko. Kak Atn ini bisa dibilang preman di daerah situ. Badannya penuh tatto. Orangnya sih baik, tapi kalau marah atau gak suka, dia akan blak-blakan. Dia merasa tidak suka dengan Icha karena berpacaran sama gue. Dia merasa risih kalau Icha dan gue seakan numpang pacaran di rumahnya. Oleh karena itulah, gue berinisiatif untuk bisa mencari tempat yang bisa untuk dijadikan tempat berduaan.
Di daerah Loa Bakung, tempatnya masih sepi, terdapat beberapa rumah kosong yang belum jadi di pinggir jalan. Jadi gue pikir, mungkin oke saja kalau numpang duduk-duduk di rumah kosong tersebut. Hitung-hitung berteduh dari panas.
Namun nahas karena gue sama Icha malah dituduh berbuat macam-macam sama salah seorang warga di situ. Kami pun bagaikan orang yang tengah kepergok.
“Hey, kalian ngapain di sini! Mesum ya!,” teriaknya.
“Ndak kok, kami cuma duduk aja,” jawab gue panic.
“Kalian anak mana? Tinggal dimana ikam bedua nih,” tanyanya.
“Maaf pak, kami gak ngapa-ngapain kok, kami cuma numpang duduk saja,” gue jawab dengan jawaban yang sama.
“Halah bohong kam ni! Kecil-kecil sudah macam-macam,” kelakarnya.
“Bener pak, kami ndak ngapa-ngapain, sumpah Demi Allah,” ujar gue ngotot karena memang gue merasa gak melakukan apa-apa.
“Ya sudah, sini kam bebinian ku pukul tangan ikam”, ujarnya sambil mengacungkan kayu yang memang dari awal sudah dibawa olehnya. (Bebinian itu artinya wanita/cewek)
“Jangan pak, Saya aja pak yang dipukul,” jawab gue membela Icha yang sudah sangat ketakutan.
“Ya udah sini,” jawabnya sambil nyomot tangan gue.
“Plak plak plak,” bunyi pukulan kayu itu menghujam tangan gue. Dalam hati gue, kalau Icha sekali, gue sekali, harusnya kan cuma dua kali, ini kok tiga kali? Kampret!
“Sudah sana kalian pergi dari sini, sampai ulun liat kam di sini lagi, ku seret ke RT ikam!”, teriaknya mengusir kita. (Ulun artinya Aku, Kam dan Ikam artinya sama yaitu Kamu)
Quote:
Akhirnya, gue dan Icha pun pergi dari sana. Sepanjang jalan, Icha menangis sambil peluk gue dengan sangat kencang. Di sepanjang jalan itu pula gue berusaha menenangkan Dia dan meminta maaf karena sudah memilih tempat yang salah.
***
Begitulah kurang lebih kisah cinta gue saat masih bersama Icha. Sebenarnya mungkin ada banyak sekali kenangan yang gak mungkin gue ceritakan semua. Karena masih banyak kisah hidup gue yang harus dikupas. Oh ya, akhirnya gue inget nama adeknya Icha, yaitu Sr.
Sebuah lagu pun akhirnya tercipta dari kenangan-kenangan itu.
Quote:
Diubah oleh jorghymub61 23-04-2017 13:19
efti108 memberi reputasi
1




