Mendengar cerita teman temanku, aku selalu tersenyum kecil dan menatap ke kejauhan. Menatap ke indahnya alam kota Bogor dari puncak Ciawi. Aku mengaminkan seluruh keinginan mereka. Memang kalau dibandingkan, masa depan mereka sangat jauh lebih meyakinkan dari masa depanku. Namun begitu, aku ingat kata kata Chairil Anwar.
“Dan aku lebih tidak perduli. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”
Rasanya ingin aku tambahkan kata-katanya dengan
“Dan aku lebih tidak perduli. Aku ingin hidup dengan sajak-sajak yang dibuat di rumah Jalang. Dengan tinta-tinta hitam yang dituang diatas cawan-cawan sederhana. Dengan iringan tawa bahagia kawan-kawan jalangku. Dengan sinar matahari yang malu-malu muncul dari balik bukit di Bogor. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”
**
“Woi!” Farhan menepuk bahuku dan membangunkanku dari lamunan. “Giliran lu, buruan.”
“Gua pengen ngekos di Depok. Niatnya biar bisa belajar hidup mandiri, terus bisa dapet ide-ide buat nulis. Intinya sih gua pengen jadi penulis.” Jawabku sembari menikmati udara dingin yang sudah menjadi sejuk. Sembari menatap ke kejauhan, ke keindahan kota dilihat dari atas sini.
“Rumah di Jakarta Selatan, tapi ngekos di depok. Terus ngelesnya buat nyari ide. Itu emang nyonya yang disamping lu belom bisa ngasih inspirasi?” ledek Daffa yang membuatku menengok ke samping kiri. Menengok ke Sasa yang ternyata sedang bersender di bahuku.
“Kalo dia sih bukan ngasih inspirasi, Daf.” Mendengar kata-kataku, Sasa menegakkan badannya lalu menatapku dengan penuh penasaran mendengar kata-kataku selanjutnya. “Dia sih malah ngasih cubitan-cubitan maut.” Jawabku sekenannya.
Mendengar kata-kataku, Sasa melotot dan memberiku cubitan tepat di lenganku. “Nyebelin tau gak?” katanya dengan sinis.
“Sakit, tau gak?” jawabku.
“Bodo. Oh iya, sekarang giliran gue ya?” Sasa berdehem dan memulai ceritanya. “Jadi, gue pengen buka usaha sendiri. Gue pengen buka café kecil-kecilan. Jadi, nantinya kalo gue nikah, gue gak perlu kerja-kerja berat. Kalo gue udah punya anak juga nantinya gue jadi bisa ngurusnya deh.”
Sasa mengakhiri cerita singkatnya dengan senyuman. Senyuman khasnya, dengan sedikit lesung pipit di kiri dan kanan bibirnya. Ia tersenyum dan mentap ke kejauhan. Ke arah sinar matahari yang sekarang mulai berani menampakkan wujudnya di atas kota Bogor.
Siapapun yang menjadi suaminya kelak adalah seorang yang beruntung. Sasa sudah memikirkan bagaimana menjadi seorang Ibu Rumah Tangga sekaligus menjadi seorang Bussiness Woman. Dan anaknya, pasti akan menjadi anak yang bahagia. Karena ibunya sudah memikirkannya sejak jauh jauh hari.
“Tapi nih ya Sa. Kalo lu udah punya anak, terus masih suka nyubit. Kayaknya si Farhan bakal dapet kasus sih, kasus kekerasan terhadap anak.” Aku meledek Sasa. Yang langsung ditanggapi dengan cubitan mautnya yang lagi-lagi mendarat di lenganku. Pagi itu, semuanya diakhiri dengan tawaku dan kawan kawan jalangku di tengah sinar jalang yang sudah berani menyilaukan mata.