- Beranda
- Stories from the Heart
F A R B E
...
TS
noobwriter
F A R B E
Sekali Lagi
oleh: NW
Yang paling menyedihkan ialah yang ditulis
Kau berarti untuk kuingat sekali lagi
Laksana rintik itu yang mebawamu
Sekali lagi harus kuingat
Sekali lagi...
Sekali lagi..
Jika ada, hanya sekali lagi.
Takkan kuingat kau layaknya elegi pagi.
Derunya sekuat rintik yang membawamu.
Pergi teriring lantunan nan biru
10.35 010517
Spoiler for MUST READ! :
1. TS sangat mengharapkan kritik dan komentar reader (asal bukan hinaan, TS udah cukup hina kok
), biar makin kebukanya wawasan TS, sama biar ceritanya makin bagus. TS masih pemula soalnya gan! 2. Kalo tiba tiba lagi baca terus eneg-eneg gitu mending minum air dulu gan, tulisan TS kadang suka terlalu mellow emang

3. Kalo ada kejadian yang mirip-mirip ya maafin deh ya gan, gak sengaja kok TSnya
4. Panggil TS "Noob" aja ya gan. Biar lebih santai bawaannya
Spoiler for last.:
Fiktif atau Non Fiktif?
Hehehehe, bisa dibilang fiktif, tapi non-fiktif juga. Gitu lah pokoknya!
misalnya Fiktif: TS ganteng. TS anak sastra.
misalnya non-fiktif: TS ganteng banget. Rambut TS keriting
ps: ada yang di fiktif-in untuk jaga privasi TS.
Spoiler for INDEKS:
Diubah oleh noobwriter 01-05-2017 10:44
anasabila memberi reputasi
1
2.3K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
noobwriter
#3
Spoiler for Sinar (2) :
Saat ini, aku sedang berada di Ciawi, Bogor. Di salah satu villa sederhana milik temanku. Saat ini, aku dan teman-temanku sedang merayakan wisuda kami. Setelah 4 tahun berjuang menghadapi jam-jam perkuliahan yang sangat ketat, dan membosankan akhirnya kami semua yang berada di sini bisa merasakan bagaimana rasanya memakai toga.
Namaku Dimas Prayoga. Aku seorang lulusan Fakultas Sastra. Dan sekarang, aku sedang menghadapi masa-masa genting pra-wisuda. Kita semua tahu, banyak sekali sarjana sarjana muda yang menganggur lama setelah kelulusan. Tapi aku berbeda. Aku adalah seorang pengangguran. Pekerjaanku adalah menganggur. Biasanya untuk menghasilkan uang, seseorang yang memiliki pekerjaan sepertiku harus bengong, dan menulis cerita-cerita, atau ide-ide. Aku adalah seorang penulis. Atau, lebih tepatnya, aku adalah seorang sarjana yang sangat ingin menjadi penulis.
Di villa ini, aku dan teman-temanku sedang merayakan kelulusan. Aku, Daffa si calon Dokter, Prilly si calon Menteri Keuangan, Trisna si calon Psikolog, Farhan si calon Pengacara, dan Sasa.
Sasa adalah calon Manajer. Ia adalah seorang lulusan fakultas Manajemen Bisnis. Aku kenal dia sedari kecil. Karena kebetulan, rumahnya berada di samping rumahku persis. Sasa adalah seorang perempuan yang sederhana. Dia adalah orang yang sangat apa adanya. Jika seorang perempuan biasanya dilirik karena dandanannya, maka Sasa dilirik karena kesederhanaannya. Saking sederhananya, dia tidak pernah memakai riasan riasan wajah yang berlebihan. Namun itulah yang membuat dia spesial.
“Nah, ini dia bocahnya dua! Sini woi, pacaran mulu.” Daffa setengah teriak memanggil aku, dan Sasa yang sedang berjalan ke dalam rumah.
“Siapa yang pacaran sih? Orang kita ngadem doang.” Kata Sasa membela diri lalu langsung duduk di Sofa, di samping Trisna dan Prilly.
“Udah, udah. Nih serius dulu nih ya kita.” Daffa berbicara dengan penuh semangat, sementara aku duduk di karpet dan bersender ke dinding.
“Jadi, sekarang ayo kita keluar. Udah jam lima lewat nih.”
“Yah bangke. Gua aja dari luar ke dalem gara gara dingin, ini si kampret nyuruh keluar lagi.” Ujarku dengan rada menggerutu
“Udah ikutin aja dia Dim. Entar kalo diluar kita mati kedinginan, biar gua tuntut dia.”
“Bodo. Buruan sini.” Daffa bergegas keluar, lalu duduk di rumput. Dia mengarahkan kami semua untuk duduk berjejer menghadap ke arah kota Bogor yang sangat indah dari puncak sini.
“Nah, ini ngapain nih Daf?” tanya Trisna dengan penasaran
“Kita curhat yuk.” Daffa berkata dengan enteng. “Kita kan dikit lagi sibuk sama masa depan masing-masing nih, nah mending sekarang kita cerita-cerita tentang rencana masa depan kita mau gimana.”
“Ide bagus tuh, lu yang mulai Daf, buruan!” kata Prilly dengan semangat
Daffa pun bercerita. Rencananya, dia ingin meneruskan studi kedokterannya di Australia. Ia ingin mendalami kedokteran saraf. Karena menurutnya, di Indonesia masih sedikit dokter-dokter yang berurusan dengan saraf.
Lalu Trisna yang ada di sampingnya juga bercerita bahwa Ia sudah mendapat panggilan kerja dari salah satu perusahaan di daerah
Senayan. Dan katanya, Ia akan langsung bekerja di HRD.
Selanjutnya Farhan bercerita bahwa Ia akan berusaha untuk mendirikan Firma Hukumnya sendiri. Katanya Ia sudah mengumpulkan uang sejak jauh-jauh hari. Namun, katanya Ia masih harus mengumpulkan uang lebih banyak lagi. Jadi menurutnya, dia masih harus bekerja untuk 1-4 tahun ke depan sebelum bisa mendirikan firma hukumnya sendiri.
Mendengar cerita teman temanku, aku selalu tersenyum kecil dan menatap ke kejauhan. Menatap ke indahnya alam kota Bogor dari puncak Ciawi. Aku mengaminkan seluruh keinginan mereka. Memang kalau dibandingkan, masa depan mereka sangat jauh lebih meyakinkan dari masa depanku. Namun begitu, aku ingat kata kata Chairil Anwar. “Dan aku lebih tidak perduli. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”
Rasanya ingin aku tambahkan kata-katanya dengan “Dan aku lebih tidak perduli. Aku ingin hidup dengan sajak-sajak yang dibuat di rumah Jalang. Dengan tinta-tinta hitam yang dituang diatas cawan-cawan sederhana. Dengan iringan tawa bahagia kawan-kawan jalangku. Dengan sinar matahari yang malu-malu muncul dari balik bukit di Bogor. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”
0
Kutip
Balas