- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.7K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#559
Part 21 - Tamat
PART 21 - TAMAT
Quote:
Dalam sekejap cerita Mirna langsung mengagetkan belasan Bapak Bapak di pos jaga ronda. Mereka memutuskan untuk memberitahukan kepada warga lainnya tengah malam itu juga. lantas mereka pun berkeliling kampung untuk membangunkan semuanya dan mengajak para pria dewasa untuk berkumpul di rumah Pak Kepling sebagai persiapan awal. Namun, rencana mereka berubah tatkala mereka mendengar perkataan Iryawan bahwa tim SAR gabungan dari BASARNAS, TNI, POLRI, PMI dan juga tim gabungan Mapala USU dan Unimed akan tiba beberapa menit lagi. Dalam pembicaraan alot dan panas tersebut, diketahui rencana awal tim SAR gabungan akan berangkat ke bukit itu tepat pukul 05.00 pagi atau sekitar 2 jam dari waktu mereka berkumpul. Ternyata mendapat pertentangan dari sebagian warga namun pada akhirnya diputuskan oleh Pak Kepling agar menunggu kedatangan tim SAR gabungan yang berjumlah kurang lebih 140 orang tersebut.
Seluruh pria kini telah bersiap, dengan mengenakan sarung, jaket tebal, sepatu bots karet, parang dan pedang bahkan arit juga digunakan serta senter mereka bawa sebagai modal menembus bukit itu. Ketika tim SAR gabungan tiba, tanpa basa basi warga kampung langsung meminta akan berangkat terlebih dahulu. Namun seluruh personil TNI POLRI yang terlibat langsung melarang mereka dan memerintahkan agar ikut bersama sama karena mereka membawa senjata api laras pendek dan panjang sebagai tameng. Akhirnya mereka semua menyetujuinya dan dilanjutkan dengan doa bersama serta meminum kopi yang telah didoakan oleh Pak Ustadz agar tidak mengantuk dan lengah selama diperjalanan. Teng, pukul lima pagi tepat, mereka semua berangkat bersama sama dengan diantar mobil tim SAR gabungan serta warga ke titik awal, 8 KM dari kampung dimana mobil non off road dapat berjalan.
Seluruh pria kini telah bersiap, dengan mengenakan sarung, jaket tebal, sepatu bots karet, parang dan pedang bahkan arit juga digunakan serta senter mereka bawa sebagai modal menembus bukit itu. Ketika tim SAR gabungan tiba, tanpa basa basi warga kampung langsung meminta akan berangkat terlebih dahulu. Namun seluruh personil TNI POLRI yang terlibat langsung melarang mereka dan memerintahkan agar ikut bersama sama karena mereka membawa senjata api laras pendek dan panjang sebagai tameng. Akhirnya mereka semua menyetujuinya dan dilanjutkan dengan doa bersama serta meminum kopi yang telah didoakan oleh Pak Ustadz agar tidak mengantuk dan lengah selama diperjalanan. Teng, pukul lima pagi tepat, mereka semua berangkat bersama sama dengan diantar mobil tim SAR gabungan serta warga ke titik awal, 8 KM dari kampung dimana mobil non off road dapat berjalan.
----------------------------------
Quote:
Aldi lalu membuka matanya perlahan lahan setelah mendengar suara Atri. Dia melihat sekeliling untuk meyakinkan dirinya bahwa dia telah kembali ke dimensi awal yang Atri buat. Memang benar dia kembali ke dimensi awal tersebut karena di sekelilingnya banyak bekas pertempuran sebelumnya. “Aldi... Aldi... Dek... Sebelah sini”, suara itu terdengar berteriak memanggil manggil Aldi dengan keras. Dia langsung mengenalinya dan memandang ke arah suara itu datang. Terlihat dengan jelas Yani, Lidya, Cut, Mutiya dan Setia berlari kencang mengejar dirinya dari kejauhan. “Waduh, tuh dada mereka benar benar naik turun kali ini. Gak nyangka gwe ternyata masih oke punya mereka” gumam Aldi menghibur diri dengan memfokuskan matanya tepat ke dada mereka berlima yang naik turun berguncang hebat. Atri melihatnya namun dia tak tahu entah apa yang ada di pikiran Aldi. “Eh, dari tadi bengong diam aja. Bukan nge balas teriak, aku di sini Kak, entah tuh aku masih hidup... Malah diam seribu bahasa!” Cut memulai kalimatnya sembari mencubit pipi Aldi tepat dihadapan Aldi. “Jangan jangan, lihatin dada kita yang goyang naek turun tadi ya?” nada Lidya meninggi sembari menarik telinga Aldi. “Iya Kak... Mubazir loh Kak kalo disia siakan, gak dilihatin apalgi gak dinikmatin” Aldi membalas sembari tertawa yang disusul tawa mereka berenam.
“Gak papa kok Dek... Tapi mana lawanmu itu?” Yani langsung memotong tawa kami semua. Aldi pun berpaling ke belakang melihat Atri dengan niat akan bertanya dimana bangkai makhluk tak bermoral itu. Namun, dia urungkan niatnya karena tepat 2 meter di depan sang tuan putri telah berbaring mayat mantan suaminya yang telah berbentuk seperti mumi. “Itu Kak, di depan dia” jawab Aldi sembari menunjuk ke onggokan bangkai kering manusia itu. “Astaghfirullah...”, “Naudzubillahi Mindzalik...”, “OMG!”, “Jesus Christ...”, suara mereka menyebut kata kata itu ketika melihat muminya Sudarma. “Kok bisa jadi gitu dia? Seram kali bentuknya...” ucap Setia terlebih dahulu. “Sihirnya sudah hilang, kemampuan jahatnya sudah musnah dan yang ada hanyalah tersisa tubuh manusia belaka tepat seperti yang kalian lihat ini” jawab Atri perlahan lahan. “Jadi, dia sudah mati? Apakah dia tak akan bangkit lagi?” Yani benar benar penasaran. “Tidak lagi dan nanti ketika kita semua telah muncul ke dunia nyata, mayat dia akan terbakar lalu berubah menjadi uap” sambung Atri yang membuat kami semua lega dan tersenyum.
“Lalu, bagaimana kita kembali nanti?” potong Lidya yang memang sudah tak sabaran untuk kembali terbebas dari tempat ini. “Baiklah, mendekatlah kemari, saling berpegangan tangan membentuk lingkaran di sekelilingku. Tutup mata kalian dan ketika telah sampai aku akan bangunkan kalian” jawab Atri yang langsung komat kamit membaca sesuatu dengan cepat. Tanpa aba aba mereka dengan cepat mengelilingi Atri dan memejamkan mata mereka. Di dalam hati mereka telah terbesit sejuta keinginan untuk kembali menemui orang orang yang mereka sayangi dan cintai. Terutama Aldi, karena dia sudah tak sabar lagi untuk menemui Mirna, pujaan hatinya. Bukan hanya itu, keinginan mereka untuk menyelesaikan misi penggalian kota itu semakin tak terbendung juga. Mereka berharap Atri, sang tuan putri dapat kembali bersama mereka ke dunia nyata. Mereka sangat mendambakannya karena dia dapat menjadi saksi hidup sebuah kota, serta bukti nyata ilmu sihir di masa lampau. Bukan tanpa sebab, karena dengan adanya penemuan itu mereka yakin sekali akan terkenal. Mata mereka berenam kini terpejam erat, tertutup rapat dan mereka pun hanya dapat mendengar suara mulut Atri berkomat kamit. Lalu, sebuah bayang bayang sinar menembus kelopak mata mereka, perlahan lahan sinar putih tersebut semakin kuat semakin terang membuat mereka tak sadarkan diri.
“Gak papa kok Dek... Tapi mana lawanmu itu?” Yani langsung memotong tawa kami semua. Aldi pun berpaling ke belakang melihat Atri dengan niat akan bertanya dimana bangkai makhluk tak bermoral itu. Namun, dia urungkan niatnya karena tepat 2 meter di depan sang tuan putri telah berbaring mayat mantan suaminya yang telah berbentuk seperti mumi. “Itu Kak, di depan dia” jawab Aldi sembari menunjuk ke onggokan bangkai kering manusia itu. “Astaghfirullah...”, “Naudzubillahi Mindzalik...”, “OMG!”, “Jesus Christ...”, suara mereka menyebut kata kata itu ketika melihat muminya Sudarma. “Kok bisa jadi gitu dia? Seram kali bentuknya...” ucap Setia terlebih dahulu. “Sihirnya sudah hilang, kemampuan jahatnya sudah musnah dan yang ada hanyalah tersisa tubuh manusia belaka tepat seperti yang kalian lihat ini” jawab Atri perlahan lahan. “Jadi, dia sudah mati? Apakah dia tak akan bangkit lagi?” Yani benar benar penasaran. “Tidak lagi dan nanti ketika kita semua telah muncul ke dunia nyata, mayat dia akan terbakar lalu berubah menjadi uap” sambung Atri yang membuat kami semua lega dan tersenyum.
“Lalu, bagaimana kita kembali nanti?” potong Lidya yang memang sudah tak sabaran untuk kembali terbebas dari tempat ini. “Baiklah, mendekatlah kemari, saling berpegangan tangan membentuk lingkaran di sekelilingku. Tutup mata kalian dan ketika telah sampai aku akan bangunkan kalian” jawab Atri yang langsung komat kamit membaca sesuatu dengan cepat. Tanpa aba aba mereka dengan cepat mengelilingi Atri dan memejamkan mata mereka. Di dalam hati mereka telah terbesit sejuta keinginan untuk kembali menemui orang orang yang mereka sayangi dan cintai. Terutama Aldi, karena dia sudah tak sabar lagi untuk menemui Mirna, pujaan hatinya. Bukan hanya itu, keinginan mereka untuk menyelesaikan misi penggalian kota itu semakin tak terbendung juga. Mereka berharap Atri, sang tuan putri dapat kembali bersama mereka ke dunia nyata. Mereka sangat mendambakannya karena dia dapat menjadi saksi hidup sebuah kota, serta bukti nyata ilmu sihir di masa lampau. Bukan tanpa sebab, karena dengan adanya penemuan itu mereka yakin sekali akan terkenal. Mata mereka berenam kini terpejam erat, tertutup rapat dan mereka pun hanya dapat mendengar suara mulut Atri berkomat kamit. Lalu, sebuah bayang bayang sinar menembus kelopak mata mereka, perlahan lahan sinar putih tersebut semakin kuat semakin terang membuat mereka tak sadarkan diri.
----------------------------------
Quote:
”Aldi sayang, bukalah matamu sekarang...”, suara itu membangunkannya, menyadarkannya. Aldi membuka matanya dengan cepat lalu bengkit melihat sekitar, dia mendapati dirinya telah kembali ke tenda awal dimana dia, Yani, Lidya, Cut, Mutiya dan Setia bersama sama sebelum peristiwa itu terjadi. “Kak, bangun Kak” panggil Aldi ke mereka sembari menggoyang goyangkan tubuh mereka berlima. “Eh... Aldi...” suara Cut pertama sekali terdengar begitu sadar yang disusul Yani, Lidya, Mutiya dan Setia berbarengan. “Ayo keluar Kak” ajak Aldi mencoba memastikan posisi mereka tepatnya sekarang ini. Lalu mereka bersamaan keluar dari tenda melihat keadaan sekitar. Benar saja, mereka telah kembali ke dunia nyata tepat di titik mereka mendirikan tenda. Lalu Aldi bergegas melihat tenda yang lainnya, “Kak, mereka semua ada di sini! Tapi mereka belum sadar sepertinya”.
“Tuan putri mana? Kok gak kelihatan dia?” Setia ternyata sedari tadi berusaha mencari keberadaan tuan putri. “Eh iya, mana dia? Kok gak di sini?” sambung Mutiya sembari melihat ke sekeliling. “Tenang saja, aku di sini kok” suara Atri, sang tuan putri mengagetkan mereka. Dengan cepat Aldi berlari menuju mereka berlima kemudian memberikan isyarat tangan untuk tetap di tempat jangan menyusul kalau dia memberikan tanda. Lalu dia berlari menghampiri tuan putri berusaha memegang tangannya, namun sebuah kejutan terjadi, “Atri, kenapa aku tak bisa memegang tanganmu? Kenapa tanganku menembus dirimu?”. “Kalian semua ikutlah denganku sekarang. Aku akan menunjukkan beberapa hal” balasnya yang disusul melayangnya dirinya membuat kaget mereka semua. Tak pikir panjang dan menghiraukan rasa takut, mereka menyusul Atri yang terbang melayang menuju tempat penemuan formasi bebatuan. Mereka saling berpegangan tangan menuju tempat itu dengan bermodalkan senter.
“Ini rakyatku semua, mereka kini telah menjadi jasad tanpa daging. Maaf aku sedikit berbohong kepada kalian semua. Mereka semua telah terlebih dahulu dihabisi Sudarma. Lalu, Aldi, khusus pasukan yang kalian lihat dan kamu lawan. Itu adalah prajurit RPKAD, temannya Mbah Wagiman dan Mbah Suroso yang hilang dahulu kala. Sudarma mencuci otak mereka agar menuruti kemauan busuknya”, Atri memulai percakapan tatkala melihat kami yang terkejut melihat puluhan kerangka bertebaran di atas tanah lengkap dengan pakaiannya. “Inilah Sudarma, kalian bisa lihat dari sisa pakaian yang dikenakannya. Terutama kamu Aldi karena kamu mengenalnya sewaktu menghabisinya tadi” sambung Atri sembari menunjuk seonggok pakaian yang kukenal dengan sisa jejak di tanah membentuk gambaran sebuah tubuh manusia. “Ayo kemari, masuk kemari”, Atri mengajak mereka masuk ke sebuah gua yang baru terbentuk tapi dari awal kedatangan kami tidak ada sama sekali gua itu. Mereka berenam masuk ke dalam menyusul sang tuan putri dengan senter tetap menyorot ke depan menerangi gelapnya seisi dalam gua itu.
Alangkah terkejutnya mereka ketika cahaya senter mereka mengenai jasad sang tuan putri yang masih utuh dalam posisi bertapa tanpa ada kerusakan sedikit pun. Mereka tak percaya pemandangan yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Tiba tiba saja jasad sang tuan putri bergerak mengagetkan mereka hingga mereka berenam berpelukan erat. “Tenang saja, aku akan segera menghilang karena aku dan rakyatku telah terbebas dari tawanannya. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka telah terbebas semua. Ayo kita keluar sekarang, disini terlalu sempit untuk berbicara”, sang tuan putri bangkit dan berjalan keluar melewati mereka berenam. Sesampainya mereka di luar, tampaklah sang tuan putri begitu cantik dan indah dengan balutan pakaiannya yang sangat elegan dan menawan di bawah terangnya cahaya bulan. “Waktuku tak banyak lagi, jadi aku benar benar ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Terutama kamu Aldi”, tangan tuan putri menarik tangannya Aldi yang kemudian memeluk Aldi erat. “Seandainya aku dapat kesempatan kedua dari Tuhan, aku akan mencintaimu sepenuh hatiku Aldi, menyayangimu dan menjagamu hingga maut memisahkan kita...” tetes demi tetes air mata keluar dari matanya membasahi pipi mulusnya.
“Sudahlah... Izinkan aku menciummu untuk terakhir kalinya. Maafkan aku kita bisa bersama, dunia kita sangat berbeda. Sekarang aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu tenang di san...”, belum selesai kalimat yang Aldi ucapkan, tiba tiba Atri langsung mencium bibir Aldi. Dia membalas ciuman tuan putri sembari meneteskan air mata perpisahan. Dengan cekatan sang tuan putri melumat bibirnya dengan penuh nafsu. Dia tak menyia nyiakan kesempatannya untuk merasakan indahnya sentuhan cinta. Kemudian, perlahan lahan tubuh Atri mulai berubah menjadi transparan. Tangan Aldi yang tadi memeluk tubuhnya kini sudah tak bisa merasakan lagi keberadaan jasad tuan putri. Akhirnya setelah Aldi membuka mata, sang tuan putri tersebut telah menghilang lenyap menguap ke udara. “Selamat jalan sayang, semoga kau tenang disana, Inalillahi Wainaillahi Rajiun...” ucap Aldi lirih. Kelima wanita yang menyaksikan itu semua benar benar terdiam tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
“Kak, ayo kita kembali ke tenda. Dia sudah tenang, lebih baik kita tidur saja. Aku yakin pasti akan ada yang datang dari kampung untuk menolong kita”, ucap Aldi perlahan lahan. “Sudah Dek, bukan takdirnya dia untuk bersamamu. Ingatlah, kamu sudah ada Mirna bukan?” ucap Cut sambil menyeka air mata Aldi. “Lebih baik kita tidur dan menunggu pagi. Pasti mereka semua akan sadar pagi nanti”, sambung Setia. Mereka pun kembali ke tenda dimana mereka memulai semua petualangan tadi. Namun, kali ini mereka tak menutup pintunya rapat sehingga dengan leluasa mereka dapat menyaksikan cahaya bintang di gelapnya langit malam. Aldi mengambil posisi tidur tepat di antara Lidya dan Mutiya. “Eits, kalo pegang pegang nanti Kakak kasih jatah gak kuat situ” canda Lidya kepada Aldi yang wajahnya murung dan sedih. Tak disangka Aldi membalasnya dengan menyentuh buah dadanya, “Ini apa Kak, hayo coba aja!” disusul tawa kerasnya. “Eh ini anak mulai gatel ya! Udah tidur sana! Gak akan kuat kamu lawan kami berlima Dek” sambung Mutiya tertawa yang disusul tawa mereka semua berbarengan. Bukannya tidur, malam itu mereka lanjutkan dengan saling bercerita pengalaman hidup masing masing. Sebenarnya mereka bukan takut juga bukan was was terhadap Aldi yang bisa gelap mata karena nafsu, syhwat serta libidonya, melainkan mereka menunggu teman teman serombongan terbangun dan sadar.
“Tuan putri mana? Kok gak kelihatan dia?” Setia ternyata sedari tadi berusaha mencari keberadaan tuan putri. “Eh iya, mana dia? Kok gak di sini?” sambung Mutiya sembari melihat ke sekeliling. “Tenang saja, aku di sini kok” suara Atri, sang tuan putri mengagetkan mereka. Dengan cepat Aldi berlari menuju mereka berlima kemudian memberikan isyarat tangan untuk tetap di tempat jangan menyusul kalau dia memberikan tanda. Lalu dia berlari menghampiri tuan putri berusaha memegang tangannya, namun sebuah kejutan terjadi, “Atri, kenapa aku tak bisa memegang tanganmu? Kenapa tanganku menembus dirimu?”. “Kalian semua ikutlah denganku sekarang. Aku akan menunjukkan beberapa hal” balasnya yang disusul melayangnya dirinya membuat kaget mereka semua. Tak pikir panjang dan menghiraukan rasa takut, mereka menyusul Atri yang terbang melayang menuju tempat penemuan formasi bebatuan. Mereka saling berpegangan tangan menuju tempat itu dengan bermodalkan senter.
“Ini rakyatku semua, mereka kini telah menjadi jasad tanpa daging. Maaf aku sedikit berbohong kepada kalian semua. Mereka semua telah terlebih dahulu dihabisi Sudarma. Lalu, Aldi, khusus pasukan yang kalian lihat dan kamu lawan. Itu adalah prajurit RPKAD, temannya Mbah Wagiman dan Mbah Suroso yang hilang dahulu kala. Sudarma mencuci otak mereka agar menuruti kemauan busuknya”, Atri memulai percakapan tatkala melihat kami yang terkejut melihat puluhan kerangka bertebaran di atas tanah lengkap dengan pakaiannya. “Inilah Sudarma, kalian bisa lihat dari sisa pakaian yang dikenakannya. Terutama kamu Aldi karena kamu mengenalnya sewaktu menghabisinya tadi” sambung Atri sembari menunjuk seonggok pakaian yang kukenal dengan sisa jejak di tanah membentuk gambaran sebuah tubuh manusia. “Ayo kemari, masuk kemari”, Atri mengajak mereka masuk ke sebuah gua yang baru terbentuk tapi dari awal kedatangan kami tidak ada sama sekali gua itu. Mereka berenam masuk ke dalam menyusul sang tuan putri dengan senter tetap menyorot ke depan menerangi gelapnya seisi dalam gua itu.
Alangkah terkejutnya mereka ketika cahaya senter mereka mengenai jasad sang tuan putri yang masih utuh dalam posisi bertapa tanpa ada kerusakan sedikit pun. Mereka tak percaya pemandangan yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Tiba tiba saja jasad sang tuan putri bergerak mengagetkan mereka hingga mereka berenam berpelukan erat. “Tenang saja, aku akan segera menghilang karena aku dan rakyatku telah terbebas dari tawanannya. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka telah terbebas semua. Ayo kita keluar sekarang, disini terlalu sempit untuk berbicara”, sang tuan putri bangkit dan berjalan keluar melewati mereka berenam. Sesampainya mereka di luar, tampaklah sang tuan putri begitu cantik dan indah dengan balutan pakaiannya yang sangat elegan dan menawan di bawah terangnya cahaya bulan. “Waktuku tak banyak lagi, jadi aku benar benar ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua. Terutama kamu Aldi”, tangan tuan putri menarik tangannya Aldi yang kemudian memeluk Aldi erat. “Seandainya aku dapat kesempatan kedua dari Tuhan, aku akan mencintaimu sepenuh hatiku Aldi, menyayangimu dan menjagamu hingga maut memisahkan kita...” tetes demi tetes air mata keluar dari matanya membasahi pipi mulusnya.
“Sudahlah... Izinkan aku menciummu untuk terakhir kalinya. Maafkan aku kita bisa bersama, dunia kita sangat berbeda. Sekarang aku hanya bisa mendoakanmu agar kamu tenang di san...”, belum selesai kalimat yang Aldi ucapkan, tiba tiba Atri langsung mencium bibir Aldi. Dia membalas ciuman tuan putri sembari meneteskan air mata perpisahan. Dengan cekatan sang tuan putri melumat bibirnya dengan penuh nafsu. Dia tak menyia nyiakan kesempatannya untuk merasakan indahnya sentuhan cinta. Kemudian, perlahan lahan tubuh Atri mulai berubah menjadi transparan. Tangan Aldi yang tadi memeluk tubuhnya kini sudah tak bisa merasakan lagi keberadaan jasad tuan putri. Akhirnya setelah Aldi membuka mata, sang tuan putri tersebut telah menghilang lenyap menguap ke udara. “Selamat jalan sayang, semoga kau tenang disana, Inalillahi Wainaillahi Rajiun...” ucap Aldi lirih. Kelima wanita yang menyaksikan itu semua benar benar terdiam tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
“Kak, ayo kita kembali ke tenda. Dia sudah tenang, lebih baik kita tidur saja. Aku yakin pasti akan ada yang datang dari kampung untuk menolong kita”, ucap Aldi perlahan lahan. “Sudah Dek, bukan takdirnya dia untuk bersamamu. Ingatlah, kamu sudah ada Mirna bukan?” ucap Cut sambil menyeka air mata Aldi. “Lebih baik kita tidur dan menunggu pagi. Pasti mereka semua akan sadar pagi nanti”, sambung Setia. Mereka pun kembali ke tenda dimana mereka memulai semua petualangan tadi. Namun, kali ini mereka tak menutup pintunya rapat sehingga dengan leluasa mereka dapat menyaksikan cahaya bintang di gelapnya langit malam. Aldi mengambil posisi tidur tepat di antara Lidya dan Mutiya. “Eits, kalo pegang pegang nanti Kakak kasih jatah gak kuat situ” canda Lidya kepada Aldi yang wajahnya murung dan sedih. Tak disangka Aldi membalasnya dengan menyentuh buah dadanya, “Ini apa Kak, hayo coba aja!” disusul tawa kerasnya. “Eh ini anak mulai gatel ya! Udah tidur sana! Gak akan kuat kamu lawan kami berlima Dek” sambung Mutiya tertawa yang disusul tawa mereka semua berbarengan. Bukannya tidur, malam itu mereka lanjutkan dengan saling bercerita pengalaman hidup masing masing. Sebenarnya mereka bukan takut juga bukan was was terhadap Aldi yang bisa gelap mata karena nafsu, syhwat serta libidonya, melainkan mereka menunggu teman teman serombongan terbangun dan sadar.
----------------------------------
Quote:
Waktu menunjukkan hampir pukul setengah delapan pagi ketika matahari sudah bersinar cukup terang. Di dalam tenda mereka masih asyik bercerita bahkan terus menerus menggombali Aldi yang notabenenya seorang pria sendirian di tengah tengah wanita wanita cantik. Tiba tiba saja, “Suara orang berteriak Kak! Suaranya jauh! Sepertinya dari bawah sana!” ucap Aldi pertama kali ketika dikagetkan dengan suara suara itu. “Itu yang datang akan menyelamatkan kita” sambung Cut. “Ayo kita keluar, panggil mereka” timpal Yani yang langsung bergegas membuka pintu tenda dan keluar. “Kami di sini! Hai, kami di sini!” teriak Yani keras mengagetkan Aldi dan semuanya. “Tunggu, kami segera ke sana! Ini tim SAR!” balas tim SAR gabungan menggunakan megaphone yang sedari tadi kami tunggu tunggu kedatangannya. Tiba tiba saja Sarah terbangun dari tidurnya di tenda mereka yang sebetulnya adalah tenda khusus wanita, “Hey, huaaahhhh... Morning everyone”(Hey, huaaahhhh... Pagi semuanya). Tak lama kemudian Jill dan Clara, 2 bule cantik dan sexy ini terbangun juga ketika mendengar riuh suara di sekelilingnya.
Tim SAR gabungan akhirnya berhasil mencapai tempat kami dan memeriksa satu per satu tenda yang ada serta membangunkan semuanya. Seluruh lelaki rombongan tim yang lain terbangun dalam keadaan kikuk, kebingungan serta kaget melihat kedatangan tim SAR gabungan. Bahkan bule bule itu juga, mereka bertanya ada apa, apa yang terjadi namun tak ada yang dapat menjawabnya karena tim SAR pun juga kebingungan melihat apa yang mereka temukan. Aldi lalu keluar tenda bersama para wanita termasuk para bule wanita juga. “Halo Pak, Bapak Bapak semuanya!”, teriak Aldi yang memancing pandangan semua orang ke arahnya. “Pak, mungkin kalian harus cek sebelah sana. Mereka semua sepertinya lebih membutuhkan pertolongan kita sekarang ini” tangan Aldi menujuk ke arah formasi bebatuan di sebelah timur tenda. Yang disusul beberapa anggota tim ekspedisi bangkit dan langsung bergegas menuju ke sana tak menghiraukan kedatangan tim SAR yang mengecek kondisi kesehatan mereka.
“Astaghfirullah Aladzim!”, “Naudzubillahi Mindzalik!” teriakan itu berulang ulang terdengar dari mulut tim SAR gabungan dan anggota tim ekspedisi ketika menyaksikan ratusan kerangka manusia terbaring di tanah terkena sinar matahari pagi. “Ke... Kemarin ini tidak ada di sini!” teriak Pak Tarmidzi kaget. Aldi pun langsung mengambil posisi turun duluan dan berhenti tepat di depan mereka lalu berkata, “Bapak Bapak semuanya, mohon tenang dulu. Saya beserta Ibu Yani, Lidya, Cut, Mutiya dan Setia kan menceritakan semuanya kenapa kerangka kerangka itu beserta bangunan istana itu bisa ada di sini. Tapi, pertama sekali lebih baik kami turun gunung terlebih dahulu untuk keamanan semuanya”. Serma Gunawan Koto dari Koramil langsung menyetujuinya, “Iya, kalian dengar apa kata dia. Saat ini kita harus bagi tim SAR gabungan menjadi dua. Sebagian tim mengawal tim arkeolog dan warga kampung pulang. Sebagian lainnya termasuk warga kampung akan menjaga tempat ini sampai tim dari PPLN dan dinas terkait datang”. Namun para arkeolog senior yang ada tim ekspedisi dengan cepat membantah, “Pak, kalau diizinkan, saya dan beberapa arkeolog akan tetap di sini untuk mengidentifikasi ini semua. Biarkan mereka para mahasiswa, terutama wanita serta warga kampung yang sedari awal ikut agar turun kembali ke kampung” balas Pak Tejo sang ketua tim. “Baiklah Pak, kami tak bisa melarangnya karena kondisi Bapak saat ini terlihat sehat sehat saja”, balas Ipda I Putu Baskara dari Polsek menyetujui usulan tersebut.
Tim SAR gabungan akhirnya berhasil mencapai tempat kami dan memeriksa satu per satu tenda yang ada serta membangunkan semuanya. Seluruh lelaki rombongan tim yang lain terbangun dalam keadaan kikuk, kebingungan serta kaget melihat kedatangan tim SAR gabungan. Bahkan bule bule itu juga, mereka bertanya ada apa, apa yang terjadi namun tak ada yang dapat menjawabnya karena tim SAR pun juga kebingungan melihat apa yang mereka temukan. Aldi lalu keluar tenda bersama para wanita termasuk para bule wanita juga. “Halo Pak, Bapak Bapak semuanya!”, teriak Aldi yang memancing pandangan semua orang ke arahnya. “Pak, mungkin kalian harus cek sebelah sana. Mereka semua sepertinya lebih membutuhkan pertolongan kita sekarang ini” tangan Aldi menujuk ke arah formasi bebatuan di sebelah timur tenda. Yang disusul beberapa anggota tim ekspedisi bangkit dan langsung bergegas menuju ke sana tak menghiraukan kedatangan tim SAR yang mengecek kondisi kesehatan mereka.
“Astaghfirullah Aladzim!”, “Naudzubillahi Mindzalik!” teriakan itu berulang ulang terdengar dari mulut tim SAR gabungan dan anggota tim ekspedisi ketika menyaksikan ratusan kerangka manusia terbaring di tanah terkena sinar matahari pagi. “Ke... Kemarin ini tidak ada di sini!” teriak Pak Tarmidzi kaget. Aldi pun langsung mengambil posisi turun duluan dan berhenti tepat di depan mereka lalu berkata, “Bapak Bapak semuanya, mohon tenang dulu. Saya beserta Ibu Yani, Lidya, Cut, Mutiya dan Setia kan menceritakan semuanya kenapa kerangka kerangka itu beserta bangunan istana itu bisa ada di sini. Tapi, pertama sekali lebih baik kami turun gunung terlebih dahulu untuk keamanan semuanya”. Serma Gunawan Koto dari Koramil langsung menyetujuinya, “Iya, kalian dengar apa kata dia. Saat ini kita harus bagi tim SAR gabungan menjadi dua. Sebagian tim mengawal tim arkeolog dan warga kampung pulang. Sebagian lainnya termasuk warga kampung akan menjaga tempat ini sampai tim dari PPLN dan dinas terkait datang”. Namun para arkeolog senior yang ada tim ekspedisi dengan cepat membantah, “Pak, kalau diizinkan, saya dan beberapa arkeolog akan tetap di sini untuk mengidentifikasi ini semua. Biarkan mereka para mahasiswa, terutama wanita serta warga kampung yang sedari awal ikut agar turun kembali ke kampung” balas Pak Tejo sang ketua tim. “Baiklah Pak, kami tak bisa melarangnya karena kondisi Bapak saat ini terlihat sehat sehat saja”, balas Ipda I Putu Baskara dari Polsek menyetujui usulan tersebut.
----------------------------------
Quote:
”Aldi! Aldi!” teriakan Mirna menyambut kedatangan Aldi di kampungnya. “Tuh, sana kejar calon binimu. Jangan kejar cewek tembus pandang jadi binimu”, celetuk Yani sembari mencolek pantat Aldi. Tanpa pikir panjang Aldi berlari mengejar Mirna dan langsung memeluknya erat yang disusul riuh sorakan warga kampung. “Cie... Cie... Yang baru selamat dari hantu cewek cantik nie”, suara suara itu terdengar berulang ulang dari warga kampung kapada mereka berdua. Seluruh sisa tim rombongan yang dikawal sebagian tim SAR gabungan kini sudah kembali ke desa untuk mendapatkan pertolongan lanjutan. Beberapa ambulance dan tim medis telah datang untuk mengecek keadaan mereka. Aldi yang bersama Mirna menjumpai Yani, Lidya, Cut, Mutiya dan Setia bersama Sarah, Jill dan Clara untuk membahas sesuatu. “Besok kita mulai penyelamatan mereka ya Kak. Tapi, untuk pengalaman tadi kita ada di alam seberang biar aku saja yang ceritakan detailnya kepada tim SAR”, pinta Aldi. Mirna yang mendengarnya hanya terdiam dan tak berani mengeluarkan sepatah kata apapun. Yani, Lidya, Cut, Mutiya dan Setia mengangguk tanda setuju sementara Sarah, Jill dan Clara hanya melongo terdiam karena tak mengerti pa yang mereka ucapkan.
“Akhirnya kita tahu, bahwa sebagian besar dari ratusan kerangka itu adalah korban pembantaian kekejaman Sudarma. Sedangkan yang lainnya adalah korban perang dan sihir. Besok tugas berat menanti kita untuk menyelesaikan itu semua. Jadi, kita istirahat malam ini biar kembali lagi tenaga kita” ucap Aldi terlebih dahulu. “Iya Dek, kita tidurnya bareng bareng di rumahmu ya seperti tadi pagi. Trus ajak Mirna sekalian biar kita tambah kenal sama dia. Sekalian entah mana tahu kamu sanggup ngelawan kita. Termasuk miss miss bule ini juga” sambung Yani yang disusul tawa mereka semua. Akhirnya kota yang sempat menjadi misteri pada beberapa masa kini sudah diketahui sebabnya dan akan ada pemulihan kondisinya serta akan memakamkan ratusan kerangka manusia yang tidak tenang matinya akbat kekejaman Sudarma. “Terima kasih Atri, kau tuan putri paling hebat. Kau sanggup mengorbankan segalanya meskipun tak ada lagi yang tersisa karena kau tahu Sudarma merupakan calon bibit penyakit bagi masa depan, masa dimana kami hidup sekarang”, ucap Aldi dalam hati.
“Akhirnya kita tahu, bahwa sebagian besar dari ratusan kerangka itu adalah korban pembantaian kekejaman Sudarma. Sedangkan yang lainnya adalah korban perang dan sihir. Besok tugas berat menanti kita untuk menyelesaikan itu semua. Jadi, kita istirahat malam ini biar kembali lagi tenaga kita” ucap Aldi terlebih dahulu. “Iya Dek, kita tidurnya bareng bareng di rumahmu ya seperti tadi pagi. Trus ajak Mirna sekalian biar kita tambah kenal sama dia. Sekalian entah mana tahu kamu sanggup ngelawan kita. Termasuk miss miss bule ini juga” sambung Yani yang disusul tawa mereka semua. Akhirnya kota yang sempat menjadi misteri pada beberapa masa kini sudah diketahui sebabnya dan akan ada pemulihan kondisinya serta akan memakamkan ratusan kerangka manusia yang tidak tenang matinya akbat kekejaman Sudarma. “Terima kasih Atri, kau tuan putri paling hebat. Kau sanggup mengorbankan segalanya meskipun tak ada lagi yang tersisa karena kau tahu Sudarma merupakan calon bibit penyakit bagi masa depan, masa dimana kami hidup sekarang”, ucap Aldi dalam hati.
sirluciuzenze memberi reputasi
1
Kutip
Balas