- Beranda
- Stories from the Heart
[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta
...
TS
rzrdn62
[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta
⇝★Special Main cover by Special Somebody★⇜
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/04/30/9697908_20170430071846.jpg)
▓▓∷rvn894∷▓▓
╠⇌≪PERKENALAN≫⇋╣
╠⇌≪RULES≫⇋╣
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/04/30/9697908_20170430071846.jpg)
▓▓∷rvn894∷▓▓
Quote:
╠⇌≪PERKENALAN≫⇋╣
Quote:
╠⇌≪Frequently Asked Questions≫⇋╣
Spoiler for FAQ:
╠⇌≪RULES≫⇋╣
Spoiler for Rules:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
╠⇌≪INDEX≫⇋╣
Spoiler for LIST All of INDEX:
Diubah oleh rzrdn62 15-06-2017 23:45
efti108 dan anasabila memberi reputasi
2
80.4K
929
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rzrdn62
#50
Part 5: Kaget
Setelah dibawa oleh Erlin dan supirnya menggunakan mobil, kami tiba di sebuah rumah yang megah dan terbilang sangat mewah. Dengan halaman depan yang cukup luas dan dihiasi dengan tanaman tanaman hias. Rumah ini memiliki 3 tingkat dengan pillar pillar yang cukup tinggi dan besar besar.
Gw: "Itu rumah siapa Lin?" -tanya gw sambil menunjuk ke arah rumah megah tersebut.
Erlin: "Ini rumah papah aku lah. Yuk turun. Sini tangan kamu, aku bantu jalan lagi
"
Pantas saja Erlin kalau teleponan dengan gw gak takut kehabisan pulsa, rumahnya aja sebesar dan semegah ini. Pastinya kalau cuma urusan pulsa gak masalah bagi Erlin.
Gw turun dari mobil dibantu oleh Erlin, lalu kami berdua berjalan ke arah pintu gerbang yang cukup besar dan lebar dengan cat berwarna silver. Setelah supir turun dan membukakan pintu gerbang, kami berdua masuk ke dalam dan menuju ke teras. Kami pun berhenti di depan teras, lalu Erlin masuk ke dalam sedangkan gw cuma duduk di luar menunggu Erlin. Sesaat kemudian Erlin keluar lagi dan berjalan ke arah gw.
Erlin: "Kamu ngapain diluar? Masuk aja Rez, dirumah cuma ada pak Indra supir aku yang tadi sama bi Dede lagi masak di dapur"
Gw: "Gak enak ah Lin. Takut nanti ada apa apaan."
Erlin: "Dirumah aku ngga ada setannya kok, ayo masuk aja." -bujuk Erlin sambil menarik narik tangan gw
Gw: "Bukan itu maksud gw.
Maksudnya gak enak kalau cuma berduaan doang di dalam rumah, apalagi sama lawan jenis. Bisa khilaf ntar gw."
Erlin: "Khilaf kaya gimana maksudnya? Kan dirumah ada pak Indra sama bi Dede. Jadi kita gak cuma berdu doang disini. Masuk Rez pliisss kamu kan lagi begini." -balasnya sambil menunjukan raut wajah yang langsung membuat gw luluh.
Gw: "Hmm...Yaudah deh. Raut muka lo bikin gw jadi gak bisa nolak permintaan lo Lin.
"
Erlin: "Yaudah yuk masuk." -ujarnya sambil membantu gw berdiri lalu dengan inisiatif melingkarkan tangan gw di pundaknya
Sedikit merasa gak enak sih, karena biasanya gw kalau bertamu kerumah orang itu selalu menunggu diluar. Walaupun disuruh masuk ke dalam juga gw tetap diluar karena takut kehadiran gw jadi merepotkan tuan rumah. Tapi kalau gak gw turutin apa yang Erlin mau, dia bisa ngambek.
Setelah berada di dalam rumahnya, gw pun makin terkagum kagum melihat isi dari perabotan yang ada di rumah ini. Setiap sudut ruangan tidak luput dari guci yang terlihat sangat mahal dan juga tanaman hias indoor. Dinding ruang tamunya dipenuhi dengan lukisan lukisan yang menurut gw mempunyai nilai jual yang tinggi serta beberapa lukisan abstrak dengan garis dan coretan gak jelas tetapi mempunyai warna kombinasi warna yang solid.
Gw pun dibawa ke ruang tengah oleh Erlin. Disana terdapat berbagai macam barang barang antik lainnya seperti pedang katana dan senapan sungguhan bertipe Mossin Nagant buatan Russia tergantung di dindingnya. Pandangan gw hanya tertuju pada senapan itu saja pada saat itu, karena gw juga seseorang yang suka dengan hal hal yang berbau perang dunia ke-2.
Erlin: "Kamu tunggu sini ya. Aku mau ke dapur dulu bikin minuman. Oh iya, kamu mau minum apa Rez?" - ucapnya sambil melepaskan tangan gw dari pundaknya
Gw: "Apa aja deh Lin, asal jangan kopi item ya. Gw gak suka kopi item soalnya." -jawab gw sambil merebahkan tubuh di atas sofa
Erlin: "Oke, tunggu sebentar. Jangan keliling keliling dulu ya, diem aja disitu. Nanti aku panggilin tukang urut buat ngurut kaki kamu, biar kamu gak kenapa kenapa."
Gw: "Gw paling gak suka diurut kan Lin.
"
Erlin pun meninggalkan gw diruang tengah dan berjalan ke arah dapur yang terletak di belakang. Sementara sambil menunggu Erlin membuatkan minuman, gw meluruskan kaki kanan lalu menyenderkan kepala gw ke bantal yang terdapat di sofa tersebut. Dengan keadaan seperti ini, serta dinginnya ruang tengah karena AC yang ada membuat gw jadi mengantuk dan akhirnya gw pun ketiduran.
Beberapa jam kemudian gw langsung terbangun dari tidur gw, karena gw merasakan kaki gw seperti ada yang memijat.
Gw: "Bapak siapa?"
Tukang pijat: "Saya tukang pijit langganan papahnya neng Erlin den, barusan saya ditelepon sama neng Erlin. Katanya neng Erlin minta tolong buat mijitin den Reza. Soalnya, kata neng Erlin den Reza baru aja ngalamin kecelakaan beberapa jam yang lalu." -ucap bapak tersebut sambil memijit kaki kanan gw
Gw: "Terus sekarang Erlin nya mana pak?"
Tukang pijat: "Tadi katanya neng Erlin mau beres beres sebentar den."
Setelah beberapa menit kemudian, gw pun selesai dipijit. Dan bapak tukang pijit itu segera pulang kerumahnya. Menyadari bapak tersebut belum gw bayar, sontak gw memaksakan diri untuk berjalan dan menghampiri bapak itu yang sudah sampai ruang tamu.
Gw: "Pak tunggu."
Tukang pijit: "Kenapa lagi den?"
Gw: "Ini pak, biaya pijit saya tadi."
Tukang pijit: "Ndak usah, biaya pijit aden sudah dibayar sama neng Erlin tadi."
Gw: "Ohh yaudah deh pak. Makasi banyak ya pak.
"
Tukang pijit: "Sama sama den."
Ternyata biaya pijit gw udah dibayarin oleh Erlin. Syukurlah. Katany juga Erlin kan lagi beres beres, tapi dari tadi gak keliatan juga orangnya.
Tiba tiba gw jadi mau buang air kecil. Entah toilet rumah ini ada disebelah mana. Lalu gw melangkahkan kaki gw ke bagian belakang rumah ini. Dengan sedikit pincang, langkah demi langkah pun gw pijakkan sambil sesekali bersandar ke tembok. Saat sudah hampir sampai ruangan belakang, kebetulan gw ketemu dengan bi Dede.
Bi Dede: "Mau kemana toh, den? Kakinya kan masih begitu, duduk aja dulu jangan jalan jalan."
Gw: "Eh bibi. Bi, saya mau tanya. Toilet dirumah ini ada disebelah mana ya, bi?"
Bi Dede: "Wooh nyari toilet toh. Itu den, ada disebelah kanan di deket tangga arah ke lantai 2.
Gw: "Makasi ya bi."
Bi Dede: "Iya sama sama. Wes hati hati jalannya den."
Gw: "Iya, bi."
Gw pun langsung bergegas menuju ke toilet. Sesampainya di toilet, tanpa pikir panjang lagi gw langsung membuka pintunya. Kemudian di dalamnya gw melihat Erlin tanpa apapun sedang mandi di shower yang ada di pojok ruangan.
Sempat gw memandanginya dari kejauhan selama beberapa saat, pemandangan ini pun sampai membuat si Joni terbangun kembali
Mengetahui kehadiran gw, sontak Erlin pun langsung menjerit.
Erlin: "Aaaaaaa..." -jerit Erlin sambil menutupi tubuhnya dengan tangan lalu mengambil sebuah handuk yang berada di hanger yang tidak jauh darinya.
Gw: "Eehhh...S...Sorry gw gak tau lo lagi mandi Lin.
" -ucap gw sambil memalingkan pandangan gw kebawah.
Batin gw: "Ini sih namanya rejeki, tapi kalo dipandangin dosa. Kaga dipandangin malah mubazir."
Erlin: "Keluaaaar.
" -ucap Erlin dengan nada tinggi sambil bergegas berjalan kearah pintu dengan cepat lalu mendorongnya dari dalam dengan lumayan kuat.
Gila, ini pertama kalinya gw melihat langsung cewek muda tanpa busana apapun dengan mata gw sendiri.
Dan untungnya, gak ada orang yang denger jeritan Erlin tadi karena menurut gw toilet ini jaraknya lumayan jauh dari ruang utama dan halaman depan. Mengetahui kalau Erlin lagi mandi, gw memutuskan untuk kembali ke ruang tengah dan kembali duduk di sofa.
Gw: "Itu rumah siapa Lin?" -tanya gw sambil menunjuk ke arah rumah megah tersebut.
Erlin: "Ini rumah papah aku lah. Yuk turun. Sini tangan kamu, aku bantu jalan lagi
"Pantas saja Erlin kalau teleponan dengan gw gak takut kehabisan pulsa, rumahnya aja sebesar dan semegah ini. Pastinya kalau cuma urusan pulsa gak masalah bagi Erlin.
Gw turun dari mobil dibantu oleh Erlin, lalu kami berdua berjalan ke arah pintu gerbang yang cukup besar dan lebar dengan cat berwarna silver. Setelah supir turun dan membukakan pintu gerbang, kami berdua masuk ke dalam dan menuju ke teras. Kami pun berhenti di depan teras, lalu Erlin masuk ke dalam sedangkan gw cuma duduk di luar menunggu Erlin. Sesaat kemudian Erlin keluar lagi dan berjalan ke arah gw.
Erlin: "Kamu ngapain diluar? Masuk aja Rez, dirumah cuma ada pak Indra supir aku yang tadi sama bi Dede lagi masak di dapur"
Gw: "Gak enak ah Lin. Takut nanti ada apa apaan."
Erlin: "Dirumah aku ngga ada setannya kok, ayo masuk aja." -bujuk Erlin sambil menarik narik tangan gw
Gw: "Bukan itu maksud gw.
Maksudnya gak enak kalau cuma berduaan doang di dalam rumah, apalagi sama lawan jenis. Bisa khilaf ntar gw."Erlin: "Khilaf kaya gimana maksudnya? Kan dirumah ada pak Indra sama bi Dede. Jadi kita gak cuma berdu doang disini. Masuk Rez pliisss kamu kan lagi begini." -balasnya sambil menunjukan raut wajah yang langsung membuat gw luluh.
Gw: "Hmm...Yaudah deh. Raut muka lo bikin gw jadi gak bisa nolak permintaan lo Lin.
"Erlin: "Yaudah yuk masuk." -ujarnya sambil membantu gw berdiri lalu dengan inisiatif melingkarkan tangan gw di pundaknya
Sedikit merasa gak enak sih, karena biasanya gw kalau bertamu kerumah orang itu selalu menunggu diluar. Walaupun disuruh masuk ke dalam juga gw tetap diluar karena takut kehadiran gw jadi merepotkan tuan rumah. Tapi kalau gak gw turutin apa yang Erlin mau, dia bisa ngambek.
Setelah berada di dalam rumahnya, gw pun makin terkagum kagum melihat isi dari perabotan yang ada di rumah ini. Setiap sudut ruangan tidak luput dari guci yang terlihat sangat mahal dan juga tanaman hias indoor. Dinding ruang tamunya dipenuhi dengan lukisan lukisan yang menurut gw mempunyai nilai jual yang tinggi serta beberapa lukisan abstrak dengan garis dan coretan gak jelas tetapi mempunyai warna kombinasi warna yang solid.
Gw pun dibawa ke ruang tengah oleh Erlin. Disana terdapat berbagai macam barang barang antik lainnya seperti pedang katana dan senapan sungguhan bertipe Mossin Nagant buatan Russia tergantung di dindingnya. Pandangan gw hanya tertuju pada senapan itu saja pada saat itu, karena gw juga seseorang yang suka dengan hal hal yang berbau perang dunia ke-2.
Erlin: "Kamu tunggu sini ya. Aku mau ke dapur dulu bikin minuman. Oh iya, kamu mau minum apa Rez?" - ucapnya sambil melepaskan tangan gw dari pundaknya
Gw: "Apa aja deh Lin, asal jangan kopi item ya. Gw gak suka kopi item soalnya." -jawab gw sambil merebahkan tubuh di atas sofa
Erlin: "Oke, tunggu sebentar. Jangan keliling keliling dulu ya, diem aja disitu. Nanti aku panggilin tukang urut buat ngurut kaki kamu, biar kamu gak kenapa kenapa."
Gw: "Gw paling gak suka diurut kan Lin.
"Erlin pun meninggalkan gw diruang tengah dan berjalan ke arah dapur yang terletak di belakang. Sementara sambil menunggu Erlin membuatkan minuman, gw meluruskan kaki kanan lalu menyenderkan kepala gw ke bantal yang terdapat di sofa tersebut. Dengan keadaan seperti ini, serta dinginnya ruang tengah karena AC yang ada membuat gw jadi mengantuk dan akhirnya gw pun ketiduran.
Beberapa jam kemudian gw langsung terbangun dari tidur gw, karena gw merasakan kaki gw seperti ada yang memijat.
Gw: "Bapak siapa?"
Tukang pijat: "Saya tukang pijit langganan papahnya neng Erlin den, barusan saya ditelepon sama neng Erlin. Katanya neng Erlin minta tolong buat mijitin den Reza. Soalnya, kata neng Erlin den Reza baru aja ngalamin kecelakaan beberapa jam yang lalu." -ucap bapak tersebut sambil memijit kaki kanan gw
Gw: "Terus sekarang Erlin nya mana pak?"
Tukang pijat: "Tadi katanya neng Erlin mau beres beres sebentar den."
Setelah beberapa menit kemudian, gw pun selesai dipijit. Dan bapak tukang pijit itu segera pulang kerumahnya. Menyadari bapak tersebut belum gw bayar, sontak gw memaksakan diri untuk berjalan dan menghampiri bapak itu yang sudah sampai ruang tamu.
Gw: "Pak tunggu."
Tukang pijit: "Kenapa lagi den?"
Gw: "Ini pak, biaya pijit saya tadi."
Tukang pijit: "Ndak usah, biaya pijit aden sudah dibayar sama neng Erlin tadi."
Gw: "Ohh yaudah deh pak. Makasi banyak ya pak.
"Tukang pijit: "Sama sama den."
Ternyata biaya pijit gw udah dibayarin oleh Erlin. Syukurlah. Katany juga Erlin kan lagi beres beres, tapi dari tadi gak keliatan juga orangnya.
Tiba tiba gw jadi mau buang air kecil. Entah toilet rumah ini ada disebelah mana. Lalu gw melangkahkan kaki gw ke bagian belakang rumah ini. Dengan sedikit pincang, langkah demi langkah pun gw pijakkan sambil sesekali bersandar ke tembok. Saat sudah hampir sampai ruangan belakang, kebetulan gw ketemu dengan bi Dede.
Bi Dede: "Mau kemana toh, den? Kakinya kan masih begitu, duduk aja dulu jangan jalan jalan."
Gw: "Eh bibi. Bi, saya mau tanya. Toilet dirumah ini ada disebelah mana ya, bi?"
Bi Dede: "Wooh nyari toilet toh. Itu den, ada disebelah kanan di deket tangga arah ke lantai 2.
Gw: "Makasi ya bi."
Bi Dede: "Iya sama sama. Wes hati hati jalannya den."
Gw: "Iya, bi."
Gw pun langsung bergegas menuju ke toilet. Sesampainya di toilet, tanpa pikir panjang lagi gw langsung membuka pintunya. Kemudian di dalamnya gw melihat Erlin tanpa apapun sedang mandi di shower yang ada di pojok ruangan.
Sempat gw memandanginya dari kejauhan selama beberapa saat, pemandangan ini pun sampai membuat si Joni terbangun kembali
Mengetahui kehadiran gw, sontak Erlin pun langsung menjerit.Erlin: "Aaaaaaa..." -jerit Erlin sambil menutupi tubuhnya dengan tangan lalu mengambil sebuah handuk yang berada di hanger yang tidak jauh darinya.
Gw: "Eehhh...S...Sorry gw gak tau lo lagi mandi Lin.
" -ucap gw sambil memalingkan pandangan gw kebawah.Batin gw: "Ini sih namanya rejeki, tapi kalo dipandangin dosa. Kaga dipandangin malah mubazir."
Erlin: "Keluaaaar.
" -ucap Erlin dengan nada tinggi sambil bergegas berjalan kearah pintu dengan cepat lalu mendorongnya dari dalam dengan lumayan kuat.Gila, ini pertama kalinya gw melihat langsung cewek muda tanpa busana apapun dengan mata gw sendiri.
Dan untungnya, gak ada orang yang denger jeritan Erlin tadi karena menurut gw toilet ini jaraknya lumayan jauh dari ruang utama dan halaman depan. Mengetahui kalau Erlin lagi mandi, gw memutuskan untuk kembali ke ruang tengah dan kembali duduk di sofa.Diubah oleh rzrdn62 15-04-2017 12:38
0
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/04/28/8656089_201704280710150445.jpg)

![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/6955937_20170502044501.png)
![[REAL STORY] Lika Liku Perjalanan Cinta](https://s.kaskus.id/images/2017/05/03/6955937_20170503100444.png)