Kaskus

Story

jorghymub61Avatar border
TS
jorghymub61
Kisah Kasih Anak Samarinda
Diubah oleh jorghymub61 17-05-2017 15:43
oldschoolheroesAvatar border
oldschoolheroes memberi reputasi
1
80K
562
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread2Anggota
Tampilkan semua post
jorghymub61Avatar border
TS
jorghymub61
#3
PART 2: WELCOME JAKARTA

“Kita liburannya di Jakarta kemana aja nanti ma? Terus tinggal dimana nanti kita?,” tanya gue ke nyokap.
“Udah tenang aja kamu,” jawab nyokap gue sambil lihatin handphone.

Karena taksi jalannya ngebut banget, gak terasa sudah mau sampai ke Bandara Sepinggan, Balikpapan. Kalau belum pernah naik taksi di sini, lebih baik ngomong dulu sama sopirnya supaya jangan ngebut-ngebut. Soalnya, sopir di sini gokil-gokil. Kecepatan 100 km/h di jalan tikungan bukan apa-apa bagi mereka.

Sesampainya di Bandara Sepinggan, gue berlagak kayak orang yang lagi pengen liburan. Jalan dengan tegak, pakai kacamata, membawa tas bagaikan turis. Pokoknya saat itu gue ngerasa jadi cowok paling keren sedunia.

Quote:


Ini kali pertama gue naik pesawat, sebelumnya belum pernah sama sekali. Gue lupa dulu pakai maskapai penerbangan apa.

Setelah cek in, gue pun langsung lari ke sebuah tempat yang sangat wangi kopi yaitu Toko Roti Boy. Sebuah roti khas yang biasa dijadikan oleh-oleh kalau bepergian dari bandara.

Quote:


“Mbak, roti boy nya berapaan?,” tanya gue.
“Lima ribuan mas 1, mau beli berapa mas,” jawab mbaknya.
“Dua aja deh mba,” kata gue sambil ngambil duit satu lembar dua puluh ribuan yang memang tinggal segitu duit gue.
“Ini mas rotinya, sekalian kembaliannya,” jawab mbaknya.
Setelah membeli roti itu, gue langsung nyamperin nyokap gue yang lagi nunggu di sebuah tempat duduk gak jauh dari toko roti tadi.
“Nih ma, satu-satu rotinya,” ujar gue menawarkan roti boy yang barusan gue beli.
“Nggak ah, kamu aja,” jawab nyokap gue yang lagi sibuk lihatin tiket pesawat. Maklum aja jaman dulu tiketnya gak secanggih sekarang. Masih serba manual dan agak ribet kalau urus-urusannya.

Oke, akhirnya gue pun masuk ke dalam pesawat. Gue merasa aneh karena perasaan tadi gak ada ngerasa apa-apa tapi kok pas di dalam pesawat jadi deg-degan gini.

Tapi gue masih bisa ketawa saat ngeliatin pramugarinya memperagakan tips-tips di dalam pesawat. Dalam benak gue, ini orang tiap hari begitu, gue nganggapnya dia joget-joget doank sambil menirukan perkataan orang dari dalam menggunakan speaker. Gue langsung ngebayangin badut yang suka ada di Pasar Citra Niaga Samarinda.

Pesawat pun berangkat, pertama kalinya ini gue merasa tegang kayak gini. Apalagi pas pesawatnya melaju di menit pertama dan kepalanya mulai mengangkat ke atas. Gue pegang erat-erat bangku sambil menutup mata dan kepala menunduk kebawah. Gak berapa lama, akhirnya pesawat mulai stabil dan gue mulai memberanikan diri untuk membuka mata. Gue liat ke nyokap gue yang malah asik makan kacang atom dari tas kecil yang dibawanya.

“Ma, gak ngeri kah?,” tanya gue ke nyokap.
“Ngeri kenapa?,” jawabnya santai.
“Ya tadi gitu, ndak kerasa kah? Pesawatnya goyang-goyang,” ungkap gue yang masih deg-degan tapi ditenang-tenangin.
“Orang biasa aja kok,” jawabnya.

Akhirnya gue pun diem karena kesal sendiri, haha. Niatnya curhat, pengen ditenangin atau gimana gitu, eh jawabannya datar-datar aja, haha.

Setelah kurang lebih 30 menit berada di dalam pesawat, gue memberanikan diri untuk membuka jendela pesawat yang daritadi tertutup. Waktu gue buka, wow, gue langsung terperanjat dari duduk dan bener-bener kagum dengan pemandangannya.

Samudera terhampar dengan begitu luasnya, terlihat kapal-kapal kecil mengarungi luasnya lautan itu. Gue ngebayangin kalau gue yang ada di kapal itu terus tenggelem, kacau banget pikiran gue. Terus gue juga liat rumah-rumah yang jadi kelihatan kecil, mirip di gambar-gambar peta.

Quote:

Ilustrasi penampakan pemandangan di atas pesawat.

Namun malapetaka akhirnya pun datang di satu jam berada di dalam pesawat karena telinga gue tiba-tiba terasa sakit. Rasanya seperti telinga kemasukan semut, terus digigit-gigitin sama semutnya.

“Ma, ini kuping ku sakit nah, kaya apa?,” tanya gue ke nyokap.
“Oh, nih kunyah permen karet, biar gak sakit, tadi lupa kasih,” jawab nyokap sambil kasih permen karet lot*e.
Gue pun dengan segera mengunyah permen itu namun kok rasa sakitnya tidak hilang dan bahkan makin parah saja.
“Ma, sakit banget ini nah,” tanya ku sambil menggerutu.
“Tahan aja dulu, bentar lagi sampai. Gigit-gigit aja giginya,” jawab nyokap gue sambil memperagakan menggigit giginya.
Akhirnya gue tahan rasa sakit itu sampai terdengar suara yang paling gue nantikan dari dalam pesawat yaitu informasi pendaratan.
“Kepada seluruh penumpang harap memasangkan safety belt atau ikat pinggangnya karena kita akan segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta,” begitulah kira-kira pernyataan yang gue dengar dari speaker. Gue pun diem aja karena sejak awal gue udah masang dan gak pernah gue lepas.

Pesawat pun mendarat dan sukses membuat gue kembali tegang karena sensasinya saat menukik turun ke landasan bandara.
Setelah berhasil mendarat, gue masih merasa sakit pada telinga namun tidak sesakit sebelumnya. Gue merasa seperti setengah tuli karena pengingnya. Perkataan orang pun seakan mendengung di telinga.

“Ma, ini kuping ku gimana nah?,” tanya gue ke nyokap.
“Ndak papa sudah, nanti juga sembuh itu,” jawab nyokap gue menenangkan.

Gue pun akhirnya turun berdua bareng nyokap dan berencana untuk langsung mencari bus Damri. Sebelum sampai ke depan bandara, gue bareng nyokap antri untuk mengambil bagasi. Gue pun merasa kebingungan karena memang baru pertama kalinya ke sini.

Gue melihat sekitar, banyak sekali bule-bule lalu lalang dengan jalan yang sangat cepat sekali. Oh ternyata begini toh Bandara Soekarno-Hatta yang biasanya cuma gue lihat dari Tv aja.

Gak berapa lama, nyokap gue manggil gue minta bantuan untuk mengangkat tas yang memang cukup berat. Setelah itu, gue pun langsung menuju bagian depan bandara untuk bisa menunggu bus Damri. Jangan berharap untuk gue mengeksplorasi soal kesan gue di Bandara Soekarno-Hatta karena gue orangnya cukup cuek dan gak terlalu ingin tau. Jadi, walau ini pertama kalinya gue ke Bandara Soetta, tapi gue ya kayak udah sering ke sini aja. Paling ya berkesan kayak tadi aja, melihat sekeliling sebentar, udah tau, ya udah, cukup tau aja. Bahkan, sampai sekarang ya gue masih sama, kalau ditanya soal Bandara Soetta, gue gak terlalu banyak tau, padahal kalau sekarang gue dah berulang kali mondar-mandir ke sana.

Oke, kita balik lagi ke cerita ya. Setelah gue dan nyokap nunggu sekitar 20 menit, akhirnya bus yang kita tunggu datang. Bus Damri itu bertuliskan Soetta - Kp. Rambutan. Gue yang masih merasakan penging pada telinga pun gak mau terlalu banyak tanya-jawab sama nyokap gue. Di dalam bis pun gue lebih sering tidur karena balas dendam gak bisa tidur di dalam pesawat tadi.

“Taman Mini, taman mini,” teriak kenek bis.
“Tam, bangun, udah sampe,” kata nyokap gue.
“Hmm..,” jawab gue lemas sambil berdiri dan mengangkat barang bawaan. Gue sempat berpikir, tadi jurusannya ke Kp. Rambutan, tapi kok turun di Taman Mini?

Setelah turun dari bis itu, ternyata kita sudah ditunggu oleh seorang pria dengan menggunakan motor Hond* Kh*risma. Gue pun masih gak mengenali pria itu karena mengenakan helm. Nyokap gue menghampirinya dan “Cium Tangan”. Gue pun makin bingung, siapa orang ini kok sampai nyokap gue cium tangannya? Saudara kah?

“Ui Tam, masih ingat kah?,” tanya pria itu sambil membuka helmnya.
“Hah?,” jawab gue bingung. Tapi pas Dia buka helmnya, gue baru inget ternyata orang ini adalah pria yang pernah diajak nyokap gue jenguk gue waktu masih di Pondok Pesantren. Waktu itu setara dengan kelas 2 SMA.
“Om Bambang, yang waktu itu di pondok sama mama mu,” ujarnya lagi mengingatkan sambil senyum dan menyodorkan tangannya.
“Oh iya, inget,” jawab gue sambil menjabat tangannya.
“Ya udah ayo naik, biar cepet sampe rumah, kasian capek,” ajaknya sambil menaikkan barang bawaan ke atas motor.

Kondisi saat itu bisa dibilang begitu dah, satu motor bonceng tiga dengan barang bawaan beberapa tas. Bisa dibayangkan lah ya. Gue duduk di tengah, nyokap di belakang, gue di tengah sambil pegang tas kanan dan kiri yang ditumpukan ke paha.

Gue masih inget betul malam itu, gue melewati sebuah masjid yang ternyata sekarang gue tau namanya Masjid At-Tin. Jalan terus lewat Bambu Apus, Lubang Buaya, Sumir dan akhirnya masuk ke daerah Jati Rahayu. Kita masuk ke dalam komplek yang bernama Patria Jaya, tapi bukan di dalam kompleknya karena kita cuma numpang lewat jalannya aja.

Quote:


Kita akhirnya sampai di sebuah kontrakan kecil berderet yang di dalamnya ada satu ruang tamu sekaligus tempat motor, satu kamar tanpa pintu yang dipakai tidur barengan, satu dapur dan satu kamar mandi.

Gue pun masuk kontrakan itu dan menaruh semua barang bawaan ke dalam lalu rebahan di atas pagar kecil depan kontrakan untuk menghilangkan lelah sambil memikirkan siapa Om Bbg ini.

“Ta, masuk sini, makan dulu,” ajak Om Bbg.
“Oh ya, bentar,” jawab gue yang langsung berkumpul dengan nyokap gue dan Om Bbg.
“ Gimana tadi perjalanannya? Capek ya?,” tanya Om Bambang coba mengakrabkan diri lagi karena waktu di Pondok Pesantren kala itu gue banyak ngobrolnya sama nyokap doang.
“Lumayan”, jawab gue singkat sambil mengunyah nasi goreng yang sudah disiapkan.

Setelah makan, kita pun nonton tv bareng di kamar. Namun, tiba-tiba saja ada yang mengetok pintu. Waktu menunjukkan jam setengah 12 malam, gue pun bingung, siapa yang mengetok.

“Mikum.. Tok tok tok..,” nyokap gue pun langsung berdiri dan membukakan pintu.
“Malem betul pulangnya, itu Kakakmu dah datang,” kata nyokap gue.
“Lah kamu di sini kah Gt?,” tanya gue bingung. Ternyata adek gue (cowok), Gt, sudah tinggal di sini sejak beberapa bulan lalu.
“Iya, dah lama gue di sini,” jawab Gt.

Jangan tanyakan kenapa gue bisa gak tau keberadaan adek gue karena ya memang kondisi keluarga gue begini semenjak ada masalah rumah tangga nyokap dan bokap gue. Satu sama lainnya gak ada kontak dan hubungan-hubungan lagi, aneh ya? Ya memang aneh, tapi ini nyata.

“Oh, gitu, terus gimana sekolah mu?,” jawab gue yang masih aneh dengan bahasa adek gue karena sudah berubah jadi pake “lu lu gue gue”.

Kalau di Samarinda, penggunaan bahasanya masih pakai Aku dan Kamu, bahkan sampai sekarang pun masih begitu walau sudah ada beberapa yang pakai bahasa “lu lu gue gue”, namun mayoritas masih Aku dan Kamu.

“Ya masih, gue di Al-Ikhsan”, jawabnya.
“Oh, sip sip,” kata gue merasa lega karena adek gue masih sekolah yang ternyata sebuah SMP di daerah Pondok Gede, Bekasi.

Quote:

SMP Al Ihsan, Pondok Gede, Bekasi

Gak lama setelah itu, kita semua pun tidur karena memang waktu sudah larut malam. Gue masih gak sempat mendapatkan informasi mengenai siapa sebenarnya Om Bbg ini.

Keesokan harinya, gue bangun, semua orang sudah gak ada semua. Gue sendirian di kontrakan itu dan akhirnya malah bengong di depan teras.

Sekitar 30 menit gue duduk di situ, akhirnya nyokap gue datang sambil membawa bungkusan yang ternyata nasi uduk. Gue pun disuruh segera makan.

“Ini apa ma? Kok nasinya aneh gini?” tanya gue sama nyokap.
“Nasi uduk itu, kalau di samarinda kayak nasi kuning,” jawabnya.
“Di sini ndak ada nasi kuning kah?,” tanya gue lagi.
“Ada aja, tapi jarang, ndak enak lagi,” jawab nyokap.
“Owalah,” ujar gue sambil ngunyah.

Quote:

Ilustrasi Nasi Kuning di Samarinda, rasanya maknyos banget, apalagi ikan harwan nya, beh, legit.

Karena suasananya tepat, gue pun akhirnya tanya ke nyokap gue soal siapa Om Bbg itu sebenarnya, kok tinggal satu rumah. Apakah dugaan gue bener soal Om Bbg itu adalah suami baru nyokap gue atau bukan.

“Ma, nanya dong,” tanya gue agak takut.
“Napa?,” jawabnya.
“Itu Om Bbg siapa sih?,” tanya gue.
“Bukan siapa-siapa,” jawabnya sambil kabur ngambil minum ke dapur.
“Yeee.. Orang ditanya beneran kok ya, suami baru mama kah?,” tanya ku blak-blakan aja.

Ditanya begitu, nyokap gue cuma diam aja di dapur, gak tau ngapain. Gue pun gak mau maksa karena takut malah nanti nyokap marah.
Gak terasa, waktu pun mulai siang, adek gue pulang sekolah. Gue pun langsung cari suasana yang pas untuk tanya ke dia.

“Gt, sebenarnya Om Bbg itu siapa sih?, tanya gue.
“Suaminya mama lah, ada-ada aja lu nih. Mau digerebek Pak RT kalau belum nikah tinggal satu rumah?,” jawabnya ngeledek dengan muka nyinyir.
“Mana ku tau, orang mama ndak pernah bilang,” jawab gue bela diri. “Kapan nikahnya?” tanya gue lagi.
“Dah lama, gak tau juga kapan, tau-tau gue diajak ke sini juga udah ada dia. Katanya ya gitu,” jawabnya sambil ngambil sandal dan pergi main.
“Eh, mau kemana kamu, ikut dong!,” tanya gue.
“Main bentar, gak usah ikut,” jawabnya sambil lari.

Gue masih ingat betul percakapan ini karena kampret bener adek gue, dia gak mau ajak gue ikut karena logat dan bahasa gue serta sikap gue yang masih kayak orang kampung. Dia malu katanya.

Malam harinya, Gt belum juga pulang dari main yang katanya cuma sebentar, kampret bener memang. Bahkan sampai Om Bbg pulang dari kerjanya.

“Tam, sini dulu,” panggil nyokap gue.
“Kenapa ma,” jawab gue sambil duduk di depannya.
“Duduk aja dulu sini,” jawabnya.
Gak lama kemudian, Om Bbg yang barusan aja pulang dari kantornya ikut-ikutan duduk setelah naroh helm sama jaketnya.
“Oke, jadi gini Tam, om mau bilang sesuatu ke kamu soal hubungan mama mu sama om,” ujarnya menjelaskan.
Gue diem aja mendengarkan yang padahal gue dah tau dari Gt soal status dari Om Bbg ini.
“Mama sama om sudah menikah, jadi sekarang, om ini udah jadi bapak baru mu. Terserah kamu kalau masih kagok, panggil om aja gak papa. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa panggil om Papa. Gt sudah panggil om Papa,” jelasnya panjang lebar.
“Oh, ya udah,” jawab gue singkat.

Obrolan pun berakhir walau jawaban gue kurang nyambung karena masih bingung masih mau panggil Om atau Papa.
Dari sini gue mulai berpikir, apa maksud dari nyokap gue ajak gue ke sini. Katanya mau liburan, tapi sudah beberapa hari di sini, gue gak diajak kemana-mana. Apa sebenarnya rencana nyokap gue?

Harapan dan imajinasi gue soal liburan di Jakarta seketika buyar. Bayangan yang gue rasakan tentang “Welcome Jakarta”saat berada di Bandara Soetta berakhir sudah. Apalagi gue bukan tinggal di Jakarta, tapi di Bekasi.

***

Part 3: Galau oh Galau
Diubah oleh jorghymub61 23-04-2017 13:16
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.