- Beranda
- Stories from the Heart
Kisah Kasih Anak Samarinda
...
TS
jorghymub61
Kisah Kasih Anak Samarinda
Quote:
Quote:
MY STORY
- PART 1: KELUARGA GUE BROKEN HOME
- PART 2: WELCOME JAKARTA
- PART 3: GALAU OH GALAU
- PART 4: ICHA HAMIL
- PART 5: GUE DIPANGGIL KIPLI
- PART 6: KIPLI MULAI NAKAL
- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 1)
- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 2)
- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 1)
- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 2)
- PART 8: KIPLI KERJA HALAL
- PART 9: KIPLI NIATNYA MOVE ON, TAPI...
- PART 10: GOODBYE MRA!
- DAILY: NGUKUR BAJU ANAK DI BPK PENABUR
- PART 11: PEDEKATE KE CK (BAG 1)
- PART 12: PEDEKATE KE CK (BAG 2)
- PART 14: TAMA GALAU
- PART 15: BABY AND SWEETY JADI ABSURD
- PART 16: KIPLI NGAMEN LAGI
Quote:
Diubah oleh jorghymub61 17-05-2017 15:43
oldschoolheroes memberi reputasi
1
80.3K
562
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jorghymub61
#2
PART 1: KELUARGA GUE BROKEN HOME
Halo, kenalin dulu mungkin ya, nama gue Tama. Sekarang, gue berusia 26 tahun dan berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Gue anak pertama dari 4 bersaudara, tapi saudara gue bertambah dengan seiring berjalannya waktu. Jelasnya, simak kisahnya aja ya!
Beberapa menit sebelum menulis cerita ini, gue kebingungan untuk mulai dari mana untuk mengawalinya. Akhirnya, gue memutuskan untuk memulainya dengan hari itu.
***
“Teettt…,” bunyi bel pertanda sekolah telah usai.
Gue pun langsung bergegas untuk pulang namun jalan gue terhenti karena melihat temen-temen gue berkumpul di depan mading sekolah. Ternyata nilai hasil try out sudah keluar.
“Yes… Yuhu..,” begitulah gerutu gue saat melihat nilai gue yang ternyata di atas 8 semua dari 3 mata pelajaran, Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Gue pun bergegas jalan kaki ke depan gang menuju jalan besar untuk pulang naik angkot. Gue sekolah di SMA Muhammadiyah II Samarinda. Jarak gang dari sekolah ke jalan besar kurang lebih sekitar 700 meter.
Begitu sampai ke jalan besar, gue harus menyeberang dua jalan besar dan berada tepat di depan sebuah masjid yang gue lupa namanya. Biasanya sebelum naik angkot, gue nongkrong dulu bareng temen-temen, “sambil ngerokok”.
Di dalam hisapan rokok tersebut, gue mengingat kembali masa lalu yang sebenarnya sedih untuk diceritakan. Saat dimana keutuhan keluarga gue hancur, begitu juga dengan kehidupan gue, terutama sekolah gue.
***
Saat itu gue masih duduk di bangku SMP, gue bersekolah di SMP N 1 Samarinda. Sekolah itu bisa dibilang sebagai sekolah favorit kedua setelah SMP Plus Samarinda. Dari sini bisa diartikan bahwa gue bukan anak yang bego-bego banget ya.
Pada akhirnya orangtua gue memutuskan untuk bercerai, menurut sepengetahuan gue, nyokap gue yang minta cerai karena sifat bokap gue yang memang tempramental. Namun, karena bokap gue bersikukuh gak mau bercerai, akhirnya proses perceraian ini pun berlarut-larut hingga membutuhkan waktu yang lama.
Oh ya, bokap gue juga sudah terserang penyakit stroke sejak tahun 2004 kalau gak salah inget gue. Entah nanti bakal gue ceritakan lebih lengkap atau nggak kisah nyokap dan bokap ini karena selain agak sensitif, privasi dan banyak juga yang sudah berhasil gue lupakan. Intinya, gue anak “Broken Home”.
Setelah lulus sekolah, gue pun melanjutkan sekolah di SMK TI Airlangga. Kehidupan gue sudah mulai gak jelas di sini. Gue persingkat saja ya, di jenjang ini gue pindah sekolah beberapa kali. Kalau gue urutin yaitu SMK TI Airlangga Samarinda trus pindah ke SMK TI Airlangga Balikpapan, terus pindah lagi ke SMK TI Airlangga Samarinda, terus pindah ke Pondok Pesantren Nabil Husein Loa Bakung Samarinda, dan terakhir di SMA N MUhammadiyah 2 Samarinda, itu pun pada akhirnya gak lulus. Gue juga jadi membayangkan bagaimana rasanya pindah ke sekolah yang sama sebanyak dua kali. Kebayang gak rasanya? Sudah pindah, terus balik lagi, haha, jadi anak baru tapi lama.
***
Akhirnya rokok pun habis dan gue memutuskan untuk pulang. Gue rogoh kantong, masih ada uang Rp 2.000. Kalau gak salah ingat, dulu angkot dari sekolah ke rumah gue sekitar Rp 1.800, kembali 200.
“Bro, aku duluan ya, gerah nih,” pamit gue ke teman-teman gue yang kalau nongkrong bisa sampe malem di situ.
“Yaelah, cepatnya pang ikam bulik, handak ngapain gerang?”, kurang lebih begitulah logat orang samarinda yang artinya “Yaelah, cepat sekali kamu pulang, mau ngapain sih?”.
“Ndak papa, mau bulik aja, dah ya, besok lagi,” jawab gue sambil menyetopkan angkot yang kalau gak salah ingat warnanya hijau.
Akhirnya gue pun pulang melewati jembatan Mahakam dan menuju ke Komplek Perumahan Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda di Samarinda Seberang. Ini rumah dinas bokap gue karena bokap gue dosen di kampus itu. Ya, sekarang gue tinggal bareng bokap sedangkan nyokap tinggal di Makroman yaitu sebuah desa yang berada masih di kawasan Samarinda tapi kalau mau ke sana harus melewati banyak sekali gunung. Eh tapi jangan salah karena jalanannya mulus dan lebar serta sudah diaspal.
Turun di angkot, perjuangan gue belum selesai karena gue harus jalan kaki lagi masuk ke dalam komplek. Jaraknya, sekitar 2 kilometer lebih. Bukan karena jauhnya yang bikin gue capek, tapi karena harus melewati dua jalanan aspal mendaki. Yang pertama tidak begitu tinggi, hanya sekitar 150 meter saja. Namun yang kedua ini, mencapai 400 meter, jadi kebayang ya gimana tingginya. Setelah itu, gue harus menuruni jalan aspal menurun juga sekitar 200 meter. Baru deh sampai ke rumah.
Begitu sampai di rumah, gue pun langsung lepas sepatu ganti pakaian namun belum selesai copot celana, nyokap gue telepon.
“Assalamu’alaikum”, sapanya.
“Wa’alaikum salam, kenapa ma?”, jawab gue.
“Kamu besok siap-siap, kita besok ke Jakarta, pokoknya siapin aja yang mau dibawa, kita liburan,” ucapnya santai.
“Lah, lah, lah. Kok buru-buru gini, gak ada ngabar-ngabarin dulu?,” jawab gue lagi kaget. Memang sih gue sudah mulai libur karena habis Try Out, hari ini terakhir sekolah untuk pembagian nilai.
“Udah, besok siapin aja, pagi jam 6 mama jemput!,” kata nyokap gue yang mulai nyolot.
“Ya udah, iya,” jawab gue.
Setelah selesai telpon, gue langsung mikir dulu sebentar, terus gak lama kemudian, gue siap-siapin barang-barang yang mau gue bawa.
Saat siap-siap itu, gue mikir, bilang ke bokap gue atau gak ya soal liburan ini? Apa bokap gue udah dikasih tau ya sama nyokap?
Akhirnya pun gue bilang ke bokap gue dan Dia kaget karena gak dikasih tau sama nyokap gue. Terus bokap gue telepon nyokap gue deh, gue gak tau mereka ngomongin apa, kayaknya ya beranteman lagi. Padahal udah cerai, masih aja berantem.
***
“Tam, bangun. Udah jam berapa ini? Tam…,” nyokap bangunin gue.
“Loh mama kok di sini?,” tanya gue bingung.
“Gimana sih kamu ini, kan kemaren mama udah telepon, kita mau ke Jakarta sekarang,” jawab nyokap gue yang mulai nyolot lagi.
Gue pun langsung duduk sambil nyambung nyawa karena masih terasa banget ngantuknya.
“Buruan mandi, siap-siap,” suruh nyokap gue.
“Iya,” jawab gue lemes.
Begitu gue keluar kamar, gue lihat di ruang depan ada bokap gue lagi ngopi sambil nonton tv kecil berukuran 14 inch. Dia gak sendirian, ada seorang wanita paruh baya bermata belo duduk di sampingnya. Wanita itu adalah nyokap tiri gue.
Hubungan antara bokap dan nyokap gue gak begitu baik, jadi jangan tanyakan soal hubungan nyokap tiri gue sama nyokap gue deh. Bahkan, sampai sekarang gue nulis cerita ini pun mereka kalau ketemu kayak kucing dan tikus, nyokap gue entah kenapa benci banget sama nyokap tiri gue. Bahasa yang dipakai nyokap gue untuk nyebut nyokap tiri gue juga serem banget. Kadang bilang wanita iblis, racun, dan sejenisnya.
Sepertinya belum lengkap rasanya kalau gue belum bercerita tentang nyokap tiri gue ini ya. Daripada nanti bingung, mending gue ceritain sekarang.
***
Nyokap tiri gue sebelum dinikahi sama bokap gue adalah seorang janda beranak dua yang tinggal di Balikpapan. Sebenarnya nyokap tiri gue ini sudah kenal sejak lama dengan bokap dan nyokap gue. Dulu, saat bokap gue masih kerja di PT Barito Pasific, suami dari nyokap tiri gue ini diajak sama bokap gue ke hutan. Masalah pekerjaan, gue gak tahu persis gimana kerjaannya tapi ya namanya kerja di perusahaan kayu tentu wajar kalau suka keluar masuk hutan.
Lalu, terjadi sebuah kecelakaan di hutan tersebut yang mengakibatkan suami dari nyokap tiri gue ini meninggal dunia dan akhirnya menjadi janda dengan dua anak.
Eh, daripada ribet gue nyebut nyokap tiri terus, gue selama ini manggil Dia dengan sebutan “Bunda”, jadi mulai sekarang gue sebutnya bunda aja ya.
Oke lanjut, setelah bokap gue resmi bercerai dengan nyokap gue. Bokap gue berpikir bagaimana menjalani hidup jika tidak memiliki istri, sedangkan kondisinya bokap gue stroke. Oleh karena itulah, terjadi rembukan di keluarga besar bokap gue yang rata-rata tinggal di Balikpapan.
Gak tau bagaimana pastinya, keluarlah nama bunda gue ini untuk bisa menggantikan sosok nyokap gue untuk jadi istri bokap gue.
Gue masih ingat betul bagaimana bokap gue menikah sama bunda di KUA yang hanya dihadiri oleh gue dan beberapa rekan sesame dosen di Politeknik. Sedangkan adik-adik gue yang berjumlah 3 orang tidak ikut.
“Ya Bapak, tolong ulangi perkataan Saya ya,” ujar penghulunya.
“Iya pak, duh, Saya gugup ini,” jawab bokap gue sambil senyum-senyum malu.
“Loh kenapa malu, kan sudah pernah,” tanya pengulu meledek.
“Justru karena sudah pernah pak, sekarang jadi malu, apalagi di depan teman-teman begini,” ungkap bokap gue mengutarakan alasannya.
“Ya sudah, fokus saja, ulangi perkataan Saya,” ungkap penghulu.
“Baik pak,” jawab bokap gue singkat sambil mengerutkan wajahnya karena serius.
“Saya nikahkan.. blablablabla,” ujar penghulu. Gue pake “blablabla” karena gak begitu ingat kata pastinya, intinya ya yang biasa dipakai untuk nikahan gitu lah ya.
“Saya terima nikah dan kimpoinya, anu,” jawaban bokap gue salah karena grogi. Terpaksa diulangi lagi.
“Ayo ulangi lagi, ini kedua kalinya, kalau tiga kali salah, berarti besok lagi ya,” ucap penghulunya mengancam.
“Sah.. Sah… Sah…?,” tanya penghulu setelah bokap gue lancar menjawab.
“SAH,” teriak temen-temen bokap sekaligus gue sambil mengucapkan hamdalah.
Bokap gue akhirnya lega karena gak harus kembali lagi besok karena tiga kali salah waktu ngucapin ijab kabulnya. Setelah itu, kita pun hanya sekedar minum air putih dan kue ala kadarnya. Ya, acara pernikahannya sangatlah sederhana. Semenjak saat itu, gue tinggal bareng bokap dan bunda gue di rumah dinas Politeknik.
Oke sepertinya sudah cukup dulu untuk pembahasan mengenai kehidupan bokap dan bunda gue. Sekarang kita balik lagi ke rencana gue dan nyokap mau pergi ke Jakarta ya!
***
Begitu gue selesai mandi dan mengenakan pakaian layaknya orang desa yang alay, gue pakai minyak rambut g*tsby yang warna biru muda. Gue pake celana levis gombrong borju yang merupakan hadiah ulang tahun dari seseorang waktu gue di Pondok Pesantren. Atasan gue pakai kaos lengan panjang dengan tulisan angka 86 kalau tidak salah di tengahnya. Belum sampai di situ, gue juga mengenakan Jaket berwarna merah terang serta kacamata 10 ribuan yang gue beli sudah 1 tahun lebih.
Selesai berdandan, gue pun keluar dari kamar dan gue lihat nyokap gue udah di dalam taksi warna biru. Gue pun pamitan sama bokap dan bunda gue. Bokap gue pun nangis karena mau gue tinggal liburan. Walaupun bokap gue pemarah, tapi dia orangnya sensitif dan suka nangis kalau soal hal beginian.
Gak lama setelah itu, gue pun langsung naik taksi dan berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Ibu Kota DKI Jakarta.
Di sinilah hidup gue bener-bener berubah drastis!
Selanjutnya, gue bakal ceritain semua satu per-satu soal bagaimana kehidupan gue dulu. Dari mulai tinggal di pondok pesantren, hubungan percintaan, gue juga sempet jadi pengamen jalanan, gimana hidup sama bokap tiri dan kisah lainnya yang sebenarnya cukup absurd untuk diceritakan.
****** END OF PART 1 *******
Oh ya, Part 2 bakal gue kasih judul “Welcome Jakarta”. Di sini gue bakal bercerita tentang bagaimana kehidupan gue setelah menginjak Ibu Kota DKI Jakarta.
Gue sertakan lagu ini yang gue buat sekitar tahun 2006 saat gue baru tiba di Jakarta. Tepatnya kurang lebih sekitar 1-2 minggu setelah gue tau apa yang terjadi. Untuk penjelasannya, nanti gue bakal jelasin di part ke 2.
Lagu ini berhubungan dengan hubungan percintaan gue yang gak sempat gue ceritain di Part 1 karena gue mau fokus kepada kehidupan keluarga gue dulu.
Halo, kenalin dulu mungkin ya, nama gue Tama. Sekarang, gue berusia 26 tahun dan berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Gue anak pertama dari 4 bersaudara, tapi saudara gue bertambah dengan seiring berjalannya waktu. Jelasnya, simak kisahnya aja ya!
Beberapa menit sebelum menulis cerita ini, gue kebingungan untuk mulai dari mana untuk mengawalinya. Akhirnya, gue memutuskan untuk memulainya dengan hari itu.
***
“Teettt…,” bunyi bel pertanda sekolah telah usai.
Gue pun langsung bergegas untuk pulang namun jalan gue terhenti karena melihat temen-temen gue berkumpul di depan mading sekolah. Ternyata nilai hasil try out sudah keluar.
“Yes… Yuhu..,” begitulah gerutu gue saat melihat nilai gue yang ternyata di atas 8 semua dari 3 mata pelajaran, Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.
Gue pun bergegas jalan kaki ke depan gang menuju jalan besar untuk pulang naik angkot. Gue sekolah di SMA Muhammadiyah II Samarinda. Jarak gang dari sekolah ke jalan besar kurang lebih sekitar 700 meter.
Quote:
Begitu sampai ke jalan besar, gue harus menyeberang dua jalan besar dan berada tepat di depan sebuah masjid yang gue lupa namanya. Biasanya sebelum naik angkot, gue nongkrong dulu bareng temen-temen, “sambil ngerokok”.
Di dalam hisapan rokok tersebut, gue mengingat kembali masa lalu yang sebenarnya sedih untuk diceritakan. Saat dimana keutuhan keluarga gue hancur, begitu juga dengan kehidupan gue, terutama sekolah gue.
***
Saat itu gue masih duduk di bangku SMP, gue bersekolah di SMP N 1 Samarinda. Sekolah itu bisa dibilang sebagai sekolah favorit kedua setelah SMP Plus Samarinda. Dari sini bisa diartikan bahwa gue bukan anak yang bego-bego banget ya.
Quote:
Pada akhirnya orangtua gue memutuskan untuk bercerai, menurut sepengetahuan gue, nyokap gue yang minta cerai karena sifat bokap gue yang memang tempramental. Namun, karena bokap gue bersikukuh gak mau bercerai, akhirnya proses perceraian ini pun berlarut-larut hingga membutuhkan waktu yang lama.
Oh ya, bokap gue juga sudah terserang penyakit stroke sejak tahun 2004 kalau gak salah inget gue. Entah nanti bakal gue ceritakan lebih lengkap atau nggak kisah nyokap dan bokap ini karena selain agak sensitif, privasi dan banyak juga yang sudah berhasil gue lupakan. Intinya, gue anak “Broken Home”.
Setelah lulus sekolah, gue pun melanjutkan sekolah di SMK TI Airlangga. Kehidupan gue sudah mulai gak jelas di sini. Gue persingkat saja ya, di jenjang ini gue pindah sekolah beberapa kali. Kalau gue urutin yaitu SMK TI Airlangga Samarinda trus pindah ke SMK TI Airlangga Balikpapan, terus pindah lagi ke SMK TI Airlangga Samarinda, terus pindah ke Pondok Pesantren Nabil Husein Loa Bakung Samarinda, dan terakhir di SMA N MUhammadiyah 2 Samarinda, itu pun pada akhirnya gak lulus. Gue juga jadi membayangkan bagaimana rasanya pindah ke sekolah yang sama sebanyak dua kali. Kebayang gak rasanya? Sudah pindah, terus balik lagi, haha, jadi anak baru tapi lama.
Spoiler for SMK TI Airlangga Samarinda:
Spoiler for Ponpes Nabil Husein:
***
Akhirnya rokok pun habis dan gue memutuskan untuk pulang. Gue rogoh kantong, masih ada uang Rp 2.000. Kalau gak salah ingat, dulu angkot dari sekolah ke rumah gue sekitar Rp 1.800, kembali 200.
“Bro, aku duluan ya, gerah nih,” pamit gue ke teman-teman gue yang kalau nongkrong bisa sampe malem di situ.
“Yaelah, cepatnya pang ikam bulik, handak ngapain gerang?”, kurang lebih begitulah logat orang samarinda yang artinya “Yaelah, cepat sekali kamu pulang, mau ngapain sih?”.
“Ndak papa, mau bulik aja, dah ya, besok lagi,” jawab gue sambil menyetopkan angkot yang kalau gak salah ingat warnanya hijau.
Akhirnya gue pun pulang melewati jembatan Mahakam dan menuju ke Komplek Perumahan Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda di Samarinda Seberang. Ini rumah dinas bokap gue karena bokap gue dosen di kampus itu. Ya, sekarang gue tinggal bareng bokap sedangkan nyokap tinggal di Makroman yaitu sebuah desa yang berada masih di kawasan Samarinda tapi kalau mau ke sana harus melewati banyak sekali gunung. Eh tapi jangan salah karena jalanannya mulus dan lebar serta sudah diaspal.
Quote:
Turun di angkot, perjuangan gue belum selesai karena gue harus jalan kaki lagi masuk ke dalam komplek. Jaraknya, sekitar 2 kilometer lebih. Bukan karena jauhnya yang bikin gue capek, tapi karena harus melewati dua jalanan aspal mendaki. Yang pertama tidak begitu tinggi, hanya sekitar 150 meter saja. Namun yang kedua ini, mencapai 400 meter, jadi kebayang ya gimana tingginya. Setelah itu, gue harus menuruni jalan aspal menurun juga sekitar 200 meter. Baru deh sampai ke rumah.
Quote:
Begitu sampai di rumah, gue pun langsung lepas sepatu ganti pakaian namun belum selesai copot celana, nyokap gue telepon.
“Assalamu’alaikum”, sapanya.
“Wa’alaikum salam, kenapa ma?”, jawab gue.
“Kamu besok siap-siap, kita besok ke Jakarta, pokoknya siapin aja yang mau dibawa, kita liburan,” ucapnya santai.
“Lah, lah, lah. Kok buru-buru gini, gak ada ngabar-ngabarin dulu?,” jawab gue lagi kaget. Memang sih gue sudah mulai libur karena habis Try Out, hari ini terakhir sekolah untuk pembagian nilai.
“Udah, besok siapin aja, pagi jam 6 mama jemput!,” kata nyokap gue yang mulai nyolot.
“Ya udah, iya,” jawab gue.
Setelah selesai telpon, gue langsung mikir dulu sebentar, terus gak lama kemudian, gue siap-siapin barang-barang yang mau gue bawa.
Saat siap-siap itu, gue mikir, bilang ke bokap gue atau gak ya soal liburan ini? Apa bokap gue udah dikasih tau ya sama nyokap?
Akhirnya pun gue bilang ke bokap gue dan Dia kaget karena gak dikasih tau sama nyokap gue. Terus bokap gue telepon nyokap gue deh, gue gak tau mereka ngomongin apa, kayaknya ya beranteman lagi. Padahal udah cerai, masih aja berantem.
***
“Tam, bangun. Udah jam berapa ini? Tam…,” nyokap bangunin gue.
“Loh mama kok di sini?,” tanya gue bingung.
“Gimana sih kamu ini, kan kemaren mama udah telepon, kita mau ke Jakarta sekarang,” jawab nyokap gue yang mulai nyolot lagi.
Gue pun langsung duduk sambil nyambung nyawa karena masih terasa banget ngantuknya.
“Buruan mandi, siap-siap,” suruh nyokap gue.
“Iya,” jawab gue lemes.
Begitu gue keluar kamar, gue lihat di ruang depan ada bokap gue lagi ngopi sambil nonton tv kecil berukuran 14 inch. Dia gak sendirian, ada seorang wanita paruh baya bermata belo duduk di sampingnya. Wanita itu adalah nyokap tiri gue.
Hubungan antara bokap dan nyokap gue gak begitu baik, jadi jangan tanyakan soal hubungan nyokap tiri gue sama nyokap gue deh. Bahkan, sampai sekarang gue nulis cerita ini pun mereka kalau ketemu kayak kucing dan tikus, nyokap gue entah kenapa benci banget sama nyokap tiri gue. Bahasa yang dipakai nyokap gue untuk nyebut nyokap tiri gue juga serem banget. Kadang bilang wanita iblis, racun, dan sejenisnya.
Sepertinya belum lengkap rasanya kalau gue belum bercerita tentang nyokap tiri gue ini ya. Daripada nanti bingung, mending gue ceritain sekarang.
***
Nyokap tiri gue sebelum dinikahi sama bokap gue adalah seorang janda beranak dua yang tinggal di Balikpapan. Sebenarnya nyokap tiri gue ini sudah kenal sejak lama dengan bokap dan nyokap gue. Dulu, saat bokap gue masih kerja di PT Barito Pasific, suami dari nyokap tiri gue ini diajak sama bokap gue ke hutan. Masalah pekerjaan, gue gak tahu persis gimana kerjaannya tapi ya namanya kerja di perusahaan kayu tentu wajar kalau suka keluar masuk hutan.
Lalu, terjadi sebuah kecelakaan di hutan tersebut yang mengakibatkan suami dari nyokap tiri gue ini meninggal dunia dan akhirnya menjadi janda dengan dua anak.
Eh, daripada ribet gue nyebut nyokap tiri terus, gue selama ini manggil Dia dengan sebutan “Bunda”, jadi mulai sekarang gue sebutnya bunda aja ya.
Oke lanjut, setelah bokap gue resmi bercerai dengan nyokap gue. Bokap gue berpikir bagaimana menjalani hidup jika tidak memiliki istri, sedangkan kondisinya bokap gue stroke. Oleh karena itulah, terjadi rembukan di keluarga besar bokap gue yang rata-rata tinggal di Balikpapan.
Gak tau bagaimana pastinya, keluarlah nama bunda gue ini untuk bisa menggantikan sosok nyokap gue untuk jadi istri bokap gue.
Gue masih ingat betul bagaimana bokap gue menikah sama bunda di KUA yang hanya dihadiri oleh gue dan beberapa rekan sesame dosen di Politeknik. Sedangkan adik-adik gue yang berjumlah 3 orang tidak ikut.
“Ya Bapak, tolong ulangi perkataan Saya ya,” ujar penghulunya.
“Iya pak, duh, Saya gugup ini,” jawab bokap gue sambil senyum-senyum malu.
“Loh kenapa malu, kan sudah pernah,” tanya pengulu meledek.
“Justru karena sudah pernah pak, sekarang jadi malu, apalagi di depan teman-teman begini,” ungkap bokap gue mengutarakan alasannya.
“Ya sudah, fokus saja, ulangi perkataan Saya,” ungkap penghulu.
“Baik pak,” jawab bokap gue singkat sambil mengerutkan wajahnya karena serius.
“Saya nikahkan.. blablablabla,” ujar penghulu. Gue pake “blablabla” karena gak begitu ingat kata pastinya, intinya ya yang biasa dipakai untuk nikahan gitu lah ya.
“Saya terima nikah dan kimpoinya, anu,” jawaban bokap gue salah karena grogi. Terpaksa diulangi lagi.
“Ayo ulangi lagi, ini kedua kalinya, kalau tiga kali salah, berarti besok lagi ya,” ucap penghulunya mengancam.
“Sah.. Sah… Sah…?,” tanya penghulu setelah bokap gue lancar menjawab.
“SAH,” teriak temen-temen bokap sekaligus gue sambil mengucapkan hamdalah.
Bokap gue akhirnya lega karena gak harus kembali lagi besok karena tiga kali salah waktu ngucapin ijab kabulnya. Setelah itu, kita pun hanya sekedar minum air putih dan kue ala kadarnya. Ya, acara pernikahannya sangatlah sederhana. Semenjak saat itu, gue tinggal bareng bokap dan bunda gue di rumah dinas Politeknik.
Oke sepertinya sudah cukup dulu untuk pembahasan mengenai kehidupan bokap dan bunda gue. Sekarang kita balik lagi ke rencana gue dan nyokap mau pergi ke Jakarta ya!
***
Begitu gue selesai mandi dan mengenakan pakaian layaknya orang desa yang alay, gue pakai minyak rambut g*tsby yang warna biru muda. Gue pake celana levis gombrong borju yang merupakan hadiah ulang tahun dari seseorang waktu gue di Pondok Pesantren. Atasan gue pakai kaos lengan panjang dengan tulisan angka 86 kalau tidak salah di tengahnya. Belum sampai di situ, gue juga mengenakan Jaket berwarna merah terang serta kacamata 10 ribuan yang gue beli sudah 1 tahun lebih.
Selesai berdandan, gue pun keluar dari kamar dan gue lihat nyokap gue udah di dalam taksi warna biru. Gue pun pamitan sama bokap dan bunda gue. Bokap gue pun nangis karena mau gue tinggal liburan. Walaupun bokap gue pemarah, tapi dia orangnya sensitif dan suka nangis kalau soal hal beginian.
Gak lama setelah itu, gue pun langsung naik taksi dan berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Ibu Kota DKI Jakarta.
Di sinilah hidup gue bener-bener berubah drastis!
Selanjutnya, gue bakal ceritain semua satu per-satu soal bagaimana kehidupan gue dulu. Dari mulai tinggal di pondok pesantren, hubungan percintaan, gue juga sempet jadi pengamen jalanan, gimana hidup sama bokap tiri dan kisah lainnya yang sebenarnya cukup absurd untuk diceritakan.
****** END OF PART 1 *******
Oh ya, Part 2 bakal gue kasih judul “Welcome Jakarta”. Di sini gue bakal bercerita tentang bagaimana kehidupan gue setelah menginjak Ibu Kota DKI Jakarta.
Gue sertakan lagu ini yang gue buat sekitar tahun 2006 saat gue baru tiba di Jakarta. Tepatnya kurang lebih sekitar 1-2 minggu setelah gue tau apa yang terjadi. Untuk penjelasannya, nanti gue bakal jelasin di part ke 2.
Lagu ini berhubungan dengan hubungan percintaan gue yang gak sempat gue ceritain di Part 1 karena gue mau fokus kepada kehidupan keluarga gue dulu.
Diubah oleh jorghymub61 22-04-2017 06:57
efti108 memberi reputasi
1








