- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#88
PART V
Setelah berbincang dengan Baba Lanjut lebih kurang sepuluh menit, kami pun mula memburu tapak kaki makhluk hitam itu. Karena malam tadi tidak hujan, bekas tapak kaki itu dapat dilihat dengan jelas.
Kami lalu berjalan sambil memotong ranting-ranting pohon hutan sebagai tanda tempat itu sudah kami lalui.
Dua kali saya saya beristirahat karena perjalanan itu terasa cukup jauh. Matahari yang tadi terang sudah berangsur condong. Tempat yang kami tuju masih juga belum sampai. Bila hari sudah berangsur gelap, tapak kaki itu sudah dapat kami identifikasi.
Ia hilang betul‐betul di mulut sebuah gua.
Kakek mengambil keputusan untuk pulang saja ke perkampungan orang asli. Baba Lanjut tidak membantah dengan keputusan yang di buat oleh Kakek itu. Kami melintasi hutan untuk pulang. Kami sampai di perkampungan orang asli ketika bulan sudah berada di pucuk pohon bercabang lima.
Malam itu Kakek tidak dapat tidur dengan lelap. Dia selalu saja terjaga dan Kakek akan melompat ke halaman dan berjalan sambil mengelilingi pondok. Saya mengomel dalam hati saja melihat tingkah laku Kakek itu.
Bila Kakek selesai sembahyang subuh, dia membakar sehelai kain buruk yang baunya cukup wangi. Kakek hanya membakar sebagian saja dari kain buruk itu. Dan abunya Kakek isikan dalam bambu yang beruas pendek. Bambu itu Kakek letakkan di ujung bendul pohon.
Bila matahari mulai merekah di kaki langit, Baba Lanjut sudah terpaku di halaman pondok. Dia memberitahu Kakek, bahwa sepanjang malam anak buahnya berjaga.
Makhluk ganjil berbulu tebal tidak datang mengacau anak dara di tempatnya. Baba Lanjut mengucapkan ribuan terima kasih pada Kakek. Dia yakin, Kakek telah melakukan sesuatu untuk keselamatan anak buahnya.
“Itu kebetulan saja Kakek Batin ,” Kata Kakek.
“Tidak percaya, kamu memang handal!”
“Terserahlah pada Kakek Batin sendiri,” Jawab Kakek sambil tersenyum lalu mendekati Baba Lanjut.
Kakek berbincang sesuatu dengan Baba Lanjut.
Kemudian Kakek naik ke pondok lalu menghampiri saya.
“Ke mana?” Tanya saya agak ragu.
Kakek melihat muka saya dengan cukup tajam.
Kakek mengambil kain selempang lalu turun. Saya termanggu tidak tahu apa yang patut saya lakukan. Akhimya, saya juga melompat turun kehalaman. Saya melihat muka Baba Lanjut mengajukan pertanyan.
“Biarkan dia, kalau dia mau ikut dia akan bersiap-siap,” Jawaban itu bukan saja ditujukan oleh Kakek pada Baba Lanjut, malah ditujukan juga pada diri saya. Pahamlah saya, bahwa mereka mau memburu makhluk yang berburu tebal itu.
Sebelum panas terik mencengkram perkampungan orang asli, kami berangkat menuju ke gua tempat makhluk ganjil menghilangkan diri.
Begitu sampai di hadapan pintu gua, Kakek dan Baba Lanjut lalu duduk di situ.
Saya menyapu peluh di muka dengan telapak tangan. Waktu saya menoleh ke kiri, saya lihat Kakek sudah duduk bersila sambil membentangkan kain hitam diatas tanah. Mulutnya terkumat‐kamit membaca sesuatu.
Kakek bangun, berjalan di depan pintu gua tiga kali.
“Kita masuk,”Kata Kakek sambil melirik ke muka Baba Lanjut.
Saya lihat wajah Baba Lanjut agak cemas.
“Ini pekerjaan resikonya kematian,” Kakek bagaikan tahu apa yang bergolak dalam hati saya.
Dia mendekati saya lalu menjentik telinga saya, “Kau jangan banyak berlaku sembrono!,”Cukup lembut nada suaranya memukul gendang telinga saya, tetapi mempunyai bekas yang amat pahit bagi diri saya.
“Sediakan korek,” Kakek memberitahu Baba Lanjut lalu menyerahkan segumpal kain buruk pada saya.
Kakek melangkah ke dalam gua. Baba Lanjut dan saya mengikuti dari belakang.
Memang sukar berjalan dalam gua yang agak gelap itu. Akhimya kami sampai ke satu kawasan yang lapang. Kiri kanan kawasan itu didindingi oleh batu granit. Disudut sebelah kanan, terdapat satu lagi lubang gua yang lain.
“Kita berada betul‐betul di tengah di antara dua gunung,” Beritahu Kakek pada saya.
Baba Lanjut anggukkan kepala. Dari kawasan lapang itu, saya dapat melihat awan dan langit. Sekiranya ada hujan kami pasti basah, kalau masuk ke dalam perut gua. Menurut Kakek keadaan seperti itu memang terdapat dalam kebanyakan gua di Malaysia.
Tiba‐tiba kami mendengar bunyi sesuatu. Saya pun melihat ke atas, terdapat seekor ular hitam menyusur perlahan‐lahan pada akar‐akar kayu yang berjuntaian di Curug gunung itu. Ular itu lalu bergerak dan berpaut pada sebatang pohon kecil yang tumbuh di tepi lekukan.
“Biarkan!,” Kata Kakek bila melihat air muka saya berubah. Dengan tiba-tiba kami mendengar bunyi orang berjalan ke lubang gua sebelah kanan. Kakek menyuruh kami menjorokkan di celah‐celah batu besar.
Bunyi itu, makin lama, makin jelas akhirnya terlihat tiga makhluk ganjil yang berbulu tebal di kawasan lapang.
Makhluk ganjil itu duduk di situ sambil memakan daun‐daun kayu yang di bawanya.
Gerak‐gerik makhluk ganjil itu tidak banyak bedanya dengan manusia, sama dalam cara dia duduk dan mematah dahan‐dahan kayu yang berpucuk hijau. Tingginya lebih kurang 2.5 meter, kira‐kira delapan kaki.
Bila berjalan agak membungkuk sedikit ke depan. Wajahnya hampir menyerupai orang utan. Suaranya seperti suara monyet. Ketiga makhluk ganjil itu, lalu berbaring di kawasan lapang.
Kakek lalu menjerit dengan sekuat tenaga dan melompat ke kawasan lapang diikuti oleh Baba Lanjut.
Makhluk ganjil berbulu tebal itu segera bangun. Bersiap untuk menerkam ke arah Kakek dan Baba Lanjut.
Kakek bertafakur sejenak sambil membaca sesuatu. Salah seekor dari makhluk ganjil itu bergerak ke belakang dan mengambil sebongkah batu besar. Batu itu dilemparkan ke arah Kakek. Cepat cepat Kakek mengelak.
“lni bukan bangsa setan atau penunggu hutan. Binatang ini tersesat ke sini,” Kata Kakek pada saya yang secara mendadak menghampirinya.
Baba Lanjut termenung sejenak. Dia kelihatan serba salah.
“Apa yang harus kita buat?” Datang pertanyaan dari Baba Lanjut.
“Kita halau saja dari sini,” Jawab Kakek sambil meminta korek api dari Baba Lanjut.
Kakek pun memerintahkan saya membakar kain buruk yang dibawa. Perintah Kakek segera saya laksanakan. Bila melihat api, makhluk ganjil itu menjerit sambil menutup matanya dengan tangan yang berbulu tebal.
Makhluk ganjil itu takut pada api dan tidak tahan dengan asap dari kain yang dibakar. Makhluk ganjil itupun lari masuk ke dalam perut gua. Bila saya lihat ke atas terdapat berpuluh‐puluh ekor monyet bergayut di akar yang berjuntaian di ceruk gunung.
“Dia akan meninggalkan tempat ini nantinya,” Kakek memberitahu Baba Lanjut, sesudah melihat sesuatu dari kain hitam yang digenggamnya.
“Tetapi makhluk ganjil itu akan datang juga ke sini untuk membalas dendam,” sambung Kakek sambil mengajak saya dan Baba Lanjut keluar dari tengah kawasan gua tersebut.
Sejak dari peristiwa itu kawasan perkampungan orang asli di Kampung Raja‐Cameron Highlands tidak lagi diganggu makhluk tersebut. Bila kami kembali ke Batu Enam Belas, Baba Lanjut menyatakan hasratnya untuk menganut agama Islam. Baba Lanjut kagum, setiap kali Kakek berhadapan dengan musuh selalu membaca ayat‐ayat al Quran.
Hasrat Baba Lanjut itu tidak ditampik oleh Kakek. Baba Lanjut dibawa ke Tapah untuk menemui penghulu dan penghulu lalu menghubungi Jabatan Agama Islam Perak.
Seminggu kemudian, Baba Lanjut berhasil masuk Islam dan dia membuat sebagian besar dari warga kampungnya menganut agama Islam.
Dua hari sebelum meninggalkan kampung orang asli di Batu Enam Belas itu, Kakek telah di datangi oleh seorang pemuda asli yang mengatakan datang dari Pahang. Pemuda itu memberitahu, beberapa orang pemburu telah menemui tapak kaki binatang yang menyerupai telapak kaki manusia di Kuala Teris, dekat Lanchang di Pahang.
Setelah berunding agak lama dengan pemuda itu, Kakek setuju pergi ke Kuala Teris ikut jalan hutan satu hari perjalanan.
Akhirnya, kami sampai ke Kuala Teris dan Kakek lalu mempelajari tapak kaki makhluk ganjil menyerupai telapak kaki manusia itu, cukup besar dan panjang bentuknya.
“Binatang ini, kami usir dari Kampung Raja. Tidak usah bimbang dan takut, tetapi orang‐orang di sini mesti berjaga, makhluk ganjil itu cukup suka pada anak dara, dia boleh membawa anak dara lari ke hutan,” Begitulah Kakek memberitahu beberapa orang penduduk Lanchang yang bertanyakan tentang makhluk ganjil itu.
Menurut hemat Kakek, makhluk ganjil itu akan datang lagi ke kawasan Cameron Highlands karena kawasan tersebut sesuai dengan makhluk ganjil itu yang suka dengan tempat yang dingin.
Kakek yakin, binatang itu datang dari barisan gunung Himalaya di Nepal dan berpisah dengan kelompoknya ketika terjadi badai salju di kawasan tersebut. Dan binatang ganjil itu tersesat kedalam hutan besar di Pahang (Pen. Sepertinya identik dengan Yeti dari Himalaya dari penjelasan sepanjang cerita ini).
Dari Lanchang Kakek lalu ke Jerantut menemui Dukun Nong. Dua minggu saya dan Kakek menginap di rumah Dukun Nong.
Ketika di rumah Dukun Nong, Kakek dijemput oleh seorang lelaki ke Cameron Highlands sekali lagi untuk mencari seorang saudagar sutera dari Thailand yang berbangsa Amerika yang didapati hilang, ketika berjalan-jalan di kawasan sebuah bungalow.
Kakek mencari saudagar itu bersama dengan pasukan penyelamat (search and rescue).
Seluruh hutan di puncak Cameron Highlands telah di jelajahi tetapi saudagar yang hilang tidak juga ditemukan.
Akhirnya, Kakek membuat keputusan sendiri. Dia mengajak saya pergi ke kawasan gua tempat menemui makhluk ganjil dulu, dengan ditemani oleh beberapa orang anggota polisi.
Di situ Kakek hanya menemui beberapa pohon besar yang sudah patah dan beberapa carik kain yang dipercaya kepunyaan saudara tersebut.
Kakek yakin saudagar itu sudah ditawan oleh makhluk ganjil tersebut. Pendapat Kakek itu tidak diterima oleh polisi.
Akhirnya, Kakek tidak mau ikut dalam usaha pencarian selanjutnya.
Ternyata akhirnya, usaha pencarian oleh polisi tidak mendapatkan membuahkan hasil. Mereka lalu membatalkan rencana untuk mencari saudagar sutera dari Thailand itu. Kehilangan saudagar itu lalu menjadi misteri hingga hari ini. Kejadian ini terjadi pada tahun enam puluhan.
Sesudah itu, saya dan Kakek sekali lagi pergi ke rumah Dukun Nong dan menceritakan pengalaman ketika mencari saudagar yang hilang itu.
Dan dukun juga setuju dengan pendapat Kakek. Menurut firasat Dukun Nong, saudagar sutera itu memang ditawan makhluk ganjil sebagai balas dendam terhadap orang yang menganggu kawasan persembunyiannya.
Dalam pertemuan itu Dukun Nong memberitahu Kakek, makhluk ganjil itu masih berkeliaran dalam hutan negeri Pahang. Tempat persinggahan yang paling disukainya ialah di sekitar kawasan dingin. Tetapi dukun Nong cukup yakin binatang itu akan berusaha dengan segala daya upaya melarikan diri dari pertemuan dengan manusia, kecuali kalau sudah tidak bisa dielakkan.
Dengan Dukun Nong, Kakek mendalami ilmu‐ilmu kebatinan. (Dukun Nong meninggal dunia dalam tahun tujuh puluhan). Walau bagaimanapun, sejak kehilangan saudagar sutera dari Thailand yang berbangsa Amerika itu, cerita mengenai makhluk ganjil itu sudah tidak terdengar lagi.
Spoiler for 1:
Setelah berbincang dengan Baba Lanjut lebih kurang sepuluh menit, kami pun mula memburu tapak kaki makhluk hitam itu. Karena malam tadi tidak hujan, bekas tapak kaki itu dapat dilihat dengan jelas.
Kami lalu berjalan sambil memotong ranting-ranting pohon hutan sebagai tanda tempat itu sudah kami lalui.
Dua kali saya saya beristirahat karena perjalanan itu terasa cukup jauh. Matahari yang tadi terang sudah berangsur condong. Tempat yang kami tuju masih juga belum sampai. Bila hari sudah berangsur gelap, tapak kaki itu sudah dapat kami identifikasi.
Ia hilang betul‐betul di mulut sebuah gua.
Kakek mengambil keputusan untuk pulang saja ke perkampungan orang asli. Baba Lanjut tidak membantah dengan keputusan yang di buat oleh Kakek itu. Kami melintasi hutan untuk pulang. Kami sampai di perkampungan orang asli ketika bulan sudah berada di pucuk pohon bercabang lima.
Malam itu Kakek tidak dapat tidur dengan lelap. Dia selalu saja terjaga dan Kakek akan melompat ke halaman dan berjalan sambil mengelilingi pondok. Saya mengomel dalam hati saja melihat tingkah laku Kakek itu.
Bila Kakek selesai sembahyang subuh, dia membakar sehelai kain buruk yang baunya cukup wangi. Kakek hanya membakar sebagian saja dari kain buruk itu. Dan abunya Kakek isikan dalam bambu yang beruas pendek. Bambu itu Kakek letakkan di ujung bendul pohon.
Bila matahari mulai merekah di kaki langit, Baba Lanjut sudah terpaku di halaman pondok. Dia memberitahu Kakek, bahwa sepanjang malam anak buahnya berjaga.
Makhluk ganjil berbulu tebal tidak datang mengacau anak dara di tempatnya. Baba Lanjut mengucapkan ribuan terima kasih pada Kakek. Dia yakin, Kakek telah melakukan sesuatu untuk keselamatan anak buahnya.
“Itu kebetulan saja Kakek Batin ,” Kata Kakek.
“Tidak percaya, kamu memang handal!”
“Terserahlah pada Kakek Batin sendiri,” Jawab Kakek sambil tersenyum lalu mendekati Baba Lanjut.
Kakek berbincang sesuatu dengan Baba Lanjut.
Kemudian Kakek naik ke pondok lalu menghampiri saya.
“Ke mana?” Tanya saya agak ragu.
Kakek melihat muka saya dengan cukup tajam.
Kakek mengambil kain selempang lalu turun. Saya termanggu tidak tahu apa yang patut saya lakukan. Akhimya, saya juga melompat turun kehalaman. Saya melihat muka Baba Lanjut mengajukan pertanyan.
“Biarkan dia, kalau dia mau ikut dia akan bersiap-siap,” Jawaban itu bukan saja ditujukan oleh Kakek pada Baba Lanjut, malah ditujukan juga pada diri saya. Pahamlah saya, bahwa mereka mau memburu makhluk yang berburu tebal itu.
Spoiler for 2:
Sebelum panas terik mencengkram perkampungan orang asli, kami berangkat menuju ke gua tempat makhluk ganjil menghilangkan diri.
Begitu sampai di hadapan pintu gua, Kakek dan Baba Lanjut lalu duduk di situ.
Saya menyapu peluh di muka dengan telapak tangan. Waktu saya menoleh ke kiri, saya lihat Kakek sudah duduk bersila sambil membentangkan kain hitam diatas tanah. Mulutnya terkumat‐kamit membaca sesuatu.
Kakek bangun, berjalan di depan pintu gua tiga kali.
“Kita masuk,”Kata Kakek sambil melirik ke muka Baba Lanjut.
Saya lihat wajah Baba Lanjut agak cemas.
“Ini pekerjaan resikonya kematian,” Kakek bagaikan tahu apa yang bergolak dalam hati saya.
Dia mendekati saya lalu menjentik telinga saya, “Kau jangan banyak berlaku sembrono!,”Cukup lembut nada suaranya memukul gendang telinga saya, tetapi mempunyai bekas yang amat pahit bagi diri saya.
“Sediakan korek,” Kakek memberitahu Baba Lanjut lalu menyerahkan segumpal kain buruk pada saya.
Kakek melangkah ke dalam gua. Baba Lanjut dan saya mengikuti dari belakang.
Memang sukar berjalan dalam gua yang agak gelap itu. Akhimya kami sampai ke satu kawasan yang lapang. Kiri kanan kawasan itu didindingi oleh batu granit. Disudut sebelah kanan, terdapat satu lagi lubang gua yang lain.
“Kita berada betul‐betul di tengah di antara dua gunung,” Beritahu Kakek pada saya.
Baba Lanjut anggukkan kepala. Dari kawasan lapang itu, saya dapat melihat awan dan langit. Sekiranya ada hujan kami pasti basah, kalau masuk ke dalam perut gua. Menurut Kakek keadaan seperti itu memang terdapat dalam kebanyakan gua di Malaysia.
Tiba‐tiba kami mendengar bunyi sesuatu. Saya pun melihat ke atas, terdapat seekor ular hitam menyusur perlahan‐lahan pada akar‐akar kayu yang berjuntaian di Curug gunung itu. Ular itu lalu bergerak dan berpaut pada sebatang pohon kecil yang tumbuh di tepi lekukan.
“Biarkan!,” Kata Kakek bila melihat air muka saya berubah. Dengan tiba-tiba kami mendengar bunyi orang berjalan ke lubang gua sebelah kanan. Kakek menyuruh kami menjorokkan di celah‐celah batu besar.
Bunyi itu, makin lama, makin jelas akhirnya terlihat tiga makhluk ganjil yang berbulu tebal di kawasan lapang.
Makhluk ganjil itu duduk di situ sambil memakan daun‐daun kayu yang di bawanya.
Gerak‐gerik makhluk ganjil itu tidak banyak bedanya dengan manusia, sama dalam cara dia duduk dan mematah dahan‐dahan kayu yang berpucuk hijau. Tingginya lebih kurang 2.5 meter, kira‐kira delapan kaki.
Bila berjalan agak membungkuk sedikit ke depan. Wajahnya hampir menyerupai orang utan. Suaranya seperti suara monyet. Ketiga makhluk ganjil itu, lalu berbaring di kawasan lapang.
Kakek lalu menjerit dengan sekuat tenaga dan melompat ke kawasan lapang diikuti oleh Baba Lanjut.
Spoiler for 3:
Makhluk ganjil berbulu tebal itu segera bangun. Bersiap untuk menerkam ke arah Kakek dan Baba Lanjut.
Kakek bertafakur sejenak sambil membaca sesuatu. Salah seekor dari makhluk ganjil itu bergerak ke belakang dan mengambil sebongkah batu besar. Batu itu dilemparkan ke arah Kakek. Cepat cepat Kakek mengelak.
“lni bukan bangsa setan atau penunggu hutan. Binatang ini tersesat ke sini,” Kata Kakek pada saya yang secara mendadak menghampirinya.
Baba Lanjut termenung sejenak. Dia kelihatan serba salah.
“Apa yang harus kita buat?” Datang pertanyaan dari Baba Lanjut.
“Kita halau saja dari sini,” Jawab Kakek sambil meminta korek api dari Baba Lanjut.
Kakek pun memerintahkan saya membakar kain buruk yang dibawa. Perintah Kakek segera saya laksanakan. Bila melihat api, makhluk ganjil itu menjerit sambil menutup matanya dengan tangan yang berbulu tebal.
Makhluk ganjil itu takut pada api dan tidak tahan dengan asap dari kain yang dibakar. Makhluk ganjil itupun lari masuk ke dalam perut gua. Bila saya lihat ke atas terdapat berpuluh‐puluh ekor monyet bergayut di akar yang berjuntaian di ceruk gunung.
“Dia akan meninggalkan tempat ini nantinya,” Kakek memberitahu Baba Lanjut, sesudah melihat sesuatu dari kain hitam yang digenggamnya.
“Tetapi makhluk ganjil itu akan datang juga ke sini untuk membalas dendam,” sambung Kakek sambil mengajak saya dan Baba Lanjut keluar dari tengah kawasan gua tersebut.
Sejak dari peristiwa itu kawasan perkampungan orang asli di Kampung Raja‐Cameron Highlands tidak lagi diganggu makhluk tersebut. Bila kami kembali ke Batu Enam Belas, Baba Lanjut menyatakan hasratnya untuk menganut agama Islam. Baba Lanjut kagum, setiap kali Kakek berhadapan dengan musuh selalu membaca ayat‐ayat al Quran.
Hasrat Baba Lanjut itu tidak ditampik oleh Kakek. Baba Lanjut dibawa ke Tapah untuk menemui penghulu dan penghulu lalu menghubungi Jabatan Agama Islam Perak.
Seminggu kemudian, Baba Lanjut berhasil masuk Islam dan dia membuat sebagian besar dari warga kampungnya menganut agama Islam.
Dua hari sebelum meninggalkan kampung orang asli di Batu Enam Belas itu, Kakek telah di datangi oleh seorang pemuda asli yang mengatakan datang dari Pahang. Pemuda itu memberitahu, beberapa orang pemburu telah menemui tapak kaki binatang yang menyerupai telapak kaki manusia di Kuala Teris, dekat Lanchang di Pahang.
Setelah berunding agak lama dengan pemuda itu, Kakek setuju pergi ke Kuala Teris ikut jalan hutan satu hari perjalanan.
Akhirnya, kami sampai ke Kuala Teris dan Kakek lalu mempelajari tapak kaki makhluk ganjil menyerupai telapak kaki manusia itu, cukup besar dan panjang bentuknya.
“Binatang ini, kami usir dari Kampung Raja. Tidak usah bimbang dan takut, tetapi orang‐orang di sini mesti berjaga, makhluk ganjil itu cukup suka pada anak dara, dia boleh membawa anak dara lari ke hutan,” Begitulah Kakek memberitahu beberapa orang penduduk Lanchang yang bertanyakan tentang makhluk ganjil itu.
Menurut hemat Kakek, makhluk ganjil itu akan datang lagi ke kawasan Cameron Highlands karena kawasan tersebut sesuai dengan makhluk ganjil itu yang suka dengan tempat yang dingin.
Kakek yakin, binatang itu datang dari barisan gunung Himalaya di Nepal dan berpisah dengan kelompoknya ketika terjadi badai salju di kawasan tersebut. Dan binatang ganjil itu tersesat kedalam hutan besar di Pahang (Pen. Sepertinya identik dengan Yeti dari Himalaya dari penjelasan sepanjang cerita ini).
Dari Lanchang Kakek lalu ke Jerantut menemui Dukun Nong. Dua minggu saya dan Kakek menginap di rumah Dukun Nong.
Spoiler for 4:
Ketika di rumah Dukun Nong, Kakek dijemput oleh seorang lelaki ke Cameron Highlands sekali lagi untuk mencari seorang saudagar sutera dari Thailand yang berbangsa Amerika yang didapati hilang, ketika berjalan-jalan di kawasan sebuah bungalow.
Kakek mencari saudagar itu bersama dengan pasukan penyelamat (search and rescue).
Seluruh hutan di puncak Cameron Highlands telah di jelajahi tetapi saudagar yang hilang tidak juga ditemukan.
Akhirnya, Kakek membuat keputusan sendiri. Dia mengajak saya pergi ke kawasan gua tempat menemui makhluk ganjil dulu, dengan ditemani oleh beberapa orang anggota polisi.
Di situ Kakek hanya menemui beberapa pohon besar yang sudah patah dan beberapa carik kain yang dipercaya kepunyaan saudara tersebut.
Kakek yakin saudagar itu sudah ditawan oleh makhluk ganjil tersebut. Pendapat Kakek itu tidak diterima oleh polisi.
Akhirnya, Kakek tidak mau ikut dalam usaha pencarian selanjutnya.
Ternyata akhirnya, usaha pencarian oleh polisi tidak mendapatkan membuahkan hasil. Mereka lalu membatalkan rencana untuk mencari saudagar sutera dari Thailand itu. Kehilangan saudagar itu lalu menjadi misteri hingga hari ini. Kejadian ini terjadi pada tahun enam puluhan.
Sesudah itu, saya dan Kakek sekali lagi pergi ke rumah Dukun Nong dan menceritakan pengalaman ketika mencari saudagar yang hilang itu.
Dan dukun juga setuju dengan pendapat Kakek. Menurut firasat Dukun Nong, saudagar sutera itu memang ditawan makhluk ganjil sebagai balas dendam terhadap orang yang menganggu kawasan persembunyiannya.
Dalam pertemuan itu Dukun Nong memberitahu Kakek, makhluk ganjil itu masih berkeliaran dalam hutan negeri Pahang. Tempat persinggahan yang paling disukainya ialah di sekitar kawasan dingin. Tetapi dukun Nong cukup yakin binatang itu akan berusaha dengan segala daya upaya melarikan diri dari pertemuan dengan manusia, kecuali kalau sudah tidak bisa dielakkan.
Dengan Dukun Nong, Kakek mendalami ilmu‐ilmu kebatinan. (Dukun Nong meninggal dunia dalam tahun tujuh puluhan). Walau bagaimanapun, sejak kehilangan saudagar sutera dari Thailand yang berbangsa Amerika itu, cerita mengenai makhluk ganjil itu sudah tidak terdengar lagi.
Diubah oleh mufidfathul 21-04-2017 18:20
ciptoroso dan sulkhan1981 memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup