- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#87
PART IV
Karena hari sudah berangsur gelap, Kakek minta diri untuk pulang ke rumah yang disediakan untuk kami. Kakek berjanji akan kembali ke rumah Kuntum sesudah waktu Isya.
Kakek tidak dapat memberikan keputusan pasti apakah dia bisa mengobati atau tidak penyakit yang diderita oleh gadis orang asli itu
Saya lihat Kakek sudah mengenakan baju dan celana hitam. Kepalanya dililit dengan kain merah selebar dua jari. Kakek mengikat uncang hitam di pinggang.
Dia menyuruh saya memakai baju Melayu putih, celana putih, dan membelitkan kain kuning di kepala.
Hati saya berdebar. Belum pernah Kakek menyuruh seperti ini.
“Berbagai usaha telah dilakukan. Pernah orang‐orang di sini menyerang makhluk hitam itu, tetapi semua tidak berhasil. Makhluk hitam itu lebih kuat dari kami,” Beritahu Baba Lanjut pada Kakek.
Kakek kelihatan resah.
Dia gigit bibir.
“Jadi sekarang bagaimana?” Tanya Kakek.
“Kedua orang tua Kuntum tidak dapat berbuat apa‐apa, selain menyerahkan Kuntum pada makhluk hitam itu. Untuk itu, saya harap kamu akan dapat menolong kami dalam hal ini,” Secara jujur Baba Lanjut menyuarakan hasrat hatinya.
Dia memberitahu kepada kedua orang tua Kuntum bahwa dia akan mencari cara dan mengkaji sumber penyakit itu terlebih dahulu, sebelum memberikan obat.
Setelah sembahyang Isya, Kakek lalu berbaring. Putar kiri, putar kanan. Akhimya dia terlelap.
Ketika melihat Kakek terlelap, saya pun merebahkan badan dengan harapan Kakek akan melupakan janjinya dengan Baba Lanjut.
Saya tahu dan paham benar, kalau Kakek pergi ke situ. Sejam dua jam kerjanya tidak akan selesai.
“Bangun,” Sergah Kakek pada saya.
Kalang‐kabut saya dibuatnya. Saya memakai pakaian. mau bertanya, saya takut Kakek naik angin, Emosi.
Jalan paling baik saya ikuti ialah, patuh saja dengan apa yang di perintahnya.
“Bawa damar,” ujar Kakek.
Saya pun ambil damar dari tas yang terletak dekat dinding rumah.
Kemudian saya ikut Kakek turun. Begitu kaki saya memijak bumi, saya merasakan badan saya mendesir dingin. Bulu kuduk berdiri.
Saya melihat cahaya api yang berkedip‐kedip dari arah rumah orang tua Kuntum.
Kakek lalu melangkah sambil menarik tangan saya.
“Kakek,” Jerit saya sekuat hati bila melihat satu makhluk hitam berdiri di kiri saya.

Kuntum berlari ke tengah rumah.
Dia mengulurkan tangannya pada makhluk hitam yang seperti beruk di muka pintu. Makhluk hitam yang berwajah buruk itu memeluk Kuntum. Hidungnya yang pesek dan keras itu didekatkan ke pipi Kuntum yang lembut sambil bersuara “Heh ... heh heh ... heh ... hum”.
Kuntum menjerit manja karena terasa geli bila bulu makhluk hitam itu membelai kulit badannya. Makhluk hitam itu lalu membopong Kuntum ketempat tidur.
Saya dan Kakek menggolek‐golekkan badan sambiI berdengkur hingga sampai ke pintu ruang tempat Kuntum tidur.
Makhluk hitam meletakan Kuntum ke atas lantai. Dia lalu mencium Kuntum bertubi‐tubi. Mencium dengan lidah tipisnya seluruh wajah, telinga, dan leher Kuntum. Tiada hentinya Kuntum merintih.
Bila makhluk hitam membenamkan wajahnya disela-sela paha Kuntum yang telanjang bulat itu maka Kuntum kelojotan seperti ikan kehabisan air.
Kuntum mengerang kepuasan.
Kakek menarik kaki saya lalu merapatkankan bibirnya ke telinga saya.
“Kau pergi menjauh, jangan lihat,” ujur Kakek.
Saya mengundurkan badan ke arah lain. Tempat saya segera digantikan oleh Kakek.
Walaupun begitu telinga saya masih dapat menangkap suara Kuntum yang terkadang merintih, terkadang mengerang bersama bunyi “Heh ... heh heh ... heh ... hum” suara makhluk hitam itu, diringi suara sayup kecipak air bersama suara aneh mirip suara kaki melibas ilalang, sret…sret…sret, dengan tempo dan ritme yang beraturan.
Saya terkejut bila makhluk hitam itu menjerit. Saya sudah tidak dapat berpura‐pura tidur lagi. Saya buka mata.
Saya lihat Kakek berdiri di hadapan makhluk hitam.
Sedangkan Kuntum terkapar di lantai. Telanjang bulat, matanya tegak melihat atap rumah, kosong. Bintik hitamnya tiada fokus.
Kakek menyuruh saya melekatkan damar ke lubang hidung Baba Lanjut dan kedua orang tua Kuntum.
Spoiler for 1:
Karena hari sudah berangsur gelap, Kakek minta diri untuk pulang ke rumah yang disediakan untuk kami. Kakek berjanji akan kembali ke rumah Kuntum sesudah waktu Isya.
Kakek tidak dapat memberikan keputusan pasti apakah dia bisa mengobati atau tidak penyakit yang diderita oleh gadis orang asli itu
Saya lihat Kakek sudah mengenakan baju dan celana hitam. Kepalanya dililit dengan kain merah selebar dua jari. Kakek mengikat uncang hitam di pinggang.
Dia menyuruh saya memakai baju Melayu putih, celana putih, dan membelitkan kain kuning di kepala.
Hati saya berdebar. Belum pernah Kakek menyuruh seperti ini.
“Berbagai usaha telah dilakukan. Pernah orang‐orang di sini menyerang makhluk hitam itu, tetapi semua tidak berhasil. Makhluk hitam itu lebih kuat dari kami,” Beritahu Baba Lanjut pada Kakek.
Kakek kelihatan resah.
Dia gigit bibir.
“Jadi sekarang bagaimana?” Tanya Kakek.
“Kedua orang tua Kuntum tidak dapat berbuat apa‐apa, selain menyerahkan Kuntum pada makhluk hitam itu. Untuk itu, saya harap kamu akan dapat menolong kami dalam hal ini,” Secara jujur Baba Lanjut menyuarakan hasrat hatinya.
Dia memberitahu kepada kedua orang tua Kuntum bahwa dia akan mencari cara dan mengkaji sumber penyakit itu terlebih dahulu, sebelum memberikan obat.
Setelah sembahyang Isya, Kakek lalu berbaring. Putar kiri, putar kanan. Akhimya dia terlelap.
Ketika melihat Kakek terlelap, saya pun merebahkan badan dengan harapan Kakek akan melupakan janjinya dengan Baba Lanjut.
Saya tahu dan paham benar, kalau Kakek pergi ke situ. Sejam dua jam kerjanya tidak akan selesai.
“Bangun,” Sergah Kakek pada saya.
Kalang‐kabut saya dibuatnya. Saya memakai pakaian. mau bertanya, saya takut Kakek naik angin, Emosi.
Jalan paling baik saya ikuti ialah, patuh saja dengan apa yang di perintahnya.
“Bawa damar,” ujar Kakek.
Saya pun ambil damar dari tas yang terletak dekat dinding rumah.
Kemudian saya ikut Kakek turun. Begitu kaki saya memijak bumi, saya merasakan badan saya mendesir dingin. Bulu kuduk berdiri.
Saya melihat cahaya api yang berkedip‐kedip dari arah rumah orang tua Kuntum.
Kakek lalu melangkah sambil menarik tangan saya.
“Kakek,” Jerit saya sekuat hati bila melihat satu makhluk hitam berdiri di kiri saya.
Spoiler for 2:
Kakek pun menoleh ke arah makhluk itu. Cepat‐cepat Kakek meraba korek api di dalam saku celananya.
Kakek membakar kertas yang baru diambil dari dalam uncang hitam. Cahaya dari kertas yang dibakar, menerangi kawasan dari sekitar. Saya dapat melihat makhluk hitam itu dengan jelas. Tingginya, lebih kurang tinggi saya, seluruh badannya berbulu.
Wajahnya seperti wajah beruk.
Kakek menerkam ke arah makhluk hitam itu sambil membuka silat harimau meniti batang.
Makhluk hitam itu menepis setiap pukulan silat yang Kakek lepaskan.
Saya lihat makhluk hitam itu juga bisa bersilat, mengikut gerakan silat Kakek.
Api yang membakar kertas padam.
Kakek lalu bersilat.
Suara makhluk hitam itu mengaum sambil mematahkan pohon‐pohon kecil di sekelilingnya. Karena Kakek tidak dapat menahan serangan makhluk hitam itu, Kakek mundur hingga sampai ke kaki tangga.
Saya lalu naik ke rumah, lalu membawa pelita minyak tanah kemuka pintu. Cahaya dari pelita minyak tanah itu, dapat menolong saya melihat gerak makhluk hitam itu bertarung dengan Kakek.
Satu tendangan yang kencang membuat makhluk hitam itu terguling.
Makhluk hitam itu menjerit dengan sekuat hati. Serentak dengan itu beberapa makhluk hitam lain muncul semuanya mau menyerbu ke arah Kakek. Kali ini saya tidak bisa membiarkan Kakek berjuang sendirian. Saya harus bertindak. Saya harus menolongnya.
Saya ambil golok yang terletak di ruang rumah kemudian melompat ke tanah, lalu membuka silat halilintar . Saya melompat ke kiri dan ke kanan sambiI menikam bertubi-tubi.
Salah satu makhluk hitam itu yang terkena tikaman saya menjerit lalu masuk ke dalam hutan dengan diikuti oleh makhluk hitam yang lain.
Kakek terduduk atas tanah. Dadanya berombak ‐ombak menahan penat.
Dengan mendadak saja saya melihat Baba Lanjut muncul di hadapan saya dan Kakek.
Hati saya segera bertanya sendirian, apakah makhluk hitam itu ada hubungannya dengan Baba Lanjut. Apakah makhluk hitam itu jelmaan dari Baba Lanjut. Semuanya bersarang dalam benak saya.
Dengan cara berbisik, saya ajukan pertanyaan itu pada Kakek.
Tanpa diduga, Kakek lalu menampar muka saya. Sakitnya bukan kepalang.
Baba Lanjut terkejut melihat aksi Kakek itu tetapi dia tidak berani bertanya kenapa Kakek melakukan hal itu pada saya.
Dengan cara penuh diplomasi Kakek menyuruh Baba Lanjut menunggu kedatangannya di rumah orang tua Kuntum saja. Baba Lanjut setuju dengan permintaan Kakek itu.
Sewaktu Baba Lanjut sudah agak jauh dari kami, barulah Kakek dan saya memulai perjalanan ke rumah orang tua Kuntum.
Kakek membakar kertas yang baru diambil dari dalam uncang hitam. Cahaya dari kertas yang dibakar, menerangi kawasan dari sekitar. Saya dapat melihat makhluk hitam itu dengan jelas. Tingginya, lebih kurang tinggi saya, seluruh badannya berbulu.
Wajahnya seperti wajah beruk.
Kakek menerkam ke arah makhluk hitam itu sambil membuka silat harimau meniti batang.
Makhluk hitam itu menepis setiap pukulan silat yang Kakek lepaskan.
Saya lihat makhluk hitam itu juga bisa bersilat, mengikut gerakan silat Kakek.
Api yang membakar kertas padam.
Kakek lalu bersilat.
Suara makhluk hitam itu mengaum sambil mematahkan pohon‐pohon kecil di sekelilingnya. Karena Kakek tidak dapat menahan serangan makhluk hitam itu, Kakek mundur hingga sampai ke kaki tangga.
Saya lalu naik ke rumah, lalu membawa pelita minyak tanah kemuka pintu. Cahaya dari pelita minyak tanah itu, dapat menolong saya melihat gerak makhluk hitam itu bertarung dengan Kakek.
Satu tendangan yang kencang membuat makhluk hitam itu terguling.
Makhluk hitam itu menjerit dengan sekuat hati. Serentak dengan itu beberapa makhluk hitam lain muncul semuanya mau menyerbu ke arah Kakek. Kali ini saya tidak bisa membiarkan Kakek berjuang sendirian. Saya harus bertindak. Saya harus menolongnya.
Saya ambil golok yang terletak di ruang rumah kemudian melompat ke tanah, lalu membuka silat halilintar . Saya melompat ke kiri dan ke kanan sambiI menikam bertubi-tubi.
Salah satu makhluk hitam itu yang terkena tikaman saya menjerit lalu masuk ke dalam hutan dengan diikuti oleh makhluk hitam yang lain.
Kakek terduduk atas tanah. Dadanya berombak ‐ombak menahan penat.
Dengan mendadak saja saya melihat Baba Lanjut muncul di hadapan saya dan Kakek.
Hati saya segera bertanya sendirian, apakah makhluk hitam itu ada hubungannya dengan Baba Lanjut. Apakah makhluk hitam itu jelmaan dari Baba Lanjut. Semuanya bersarang dalam benak saya.
Dengan cara berbisik, saya ajukan pertanyaan itu pada Kakek.
Tanpa diduga, Kakek lalu menampar muka saya. Sakitnya bukan kepalang.
Baba Lanjut terkejut melihat aksi Kakek itu tetapi dia tidak berani bertanya kenapa Kakek melakukan hal itu pada saya.
Dengan cara penuh diplomasi Kakek menyuruh Baba Lanjut menunggu kedatangannya di rumah orang tua Kuntum saja. Baba Lanjut setuju dengan permintaan Kakek itu.
Sewaktu Baba Lanjut sudah agak jauh dari kami, barulah Kakek dan saya memulai perjalanan ke rumah orang tua Kuntum.
Spoiler for 3:
Kakek memilih jalan belakang. Ada dua sebab kenapa Kakek memilih jalan belakang.
Pertama, dia mau kedatangannya tidak diketahui oleh Kuntum dan kedua orang tuanya.
Kedua, Kakek mau mengetahui dari arah mana makhluk hitam itu masuk ke rumah Kuntum.
“Kenapa masuk lewat belakang, pintu depan terbuka?” Suara Baba Lanjut nyaring dalam gelap.
Dia muncul tiba‐tiba di hadapan saya dan Kakek.
Sekali lagi hati saya berdesir. Dan seperti tadi, prasangka buruk terhadap Baba Lanjut timbul di hati.
Kakek tidak menjawab dan saya mengikut langkah Baba Lanjut. Kami kemudian naik ke rumah.
Ayah Kuntum tersenyum menyambut kedatangan kami. Sementara ibunya duduk menelikung dekat dinding.
Kakek lalu berbicara dengan kedua orang tua Kuntum. Kakek membuka uncang kain hitam dan mengeluarkan kain merah, lalu dibakarnya bucu (ujung) kain merah. Bila api itu mulai marak(membesar), Kakek memadamkannya.
Mendadak saja Kuntum bangun lalu menyepak tangan Kakek. Dia berbicara sesuatu yang saya lihat Kakek mengerti. Kakek lalu memukul tulang kering Kuntum dengan punggung tangannya.
Kuntum menjerit lalu rebah.
Ayah Kuntum mendadak bangun sambil mengeluarkan parang mau menebas Kakek. Perbuatannya itu segera ditahan oleh Baba Lanjut.
Segera Baba Lanjut menerangkan padanya kenapa Kakek berbuat demikian. Ayah Kuntum mengerti dan minta maaf pada Kakek.
Kuntum segera diangkat ke tempatnya dan dibaringkan di situ.
Malam bertambah larut.
Di luar rumah terdengar suara orang berjalan dan bunyi ranting kering patah terkena pijak.
Beberapa ekor kelelawar liar berterbangan.
Tiba‐tiba hidung saya tercium bau wangi yang amat sangat menusuk. Mata saya terasa berat sekali. Kepala terasa sakit dengan mendadak. Saya lihat ayah dan ibu Kuntum tersungkur ke lantai, begitu juga dengan Baba Lanjut.
Tidak sampai lima menit mereka mendengkur.
“Berikan aku damar!” Kakek minta damar dari saya.
Saya serahkan damar pada Kakek. Kakek segera memecahkan damar itu dengan hati‐hati. Separuh diberikan pada saya dan separuh lagi diambilnya.
Kakek suruh saya menekankan damar itu ke hidung. Bila saya tercium damar,mata saya kembali segar.
Kemudian Kakek menyuruh saya pura‐pura tidur dan mendengkur.
Kakek juga berbuat begitu.
Saya merasa rumah bergetar. Saya membuka mata sedikit tetapi saya lalu pura‐pura berdengkur.
Pertama, dia mau kedatangannya tidak diketahui oleh Kuntum dan kedua orang tuanya.
Kedua, Kakek mau mengetahui dari arah mana makhluk hitam itu masuk ke rumah Kuntum.
“Kenapa masuk lewat belakang, pintu depan terbuka?” Suara Baba Lanjut nyaring dalam gelap.
Dia muncul tiba‐tiba di hadapan saya dan Kakek.
Sekali lagi hati saya berdesir. Dan seperti tadi, prasangka buruk terhadap Baba Lanjut timbul di hati.
Kakek tidak menjawab dan saya mengikut langkah Baba Lanjut. Kami kemudian naik ke rumah.
Ayah Kuntum tersenyum menyambut kedatangan kami. Sementara ibunya duduk menelikung dekat dinding.
Kakek lalu berbicara dengan kedua orang tua Kuntum. Kakek membuka uncang kain hitam dan mengeluarkan kain merah, lalu dibakarnya bucu (ujung) kain merah. Bila api itu mulai marak(membesar), Kakek memadamkannya.
Mendadak saja Kuntum bangun lalu menyepak tangan Kakek. Dia berbicara sesuatu yang saya lihat Kakek mengerti. Kakek lalu memukul tulang kering Kuntum dengan punggung tangannya.
Kuntum menjerit lalu rebah.
Ayah Kuntum mendadak bangun sambil mengeluarkan parang mau menebas Kakek. Perbuatannya itu segera ditahan oleh Baba Lanjut.
Segera Baba Lanjut menerangkan padanya kenapa Kakek berbuat demikian. Ayah Kuntum mengerti dan minta maaf pada Kakek.
Kuntum segera diangkat ke tempatnya dan dibaringkan di situ.
Malam bertambah larut.
Di luar rumah terdengar suara orang berjalan dan bunyi ranting kering patah terkena pijak.
Beberapa ekor kelelawar liar berterbangan.
Tiba‐tiba hidung saya tercium bau wangi yang amat sangat menusuk. Mata saya terasa berat sekali. Kepala terasa sakit dengan mendadak. Saya lihat ayah dan ibu Kuntum tersungkur ke lantai, begitu juga dengan Baba Lanjut.
Tidak sampai lima menit mereka mendengkur.
“Berikan aku damar!” Kakek minta damar dari saya.
Saya serahkan damar pada Kakek. Kakek segera memecahkan damar itu dengan hati‐hati. Separuh diberikan pada saya dan separuh lagi diambilnya.
Kakek suruh saya menekankan damar itu ke hidung. Bila saya tercium damar,mata saya kembali segar.
Kemudian Kakek menyuruh saya pura‐pura tidur dan mendengkur.
Kakek juga berbuat begitu.
Saya merasa rumah bergetar. Saya membuka mata sedikit tetapi saya lalu pura‐pura berdengkur.
Spoiler for 4:

Kuntum berlari ke tengah rumah.
Dia mengulurkan tangannya pada makhluk hitam yang seperti beruk di muka pintu. Makhluk hitam yang berwajah buruk itu memeluk Kuntum. Hidungnya yang pesek dan keras itu didekatkan ke pipi Kuntum yang lembut sambil bersuara “Heh ... heh heh ... heh ... hum”.
Kuntum menjerit manja karena terasa geli bila bulu makhluk hitam itu membelai kulit badannya. Makhluk hitam itu lalu membopong Kuntum ketempat tidur.
Saya dan Kakek menggolek‐golekkan badan sambiI berdengkur hingga sampai ke pintu ruang tempat Kuntum tidur.
Makhluk hitam meletakan Kuntum ke atas lantai. Dia lalu mencium Kuntum bertubi‐tubi. Mencium dengan lidah tipisnya seluruh wajah, telinga, dan leher Kuntum. Tiada hentinya Kuntum merintih.
Bila makhluk hitam membenamkan wajahnya disela-sela paha Kuntum yang telanjang bulat itu maka Kuntum kelojotan seperti ikan kehabisan air.
Kuntum mengerang kepuasan.
Kakek menarik kaki saya lalu merapatkankan bibirnya ke telinga saya.
“Kau pergi menjauh, jangan lihat,” ujur Kakek.
Saya mengundurkan badan ke arah lain. Tempat saya segera digantikan oleh Kakek.
Walaupun begitu telinga saya masih dapat menangkap suara Kuntum yang terkadang merintih, terkadang mengerang bersama bunyi “Heh ... heh heh ... heh ... hum” suara makhluk hitam itu, diringi suara sayup kecipak air bersama suara aneh mirip suara kaki melibas ilalang, sret…sret…sret, dengan tempo dan ritme yang beraturan.
Saya terkejut bila makhluk hitam itu menjerit. Saya sudah tidak dapat berpura‐pura tidur lagi. Saya buka mata.
Saya lihat Kakek berdiri di hadapan makhluk hitam.
Sedangkan Kuntum terkapar di lantai. Telanjang bulat, matanya tegak melihat atap rumah, kosong. Bintik hitamnya tiada fokus.
Kakek menyuruh saya melekatkan damar ke lubang hidung Baba Lanjut dan kedua orang tua Kuntum.
Spoiler for 5:
Bila damar dicium, semuanya bangun.
Masing‐masing terkejut melihat Kakek berhadapan dengan makhluk hitam. Baba Lanjut lalu memasang lampu minyak tanah.
Ruang menjadi terang benderang.
Saya melihat cukup jelas, makhluk hitam itu sebenamya ialah sejenis monyet besar dan mempunyai sepasang mata yang cukup tajam. Kakek sedang mempertahankan diri dari serangan makhluk hitam. Baba Lanjut dan kedua orang tua Kuntum mulai melompat ke arah Iembaga hitam.
Melihat keadaan yang cemas itu, lembaga hitam itu lalu melompat dua tiga kali. Kemudian menghempaskan badannya di dinding rumah yang terbuat dari kulit kayu.
Dinding rumah pecah. Makhluk hitam itu jatuh ke tanah dan menjerit lalu melarikan diri dalam gelap yang pekat.
Tanpa membuang waktu lagi, Kakek lalu mendekatkan kepala kepada Kuntum.
Tubuh Kuntum dibalut dengan kain batik. Kakek minta Baba Lanjut mencarikan daun Dedap. Baba Lanjut segera mencarinya.
Kakek merimbas daun itu ke tubuh Kunntum sebanyak tujuh kali.
Kuntum terkejut dan dia bagaikan tersadar dari mimpi lalu bertanya pada ibunya apa yang sudah terjadi. Ibunya menceritakan peristiwa yang berlaku. Kuntum menangis.
Kakek mengambil damar itu diremasnya kuat‐kuat. Saya lihat dari celah‐celah jari Kakek keluar asap. Damar yang sudah hancur itu digabungkan dengan daun dedap dalam satu tempat. Kakek lalu melumurkan semuanya ke tubuh Kuntum.
Kakek membiarkan Kuntum berguling atas lantai. Kuntum terlihat seperti ikan kekeringan air. Kuntum lalu melemah dan tidak berdaya.
Tubuh Kuntum ditutupi asap dan asap itu membentuk satu makhluk yang menyerupai monyet besar berdiri hingga sampai ke bumbung. Kakek membaca sesuatu lalu menghembuskan ke arah asap yang berbentuk makhluk itu.
Asap berpecah sekejap, bercampur kembali, berbentuk seperti bantal guling, melayang‐layang di dalam rumah. Kakek pun menggigit bibir.
Dengan tangkas Kakek membuka telapak tangan dan mengarahkan ke arah asap berbentuk makhluk. Kakek menghembus kearah telapak tangannya. Asap berbentuk makhluk itu menuju ke arah pintu lalu keluar.
“Binatang sial itu, sudah meresapkan ruhnya ke dalam Kuntum,” kata Kakek.
Baba Lanjut terkejut. Kakek menyuruh Baba Lanjut menjaga Kuntum hingga siang hari.
Kakek dan saya kembali ke rumah khusus kami. Pagi esoknya, saya dan Kakek menemui bekas dan tapak kaki seperti yang kami temui di Kampung Batu Enam Belas.
Kakek segera memanggil Baba Lanjut. Mereka membuat keputusan untuk membuntuti tapak kaki itu ke arah mana makhluk hitam itu lari. Sebelum pergi, saya dan Kakek melihat Kuntum dulu. Saya lihat Kuntum bertambah segar, tetapi mukanya kelihatan pucat.
Masing‐masing terkejut melihat Kakek berhadapan dengan makhluk hitam. Baba Lanjut lalu memasang lampu minyak tanah.
Ruang menjadi terang benderang.
Saya melihat cukup jelas, makhluk hitam itu sebenamya ialah sejenis monyet besar dan mempunyai sepasang mata yang cukup tajam. Kakek sedang mempertahankan diri dari serangan makhluk hitam. Baba Lanjut dan kedua orang tua Kuntum mulai melompat ke arah Iembaga hitam.
Melihat keadaan yang cemas itu, lembaga hitam itu lalu melompat dua tiga kali. Kemudian menghempaskan badannya di dinding rumah yang terbuat dari kulit kayu.
Dinding rumah pecah. Makhluk hitam itu jatuh ke tanah dan menjerit lalu melarikan diri dalam gelap yang pekat.
Tanpa membuang waktu lagi, Kakek lalu mendekatkan kepala kepada Kuntum.
Tubuh Kuntum dibalut dengan kain batik. Kakek minta Baba Lanjut mencarikan daun Dedap. Baba Lanjut segera mencarinya.
Kakek merimbas daun itu ke tubuh Kunntum sebanyak tujuh kali.
Kuntum terkejut dan dia bagaikan tersadar dari mimpi lalu bertanya pada ibunya apa yang sudah terjadi. Ibunya menceritakan peristiwa yang berlaku. Kuntum menangis.
Kakek mengambil damar itu diremasnya kuat‐kuat. Saya lihat dari celah‐celah jari Kakek keluar asap. Damar yang sudah hancur itu digabungkan dengan daun dedap dalam satu tempat. Kakek lalu melumurkan semuanya ke tubuh Kuntum.
Kakek membiarkan Kuntum berguling atas lantai. Kuntum terlihat seperti ikan kekeringan air. Kuntum lalu melemah dan tidak berdaya.
Tubuh Kuntum ditutupi asap dan asap itu membentuk satu makhluk yang menyerupai monyet besar berdiri hingga sampai ke bumbung. Kakek membaca sesuatu lalu menghembuskan ke arah asap yang berbentuk makhluk itu.
Asap berpecah sekejap, bercampur kembali, berbentuk seperti bantal guling, melayang‐layang di dalam rumah. Kakek pun menggigit bibir.
Dengan tangkas Kakek membuka telapak tangan dan mengarahkan ke arah asap berbentuk makhluk. Kakek menghembus kearah telapak tangannya. Asap berbentuk makhluk itu menuju ke arah pintu lalu keluar.
“Binatang sial itu, sudah meresapkan ruhnya ke dalam Kuntum,” kata Kakek.
Baba Lanjut terkejut. Kakek menyuruh Baba Lanjut menjaga Kuntum hingga siang hari.
Kakek dan saya kembali ke rumah khusus kami. Pagi esoknya, saya dan Kakek menemui bekas dan tapak kaki seperti yang kami temui di Kampung Batu Enam Belas.
Kakek segera memanggil Baba Lanjut. Mereka membuat keputusan untuk membuntuti tapak kaki itu ke arah mana makhluk hitam itu lari. Sebelum pergi, saya dan Kakek melihat Kuntum dulu. Saya lihat Kuntum bertambah segar, tetapi mukanya kelihatan pucat.
Diubah oleh mufidfathul 19-04-2017 07:52
ciptoroso memberi reputasi
1
Kutip
Balas
Tutup