- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.2K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#86
PART III
Saya lalu masuk ke dalam pondok merebahkan badan. Karena terlalu letih saya tertidur. Bila saya terjaga dari tidur, saya lihat Kakek membincangkan sesuatu dengan Baba Lanjut. Saya segera mendekati mereka.
“Malam ini, kita tunggu makhluk hitam itu datang. Besok kita pergi ke kampung lain dekat Kampung Raja di Tanah Rata,” Kakek memberitahu saya.
Saya terdiam.
Baba Lanjut melihat muka saya.
“Di kampung orang darat sana, ada orang sakit kena sembur makhluk hitam.” Baba Lanjut menerangkan kepada saya.
“Walaupun begitu, malam ini kita mesti berjaga kalau makhluk hitam itu datang,” terang Bah Lanjut.
Saya anggukkan kepala.
Langit di Batu Enam Belas Jalan Tapah‐Cameron Highlands malam itu cukup cerah. Baba Lanjut dan Kakek lalu berjaga di pangkal pohon Jelutung patah dahan. Saya lalu mencampakkan dahan dan ranting kayu ke dalam api unggun di belakang pondok. Bahang dari unggun itu menghilangkan rasa dingin yang menyelimut tubuh saya. Sesekali terdengar bunyi dahan kayu beradu sendiri, dirempuh angin malam, lalu melahirkan satu nada irama yang memanjang. Embun jantan mula menitik atas kepala saya.
“Sudah dini hari,” keluh Kakek.
Baba Lanjut anggukkan kepala. Matanya melihat tajam ke arah hutan tebal di sebelah kanan pondok.
Saya lalu mencampakkan puntung‐puntung kayu ke dalam api unggun, bila puntung kayu berada di dalam api unggun, ia kelihatan marak dan bunga api berterbangan ke udara.
Saya kira sudah pukul dua lebih. Suara binatang buas terdengar sayup‐sayup di kaki bukit. Saya lihat Kakek tertidur di pangkal pohon Jelutung. Baba Lanjut berjalan hilir-mudik sambil memaut golok di pinggang.
Saya tidak memperdulikan mereka.
Tiba‐tiba saya berasa kelopak mata cukup berat. Setelah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi. Ketika saya membuka mata kembali, saya lihat Baba Lanjut tertidur di pangkal pohon Jelutung sedangkan Kakek bertindak sebagai pengawal.
Kakek, saya dan Baba Lanjut merasa cukup kecewa. Makhluk hitam yang dinantikan sepanjang malam, tidak juga mencul.
“Dia bagaikan tahu kita menantinya,” Kata Kakek pada Baba Lanjut sesudah melihat fajar subuh bangun di kaki langit.
“Dia sepertinya takut,” sahut Baba Lanjut.
“Bisa jadi juga,” balas Kakek dan Baba Lanjut kecewa.
Baba Lanjut meminta diri pulang ke rumahnya. Saya dan Kakek berjalan menuju ke arah sebuah anak sungai. Kami mengambil air sembahyang. Hari mula berangsur cerah.
Waktu Kakek mau mendaki anak bukit ke pondok, dia bertemu dengan tapak kaki binatang, sebesar telapak kaki gajah, anehnya tapak kaki menyerupai telapak kaki manusia, tetapi mempunyai empat jari. Jari sebelah kanan berbentuk bulat seperti anak lesung batu.
Kakek membuat kesimpulan, itulah ibu jari kaki makhluk hitam. Kakek menandai bekas tapak kaki binatang itu dengan sebatang pohon kecil yang dipatahkan dua. Sebelum beredar Kakek membaca sesuatu di situ.
“Supaya jangan hilang bila dicari,” Kakek memberitahu saya. Dan saya cuma tersenyum sambil anggukkan kepala dua tiga kali.
Setelah menunaikan sembahyang subuh dan sarapan pagi, saya dan Kakek beredar di halaman pondok. Beberapa menit kemudian Baba Lanjut datang. Wajahnya nampak riang.
“Kita bisa bertolak pergi ke sana,” katanya. “Jalan kaki,” Sahut Baba Lanjut.
“Susah itu,” Sela saya.
“Tidak susah. Sebelum matahari condong kita sampai ke sana.” Baba Lanjut memberikan satu keyakinan dalam diri saya.
Kakek termenung panjang. Kakek berjalan dua tiga langkah keliling halaman pondok. Berhenti betul‐betul di depan kaki tangga pondok.
“Begini, kek Batin, kek Batin pergi dulu. Kami menyusul kemudian.” “Nanti tersesat! susah.”
“Tidak apa-apa, syarat utamanya bila kek Batin sampai di sana, tandai kawasan itu dengan kain merah,” Kakek mengemukakan rencananya.
“Cara?”
“Ikat kain merah pada bambu, dan bambu itu dicacakkan atas tanah lapang.”
“Baiklah.”
Baba Lanjut pun melangkah ke arah utara. Sebelum hilang ditelan oleh pohon‐pohon hutan yang tebal itu, Baba Lanjut sempat melambaikan tangan ke arah saya dan Kakek. Saya lihat Baba Lanjut cukup tangkas berjalan. Saya tidak dapat melihat bayang atau tubuhnya kecuali melihat pohon‐pohon yang bergerak saja.
Tidak sampai lima menit, saya tidak dapat mendengar suara Baba Lanjut menjawab teriakan dari Kakek.
Matahari bertambah tinggi, tetapi rasa dingin masih kuat mencengkeram diri. Bibir saya tergetar-getar. Kakek mengambil dua tiga helai daun kayu muda. Digosoknya ke telapak tangan beberapa kali.
“Kapan kita pergi ke Kampung Raja, Kek?” Tanya saya sesudah melihat Kakek tidak membuat suatu persiapan untuk pergi ke tempat tersebut.
Kakek tidak menjawab pertanyaan saya. Dia lalu menggetok-getok pangkal pohon jelutung dengan golok peraknya. Kakek menyuruh saya mencari ranting dan dahan kering. Saya patuh dengannya. Saya berhasil mengumpul satu bekas dahan dan ranting kering. Saya tempatkan di bawah pohon.
“Kapan kita akan pergi,” tanya saya sekali lagi.
Kakek melihat tajam ke arah saya. Dia kerutkan mukanya.
“Itu urusan aku. Bila aku ajak, kau ikut. Kalau tidak kau tunggu di sana,” Nada suara Kakek membayangkan kemarahan. Kakek lalu duduk atas tunggul buruk.
Memukul tanah dengan tangan kiri sebanyak tiga kali.
Matahari lalu memancar. Bunyi burung bersahut‐sahutan.
Saya duduk termenung di bawah pondok. Tidak berani saya melihat muka Kakek yang seperti muka harimau itu. Kakek merubah tempat duduk bersila di bawah pohon jelutung. Kedua belah lengannya diletakkan atas kepala lutut.
Mata Kakek melihat ke arah hutan. Tiba‐tiba saya lihat beberapa ekor monyet melompat di dahan sambil menjerit. Monyet‐monyet itu lalu melompat dari dahan ke dahan dengan cepat seperti dikejar sesuatu.
Dada saya berdebar, dari sebelah utara pondok, keluar dua ekor harimau belang berbadan besar. Salah seekor daripada harimau belang badannya besar. Salah seekor dari pada harimau itu ternyata mempunyai benjolan kaki yang sebelah kiri.
Harimau itu menuju ke arah Kakek yang duduk mencangkung.
Lebih kurang lima menit lamanya, salah seekor daripada harimau itu memutar ekornya mengusap dan menyapu wajah Kakek dengan ekornya. Kakek membiarkan harimau itu melakukan apa saja terhadap dirinya.
Bila sudah penat, harimau itu berputar dan duduk kembali di depan Kakek.
Harimau yang seekor lagi, menerpa ke arah Kakek dan menjilat wajah Kakek dengan lidahnya yang merah. Saya lihat kumis harimau yang keras itu beradu dengan kumis Kakek yang lembut. Kakek menepuk‐nepuk pangkal leher harimau itu dengan lemah lembut. Harimau itu mengaum kecil. Kakek memeluk leher harimau itu dengan penuh rasa kasih sayang.
“Kau rindu aku?” Terdengar suara Kakek.
Harimau menggerak‐gerakkan ekomya. Manakala harimau yang seekor lagi berguling‐guling di atas tanah sambil keempat‐empat kakinya mengarah ke langit.
“Aku dan cucuku selamat di sini. Pulanglah. Berkalih hari (sorri aku ndak paham kalimat ini) kau datang ke sini,” Selesai Kakek berbicara, dia bangun.
Harimau segera berdiri di sisinya.
“Pulanglah,” Tambah Kakek lagi sambil menepuk‐nepuk belakang harimau.
Kedua ekor harimau itu mengaum serentak. Dan berjalan tenang masuk ke dalam hutan tebal. Kakek mendekatii saya lalu menyuruh saya memasak nasi. Kakek juga memberitahu saya, bahwa dia akan turun ke sungai untuk menangkap ikan.
Kakek lalu meninggalkan saya di pondok. Saya lalu menghidupkan api. Membasuh beras dan memasak nasi. Begitu air nasi di dalam periuk kering, Kakek kembali dari sungai membawa ikan.
Kakek mencari kayu kecil dan ikan itu lalu dipanggang dan diangkatkan pada api. Semuanya berjalan dengan baik.
Bila matahari sudah berada betul‐betul di tengah kepala, saya dan Kakek lalu makan, Kakek berdiri di halaman melihat bayangannya di atas bumi.
“Sudah masuk sekarang,” Pendek saja suara Kakek.
Dan Pahamlah saya, bahwa Kakek menyuruh saya pergi ke sungai mengambil air sembahyang. Saya lalu pergi ke sungai. Setelah selesai sembahyang, Kakek lalu duduk di pangkal jelutung. Entah apa yang dibuat oleh Kakek di situ saya sendiri pun tidak tahu.
“Baba Lanjut sudah sampai ke tempat yang dituju,” Kakek memberitahu saya. Kakek lalu naik ke pondok. Mengambil pakaian dan barang‐barang keperluan. Saya juga berbuat begitu.
Kakek menutup kedua belah mata saya dengan kain hitam. Dia menyuruh saya berdiri di kaki tangga.
Saya akur dengan perintah itu. Kakek menyuruh saya meluruskan kedua belah tangan saya ke depan.
Darah saya tersirap. Saya menyentuh badan harimau. Saya merasa lidah harimau menjilat‐jilat kedua belah lengan saya. Kakek memimpin saya ke depan, lalu mendudukkan saya atas badan harimau.
“Kau kendarai dia sendirian,” Kata Kakek.
“Aku naik belakang sibenjol, tetapi jangan buka kain penutup mata, kalau kauingkar, kau tidak akan melihat dunia lagi,” Sambung Kakek. Ada nada ancaman dalam perasaan hati saya.
“Saya Paham, Kek.”
“Paham saja tidak mau , tapi mesti taat,” Sergah Kakek. “Saya taat, Kakek”
“Hum ... bagus.”
Saya merasa harimau yang saya tunggangi itu bergerak perlahan‐lahan, kemudian laju dan lalu laju, saya terasa kedua belah cuping telinga saya cukup dingin karena di sentuh angin.
Saya tidak dapat memastikan harimau yang saya naiki itu terbang atau berjalan di atas bumi.
Sementar saya dalam berpikir‐pikir itu, harimau yang saya naik berhenti berjalan.
Kakek pun membuka kain yang membalut ke dua belah mata saya.
“Bagus, kau sudah berani sekarang,” Serentak dengan ucapan itu, Kakek lalu memukul belakang saya dua tiga kali. Saya raba bibir saya yang terasa kebas. Saya gigit bibir hingga terasa sakit.
“Kau sudah berani sekarang,” Ulang Kakek sambil mengeluarkan bertih dari uncangnya (kantong).
Bertih itu ditaburkannya atas tanah lapang untuk makanan harimau peliharaannya. Sesudah memakan bertih, harimau itu mengaum kecil sambil menggoyang‐goyang ekornya. Kakek menepuk kepala harimau dan ia pun lalu masuk ke dalam hutan tebal lalu hilang.
“Di mana kita sekarang ini, Kek?"
“Kita ikuti tepi hutan ini menuju ke timur.” Kakek dan saya pun melangkah serentak melintas hutan, melanggar akar dan duri.
Sayup‐sayup terdengar bunyi kokok ayam hutan, diringi dengan salakan anjing.
Saya yakin bahwa kami memang tidak jauh dari perkampungan orang asli. Matahari bertambah condong, kabut tebal mula bangkit di sekitar kawasan hutan. Badan saya bertambah dingin. Kakek dan saya lalu meredah hutan, dari jauh sudah nampak asap mengepul dari puncak sebuah bukit kecil.
“Berhenti,” Kakek menowel bahu kanan saya.
Kami mendengar bunyi benda bergerak di sebelah kiri, saya lihat pohon‐pohon di situ bergerak sendiri.
Dada bertambah cemas. Seorang lelaki muncul di situ.
“Bagaimana kamu bisa cepat sampai?” Kata Baba Lanjut keheranan.
“Kita belum lagi merapikan pakaian,” Tambahnya sambil meraba dahi.
Kakek tidak menjawab pertanyaan itu. Kakek meminta Baba Lanjut membawanya segera ke perkampungan orang asli di Kampung Raja.
“Mari!” Ajak Baba Lanjut.
Kami sekali lagi menyelusup di bawah akar dan pohon hutan. Akhimya kami sampai ke sebuah kawasan perkampungan orang asli.
Baba Lanjut membawa kami ke sebuah rumah di tepi pohon meranti. Baba Lanjut memperkenalkan Kakek pada penghuni rumah itu.
Baba Lanjut juga meminta tuan rumah itu menyediakan sebuah tempat khusus untuk Kakek dan saya. Tempat itu mestilah bersih, tidak bisa ada anjing masuk ke situ. Tuan rumah itu sanggup menyediakan apa yang diminta oleh Baba Lanjut.
Saya dan Kakek ditempatkan di sebuah rumah kosong berdekatan dengan sebuah anak sungai.
Kakek gembira karena dia mudah mengambil air sembahyang dan mandi. Sesudah meletakkan barang‐barang yang di bawa ke dalam rumah itu, saya dan Kakek kembali ke rumah yang mula‐mula di temui itu.
Baba Lanjut sudah menanti di situ. Baba Lanjut berbicara dalam bahasa ibundanya (bahasa asli=native speaker) dengan tuan rumah itu.
Kemudian, Baba Lanjut membawa saya dan Kakek ke satu ruang di tengah rumah. Seorang gadis
orang asli terbaring di situ. Cantik juga raut wajahnya. Di ujung kaki itu terletak beberapa majalah film. Di ujung kepalanya terletak beberapa batang keladi dan pucuk ubi kayu.
Baba Lanjut memberitahu Kakek nama gadis itu ialah Kuntum.
Menurut Baba Lanjut, dulu Kuntum tinggal di Jalan Parang, bersekolah di situ. Gagal untuk melanjutkan pelajaran ke sekolah menengah di Tapah, dia terpaksa pulang ke kawasan Kampung Raja membantu orang tuanya bercocok‐tanam.
Hingga pada suatu hari, Kuntum telah ditangkap oleh satu makhluk hitam, ketika dia menanam padi di lereng bukit.
Tiga hari, tiga malam Kuntum hilang.
Akhimya, orang –orang kampung menemukan Kuntum duduk menangis di pangkal pohon bertam (Palm) yang berduri lebat.
Sewaktu dibawa pulang ke rumah, Kuntum meraung‐raung tidak tentu arah. Kuntum terpaksa diikat.
Dengan kepandaian Baba Lanjut, sakit Kuntum berangsur baik.
Anehnya, Kuntum tidak dapat bergerak ke mana‐mana waktu siang hari.
Dia terkapar di ruang khusus. Bila malam datang, Kuntum akan sehat seperti orang yang tidak terkena penyakit apa‐apa. Dia bisa memasak, membaca dan menyanyi. Kadang‐kadang turun ke tengah halaman menari dengan iringan bunyi suara bambu yang dihentakkan ke bumi.
Menjelang dinihari, satu makhluk hitam akan datang lalu memangku Kuntum untuk di bawa ke dalam hutan.
Bila fajar subuh menjelang di kaki langit makhluk hitam akan memulangkan Kuntum.
Spoiler for 1:
Saya lalu masuk ke dalam pondok merebahkan badan. Karena terlalu letih saya tertidur. Bila saya terjaga dari tidur, saya lihat Kakek membincangkan sesuatu dengan Baba Lanjut. Saya segera mendekati mereka.
“Malam ini, kita tunggu makhluk hitam itu datang. Besok kita pergi ke kampung lain dekat Kampung Raja di Tanah Rata,” Kakek memberitahu saya.
Saya terdiam.
Baba Lanjut melihat muka saya.
“Di kampung orang darat sana, ada orang sakit kena sembur makhluk hitam.” Baba Lanjut menerangkan kepada saya.
“Walaupun begitu, malam ini kita mesti berjaga kalau makhluk hitam itu datang,” terang Bah Lanjut.
Saya anggukkan kepala.
Langit di Batu Enam Belas Jalan Tapah‐Cameron Highlands malam itu cukup cerah. Baba Lanjut dan Kakek lalu berjaga di pangkal pohon Jelutung patah dahan. Saya lalu mencampakkan dahan dan ranting kayu ke dalam api unggun di belakang pondok. Bahang dari unggun itu menghilangkan rasa dingin yang menyelimut tubuh saya. Sesekali terdengar bunyi dahan kayu beradu sendiri, dirempuh angin malam, lalu melahirkan satu nada irama yang memanjang. Embun jantan mula menitik atas kepala saya.
“Sudah dini hari,” keluh Kakek.
Baba Lanjut anggukkan kepala. Matanya melihat tajam ke arah hutan tebal di sebelah kanan pondok.
Saya lalu mencampakkan puntung‐puntung kayu ke dalam api unggun, bila puntung kayu berada di dalam api unggun, ia kelihatan marak dan bunga api berterbangan ke udara.
Saya kira sudah pukul dua lebih. Suara binatang buas terdengar sayup‐sayup di kaki bukit. Saya lihat Kakek tertidur di pangkal pohon Jelutung. Baba Lanjut berjalan hilir-mudik sambil memaut golok di pinggang.
Saya tidak memperdulikan mereka.
Tiba‐tiba saya berasa kelopak mata cukup berat. Setelah itu, saya tidak tahu apa yang terjadi. Ketika saya membuka mata kembali, saya lihat Baba Lanjut tertidur di pangkal pohon Jelutung sedangkan Kakek bertindak sebagai pengawal.
Kakek, saya dan Baba Lanjut merasa cukup kecewa. Makhluk hitam yang dinantikan sepanjang malam, tidak juga mencul.
“Dia bagaikan tahu kita menantinya,” Kata Kakek pada Baba Lanjut sesudah melihat fajar subuh bangun di kaki langit.
“Dia sepertinya takut,” sahut Baba Lanjut.
“Bisa jadi juga,” balas Kakek dan Baba Lanjut kecewa.
Baba Lanjut meminta diri pulang ke rumahnya. Saya dan Kakek berjalan menuju ke arah sebuah anak sungai. Kami mengambil air sembahyang. Hari mula berangsur cerah.
Waktu Kakek mau mendaki anak bukit ke pondok, dia bertemu dengan tapak kaki binatang, sebesar telapak kaki gajah, anehnya tapak kaki menyerupai telapak kaki manusia, tetapi mempunyai empat jari. Jari sebelah kanan berbentuk bulat seperti anak lesung batu.
Kakek membuat kesimpulan, itulah ibu jari kaki makhluk hitam. Kakek menandai bekas tapak kaki binatang itu dengan sebatang pohon kecil yang dipatahkan dua. Sebelum beredar Kakek membaca sesuatu di situ.
“Supaya jangan hilang bila dicari,” Kakek memberitahu saya. Dan saya cuma tersenyum sambil anggukkan kepala dua tiga kali.
Spoiler for 2:
Setelah menunaikan sembahyang subuh dan sarapan pagi, saya dan Kakek beredar di halaman pondok. Beberapa menit kemudian Baba Lanjut datang. Wajahnya nampak riang.
“Kita bisa bertolak pergi ke sana,” katanya. “Jalan kaki,” Sahut Baba Lanjut.
“Susah itu,” Sela saya.
“Tidak susah. Sebelum matahari condong kita sampai ke sana.” Baba Lanjut memberikan satu keyakinan dalam diri saya.
Kakek termenung panjang. Kakek berjalan dua tiga langkah keliling halaman pondok. Berhenti betul‐betul di depan kaki tangga pondok.
“Begini, kek Batin, kek Batin pergi dulu. Kami menyusul kemudian.” “Nanti tersesat! susah.”
“Tidak apa-apa, syarat utamanya bila kek Batin sampai di sana, tandai kawasan itu dengan kain merah,” Kakek mengemukakan rencananya.
“Cara?”
“Ikat kain merah pada bambu, dan bambu itu dicacakkan atas tanah lapang.”
“Baiklah.”
Baba Lanjut pun melangkah ke arah utara. Sebelum hilang ditelan oleh pohon‐pohon hutan yang tebal itu, Baba Lanjut sempat melambaikan tangan ke arah saya dan Kakek. Saya lihat Baba Lanjut cukup tangkas berjalan. Saya tidak dapat melihat bayang atau tubuhnya kecuali melihat pohon‐pohon yang bergerak saja.
Tidak sampai lima menit, saya tidak dapat mendengar suara Baba Lanjut menjawab teriakan dari Kakek.
Matahari bertambah tinggi, tetapi rasa dingin masih kuat mencengkeram diri. Bibir saya tergetar-getar. Kakek mengambil dua tiga helai daun kayu muda. Digosoknya ke telapak tangan beberapa kali.
“Kapan kita pergi ke Kampung Raja, Kek?” Tanya saya sesudah melihat Kakek tidak membuat suatu persiapan untuk pergi ke tempat tersebut.
Kakek tidak menjawab pertanyaan saya. Dia lalu menggetok-getok pangkal pohon jelutung dengan golok peraknya. Kakek menyuruh saya mencari ranting dan dahan kering. Saya patuh dengannya. Saya berhasil mengumpul satu bekas dahan dan ranting kering. Saya tempatkan di bawah pohon.
“Kapan kita akan pergi,” tanya saya sekali lagi.
Kakek melihat tajam ke arah saya. Dia kerutkan mukanya.
“Itu urusan aku. Bila aku ajak, kau ikut. Kalau tidak kau tunggu di sana,” Nada suara Kakek membayangkan kemarahan. Kakek lalu duduk atas tunggul buruk.
Memukul tanah dengan tangan kiri sebanyak tiga kali.
Matahari lalu memancar. Bunyi burung bersahut‐sahutan.
Saya duduk termenung di bawah pondok. Tidak berani saya melihat muka Kakek yang seperti muka harimau itu. Kakek merubah tempat duduk bersila di bawah pohon jelutung. Kedua belah lengannya diletakkan atas kepala lutut.
Spoiler for 3:
Mata Kakek melihat ke arah hutan. Tiba‐tiba saya lihat beberapa ekor monyet melompat di dahan sambil menjerit. Monyet‐monyet itu lalu melompat dari dahan ke dahan dengan cepat seperti dikejar sesuatu.
Dada saya berdebar, dari sebelah utara pondok, keluar dua ekor harimau belang berbadan besar. Salah seekor daripada harimau belang badannya besar. Salah seekor dari pada harimau itu ternyata mempunyai benjolan kaki yang sebelah kiri.
Harimau itu menuju ke arah Kakek yang duduk mencangkung.
Lebih kurang lima menit lamanya, salah seekor daripada harimau itu memutar ekornya mengusap dan menyapu wajah Kakek dengan ekornya. Kakek membiarkan harimau itu melakukan apa saja terhadap dirinya.
Bila sudah penat, harimau itu berputar dan duduk kembali di depan Kakek.
Harimau yang seekor lagi, menerpa ke arah Kakek dan menjilat wajah Kakek dengan lidahnya yang merah. Saya lihat kumis harimau yang keras itu beradu dengan kumis Kakek yang lembut. Kakek menepuk‐nepuk pangkal leher harimau itu dengan lemah lembut. Harimau itu mengaum kecil. Kakek memeluk leher harimau itu dengan penuh rasa kasih sayang.
“Kau rindu aku?” Terdengar suara Kakek.
Harimau menggerak‐gerakkan ekomya. Manakala harimau yang seekor lagi berguling‐guling di atas tanah sambil keempat‐empat kakinya mengarah ke langit.
“Aku dan cucuku selamat di sini. Pulanglah. Berkalih hari (sorri aku ndak paham kalimat ini) kau datang ke sini,” Selesai Kakek berbicara, dia bangun.
Harimau segera berdiri di sisinya.
“Pulanglah,” Tambah Kakek lagi sambil menepuk‐nepuk belakang harimau.
Kedua ekor harimau itu mengaum serentak. Dan berjalan tenang masuk ke dalam hutan tebal. Kakek mendekatii saya lalu menyuruh saya memasak nasi. Kakek juga memberitahu saya, bahwa dia akan turun ke sungai untuk menangkap ikan.
Kakek lalu meninggalkan saya di pondok. Saya lalu menghidupkan api. Membasuh beras dan memasak nasi. Begitu air nasi di dalam periuk kering, Kakek kembali dari sungai membawa ikan.
Kakek mencari kayu kecil dan ikan itu lalu dipanggang dan diangkatkan pada api. Semuanya berjalan dengan baik.
Bila matahari sudah berada betul‐betul di tengah kepala, saya dan Kakek lalu makan, Kakek berdiri di halaman melihat bayangannya di atas bumi.
“Sudah masuk sekarang,” Pendek saja suara Kakek.
Dan Pahamlah saya, bahwa Kakek menyuruh saya pergi ke sungai mengambil air sembahyang. Saya lalu pergi ke sungai. Setelah selesai sembahyang, Kakek lalu duduk di pangkal jelutung. Entah apa yang dibuat oleh Kakek di situ saya sendiri pun tidak tahu.
“Baba Lanjut sudah sampai ke tempat yang dituju,” Kakek memberitahu saya. Kakek lalu naik ke pondok. Mengambil pakaian dan barang‐barang keperluan. Saya juga berbuat begitu.
Kakek menutup kedua belah mata saya dengan kain hitam. Dia menyuruh saya berdiri di kaki tangga.
Saya akur dengan perintah itu. Kakek menyuruh saya meluruskan kedua belah tangan saya ke depan.
Spoiler for 4:
Darah saya tersirap. Saya menyentuh badan harimau. Saya merasa lidah harimau menjilat‐jilat kedua belah lengan saya. Kakek memimpin saya ke depan, lalu mendudukkan saya atas badan harimau.
“Kau kendarai dia sendirian,” Kata Kakek.
“Aku naik belakang sibenjol, tetapi jangan buka kain penutup mata, kalau kauingkar, kau tidak akan melihat dunia lagi,” Sambung Kakek. Ada nada ancaman dalam perasaan hati saya.
“Saya Paham, Kek.”
“Paham saja tidak mau , tapi mesti taat,” Sergah Kakek. “Saya taat, Kakek”
“Hum ... bagus.”
Saya merasa harimau yang saya tunggangi itu bergerak perlahan‐lahan, kemudian laju dan lalu laju, saya terasa kedua belah cuping telinga saya cukup dingin karena di sentuh angin.
Saya tidak dapat memastikan harimau yang saya naiki itu terbang atau berjalan di atas bumi.
Sementar saya dalam berpikir‐pikir itu, harimau yang saya naik berhenti berjalan.
Kakek pun membuka kain yang membalut ke dua belah mata saya.
“Bagus, kau sudah berani sekarang,” Serentak dengan ucapan itu, Kakek lalu memukul belakang saya dua tiga kali. Saya raba bibir saya yang terasa kebas. Saya gigit bibir hingga terasa sakit.
“Kau sudah berani sekarang,” Ulang Kakek sambil mengeluarkan bertih dari uncangnya (kantong).
Bertih itu ditaburkannya atas tanah lapang untuk makanan harimau peliharaannya. Sesudah memakan bertih, harimau itu mengaum kecil sambil menggoyang‐goyang ekornya. Kakek menepuk kepala harimau dan ia pun lalu masuk ke dalam hutan tebal lalu hilang.
“Di mana kita sekarang ini, Kek?"
“Kita ikuti tepi hutan ini menuju ke timur.” Kakek dan saya pun melangkah serentak melintas hutan, melanggar akar dan duri.
Sayup‐sayup terdengar bunyi kokok ayam hutan, diringi dengan salakan anjing.
Spoiler for 5:
Saya yakin bahwa kami memang tidak jauh dari perkampungan orang asli. Matahari bertambah condong, kabut tebal mula bangkit di sekitar kawasan hutan. Badan saya bertambah dingin. Kakek dan saya lalu meredah hutan, dari jauh sudah nampak asap mengepul dari puncak sebuah bukit kecil.
“Berhenti,” Kakek menowel bahu kanan saya.
Kami mendengar bunyi benda bergerak di sebelah kiri, saya lihat pohon‐pohon di situ bergerak sendiri.
Dada bertambah cemas. Seorang lelaki muncul di situ.
“Bagaimana kamu bisa cepat sampai?” Kata Baba Lanjut keheranan.
“Kita belum lagi merapikan pakaian,” Tambahnya sambil meraba dahi.
Kakek tidak menjawab pertanyaan itu. Kakek meminta Baba Lanjut membawanya segera ke perkampungan orang asli di Kampung Raja.
“Mari!” Ajak Baba Lanjut.
Kami sekali lagi menyelusup di bawah akar dan pohon hutan. Akhimya kami sampai ke sebuah kawasan perkampungan orang asli.
Baba Lanjut membawa kami ke sebuah rumah di tepi pohon meranti. Baba Lanjut memperkenalkan Kakek pada penghuni rumah itu.
Baba Lanjut juga meminta tuan rumah itu menyediakan sebuah tempat khusus untuk Kakek dan saya. Tempat itu mestilah bersih, tidak bisa ada anjing masuk ke situ. Tuan rumah itu sanggup menyediakan apa yang diminta oleh Baba Lanjut.
Saya dan Kakek ditempatkan di sebuah rumah kosong berdekatan dengan sebuah anak sungai.
Kakek gembira karena dia mudah mengambil air sembahyang dan mandi. Sesudah meletakkan barang‐barang yang di bawa ke dalam rumah itu, saya dan Kakek kembali ke rumah yang mula‐mula di temui itu.
Baba Lanjut sudah menanti di situ. Baba Lanjut berbicara dalam bahasa ibundanya (bahasa asli=native speaker) dengan tuan rumah itu.
Kemudian, Baba Lanjut membawa saya dan Kakek ke satu ruang di tengah rumah. Seorang gadis
orang asli terbaring di situ. Cantik juga raut wajahnya. Di ujung kaki itu terletak beberapa majalah film. Di ujung kepalanya terletak beberapa batang keladi dan pucuk ubi kayu.
Baba Lanjut memberitahu Kakek nama gadis itu ialah Kuntum.
Menurut Baba Lanjut, dulu Kuntum tinggal di Jalan Parang, bersekolah di situ. Gagal untuk melanjutkan pelajaran ke sekolah menengah di Tapah, dia terpaksa pulang ke kawasan Kampung Raja membantu orang tuanya bercocok‐tanam.
Hingga pada suatu hari, Kuntum telah ditangkap oleh satu makhluk hitam, ketika dia menanam padi di lereng bukit.
Tiga hari, tiga malam Kuntum hilang.
Akhimya, orang –orang kampung menemukan Kuntum duduk menangis di pangkal pohon bertam (Palm) yang berduri lebat.
Sewaktu dibawa pulang ke rumah, Kuntum meraung‐raung tidak tentu arah. Kuntum terpaksa diikat.
Dengan kepandaian Baba Lanjut, sakit Kuntum berangsur baik.
Anehnya, Kuntum tidak dapat bergerak ke mana‐mana waktu siang hari.
Dia terkapar di ruang khusus. Bila malam datang, Kuntum akan sehat seperti orang yang tidak terkena penyakit apa‐apa. Dia bisa memasak, membaca dan menyanyi. Kadang‐kadang turun ke tengah halaman menari dengan iringan bunyi suara bambu yang dihentakkan ke bumi.
Menjelang dinihari, satu makhluk hitam akan datang lalu memangku Kuntum untuk di bawa ke dalam hutan.
Bila fajar subuh menjelang di kaki langit makhluk hitam akan memulangkan Kuntum.
Diubah oleh mufidfathul 14-04-2017 03:44
erman123 memberi reputasi
1
Kutip
Balas
Tutup