- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#85
PART II
Baba Lanjut memberitahu Kakek, makhluk hitam itu sudah dua- tiga kali masuk ke perkampungannya. Malah, satu ketika anak buahnya hampir berhasil meringkus makhluk hitam itu dengan cara mengepungnya, tetapi makhluk itu berhasil melepaskan diri dengan berpegangan pada dahan Meranti condong.
Menurut Baba Lanjut, setiap kali makhluk hitam itu datang biasanya diiringi dengan bunyi burung hantu atau salak anjing hutan.
“Begini saja, besok kita cari bekas tapak kakinya," Kakek memberi suatu keputusan yang pasti.
Baba Lanjut menyetujui rencana Kakek itu.
“Sampai ke mana?” soal Baba Lanjut.
“Sampai ke manapun yang bisa kita cari,” Balas Kakek .
Baba Lanjut anggukkan kepala. Mereka meneruskan perbincangan.
Gendang telinga saya sudah tidak mampu mendengar obrolan Kakek dengan Baba Lanjut. Saya terlelap. Jika saya terjaga dari tidur, saya lihat Baba Lanjut sudah tiada dalam pondok.
Saya lihat Kakek masih termenung panjang. Saya malas mau meminta Kakek untuk tidur. Saya kira dia sedang memikirkan sesuatu. Saya tidur kembali.
Pagi itu, sehabis sembahyang subuh, Kakek mengajak saya mandi air embun.
Pagi di perkampungan orang asli cukup berkesan. Saya melihat matahari terbit di puncak banjaran gunung titiwangsa, kabut tipis berarak menuju ke dada langit, kicau burung hutan dan ayam hutan bersahut‐sahutan.
Setelah mandi air embun, saya membakar ubi kayu dan Kakek masak air panas. Bila matahari sudah meninggi, sayup‐sayup terdengar bunyi suara jentera dan pekerja hidro‐elektrik dan diikuti dengan bunyi ledakkan yang cukup kuat.
“Benda apa itu, kek?” Tanya saya.
“Mereka itu melubangi bukit untuk dibikin terowong air,” Begitulah Kakek memberi penjelasan.
Saya melihat ke arah bunyi ledakkan itu, saya lihat asap mengepul naik ke udara.
Selesai makan ubi bakar dan minum kopi, Baba Lanjut datang menemui Kakek. Dia mengajak Kakek mencari bekas tapak kaki makhluk hitam yang datang ke pondok malam tadi.
“Bisa, sebentar saya ganti pakaian!” Jawab Kakek.
Saya dan Kakek pun naik ke atas pondok. Baba Lanjut menanti di tanah. Dia memakai celana pendek kuning, berbaju hitam dengan parang kontet tersangkut di pinggang. Sumpit panjangnya tersandang di belakang.
Saya dan Kakek turun. Sesudah berkeliling di kawasan sekitar pondok. Saya menjumpai bekas tapak kaki binatang. Seperti bentuk telapak kaki gajah, mempunyai empat jari. Saya segera memberitahu Kakek dan Baba Lanjut.
“Memang inilah tapak kakinya!” Kata Baba Lanjut sambil mengkais dedaunan di kelilingi tapak kaki itu.
Baba Lanjut berhenti mengkais. Dia mengambil sesuatu dari permukaan tanah.
“Inilah bulunya,” Pekik Baba Lanjut sambil menunjukkan pada Kakek.
Saya dan Kakek pun mendekti Baba Lanjut.
Bulu hitam keras itu berpindah dari telapak tangan Baba Lanjut ke telapak tangan Kakek. Kakek melihat bulu hitam keras itu. Bila bulu itu terkena sinar matahari, warnanya menjadi abu-abu ke merah-merahan.
Kakek menyerahkan bulu itu pada Baba Lanjut. Dan Baba Lanjut memasukkan ke dalam bambu yang terletak di pinggang sebelah kirinya.
Berpandukan kepada bekas tapak kaki itu, kami bergerak menuju ke arah barat daya. Kakek dan Baba Lanjut menemukan beberapa ranting kayu patah terkena pijakan. Dua-tiga pohon hutan terlihat terkulai, bagaikan dirempuh sesuatu.
Bekas itu menghilang disebuah lembah mengarah ke sebuah anak bukit yang di pisahkan oleh anak sungai dengan perkampungan orang asli.
Matahari sudah berada betul‐betul di tengah kepala. Karena bekas tapak kaki makhluk itu tidak dapat dikenali lagi, Kakek dan Baba Lanjut membuat keputusan pulang ke pondok.
Kakek memberikan janji akan menolong Baba Lanjut mengatasi masalah tersebut, demi keselamatan warga kampungnya. Dan Baba Lanjut pun memberikan ikrar akan membantu Kakek dengan segala daya upaya untuk menangkap atau mengusir makhluk hitam itu juga.
Baru saja kami sampai di pondok, lima orang pemuda Melayu dengan topi putih berujung depan belakang, seakan‐akan bentuk topi keledar, menanti kami. Mereka berbicara sesama mereka.
“Ada apa ini?” tanya Baba Lanjut.
Kelima pemuda itu diam. Mata mereka melihat tepat ke arah saya dan Kakek . Salah seorang dari pemuda itu berbadan tegap, berkulit hitam manis menghampiri saya.
“Kamu orang asli atau orang Melayu?” tanyanya dengan berbisik pada saya. Saya tersenyum. Aneh juga rasanya, karena mereka tidak dapat membedakan saya dan Kakek dengan orang asli.
“Saya orang Melayu,” Jawab saya.
“Itu Kakek saya,” Muka anak muda yang bertanya kelihatan berubah.
Dia ulurkan tangan, bersalam dengan saya dan Kakek . “Saya Zamri,” Katanya pada Kakek .
“Kamu orang mana?”
“Saya orang Jeram, dekat Kuala Dipang, Kampar. Saya bekerja di sini.” Mendengar perkataan pemuda itu, Kakek menganggukkan kepala dan tersenyum. Kakek lalu mempersilahkan mereka duduk di atas tunggul kayu di halaman pondok.
Baba Lanjut berdiri di depan kumpulan pemuda tersebut.
Saya lalu duduk di sisi salah seorang anak muda yang berkulit hitam, berhidung mancung.
Tanpa diminta anak muda itu memberitahu saya namanya, Amiruddin, berasal dari Teluk Bahang, Pulau Pinang. Sudah dua tahun menjadi buruh hidro elektrik di situ.
“Ada apa?” Tanya Baba Lanjut lagi.
Zamri bangun sambil meraba‐raba batang hidungnya.
“Kawan kami terkena gigitan ular di kaki bukit, waktu membabat,” Katanya.
Baba Lanjut melihat muka Kakek dan menjelaskan, pekerja‐pekerja di situ memang kerap menemuinya jika menghadapi kesulitan seperti itu.
“Kenapa tidak dibawa ke dokter?” Kakek mengutarakan pertanyaan itu pada Zamri.
Baba Lanjut menggosok‐gosok batang parang kontetnya.
"Salah seorang kawan saya juga sudah menemui ketua, memang rencana mau dibawa ke rumah sakit Tapah, tetapi kami terpaksa menunggu mobil.
“Dia mana kawan kamu itu?” Saya bertanya pula.
“Ada dekat warung, menunggu mobil.”
Baba Lanjut membisikkan sesuatu ke telinga Kakek. Kemudian Baba Lanjut mengajak kelima pemuda itu pergi ke tempat kawan mereka yang terkena gigitan ular itu. Setelah melintas hutan dan menuruni dua buah anak bukit, akhirnya saya, dan Kakek dan Baba Lanjut sampai ke belakang warung.
Di situ, saya lihat seorang pemuda terbaring atas bangku. Seorang lelaki berbangsa Jerman berdiri di sisinya. Pangkal paha pemuda yang baru berusia lebih kurang dua puluh lima tahun itu diikat dengan kain dengan kuat. Lelaki berbangsa Jerman itu meletakkan sesuatu di bagian bawah paha yang sudah diikat itu.
Pemuda yang malang itu tidak bergerak. Dadanya kelihatan berombak. Kedua kelopak matanya tertutup rapat.
Zamri menghampiri lelaki Jerman yang berbadan tegap. Mereka berbicara dalam bahasa Inggeris. Dua tiga kali orang Jerman itu geleng kepala. Zamri lalu juga berbicara. Akhirnya, orang Jerman itu menghampiri Kakek.
“Migiteis,” Ujar lelaki itu.
Kakek anggukkan kepala. Lelaki itu berbicara sesuatu pada Kakek. Saya lihat kelopak mata Kakek nanar. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang Jerman itu. Bahasa yang diucapkan oleh orang Jerman itu terlalu asing buatnya.
“Ini ketua kami, dia setuju memberikan kesempatan pada kami mengobati kawan yang malang itu, mengikut cara kampung, sementara menanti mobil yang akan membawanya ke rumah sakit Tapah,” Zamri menjadi juru bahasa buat Kakek dan Baba Lanjut.
Orang Jerman yang berbadan tegap itu melihat muka Kakek dan Baba Lanjut. Sementara orang Jerman itu meninggalkan bagian belakang warung menuju ke bengkel untuk memperbaiki mesin, Baba Lanjut memerintahkan Zamri dan kawan‐kawannya mencari batang tepus (Achasma megalacheilos) dan pohon pisang karok (pisang hutan) serta daun langkap (palm) dengan secepat mungkin.
Tidak sampai dua puluh menit, barang‐barang yang dikehendaki oleh Baba Lanjut itu diperolehi, pemuda malang di atas bangku di bawa kesatu tempat lapang berdekatan dengan pohon jelutung mati dahan. Baba Lanjut meletakkan barang‐barang yang diinginkan di sekeliling bangku.
“Pukul berapa?” Tanya saya pada Zamri.
“Dekat pukul dua petang,”Jawabnya, tiba‐tiba Kakek menepuk bahu saya menyuruh saya diam.
Baba Lanjut mengambil batang tepus lalu dipukul ke pangkal pohon pinang hutan, dipalu ke tanah tujuh kali. Manakala pucuk daun langkap dikoyak‐koyak, separuh dibuang ke dalam hutan, separuh lagi dikunyahnya.
Pucuk langkap yang sudah hancur itu dtuangkan di pangkal bangku. Baba Lanjut menyuruh saya dan Kakek serta kawan‐kawan Zamri, duduk di satu tempat agak jauh jaraknya dengan bangku sambil berpesan jangan berbicara atau bangun. Dan gerak geriknya jangan ditanyakan.
Kami beredar.
Muka Zamri dan kawan‐kawan agak cemas, mereka agak bimbang kalau‐kalau yang terkena gigitan ular itu tidak pulih dalam waktu yang ditetapkan, mobil dari Batu Tiga Puluh Dua akan datang dan ketua mereka akan memerintahkan supaya kawan yang malang itu dibawa segera ke Rumah Sakit Tapah.
Baba Lanjut duduk mencangkung di depan bangku.
Dia berbicara dalam bahasa orang asli, seperti kicau burung hantu bunyinya. Setelah itu dia mengambil sehelai daun berhampiran tempat tersebut lalu meniupnya. Bunyi tiupan dari daun itu cukup nyaring dan gendang telinga saya sakit dibuatnya.
Baba Lanjut lalu meniupnya tanpa berhenti.
Peluh di dahi dan di belakang leher mulai keluar.
Tiba‐tiba saya melihat beberapa ekor ular keluar dari hutan kecil di belakang kami, semuanya menuju ke arah bangku pemuda malang itu. Anehnya, ular itu kemudian berputar balik kedalam hutan.
Baba Lanjut lalu meniup daun tanpa berhenti. Tanah lapang dekat bangku pemuda malang itu, sudah dipenuhi dengan berbagai bentuk ular, beberapa ekor ular menjalar dan memanjat belakang Baba Lanjut yang meniup daun. Saya merasa takut, belum pernah saya melihat ular sebanyak itu dengan beraneka rupa dan bentuk. Saya kira semua ular di dalam hutan sekitar itu berkumpul di situ.
Dada saya berdebar, tanpa memperdulikan kami, ular‐ular lalu berkeliaran keluar dan masuk ke dalam hutan belakang. Kami tidak bergerak. Kami benar‐benar jadi tunggul buruk. Saya melirik kemuka Kakek. Saya lihat wajahnya tetep tenang. Ular berkeliaran di kaki bangku. Baba Lanjut lalu meniup daun, ular yang begitu banyak di tanah lapang berangsur kurang.
Kawan Zamri yang malang masih terkapar atas bangku di panggang matahari yang keras. Dalam beberapa saat saja, semua ular yang ada di situ ghaib semuanya. Baba Lanjut duduk kembali, dia lalu meniup daun dengan sekuat hatinya. Seekor ular hitam, sebesar lengan kanan saya merayap keluar dari hutan di belakang kami. Ular itu bergerak dengan malas menuju ke arah Baba Lanjut. Ia berhenti betul‐betul di depan Baba Lanjut. Ular itu mengangkat kepala di depan muka Baba Lanjut.
Kepala Baba Lanjut dan kepala ular itu kelihatan sarna parasnya. Ular itu mematuk leher atau kepala Baba Lanjut. Ular hitam yang nampak berkilat di sinar matahari itu merebahkan badannya atas tanah seketika, kemudian mengangkat kepala lagi. Perbuatan itu dilakukannya sebanyak tiga kali berturut.
Nada tiupan Baba Lanjut berangsur-angsur pelan, iramanya yang tadinya keras berubah pada nada irama yang agak sayu sedikit.
Ular hitam di hadapannya bergerak malas menuju ke arah bangku, bergerak dengan bebasnya di atas tubuh kawan Zamri yang terkapar di situ. Ular itu berhenti persis di bagian dada kawan Zamri yang malang.
Ular mengangkat kepala Iagi ke arah Baba Lanjut, nada tiupan Baba Lanjut bertambah lemah, ular hitam rebahkan kepala Ialu merayap ke celah paha kawan Zamri dan berhenti di situ.
Saya Iihat ular itu membenamkan kepalanya di bawah ikatan pada kawan Zamri, lama juga ular itu mengisap sesuatu di situ.
Baba Lanjut bangun, bunyi tiupan dari daun di celah mulut Baba Lanjut bertambah perlahan.
Ular hitam berputar atas bangku, kemudian turun ke tanah dengan gerak yang amat perlahan sekali.
Begitu ular hitam itu sampai di hadapan Baba Lanjut, ular hitam itu sudah tidak bergerak Iagi. Baba Lanjut mendekati kawan Zamri di atas bangku, daun hutan yang di buat serunai dioleskan ke bagian betis kawan Zamri yang terkena gigitan ular itu.
Baba Lanjut menepuk dada kawan Zamri.
Kawan Zamri di atas bangku menggerakkan kaki dan tangan. Baba Lanjut menggamit kami datang ke arahnya.
“Dia sudah sadar dari pingsan, bisanya sudah dihisap oleh ular yang mematuknya,” Kata Baba Lanjut
Kawan Zamri yang malang pun bangun. Dia turun dari bangku.
Tidak lama kemudian mobil dari Batu Tiga PuIuh Dua pun sampai dan orang Jerman yang mengepalai pekerja di situ datang ke arah kami.
Mukanya bengis, dia memaki Zamri dan kawan‐kawannya karena membawa pemuda yang kena gigitan ular ke tempat lain tanpa memberitahukannya.
Orang Jerman itu terkejut, bila dia melihat pemuda yang kena gigitan uIar itu sudah bisa berdiri serta berjalan ke arahnya dan lalu bersalam dengannya.
Orang Jerman memeluk Kakek dan Baba Lanjut sebagai tanda mengucapkan ribuan terima kasih karena berhasil menyelamatkan pekerjanya.
“Beri dia rehat duIu, petang besok saya datang lagi,” Kata Baba Lanjut pada Zamri.
Baba Lanjut mengambil bangkai ular hitam itu dan dibelitkannya ke leher.
“Buat apa?” Tanya duduk penuh ragu.
“Mesti dikubur,”Jawabnya.
Kakek dan saya berpandangan.
“Ilmu inilah yang mau saya pelajarit dari kamu,” Kakek menyatakan hasratnya.
“Bisa, tapi kamu mesti tolong saya menghancurkan makhluk hitam duIu.”
“Saya coba, kek Batin.”
Kami pun meninggalkan kawasan pekerja hidro elektrik menuju kearah perkampungan orang asli.
Begitu sampai di pondok, Kakek lalu duduk di atas tunggul buruk di halaman pondok. Sedangkan Baba Lanjut lalu pulang ke rumahnya.
Spoiler for 1:
Baba Lanjut memberitahu Kakek, makhluk hitam itu sudah dua- tiga kali masuk ke perkampungannya. Malah, satu ketika anak buahnya hampir berhasil meringkus makhluk hitam itu dengan cara mengepungnya, tetapi makhluk itu berhasil melepaskan diri dengan berpegangan pada dahan Meranti condong.
Menurut Baba Lanjut, setiap kali makhluk hitam itu datang biasanya diiringi dengan bunyi burung hantu atau salak anjing hutan.
“Begini saja, besok kita cari bekas tapak kakinya," Kakek memberi suatu keputusan yang pasti.
Baba Lanjut menyetujui rencana Kakek itu.
“Sampai ke mana?” soal Baba Lanjut.
“Sampai ke manapun yang bisa kita cari,” Balas Kakek .
Baba Lanjut anggukkan kepala. Mereka meneruskan perbincangan.
Gendang telinga saya sudah tidak mampu mendengar obrolan Kakek dengan Baba Lanjut. Saya terlelap. Jika saya terjaga dari tidur, saya lihat Baba Lanjut sudah tiada dalam pondok.
Saya lihat Kakek masih termenung panjang. Saya malas mau meminta Kakek untuk tidur. Saya kira dia sedang memikirkan sesuatu. Saya tidur kembali.
Pagi itu, sehabis sembahyang subuh, Kakek mengajak saya mandi air embun.
Pagi di perkampungan orang asli cukup berkesan. Saya melihat matahari terbit di puncak banjaran gunung titiwangsa, kabut tipis berarak menuju ke dada langit, kicau burung hutan dan ayam hutan bersahut‐sahutan.
Setelah mandi air embun, saya membakar ubi kayu dan Kakek masak air panas. Bila matahari sudah meninggi, sayup‐sayup terdengar bunyi suara jentera dan pekerja hidro‐elektrik dan diikuti dengan bunyi ledakkan yang cukup kuat.
“Benda apa itu, kek?” Tanya saya.
“Mereka itu melubangi bukit untuk dibikin terowong air,” Begitulah Kakek memberi penjelasan.
Saya melihat ke arah bunyi ledakkan itu, saya lihat asap mengepul naik ke udara.
Selesai makan ubi bakar dan minum kopi, Baba Lanjut datang menemui Kakek. Dia mengajak Kakek mencari bekas tapak kaki makhluk hitam yang datang ke pondok malam tadi.
“Bisa, sebentar saya ganti pakaian!” Jawab Kakek.
Saya dan Kakek pun naik ke atas pondok. Baba Lanjut menanti di tanah. Dia memakai celana pendek kuning, berbaju hitam dengan parang kontet tersangkut di pinggang. Sumpit panjangnya tersandang di belakang.
Saya dan Kakek turun. Sesudah berkeliling di kawasan sekitar pondok. Saya menjumpai bekas tapak kaki binatang. Seperti bentuk telapak kaki gajah, mempunyai empat jari. Saya segera memberitahu Kakek dan Baba Lanjut.
“Memang inilah tapak kakinya!” Kata Baba Lanjut sambil mengkais dedaunan di kelilingi tapak kaki itu.
Baba Lanjut berhenti mengkais. Dia mengambil sesuatu dari permukaan tanah.
“Inilah bulunya,” Pekik Baba Lanjut sambil menunjukkan pada Kakek.
Spoiler for 2:
Saya dan Kakek pun mendekti Baba Lanjut.
Bulu hitam keras itu berpindah dari telapak tangan Baba Lanjut ke telapak tangan Kakek. Kakek melihat bulu hitam keras itu. Bila bulu itu terkena sinar matahari, warnanya menjadi abu-abu ke merah-merahan.
Kakek menyerahkan bulu itu pada Baba Lanjut. Dan Baba Lanjut memasukkan ke dalam bambu yang terletak di pinggang sebelah kirinya.
Berpandukan kepada bekas tapak kaki itu, kami bergerak menuju ke arah barat daya. Kakek dan Baba Lanjut menemukan beberapa ranting kayu patah terkena pijakan. Dua-tiga pohon hutan terlihat terkulai, bagaikan dirempuh sesuatu.
Bekas itu menghilang disebuah lembah mengarah ke sebuah anak bukit yang di pisahkan oleh anak sungai dengan perkampungan orang asli.
Matahari sudah berada betul‐betul di tengah kepala. Karena bekas tapak kaki makhluk itu tidak dapat dikenali lagi, Kakek dan Baba Lanjut membuat keputusan pulang ke pondok.
Kakek memberikan janji akan menolong Baba Lanjut mengatasi masalah tersebut, demi keselamatan warga kampungnya. Dan Baba Lanjut pun memberikan ikrar akan membantu Kakek dengan segala daya upaya untuk menangkap atau mengusir makhluk hitam itu juga.
Baru saja kami sampai di pondok, lima orang pemuda Melayu dengan topi putih berujung depan belakang, seakan‐akan bentuk topi keledar, menanti kami. Mereka berbicara sesama mereka.
“Ada apa ini?” tanya Baba Lanjut.
Kelima pemuda itu diam. Mata mereka melihat tepat ke arah saya dan Kakek . Salah seorang dari pemuda itu berbadan tegap, berkulit hitam manis menghampiri saya.
“Kamu orang asli atau orang Melayu?” tanyanya dengan berbisik pada saya. Saya tersenyum. Aneh juga rasanya, karena mereka tidak dapat membedakan saya dan Kakek dengan orang asli.
“Saya orang Melayu,” Jawab saya.
“Itu Kakek saya,” Muka anak muda yang bertanya kelihatan berubah.
Dia ulurkan tangan, bersalam dengan saya dan Kakek . “Saya Zamri,” Katanya pada Kakek .
“Kamu orang mana?”
“Saya orang Jeram, dekat Kuala Dipang, Kampar. Saya bekerja di sini.” Mendengar perkataan pemuda itu, Kakek menganggukkan kepala dan tersenyum. Kakek lalu mempersilahkan mereka duduk di atas tunggul kayu di halaman pondok.
Baba Lanjut berdiri di depan kumpulan pemuda tersebut.
Saya lalu duduk di sisi salah seorang anak muda yang berkulit hitam, berhidung mancung.
Tanpa diminta anak muda itu memberitahu saya namanya, Amiruddin, berasal dari Teluk Bahang, Pulau Pinang. Sudah dua tahun menjadi buruh hidro elektrik di situ.
“Ada apa?” Tanya Baba Lanjut lagi.
Zamri bangun sambil meraba‐raba batang hidungnya.
“Kawan kami terkena gigitan ular di kaki bukit, waktu membabat,” Katanya.
Baba Lanjut melihat muka Kakek dan menjelaskan, pekerja‐pekerja di situ memang kerap menemuinya jika menghadapi kesulitan seperti itu.
“Kenapa tidak dibawa ke dokter?” Kakek mengutarakan pertanyaan itu pada Zamri.
Baba Lanjut menggosok‐gosok batang parang kontetnya.
"Salah seorang kawan saya juga sudah menemui ketua, memang rencana mau dibawa ke rumah sakit Tapah, tetapi kami terpaksa menunggu mobil.
“Dia mana kawan kamu itu?” Saya bertanya pula.
“Ada dekat warung, menunggu mobil.”
Spoiler for 3:
Baba Lanjut membisikkan sesuatu ke telinga Kakek. Kemudian Baba Lanjut mengajak kelima pemuda itu pergi ke tempat kawan mereka yang terkena gigitan ular itu. Setelah melintas hutan dan menuruni dua buah anak bukit, akhirnya saya, dan Kakek dan Baba Lanjut sampai ke belakang warung.
Di situ, saya lihat seorang pemuda terbaring atas bangku. Seorang lelaki berbangsa Jerman berdiri di sisinya. Pangkal paha pemuda yang baru berusia lebih kurang dua puluh lima tahun itu diikat dengan kain dengan kuat. Lelaki berbangsa Jerman itu meletakkan sesuatu di bagian bawah paha yang sudah diikat itu.
Pemuda yang malang itu tidak bergerak. Dadanya kelihatan berombak. Kedua kelopak matanya tertutup rapat.
Zamri menghampiri lelaki Jerman yang berbadan tegap. Mereka berbicara dalam bahasa Inggeris. Dua tiga kali orang Jerman itu geleng kepala. Zamri lalu juga berbicara. Akhirnya, orang Jerman itu menghampiri Kakek.
“Migiteis,” Ujar lelaki itu.
Kakek anggukkan kepala. Lelaki itu berbicara sesuatu pada Kakek. Saya lihat kelopak mata Kakek nanar. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang Jerman itu. Bahasa yang diucapkan oleh orang Jerman itu terlalu asing buatnya.
“Ini ketua kami, dia setuju memberikan kesempatan pada kami mengobati kawan yang malang itu, mengikut cara kampung, sementara menanti mobil yang akan membawanya ke rumah sakit Tapah,” Zamri menjadi juru bahasa buat Kakek dan Baba Lanjut.
Orang Jerman yang berbadan tegap itu melihat muka Kakek dan Baba Lanjut. Sementara orang Jerman itu meninggalkan bagian belakang warung menuju ke bengkel untuk memperbaiki mesin, Baba Lanjut memerintahkan Zamri dan kawan‐kawannya mencari batang tepus (Achasma megalacheilos) dan pohon pisang karok (pisang hutan) serta daun langkap (palm) dengan secepat mungkin.
Tidak sampai dua puluh menit, barang‐barang yang dikehendaki oleh Baba Lanjut itu diperolehi, pemuda malang di atas bangku di bawa kesatu tempat lapang berdekatan dengan pohon jelutung mati dahan. Baba Lanjut meletakkan barang‐barang yang diinginkan di sekeliling bangku.
“Pukul berapa?” Tanya saya pada Zamri.
“Dekat pukul dua petang,”Jawabnya, tiba‐tiba Kakek menepuk bahu saya menyuruh saya diam.
Baba Lanjut mengambil batang tepus lalu dipukul ke pangkal pohon pinang hutan, dipalu ke tanah tujuh kali. Manakala pucuk daun langkap dikoyak‐koyak, separuh dibuang ke dalam hutan, separuh lagi dikunyahnya.
Pucuk langkap yang sudah hancur itu dtuangkan di pangkal bangku. Baba Lanjut menyuruh saya dan Kakek serta kawan‐kawan Zamri, duduk di satu tempat agak jauh jaraknya dengan bangku sambil berpesan jangan berbicara atau bangun. Dan gerak geriknya jangan ditanyakan.
Kami beredar.
Spoiler for 4:
Muka Zamri dan kawan‐kawan agak cemas, mereka agak bimbang kalau‐kalau yang terkena gigitan ular itu tidak pulih dalam waktu yang ditetapkan, mobil dari Batu Tiga Puluh Dua akan datang dan ketua mereka akan memerintahkan supaya kawan yang malang itu dibawa segera ke Rumah Sakit Tapah.
Baba Lanjut duduk mencangkung di depan bangku.
Dia berbicara dalam bahasa orang asli, seperti kicau burung hantu bunyinya. Setelah itu dia mengambil sehelai daun berhampiran tempat tersebut lalu meniupnya. Bunyi tiupan dari daun itu cukup nyaring dan gendang telinga saya sakit dibuatnya.
Baba Lanjut lalu meniupnya tanpa berhenti.
Peluh di dahi dan di belakang leher mulai keluar.
Tiba‐tiba saya melihat beberapa ekor ular keluar dari hutan kecil di belakang kami, semuanya menuju ke arah bangku pemuda malang itu. Anehnya, ular itu kemudian berputar balik kedalam hutan.
Baba Lanjut lalu meniup daun tanpa berhenti. Tanah lapang dekat bangku pemuda malang itu, sudah dipenuhi dengan berbagai bentuk ular, beberapa ekor ular menjalar dan memanjat belakang Baba Lanjut yang meniup daun. Saya merasa takut, belum pernah saya melihat ular sebanyak itu dengan beraneka rupa dan bentuk. Saya kira semua ular di dalam hutan sekitar itu berkumpul di situ.
Dada saya berdebar, tanpa memperdulikan kami, ular‐ular lalu berkeliaran keluar dan masuk ke dalam hutan belakang. Kami tidak bergerak. Kami benar‐benar jadi tunggul buruk. Saya melirik kemuka Kakek. Saya lihat wajahnya tetep tenang. Ular berkeliaran di kaki bangku. Baba Lanjut lalu meniup daun, ular yang begitu banyak di tanah lapang berangsur kurang.
Kawan Zamri yang malang masih terkapar atas bangku di panggang matahari yang keras. Dalam beberapa saat saja, semua ular yang ada di situ ghaib semuanya. Baba Lanjut duduk kembali, dia lalu meniup daun dengan sekuat hatinya. Seekor ular hitam, sebesar lengan kanan saya merayap keluar dari hutan di belakang kami. Ular itu bergerak dengan malas menuju ke arah Baba Lanjut. Ia berhenti betul‐betul di depan Baba Lanjut. Ular itu mengangkat kepala di depan muka Baba Lanjut.
Kepala Baba Lanjut dan kepala ular itu kelihatan sarna parasnya. Ular itu mematuk leher atau kepala Baba Lanjut. Ular hitam yang nampak berkilat di sinar matahari itu merebahkan badannya atas tanah seketika, kemudian mengangkat kepala lagi. Perbuatan itu dilakukannya sebanyak tiga kali berturut.
Nada tiupan Baba Lanjut berangsur-angsur pelan, iramanya yang tadinya keras berubah pada nada irama yang agak sayu sedikit.
Ular hitam di hadapannya bergerak malas menuju ke arah bangku, bergerak dengan bebasnya di atas tubuh kawan Zamri yang terkapar di situ. Ular itu berhenti persis di bagian dada kawan Zamri yang malang.
Spoiler for 5:
Ular mengangkat kepala Iagi ke arah Baba Lanjut, nada tiupan Baba Lanjut bertambah lemah, ular hitam rebahkan kepala Ialu merayap ke celah paha kawan Zamri dan berhenti di situ.
Saya Iihat ular itu membenamkan kepalanya di bawah ikatan pada kawan Zamri, lama juga ular itu mengisap sesuatu di situ.
Baba Lanjut bangun, bunyi tiupan dari daun di celah mulut Baba Lanjut bertambah perlahan.
Ular hitam berputar atas bangku, kemudian turun ke tanah dengan gerak yang amat perlahan sekali.
Begitu ular hitam itu sampai di hadapan Baba Lanjut, ular hitam itu sudah tidak bergerak Iagi. Baba Lanjut mendekati kawan Zamri di atas bangku, daun hutan yang di buat serunai dioleskan ke bagian betis kawan Zamri yang terkena gigitan ular itu.
Baba Lanjut menepuk dada kawan Zamri.
Kawan Zamri di atas bangku menggerakkan kaki dan tangan. Baba Lanjut menggamit kami datang ke arahnya.
“Dia sudah sadar dari pingsan, bisanya sudah dihisap oleh ular yang mematuknya,” Kata Baba Lanjut
Kawan Zamri yang malang pun bangun. Dia turun dari bangku.
Tidak lama kemudian mobil dari Batu Tiga PuIuh Dua pun sampai dan orang Jerman yang mengepalai pekerja di situ datang ke arah kami.
Mukanya bengis, dia memaki Zamri dan kawan‐kawannya karena membawa pemuda yang kena gigitan ular ke tempat lain tanpa memberitahukannya.
Orang Jerman itu terkejut, bila dia melihat pemuda yang kena gigitan uIar itu sudah bisa berdiri serta berjalan ke arahnya dan lalu bersalam dengannya.
Orang Jerman memeluk Kakek dan Baba Lanjut sebagai tanda mengucapkan ribuan terima kasih karena berhasil menyelamatkan pekerjanya.
“Beri dia rehat duIu, petang besok saya datang lagi,” Kata Baba Lanjut pada Zamri.
Baba Lanjut mengambil bangkai ular hitam itu dan dibelitkannya ke leher.
“Buat apa?” Tanya duduk penuh ragu.
“Mesti dikubur,”Jawabnya.
Kakek dan saya berpandangan.
“Ilmu inilah yang mau saya pelajarit dari kamu,” Kakek menyatakan hasratnya.
“Bisa, tapi kamu mesti tolong saya menghancurkan makhluk hitam duIu.”
“Saya coba, kek Batin.”
Kami pun meninggalkan kawasan pekerja hidro elektrik menuju kearah perkampungan orang asli.
Begitu sampai di pondok, Kakek lalu duduk di atas tunggul buruk di halaman pondok. Sedangkan Baba Lanjut lalu pulang ke rumahnya.
Diubah oleh mufidfathul 14-04-2017 03:37
ciptoroso dan erman123 memberi reputasi
2
Kutip
Balas
Tutup