- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#84
ACT. 05: MAKHLUK HITAM
PART I
Saya dan Kakek pergi ke Cangkat Pinggang dekat Kampar untuk urusan membeli tanah dusun.
Dua malam tidur di rumah ketua Kampung Cangkat Pinggan.
Setelah itu, kami bertolak ke Tapah. Di Tapah Kakek menginap dua hari di rumah kawannya di Lubuk Katak kira‐kira suku batu ( suku=1/4, 1 batu= 1.6 km.)* dari Pasar Tapah.
Keesokan harinya saya dengan Kakek bertolak dari Pasar Tapah menuju ke Cameran Highlands. Sampai di Batu enam belas Kakek memetik lonceng bus (zaman dulu kalau mau menghentikan bus masih pakai membunyikan lonceng di pintu keluar). Kami turun di situ. Dari trotoar jalan kami memasuki satu lorong yang kiri kanannya di tumbuhi pohon‐pohon hutan. Di ujung lorong itu terdapat sebuah perkampungan orang asli*.
Tidak jauh dari kampung orang asli pada masa itu, terdapat berberapa buah bangunan pekerja‐pekerja yang terlibat dengan pembangunan proyek haidro elektrik. Kebanyakan pekerjanya terdiri dari pemuda‐pemuda Melayu terutama bagian buruh kasar seperti menggali terowong dan meratakan batu. Aktifitas pekerja‐pekerja itu dapat dilihat dengan mudah dari perkampungan orang asli yang terletak di kawasan tanah yang tinggi. Sekarang proyek itu sudah siap.
Kedatangan saya disambut dengan baik oleh bomoh (seseperti dukun, pawang, paranormal, cenayang) orang asli yang berwajah agak garang itu. Namanya Baba Lanjut. Dia mempersilahkan saya dan Kakek duduk di anjung rumahnya.
Apa yang membuat rasa kurang senang dalam diri saya, adalah apabila melihat anjing kepunyaannya berkeliaran dalam rumah.
Hati saya agak terhibur karena dari radionya terdengar suara ‘Saloma’ mendendangkan lagu “Mengapa Dirindu” yang menjadi lagu top ketika itu.
Karena mau menghormati Kakek dan saya yang diketahuinya tidak begitu senang dengan keadaan rumahnya, maka kemudian dia menempatkan kami di sebuah pondok yang keadaannya cukup bersih. Lengkap dengan tempat tidur dan tikar sembahyang. Menurut Baba Lanjut, pondok itu memang dikhususkan untuk orang Melayu dan orang Islam bermalam bila mereka berobat kepadanya.
Dalam pertemuan itu Baba Lanjut berkali‐kali minta ampun dan maaf atas perbuatannya di masa lalu. Malah, dia berkenan mengajar beberapa ilmu yang ada pada dirinya untuk Kakek**.
Niatnya itu tidak ditolak. Kakek mau menbenjol ilmu darinya asalkan ilmu yang ditbenjol itu tidak bertentangan dengan hukum‐hukum Allah.
Untuk tujuan itu, Kami terpaksa tinggal di perkampungan orang asli itu selama dua minggu. Di sini tugas saya bertambah lagi. Terpaksa menjadi tukang masak di samping berburu ayam hutan dan pelanduk untuk lauk makan tengah hari dan malam hari. Beras disediakan oleh Baba Lanjut dari hasil tanaman padi humanya di lereng bukit.
Di luar hujan turun sangat lebat. Kilat dan guruh bersahutan. Cahaya kilat yang masuk ke dalam pondok menjilat wajah Kakek, Baba Lanjut, dan saya.
*orang asli=penduduk asli Malaysia
** Untuk kisah kesalahannya nanti ada kisahnya tersendiri
Bunyi hujan berangsur reda, diganti dengan bunyi angin yang cukup keras menampar dahan dan ranting pohon hutan.
Api pelita meliuk‐liuk mengikuti arah tiupan angin.
Untuk menjaga nyala api pelita dari padam, Baba Lanjut segera menaruh daun bertam (sejenis pohon palm) muda di sekelilingi badan pelita.
Beberapa bagian dari daun bertam muda itu dibuat lubang kecil untuk mendapatkan cahaya dari pelita tersebut.
Di luar hujan sudah berhenti . Angin juga sudah tidak sekeras tadi membelai ranting dan dahan pohon hutan. Bunyi jangkrik cukup gamat. Sekali‐sekali terdengar lolongan anjing hutan sayup‐sayup. Bunyi suara burung tukang(Caprimulgus) cukup nyaring. Saya melihat jam saku Kakek yang bertali tembaga di ujung lututnya.
Baba Lanjut melunjurkan ke dua kakinya. Kulit belakang Baba Lanjut bertemu dengan dinding pondok yang terbuat dari kulit kayu Merbau dan Jelutung.
“Ilmu kita bukan untuk menghancurkan orang, ilmu kita untuk menolong orang,” keluh Baba Lanjut.
“Ilmu kita pun begitu juga,” Timpal Kakek.
Beberapa ekor nyamuk hutan berterbangan dalam pondok.
Melihat saya resah dengan nyamuk itu, Baba Lanjut menepuk tangannya. Saya melihat nyamuk yang berterbangan itu terbang menuju ke arahnya. Baba Lanjut menadahkan kedua belah telapak tangannya.
Nyamuk‐nyamuk itu jatuh di atas telapak tanganya.
“Pulanglah, jangan ganggu kami!” kata Baba Lanjut .
Nyamuk di telapak tangan segera terbang menuju ke tepi dinding dan lalu keluar.
Bunyi suara jangkrik di luar pondok berangsur sepi. Malam bertambah dingin. Dua kali saya menguap panjang. Kakek dan Baba Lanjut masih lalu berbicara.
“Kamu mau ilmu pengasihanan?” Kelopak mata saya terasa ringan, mata saya bersinar melihat kearah muka Baba Lanjut.
Saya mengisut ke arahnya, kepala lutut saya dengan kepala lutut Baba Lanjut bertemu.
“Caranya?” Tanya Kakek.
Hati saya cukup gembira. Saya memang mengharapkan Baba Lanjut menurunkan ilmu itu pada Kakek dan sekaligus saya akan dapat mempelajari ilmu itu. Saya kira, ilmu pengasihan itu cukup baik untuk saya. Jika saya mempunyai ilmu pengasihan, saya bisa memilih calon isteri dari perawan yang wajahnya cantik dari kalangan orang yang berada. Kalau saya di panggil untuk wawancara suatu pekerjaan, ilmu pengasihan dapat menolong saya.
Orang yang mewawancarai saya akan timbul rasa kasih pada saya, lalu memberikan pekerjaan, walaupun tidak ada Ijasah, pikir saya dalam hati.
Baba Lanjut mengunyah sesuatu di dalam mulut. Saya tidak tahu apa yang dikunyahnya.
“Ilmu itu saya tidak mau. Bagilah saya ilmu‐ilmu yang lain,” ujar Kakek secara tidak langsung membunuh harapan yang tumbuh dalam hati saya. Saya mengeluh dan Kakek tersenyum melihat saya, bagaikan tahu apa yang bergolak dalam dada saya.
“Kalau kamu tidak mau, berikan pada cucu kamu,” Baba Lanjut mengemukakan rencana.
Sekali lagi saya melihat senyum Kakek bermain di bibir.
“Jodoh, pertemuan dan rezeki di tentukan oleh Allah yang Maha Besar,” Kakek menepis bicara Baba Lanjut.
“Kita disuruh berusaha.”
“Bukan dengan cara itu kek Batin(Ungkapan hormat untuk tetua), lagi pula ilmu pengasihan ini, banyak mudharatnya daripada manfaatnya, terutama kalau diberikan ke tangan anak muda.”
“Tujuannya baik ”
“Memang tujuannya baik.Tapi tujuan baiknya sangat sedikit. Yang banyak digunakan adalah tujuan yang jahat. Ilmu ini banyak godaannya.”
“Jadi, kamu tidak mau? Kalau kamu mau , saya bisa bawa naik bukit untuk mencari ibu minyaknya.”
“Terima kasih sajalah kek Batin,” suara Kakek merendah.
Baba Lanjut terdiam. Suara anjing hutan makin keras. Bunyi burung hantu dan celepuk bersahut‐sahutan di puncak bukit. Sesekali saya mendengar bunyi orang berjalan di bawah pondok. Malam bertambah larut.
Kakek bangun, lalu membuka pondok. Kakek terkejut. Dua langkah dia mundur ke belakang. Muka Kakek pucat.
Baba Lanjut menerjang ke arahnya. Saya juga menerjang ke muka pintu.
Kaki kami bagaikan terpaku di lantai. Di muka pintu, berdiri satu makhluk berbulu hitam tebal. Dahi makhluk itu berbulu. Lubang hidungnya cukup luas. Gigi putih makhluk itu menyeringai, bagaikan mau menelan kami.
Saya amati makhluk itu dengan seksama. Bentuknya seperti seekor monyet besar. Tiba‐tiba Baba Lanjut bergolek diatas lantai menuju ke arah pelita. Dia cabut daun bertam, lalu membakar kain pelekat(kain sarung) Kakek yang tersangkut dekat dinding. Dengan mendadak api berkobar dalam pondok kami. Dan makhluk yang berdiri di kaki tangga bersuara, bagaikan suara beruang jantan tercium buah kelubi.
Makhluk itu mengayun‐ayunkan tangannya ke kiri dan ke kanan. Kemudian lengannya yang berbulu itu menutup kedua belah matanya. Makhluk hitam itu menjerit dengan sekuat hatinya, lalu menendang dinding dekat pintu. Dinding yang terbuat dari kulit kayu itu runtuh dan pecah berderai.
Makhluk itu melompat ke tanah dan diikuti dengan bunyi kayu tangga patah. Makhluk itu pun menghilang dalam kegelapan malam yang pekat itu.
Kakek, saya dan Baba Lanjut kembali duduk di ruang tengah pondok, sesudah api yang membakar kain pelekat Kakek dipadamkan.”Benda apa itu kek Batin?” Tanya Kakek dengan tenang.
Baba Lanjut terdiam. Dia melihat dengan liar ke kiri dan ke kanan.”lnilah masalah yang kami hadapi sekarang,” Bisik Baba Lanjut pada Kakek. Kakek anggukkan kepala seperti itik angsa bertemu kawan.
Saya resah sendiri. Bimbang benar hati saya jikalau makhluk hitam itu datang lagi.”Saya harap kamu bisa menolong kami dalam hal ini!” Baba Lanjut mengutarakan niat hatinya.
Kakek melihat lantai yang terbuat dari bambu itu.
Baba Lanjut nampak resah. Sesekali dia membetulkan parang yang tersangkut di pinggangnya.”Benda itu cuma takut pada api saja,” Sambung Baba Lanjut dengan rasa kesal. Dan barulah saya paham, kenapa di waktu sore di kaki lantai, orang asli membakar kayu besar yang dilonggokkan di sekeliling rumah mereka. Api dibiarkan menyala hingga subuh.
Baba Lanjut berjalan hilir mudik dalam ruang pondok. Lalu berhenti di dekat bendul pemisah antara ruang tengah dengan dapur. Dia duduk dekat bendul sambil menakik ‐nakik kayu bendul dengan parang kontetnya.
Kakek hanya memperhatikan saja tingkah laku Baba Lanjut. Dari gerak‐gerik itu, Kakek dapat menduga bahwa penghulu orang asli itu diamuk rasa resah yang tidak menentu. Baba Lanjut melihat ke arah Kakek. Kakek mengangkat kepala lalu pandangan mereka bersambung.
”Yang kita resahkan ini tentang keselamatan warga kampung kita, terutama anak‐anak dara,” Bah Lanjut mengeluh.
“Sebab?”
“Binatang sial itu, selalu mencari anak dara! Sudah dua orang anak kampung saya di kampung bukit sebelah mati karenanya.”
“Dahsyat itu.”
“Karena itulah, kalau bisa saya mau minta tolong dari kamu, walaupun saya handal tetapi dalam hal ini saya mengaku kalah,” Baba Lanjut mengakui kelemahan yang terdapat pada dirinya.
Kakek kerutkan dahi.
Saya rebahkan badan di atas lantai pondok. Baba Lanjut bangun dan mengambil kain dari dalam tas Kakek. Kain itu diberikan pada saya.
“Selimut badan kau, dingin ini!” Ujamya sambil ketawa kecil.
Baba Lanjut lalu mendekati Kakek. Mereka berbincang. Apa yang dibahas oleh mereka dapat ditangkap oleh gendang telinga saya walaupun kelopak mata saya terpejam rapat.
Pikiran saya berperang sendiri. Bentuk makhluk hitam yang besar itu menari‐nari dalam kepala saya. Bagaimana jika saat saya terlelap makhluk itu datang, lalu membawa saya ke tempatnya? Barangkali makhluk itu memakan daging manusia. Apakah daging paha saya akan dimakannya?
Semuanya berputar‐putar dalam kepala saya. Kakek lalu juga berbincang dengan Baba Lanjut. Saya putar sisi kanan badan. Setiap kali badan saya bergerak, lantai bambu berbunyi kiuk‐kiuk. Bila bunyi itu terdengar berkali-kali, saya merasa senang, seperti satu nada irama lagu yang terjadi tanpa penciptanya.
PART I
Spoiler for 1:
Saya dan Kakek pergi ke Cangkat Pinggang dekat Kampar untuk urusan membeli tanah dusun.
Dua malam tidur di rumah ketua Kampung Cangkat Pinggan.
Setelah itu, kami bertolak ke Tapah. Di Tapah Kakek menginap dua hari di rumah kawannya di Lubuk Katak kira‐kira suku batu ( suku=1/4, 1 batu= 1.6 km.)* dari Pasar Tapah.
Keesokan harinya saya dengan Kakek bertolak dari Pasar Tapah menuju ke Cameran Highlands. Sampai di Batu enam belas Kakek memetik lonceng bus (zaman dulu kalau mau menghentikan bus masih pakai membunyikan lonceng di pintu keluar). Kami turun di situ. Dari trotoar jalan kami memasuki satu lorong yang kiri kanannya di tumbuhi pohon‐pohon hutan. Di ujung lorong itu terdapat sebuah perkampungan orang asli*.
Tidak jauh dari kampung orang asli pada masa itu, terdapat berberapa buah bangunan pekerja‐pekerja yang terlibat dengan pembangunan proyek haidro elektrik. Kebanyakan pekerjanya terdiri dari pemuda‐pemuda Melayu terutama bagian buruh kasar seperti menggali terowong dan meratakan batu. Aktifitas pekerja‐pekerja itu dapat dilihat dengan mudah dari perkampungan orang asli yang terletak di kawasan tanah yang tinggi. Sekarang proyek itu sudah siap.
Kedatangan saya disambut dengan baik oleh bomoh (seseperti dukun, pawang, paranormal, cenayang) orang asli yang berwajah agak garang itu. Namanya Baba Lanjut. Dia mempersilahkan saya dan Kakek duduk di anjung rumahnya.
Apa yang membuat rasa kurang senang dalam diri saya, adalah apabila melihat anjing kepunyaannya berkeliaran dalam rumah.
Hati saya agak terhibur karena dari radionya terdengar suara ‘Saloma’ mendendangkan lagu “Mengapa Dirindu” yang menjadi lagu top ketika itu.
Karena mau menghormati Kakek dan saya yang diketahuinya tidak begitu senang dengan keadaan rumahnya, maka kemudian dia menempatkan kami di sebuah pondok yang keadaannya cukup bersih. Lengkap dengan tempat tidur dan tikar sembahyang. Menurut Baba Lanjut, pondok itu memang dikhususkan untuk orang Melayu dan orang Islam bermalam bila mereka berobat kepadanya.
Dalam pertemuan itu Baba Lanjut berkali‐kali minta ampun dan maaf atas perbuatannya di masa lalu. Malah, dia berkenan mengajar beberapa ilmu yang ada pada dirinya untuk Kakek**.
Niatnya itu tidak ditolak. Kakek mau menbenjol ilmu darinya asalkan ilmu yang ditbenjol itu tidak bertentangan dengan hukum‐hukum Allah.
Untuk tujuan itu, Kami terpaksa tinggal di perkampungan orang asli itu selama dua minggu. Di sini tugas saya bertambah lagi. Terpaksa menjadi tukang masak di samping berburu ayam hutan dan pelanduk untuk lauk makan tengah hari dan malam hari. Beras disediakan oleh Baba Lanjut dari hasil tanaman padi humanya di lereng bukit.
Di luar hujan turun sangat lebat. Kilat dan guruh bersahutan. Cahaya kilat yang masuk ke dalam pondok menjilat wajah Kakek, Baba Lanjut, dan saya.
*orang asli=penduduk asli Malaysia
** Untuk kisah kesalahannya nanti ada kisahnya tersendiri
Spoiler for 2:
Bunyi hujan berangsur reda, diganti dengan bunyi angin yang cukup keras menampar dahan dan ranting pohon hutan.
Api pelita meliuk‐liuk mengikuti arah tiupan angin.
Untuk menjaga nyala api pelita dari padam, Baba Lanjut segera menaruh daun bertam (sejenis pohon palm) muda di sekelilingi badan pelita.
Beberapa bagian dari daun bertam muda itu dibuat lubang kecil untuk mendapatkan cahaya dari pelita tersebut.
Di luar hujan sudah berhenti . Angin juga sudah tidak sekeras tadi membelai ranting dan dahan pohon hutan. Bunyi jangkrik cukup gamat. Sekali‐sekali terdengar lolongan anjing hutan sayup‐sayup. Bunyi suara burung tukang(Caprimulgus) cukup nyaring. Saya melihat jam saku Kakek yang bertali tembaga di ujung lututnya.
Baba Lanjut melunjurkan ke dua kakinya. Kulit belakang Baba Lanjut bertemu dengan dinding pondok yang terbuat dari kulit kayu Merbau dan Jelutung.
“Ilmu kita bukan untuk menghancurkan orang, ilmu kita untuk menolong orang,” keluh Baba Lanjut.
“Ilmu kita pun begitu juga,” Timpal Kakek.
Beberapa ekor nyamuk hutan berterbangan dalam pondok.
Melihat saya resah dengan nyamuk itu, Baba Lanjut menepuk tangannya. Saya melihat nyamuk yang berterbangan itu terbang menuju ke arahnya. Baba Lanjut menadahkan kedua belah telapak tangannya.
Nyamuk‐nyamuk itu jatuh di atas telapak tanganya.
“Pulanglah, jangan ganggu kami!” kata Baba Lanjut .
Nyamuk di telapak tangan segera terbang menuju ke tepi dinding dan lalu keluar.
Bunyi suara jangkrik di luar pondok berangsur sepi. Malam bertambah dingin. Dua kali saya menguap panjang. Kakek dan Baba Lanjut masih lalu berbicara.
“Kamu mau ilmu pengasihanan?” Kelopak mata saya terasa ringan, mata saya bersinar melihat kearah muka Baba Lanjut.
Saya mengisut ke arahnya, kepala lutut saya dengan kepala lutut Baba Lanjut bertemu.
“Caranya?” Tanya Kakek.
Hati saya cukup gembira. Saya memang mengharapkan Baba Lanjut menurunkan ilmu itu pada Kakek dan sekaligus saya akan dapat mempelajari ilmu itu. Saya kira, ilmu pengasihan itu cukup baik untuk saya. Jika saya mempunyai ilmu pengasihan, saya bisa memilih calon isteri dari perawan yang wajahnya cantik dari kalangan orang yang berada. Kalau saya di panggil untuk wawancara suatu pekerjaan, ilmu pengasihan dapat menolong saya.
Orang yang mewawancarai saya akan timbul rasa kasih pada saya, lalu memberikan pekerjaan, walaupun tidak ada Ijasah, pikir saya dalam hati.
Baba Lanjut mengunyah sesuatu di dalam mulut. Saya tidak tahu apa yang dikunyahnya.
“Ilmu itu saya tidak mau. Bagilah saya ilmu‐ilmu yang lain,” ujar Kakek secara tidak langsung membunuh harapan yang tumbuh dalam hati saya. Saya mengeluh dan Kakek tersenyum melihat saya, bagaikan tahu apa yang bergolak dalam dada saya.
Spoiler for 3:
“Kalau kamu tidak mau, berikan pada cucu kamu,” Baba Lanjut mengemukakan rencana.
Sekali lagi saya melihat senyum Kakek bermain di bibir.
“Jodoh, pertemuan dan rezeki di tentukan oleh Allah yang Maha Besar,” Kakek menepis bicara Baba Lanjut.
“Kita disuruh berusaha.”
“Bukan dengan cara itu kek Batin(Ungkapan hormat untuk tetua), lagi pula ilmu pengasihan ini, banyak mudharatnya daripada manfaatnya, terutama kalau diberikan ke tangan anak muda.”
“Tujuannya baik ”
“Memang tujuannya baik.Tapi tujuan baiknya sangat sedikit. Yang banyak digunakan adalah tujuan yang jahat. Ilmu ini banyak godaannya.”
“Jadi, kamu tidak mau? Kalau kamu mau , saya bisa bawa naik bukit untuk mencari ibu minyaknya.”
“Terima kasih sajalah kek Batin,” suara Kakek merendah.
Baba Lanjut terdiam. Suara anjing hutan makin keras. Bunyi burung hantu dan celepuk bersahut‐sahutan di puncak bukit. Sesekali saya mendengar bunyi orang berjalan di bawah pondok. Malam bertambah larut.
Kakek bangun, lalu membuka pondok. Kakek terkejut. Dua langkah dia mundur ke belakang. Muka Kakek pucat.
Baba Lanjut menerjang ke arahnya. Saya juga menerjang ke muka pintu.
Kaki kami bagaikan terpaku di lantai. Di muka pintu, berdiri satu makhluk berbulu hitam tebal. Dahi makhluk itu berbulu. Lubang hidungnya cukup luas. Gigi putih makhluk itu menyeringai, bagaikan mau menelan kami.
Saya amati makhluk itu dengan seksama. Bentuknya seperti seekor monyet besar. Tiba‐tiba Baba Lanjut bergolek diatas lantai menuju ke arah pelita. Dia cabut daun bertam, lalu membakar kain pelekat(kain sarung) Kakek yang tersangkut dekat dinding. Dengan mendadak api berkobar dalam pondok kami. Dan makhluk yang berdiri di kaki tangga bersuara, bagaikan suara beruang jantan tercium buah kelubi.
Makhluk itu mengayun‐ayunkan tangannya ke kiri dan ke kanan. Kemudian lengannya yang berbulu itu menutup kedua belah matanya. Makhluk hitam itu menjerit dengan sekuat hatinya, lalu menendang dinding dekat pintu. Dinding yang terbuat dari kulit kayu itu runtuh dan pecah berderai.
Makhluk itu melompat ke tanah dan diikuti dengan bunyi kayu tangga patah. Makhluk itu pun menghilang dalam kegelapan malam yang pekat itu.
Kakek, saya dan Baba Lanjut kembali duduk di ruang tengah pondok, sesudah api yang membakar kain pelekat Kakek dipadamkan.”Benda apa itu kek Batin?” Tanya Kakek dengan tenang.
Baba Lanjut terdiam. Dia melihat dengan liar ke kiri dan ke kanan.”lnilah masalah yang kami hadapi sekarang,” Bisik Baba Lanjut pada Kakek. Kakek anggukkan kepala seperti itik angsa bertemu kawan.
Saya resah sendiri. Bimbang benar hati saya jikalau makhluk hitam itu datang lagi.”Saya harap kamu bisa menolong kami dalam hal ini!” Baba Lanjut mengutarakan niat hatinya.
Kakek melihat lantai yang terbuat dari bambu itu.
Spoiler for 4:
Baba Lanjut nampak resah. Sesekali dia membetulkan parang yang tersangkut di pinggangnya.”Benda itu cuma takut pada api saja,” Sambung Baba Lanjut dengan rasa kesal. Dan barulah saya paham, kenapa di waktu sore di kaki lantai, orang asli membakar kayu besar yang dilonggokkan di sekeliling rumah mereka. Api dibiarkan menyala hingga subuh.
Baba Lanjut berjalan hilir mudik dalam ruang pondok. Lalu berhenti di dekat bendul pemisah antara ruang tengah dengan dapur. Dia duduk dekat bendul sambil menakik ‐nakik kayu bendul dengan parang kontetnya.
Kakek hanya memperhatikan saja tingkah laku Baba Lanjut. Dari gerak‐gerik itu, Kakek dapat menduga bahwa penghulu orang asli itu diamuk rasa resah yang tidak menentu. Baba Lanjut melihat ke arah Kakek. Kakek mengangkat kepala lalu pandangan mereka bersambung.
”Yang kita resahkan ini tentang keselamatan warga kampung kita, terutama anak‐anak dara,” Bah Lanjut mengeluh.
“Sebab?”
“Binatang sial itu, selalu mencari anak dara! Sudah dua orang anak kampung saya di kampung bukit sebelah mati karenanya.”
“Dahsyat itu.”
“Karena itulah, kalau bisa saya mau minta tolong dari kamu, walaupun saya handal tetapi dalam hal ini saya mengaku kalah,” Baba Lanjut mengakui kelemahan yang terdapat pada dirinya.
Kakek kerutkan dahi.
Saya rebahkan badan di atas lantai pondok. Baba Lanjut bangun dan mengambil kain dari dalam tas Kakek. Kain itu diberikan pada saya.
“Selimut badan kau, dingin ini!” Ujamya sambil ketawa kecil.
Baba Lanjut lalu mendekati Kakek. Mereka berbincang. Apa yang dibahas oleh mereka dapat ditangkap oleh gendang telinga saya walaupun kelopak mata saya terpejam rapat.
Pikiran saya berperang sendiri. Bentuk makhluk hitam yang besar itu menari‐nari dalam kepala saya. Bagaimana jika saat saya terlelap makhluk itu datang, lalu membawa saya ke tempatnya? Barangkali makhluk itu memakan daging manusia. Apakah daging paha saya akan dimakannya?
Semuanya berputar‐putar dalam kepala saya. Kakek lalu juga berbincang dengan Baba Lanjut. Saya putar sisi kanan badan. Setiap kali badan saya bergerak, lantai bambu berbunyi kiuk‐kiuk. Bila bunyi itu terdengar berkali-kali, saya merasa senang, seperti satu nada irama lagu yang terjadi tanpa penciptanya.
Diubah oleh mufidfathul 14-04-2017 03:22
Araka dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas
Tutup