- Beranda
- Stories from the Heart
Life Is Choices . . .
...
TS
kesini.
Life Is Choices . . .
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for INDEX:
Spoiler for Anda Bingung ?:
Diubah oleh kesini. 08-08-2018 15:45
anasabila memberi reputasi
1
13.5K
100
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kesini.
#59
Part 7 : White Day berdarah (2)
Dah serem aja sekeluarga kirain ada apaan, ternyata ada Pim disitu. Dia nangis disana,waduuh cilaka ini gw udah bikin nangis anak orang,pasti bokap gw marah besar sama gw.
Bokap gw saat itu membuka pintu rumah dan pagar mempersilahkan masuk Pim, dan meminta gw menyelesaikan masalah saat itu jg, saat itu gw dan Pim ada di ruang tamu,gw berpikir sejekan gimana caranya Pim kesini,dia kan gabisa nyetir motor sama mobil masa iya naik taksi sih. Pim masih nangis dan gw masih menunggu Pim sampai dia selesai nangisnya. (Walaupun singa,tetap saja mereka adalah seorang wanita)
Cewe kalo lagi nangis,jangan diajak ngomong ato di tanya-tanya deh kenapanya ntar makin lama nangisnya lho, jadi antepin aja dulu sampe dia udahan sendiri nangisnya, cape lho ternyata kalo nangis-nangis gitu. (Kata Pim
)
Setelah nangisnya reda,akhirnya gw menanyakan kabarnya dia.
Saat itu Pim menggunakan jaket berwarna putih,tiba-tiba di lengan kiri nya berubah warna menjadi merah. Ya dia melakukan kebiasaan dia untuk memenangkan diri dengan menggoreskan luka sayat di lengan kiri,kali ini hampir mendekati nadi. Malam itu gw gabisa marah sama dia,gw juga yg udah egois sama kelakuan gw sendiri,gw yg seharusnya ada untuk dia tapi gw seakan ga peduli dan akhirnya dia pingsan. Gw rasa karena dia udah mengeluarkan banyak darah disitu, gw akhirnya nelpon brader minta ditemani ke rumah sakit dan ga lupa gw nelpon Jocelyn untuk ceritain semua kejadian ini, gw jg meminta dia untuk kasihtau orang tua Pim untuk datang ke rumah sakit.
Sampailah tiba gw dirumah sakit, Pim dimasukan ke dalam IGD keadaan malam itu sangat kacau dan ramai sekali karena saat itu ternyata sedang terjadi perampokan disebuah toko emas dengan menggunakan senjata api yg mengakibatkan jatuh korban sebanyak 3 orang,darah bercucuran kemana-mana di lantai. Gw meminta brader untuk jagain Pim sementara gw mencari perawat untuk menangani Pim,hampir semua perawat ikut sibuk karena korban perampokan itu. Gw pun gabisa berbuat banyak karena ini prosedur rumah sakit untuk menangani orang kritis lebih dulu, sampai akhirnya Jocelyn datang bersama kedua orang tua Pim serta kokonya Pim.
Mereka pun menghampiri gw dan gw mendapatkan tamparan keras dari Papanya Pim, beliau menyalahkan gw atas apa yg terjadi sama Pim. Koko Pim,Mama Pim dan Jocelyn pun kaget melihat kejadian itu,tapi gw memberikan senyum kepada mereka sambil memberitau ruangan Pim berada. Dan gw bersama brader pun menunggu diluar atas permintaan Papanya Pim,lalu Koko Pim dan Jocelyn pun keluar menghampiri gw.
Akhirnya kita pun pulang kerumah,karena saat itu udah mau jam 12 malam. Gw udah di kamar gw memutuskan untuk tidur karena besok masih sekolah. Menjelang pagi, bokap ingin berbicara mengenai semalam dan gw menceritakan semuanya kecuali adegan tampar, karena pasti semua orang tua ga akan rela kalo anaknya disakiti. Dan papa meminta gw untuk terus focus belajar,skg Pim udah ditanganin oleh orang tuanya, seharusnya sebagai orang tua bisa mengatasi masalah anaknya itu menurut bokap gw.
Hari-hari gw lalui dengan biasanya, dan gw udah kabar bahwa Pim sudah sadar dengan keadaan sehat. Gw lega mendengar kabar dari Jocelyn tersebut,hari ini dia dan teman-temannya bermaksud untuk menjenguknya. Teman-teman Pim hanya mengetahui kalo Pim mengalami kecelakan bersama gw dan tangannya mengalami luka goresan yg cukup banyak sedangkan gw tidak mengalami luka sedikitpun, itu cerita yg dibuat oleh Papanya Pim secara tidak langsung gw ga boleh menjenguk Pim. Ada sedikit perasaan sedih namun gw gabisa berbuat apa-apa, setidaknya gw lega tinggal masalah cowo gila itu yg harus diselesaikan.
Dah serem aja sekeluarga kirain ada apaan, ternyata ada Pim disitu. Dia nangis disana,waduuh cilaka ini gw udah bikin nangis anak orang,pasti bokap gw marah besar sama gw.
Bokap gw saat itu membuka pintu rumah dan pagar mempersilahkan masuk Pim, dan meminta gw menyelesaikan masalah saat itu jg, saat itu gw dan Pim ada di ruang tamu,gw berpikir sejekan gimana caranya Pim kesini,dia kan gabisa nyetir motor sama mobil masa iya naik taksi sih. Pim masih nangis dan gw masih menunggu Pim sampai dia selesai nangisnya. (Walaupun singa,tetap saja mereka adalah seorang wanita)
Cewe kalo lagi nangis,jangan diajak ngomong ato di tanya-tanya deh kenapanya ntar makin lama nangisnya lho, jadi antepin aja dulu sampe dia udahan sendiri nangisnya, cape lho ternyata kalo nangis-nangis gitu. (Kata Pim
)Setelah nangisnya reda,akhirnya gw menanyakan kabarnya dia.
Quote:
Saat itu Pim menggunakan jaket berwarna putih,tiba-tiba di lengan kiri nya berubah warna menjadi merah. Ya dia melakukan kebiasaan dia untuk memenangkan diri dengan menggoreskan luka sayat di lengan kiri,kali ini hampir mendekati nadi. Malam itu gw gabisa marah sama dia,gw juga yg udah egois sama kelakuan gw sendiri,gw yg seharusnya ada untuk dia tapi gw seakan ga peduli dan akhirnya dia pingsan. Gw rasa karena dia udah mengeluarkan banyak darah disitu, gw akhirnya nelpon brader minta ditemani ke rumah sakit dan ga lupa gw nelpon Jocelyn untuk ceritain semua kejadian ini, gw jg meminta dia untuk kasihtau orang tua Pim untuk datang ke rumah sakit.
Sampailah tiba gw dirumah sakit, Pim dimasukan ke dalam IGD keadaan malam itu sangat kacau dan ramai sekali karena saat itu ternyata sedang terjadi perampokan disebuah toko emas dengan menggunakan senjata api yg mengakibatkan jatuh korban sebanyak 3 orang,darah bercucuran kemana-mana di lantai. Gw meminta brader untuk jagain Pim sementara gw mencari perawat untuk menangani Pim,hampir semua perawat ikut sibuk karena korban perampokan itu. Gw pun gabisa berbuat banyak karena ini prosedur rumah sakit untuk menangani orang kritis lebih dulu, sampai akhirnya Jocelyn datang bersama kedua orang tua Pim serta kokonya Pim.
Mereka pun menghampiri gw dan gw mendapatkan tamparan keras dari Papanya Pim, beliau menyalahkan gw atas apa yg terjadi sama Pim. Koko Pim,Mama Pim dan Jocelyn pun kaget melihat kejadian itu,tapi gw memberikan senyum kepada mereka sambil memberitau ruangan Pim berada. Dan gw bersama brader pun menunggu diluar atas permintaan Papanya Pim,lalu Koko Pim dan Jocelyn pun keluar menghampiri gw.
Quote:
Akhirnya kita pun pulang kerumah,karena saat itu udah mau jam 12 malam. Gw udah di kamar gw memutuskan untuk tidur karena besok masih sekolah. Menjelang pagi, bokap ingin berbicara mengenai semalam dan gw menceritakan semuanya kecuali adegan tampar, karena pasti semua orang tua ga akan rela kalo anaknya disakiti. Dan papa meminta gw untuk terus focus belajar,skg Pim udah ditanganin oleh orang tuanya, seharusnya sebagai orang tua bisa mengatasi masalah anaknya itu menurut bokap gw.
Hari-hari gw lalui dengan biasanya, dan gw udah kabar bahwa Pim sudah sadar dengan keadaan sehat. Gw lega mendengar kabar dari Jocelyn tersebut,hari ini dia dan teman-temannya bermaksud untuk menjenguknya. Teman-teman Pim hanya mengetahui kalo Pim mengalami kecelakan bersama gw dan tangannya mengalami luka goresan yg cukup banyak sedangkan gw tidak mengalami luka sedikitpun, itu cerita yg dibuat oleh Papanya Pim secara tidak langsung gw ga boleh menjenguk Pim. Ada sedikit perasaan sedih namun gw gabisa berbuat apa-apa, setidaknya gw lega tinggal masalah cowo gila itu yg harus diselesaikan.
0
Mungkin kisah gw sudah usang termakan usia,namun kenangan di dalamnya sangat berarti dan membuat menjadi diri seperti sekarang ini.