Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#1817
PART 27


"Ka' Lu tau atm center deket sini gak ?", tanya Gua setelah menuang galon ke dispenser.

"Hemm... Tau tau..", jawabnya setelah menelan makanan,
"Tuh deket deretan ruko yang keluar gang itu, pojok kanan..",
"Lo mau ngambil duit ?", tanyanya balik.

"Iya, Gua keabisan duit",
"Ya udah deh, Gua ke sana dulu ya", ucap Gua hendak melangkah keluar kamar.

"Eh, Lo gak takut apa ?", tanyanya lagi.

"Takut ?",
"Takut apaan ?", tanya Gua kebingungan.

"Takut ditangkep pulici lah..",
"Kan Lo mau ngambil duit di atm, bukan mau narik.. Ha ha ha...", tawanya puas.

"Yeee sembarangan..", jawab Gua keki,
"Garing Lu ah", ledek Gua.

"Gigi Lo tuh yang garing, hi hi hi..",
"Eh mau kesitu naek motor ?".

"Enggak, jalan kaki aja".

"Eh ? Lumayan loch setengah kilometer ada kali".

"Gak apa-apa, sekalian JJS hehe..".

"Tungguin Gue deh, abis makan bareng ke situ", ucapnya.

Gua pun duduk di kursi besi depan kamarnya, menunggu Bianca menghabiskan makanan. Sebatang racun sudah Gua bakar dan hisap sambil memperhatikan beberapa penghuni kost lainnya yang sudah pulang dari kantor mereka masing-masing. Tapi Gua belum melihat Mas Wisnu pulang, mungkin lembur tetangga sebelah kamar Gua itu. Tidak lama kemudian Bianca keluar dari kamarnya.

"Yuk..", ajaknya.

"Ka' Lu pake jaket atuh..", ucap Gua.

"Loch ? Emang kenapa ? Sore yang panas kali Zaaaa... Ngapain pake jaket coba huu..", balasnya seraya mengunci pintu.

Ya mau gimana lagi, hak dia juga sih. Gua agak risih sebenernya, kaosnya ketat pake banget, duo dribble nya itu loch, jalan aja up & down. Bakal jadi pusat perhatian nanti.

Spoiler for Bianca:


Kami berdua berjalan kaki menuju atm center, dan sepanjang perjalanan bener aja apa yang Gua pikirkan sebelumnya kejadian, dari mulai tukang ojek, pedagang kaki lima sampai pengendara motor yang melintas matanya pada ngeliatin si FDJ di samping Gua. Risih serisih-risihnya jadi pusat perhatian orang-orang, tapi si Bianca ma cuek aja, udah biasa kayaknya.

Setelah cukup jauh berjalan Gua dan Bianca akhirnya sampai juga di atm center, karena tidak ada yang mengantri, kurang dari 5 menit Gua pun selesai menarik uang dari mesin atm.

"Nah udah full lagi dong dompetnya Za ? Heheh..", ucap Bianca ketika Gua keluar dari atm center.

"Hehe, mau nagih utang tadi ya ?", balas Gua.

"Iya lah...",
"Tapi maunya ganti sama ice cream hihihihi..", jawabnya.

"Oh oke deh, mau beli ice cream dimana Lu ?", tanya Gua.

"Kita ke Mekdiiiih..", teriaknya kegirangan.

"Hah ? Mekdih ?",
"Busyet, jauh itu ma Ka'..", ucap Gua kaget.

"Ya kan bisa pake mobil kaliii.. Gimana sih Lo!".

"Ya maksud Gua tuh kenapa tadi gak sekalian aja bawa mobil jadi langsung berangkat ?", bela Gua.

"Yang pengen JJS siapa tadi ?", balasnya.

Oke percuma Gua debat sama cewek macem Bianca, ngalah aja udah. Unik condong ngeselin nih si Bianca kayaknya. Alhasil kami berdua balik lagi deh ke kost-an untuk bawa kendaraan. Sampai di area parkiran Gua menghampiri mobil pewe yang Gua yakin pasti miliknya. Tapi si Bianca malah berdiri beberapa langkah di belakang Gua.

"Kok berenti ? jadi gak ?", tanya Gua menengok ke belakang.

"Lo mau ngapain ke mobil Gue ?", malah nanya balik nih anak.

"Ya mau ngebelin Lu ice cream lah, di mekdih kan ?".

"Iya di mekdih, tapi berangkatnya pake mobil atau motor Lo kek..", jawabnya.

Wah, ngeselin bener anak satu, baru juga kenal udah banyak maunya.

"Oh mau pake kendaraan Gua",
"Oke deh, tunggu ya...", jawab Gua lalu berjalan ke kamar kost-an.

"Jangan lama-lama ambil kuncinya..", balasnya sedikit berteriak.

Hehehe, dipikir Gua mau ambil kunci motor atau mobil kali. Gua ke kamar cuma ambil jaket lalu kembali keluar dan melintasi area parkiran. Gua lihat Bianca masih berdiri di dekat mobil pewenya. Gua berteriak sambil membuka pagar kost-an.

"Ka'... Lu tunggu situ ya, Gua mau ambil kendaraan dulu".

"Hah ?",
"Eh emang kendaraan Lo dimanaa ?".

"Rumah".

Gua pun keluar sambil menutup kembali pintu pagar, entah ngomel apaan tuh anak, Gua gak hiraukan. Gua berjalan ke arah halte bis. Membakar rokok sambil duduk santai, dan tidak lama kemudian mobil pewe berhenti tepat di depan Gua. Lalu jendela kiri depan terbuka.

"Songong Lo maen tinggalin Gue!", teriaknya sambil melotot dari jok kemudi.

Gua cuma cengar-cengir melihat Bianca bersungut-sungut.

"Heh! Malah diem lagi, buruan masuk ah!", perintahnya semakin kesal.

"Hahaha.. oke oke okeee...".

Gua pun berjalan kearah mobilnya, lalu membuka pintu depan kiri. "Boleh ngerokok ?", tanya Gua sebelum masuk.

"Boleh".

Singkat cerita kami berdua sudah berada di tengah-tengah kemacetan Jakarta di sore hari. Gimana enggak macet, jam pulang kantor ini coy. Gile deh amit-amit Gua liat padatnya nih kendaraan.

"Gile ya macetnya amit-amit", ucap Gua membuka pembicaraan.

"Jam pulang kantor ya gini ini..", jawabnya.

"Eh ngomong-ngomong kantor, Lo kerja apa kuliah sih ?", tanya Gua.

Yap, sengaja Gua menanyakan profesi si Bianca semlohay ini, walaupun Gua udah tau dari Mas Wisnu, tapi gak ada salahnya kalo denger dari orangnya langsung dong.

"Gue DJ..", jawabnya singkat.

"DJ ? Orang yang suka maenin piring itu ya ? Pake sunlite..".

"Garing loch ah!".

"Hahaha... Gigi Lu tuh garing.. Hahaha...".

"Ye ngebales Lo!".

"Satu sama dong, heheh...".

Gua tertawa melihat wajahnya yang sewot. Lucu nih anak, asal jeplak kalo ngomong, kelakuan seenak jidat, cuek dan supel. Jarang Gua nemuin cewek kayak dia. Baru juga kenal udah kayak temen lama gak ketemu. Nice relationship...

Sampai juga kami di sebuah resto fastfood mekdih, padahal tadi siang Gua sama Kinan abis dari sini. Gua memesan dua ice cream mekdih, lalu kami duduk di bagian depan.

"Makasih yaaa...", ucapnya ketika menerima ice cream.

"Sama-sama, kan tadi Lu udah bantu Gua juga".

"Hehehe bagus deh kalo sadar diri, hihihi..".

"Wes sembarangan, dikira Gua gak tau diri kali ah".

"Hihihi.. Kali aja Lo lupa haha..",
"Bercanda Ezaaa, gw gak nagih kok, hehe..",
"Eh, kok Lo gak makan es krimnya ?", tanya Bianca melihat satu ice cream yang hanya Gua taruh.

"Buat Lu dua-duanya..", jawab Gua seraya tersenyum.

"Waaah.. Makaciiii hihihi.. Iih tau aja kalo satu gak cukup hahaha...".

"Iya lah tau, keliatan kali dari pipi Lu yang chubby gitu hahaha...".

Tep

"Wooii, sembarangan maen meperin es krim ke idung Gua", sungut Gua setelah dipeperin ice cream dari sendok yang digenggamnya.

"Biariin, suruh siapa bilang Gue gendut!", jawabnya sambil mendengus kasar lalu kembali menikmati ice creamnya.

Hiish ngeselin nih orang, eh tapi cewek kan emang sensitif ya, walaupun Gua bercanda bilang chubby tetep aja disangkanya dia kegendutan. Padahal ma aslinya kagak. Gua cuma memperhatikannya yang serius memakan ice cream kedua. Lama-lama kok pengen ya Gua, da lama gak makan ice cream juga sih.

"Ka'..".

"Heum ?", tanpa melihat Gua.

"Enak ?".

Bianca hanya mengangguk tanpa melirik Gua sekalipun.

"Bagi dong".

Bianca berhenti menyendok ice cream, lalu menengok ke depan, kearah Gua.

"Nih, Aaaa...", ucapnya lalu menyodorkan sendok berisi ice cream kearah mulut Gua.

Gua pun membuka mulut, lalu...

"Enakk ajaaaa", ucapnya membelokkan sendok,
"Hap, Hmmm...", ice cream mendarat mulus masuk ke mulutnya sendiri.

Gua lalu menutup mulut dan menelan ludah. Kampret Gua dikibulin. Sue bener nih cewek. Gua cuma bisa manyun ketika dirinya tertawa melihat muka Gua yang cemberut. Akhirnya Gua membakar rokok sambil memperhatikan dede gemes yang berpakaian putih-abu hilir-mudik di resto ini.

"Za, Lu masih kuliah ya ?", tanya Bianca tiba-tiba.

"Yoi".

"Dimana ?".

"Tuh yang deket kost-an".

"Ooh Lo anak Pariwisata dong".

"Yoi",
"Eh Lu kerja di daerah mana ?", tanya Gua akhirnya.

Kemudian Bianca menceritakan tempat kerjanya, yang pasti disalah satu tempat clubbing di sini (Jakarta), dan sudah pasti jam kerjanya dari malam hari sampai pagi. Bianca ini orangya asyik seperti yang Gua bilang sebelumnya, dan supel. Bianca perantau, dia hijrah dari daerah Sumatra ke Jakarta sekitar 4 tahun lalu, sempat tinggal di rumah saudaranya di daerah Jakpus tapi hanya selama 1 tahun, ya alesannya sih gak enak jadi bebani keluarga Om dan Tantenya.

"Lu udah lama ya tinggal di kost-an itu ?", tanya Gua lagi.

"Baru 1.5 tahun Za, sebelumnya kost di daerah xxx..", jawabnya
"Ngomong-ngomong Lo asli mana sih ? Peranakan ya ?", tanyanya.

"Ya gitulah, almh. Nyokap Gua dari Nippon, kalo Bokap asli jawa barat..", jawab Gua.

"Ooh, kirain chinese atau korea",
"Eh dari sini mau langsung balik ?".

"Iya Ka', kecuali Lo masih ada perlu hehehe".

"Nah, Lo berarti gak ada acara kan, kalo gitu temenin Gue cari baju buat perform nanti malem", ucapanya seraya menghabiskan suapan ice cream terakhir.

Alamak, diminta nemenin belanja baju ? Ah parah ini, calon lama dan butuh kesabaran tingkat tinggi nih. Mau nolak tapi udah kepalang. Ya sudahlah bisa apa Gua selain ngikutin maunya nih mahluk. Selesai dari mekdih, Gua dan Bianca bergegas ke salah satu mall ketika langit sore sudah menampakkan warna abu gelap.

Gua mengekor dari belakang ketika kami berada disalah satu gerai pakaian khusus wanita. Ya karena dunia kerjanya itu tempat hiburan malam, so pasti pakaiannya yang sekseh kan, nah di gerai pakaian ini ternyata memang khusus menjual pakaian-pakaian ala-ala clubbers. Gak ada tuh dress yang sampai mata kaki, sampe di bawah lutut aja gak ada. Bianca ternyata enggak serepot dan seunik wanita pada umumnya, pilihan pakaian yang dia beli jatuh kepada 2 dress berwarna silver bling-bling dan warna hitam, yang mana keduanya tanpa lengan dan zippernya berada dibagian belakang dari punggung ke pinggang. Beres membeli pakaian dan membayar, Bianca mengajak Gua ke toko parfum, sekalian katanya, stock wangi-wangian untuk tubuh seksehnya udah menipis.

Btw, untung nih cewek cuma beli pakaian 2 potong, jadi gak ada berat-beratnya Gua nentengin kantung belanjaannya. Yoi, Gua yang disuruh bawain tuh dia punya pakaian. Somvlak bener deh. Tapi semuanya berubah ketika langkah kakinya keluar dari toko parfum dan menuju pusat bahan makanan, ini dia, jiwa emak-emaknya keluar. Tangannya dengan terampil menarik makanan ini, makanan itu, bahan masakkan ini, bahan masakkan itu. Gile deh, trolley penuh coy!

"Ini serius Ka' Lu belanja segini banyak ?", ucap Gua ketika kami mengantri di kasir.

"Iyalah, kan buat sebulan Za",
"Lagian kemaren Gua liat bahan masakkan di dapur kost abis...", jawabnya.

Dipikir-pikir baik juga ini perempuan satu dibalik tingkahnya yang ngeselin. Doi beli mie instan ampe 1 dus, katanya buat ditaruh di lemari dapur kost-an. Belum bumbu-bumbu dapur kayak garam, gula, kecap, minyak goreng dan semacamnya.

"Emangnya, ini sengaja Lu beli buat anak-anak kost bawah ?", tanya Gua lagi.

"Iya Za, kan khusus anak kost bawah udah ada jatahnya, gantian beli keperluan dapur 3 minggu sekali, ada jadwalnya kok, nanti Lo juga bakal kena jatah, ha ha ha ha...", jawabnya.

Hoooh.. Ternyata khusus anak lantai dasar, alias kamar no.1 sampe no.20 itu ada peraturan sendiri yang dibuat, ya gini ini. Mereka 3 minggu sekali gantian harus belanja kebutuhan dapur. Lain cerita dengan penghuni lantai 1 dan 2, sepertinya beda dengan penghuni lantai dasar seperti kami. Memang bener sih apa yang diomongin Mas Wisnu, rasa saling kekeluargaan dan rasa sosial untuk penghuni lantai dasar lebih utama dibanding penghuni lantai 1 dan 2.

Singkat cerita kami berdua sudah kembali menuju parkiran, dan tentengan kantung belanjaan ditangan Gua semakin berat aja. Beres menaruh belanjaan yang seabrek ke jok belakang mobil, kini Gua yang menyetir, permintaan Non Bianca. Hadeuh...

"Za, Lo mau ikut gak ke acara tar malem ?", tanya Bianca sembari memainkan hp nya dari jok samping kemudi.

"Acara ? Acara apaan ?", tanya gua balik sekilas menengok kearahnya lalu kembali menatap jalan raya di depan.

"Acara clubbing lah, ditempat kerja Gue, santai aja, free pass kok buat temen Gue ma hehehe..".

Hmm, clubbing ya. Gua belum pernah sekalipun masuk ke dunia hiburan malam kayak gitu. Kalo si Dewa sih udah sering. Pingin sih nyoba, tapi bukan hari ini kayaknya, gimana nanti kalo sang kekasih hati pulang kerja, bisa aja kan dia minta Gua datang ke rumah kontrakannya, bahaya lah kalo Gua lagi ajeub-ajeub.

"Next time aja lah Ka', Gua ada perlu sama orang ntar malem", jawab Gua beralasan.

"Ya udah ajak aja sekalian temen Lo, gimana ?", ajaknya lagi.

"Wes enak aja, enggak bisalah, di cincang Gua nanti yang ada".

"Lah ? Emang siapa temen Lo ? kok takut sih".

"Pacar Gua lah...".

"HAH ?!"
"HA HA HA HA HA...", tawa super puas.

Dih kenapa lagi nih mahluk, gak percaya apa Gua punya pacar. Ketawanya ngeunye banget dah!

"Woi, kenapa Lu ketawa ?",
"Gak percaya Gua udah punya cewek ?".

"Ah ha ha ha... Bukaaan.. Ha ha ha...", masih ketawa dia.

"Diih, sarap nih anak ketawa gak berenti-berenti..", sungut Gua.

"Okey-okeey, hehehe..",
"Sorry-sorry, aduududuh, Gue ampe keluar aer mata nih ngetawain Lo..", ucapnya sambil menyeuka air mata,
"Gue percaya kok Za, kalo Lo udah punya cewek...", lanjutnya.

"Terus ? Ngapain Lu ketawa gak pake rem gitu ?", tanya Gua lagi.

"Ya jelaslah Gue ketawa, Lo tampang okeh, tinggi, lumayan macho lah..",
"Tapi kok takut sama cewek Lo ha ha ha", jelasnya.

Yaelaaah, Lu belum tau aja Ka' cewek Gua kek begimane. Bundir lah Gua masuk ke tempat kerja Lu Ka'... Halaah cape deh.

"Lu belum tau aja cewek Gua kayak gimana Ka'..", ucap Gua.

"Ceuk, cewek ma sama aja kaliii dimana-mana.." , jawabnya.

"Serah Lu deh Ka'..", tandas Gua.

...

Sekitar pukul 7 malam Gua sudah berada di kamar kost-an. Bianca ? Selesai merapihkan belanjaan di dapur, Bianca kembali ke kamarnya sendiri. Gua yang sudah lumayan letih dan bau apeuk di badan bergegas ke kamar mandi dan membilas tubuh agar kembali segar. Kurang lebih jam setengah 8 malam, Gua kembali nongkrong di depan kamar, tepatnya duduk di kursi besi. Gua cek hp siapa tau sang kekasih sudah sms, dan ternyata benar aja, ada 1 sms masuk.

Quote:


Masih duduk santai, Gua membakar sebatang rokok, menengok sekilas ke kamar Mas Wisnu tapi lampu kamarnya masih padam dan pintunya pun tertutup rapat, masih belum pulang sepertinya. Kemudian Gua lirik kearah sebrang depan, dimana pintu kamar no.3 terbuka, dan keluarlah si Pimel Dijeh dengan pakaian biasa. Lalu dirinya berjalan ke arah Gua.

"Gak keluar lagi Lo ?", tanya Bianca ketika sudah berada di dekat Gua.

"Keluar kemana, kendaraan gak ada", jawab Gua.

Lalu Bianca mengeluarkan sebungkus rokok semboro menthol dari saku hotpants nya dan duduk di samping kursi sebelah Gua.

"Lo gak niat bawa kendaraan kesini ?", tanyanya lalu membakar rokok.

"Nantilah minggu depan kali", jawab Gua,
"Ngomong-ngomong Lu berangkat gawe jam berapa ?", tanya Gua kali ini.

"Nanti berangkat jam setengah 10".

"Wih malem amat ?".

"Iya, kan Gue performnya midnight, kalo sekarang temen Gue dulu, gantian gitu deh..", jawabnya seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya,
"Eh Gue liat foto cewek Lo dong, pingin tau cantikkan mana sama Gue hihihi..", ucapnya.

"Jelaslah cantikkan cewek Gua kemana-mana", jawab Gua penuh penekanan.

"Masa sih ? mana coba liat dulu".

Gua pun kembali mengeluarkan hp dari saku celana dan membuka menu galeri dari hp. Lalu memberikannya kepada Bianca.

"Nih, jangan kaget Lu, hehehe..".

"Enggak bakal kaget Gue..", jawabnya sambil menerima hp Gua.

"Eh eh eh... serius nih cewek Lo ?", ucapnya dengan tetap memandangi layar hp di tangannya,
"Cewek Lo beneran P****n Za ?", tanyanya lagi kali ini sambil melirik kearah Gua dengan ekspresi tidak percaya.

Gua tersenyum lalu menaik-turunkan alis, "Hehehe keren kan..", jawab Gua.

"Keren, cantik lagi tapi...".

"Tapi apa ?".

"Tapi kasian deh Gue ama cewek Lo".

"Kenapa emangnya ?".

"Kasian aja, kok bisa mau ama Lo sih, ha ha ha ha",
"Batin nih pasti cewek jadian ama cowok kayak Lo ha ha ha".

"Yeee songong Lu",
"Bahagia kali dia ama Gua ma".

"Hahaha..",
"Eh kapan-kapan kenalin dong ama Gue".

"Siape ?".

"Cewek Lo lah..".

"Dih ngapain, gak jelas amat ngenalin pacar Gua ama Lu ma".

"Eh songong nih anak ya",
"Daripada Gue hasut hayoo..", jawabnya.

"Eh hasut apaan nih ?".

"Ya Gue bilang aja kalo Gue selingkuhan Lo ha ha ha ha...", balasnya.

Woh kamvretos bener si Bianca ngancemnya. Gua gak ada hubungan apa-apa sama dia malah mau fitnah. Gak bener nih.

"Ngawur aja Lu, jangan macem-macem deh..", ucap Gua.

"Hihihi... Makanya kapan-kapan kenalin yak, okeh ?".

"Ya gimana ntar aja lah".

Masih asyik ngobrol gak jelas dengan mahluk ngeselin ini, datanglah sebuah motor matic dan berhenti tepat di depan kamar Gua.

"Hai Za", ucap seorang perempuan seraya membuka helm dan berjalan kearah Gua,
"Eh ada Kak Bianca juga", ucapnya lagi ketika menengok kearah Bianca.

"Hei Lisa, apa kabar ?",
"Tumben main kesini hehehe..", tanya Bianca.

Oh iya pasti kenal lah ya si Lisa sama Bianca, secara ini kan kost-an milik siapa hahaha.

"Alhamdulilah baik Kak, ini Eza kan satu kelas di kampus sama aku, jadi ya bakal sering kesini deh hihihi..", jawab Lisa.

"Oh kalian satu kelas",
"Eh si Eza pasti di kampus orangnya ngeselin ya Lis ?", tanya Bianca lagi.

"Yaelah ini cewek masih gak sadar apa! yang ngeselin siapa daritadi oii..", balas Gua.

Lisa pun hanya tertawa mendengar cowok yang tampan rupawan saling ejek dengan cewek cantik, tapi seksi, tapi ngeselin juga, huehehehe.

Masih saling ejek antara Gua dan Bianca dan Lisa sebagai penonton opra yang sedikit-sedikit tertawa renyah, keluarlah seorang gadis bule dari kamar sebrang, kamarnya Bianca.

"Beeiiibb...", teriak si gadis bule kepada Bianca.

"Eh, Hiii, wait a second", jawab Bianca balas teriak,
"Eh Za, Lis, Gue ke kamar dulu ya, temen Gue manggil tuh..", ucapnya kepada kami seraya bangun dari kursi,
"Lisa hati-hati sama si Eza ya",
"Daaahh..", pamitnya lalu berlari kecil ke arah kamarnya.

Gua dan Lisa hanya memperhatikan Bianca hingga dirinya hilang ketika pintu kamarnya ditutup kembali.

"Za".

"Ya Lis ?".

"Kamu kenal Kak Bianca kapan ?".

"Baru tadi siang, tapi orangnya baik sih, walaupun ngeselin.. hehehe...".

"Ooh", lalu Lisa duduk di kursi tempat Bianca duduk tadi,
"Aku mau cerita, tapi kamu jangan kaget ya..", ucapnya lagi ketika sudah duduk.

"Cerita ?",
"Soal apa ? Duh kamu bilang gitu malah bikin aku jadi deg-degan", jawab Gua jadi penasaran.

Lisa tersenyum, tapi bukan kepada Gua, tapi kearah pintu kamar no.3 disebrang sana, lalu...

"Kak Bianca itu sebenernya..."
.
.
.
.
.
.
.
.
Spoiler for Truth:


Diubah oleh glitch.7 12-04-2017 18:32
fatqurr
fatqurr memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.