Let it all out
Quote:
Aku terduduk di DPR, menunduk, berfikir apa yang aku lakukan itu benar atau salah. Membuat semua orang membenciku.
“udah selesai?”, suara pak Wan mengagetkanku
“eh pak, belum pak”, kataku
“kamu taukan tanggung jawab dia jadi ketua ga gampang, dia cerita kalau kamu itu jadi ga bisa di atur selama latihan, dia juga cerita kalau kamu itu berubah, finalnya dia kecewa waktu kamu ga latihan. Saya tau dia dari kelas 1, dia itu orang nya memang tegas, tapi sama kamu dia bisa lembut. Saya ga da masalah sama itu, selama ga ngerugiin orang lain, tapi tingkah kamu yang sekarang saya ga tau harus gimana, mangkanya saya serahin ke dia. Sampe dia kaya gitu bisa bapak liat pedulinya dia sama kamu kaya gimana. Bapak Cuma berpesan jangan buang orang yang peduli sama kamu. Jangan pernah”, kata pak Wan.
“besok jangan lupa latihan”, pak Wan pun pergi meninggalkan ku.
Akupun kembali ke secretariat, semua tas sudah tidak ada, disana ada kak Suci sedang duduk membelakangiku. Akupun duduk di sebelahnya.
"kak”, kataku
Kak Suci pun menoleh. Deg. Dia menggunakan kacamata. Bentuk kacamatanya bulat dan pas dengan wajahnya.
“apa dek?”, katanya
Aku pun terpesona melihatnya
“dek?”, katanya sambil menyentuh tanganku
“eh kak, anu.. mhh.. maaf-maaf, gua ganggu ya?”, kataku
“lu kenapa dek?”, katanya
“ga apa-apa kak”, kataku
“sial, kenapa gua gugup gini. Huff. Huff”, gumamku sambil menghela nafas.
“hei”, kata kak Suci sambil memegang pipiku
“sory”, kataku
“dari tadi lu minta maaf mulu, ada apa sih?”, kata kak Suci
“gua udah bikin lu marah hari ini”, kataku
Lalu kak Suci berdiri di depanku
“gua itu marah sama lu bukan karena gua benci atau apa dek, tapi emang gua sayang sama lu, gua ga mau lu kenapa-kenapa”, kata kak Suci sambil mengusap kepalaku
Akupun memejamkan mata.
“finally, you’re back”, katanya pelan
Akupun membuka mata
“mulai sekarang kalau ada apa-apa lu cerita sama gua dek, jangan dipendem sendirian. Sakit tau”, katanya
“ i want to tell you everything but i can’t”, kataku pelan
“kenapa dek?”, katanya
“gua ga bisa percaya orang lain”, kataku
Lalu kak Suci memegang pipiku dan menengadahkan wajahku
“gua ini bukan orang lain dek, gua ini kakak lu. Lu bisa ceritain semuanya ke gua, lu bisa luapin emosi lu ke gua dek. Gua ga mau lu nanggung semuanya sendiri”, katanya sambil memeluk kepalaku
Akupun meneteskan air mata.
“sakit kak. Ngeliat Rathi sama Ali. Dada gua sesek, pikiran gua blank. Sakit banget”, kataku
“jangan di tahan dek, keluarin semuanya”, bisiknya
“huwaaaaa”, akupun mulai menangis. Meluapkan semua rasa sakit yang ku tahan selama ini, ku peluk erat kak Suci. Entah berapa lama aku menangis.
“udah lega”, kata kak Suci
Akupun mengangguk.
“inget ya dek, kalau ada apa-apa cerita dan jangan anggep gua itu orang lain lagi”, katanya
“iya kak, maaf”, kataku
“maaf baju lu jadi kotor”, lanjutku
“ga apa-apa, nih. Kita balik”, sambil memberikan tas padaku
Saat kami keluar sekretariat ternyata di situ ada Wina, entah berapa lama dia ada disana
“Win”, sapa kak Suci
“ini titipan dari pak Wan kak”, katanya sambil memberikan kertas
“makasih Win, maaf ngerepotin”, kata kak Suci
“iya ga apa-apa kak, gua balik duluan ya”, kata Wina sambil berlari meninggalkan kami
“ketahuan Wina loh dek lu nangis”, kata kak Suci menggodaku
“bodo”, kataku sambil memlaingkan wajahku
“muka lu merah tuh dek”, sambil mencolek pipiku
Aku hanya diam tidak menanggapi. Kami pun pulang bersama lalu berpisah saat naik angkot. Setelah meluapkan semuanya pikiranku menjadi lebih tenang, terasa bebanku sedikit berkurang, aku pun bisa konsentrasi untuk belajar dan latihan. Selama di sekolah kak Suci seperti mengawasiku, ya dia tidak mau kejadian yang lalu itu terulang kembali. Akupun tidak bisa menyalahkannya. Hubunganku dengan Rathi dan Ali tidak terlalu banyak perkembangan, aku sudah tidak terlalu terbebani dengan hal itu tapi memang aku yang menjaga jarak dan komunikasi dengan mereka. Hari-hariku di habiskan untuk latihan menjelang perlombaan di balai kota. Di sekolah tidak terlalu banyak hal yang terjadi hanya kegiatan biasa, saat perlombaan pun tidak ada yang spesial. Sekolahku lolos sampai babak final, dan akan diadakan di GOR seminggu setelah balai kota. Saat final pun kami tidak juara, hanya memasuki urutan 5 besar. Dengan selesainya perlombaan di GOR, maka selesai pula peran kelas 3, mereka fokus untuk ujian, dan ekskul sepenuhnya di pegang oleh kelas 2. Akhirnya pemindahan kepengurusan dari kelas 3 ke kelas 2 pun di mulai, sesaat setelah sertijab aku merasakan dejavu yang sangat luar biasa. Ya DEJAVU.