- Beranda
- Stories from the Heart
PULANG (Based On True Story)
...
TS
akamals
PULANG (Based On True Story)
- Prolog
hal yang paling sulit saat saya mencoba menulis cerita ini adalah berdamai dengan masa lalu. terlalu banyak kesalahan yang saya buat saat itu dan hingga saya menulis cerita ini, seolah saya belum memaafkan kesalahan yang saya buat.
jujur apa yang akan saya tuliskan kali ini merupakan salah satu moment yang tidak ingin saya ingat dalam fase hidup saya. fase remaja labil, yang ingin dihargai segala pemikirannya. fase dimana ego kesetia kawanan lebih tinggi dari apapun, bahkan masa depan pun harus saya kuburkan demi kesetia kawanan.
sampai pada fase dimana saya bisa menemukan sosok teman, kakak dan keluarga yang sesungguhnya. mereka yang tanpa pamrih selalu siap membantu saya dengan segala keterbatasan nya. mereka orang orang yang akan terus berlari dan bersembunyi dalam hidupnya.
- Pergi
satu persatu ku masukan pakaian ku kedalam tas ransel tak lupa ijazah pun ikut ku masukan. pagi itu kontrakan ku sepi, sepertinya teman satu kontrakan sudah berangkat kuliah semua. waktu yang tepat untuk pergi tanpa berpamitan. lagipula aku sudah muak dengan mereka semua. mereka yang hadir saat aku senang dan menghilang saat aku membutuhkan.
yah...beberapa hari yang lalu aku di D.O oleh kampus (saya tidak akan menceritakan penyebab saya di D.O, karena itu privasi saya) sekaligus diusir dari rumah oleh bapak. Mereka teman satu kontrakan ku, yang notabene dulu satu SMA dengan ku dan cukup lama berteman dengan ku seolah tidak mau tahu dengan masalah ku. boro boro memberi kalimat penyemangat, hadir dan mengetuk pintu kamar ku pun nggak. mereka seolah menjauhi ku dan menjaga jarak dari ku. aku yang bingung menyusun masa depan pun serasa berdiri sendirian.
selama berhari hari aku memikirkan, apa yang harus ku kerjakan? aku sudah tidak kuliah, otomatis uang bulanan sudah di stop ortu. lalu, bagaimana selanjutnya aku hidup? akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan kota ini. kota kecil di jawa tengah yang punya julukan "spirit of java" dan mencoba lembaran baru di tempat lain. lalu dimana?
hal yang paling sulit saat saya mencoba menulis cerita ini adalah berdamai dengan masa lalu. terlalu banyak kesalahan yang saya buat saat itu dan hingga saya menulis cerita ini, seolah saya belum memaafkan kesalahan yang saya buat.
jujur apa yang akan saya tuliskan kali ini merupakan salah satu moment yang tidak ingin saya ingat dalam fase hidup saya. fase remaja labil, yang ingin dihargai segala pemikirannya. fase dimana ego kesetia kawanan lebih tinggi dari apapun, bahkan masa depan pun harus saya kuburkan demi kesetia kawanan.
sampai pada fase dimana saya bisa menemukan sosok teman, kakak dan keluarga yang sesungguhnya. mereka yang tanpa pamrih selalu siap membantu saya dengan segala keterbatasan nya. mereka orang orang yang akan terus berlari dan bersembunyi dalam hidupnya.
Quote:
- Pergi
satu persatu ku masukan pakaian ku kedalam tas ransel tak lupa ijazah pun ikut ku masukan. pagi itu kontrakan ku sepi, sepertinya teman satu kontrakan sudah berangkat kuliah semua. waktu yang tepat untuk pergi tanpa berpamitan. lagipula aku sudah muak dengan mereka semua. mereka yang hadir saat aku senang dan menghilang saat aku membutuhkan.
yah...beberapa hari yang lalu aku di D.O oleh kampus (saya tidak akan menceritakan penyebab saya di D.O, karena itu privasi saya) sekaligus diusir dari rumah oleh bapak. Mereka teman satu kontrakan ku, yang notabene dulu satu SMA dengan ku dan cukup lama berteman dengan ku seolah tidak mau tahu dengan masalah ku. boro boro memberi kalimat penyemangat, hadir dan mengetuk pintu kamar ku pun nggak. mereka seolah menjauhi ku dan menjaga jarak dari ku. aku yang bingung menyusun masa depan pun serasa berdiri sendirian.
selama berhari hari aku memikirkan, apa yang harus ku kerjakan? aku sudah tidak kuliah, otomatis uang bulanan sudah di stop ortu. lalu, bagaimana selanjutnya aku hidup? akhirnya ku putuskan untuk meninggalkan kota ini. kota kecil di jawa tengah yang punya julukan "spirit of java" dan mencoba lembaran baru di tempat lain. lalu dimana?
Diubah oleh akamals 25-04-2017 19:17
anasabila memberi reputasi
1
18K
88
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akamals
#17
- Punk Gondomanan
jujur ternyata nulis itu susah, mohon masukannya dari sesepuh sfth...
singkat cerita saya udah selesai makan dan kembali melanjutkan pencarian malioboro. kali ini saya gak sendirian, saya ditemani gitar baru yang bakal menemani perjalan panjang saya dikota pelajar.
seharian saya muter muter nyari malioboro gak ketemu, setelah ane paham jalan dijogja, ternyata saat itu saya sudah melewati malioboro berkali kali. memang dasarnya saya yang gak pinter inget inget lokasi dan jalan akhirnya jalan yang sama saya lewati lebih dari lima kali tanpa sadar. buat yang tahu jogja, saya jalan dari arah paku alaman, sampai perempatan gondomanan saya belok ke utara arah Jl. Mataram, terus sampai ke Jl. Abu bakar ali, samapi malioboro, nol kilometer, balik lagi ke perempatan gondomanan terus muter sampai lebih dari lima kali (padahal jauh banget gan itu)
sampai pada titik saya sadar, saya udah ngelewati TV gede (saat itu saya gak tahu itu namanya videotron) yang ada dijalan abu bakar ali berkali kali. huffttt...waktu saya sadar hari sudah gelap gan. saya putusin buat putar balik, karena waktu itu kesimpulan saya, kalo dari situ saya gak nemuin malioboro mungkin malioboro ada diarah sebaliknya.
tibalah saya diperempatan gondomanan (lagi) saya nyebrang ke arah selatan, sampai tiba tiba ada yang manggil saya...
" woi...woi..."suara itu teriak teriak manggil saya
jujur waktu itu saya udah mikir macem macem gan. saya mikir yang manggil itu preman atau pengamen daerah situ. terus saya mau digebukin karena udah ngamen di wilayahnya. walaupun saat itu saya gak ngamen, tapi posisi saya yang nenteng gitar jelas menimbulkan kecurigaan.
"woi...lu yang bawa gitar pake kacamata sini lu" kembali dia teriak memanggil.
oh iya saya berkacamata sangat tebal, saat itu mungkin sudah minus 7 dimata kiri dan 9 dimata kanan (mungkin ada yang tahu obatnya, soalnya tiap tahun minus saya makin bertambah). nah ini berpengaruh pada jarak pandang saya, di malam hari kayak kejadian ini jarak pandang saya sangat pendek. buat lihat orang mungkin cuma jarak 5 meter aja, selebihnya cuma kelihatan siluet. jadi bersyukurlah buat agan agan yang dikaruniai mata yang sehat. saat itu saya gak bisa lihat dengan jelas sosok yang manggil saya. apa dia itu lelaki gagah penuh tato dan tindik yang siap mengeksekusi saya atau mahluk seperti apa...saya kurang jelas lihatnya. saya mulai jalan pelan pelan mendekati sumber suara yang manggil saya. setelah cukup dekat baru saya tahu wujud asli mahluk yang udah manggil saya. anak lelaki yang sepertinya seumuran saya, berkulit putih, rambut cepak dan mata sipit (no sara).
"mau kemana lu?" tanya dia...
"mau ke malioboro mas" jawab saya masih agak takut
"hahahahahaha....."dia ketawa keras banget, saya bingung kenapa dia ketawa.
"lu baru ya disini?" tanya simata sipit lagi
"iya mas, baru tadi pagi sampai jogja"jawab ku
"kalau lu jalan terus tadi, lu bakal sampai malioboro, yang ada lu nyasar sampai pantai parang tritis. kenalin gue rudi anak anak biasa manggil gue cina (no sara). nama lu siapa?"tanya dia sambil memperkenalkan diri
"saya akbar mas..."jawab ku
"lu masih baru disini, bahaya kalo jalan sendirian, mending lu gabung sama temen temen gue, setidaknya ada yang lindungi elo"
kali ini disuruh ikuti dia, sampailah saya di tempat yang kelak saya kenal dengan tempat parkir gondomanan. ternyata disana udah ngumpul tiga orang temannya si rudi. penampilan mereka "serem" menurut saya saat itu.
"wan...kenalin nih anak baru, kasian dia nyasar" kata rudi
anak itu diam sesaat sambil ngelihatin saya. jujr saya ngerasa risih diliatin tajem kayak gitu.
"asal lu dari mana?"tanya anak itu sambil tetap natap saya tajam
"saya dari R**b**g mas..."jawab saya
"jangan panggil gue mas, panggil aja gue iwan. gue asal jakarta. lu tenang aja disini, kita semua anak perantauan jadi kita saling melindungi disini..."kata iwan
"iya wan...makasih udah mau nerima saya disini" kata saya
"lu belum makan? lemes banget..."tanya iwan
"terakhir tadi siang wan..."jawab saya
"lu ada duit gak buat makan?"kembali iwan bertanya
"duit saya udah abis buat beli gitar ini wan"jawab saya
"hmmm...pli lu temenin dia ngamen bentar biar punya duit buat makan" jawab iwan sambil nunjuk anak paling kecil diantara mereka.
"yuk..."tiba tiba kipli udah narik tangan saya begitu saja.
jujur ternyata nulis itu susah, mohon masukannya dari sesepuh sfth...
singkat cerita saya udah selesai makan dan kembali melanjutkan pencarian malioboro. kali ini saya gak sendirian, saya ditemani gitar baru yang bakal menemani perjalan panjang saya dikota pelajar.
seharian saya muter muter nyari malioboro gak ketemu, setelah ane paham jalan dijogja, ternyata saat itu saya sudah melewati malioboro berkali kali. memang dasarnya saya yang gak pinter inget inget lokasi dan jalan akhirnya jalan yang sama saya lewati lebih dari lima kali tanpa sadar. buat yang tahu jogja, saya jalan dari arah paku alaman, sampai perempatan gondomanan saya belok ke utara arah Jl. Mataram, terus sampai ke Jl. Abu bakar ali, samapi malioboro, nol kilometer, balik lagi ke perempatan gondomanan terus muter sampai lebih dari lima kali (padahal jauh banget gan itu)
sampai pada titik saya sadar, saya udah ngelewati TV gede (saat itu saya gak tahu itu namanya videotron) yang ada dijalan abu bakar ali berkali kali. huffttt...waktu saya sadar hari sudah gelap gan. saya putusin buat putar balik, karena waktu itu kesimpulan saya, kalo dari situ saya gak nemuin malioboro mungkin malioboro ada diarah sebaliknya.
tibalah saya diperempatan gondomanan (lagi) saya nyebrang ke arah selatan, sampai tiba tiba ada yang manggil saya...
" woi...woi..."suara itu teriak teriak manggil saya
jujur waktu itu saya udah mikir macem macem gan. saya mikir yang manggil itu preman atau pengamen daerah situ. terus saya mau digebukin karena udah ngamen di wilayahnya. walaupun saat itu saya gak ngamen, tapi posisi saya yang nenteng gitar jelas menimbulkan kecurigaan.
"woi...lu yang bawa gitar pake kacamata sini lu" kembali dia teriak memanggil.
oh iya saya berkacamata sangat tebal, saat itu mungkin sudah minus 7 dimata kiri dan 9 dimata kanan (mungkin ada yang tahu obatnya, soalnya tiap tahun minus saya makin bertambah). nah ini berpengaruh pada jarak pandang saya, di malam hari kayak kejadian ini jarak pandang saya sangat pendek. buat lihat orang mungkin cuma jarak 5 meter aja, selebihnya cuma kelihatan siluet. jadi bersyukurlah buat agan agan yang dikaruniai mata yang sehat. saat itu saya gak bisa lihat dengan jelas sosok yang manggil saya. apa dia itu lelaki gagah penuh tato dan tindik yang siap mengeksekusi saya atau mahluk seperti apa...saya kurang jelas lihatnya. saya mulai jalan pelan pelan mendekati sumber suara yang manggil saya. setelah cukup dekat baru saya tahu wujud asli mahluk yang udah manggil saya. anak lelaki yang sepertinya seumuran saya, berkulit putih, rambut cepak dan mata sipit (no sara).
"mau kemana lu?" tanya dia...
"mau ke malioboro mas" jawab saya masih agak takut
"hahahahahaha....."dia ketawa keras banget, saya bingung kenapa dia ketawa.
"lu baru ya disini?" tanya simata sipit lagi
"iya mas, baru tadi pagi sampai jogja"jawab ku
"kalau lu jalan terus tadi, lu bakal sampai malioboro, yang ada lu nyasar sampai pantai parang tritis. kenalin gue rudi anak anak biasa manggil gue cina (no sara). nama lu siapa?"tanya dia sambil memperkenalkan diri
"saya akbar mas..."jawab ku
"lu masih baru disini, bahaya kalo jalan sendirian, mending lu gabung sama temen temen gue, setidaknya ada yang lindungi elo"
kali ini disuruh ikuti dia, sampailah saya di tempat yang kelak saya kenal dengan tempat parkir gondomanan. ternyata disana udah ngumpul tiga orang temannya si rudi. penampilan mereka "serem" menurut saya saat itu.
"wan...kenalin nih anak baru, kasian dia nyasar" kata rudi
anak itu diam sesaat sambil ngelihatin saya. jujr saya ngerasa risih diliatin tajem kayak gitu.
"asal lu dari mana?"tanya anak itu sambil tetap natap saya tajam
"saya dari R**b**g mas..."jawab saya
"jangan panggil gue mas, panggil aja gue iwan. gue asal jakarta. lu tenang aja disini, kita semua anak perantauan jadi kita saling melindungi disini..."kata iwan
"iya wan...makasih udah mau nerima saya disini" kata saya
"lu belum makan? lemes banget..."tanya iwan
"terakhir tadi siang wan..."jawab saya
"lu ada duit gak buat makan?"kembali iwan bertanya
"duit saya udah abis buat beli gitar ini wan"jawab saya
"hmmm...pli lu temenin dia ngamen bentar biar punya duit buat makan" jawab iwan sambil nunjuk anak paling kecil diantara mereka.
"yuk..."tiba tiba kipli udah narik tangan saya begitu saja.
0