Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#1777
PART 26


Baju kemeja Gua sudah terlepas 3 kancing dari bagian atas, tak jauh berbeda dengan kondisi sang kekasih, yang mana dress terusannya sudah turun hingga sedadanya. Nafas kami masih saling memburu, dan tangan kanannya pun masih meremas rambut belakang Gua, tangan kirinya memeluk punggung Gua. Kedua tangan Gua bertumpu diatas kasur untuk menahan tubuh.

Sejenak dia melepas pagutannya, "hhh.. hhhh... Zaa..", ucapnya lirih dan terengah-engah.

Gua hanya memandanginya dengan jarak yang sangat dekat, Gua lihat dia menelan ludah dengan mata yang kembali terpejam. Lalu tangan kanannya menarik cepat kepala Gua agar jatuh ke sisi wajahnya. Suara bisiknya tepat terdengar di telinga kiri ini.

"Take it...", bisiknya di sela deru nafasnya yang masih memburu.

Seketika itu juga Gua bangun dan berdiri, Mba Siska membuka matanya ketika menatap Gua yang sedang tersenyum kepadanya, lalu Gua ulurkan tangan kanan dan langsung disambutnya hingga ia terduduk di sisi kasur. Gua berlutut dihadapannya.

"Mba...",
"Aku sayang kamu..".

"Aku juga sayang kamu Za", ucapnya dengan mengaitkan kedua tangannya ke bahu Gua.

"Tapi bukan ini yang aku mau Mba", ucap Gua lagi seraya melepaskan kedua tangannya dari bahu ini.

Lalu dengan wajah yang sedikit keheranan, Mba Siska hendak mengucapkan sesuatu lagi, tapi dengan cepat Gua cium bibirnya. Sambil tetap menciumnya Gua naikkan dress yang sudah turun tadi, hingga kembali menutup dan berada diatas kedua bahunya lagi.

Gua lepas ciuman tanpa pagutan di bibir, lalu Gua mengajaknya keluar kamar. Gua duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Mba Siska berdiri tepat di depan Gua.

"Buatin aku kopi ya...", pinta Gua seraya kembali mengancingkan kemeja lagi hingga rapih.

Ketika Mba Siska masih berada di dapur, Gua mengeluarkan sebungkus rokok dan mulai membakar racun itu, menghisapnya perlahan dan menghembuskannya dengan cepat. Mata Gua terpejam ketika kepala ini Gua sandarkan ke bahu sofa dibelakang.

Gila! Hampir saja Gua melakukan hal diluar batas, untung saja belum terlalu jauh, dan memang masih dalam keadaan waras ini otak. Gua gak sangka sebegitu besar nafsunya sang kekasih seperti Mba Yu. Dibilang hampir enggak juga sih. Dressnya hanya turun sebatas dadanya, itu pun dadanya masih tertutup, celana jeans Gua masih tertutup aman, hanya kemeja saja yang dia buka 3 kancingnya. Jauh dari kata hampir. Lain cerita tapi kalau mengingat kondisi, suasana dan birahi yang terjadi diantara kami, semuanya mendukung, siapa yang mau ganggu jika Gua buka segelnya. Tapi seperti yang selalu Gua pikirkan kepada Mba Yu, kesempatan begitu banyak untuk Gua, namun ketika mendengar kata-kata "ambil aja", "aku rela", atau "pelan-pelan", otak Gua langsung mengatakan "No more open seal again dude.. That's enough". Yap, Gua gak mau lagi menjadi lucky bast*rd seperti di SMA dulu. Kalo dengan Lisa ?, lah dianya pengalaman, biarlah gak apa-apa ya, asal jangan ngurangin yang stocknya masih segel. Kasihan nanti laki-laki diluar sana.

Tidak lama kemudian Mba Siska membawa secangkir kopi hitam dan secangkir teh manis hangat. Setelah menaruh cangkir diatas meja, Mba Siska duduk tepat di samping Gua, tubuhnya merapat, kepalanya disandarkan ke bahu kiri ini, dan tangan kananya dikaitkan ke lengan kiri Gua.

"Za", panggilnya.

"Ya Mba..".

"Kamu sayang kan sama aku ?", tanyanya tanpa menoleh sedikitpun.

"Sayang Mba",
"Kenapa ? Kamu ragu sama aku ya ?", tanya Gua seraya melepaskan lengan kiri dari kaitan tangannya.

Gua menengok kearahnya, sedangkan posisi duduk Mba Siska menyerong kearah Gua.

"Bukan",
"Aku cuma..", ucapannya terhenti.

Gua melihat ada keraguan yang terpancar dari wajahnya. Entah sebenarnya apa yang ingin dikatakan sang kekasih, tapi hati Gua berkata, peluklah dirinya...

Gua langsung memeluknya, menyandarkan kepalanya ke dada ini, membelai lembut rambut dan punggungnya. Dan pada akhirnya Gua rasakan tubuhnya sedikit bergetar, tangisnya pun tumpah walau hanya terdengar pelan. Jelas Gua bingung ada apa dengan Mba Siska, bukan dengan cinta. Huehehehe.

"Kenapa nangis Mba ?", tanya Gua pelan sambil tetap mengelus punggungnya.

Mba Siska tidak langsung menjawab, Gua masih merasakan dirinya menangis. Lalu Gua biarkan dulu dia tenang selama beberapa menit, hingga hening yang kami rasakan, kemudian tubuhnya mundur dari pelukkan Gua. Wajahnya sedikit sembab, airmatanya sudah mengering dari pipinya.

"Za..", ucapnya kali ini dengan kedua tangan memegang tangan Gua.

"Ya Mba ?".

"Aku..",
"Aku takut..", ucapnya lagi kali ini dengan wajah yang tertunduk.

Gua lepaskan satu tangan dari genggamannya, lalu Gua belai lembut sisi wajahnya hingga Gua menaikkan dagunya, agar wajahnya bisa Gua tatap kembali. Gua dekatkan wajah ini kehadapannya.

"Apa yang kamu takutkan ?".

"Aku..",
"Aku takut kehilangan kamu Za..".

Seketika itu juga langsung Gua peluk lagi dirinya.

"Aku gak akan ninggalin kamu Mba",
"Gak akan",
"Kenapa kamu ngomong gitu ?", tanya Gua pada akhirnya.

"Aku udah terlalu sayang sama kamu Za..",
"Aku gak pernah sesayang ini sama laki-laki lain".

Degh..

Jantung Gua serasa berhenti sejenak sesaat mendengar ucapannya tadi. Entah apa benar atau tidak yang dia katakan, tapi bukan itu yang Gua pikirkan, melainkan harapannya lah yang mengusik Gua, sebesar itu rasa sayangnya kepada Gua, apa karena kejutan beberapa jam lalu, ah itukan hal biasa, maksud Gua bukan sesuatu yang benar-benar bernilai lebih.

Gua hanya bisa terdiam dan tetap memeluknya selama beberapa menit. Lalu Gua lepaskan pelukkan, dan memegang kedua bahunya.

"Aku akan berusaha bahagiain kamu Mba.. Sebisa ku",
"Aku gak bisa janjiin kamu apa-apa selain berusaha menyayangi kamu", ucap Gua.

Lalu kami berdua pun tersenyum.

...

Gua terbangun ketika suara spatula dan wajan saling beradu. Gua mengerjapkan mata sebentar lalu terduduk. Meregangkan sebentar otot-otot tubuh yang terasa pegal akibat sempitnya tidur di sofa ruang tamu rumah kontrakan ini.

Gua berjalan ke arah suara orang yang sedang memasak, ke dapur. Gua berhenti di dekat meja makan dapur dan memperhatikan sosok perempuan daster bermotif bunga yang membelakangi Gua. Senyum pun tersungging ketika sang kekasih hati memindahkan nasi goreng dari wajan ke piring.

"Hmm.. Wanginyaaa..", ucap Gua.

"Eh ?",
"Pagi Za, udah bangun", ucap Mba Siska seraya menengok ke belakang.

"Belom Mba, sleep walking nih", jawab Gua lalu menjulurkan lidah ketika Mba Siska menatap Gua.

"Ha ha ha ha",
"Ada-ada aja ya kamu tuh", jawabnya seraya berjalan ke meja makan dan menaruh dua piring berisi nasi goreng buatannya.

"Kamu kok gak bangunin aku Mba ?".

"Aku bangunin kamu tau, tapi kamunya aja masih asyik ketiduran, lagian kayaknya kamu kecapean", jawabnya.

"Hmm.. Lumayan pegel badan ku Mba".

"Salah sendiri, disuruh tidur di kamar malah milih di sofa..",
"Udah sana cuci muka sama gosok gigi dulu Za, terus sarapan".

Gua pun melangkah ke kamar mandi dan mencuci muka lalu gosok gigi sesuai permintaannya. Selesai bersih-bersih dikit, kembali Gua ke dapur, ke meja makan yang berada di sana. Ketika Gua lihat Mba Siska duduk di kursi, Gua peluk dari belakang dengan melingkarkan kedua tangan ke depan tubuhnya, lalu Gua kecup pipi kanannya.

Cup

"Love You", ucap Gua.

"Love You too..",
"Tapi muka kamu belum di lap tuh, basah nih pipi aku, huu..", jawabnya sambil cemberut.

Gua tersenyum melihat wajahnya itu, karena wajah kami masih saling berhadapan, Gua isengi dia dengan memajukan bibir kepadanya. Mba Siska terkekeh pelan lalu bibirnya mengecup bibir Gua sekilas, kami pun tertawa pelan.

"Udah, ayo sarapan dulu..", ucapnya.

Gua pun duduk di hadapannya, dan kami berdua mulai menyantap nasi goreng buatannya ini. Segelas teh tawar hangat sudah disediakan di samping piring makan. Hmm.. Manteup masakannya, rasanya pas, gurihnya pas. Emang jago masak nih kekasih Gua. Lope yu pul dah Mba.

Selesai sarapan, seperti biasa Mba Siska membereskan piring dan gelas bekas makan kami, lalu membawanya ke wastafel cuci piring. Gua tersenyum sambil menggelengkan kepala dari kursi makan ini menatap dirinya yang sedang mencuci. Dalam pikiran ini, Gua mengingat kembali ucapannya tadi malam, hmm.. Mba, aku gak ada niat untuk ninggalin kamu, semoga aku bisa bahagiain kamu ya Mba, ucap Gua dalam hati.

Gua berdiri lalu berjalan mendekati sang kekasih yang masih asyik mencuci piring. Gua peluk dari belakang tubuhnya, uuuhh, aroma tubuhnya menyengat indra penciuman Gua. Kecup manjah ah tengkuknya.

Cup

"Iih mulai ya nakalnya..", ucapnya tetap asyik menyabuni gelas kotor kali ini.

"Biarin nakal juga, sama pacar sendiri ini".

Cup

"Eza ah..".

Cup

"Zaaa..".

"Apa sayang ?",
"Mau nyabunin mata ku pakai sabun cuci itu ?", jawab Gua menggodanya.

"Iih enggak kooook..".

"Terus ?".

"Kalo mau nakal tunggu aku selesai nyuci dulu dong..", jawabnya tak kalah menggoda Gua.

Haiiisss, berubah gini si Mba Siska ku, dududuuuh, nakal ya sekarang kamu Mba, slepet nih nanti, bahahahaha...

Gua melepaskan pelukkan dan menuju kamar mandi. Bersih-bersih tubuh yang terasa lengket, singkatnya Gua sudah selesai mandi dan keluar hanya mengenakan celan jeans dan handuk yang melingkar ke leher Gua, tanpa memakai kaos penutup bagian tubuh atas lagi. Gua berjalan ke ruang tamu dan melihat di meja sudah tersedia kopi hitam. Ceuk, mantap bener ini calon bini Gua.

Setelah Gua duduk di sofa, Mba Siska keluar dari kamarnya dengan handuk dan pakaian yang dikaitkan ke tangannya.

"Za, aku mandi dulu ya", seraya berjalan ke arah bagian dalam rumah.

"Mba".

"Ya ?", ucapnya berbalik badan.

"Mau aku mandiin ?".

Mba Siska mengerenyitkan kening lalu menjulurkan lidah kepada Gua.

"Hehehehe...", Gua terkekeh melihatnya buru-buru pergi dari hadapan Gua.

...

Jam 9 pagi Gua sudah berada di kampus, tepatnya di kelas Gua. Kali ini Gua duduk bersama Lisa, gak lagi sama si gesrek Mat Lo yang otaknya cuma mikirin bodi semlohay si Windi. Tapi kok ya Gua kayak ketularan si Mat Lo nih, apa karena memang dasarnya si Lisa seksi ya. Itu paha kok ya duduknya gak bisa rapet apa, ngangkang sedikit bikin pikiran Gua liar kemana-kemana, sial nih mata autofocus mulu kalo ama paha berbalut stocking.

Enggak banyak yang bisa Gua ceritakan selama belajar di kelas, ya cuma gitu-gitu aja lah. Sedikit ngobrol dengan Lisa soal materi kuliah dan sisanya kami fokus kepada Dosen yang mengajar di bawah sana.

Jam setengah 3 sore kami semua sudah bubar jalan alias pulang. Gua baru saja keluar kelas ketika melihat Kinanti duduk sendirian di bangku kayu samping kelas Gua.

"Hai Za..", sapanya ketika Gua melintas di depannya.

"Hai Kak",
"Udah bubar duluan ?".

"Iya, baru 10 menit yang lalu", jawabnya.

"Ooh.. Nungguin.. Mmm...".

"Nungguin kamu", ucapnya yang melihat Gua kebingungan,
"Pulang bareng ya..", lanjutnya.

"Mmm... Boleh deh.. hehehe..".

Gua dan Kinanti pun akhirnya berjalan menuju parkiran. Karena memang hari ini mobil sang kekasih sengaja tidak Gua bawa, pagi tadi Gua naik taksi ke kost-an dari rumah kontrakannya, walaupun Mba Siska memaksa Gua untuk membawa mobilnya seperti kemarin, Gua tetap menolak. Sungkan lah Gua kalau sampai kebiasaan memakai mobilnya terus. Kepikiran kapan mau bawa kendaraan juga nih Gua ke kost-an, kalo sekedar kost - kampus sih bisa jalan kaki. Tapi kalo lagi ada keperluan ke luar kan lumayan ribeut nanti Gua. Singkat cerita, Gua dan Kinan sudah berada di mobilnya, kali ini Kinan yang mengemudi.

"Za, mau makan dulu ?", tanyanya.

"Mmm.. Makan dimana ?", tanya Gua balik.

"Terserah kamu".

"Yang simpel aja ya Kak, mekdih aja gimana ?".

"Okey".

Gua sengaja memilih ke resto fast-food agar bisa memesan burger sebagai pengganjal perut, karena pasti nanti sore sang kekasih ngajakin makan nih setelah dia pulang kerja.

Kinan mengarahkan mobil ke resto mekdih, lalu setelah melewati jalan berkelok sana-sini, kami pun sampai di resto mekdih. Kinan memesan menu lengkap, nasi, ayam crispy dan coke. Sedangkan Gua cukup dengan medium Burger plus air mineral kemasan, Gua memang kurang begitu suka dengan minuman soda sih.

Kami berdua memilih meja makan yang berada di luar, agar Gua bisa merokok. Kinan sempat menanyakan menu pesanan Gua yang nampaknya kurang mengenyangkan.

"Kamu kenapa cuma pesen burger Za ?".

"Heum ? Oh, gak apa-apa, lagi pingin makan burger aja".

"Za, kamu deket sama Vero ?", tanyanya disela-sela menyantap makan siang.

"Heum ?",
"Enggak gitu deket, cuma kenal aja kok Kak..".

"Ooh..".

Kinan pun kembali menyantap makanannya sampai habis. Sedangkan Gua selama menunggunya menghabiskan makan, membakar sebatabg nikotin. Singkat cerita selesai makan siang kami pun pergi dari resto ini. Kali ini Gua yang mengemudikan mobilnya, karena Kinan ingin lihat kost-an Gua, maka Guabarahkan mobil ke arah jalan menuju kampus lagi. Sekitar 20 menit akhirnya sampai juga di area parkiran kost-an.

...

Kami berdua sudah berada di kamar kost no.20, lalu Kinan duduk di bangku belajar, sedangkan Gua berganti pakaian di kamar mandi. Beres ganti baju, Gua keluar ke arah dapur untuk membuat teh manis hangat.

"Silahkan Kak di minum, eh tapi masih panas sih, hehehe", ucap Gua seraya menaruh secangkir teh manis di atas meja belajar.

"Makasih Za, repot-repot segala",
"Eh kamar mu enak ya, adem, bersih lagi", ucapnya.

"Ya alhamdulilah Kak",
"Ngomong-ngomong maaf aku lupa beli cemilan hehehe, cuma disuguhi minuman aja nih..".

"Ah apa sih, santai aja Za",
"Lagian tadi abis makan siang, masih kenyang",
"Oh ya kamu gak bawa motor mu kesini Za ?", tanyanya.

"Mau sih Kak, mungkin libur nanti aku bawa ke sini",
"Gak ada kendaraan jadi kurang fleksibel juga kalo mau kemana-mana", jawab Gua.

Kami hanya mengobrol santai di kamar kost-an Gua, dengan pintu yang terbuka lebar tentunya. Banyak yang kami obrolkan dari mulai soal matkul di kampus, magang yang masih lama hingga akhirnya Kinan bercerita kalau Kakaknya akan menikah bulan ini.

"Oh mau nikah, perempuan apa lelaki sih Kakak mu Kak ?", tanya Gua yang memang belum bertemu sekalipun dengan Kakak atau adiknya.

"Perempuan Za", jawabnya.

"Ooh semoga lancar deh ya", timpal Gua.

"Iya Za, calon suaminya juga kerjanya di luar negeri, makanya ini agak dadakan mau bikin acara nikahannya", ucapnya lagi.

Sekitar pukul 4 sore Kinan pamit pulang ke apartemennya, Gua mengantarnya hingga parkiran. Ya sebenarnya untung sih dia pulang, karena kan sebentar lagi sang kekasih pulang kerja juga, walaupun Gua tidak menjemputnya karena mobil dibawa sendiri olehnya, tetap saja takutnya dia mau ke kost-an. Akhirnya Gua sendirian lagi deh, karena acara tv gak ada yang menarik, Gua memilih duduk dan nongkrong di depan kamar. Jam segini penghuni kost-an belum pada pulang, otomatis suasananya sepi. Gua membakar rokok dan menikmati tiap hisapannya, bunyi sms masuk terdengar dari saku celana Gua.

Quote:


Yaaa sang kekasih lembur, bete deh Gua mau ngapain sekarang, ah ya, mending makan dulu deh, kan tadi cuma keisi burger aja ini perut. Gua pun mengambil dompet ke dalam kamar, mengecek isinya dan hadeeuuuh tinggal selembar 10 rebuan! Hiks hiks hiks. Ini nih kemaren malem abis bikin acara surprise buat sang kekasih pake duit cash, ludes semua deh. Gua mau ke atm narik duit tapi gak ada kendaraan, lagian Gua gak tau dimana ada atm di dekat kost-an. Berpikir sejenak, ah Gua makan warteg aja dulu deh, pasti banyak yang murah. Gua pun bergegas keluar lagi setelah mengunci kamar. Sampai gerbang pagar kost-an ada sebuah mobil pewe hendak masuk, ya mau gak mau Gua buka lebih lebar pintu pagar. Setelah sebagian mobil itu masuk, kaca kemudinya diturunkan lalu..

"Makasih ya", ucap seorang perempuan yang mengenakan kacamata hitam kepada Gua.

"Sama-sama", jawab Gua.

Mobil pun masuk dan Gua kembali menutup pagar, lalu berjalan ke arah deretan warung makan di dekat kost-an. Gua menimang-nimang, cukup gak nih makan di warteg, pasti cukuplah ya. Gua masuki warteg yang tidak begitu ramai lalu memesan nasi dan lauk. Singkat cerita Gua makan di warteg tersebut, enak makanannya dan warteg ini terbilang bersih. Masih menikmati makanan, masuklah seorang perempuan ke dalam warteg. Haaiissh bodinya manteub banget, seksi, kaosnya ngepress banget sampe lekuk tubuhnya tercetak jelas. Celananya sih long-jeans yang banyak robek-robek gitu dari paha hingga lutut.

Sekilas Gua memperhatikannya ternyata ini perempuan yang tadi bawa mobil pewe dan masuk ke dalam kost-an. Hmmm, yakin deh kalo nih perempuan penghuni kamar no.3. Si Female DJ.

Gua selesai makan dan hendak membayar ketika pemilik warteg sedang membungkus nasi untuk si perempuan itu. Ya karena posisi Gua bersebalahan, otomatis dia menengok kearah Gua ketika Gua memberikan uang kepada pemilik warteg.

"Hei, Lo kan yang tadi dari kost-an ya ?", tanyanya.

"Eh ?", Gua menengok, pura-pura baru menyadari kehadirannya,
"Iya.. Mba nya yang tadi di mobil kan ?", tanya Gua balik.

"Iya..",
"Lo kost di situ juga ?".

Gua hanya mengangguk. Lalu si pemilik warteg menyela obrolan kami.

"Mas, semuanya jadi 15 ribu..", ucapnya kepada Gua.

Gua menengok dan sedikit terkejut, jiirrr kurang goceng duit Gua ini. Mamvus, malu amat, terus mau bayar pake apa ini!.

"Eh 15 ribu ya Bu ?",
"Eeuu.. Uang saya berapa ya tadi", pura-pura bego.

"Tadi uangnya 10 ribu, kurang 5 ribu Mas..".

Gua pun merogoh saku celana berharap menemukan lembar kertas berharga, sial tapi gak ada selembar pun. Gua keluarkan dompet, dan kosong melompong isinya. Oh syit! Gua maubayar pakai apa ini kamvret! Hiks hiks...

"Kenapa ?", tanya si perempuan.

Gua menengok kepadanya dengan ekspresi bodoh. Gua bukannya menjawab tapi malah bengong ketika dia tersenyum lalu mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya.

"Udah Bu, sekalian aja sama makanan dia", ucap si perempuan sambil memberikan uang kepada pemilik warung lalu, melirik kepada Gua.

"Udah tuh ambil uang Lo..", ucapnya lagi dengan tetap tersenyum.

Ya akhirnya Gua dibayarin sama si perempuan ini, duit 10 rebu yg harusnya buat beli makan tadi balik lagi ke dompet Gua. Kami berdua pun keluar dari warteg dan berjalan menuju kost-an. Malu banget ini pertama kenal udah ke gep gak ada duit. Turun dah citra Gua di mata nih perempuan.

"Eh iya Mba, nanti saya ganti uangnya, maaf ya..", ucap Gua sambil berjalan di sampingnya,
"Uang saya belum di tarik dari atm", lanjut Gua.

"Ah santai aja kali..",
"Eh ngomong-ngomong nama Lo siapa ?", tanyanya.

"Oh iya, saya Reza, panggil aja Eza", jawab Gua.

"Oh Eza, oke deh..",
"Kalo Gue Bianca.. Panggil aja Bian", ucapnya.

Bian ? Gak asik amat panggilannya. Ah Gua panggil Ka' aja deh, kan namanya itu penyebutannya Bianka.

"Kalo saya panggil Mbanya Ka' aja gimana ? Daripada Bian hehe..".

"Terserah bebas, asal ilangin itu kata 'Mba' nya, berasa tua Gue.. hehehe..".

Ya sesuai permintaannya deh, Gua gak perlu pake Mba atau Teteh. Langsung nyebut namanya aja.

"Gak usah terlalu sopan Za, panggil nama aja, Umur kita gak beda jauh deh kayaknya".

"Masa sih ? Saya baru kuliah loch Mba, eh Ka'..".

"Gue baru 21 kok", jawabnya lagi.

"Wah Tua atuh, saya masih dibawah 19 tahun nih huehehe..".

"Yee sialan Gue dibilang tua".

"Hehe.. Sorry-sorry canda Ka'".

Singkat cerita Gua dan Bianca sudah berada di kost-an, tepatnya di dalam kamarnya, pintunya terbuka kok slow. Emang Bianca yang ngajak Gua ke kamarnya, lebih tepatnya sih minta tuangin galon ke dispenser. Hiks ada maunya ternyata emoticon-Frown
Diubah oleh glitch.7 11-04-2017 15:57
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.