- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.7K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#483
Part 16 - Attack!
PART 16 - Attack!
Quote:
Mbah Suroso dan Mbah Wagiman keluar dari rumah mereka masing masing karena mendengar riuh warga kampung di tengah tengah cuaca buruk. Mereka berdua belum sadar telah terjadi sebuah fenomena diluar akal sehat manusia. Langkah kaki mereka yang sudah lemah perlahan lahan keluar melangkah dari pintu rumah mereka. Mata mereka pun melotot seakan akan mau keluar dari tengkorak mereka seperti katak yang siap melompat berusaha menangkap mangsa mungkin lebih tepat digambarkan melihat kedua pasang mata itu. Mulut mereka terpaku melihat pemandangan aneh dari langit diatas bukit tempat team ekspedisi berada.
Entah bagaimana, tiba tiba saja Mbah Wagiman bisa melompat. Dia lalu menghampiri seorang anak lelaki kecil yang berdomisili tepat di sebelah rumahnya. “Rio, kamu ke tempat Pak Martono, Pak Kepling kita. Katakan padanya Mbah mu ini dan Mbah Suroso ingin bertemu”. “Wokeh Mbah” sahutnya yang dibarengi dengan kaki kecilnya berlari kencang menyusuri jalanan kampung menuju rumah Pak Kepling. Ternyata Pak Kepling sudah berjalan mendekati arah rumah Mbah Wagiman bersama Iryawan, si operator radio bersama Ipda I Putu Baskara dari Polsek, Serma Gunawan Koto dari Koramil dan Pak Ustadz, Haji Muhammad Zakaria Nasution dan seorang Paranormal dari kota yang tidak mau namanya disebutkan tapi cukup dipanggil dengan Om Taka saja. “Mbah, udah datang tuh orangnya” suara Rio mengagetkannya.
Tak lama berselang Mbah Suroso yang diantar cucunya pun merapat ke mereka. “Pak, jadi begini saja. Saya sudah dapat cerita dari Taka, saudara paranormal ini mengenai apa yang terjadi. Saya sudah pastikan melalui penglihatan saya, tentunya dengan izin ALLAH SWT ada sebuah kekuasaan makhluk ghaib disana” Pak Ustadz memulai percakapan di tengah tengah angin kencang. “Lebih baik Mbah berdua cerita kepada kami bagaimana hilangnya prajurit prajurit itu Mbah. Teman teman Mbah yang dulu bersama Mbah” Om Taka memancing Mbah Suroso dan Mbah Wagiman agar mau membuka mulut mereka. “Iya Mbah, saya memang tidak ada hak untuk ikut campur tapi apabila sudah menyangkut urusan nyawa maka sudah menjadi ranah TNI untuk masuk membantu POLRI” sambung Serma Gunawan Koto.
Akhirnya mereka berdua bercerita apa yang terjadi pada teman teman mereka dahulu kala di bukit itu. Peristiwa yang tidak mau mereka mengingatnya lagi. Tapi entah bagaimana rahasia mereka bisa diketahui oleh orang lain, padahal hanya mereka berdua saksi mata hidup dan hanya beberapa orang di Markas yang mengetahuinya. Tiba tiba saja Ipda I Putu Baskara, Polisi yang berasal dari Bali membuka mulut karena melihat kedua orang tua itu penasaran, “Mbah, saya punya kemampuan di luar manusia normal. Yang lazimnya kita sebut indigo. Kemampuan itu datang alami tapi kadang ada yang mendapatkannya setelah kecelakaan atau sesuatu sebab yang lain”. Sontak saja kedua Mbah itu kaget bukan main untuk sesaat saja tapi mereka menyadari bahwa tak mungkin bangkai yang begitu bau bisa disembunyikan.
Entah bagaimana, tiba tiba saja Mbah Wagiman bisa melompat. Dia lalu menghampiri seorang anak lelaki kecil yang berdomisili tepat di sebelah rumahnya. “Rio, kamu ke tempat Pak Martono, Pak Kepling kita. Katakan padanya Mbah mu ini dan Mbah Suroso ingin bertemu”. “Wokeh Mbah” sahutnya yang dibarengi dengan kaki kecilnya berlari kencang menyusuri jalanan kampung menuju rumah Pak Kepling. Ternyata Pak Kepling sudah berjalan mendekati arah rumah Mbah Wagiman bersama Iryawan, si operator radio bersama Ipda I Putu Baskara dari Polsek, Serma Gunawan Koto dari Koramil dan Pak Ustadz, Haji Muhammad Zakaria Nasution dan seorang Paranormal dari kota yang tidak mau namanya disebutkan tapi cukup dipanggil dengan Om Taka saja. “Mbah, udah datang tuh orangnya” suara Rio mengagetkannya.
Tak lama berselang Mbah Suroso yang diantar cucunya pun merapat ke mereka. “Pak, jadi begini saja. Saya sudah dapat cerita dari Taka, saudara paranormal ini mengenai apa yang terjadi. Saya sudah pastikan melalui penglihatan saya, tentunya dengan izin ALLAH SWT ada sebuah kekuasaan makhluk ghaib disana” Pak Ustadz memulai percakapan di tengah tengah angin kencang. “Lebih baik Mbah berdua cerita kepada kami bagaimana hilangnya prajurit prajurit itu Mbah. Teman teman Mbah yang dulu bersama Mbah” Om Taka memancing Mbah Suroso dan Mbah Wagiman agar mau membuka mulut mereka. “Iya Mbah, saya memang tidak ada hak untuk ikut campur tapi apabila sudah menyangkut urusan nyawa maka sudah menjadi ranah TNI untuk masuk membantu POLRI” sambung Serma Gunawan Koto.
Akhirnya mereka berdua bercerita apa yang terjadi pada teman teman mereka dahulu kala di bukit itu. Peristiwa yang tidak mau mereka mengingatnya lagi. Tapi entah bagaimana rahasia mereka bisa diketahui oleh orang lain, padahal hanya mereka berdua saksi mata hidup dan hanya beberapa orang di Markas yang mengetahuinya. Tiba tiba saja Ipda I Putu Baskara, Polisi yang berasal dari Bali membuka mulut karena melihat kedua orang tua itu penasaran, “Mbah, saya punya kemampuan di luar manusia normal. Yang lazimnya kita sebut indigo. Kemampuan itu datang alami tapi kadang ada yang mendapatkannya setelah kecelakaan atau sesuatu sebab yang lain”. Sontak saja kedua Mbah itu kaget bukan main untuk sesaat saja tapi mereka menyadari bahwa tak mungkin bangkai yang begitu bau bisa disembunyikan.
------------------------------------------
Quote:
Langit begitu gelap namun terang benderang karena petir saling bersahut sahutan saling bergantian menyilaukan mata diiringi suaranya yang Cumiakan telinga. Kepanikan hebat melanda istana raja dan kota raja bak sedang ada gempuran dari musuh. Aldi dan stuan putri kini harus memasuki lingkungan istana untuk menyelesaikan misi mereka. “Atri, bagaimana dengan mereka?” tunjuk Aldi ke lima orang wanita ini. “Kalian menjauhlah ke sana, ke arah bangunan itu. Kalian akan ama di sana karena bangunan itu kosong” tangan Atri menunjuk ke arah sebuah bangunan di kanan gerbang istana. “Kalahkan dia secepatnya, Adli. Kakak mohon padamu” Mutiya memohon, berharap semua ini selesai secepatnya.
5 langkah dari gerbang istana raja, Atri sang tuan putri masuk ke dalam tubuhnya Aldi. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau didalam aku?” Aldi kaget dan panik melihatnya. “Tenang, kalau aku tidak merasukimu, tidak melebur bersamamu, mungkin kamu tidak akan bisa mengalahkannya” jawab Atri yang sudah bersemayam dalam Aldi. Bagi Aldi, keadaannya sekarang telah berada jauh dari apa yang diprediksikannya. Prajurit yang setia dan loyal tunduk dibawah kekuasaan dan kekuatan Sudarma langsung menghadang Aldi yang telah menyatu dengan tuan putri. Wajah mereka kaget bak disambat petir karena melihat wajah Aldi yang hampir sama persis dengan Sudarma. Tapi dengan pakaian yang berbeda, tinggi yang berbeda dan postur tubuh yang berbeda juga.
“Aldi, nama asli Sudarma adalah Raden Agung Joko Gede Purnama. Kamu harus ucapkan itu setiap kali satu pukulan telak mendarat di tubuhnya. Kamu paham kan? Dan satu lagi, kita sudah terlihat oleh pandangan mata mereka” Atri berbisik padanya. “Oke aku paham” jawabnya datar. “Paduka raja?” tanya seorang prajurit kepada Aldi yang berjalan santai seperti tidak terjadi apa apa. “Dasar bodoh! Dia bukan paduka raja! Kalian bunuh dia sekarang juga!” teriak seorang prajurit lainnya menyadarkan teman temannya. Tanpa basa basi, maka prajurit yang sedari awal melihat kedatangan Aldi kini langsung mencabut pedangnya dan menghunuskan pedang itu ke arah Aldi. Arrrgggghhhhhh.... Prajurit itu langsung tercampak ke belakang dengan hanya sekali mengayunkan tangan saja.
“Serbu!” dari arah kanan Aldi terdengar suara belasan prajurit berlari ke arahnya. Tak ayal lagi, mereka pun menjadi sasaran empuk Aldi. Dengan hanya sekali kepalan tangan meninju kosong ke udara, prajurit prajurit itu langsung terpelanting ke tanah. Pedang, tombak dan perisai mereka lepas dari genggaman. Darah segar keluar dari mulut mereka. Mata melotot seakan akan bola mata mereka akan keluar meloncat yang tak lama dibarengi oleh keluarnya tangisan mereka yang berwarna merah pekat darah. Kedua telinga mereka meneteskan darah segar berwarna merah muda. Tubuh tubuh itu pun kejang bergetar getar hebat merasakan sakitnya pukulan telak yang tidak satu centi pun mengenai mereka semua dari jarak sekitar 5 meter.
“Dia kuat sekali, Patih!” teriak seorang prajurit. “Dasar tolol, serbu sekarang juga! Atau kau akan kutebas!” balas sang patih balik. Pakaian sang patih berebeda dari para prajurit biasa karena menggunakan baju zirah yang lebih banyak logam pelindungnya. Sekitar 20 orang prajurit berlari menyerang Aldi yang berjalan santai dari 3 arah. Dengan santainya Aldi hanya mengepalkan tangannya lalu meninju tangannya ke tanah. Getaran hebat pun keluar dari tanah dimana Aldi memukulnya. Getaran hebat itu langsung mengangkat tanah tepat di kaki prajurit prajurit yang berlari kearahnya. Tanah tersebut muncuk ke permukaan langsung melontarkan prajurit prajurit ke udara. Mulut prajurit prajurit itu langsung memuntahkan darah segar. Mata mereka melotot menahan rasa sakit akibat serangan Aldi. Kini tubuh mereka semua jtuh ke tanah dengan kepala menghantam tanah terlebih dahulu dari ketinggian sekitar 30 meter. Prakkk... Suara tengkorak remuk, pecah ketika kepala mereka menghantam tanah yang disusul pecahnya kedua bola mata mereka. Bak seperti semangka yang diledakkan dari dalam, hancur berkeping keping keluar dari tempatnya.
“Sakti juga kau ya! Tak akan kubiarkan kau melewatiku!” teriak sang patih kepada Aldi. Dengan ilmunya, patih yang pertama melompat ke arah Aldi seperti seakan akan sedang melayang terbang dengan tombak panjangnya menghunus tepat menargetkan kepala Aldi. Tiba tiba saja Aldi menggenggam ujung tombak itu tepat ketika patih itu melayang di udara. Aldi pun langsung menghempaskan tombak itu bersama penggunanya ke tanah. Tubuh itu pun jatuh dari ketinggian sekitar 15 meter tepat menghantam ranah dan bebatuan yang telah hancur berserak keluar sebelumnya. Krakkkk.... Sebuah tonjolan besar batu tapt menghantam susunan ruas tulang belakang patih itu membuat tulang belakangnya patah dan langsung menutup matanya untuk selama lamanya.
Aldi pun kembali menginjakkan kakinya ke tanah yang disusul langkah mundur beberapa langkah para prajurit Sudarma. Tapi para patih tidak, mereka semakin marah besar penuh nafsu untuk membunuh Aldi. Mata mereka melotot, wajah mereka memerah, nafas mereka kencang bak banteng yang akan menyeruduk musuhnya. Kali ini giliran dua orang patih maju bersama sama. Mereka berdua lari dengan kecepatan tinggi seperti membentuk formasi dengan salah satunya datang dari arah sebelah kanan Aldi dan satunya dari arah sebelah kiri Aldi. Mereka mengeluarkan pedang mereka, menghunuskan ke arah Aldi, menargetkan kepala dan badannya. Tapi kali ini Aldi hanya diam berdiri saja tanpa banyak bergerak. Tiba tiba saja Aldi mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangannya terbuka menghadap ke samping.
Kali ini Aldi menyambut kedua bilah pedang itu tepat ditelapak tangannya. Tapi, ujung kedua pedang itu malah berhenti ketika akan menusuk telapak tangan Aldi. Kedua patih itu terhenti dan kaget melihatnya. Mereka berusaha untuk bergerak mundur tapi tak bisa malah mereka semakin mematung. Dasar sial, itulah nasib mereka berdua sekarang karena Aldi menangkap kedua ujung pedang itu lalu mengayunkannya bersama dengan kedua patih itu berayun menghantam satu sama lain. Tubuh mereka langsung hancur ketika beradu di udara karena hantaman tadi yang membuat tangan dan kaki keduanya terpisah, terputus dari badannya.
Pemandangan mengerikan itu langsung menyiutkan nyali patih dan prajurit lainnya. Mereka kini diam tak bergerak sedikitpun. Tangan dan kaki mereka bergetar hebat melihat apa yang baru saja dilakukan Aldi kepada rekan mereka sebelumnya. “Masih mau maju lagi?” suara Atri keluar dari mulut Aldi menantang patih dan prajurit lainnya. Rasa takut mereka kini bertambah bercampur rasa kaget ketika mendengar Aldi yang seorang lelaki bersuara seorang wanita. Dari dalam istana keluarlah para wanita dengan paras cantik dan menawan. Tubuh mereka hanya berbalutkan kain tipis dan transparan yang menampakkan segala bentuk dan lekuk tubuh mereka. Buah dada, perut, pantat dan kemaluan mereka dapat terlihat dengan jelas.
“Hati hati Aldi, jangan tertipu penampilan mereka yang bisa memalingkan mata para pria. Mereka adalah penyihir penyihir jahanam peliharaan Sudarma. Meskpiun mereka berada di dimensi ini, kekuatan mereka kalau bergabung cukup merepotkan kita” bisik Atri mengingatkan. Dari arah sebelah kanan mereka tiba tiba saja puluhan betang besi terbang melayang ke atas. Lalu seorang penyihir maju kedepan melembaikan tangannya yang disusul terbangnya batangan besi itu ke arah Aldi dengan kecepatan tinggi. Aldi langsung melompat ke udara lalu mengibaskan tangannya ke arah batangan besi itu. Duammmm... Buarrrr... Sebuah ledakan hebat tepat terjadi di bawah kaki Aldi yang sedang melayang di udara. Batang batang besi itu kini hancur berkeping keping berserakan di tanah. “Kuat juga mereka Atri” bisikku kepadanya.
5 langkah dari gerbang istana raja, Atri sang tuan putri masuk ke dalam tubuhnya Aldi. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau didalam aku?” Aldi kaget dan panik melihatnya. “Tenang, kalau aku tidak merasukimu, tidak melebur bersamamu, mungkin kamu tidak akan bisa mengalahkannya” jawab Atri yang sudah bersemayam dalam Aldi. Bagi Aldi, keadaannya sekarang telah berada jauh dari apa yang diprediksikannya. Prajurit yang setia dan loyal tunduk dibawah kekuasaan dan kekuatan Sudarma langsung menghadang Aldi yang telah menyatu dengan tuan putri. Wajah mereka kaget bak disambat petir karena melihat wajah Aldi yang hampir sama persis dengan Sudarma. Tapi dengan pakaian yang berbeda, tinggi yang berbeda dan postur tubuh yang berbeda juga.
“Aldi, nama asli Sudarma adalah Raden Agung Joko Gede Purnama. Kamu harus ucapkan itu setiap kali satu pukulan telak mendarat di tubuhnya. Kamu paham kan? Dan satu lagi, kita sudah terlihat oleh pandangan mata mereka” Atri berbisik padanya. “Oke aku paham” jawabnya datar. “Paduka raja?” tanya seorang prajurit kepada Aldi yang berjalan santai seperti tidak terjadi apa apa. “Dasar bodoh! Dia bukan paduka raja! Kalian bunuh dia sekarang juga!” teriak seorang prajurit lainnya menyadarkan teman temannya. Tanpa basa basi, maka prajurit yang sedari awal melihat kedatangan Aldi kini langsung mencabut pedangnya dan menghunuskan pedang itu ke arah Aldi. Arrrgggghhhhhh.... Prajurit itu langsung tercampak ke belakang dengan hanya sekali mengayunkan tangan saja.
“Serbu!” dari arah kanan Aldi terdengar suara belasan prajurit berlari ke arahnya. Tak ayal lagi, mereka pun menjadi sasaran empuk Aldi. Dengan hanya sekali kepalan tangan meninju kosong ke udara, prajurit prajurit itu langsung terpelanting ke tanah. Pedang, tombak dan perisai mereka lepas dari genggaman. Darah segar keluar dari mulut mereka. Mata melotot seakan akan bola mata mereka akan keluar meloncat yang tak lama dibarengi oleh keluarnya tangisan mereka yang berwarna merah pekat darah. Kedua telinga mereka meneteskan darah segar berwarna merah muda. Tubuh tubuh itu pun kejang bergetar getar hebat merasakan sakitnya pukulan telak yang tidak satu centi pun mengenai mereka semua dari jarak sekitar 5 meter.
“Dia kuat sekali, Patih!” teriak seorang prajurit. “Dasar tolol, serbu sekarang juga! Atau kau akan kutebas!” balas sang patih balik. Pakaian sang patih berebeda dari para prajurit biasa karena menggunakan baju zirah yang lebih banyak logam pelindungnya. Sekitar 20 orang prajurit berlari menyerang Aldi yang berjalan santai dari 3 arah. Dengan santainya Aldi hanya mengepalkan tangannya lalu meninju tangannya ke tanah. Getaran hebat pun keluar dari tanah dimana Aldi memukulnya. Getaran hebat itu langsung mengangkat tanah tepat di kaki prajurit prajurit yang berlari kearahnya. Tanah tersebut muncuk ke permukaan langsung melontarkan prajurit prajurit ke udara. Mulut prajurit prajurit itu langsung memuntahkan darah segar. Mata mereka melotot menahan rasa sakit akibat serangan Aldi. Kini tubuh mereka semua jtuh ke tanah dengan kepala menghantam tanah terlebih dahulu dari ketinggian sekitar 30 meter. Prakkk... Suara tengkorak remuk, pecah ketika kepala mereka menghantam tanah yang disusul pecahnya kedua bola mata mereka. Bak seperti semangka yang diledakkan dari dalam, hancur berkeping keping keluar dari tempatnya.
“Sakti juga kau ya! Tak akan kubiarkan kau melewatiku!” teriak sang patih kepada Aldi. Dengan ilmunya, patih yang pertama melompat ke arah Aldi seperti seakan akan sedang melayang terbang dengan tombak panjangnya menghunus tepat menargetkan kepala Aldi. Tiba tiba saja Aldi menggenggam ujung tombak itu tepat ketika patih itu melayang di udara. Aldi pun langsung menghempaskan tombak itu bersama penggunanya ke tanah. Tubuh itu pun jatuh dari ketinggian sekitar 15 meter tepat menghantam ranah dan bebatuan yang telah hancur berserak keluar sebelumnya. Krakkkk.... Sebuah tonjolan besar batu tapt menghantam susunan ruas tulang belakang patih itu membuat tulang belakangnya patah dan langsung menutup matanya untuk selama lamanya.
Aldi pun kembali menginjakkan kakinya ke tanah yang disusul langkah mundur beberapa langkah para prajurit Sudarma. Tapi para patih tidak, mereka semakin marah besar penuh nafsu untuk membunuh Aldi. Mata mereka melotot, wajah mereka memerah, nafas mereka kencang bak banteng yang akan menyeruduk musuhnya. Kali ini giliran dua orang patih maju bersama sama. Mereka berdua lari dengan kecepatan tinggi seperti membentuk formasi dengan salah satunya datang dari arah sebelah kanan Aldi dan satunya dari arah sebelah kiri Aldi. Mereka mengeluarkan pedang mereka, menghunuskan ke arah Aldi, menargetkan kepala dan badannya. Tapi kali ini Aldi hanya diam berdiri saja tanpa banyak bergerak. Tiba tiba saja Aldi mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangannya terbuka menghadap ke samping.
Kali ini Aldi menyambut kedua bilah pedang itu tepat ditelapak tangannya. Tapi, ujung kedua pedang itu malah berhenti ketika akan menusuk telapak tangan Aldi. Kedua patih itu terhenti dan kaget melihatnya. Mereka berusaha untuk bergerak mundur tapi tak bisa malah mereka semakin mematung. Dasar sial, itulah nasib mereka berdua sekarang karena Aldi menangkap kedua ujung pedang itu lalu mengayunkannya bersama dengan kedua patih itu berayun menghantam satu sama lain. Tubuh mereka langsung hancur ketika beradu di udara karena hantaman tadi yang membuat tangan dan kaki keduanya terpisah, terputus dari badannya.
Pemandangan mengerikan itu langsung menyiutkan nyali patih dan prajurit lainnya. Mereka kini diam tak bergerak sedikitpun. Tangan dan kaki mereka bergetar hebat melihat apa yang baru saja dilakukan Aldi kepada rekan mereka sebelumnya. “Masih mau maju lagi?” suara Atri keluar dari mulut Aldi menantang patih dan prajurit lainnya. Rasa takut mereka kini bertambah bercampur rasa kaget ketika mendengar Aldi yang seorang lelaki bersuara seorang wanita. Dari dalam istana keluarlah para wanita dengan paras cantik dan menawan. Tubuh mereka hanya berbalutkan kain tipis dan transparan yang menampakkan segala bentuk dan lekuk tubuh mereka. Buah dada, perut, pantat dan kemaluan mereka dapat terlihat dengan jelas.
“Hati hati Aldi, jangan tertipu penampilan mereka yang bisa memalingkan mata para pria. Mereka adalah penyihir penyihir jahanam peliharaan Sudarma. Meskpiun mereka berada di dimensi ini, kekuatan mereka kalau bergabung cukup merepotkan kita” bisik Atri mengingatkan. Dari arah sebelah kanan mereka tiba tiba saja puluhan betang besi terbang melayang ke atas. Lalu seorang penyihir maju kedepan melembaikan tangannya yang disusul terbangnya batangan besi itu ke arah Aldi dengan kecepatan tinggi. Aldi langsung melompat ke udara lalu mengibaskan tangannya ke arah batangan besi itu. Duammmm... Buarrrr... Sebuah ledakan hebat tepat terjadi di bawah kaki Aldi yang sedang melayang di udara. Batang batang besi itu kini hancur berkeping keping berserakan di tanah. “Kuat juga mereka Atri” bisikku kepadanya.
erman123 dan sirluciuzenze memberi reputasi
2
Kutip
Balas