- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#1665
PART 25
Sore hari sekitar pukul setengah 4, mobil Mba Yu datang ke kost-an, kemudian temannya mengembalikan kunci mobil milik Mba Yu.
"Mba",
"Bener gak jadi nginep ?", tanya Gua ketika kami berada di area parkiran kost-an.
"Enggak deh Mas",
"Aku gak mau sampai ada salah paham sama Siska",
"Kamu kan katanya mau jemput dia bentar lagi",
"Dan kamu sama dia, hari ini ada acara juga kan ?", ucapnya sambil tersenyum.
"Iya sih Mba, mmm.. Maafin aku ya", ucap Gua.
"Ssstt..",
"Udah jangan minta maaf lagi ah",
"Semoga sukses ya Mas".
"Makasih Mba, kamu emang the best",
"Makasih banyak pokoknya ya", balas Gua.
"Okey",
"Aku pulang dulu ya", jawabnya.
Mba Yu pun masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan area kost-an seraya melambaikan tangan ke luar jendela mobil. Gua kembali ke dalam kamar dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi, membilas tubuh hingga bersih dan wangi.
Mba Yu memang berniat menginap lagi hari ini, tapi setelah Gua memberitahukannya kalau sore ini akan menjemput kekasih hati, Mba Yu langsung mengurungkan niatnya dan memilih pulang ke rumah. Gua memang tidak berharap dia menginap lagi, bukan apa-apa, Mba Siska baru sekali ke kost-an Gua, kalau sampai pulang kerja Mba Siska minta main ke kost-an dan masih ada Mba Yu, mau ngomong apa Gua. Enggak akan ada alasan yang bisa diterima oleh sang kekasih kalau nyatanya ada mantan Gua di dalam kamar kost. Gimanapun sang kekasih tau kalau Mba Yu adalah orang ketiga saat Gua masih berhubungan dengan almh. Dini waktu smp.
Beres mandi, Gua langsung menuju lemari dan mengambil kemeja berwarna merah maroon lengan panjang berikut dengan hangernya, lalu untuk bawahannya Gua langsung mengenakan celana long-jeans hitam, ah lupa, kaos hitam polos langsung Gua kenakan sebagai atasan sementara. Semprot parfum sana-sini beres, pakai jam tangan di pergelangan tangan kiri, tidak lupa sepatu boots warna hitam. Terakhir, rambut sedikit gondrong dibagian depan Gua acak. Beuh tampan banget si Agatha ini ya. Wajar kaum hawa ngejar-ngejar sih.
(Apa ? Mau protes ? Sok misuh-misuh we lah, huahahaha
)
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, waktunya cabut. Sambil menenteng hanger yang tergantung kemeja merah, Gua menuju parkiran. Masuk mobil, manasin bentar, keluarin hp dulu, ketik sms buat kekasih hati, sms send and delivered. Berangkats.
Gua terlambat karena jalanan macet, tapi gak apa-apa, Mba Siska si kekasih hati itu pasti mengerti kamvretnya jalan raya di ibu kota tercintah. Jam 5 kurang 10 menit Gua hentikan mobil di depan kantornya. Sms lagi deh untuk memberitahukan Sang Pangeran sudah sampai. Selang 5 menit kemudian Sang Putri pun berjalan kearah mobil. Eits, Gua turun duluan, membukakan pintu samping kemudi.
"Selamat sore Nona cantik", ucap Gua ketika Mba Siska sudah berada di dekat Gua.
"Silahkan masuk Nona", lanjut Gua seraya mempersilahkannya masuk ke dalam mobil.
Mba Siska menahan senyumannya seraya mengerutkan kening. Yap, Gua yakin dirinya keheranan dengan sikap Gua yang tiba-tiba jadi begini. Tapi Gua hanya melemparkan senyuman saja sampai dia masuk ke dalam mobil. Lalu Gua berlari kecil ketika sudah memastikannya duduk manis dan menutup pintu mobil. Kembali Gua duduk di bangku kemudi dan memasang seatbelt, lalu Gua pacu mobil menuju rumah kontrakannya.
Seperti biasa, macet lagi. Selama perjalanan Gua bersiul-siul menunjukkan rasa bahagia. Tentu saja Sang Putri keheranan melihat Arjunanya bertingkah diluar kebiasaan seperti ini.
"Za ?".
"Iya Honey".
Mba Siska langsung kaget dan tertawa. Hais, Gua berusaha romantis nih Mba, jangan ketawa dong ah.
"Ha ha ha. Apa tadi Za ?",
"Kamu manggil aku apa ?, hi hi hi".
"Honey",
"S E N S O RN-E-Y".
"Iiih.. Ada apaan nih ?",
"Sumpah deh kamu tuh aneh banget",
"Pasti ada apa-apa nih".
"Iyalah Mba ku sayaang",
"Enggak mungkin kalo aku gak ada apa-apa, hehehe".
"Ih emang ada apa Za ?".
"Aku mau ajak kamu dinner".
Mba Siska kembali terkejut dengan menaikkan kedua alisnya. Lalu tersenyum lagi.
"Dinner ?",
"Serius ?".
Gua hanya mengangguk pelan dengan tetap menatap ke depan jalan raya.
"Dimana ?".
Gua menengok kepadanya sekilas seraya tersenyum, "ada deeh", jawab Gua lalu mengerlingkan satu mata.
Mba Siska langsung mencubit pipi Gua sambil memanyunkan bibir. Gua pun terkekeh pelan dan kembali fokus mengendarai mobil. Kurang-lebih 20 menit kami sampai di rumah kontrakannya. Gua pun meminta Mba Siska mandi dan dandan yang rapih. Ketika Mba Siska mandi, Gua kembali ke mobil dan mengambil kemeja berwarna merah maroon. Kemudian kembali ke dalam rumah dan mengenakan kemeja tersebut di dalam kamar Mba Siska sambil bercermin, lalu Gua menuju dapur dan membasahi rambut dengan sedikit air dari wastafel. Kembali Gua bercermin sambil menata rambut dan mengacaknya di bagian depan, sudah terlihat okey, eh satu lagi nih, lengan kemeja, Gua gulung hingga se-siku. Sip. Tampan maksimal nih sekarang. Ntaps.
"Za", ucap Mba Siska dari ambang pintu kamar.
"Eh Mba",
"Maaf-maaf.. Aku masuk kamar kamu buat ngaca aja hehe..", jawab Gua tidak enak karena sang kekasih sudah selesai mandi dan hendak masuk ke kamarnya.
"Enggak apa-apa kok",
"Kamu, Kamu rapih banget",
"Ada acara apa sih sebenernya ?", tanyanya lagi sambil melangkah masuk dan berdiri tepat dihadapan Gua.
"Heheheh",
"Kan aku bilang mau ajak kamu dinner Mba".
"Iya, tapi dalam rangka apa Za ?".
Wah, bener kata si Dewa dan Meli, nih Mba cantik pelupa juga. Gak apa-apa deh, biar Gua keep sampai waktunya tiba. Gumam Gua dalam hati.
"Nanti juga kamu tau Mba",
"Udah ganti pakaian dulu, syukur-syukur kamu ada gaun atau semacamnya Mba hehehe", jawab Gua.
"Ah!",
"Iya ya, dress.. duh aku bawa ke sini gak ya.. aduuuh.. gimana kalo enggak ada niih..", ucapnya seraya melewati Gua dan membuka lemari pakaiannya.
Gua hanya terkekeh pelan dan keluar kamar lalu menutup pintunya. Gua duduk di sofa ruang tamu dan membakar sang racun sambil menikmati secangkir teh tawar hangat suguhannya. 10 menit, 20 menit, 30 menit. Lamanyoo ini kekasih hati dandan.
Gua bangkit dari duduk dan mengetuk pintu kamarnya.
"Mbaa", ucap Gua dari depan pintu kamarnya.
"Yaa", jawabnya dari dalam.
"Lama amat Mbaa",
"Macet nanti di jalan Mba".
"Iya-iya Za sebentar lagi kok, 5 menit lagi ya",
"Sebentar".
Beneran 5 menit gak nih, heuh cewek tuh yaa lama!. Ckckck..
Ceklek. pintu kamar terbuka.
"Za.".
OUUH My Goodness!
Holy moly kapollii..! I swear to GOD! She's fakin beautiful! Dress for dinner nya berwarna merah gelap, ah sama lah sama merah maroon seperti kemeja Gua. Make-up nya pas banget dengan wajahnya, pandai bersolek si Mba Polcan ini. Belum aksesoris seperti anting, tas pesta kecil berwarna hitam dan gelang di lengannya. Pas deh kamu jadi ratu malam nanti. Ugh pingin buru-buru menyematkan nama belakangku di nama kamu Mba.
Gua masih terpana dengan pesonanya. Sampai sang kekasih mendekati Gua dan berdiri tepat dihadapan Gua.
"Hei",
"Kok malah diem ?".
"Eh.. Euu..",
"Kamu, Kamu cantik banget Mba".
"Eum ? Masa sih ? Hi hi hi",
"Syukur deh kalo kamu suka sama penampilan aku..", jawabnya seraya tersipu malu.
Tidak lama kemudian Gua mengajaknya berangkat. Kami sudah berada di dalam mobil dan jalan raya untuk menembus kemacetan ibu kota ketika matahari mulai terbenam. Jam 7 malam kami pun sampai di parkiran basement sebuah gedung. Mudah-mudahan rekomendasi tempat makan disini benar-benar tepat.
"Ini kita mau kemana Za ?", tanya Mba Siska ketika Gua mematikan mesin mobil.
"Surprise Mba..", jawab Gua seraya tersenyum.
Lalu Gua mengambil sebuah kain seperti selendang berwarna hitam dari balik jok kemudi.
"Kamu pakai ini ya, biar sureprise..", ucap Gua lagi menunjukkan kain hitam tersebut.
"Heum ?",
"Kamu tuh ya ada-ada aja deh, pake acara mau nutup mata aku gini", ucapnya tersenyum melirik kain di telapak tangan Gua.
Selesai menutup matanya dengan kain yang Gua ikat kebelakang kepalanya, Gua pun turun dari mobil dan membukakan pintunya. Lalu Gua genggam tangannya menuju lift. Sampai di dalam lift, Gua rasakan genggaman tangannya terasa semakin erat, senyuman indah tersungging di bibirnya.
Ting. Lantai 6, dan pintu lift terbuka.
Terpaan angin malam langsung menyapa kulit tubuh kami berdua, helaian rambut sang kekasih bergoyang kebelakang karena hembusan angin itu, lalu Gua kembali menuntunnya berjalan, melewati beberapa meja.
"Mba, sebentar ya",
"Tunggu disini".
"Ih, jangan ditinggal dong",
"Akunya lagi ditutup matanya juga Zaa".
"Enggak, aku cuma beberapa detik doang kok. Beneran sebentar..".
Lalu Gua menaruh tangannya ke sebuah bahu kursi kayu di depannya. Gua pun melangkah sedikit menjauh dan menghampiri resepsionis, setelah berbicara sedikit menanyakan reservasi tadi siang dan memberikan nama Gua, resepsionis itu mengantar kami berdua ke meja di dekat ujung gedung.
Setelah Gua pastikan semuanya perfect. Gua pun memegang kedua bahu sang kekasih dari belakang.
"Mba..".
"Ya ?".
"Siap ?".
"Aku deg-deg-an Za, hi hi hi".
"He he he...",
"Aku buka ikatannya ya".
Mba Siska mengangguk, lalu perlahan Gua buka kain hitam yang menutupi matanya.
Kekasih hati Gua itu menutup mulut dengan kedua tangannya, Gua pun merapatkan tubuh dari belakangnya, lalu berbisik.
"Gimana ?",
"Do you like it ?", bisik Gua.
"Eza!",
"This is so romantic", ucapnya lalu menengok ke kanan, kearah wajah Gua yang berada tepat disampingnya.
Gua tersenyum, lalu kedua tangannya memegang kedua tangan Gua dan diletakkan di depan perut langsingnya. Jadilah Gua memeluknya dari belakang.
"Happy birthday Honey", ucap Gua.
Mba Siska kembali menatap wajah Gua, raut wajahnya kembali terkejut, lalu tidak lama matanya berkaca-kaca.
"Ya ampun Za..",
"Aku sendiri lupa kalo hari ini tanggal lahir aku", jawabnya.
"Jujur Mba..",
"Aku aja gak tau kalo hari ini kamu ulang tahun, kalo Dewa dan Meli gak sms aku tadi siang, aku gak mungkin bisa kasih kejutan ini buat kamu..",
"Maaf ya..", jelas Gua.
Mba Siska menggeleng pelan, lalu membalikkan badan dan memeluk Gua. Gua usap punggungnya.
"Makasih ya Za".
"Sama-sama Mba..",
"Jangan lupa kita juga harus ucapin makasih buat Dewa dan adik mu, hehehe..",
"Ya udah, ayo duduk Mba", ajak Gua kemudian.
Kami berdua duduk di kursi makan dan saling berhadapan. Di depan kami, di atas meja makan resto ini, ada sebuah set-up kecil yang memang sudah Gua rencanakan ketika mereservasi tadi siang. Bukan ide Gua, jujur saja ini semua adalah idenya Mba Yu. Ketika siang Gua dan Mba Yu makan soto di dekat kost-an, Gua menerima sms dari Dewa, yang isinya memberi kabar kalau sang kekasih hati Gua hari ini berulang tahun. Jelaslah Gua terkejut membaca isi smsnya, dan dalam kebingungan, hingga soto tidak Gua habiskan, Mba Yu pun bertanya keheranan.
Gua ceritakan isi sms tersebut kepada Mba Yu, kami berdua memikirkan acara surprise apa yang bisa Gua berikan untuk sang kekasih. Awalnya Gua hanya memikirkan akan membeli kado apa, tapi Mba Yu menyarankan Gua untuk lebih romantis, candle light dinner katanya lebih pas.
Selesai makan soto, kami berdua langsung bergegas ke sebuah restoran yang pernah Mba Yu dan teman kampusnya singgahi dulu. Gua beruntung karena hari ini adalah hari senin, jadi tidak banyak yang reservasi. Setelah beres reservasi, muncul ide lainnya di otak Gua, masih di resto bersama Mba Yu, Gua langsung menulis beberapa permintaan kepada pegawai resto tersebut, agar kejutan untuk malam ini berjalan sempurna. Beres menuliskan request di secarik kertas, Gua dan Mba Yu pun pergi ke sebuah mall untuk membeli kado. Beres sudah semua planning Gua dan Mba Yu, sampai akhirnya Mba Yu dan Gua kembali ke kost-an dan Mba Yu pun pamit pulang ke rumah.
Dan sekarang, malam ini, disinilah Gua dan Mba Siska berada, rooftop restaurant. Sebuah lilin berwarna merah menyala terang, di sisi lainnya ada setangkai mawar merah, dan sebuah birthday cake kecil. Gua menggenggam kedua tangan Mba Siska yang berada di atas meja. Kami berdua saling tersenyum, Gua lihat matanya berbinar dengan sedikit rona merah alami di pipinya, bukan dari make-up nya.
Lalu Gua menyalakan lilin diatas cake kecil itu. Gua mengangkat cake tersebut dan meminta Mba Siska untuk 'make a wish', kemudian matanya terpejam sebentar, dan tidak lama ditiuplah lilin kecil diatas cake tersebut, kembali Gua taruh cake diatas meja dan bertepuk tangan, Mba Siska tertawa pelan melihat tingkah Gua.
Gua kembali menggenggam kedua tangannya, Gua tatap kedua bola matanya yang indah itu lekat-lekat.
"Selamat ulang tahun Honey",
"Semoga selalu bahagia dunia akhirat ya sayang..", ucap Gua,
"I Love You", tanda Gua.
"Aamiin..",
"Makasih banyak sayang, I Love You too",
"This is surprising me",
"Tonight is so perfect".
"You deserve it Honey".
Tidak lama kemudian seorang pramusaji menghampiri kami dengan nampan yang berisi makanan, lalu makanan pun disajikan di atas meja. Dua Tenderloin steak dan dua gelas berisi air mineral plus satu botol red wine terpampang di depan mata kami berdua. Mba Siska kembali terkejut dengan sajian malam ini, lalu Gua pun mengajaknya mulai menyantap hidangan.
Hanya senyuman diantara kami yang terukir indah. Tidak ada sedikitpun kata yang terucap diantara kami ketika menyantap semua hidangan malam ini. Singkat cerita kami berdua sudah selesai menghabiskan menu utama. Lalu kembali pramusaji datang untuk menuangkan red wine ke gelas kami masing-masing. Setelah itu dengan gaya ala-ala elegan, Gua ajak Mba Siska bersulang.
Ting...suara dua gelas yang bersentuhan.
Jujur, sebenarnya Gua tersenyum geli melihat tingkah Gua ini, sok-sok-an romantis. Kalau dipikir-pikir belum pernah Gua seromantis ini kepada perempuan. Apalagi kalau mengingat yang memberikan ide, dari orang yang tidak suka dengan keromantisan. Yap, Mba Yu kan bukan perempuan yang suka dengan perlakuan romantis. Tapi diluar dugaan, malah dirinya bisa memikirkan ide seperti ini. Thank you so much Mba Yu ku.
Selesai menikmati wine, Gua menjentikkan jari keatas, lalu seorang pramusaji datang menghampiri Gua dengan sebuah gitar akustik. Setelah menerima gitar tersebut, Gua menarik kursi ke samping Mba Siska. Jelaslah dirinya kembali terheran.
"Apalagi Za ?", tanyanya seraya tersenyum lebar menatap Gua.
"Dengerin aja ya sayang..", jawab Gua sambil memposisikan diri dengan nyaman untuk mulai bernyanyi.
Setelah Gua merasa nyaman, Gua mulai memetik senar gitar.
"Ini untuk kamu", ucap Gua.
Dan Gua pun mulai menyanyikan lagu favorit sang kekasih hati..
Disertai desiran angin malam yang cukup kencang, lagu yang Gua nyanyikan untuknya pun selesai. Senyum indah terukir di bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Mba, gak boleh nangis loch", ucap Gua.
"Aku seneng Za".
"I Love You Mba".
"I Love You too Za".
Gua taruh gitar dengan posisi berdiri di samping meja makan, lalu Gua bangun dari duduk dan mengulurkan tangan kepada sang kekasih. Tangannya pun menyambut dan Gua ajak dia ke sudut ujung rooftop ini.
"Mba, indah ya kerlap-kerlip lampu Ibu Kota...", ucap Gua ketika sudah memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagu ke bahu kanannya.
Kedua tangan Gua kembali melingkar ke perutnya, dan kedua tangannya pun bertumpuk diatas tangan Gua.
"Iya Za, ditambah lampu dari kendaraan..".
"Kamu senang hari ini Mba ?".
"Aku bukan senang tapi bahagia",
"Bahagia banget malam ini atas semua yang kamu berikan..".
Gua tersenyum mendengar jawabannya, lalu Gua lepaskan pelukkan dari perutnya. Gua yang masih berdiri di belakangnya kini mengambil sebuah kado dari saku kemeja. Gua buka bungkusnya, Mba Siska tidak menoleh sedikitpun kebelakang.
"Mba".
"Ya".
"Tutup mata kamu sebentar ya".
"Heum ?",
"Apa lagi Za ? Masih ada kejutan lain ?".
"Hehehe",
"Udah tutup dulu matanya".
Setelah Gua memastikan matanya terpejam, Gua lingkarkan kedua tangan kedepan lehernya, tanpa menyentuh tubuhnya sedikitpun, lalu Gua berbisik pelan dengan mencodongkan wajah ke sisi telinga kanannya.
"Buka mata kamu sayang".
Lagi dan lagi, Mba Siska terkejut tanpa mengeluarkan suara, kedua tangannya menutup mulutnya dengan mata yang sedikit terbuka lebar.
"Semoga kamu suka atas pemberian aku ya", ucap Gua lagi.
Mba Siska masih terpana kemudian wajahnya menengok ke kanan, kepada Gua.
"Za",
"Ini bener-bener berlibahan".
"Enggak Mba, gak berlebihan kok",
"Ngomong-ngomong aku pegel nih, mau dipakaikan gak ? Hehehe".
Mba Siska mencubit hidung Gua pelan sambil terkekeh. Lalu kembali wajahnya menatap kedepan. Gua pun memasangkan kalung yang liontinnya berbentuk hati ke leher putihnya. Setelah selesai mengaitkan kalung, Mba Siska menurunkan kembali rambut belakangnya yang dia tahan keatas. Lalu tubuhnya berbalik menghadap Gua.
Kembali senyum bahagianya terpancar dari wajah cantiknya. Gua pun ikut tersenyum, rasa bahagia yang dia rasakan sekarang ikut masuk ke dalam hati ini. Tonight is so amazing for us.
"Makasih sayang",
"Makasih banget, aku bahagia dengan semua kejutan yang kamu kasih malam ini Za..",
"Aku sayang kamu".
Gua tersenyum lalu mengaitkan tangan kanan ke tengkuknya dan mencium lembut keningnya.
Cup
"Aku juga sayang kamu Mba".
Malam semakin larut, angin malam kian bertiup kencang, karena dress Mba Siska yang tanpa lengan sudah pasti tidak bisa menahan dinginnya malam, Gua pun mengajaknya pulang.
Tidak lupa cake yang belum kami makan dibawa pulang beserta sebotol wine. Mahal coy itu minuman, sayang amat kalo Gua tinggal ma, kan lumayan buat di kost-an.
...
Sekitar pukul 21.00 wib, kami berdua sudah kembali berada rumah kontrakannya. Mba Siska masuk ke dalam kamar, Gua berdiri di ambang pintu kamarnya, bersandar ke kusen pintu.
"Mba, aku pulang dulu ya".
"Eh ?",
"Kok pulang ?".
"Udah malam Mba, kamu juga besokkan kerja",
"Aku naik taxi aja".
Mba Siska tampak tidak setuju dengan ucapan Gua, lalu Mba Siska berjalan menghampiri Gua. Kami pun saling berhadapan di pintu kamarnya ini. Wajah Mba Siska mendongak keatas menatap wajah Gua, kedua tangannya memegang kedua dada Gua.
"Za".
"Heum ?".
"I Love You".
"I Love You too".
Kemudian bibirnya mendekati bibir Gua.
Cup
Cup
Cup
Lama kami berciuman hingga kedua tangannya kini melingkar ke tengkuk Gua, membelai rambut belakang Gua, dan lama kelamaan tangan kirinya itu mencengkram rambut ini, lalu tangan kanannya menarik tengkuk Gua agar mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar. Tentu saja kami berdua masih dalam aktifitas saling memagut bibir. Kedua tangan Gua sudah memegang kedua sisi pinggangnya.
Hingga langkahnya terhenti karena tertahan sisi kasur kamarnya. Gua melepaskan pagutan bibir.
"Za", ucapnya lirih dengan mata sayu menatap bibir Gua yang sudah basah.
"Heum ?".
Mba Siska tidak menjawab, tapi kedua tangannya menarik kerah kemeja Gua. Dan..
Brugh...
Dirinya sudah terlentang diatas kasur dengan tubuh Gua berada tepat diatasnya.
"Mba",
"Bener gak jadi nginep ?", tanya Gua ketika kami berada di area parkiran kost-an.
"Enggak deh Mas",
"Aku gak mau sampai ada salah paham sama Siska",
"Kamu kan katanya mau jemput dia bentar lagi",
"Dan kamu sama dia, hari ini ada acara juga kan ?", ucapnya sambil tersenyum.
"Iya sih Mba, mmm.. Maafin aku ya", ucap Gua.
"Ssstt..",
"Udah jangan minta maaf lagi ah",
"Semoga sukses ya Mas".
"Makasih Mba, kamu emang the best",
"Makasih banyak pokoknya ya", balas Gua.
"Okey",
"Aku pulang dulu ya", jawabnya.
Mba Yu pun masuk ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan area kost-an seraya melambaikan tangan ke luar jendela mobil. Gua kembali ke dalam kamar dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi, membilas tubuh hingga bersih dan wangi.
Mba Yu memang berniat menginap lagi hari ini, tapi setelah Gua memberitahukannya kalau sore ini akan menjemput kekasih hati, Mba Yu langsung mengurungkan niatnya dan memilih pulang ke rumah. Gua memang tidak berharap dia menginap lagi, bukan apa-apa, Mba Siska baru sekali ke kost-an Gua, kalau sampai pulang kerja Mba Siska minta main ke kost-an dan masih ada Mba Yu, mau ngomong apa Gua. Enggak akan ada alasan yang bisa diterima oleh sang kekasih kalau nyatanya ada mantan Gua di dalam kamar kost. Gimanapun sang kekasih tau kalau Mba Yu adalah orang ketiga saat Gua masih berhubungan dengan almh. Dini waktu smp.
Beres mandi, Gua langsung menuju lemari dan mengambil kemeja berwarna merah maroon lengan panjang berikut dengan hangernya, lalu untuk bawahannya Gua langsung mengenakan celana long-jeans hitam, ah lupa, kaos hitam polos langsung Gua kenakan sebagai atasan sementara. Semprot parfum sana-sini beres, pakai jam tangan di pergelangan tangan kiri, tidak lupa sepatu boots warna hitam. Terakhir, rambut sedikit gondrong dibagian depan Gua acak. Beuh tampan banget si Agatha ini ya. Wajar kaum hawa ngejar-ngejar sih.
(Apa ? Mau protes ? Sok misuh-misuh we lah, huahahaha
)Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, waktunya cabut. Sambil menenteng hanger yang tergantung kemeja merah, Gua menuju parkiran. Masuk mobil, manasin bentar, keluarin hp dulu, ketik sms buat kekasih hati, sms send and delivered. Berangkats.
Gua terlambat karena jalanan macet, tapi gak apa-apa, Mba Siska si kekasih hati itu pasti mengerti kamvretnya jalan raya di ibu kota tercintah. Jam 5 kurang 10 menit Gua hentikan mobil di depan kantornya. Sms lagi deh untuk memberitahukan Sang Pangeran sudah sampai. Selang 5 menit kemudian Sang Putri pun berjalan kearah mobil. Eits, Gua turun duluan, membukakan pintu samping kemudi.
"Selamat sore Nona cantik", ucap Gua ketika Mba Siska sudah berada di dekat Gua.
"Silahkan masuk Nona", lanjut Gua seraya mempersilahkannya masuk ke dalam mobil.
Mba Siska menahan senyumannya seraya mengerutkan kening. Yap, Gua yakin dirinya keheranan dengan sikap Gua yang tiba-tiba jadi begini. Tapi Gua hanya melemparkan senyuman saja sampai dia masuk ke dalam mobil. Lalu Gua berlari kecil ketika sudah memastikannya duduk manis dan menutup pintu mobil. Kembali Gua duduk di bangku kemudi dan memasang seatbelt, lalu Gua pacu mobil menuju rumah kontrakannya.
Seperti biasa, macet lagi. Selama perjalanan Gua bersiul-siul menunjukkan rasa bahagia. Tentu saja Sang Putri keheranan melihat Arjunanya bertingkah diluar kebiasaan seperti ini.
"Za ?".
"Iya Honey".
Mba Siska langsung kaget dan tertawa. Hais, Gua berusaha romantis nih Mba, jangan ketawa dong ah.
"Ha ha ha. Apa tadi Za ?",
"Kamu manggil aku apa ?, hi hi hi".
"Honey",
"S E N S O RN-E-Y".
"Iiih.. Ada apaan nih ?",
"Sumpah deh kamu tuh aneh banget",
"Pasti ada apa-apa nih".
"Iyalah Mba ku sayaang",
"Enggak mungkin kalo aku gak ada apa-apa, hehehe".
"Ih emang ada apa Za ?".
"Aku mau ajak kamu dinner".
Mba Siska kembali terkejut dengan menaikkan kedua alisnya. Lalu tersenyum lagi.
"Dinner ?",
"Serius ?".
Gua hanya mengangguk pelan dengan tetap menatap ke depan jalan raya.
"Dimana ?".
Gua menengok kepadanya sekilas seraya tersenyum, "ada deeh", jawab Gua lalu mengerlingkan satu mata.
Mba Siska langsung mencubit pipi Gua sambil memanyunkan bibir. Gua pun terkekeh pelan dan kembali fokus mengendarai mobil. Kurang-lebih 20 menit kami sampai di rumah kontrakannya. Gua pun meminta Mba Siska mandi dan dandan yang rapih. Ketika Mba Siska mandi, Gua kembali ke mobil dan mengambil kemeja berwarna merah maroon. Kemudian kembali ke dalam rumah dan mengenakan kemeja tersebut di dalam kamar Mba Siska sambil bercermin, lalu Gua menuju dapur dan membasahi rambut dengan sedikit air dari wastafel. Kembali Gua bercermin sambil menata rambut dan mengacaknya di bagian depan, sudah terlihat okey, eh satu lagi nih, lengan kemeja, Gua gulung hingga se-siku. Sip. Tampan maksimal nih sekarang. Ntaps.
"Za", ucap Mba Siska dari ambang pintu kamar.
"Eh Mba",
"Maaf-maaf.. Aku masuk kamar kamu buat ngaca aja hehe..", jawab Gua tidak enak karena sang kekasih sudah selesai mandi dan hendak masuk ke kamarnya.
"Enggak apa-apa kok",
"Kamu, Kamu rapih banget",
"Ada acara apa sih sebenernya ?", tanyanya lagi sambil melangkah masuk dan berdiri tepat dihadapan Gua.
"Heheheh",
"Kan aku bilang mau ajak kamu dinner Mba".
"Iya, tapi dalam rangka apa Za ?".
Wah, bener kata si Dewa dan Meli, nih Mba cantik pelupa juga. Gak apa-apa deh, biar Gua keep sampai waktunya tiba. Gumam Gua dalam hati.
"Nanti juga kamu tau Mba",
"Udah ganti pakaian dulu, syukur-syukur kamu ada gaun atau semacamnya Mba hehehe", jawab Gua.
"Ah!",
"Iya ya, dress.. duh aku bawa ke sini gak ya.. aduuuh.. gimana kalo enggak ada niih..", ucapnya seraya melewati Gua dan membuka lemari pakaiannya.
Gua hanya terkekeh pelan dan keluar kamar lalu menutup pintunya. Gua duduk di sofa ruang tamu dan membakar sang racun sambil menikmati secangkir teh tawar hangat suguhannya. 10 menit, 20 menit, 30 menit. Lamanyoo ini kekasih hati dandan.
Gua bangkit dari duduk dan mengetuk pintu kamarnya.
"Mbaa", ucap Gua dari depan pintu kamarnya.
"Yaa", jawabnya dari dalam.
"Lama amat Mbaa",
"Macet nanti di jalan Mba".
"Iya-iya Za sebentar lagi kok, 5 menit lagi ya",
"Sebentar".
Beneran 5 menit gak nih, heuh cewek tuh yaa lama!. Ckckck..
Ceklek. pintu kamar terbuka.
"Za.".
OUUH My Goodness!
Holy moly kapollii..! I swear to GOD! She's fakin beautiful! Dress for dinner nya berwarna merah gelap, ah sama lah sama merah maroon seperti kemeja Gua. Make-up nya pas banget dengan wajahnya, pandai bersolek si Mba Polcan ini. Belum aksesoris seperti anting, tas pesta kecil berwarna hitam dan gelang di lengannya. Pas deh kamu jadi ratu malam nanti. Ugh pingin buru-buru menyematkan nama belakangku di nama kamu Mba.
Gua masih terpana dengan pesonanya. Sampai sang kekasih mendekati Gua dan berdiri tepat dihadapan Gua.
"Hei",
"Kok malah diem ?".
"Eh.. Euu..",
"Kamu, Kamu cantik banget Mba".
"Eum ? Masa sih ? Hi hi hi",
"Syukur deh kalo kamu suka sama penampilan aku..", jawabnya seraya tersipu malu.
Tidak lama kemudian Gua mengajaknya berangkat. Kami sudah berada di dalam mobil dan jalan raya untuk menembus kemacetan ibu kota ketika matahari mulai terbenam. Jam 7 malam kami pun sampai di parkiran basement sebuah gedung. Mudah-mudahan rekomendasi tempat makan disini benar-benar tepat.
"Ini kita mau kemana Za ?", tanya Mba Siska ketika Gua mematikan mesin mobil.
"Surprise Mba..", jawab Gua seraya tersenyum.
Lalu Gua mengambil sebuah kain seperti selendang berwarna hitam dari balik jok kemudi.
"Kamu pakai ini ya, biar sureprise..", ucap Gua lagi menunjukkan kain hitam tersebut.
"Heum ?",
"Kamu tuh ya ada-ada aja deh, pake acara mau nutup mata aku gini", ucapnya tersenyum melirik kain di telapak tangan Gua.
Selesai menutup matanya dengan kain yang Gua ikat kebelakang kepalanya, Gua pun turun dari mobil dan membukakan pintunya. Lalu Gua genggam tangannya menuju lift. Sampai di dalam lift, Gua rasakan genggaman tangannya terasa semakin erat, senyuman indah tersungging di bibirnya.
Ting. Lantai 6, dan pintu lift terbuka.
Terpaan angin malam langsung menyapa kulit tubuh kami berdua, helaian rambut sang kekasih bergoyang kebelakang karena hembusan angin itu, lalu Gua kembali menuntunnya berjalan, melewati beberapa meja.
"Mba, sebentar ya",
"Tunggu disini".
"Ih, jangan ditinggal dong",
"Akunya lagi ditutup matanya juga Zaa".
"Enggak, aku cuma beberapa detik doang kok. Beneran sebentar..".
Lalu Gua menaruh tangannya ke sebuah bahu kursi kayu di depannya. Gua pun melangkah sedikit menjauh dan menghampiri resepsionis, setelah berbicara sedikit menanyakan reservasi tadi siang dan memberikan nama Gua, resepsionis itu mengantar kami berdua ke meja di dekat ujung gedung.
Setelah Gua pastikan semuanya perfect. Gua pun memegang kedua bahu sang kekasih dari belakang.
"Mba..".
"Ya ?".
"Siap ?".
"Aku deg-deg-an Za, hi hi hi".
"He he he...",
"Aku buka ikatannya ya".
Mba Siska mengangguk, lalu perlahan Gua buka kain hitam yang menutupi matanya.
Kekasih hati Gua itu menutup mulut dengan kedua tangannya, Gua pun merapatkan tubuh dari belakangnya, lalu berbisik.
"Gimana ?",
"Do you like it ?", bisik Gua.
"Eza!",
"This is so romantic", ucapnya lalu menengok ke kanan, kearah wajah Gua yang berada tepat disampingnya.
Gua tersenyum, lalu kedua tangannya memegang kedua tangan Gua dan diletakkan di depan perut langsingnya. Jadilah Gua memeluknya dari belakang.
"Happy birthday Honey", ucap Gua.
Mba Siska kembali menatap wajah Gua, raut wajahnya kembali terkejut, lalu tidak lama matanya berkaca-kaca.
"Ya ampun Za..",
"Aku sendiri lupa kalo hari ini tanggal lahir aku", jawabnya.
"Jujur Mba..",
"Aku aja gak tau kalo hari ini kamu ulang tahun, kalo Dewa dan Meli gak sms aku tadi siang, aku gak mungkin bisa kasih kejutan ini buat kamu..",
"Maaf ya..", jelas Gua.
Mba Siska menggeleng pelan, lalu membalikkan badan dan memeluk Gua. Gua usap punggungnya.
"Makasih ya Za".
"Sama-sama Mba..",
"Jangan lupa kita juga harus ucapin makasih buat Dewa dan adik mu, hehehe..",
"Ya udah, ayo duduk Mba", ajak Gua kemudian.
Kami berdua duduk di kursi makan dan saling berhadapan. Di depan kami, di atas meja makan resto ini, ada sebuah set-up kecil yang memang sudah Gua rencanakan ketika mereservasi tadi siang. Bukan ide Gua, jujur saja ini semua adalah idenya Mba Yu. Ketika siang Gua dan Mba Yu makan soto di dekat kost-an, Gua menerima sms dari Dewa, yang isinya memberi kabar kalau sang kekasih hati Gua hari ini berulang tahun. Jelaslah Gua terkejut membaca isi smsnya, dan dalam kebingungan, hingga soto tidak Gua habiskan, Mba Yu pun bertanya keheranan.
Gua ceritakan isi sms tersebut kepada Mba Yu, kami berdua memikirkan acara surprise apa yang bisa Gua berikan untuk sang kekasih. Awalnya Gua hanya memikirkan akan membeli kado apa, tapi Mba Yu menyarankan Gua untuk lebih romantis, candle light dinner katanya lebih pas.
Selesai makan soto, kami berdua langsung bergegas ke sebuah restoran yang pernah Mba Yu dan teman kampusnya singgahi dulu. Gua beruntung karena hari ini adalah hari senin, jadi tidak banyak yang reservasi. Setelah beres reservasi, muncul ide lainnya di otak Gua, masih di resto bersama Mba Yu, Gua langsung menulis beberapa permintaan kepada pegawai resto tersebut, agar kejutan untuk malam ini berjalan sempurna. Beres menuliskan request di secarik kertas, Gua dan Mba Yu pun pergi ke sebuah mall untuk membeli kado. Beres sudah semua planning Gua dan Mba Yu, sampai akhirnya Mba Yu dan Gua kembali ke kost-an dan Mba Yu pun pamit pulang ke rumah.
Spoiler for Superman:
Dan sekarang, malam ini, disinilah Gua dan Mba Siska berada, rooftop restaurant. Sebuah lilin berwarna merah menyala terang, di sisi lainnya ada setangkai mawar merah, dan sebuah birthday cake kecil. Gua menggenggam kedua tangan Mba Siska yang berada di atas meja. Kami berdua saling tersenyum, Gua lihat matanya berbinar dengan sedikit rona merah alami di pipinya, bukan dari make-up nya.
Lalu Gua menyalakan lilin diatas cake kecil itu. Gua mengangkat cake tersebut dan meminta Mba Siska untuk 'make a wish', kemudian matanya terpejam sebentar, dan tidak lama ditiuplah lilin kecil diatas cake tersebut, kembali Gua taruh cake diatas meja dan bertepuk tangan, Mba Siska tertawa pelan melihat tingkah Gua.
Gua kembali menggenggam kedua tangannya, Gua tatap kedua bola matanya yang indah itu lekat-lekat.
"Selamat ulang tahun Honey",
"Semoga selalu bahagia dunia akhirat ya sayang..", ucap Gua,
"I Love You", tanda Gua.
"Aamiin..",
"Makasih banyak sayang, I Love You too",
"This is surprising me",
"Tonight is so perfect".
"You deserve it Honey".
Tidak lama kemudian seorang pramusaji menghampiri kami dengan nampan yang berisi makanan, lalu makanan pun disajikan di atas meja. Dua Tenderloin steak dan dua gelas berisi air mineral plus satu botol red wine terpampang di depan mata kami berdua. Mba Siska kembali terkejut dengan sajian malam ini, lalu Gua pun mengajaknya mulai menyantap hidangan.
Hanya senyuman diantara kami yang terukir indah. Tidak ada sedikitpun kata yang terucap diantara kami ketika menyantap semua hidangan malam ini. Singkat cerita kami berdua sudah selesai menghabiskan menu utama. Lalu kembali pramusaji datang untuk menuangkan red wine ke gelas kami masing-masing. Setelah itu dengan gaya ala-ala elegan, Gua ajak Mba Siska bersulang.
Ting...suara dua gelas yang bersentuhan.
Jujur, sebenarnya Gua tersenyum geli melihat tingkah Gua ini, sok-sok-an romantis. Kalau dipikir-pikir belum pernah Gua seromantis ini kepada perempuan. Apalagi kalau mengingat yang memberikan ide, dari orang yang tidak suka dengan keromantisan. Yap, Mba Yu kan bukan perempuan yang suka dengan perlakuan romantis. Tapi diluar dugaan, malah dirinya bisa memikirkan ide seperti ini. Thank you so much Mba Yu ku.
Selesai menikmati wine, Gua menjentikkan jari keatas, lalu seorang pramusaji datang menghampiri Gua dengan sebuah gitar akustik. Setelah menerima gitar tersebut, Gua menarik kursi ke samping Mba Siska. Jelaslah dirinya kembali terheran.
"Apalagi Za ?", tanyanya seraya tersenyum lebar menatap Gua.
"Dengerin aja ya sayang..", jawab Gua sambil memposisikan diri dengan nyaman untuk mulai bernyanyi.
Setelah Gua merasa nyaman, Gua mulai memetik senar gitar.
"Ini untuk kamu", ucap Gua.
Dan Gua pun mulai menyanyikan lagu favorit sang kekasih hati..
Quote:
Disertai desiran angin malam yang cukup kencang, lagu yang Gua nyanyikan untuknya pun selesai. Senyum indah terukir di bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"Mba, gak boleh nangis loch", ucap Gua.
"Aku seneng Za".
"I Love You Mba".
"I Love You too Za".
Gua taruh gitar dengan posisi berdiri di samping meja makan, lalu Gua bangun dari duduk dan mengulurkan tangan kepada sang kekasih. Tangannya pun menyambut dan Gua ajak dia ke sudut ujung rooftop ini.
"Mba, indah ya kerlap-kerlip lampu Ibu Kota...", ucap Gua ketika sudah memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagu ke bahu kanannya.
Kedua tangan Gua kembali melingkar ke perutnya, dan kedua tangannya pun bertumpuk diatas tangan Gua.
"Iya Za, ditambah lampu dari kendaraan..".
"Kamu senang hari ini Mba ?".
"Aku bukan senang tapi bahagia",
"Bahagia banget malam ini atas semua yang kamu berikan..".
Gua tersenyum mendengar jawabannya, lalu Gua lepaskan pelukkan dari perutnya. Gua yang masih berdiri di belakangnya kini mengambil sebuah kado dari saku kemeja. Gua buka bungkusnya, Mba Siska tidak menoleh sedikitpun kebelakang.
"Mba".
"Ya".
"Tutup mata kamu sebentar ya".
"Heum ?",
"Apa lagi Za ? Masih ada kejutan lain ?".
"Hehehe",
"Udah tutup dulu matanya".
Setelah Gua memastikan matanya terpejam, Gua lingkarkan kedua tangan kedepan lehernya, tanpa menyentuh tubuhnya sedikitpun, lalu Gua berbisik pelan dengan mencodongkan wajah ke sisi telinga kanannya.
"Buka mata kamu sayang".
Lagi dan lagi, Mba Siska terkejut tanpa mengeluarkan suara, kedua tangannya menutup mulutnya dengan mata yang sedikit terbuka lebar.
"Semoga kamu suka atas pemberian aku ya", ucap Gua lagi.
Mba Siska masih terpana kemudian wajahnya menengok ke kanan, kepada Gua.
"Za",
"Ini bener-bener berlibahan".
"Enggak Mba, gak berlebihan kok",
"Ngomong-ngomong aku pegel nih, mau dipakaikan gak ? Hehehe".
Mba Siska mencubit hidung Gua pelan sambil terkekeh. Lalu kembali wajahnya menatap kedepan. Gua pun memasangkan kalung yang liontinnya berbentuk hati ke leher putihnya. Setelah selesai mengaitkan kalung, Mba Siska menurunkan kembali rambut belakangnya yang dia tahan keatas. Lalu tubuhnya berbalik menghadap Gua.
Kembali senyum bahagianya terpancar dari wajah cantiknya. Gua pun ikut tersenyum, rasa bahagia yang dia rasakan sekarang ikut masuk ke dalam hati ini. Tonight is so amazing for us.
"Makasih sayang",
"Makasih banget, aku bahagia dengan semua kejutan yang kamu kasih malam ini Za..",
"Aku sayang kamu".
Gua tersenyum lalu mengaitkan tangan kanan ke tengkuknya dan mencium lembut keningnya.
Cup
"Aku juga sayang kamu Mba".
Malam semakin larut, angin malam kian bertiup kencang, karena dress Mba Siska yang tanpa lengan sudah pasti tidak bisa menahan dinginnya malam, Gua pun mengajaknya pulang.
Tidak lupa cake yang belum kami makan dibawa pulang beserta sebotol wine. Mahal coy itu minuman, sayang amat kalo Gua tinggal ma, kan lumayan buat di kost-an.
...
Sekitar pukul 21.00 wib, kami berdua sudah kembali berada rumah kontrakannya. Mba Siska masuk ke dalam kamar, Gua berdiri di ambang pintu kamarnya, bersandar ke kusen pintu.
"Mba, aku pulang dulu ya".
"Eh ?",
"Kok pulang ?".
"Udah malam Mba, kamu juga besokkan kerja",
"Aku naik taxi aja".
Mba Siska tampak tidak setuju dengan ucapan Gua, lalu Mba Siska berjalan menghampiri Gua. Kami pun saling berhadapan di pintu kamarnya ini. Wajah Mba Siska mendongak keatas menatap wajah Gua, kedua tangannya memegang kedua dada Gua.
"Za".
"Heum ?".
"I Love You".
"I Love You too".
Kemudian bibirnya mendekati bibir Gua.
Cup
Cup
Cup
Lama kami berciuman hingga kedua tangannya kini melingkar ke tengkuk Gua, membelai rambut belakang Gua, dan lama kelamaan tangan kirinya itu mencengkram rambut ini, lalu tangan kanannya menarik tengkuk Gua agar mengikuti langkahnya masuk ke dalam kamar. Tentu saja kami berdua masih dalam aktifitas saling memagut bibir. Kedua tangan Gua sudah memegang kedua sisi pinggangnya.
Hingga langkahnya terhenti karena tertahan sisi kasur kamarnya. Gua melepaskan pagutan bibir.
"Za", ucapnya lirih dengan mata sayu menatap bibir Gua yang sudah basah.
"Heum ?".
Mba Siska tidak menjawab, tapi kedua tangannya menarik kerah kemeja Gua. Dan..
Brugh...
Dirinya sudah terlentang diatas kasur dengan tubuh Gua berada tepat diatasnya.
Diubah oleh glitch.7 17-04-2017 00:09
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
