Quote:
Erin: Agri!….. lo kok bisa sampai sini?
Gue : Iya Rin, gak pa2 kan gue pingin ketemu lo, gue kangen Rin
Tampak jelas raut keterkejutan darinya waktu itu, dengan ekspresi takut atau malah entah malu berikutnya dia justru meninggalkan gue disana, begitu cepat dia telah mengayuh kursi rodanya meninggalkan ruangan tersebut menuju ke halaman belakang, sedang tak berhenti juga beberapa kali dia mengusap air matanya yang telah banyak tertumpah, gue kemudian berinisiatif mengejarnya, dengan segera saja memotong dari arah dia datang, dengan waktu itu gue duduk berlutut dihadapanya, memohon padanya untuk berhenti
Quote:
Gue: Tunggu Rin, kenapa lo malah lari?
Erin : Untuk saat ini gue lagi gak kepingin ketemu lo Gri, maaf gue gak ada waktu
Gue : Rin! bentar gue mohon dengerin gue dulu, tolong jangan buat kesempatan gue satu2nya ini jadi sia2, setelah hampir 11 tahun gue menunggu untuk datangnya hari ini
Erin : Terus kenapa Gri? kenapa baru sekarang lo datang? kemana aja lo selama ini?
Gue : Entah lah Rin gue sendiri un juga bingung mau ngejawabnya, sebenerya gue udah upayain yang terbaik yang gue bisa untuk berusaha cari lo, sampai gue akhirnya memilih menyerah, karena sama sekali gak ada petunjuk tentang lo kecuali satu2nya surat yang dulu pernah sengaja lo tinggalkan untuk gue, namun begitu gue masih yakin bahwa hari ini bakal tiba Rin, hari dimana kita akan dipertemukan kembali seperti yang dulu pernah gue janjikan
Erin : Tapi maaf Gri, lo datengnya di waktu dan saat yang kurang tepat, ketika gue sedang berusaha untuk ikhlas dan belajar untuk melupakan lo, sebenarnya dengan melihat diri gue yang sekarang, yang telah banyak memiliki kekuragan, gue sudah gak sanggup lagi Gri untuk menghadapi lo, gue takut, dan gue malu, gue sekarang udah tak bisa menjanjikan apapun lagi seperti dulu, gue udah gak sempurna seperti gadis yang lo kenal selama belasan tahun lalu, dan beginilah keadaan gue sekarang yang telah cacat hingga sudah gak pantes lagi berada disamping lo
Gue : Please Rin, gue sengaja datang kemari bukan untuk mendengar lo berkeluh kesah, tapi gue ingin lihat lo juga bahagia
Erin : Apa lo sedang bercanda Gri? dengan keadaan gue sekarang! bagaimana bisa lo simpulkan bahwa hidup gue bahagia, dengan keadaan gue sekarang gue hanya ngerasa terbatasi Gri, gue gak bisa lagi sebebas seperti dulu, dan asal lo tahu satu2nya kebahagian gue saat ini adalah kehadiran lo disini, walaupun tetap saja bagi gue gak akan bisa merubah apapun, karena kehidupan dan kebahagiaan gue sekarang telah dimiliki oleh orang lain, jadi kini lo bukanlah lagi menjadi orang yang beruntung itu, maafin gue Gri bahwa kehadiran lo hari ini sebenarnya telah benar2 sangat terlambat, kenyataanya gue gak sanggup untuk terus menjaga janji gue dulu untuk selalu setia menunggu lo, dan andaipun lo tahu alasanya suatu hari pasti lo akan maklum atas pilihan yang telah gue ambil
Gue : Seperti itu! baiklah, sebenernya gue sudah tau, tadi gue sedikit denger dari Mbak Sofi, yah mau dikata apalagi Rin, memang kita sepertinya tak ditakdirkan berjodoh, karena sama seperti lo, gue ternyata juga tak lebih baik, gue juga gak bisa menepati janji gue dulu ke lo, karena sangat munafik saat ini gue rupanya juga telah menemukan kehidupan dan kebahagiaan baru bersama dengan orang lain, yang kemungkinan kurang dari beberapa hari ini akan menjadi hari bahagia untuk kami, sebenernya gue sengaja datang kemari bukan sekedar untuk mengetahui khabar lo, tapi sekaligus meminta restu dari lo untuk pernikahan kami, dan sebaliknya gue juga akan mendoakan untuk kebahagiaan lo bersama pasangan lo
Erin : Kalau benar begitu berarti kita telah impas, setelah ini gue tak akan merasa bersalah lagi ke lo, karena ngerasa telah ingkar janji dan tega menghianatin lo, begitupun sebaliknya dengan lo
Gue : Ya, bisa kita anggap seperti itu, walaupun sebenernya gue masih tetep gak enak sama lo, terkesan gue dulu menelantarkan perasaan lo dan gak bersungguh2 berusaha buat nyari lo, andai aja kita lebih cepat dipertemukan ya Rin mungkin akan lain ceritanya
Erin : Lain ceritanya? maksudnya? mungkinkah lo? emang lo masih mau nerima gue dengan keadaan gue yang seperti ini, coba lo mikir Gri, bukanya lo malah bisa dapetin yang lebih baik dari gue
Gue : Emang kanapa? dan apa salahnya? gimanapun keadaan lo, sepanjang gue masih bisa nyaman dengan lo dan mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang gue butuhkan, kenapa tidak?
Erin : Tapi kenapa Gri? kenapa baru sekarang lo berani mengatakan itu, kenapa gak sedari dulu saat pertama gue ungkapin rasa suka gue ke lo, dengan lo mengatakanya baru sekarang, kita sama2 tahu kan bahwa semuanya udah sangat terlambat, btw benarkah baru sekarang lo menyadari perasaan itu?
Gue : Iya Rin, walau sebenernya gue agak sedikit malu untuk mengakuinya, tapi gak munafik semenjak sepeninggal lo dulu, sangat jelas terasa bahwa gue telah kehilangan sosok lo, kehilangan sesuatu yang selalu dan senantiasa biasa gue dapatkan dari lo dulu, perhatian2 kecil dan beberapa bentuk kasih sayang yang selalu lo berikan, hingga setelah semuanya tak lagi bisa gue dapatkan lagi, rupanya gue merindukan saat2 dan moment2 kebersamaan itu lagi saat dulu masih bareng2 lo, gue baru2 menyadari bahwa itulah yang dinamakan cinta, sekarang walau mungkin sudah terlambat, setidaknya gue dapat memastikan Rin jawaban untuk pertanyaan lo dulu, dan itulah kejujuran sebenarnya
Erin : (Menangis) Terima kasih Gri karena telah bersedia mencintai gue, tapi seperti tadi telah gue bilang, semuanya emang udah terlambat, dengan lo ngomong baru sekarang sudah gak bisa merubah apapun, cukuplah hanya hati dan perasaan kita aja yang saling mengerti, tapi untuk kehidupan kita selanjutnya marilah kita masing2 berbahagia bersama pasangan2 kita
Gue : Gue juga mengerti Rin, semua memang udah gak mungkin lagi, saat ini kita masing2 telah mempunyai hati lain untuk kita jaga, dan memang sebaiknya seperti itu, cukuplah cerita kita dimasa lalu menjadi kenangan antara kita dan biarlah tetap sampai disitu, sekarang kita coba lupakan bahwa di masa lalu kita pernah sama2 saling memiliki perasaan, lebih baik buat kita sekarang sekedar menjadi teman
Erin : Hmmm, walau sebenernya gue rada gimana, tapi tetap akan gue coba Gri, soalnya lo tau kan sangat susah untuk ngerubah image lo yang udah terlanjur lama terpatri dalam ingatan gue, lo yang dulunya orang special di hati gue sekarang menjadi bukan siapa2 lagi, dan sepertinya memang akan butuh waktu, kalo lo sendiri gimana? apakah lo masih simpen juga perasaan lo dulu ke gue?
Gue : Masih! dan sementara masih belum berkurang hingga hari ini
Erin : Sungguh! ah gombal! biarpun sekarang lo udah memiliki hati yang lain? btw Gri gue boleh tau dong, seperti apa orang yang jadi pilihan lo, apakah dia secantik gue?
Gue : Nah itu dia Rin! sepertinya hati gue emang tercipta berongga2 dari sononya, jadi bisa membagi2 perasaan gue kepada orang2 yang ada disekitar gue, kepada lo dan juga kepada pasangan gue sekarang yang tentu saja selalu mendapatkan semua prioritas itu, Astri nama gadis beruntung itu Rin, sebenernya gue menginginkan kesempurnaan darinya, tapi di zaman sekarang sepertinya sangat mustahil untuk mendapatkan yang seperti itu, dia normal seperti kebanyakan cew lainya yang juga masih memiliki banyak kekurangan, tapi untuk gue pribadi dia sudah cukup bagi gue, salah satu yang paling layak dan pantas untuk gue perjuangkan untuk mendampingi gue diantara banyak pilihan yang lain, masalah cantik atau jeleknya itu sebenernya relative dan hanya masalah selera, namun bagi gue pribadi, pastinya dialah yang tercantik saat ini, lebih dari segala ciptaan Nya yang ada di muka bumi, dan gimana sebaliknya dengan pasangan lo sendiri?
Erin : Sungguh! betapa beruntung gadis itu bisa milikin lo, sumpah kok gue jadi ngiri sekarang, kenapa bukan gue orang yang mendapat kesempatan itu untuk dibahagiain oleh lo, btw lo ingin jawaban yang jujur atau bohong Gri?
Gue : Beruntung? adanya gue yang beruntung dapetin dia, mengingat kita dulu di awal2 kenal bagaikan musuh, seolah ada aja yang bisa bikin kita selalu ribut, tapi entah kenapa seiring waktu kita malah kemudian dipersatukan, hampir semua tindakan negatifnya, dan kejailan2nya yang sebenernya sangat gak wajar untuk dilakukan oleh seorang cew, hampir mirip2 lo dulu lah ketika SD, bisa gitu aja gue terima dengan segala kerelaan, entahlah kenapa gue dulu jadi seperti itu, kali itu mungkin yang di katakan jodoh ya Rin? eh! kok jadi gue yang banyak cerita, yaudah selanjutnya giliran lo sekarang, gue tadi kan yang nanya, gue minta jawaban yang jujur
Erin : Hahaha (ketawa) sory2 Gri, gue ngerasa lucu aja denger kisah percintaan lo yang hampir mirip2 kek di sinetron, hmm.. ya ya bisa aja sih itu dikatakan jodoh, cerita lo berbeda sekali dengan gue Gri, cerita gue bahkan lebih drama dan lebih melo dari lo, sebenernya agak bingung harus darimana memulainya, panjang sekali soalnya, takut lo ntar gak ada waktu buat dengerinya
Gue : Setelah 11 tahun kita gak pernah ketemu, pantaskah lo masih mempertanyakan yang seperti itu Rin? gue kesini justru hanya untuk itu, menggantikan waktu2 selama 11 tahun lalu yang penuh dengan kesia2an, gue pasti akan selalu punya waktu kok buat denger semua cerita lo
Erin : Hmm baiklah, langsung gue mulai ya kalau gitu, nama orang beruntung itu adalah Mas Hadi, dia sosok yang lebih dewasa dari gue, karena terpaut umur kami hampir sekitar 8 th, memiliki juga kekurangan seperti gue yang sama2 berkebutuhan khusus, awalnya kami berdua kenal tak lama setelah gue dulu pindah ke kota ini, dia kebetulan adalah teman sekamar gue saat dulu sama2 dirawat dan menjalani operasi di rumah sakit, lebih kebetulanya lagi dia adalah salah seorang family dari dokter yang waktu itu rawat gue, suatu hari gue gak bisa terima kenyataan karena mahar yang harus gue bayar untuk keberhasilan operasi penyakit gue waktu itu adalah harus mengorbankan salah satu anggota gerak gue untuk menjadi lumpuh permanent, waktu itu gue sangat takut, gue belum siap aja dengan segala resiko dan keadaan seandainya gue lumpuh, sudah pasti gue gak akan bisa untuk terus melanjutkan hidup, beruntung ada dia waktu itu yang selalu tak bosan terus menyemangati gue, walaupun waktu itu keadaanya juga sama halnya seperti gue dan tak lebih baik, tapi di banyak kesempatan justru dia selalu berhasil untuk menenangkan gue, itulah yang buat gue kemudian mengaguminya, terlebih lagi ketika dia pernah menjanjikan suatu hal ke gue waktu itu, dengan keadaan gue yang saat itu memang sangat sulit dan serba susah untuk mengambil sebuah keputusan, sempat dia tawarkan ke gue untuk mengambil tindakan operasi, segala opsi yang akan terjadi berikutnya ke gue, dia siap bertanggung jawab, dia berjanji apapun yang terjadi dia gak akan pernah meninggalkan gue, termasuk sekalipun seandainya di masa mendatang sejak saat itu, gue susah untuk mendapatkan jodoh, dia lah satu2nya orang yang akan bersedia menjadi mempelai gue, dan sejak saat itulah sepertinya kehidupan gue telah banyak dicuri olehnya, tiba2 saja perasaan gue yang sejatinya dulu hanya buat lo mulai beralih ke dia sedikit demi sedikit sejak hari itu, lebih dari itu banyak pula kehidupan gue beserta keluarga yang telah dibantu olehnya, termasuk biaya pengobatan rumah sakit yang waktu itu gue masih inget gue gak pernah keluar uang sepeser pun, terus biaya sekolah dari sejak gue SMP sampai gue sekarang telah meraih Diploma 3 di biayai semua oleh keluarganya, bagi gue dia bagaikan malaikat yang waktu itu diutus datang untuk menyelamatkan hidup gue, sehingga perasaan gue padanya pun bukan lagi semata karena membalas budi, tapi murni karena cinta yang tulus dari dalam hati, berikutnya waktu demi waktu kian berlalu dengan selalu menorehkan kisah antara kami berdua, hingga pada suatu hari tak kurang dari 2 minggu sebelum hari ini, dia datang melamar gue, semoga sampai hari bahagia itu tiba kami berdua tak kekurangan sebuah kebahagiaan sedikitpun ya Gri, hingga kami telah di sahkan menjadi pasangan suami isteri, dan tamat, gimana? panjang banget ya ceritanya?
Gue : Amin, sumpah ini adalah cerita yang sangat luar biasa yang pernah gue denger secara langsung, dan benar gue akui kisah gue jelas gak ada apa2nya dibanding kisah lo tadi, orang itu pasti sangat beruntung bisa memiliki lo Rin, dan sebaliknya lo juga sangat beruntung pula bisa miliki dia, semoga kebahagiaan senantiasa menyertai kalian nanti, semoga rumah tangga kalian selalu sakinah, mawadah, warohmah, juga amanah jika nanti telah diberikan momongan
Erin : Amiin, demikian juga lo sebaliknya Gri bersama pasangan lo
Obrolan panjang gue dengan Erin waktu itu terpaksa harus berakhir ketika hari sudah mulai petang, sungguh gak berasa ngobrol denganya bikin gue lupa segalanya, ternyata sudah hampir lebih 3 jam kita berdua ngobrol, kita baru tersadar setelah terdengar suara adzan maghrib berkumandang, segera gue meminta izin Erin untuk meminjam kamar mandi rumahnya, setelah beres mandi dan selesai menunaikan kewajiban gue sebagai seorang muslim, kemudian gue langsung bergabung dengan Erin dan Mbak Sofi di meja makan yang sepertinya mereka sengaja menunggu gue, acara berikutnya adalah ngobrol2 ringan di ruang makan, sambil gue sedikit cicipi lauk dan menu yang telah dihidangkan waktu itu, hingga berikutnya datang tiba2 anggota keluarga Erin lainya yaitu Nyokap dan juga kakaknya yang ke 2 Mbak Widia, sebenernya gue hendak memberi salam ke mereka tapi terpaksa harus gue urungkan karena tangan gue terlanjur belepotan kuah nasi padang, sumpah itu kejadian paling awkward dan memalukan dalam hidup gue, gue yang sedianya hanya menjadi tamu disana tapi makan masih dengan cara orang bar2 (kampret), ditengah kebingungan gue waktu itu untuk mencari air kobokan, tiba2 aja kedua pipi gue langsung aja di cup cup, cium oleh makhluk wanita yang gue kenal sebagai Mbak Widia
Quote:
Mbak Widia: Wah asik nih ada brondong di rumah, ganteng pula, adek kecil godain kakak dong, sun dikit boleh dong
Gue : Eh ……
Erin : Isssh kak Widia apaan sih, sukanya celamitan ya kalo udah lihat cow
Mbak Sofi : Ya tuh Rin kakak lo tuh! Wid namanya abis dari mana2 tuh salam dulu, cuci tangan atau kaki bila perlu sekalian wudhu, lah ini langsung maen sosor2 aja, untung dia orang yang cukup kita kenal, kalo gak bisa dilaporin ke komnas ham lo baru tahu rasa, tentang dugaan pelecehan, emang lo mau tanggung jawab terus suruh nikah
Mbak Widia : Lhah Nikah, ya ayuk lah, emang apa yang gak gue berani, segitu aja mah gampil, emang itu yang dari dulu gue tunggu2, (berikutnya langsung narik2 tangan gue) yuk Mas kita nikah sekarang, tadi udah gue kasih cium kan, yaudah berarti besok kita kudu nikah!
Mbak Sofi : Sumpah adek geblek gue yang satu ini, emang oon nya udah taraf provinsi, gak bisa bedain ya candaan atau sungguhan, semua2nya kok dikira beneran
Mbak Widia : Ye..! gue becanda juga kali Mbak, tapi kalo emang beneran dia juga mau gue gak nolak deh
Nyokap Erin : Udah2 kalian itu bertiga gak bosan apa ya kerjaanya selalu ribut terus tiap hari, hargain dong orang lagi ada tamu gini, ayo semuanya sekarang duduk tenang dan makan tuh hidangan, nah silahkan dilanjut lagi makanya Nak Agri maafin anak2 tante ya, maklum emang sehari2nya mereka selalu seperti ini, udah biasa
Gue : Eh iya Tante, kok tante masih inget ya sama saya, udah lama banget lo padahal
Nyokap Erin : Oh… tadi sebenernya Tante udah dikasih tau sama Mbak Sofi lewat sms, bahwa katanya mau bawa kerumah temen Erin waktu SD dulu
Mbak Widia : Eh…. bentar2! Agri… Agri… siapa ya? sepertinya gak asing nih nama di telinga gue, Oh si pangeran Erin dulu? pas masih kecil? pas jaman masih SD? bocah item kucel kurang ajar yang suka naruh upil dibawah taplak meja, bocah yang dulu pernah mandi air got gara2 jatuh pas lagi maen, bocah yang suka cengeng saat sepedanya dulu gue umpetin, bocah yang dulu pernah kasih rambutan yang ternyata isinya sarang semut, dan juga bocah yang sama yang dulu pernah ngelukis muka gue pake spidol permanent pas gue lagi tidur (sumpah malu banget gue waktu itu, segala aib gue di masa gue kecil di ungkit2 lagi olehnya bahkan gak ada satupun yang terlewat, kampret, sungguh bener kampret nasib gue hari itu) dih amit2 deh mulut perawan gue tadi buat nyium2 dia, harus mandi junub nih gue nanti keknya (Mbak Widia gue lihat gak banyak berubah, masih seperti dulu, cerewet, suka ceplas ceplos kalo bicara, sering latah, ngomong panjang lebar tapi gak mau di sela, masih suka sinisan dan maen sindir, yang berubah darinya adalah bahwa kini dia semakin cantik walau penampilanya sekarang sedikit lebih tomboy)
Selanjutnya acara makan pun berubah menjadi acara ketawa berjamaah, satu persatu kekonyolan2 gue dan Erin ketika dulu semasa kecil dibahas dan diceritakan lagi oleh Mbak Widia kala itu, Erin tentu saja mendapat juga giliranya, beberapa tingkahnya juga turut disebutkan oleh Mbak Widia dalam ceritanya
Quote:
Mbak Widia: Btw Gri lo masih inget jargon yang ini gak, Isssh ngka’kak njahat, adek cebbel (ditirukan persis seperti dulu gaya Erin mengucapkanya, dengan sedikit aksen cadel2)
Gue : Ya masih lah Mbak, itu mah jangan ditanya, itu bahkan salah satu alasan kenapa gue sekarang ada disini
Erin : Issh lo apa2an juga Gri pake ngikut2? ngkalian semuach nyah njahat, aqou mbenci
Mbak Widia : Nah khan apa gue bilang, baru juga diomongin langsung keluar lagi tuh logat cadelnya
Kegiatan itu terus berlanjut hingga tak terasa jam menunjukkan hampir pukul stengah 9 malam, walau gue merasa masih belum cukup kebersamaan di hari itu dengan mereka, tapi apa daya gue mesti harus pulang, ada kehidupan lain yang menanti gue di kota gue, sedang pula esok pagi gue juga harus musti berangkat masuk kerja, sebagai syarat pengajuan cuti nikah emang gue harus dan diwajibkan untuk rajin masuk kantor, setelah gue berpamitan ke mereka dan tersepesial kepada Erin, gue akhirnya menumpang kereta menuju kota tempat gue tinggal, yang sebelumnya diantar Mbak Sofi hingga ke stasiun
Quote:
Erin: Gri lo beneran gak mau nginep dulu disini barang semalem, gue masih kangen
Gue : Maunya sih gitu Rin, tapi demi kebaikan sebaiknya emang gue mending pulang aja, selain besok gue musti kerja, gak baik juga keliatanya, gue yang bukan bagian dari keluarga lo nginep dimari, apa nanti kata tetangga, takutnya nanti malah jadi aib bagi keluarga lo, ngarti kan maksud gue?
Erin : Ya... ya... ngerti kok, lo nanti jangan lupa dateng ya pas hari bahagia gue, jangan lupa ajak pasangan lo juga, soalnya gue masih penasaran
Gue : Ya pasti2, gue sempet2in deh, insyaallah kalo gak sibuk
Erin : Janji pokoknya lo kudu hadir! (kemudian maju peluk gue dan selanjutnya cup pas tepat di bibir gue)
Gue : Eh... kenapa?
Erin : Udah abaikan aja jika lo gak suka, itu tanda perpisahan dari gue sekaligus sebagai penawar atas tadi yang dilakuin Mbak Widia
Dalam perjalanan pulang naik kereta gue sempatkan mengecek HP, barang kali ada sms atau panggilan masuk dari nomor Astri, karena sejak kejadian sms Astri terakhir gue emang rada sedikit khawatir padanya, gue coba hubungi lagi nomornya masih tetap tak tersambung, akhirnya gue abaikan dan mencoba alihkan panggilan untuk menghubungi abang gue Bisma