- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#1524
PART 22
Kecupan Gua yang berubah menjadi lumatan pada tengkuknya, membuat sang kekasih menggelinjang kegelian dan lama-lama mendesah karena kedua tangan Gua sudah mengelus lembut bagian perut dari balik daster yang ia kenakan.
Pak!
"Waadaawww...", teriak Gua.
Gua langsung menyudahi segala aktifitas mesra yang berubah menjadi kemesuman tadi, karena eh karena, bagian lengan Gua yang tidak masuk kedalam balik dasternya dipukul dengan spatula yang masih berlumur minyak panas.
"Macem-macem tuh tangan!", semprotnya sambil melotot dengan berkacak pinggang.
Gua masih meniup-niup lengan yang terpukul dan terolesi minyak panas, sumpah saking sakit plus panas rasanya nih mulut pingin berucap kalimat kasar kepada sang kekasih hati. Emosi jiwa Gua!
Gua berlalu meninggalkan Mba Siska tanpa memperdulikan ocehannya, Gua ke kamar mandi dan mengolesi luka panas itu dengan odol. Jiir periiih, kampret bener! Nih tangan pertama kalinya kena slepet gara-gara mau mesum, biasanya lancar aja nih tangan mendaki 'gunung', baru kali ini aja tangan Gua hendak start mendaki langsung tewas duluan, belum juga setengah perjalanan udah kena slepet! Apes bener.
Selesai mengolesi odol, Gua keluar lagi dari kamar mandi, dan Mba Siska sudah tidak ada di dapur, Gua pun berjalan kearah ruang tamu. Gua lihat Mba Siska sedang menata piring berisi masakannya diatas meja tamu.
Gua melewatinya begitu saja menuju pintu rumah, males Gua!
"Za, kok keluar ?", ucapnya dari ambang pintu.
"Males..", jawab Gua dingin lalu kembali berjalan menuju pagar.
Mba Siska berlari menghampiri Gua yang sedang mencoba membuka pintu pagar. Tangan kanan Gua ditahan olehnya, lalu Gua berbalik badan dan melihatnya yang berdiri sambil tertunduk, Gua lihat kaki mulusnya tanpa sandal.
"Za..", ucapannya terdengar lirih,
"Maafin aku, aku gak sengaja, reflek...", lanjutnya seraya melihat lengan Gua yang terolesi odol.
"Aku minta maaf juga udah kurang ajar Mba",
"Tapi ya yang bener aja Mba, kamu pukul aku pake spatula berlumur minyak goreng mendidih gitu..", jawab Gua menahan kesal.
Wah wah wah kampret! Wajahnya mendongak keatas dan menatap wajah Gua, dan Syit! Kampreettt! Matanya sudah berkaca-kaca, buliran air akhirnya menetes membasahi pipinya yang mulus itu. Ah Mbaaa kenapa pake acara nangis sih!
"Maafin aku Za..", ucapnya dengan nada suara yang semakin bercampur isak tangis.
"Udah udah Mba..",
"Yuk masuk aja, malu diliatin orang yang lewat..".
Gua merangkul bahunya dan mengajaknya kembali masuk ke dalam kontrakan. Kami berdua duduk di sofa ruang tamu, Gua masih merangkul bahunya, lalu satu kecupan Gua daratkan di pipi kanannya.
"Maafin aku Mba kalau udah kurang ajar tadi, maaf banget..",
"Jujur aja, gak bisa nahan hasrat tadi..",
"Pakaian kamunya juga ngundang banget... Maaf ya Mba..", ucap Gua sambil memegang wajahnya kini dengan kedua tangan, lalu menyeuka airmatanya.
"Iya",
"Maafin aku ya Za, udah lukain tangan kamu",
"Maaf aku kaget banget tadi..", jawabnya.
Kurang ajar emang si Eza, udah mesum, ditolak, eh masih sok-sok marah, terus bikin anak orang nangis, Sialan Lu Za! Kurang-lebih begitulah makian Gua kepada diri sendiri.
Tiba saatnya menyantap masakan ala Mba'e Siskah... Yummy yummy, ntaps beut ini rasa ayam goreng mentega dan capcay gorengnya, sumpah kamu jago masak banget nget nget sayangkuuu... Nikmatnyooo. Selesai menyantap habis masakan buatan sang kekasih, kami berdua kembali ke dapur, nyuci piring bareng... Seperti Echa, Gua dilarang mencuci piring kotor bekas makan kami berdua, tapi Gua keukeuh membantunya, hasilnya ya basah-basahan dan saling usil colak-colek meperin busa sabun cuci piring.
"Ha ha ha...",
"Tuh idung kamu berbusa, lucu tau Za, ha ha ha...", tawanya puas.
"Hadeuh, sama aja Mba, tuh rambut kamu juga ada busa sabunnya.. he he he...",
"Sekalian mandi abis ini Mba, dah bau acem kamu dari siang hehehehe...", balas Gua.
"Iiih.. Bau acem tapi masih nyiumin aja huuu...".
"Nikmat sih aromanya ehehehe...".
Beres canda bersama sambil mencuci piring, kini Mba Siska masuk ke dalam kamar mandi, untuk bersih-bersih dan membilas tubuhnya. Gua ikut mandi ? Maunya sih ngono rek.. Tapi ya Gua masih pingin hidup di dunia kali, megang perut langsingnya aja kena slepet minyak goreng mendidih, apalagi minta mandi bareng, dor beneran nanti, dan alasannya enteng banget, reflek!
"Za, tuh mandi dulu gih, aku udah selesai..", ucapnya setelah berjalan dari arah dapur, dan berhenti di depan pintu kamarnya.
"Oh oke lah..",
"Pinjam handuk ya Mba..", jawab Gua seraya bangkit dari sofa ruang tamu dan menghampirinya.
Kemudian Mba Siska masuk ke dalam kamarnya, membuka lemari pakaian dan mengambil satu handuk baru untuk Gua. Setelah menerima handuk baru darinya, Gua pun bergegas ke kamar mandi untuk membilas tubuh. Sudah pasti luka di tangan Gua akibat 'jatuh dari gunung sebelum mencapai puncak' tidak Gua bilas. Perih Cooiiiyy!
Gua keluar dari kamar mandi dengan memakai celana long-jeans tanpa atasan, handuk Gua kalungkan ke leher, sedangkan kaos, Gua tenteng di tangan kanan. Kembali Gua ke ruang tamu, dan terlihat sosok kekasih hati sedang memainkan laptopnya duduk di sofa ruang tamu. Handuk yang sedari tadi membalut rambutnya yang basah masih dikenakan diatas kepalanya itu, sedangkan balutan pakaiannya masih juga sama, daster batik tanpa lengan. Aish kok jadi mesum lagi ini otak, gak beres dah. Gua mendekatinya lalu cukup tersenyum ketika melihat diatas meja sudah ada secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.
"Wah, makasih banyak Mba, kopinya udah disediain aja nih..",
"Hehehehe..", ucap Gua lalu duduk disampingnya.
"Eh iya Za sama-sama..",
"Pasti kamu pingin ngerokok sambil ngopi kan hi hi hi hi...", jawabnya.
Gua tersenyum kepadanya seraya mencubit pelan hidungnya, "tauu aja kamuuu.. Hehehehe..", lalu,
"Eh, kamu lagi kerja ?", tanya Gua melirik kearah layar laptopnya.
"Iya nih, kerjaan kantor..",
"Dicicil sedikit-sedikit Za, biar enggak numpuk besok, huuftt...".
Duh, kasihan Gua melihatnya yang letih dengan banyaknya kerjaan kantor, belum lagi daribkemarin dia membagi eaktunya untuk menemani Gua belanja, laly hari ini beres-beres kost-an Gua, ditambah masak pula untuk kami berdua. Sedih sih melihatnya kecapean gitu, apalagi sempat Gua buat di menangis juga. Duh...
Gua berinisiatif langsung memijat bahunya pelan.
"Eh ?", dia menengok kearah Gua.
Gua tersenyum, "aku pijitan ya, pasti cape kan hari ini...", ucap Gua.
Plek...Tubuhnya langsung memeluk Gua, wajahnya menyamping bersandar ke dada Gua yang masih tanpa pakaian bagian atas.
"Makasih ya Za, kamu ngertiin aku", ucapnya dengan suara yang pelan dan terasa tulus bagi Gua.
"Sama-sama Mba, makasih kamu udah bantuin aku dari kemarin..",
"Maaf tadi udah buat kamu marah di mall, karena aku ngotot bayarin belanjaan kamu, dan maaf juga sampai buat kamu nangis tadi ya...", ucap Gua seraya membelai punggungnya dengan lembut.
Mba Siska mendongakkan kepalanya kearah wajah Gua, dagunya menempel ke dada ini, dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Eits, gak boleh nangis lagi ah..", ucap Gua sambil tersenyum.
"Enggak kok..",
"Aku seneng, seneng banget malah..", jawabnya.
"Seneng kenapa Mba ?".
"Karena kamu..",
"Karena kamu yang udah mau ngertiin aku juga, makasih ya sayang", jelasnya seraya tersenyum manis kepada Gua.
Lalu Gua kecup keningnya pelan dan kembali memundurkan wajah dan menatapnya lagi. Mba Siska tersenyum lebar.
"Za..".
"Ya ?".
"I Love You..".
Gua pun tersenyum... Cupp... Gua kecup bibirnya kali ini. "I Love You too Mba..", balas Gua.
Saling menatap beberapa detik, Gua rasakan tubuhnya merangkak naik, wajah kami pun semakin dekat dan...
Cupp..
Capcipcupcepcop...
Lama kami saling memagut bibir. Hingga kejadian di depan rumahnya dulu terulang. Rambut Gua sudah dijambaknya karena pagutan bibir semakin menggila, nafasnya menderu. Antara sadar dan nafsu, Gua menimang-nimang... bergerilya apa enggak ya... Tapi Gua pikir dia sedang tidak memegang benda yang membahayakan nyawa Gua, ya paling refleknya nampar aja atau jangan-jangan laptop di meja dikeprukkan ke kepala Gua...
Gua sudahi ciuman ini, karena Gua tersadar bahwa terlalu bahaya jika terlalu lama, bisa semakin liar nanti. Dengan nafas kami yang masih terengah-engah, Gua melihat senyuman dari bibirnya itu.
Cupp.. kecupnya sekilas.
"Mba..".
"Ya ?".
"Aku pulang ya..".
Wajahnya lalu menunjukkan kebingungan, lalu Mba Siska memundurkan wajahnya namun tetap berada dipangkuan Gua.
"Kok pulang ?".
"Udah malam nih, enggak enak sama tetangga kamu..".
"Mana punya tetangga aku disini Za...".
"Ya tetep aja gak enak Mba, tar ada Rt/Rw urusannya aku disuruj nikahin kamu lebih cepet loch.. hehehe...".
"Yaa gak apa-apa dong",
"Malah lebuhvbagus kalo kamu nikahin aku lebih cepet..",
"Biar gak nambah dosa terus akunya hi hi hi hi....".
"Idiih.. Nyalahin aku nih ?".
"Ya emang kamunya yang suka nakal sama aku, hayoo ?".
"Aku nakal karena kamu goda kali Mbaa..".
"Enak aja, mata dan pikiran kamu tuh yang mesum wuuu...".
Kalimat ledekkannya itu membuat bibirnya manyun kearah Gua, tanpa pikir panjang, serang lagi aaah...
Cupa cup... seluruuppss.. Aahh Minum kali Ah! Huahahaha.
"Mmpphh..",
"Muuachh..", bibirnya melepas pagutan Gua.
Gua tersenyum geli kearahnya karena mukanya yang memerah, "huuftt.. Udah ah Mba, aku takut di dor sama kamu kalo kelamaan disini", ucap Gua dengan nafas terengah-engah.
Mba Siska memeluk Gua, seolah-olah tidak membuarkan Gua pulang, tapi yaaa... sayangnya hanya seolah-olah...
"Hati-hati dijalan ya Za, langsung pulang ke kost-an ya, jangan kemana-mana dulu, udah malem soalnya", ucapnya yang masih memeluk Gua.
Jaaah, kirain mau disuruh tinggal lebih lama lagi, ngareplah Gua dikit hehehe...
Pada akhirnya, Gua pamit pulang ke kost-an karena waktu memang semakin larut. Jarak kontrakan Mba Siska dengan kost-an Gua memakan waktu hingga 45 menit lebih, sebenarnya bisa lebih cepat asal tidak macet di jalan raya. Mba Siska menawarkan Gua untuk membawa mobilnya, karena dia tau Gua belum ada kendaraan di Jakarta ini. Si Black masih dipakai Ayahanda, sedangkan si Kiddo menganggur di rumah Nenek, belum sempat Gua membawa salah satunya ke kost-an.
Sekitar pukul 20.45 wib Gua sampai di kost-an, setelah memarkir CieRVi milik sang kekasih, Gua berjalan kearah kamar no.20. Sempat Gua lihat kesebrang kamar, tepat di teras kamar no.3 ada seorang perempuan yang asyik mengobrol dengan seorang lelaki bule. Gua lihat perawakan si perempuan sudah matang, alias dewasa. Mungkin itu yang namanya Bianca, seorang female DJ yang diceritakan Mas Wisnu.
Gua sudah berganti pakaian lebih santai, mengenakan bawahan celana basket dan kaos oblong putih, tapi mata belum juga ingin terpejam, akhirnya Gua memilih untuk duduk di depan kamar, di kursi besi. Suasana kost-an sedikit sepi dari pandangan Gua, tapi beberapa suara alunan musik terdengar bersaut-sautan dimulai dari lantai 1 hingga lantai dasar ini. Entah dari kamar nomor berapa saja lantunan musik yang berbeda aliran itu berkumandang. Perempuan yang kemungkinan besar bernama Bianca sudah tidak ada di depan teras kamarnya, mungkin pergi bersama pria bule tadi, atau jangan-jangan di dalam kamarnya... Ah bodo amatlah. Daripada gak jelas, Gua memilih menge-cek hp seraya membakar sebatang racun, ada beberapa sms yang masuk dan belum sempat Gua buka.
Gua pun bergegas berganti celana lagi, mengenakan long-jeans biru, lalu mengambil jaket yang tergantung dibalik pintu kamar, dan memakainya. Setelah mengunci kamar, Gua berjalan kearah gerbang kost-an, mata Gua malah melirik kearah parkiran mobil dan memandangi CieRVi sang kekasih. Pakai mobilnya atau naik ojek ya, pikiran Gua menimang-nimang antara menggunakan kendaraan sang kekasih atau menggunakan jasa ojek. Ah naik ojek ajalah, kan Mba Yu bawa mobil, masa nanti dua mobil jalan-jalannya, gak asyik lah, eh tapi siapa yang mau jalan-jalan juga sih.
Singkat cerita Gua sudah berada di depan kampus setelah membayar 10 ribu rupiah kepada bapak ojek yang mengantar tadi. Tidak lama mobil Mba Yu pun datang, dan berhenti tepat di samping Gua.
"Hai cowok, lagi mangkal ya ?", ucap Mba Yu setelah membuka jendela pintu kemudi.
"Hai Tante, mau booking aku ya Tan ?",
"Ha ha ha ha...", balas Gua menanggapi.
"Iiih enak aja bilang tante-tante!",
"Masih muda gini, Kakak doong.. hi hi hi hi...", balasnya lagi seraya terkekeh.
Setelah saling lempar ejekkan, Gua pun masuk ke pintu kemudi, tentunya Mba Yu bergeser ke jok sebelah. Malam ini, aduh aduh, nampak cantik ini Mba Yu kuuuu.. Selalu buat Gua kesengsem deh kalo dirinya mengenakan jaket sporty putih favoritnya itu, bawahan celan long-jeans biru muda, dan tidak lupa jam pemberian Gua dia kenakan, oh satu lagi, rambut panjang pirangnya dikuncir kuda. Simple but charming bangetsss.
"Kamu udah makan Mba ?", tanya Gua yang masih belum menjalankan mobil.
"Belum, hehehe..", jawabnya tertawa pelan.
"Lah udah malem kok belum makan sih..",
"Mau makan apa nih ?", tanya Gua langsung.
"Pizza aja yu Za..",
"Lagi pingin Pizza hehehe..".
"Sip, berangkaaattt..".
Gua melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju sebuah resto ala Italian. Sekitar 15 menit kami berdua pun sampai di resto tersebut. Mba Yu memesan pizza ukuran kecil, karena Gua masih merasa kenyang setelah makan dengan Mba Siska sebelumnya. Gua memesan salad dan ice lemon tea, beberapa menut kemudian menu pesanan pun sudah dihidangkan diatas meja. Sambil menikmati makanan, kami mengobrol santai seputar kuliah Gua.
"Jadi nanti kamu mau fokus di bidang apa Za ?", tanya Mba Yu setelah menghabiskan 2 potong pizza.
"Belum tau sih Mba, kan ini baru awal, belum ada penjurusan yang spesifik, lagian yang aku tau katanya sih penjurusan nanti pas pkl...", jawab Gua.
"Hmm.. Ya yang penting kamu gak asal milih karena ikutan temen kamu aja Mas, kan ini untuk masa depan kamu toh..".
"Iya Mba, mudah-mudahan sih lancar semua..",
"Ngomong-ngomong kamu kapan masuk kuliah Mba ?", tanya Gua kemudian.
"Satu minggu lagi Za, tapi dari kemarin aku udah ke kost-an sih, beres-beres juga, ditinggal liburan debunya ampun Mas...", jawabnya.
"Ooh, iya pasti gak betah ya kotor gitu.. Eh iya, kamu sekarang pulang ke kost-an mu apa langsung pulang ke rumah Mba ?", tanya Gua lagi.
"Mmm..", Mba Yu berpikir sejenak,
"Kayaknya langsung ke rumah aja Mas, lewat tol..", jawabnya kemudian.
"Wah jangan deh Mba..".
"Kenapa Mas ?".
"Aku khawatir, udah malem ini Mba, udah diatas jam 9 tuh..", jawab Gua seraya melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
"Terus ?",
"Aku pulang ke kost-an aku aja gitu ?".
Gua menggeleng pelan lalu tersenyum, "Kamu pulang ke kost-an aku aja ya, besok pagi baru pulang ke rumah..", jawab Gua akhirnya.
Mba Yu pun tersenyum manis sekali, dan mengangguk malu-malu tapi mau... Hell Yeah!!!
Tonight, the star is shining bright in the sky...
Pak!
"Waadaawww...", teriak Gua.
Gua langsung menyudahi segala aktifitas mesra yang berubah menjadi kemesuman tadi, karena eh karena, bagian lengan Gua yang tidak masuk kedalam balik dasternya dipukul dengan spatula yang masih berlumur minyak panas.
"Macem-macem tuh tangan!", semprotnya sambil melotot dengan berkacak pinggang.
Gua masih meniup-niup lengan yang terpukul dan terolesi minyak panas, sumpah saking sakit plus panas rasanya nih mulut pingin berucap kalimat kasar kepada sang kekasih hati. Emosi jiwa Gua!
Gua berlalu meninggalkan Mba Siska tanpa memperdulikan ocehannya, Gua ke kamar mandi dan mengolesi luka panas itu dengan odol. Jiir periiih, kampret bener! Nih tangan pertama kalinya kena slepet gara-gara mau mesum, biasanya lancar aja nih tangan mendaki 'gunung', baru kali ini aja tangan Gua hendak start mendaki langsung tewas duluan, belum juga setengah perjalanan udah kena slepet! Apes bener.
Selesai mengolesi odol, Gua keluar lagi dari kamar mandi, dan Mba Siska sudah tidak ada di dapur, Gua pun berjalan kearah ruang tamu. Gua lihat Mba Siska sedang menata piring berisi masakannya diatas meja tamu.
Gua melewatinya begitu saja menuju pintu rumah, males Gua!
"Za, kok keluar ?", ucapnya dari ambang pintu.
"Males..", jawab Gua dingin lalu kembali berjalan menuju pagar.
Mba Siska berlari menghampiri Gua yang sedang mencoba membuka pintu pagar. Tangan kanan Gua ditahan olehnya, lalu Gua berbalik badan dan melihatnya yang berdiri sambil tertunduk, Gua lihat kaki mulusnya tanpa sandal.
"Za..", ucapannya terdengar lirih,
"Maafin aku, aku gak sengaja, reflek...", lanjutnya seraya melihat lengan Gua yang terolesi odol.
"Aku minta maaf juga udah kurang ajar Mba",
"Tapi ya yang bener aja Mba, kamu pukul aku pake spatula berlumur minyak goreng mendidih gitu..", jawab Gua menahan kesal.
Wah wah wah kampret! Wajahnya mendongak keatas dan menatap wajah Gua, dan Syit! Kampreettt! Matanya sudah berkaca-kaca, buliran air akhirnya menetes membasahi pipinya yang mulus itu. Ah Mbaaa kenapa pake acara nangis sih!
"Maafin aku Za..", ucapnya dengan nada suara yang semakin bercampur isak tangis.
"Udah udah Mba..",
"Yuk masuk aja, malu diliatin orang yang lewat..".
Gua merangkul bahunya dan mengajaknya kembali masuk ke dalam kontrakan. Kami berdua duduk di sofa ruang tamu, Gua masih merangkul bahunya, lalu satu kecupan Gua daratkan di pipi kanannya.
"Maafin aku Mba kalau udah kurang ajar tadi, maaf banget..",
"Jujur aja, gak bisa nahan hasrat tadi..",
"Pakaian kamunya juga ngundang banget... Maaf ya Mba..", ucap Gua sambil memegang wajahnya kini dengan kedua tangan, lalu menyeuka airmatanya.
"Iya",
"Maafin aku ya Za, udah lukain tangan kamu",
"Maaf aku kaget banget tadi..", jawabnya.
Kurang ajar emang si Eza, udah mesum, ditolak, eh masih sok-sok marah, terus bikin anak orang nangis, Sialan Lu Za! Kurang-lebih begitulah makian Gua kepada diri sendiri.
Tiba saatnya menyantap masakan ala Mba'e Siskah... Yummy yummy, ntaps beut ini rasa ayam goreng mentega dan capcay gorengnya, sumpah kamu jago masak banget nget nget sayangkuuu... Nikmatnyooo. Selesai menyantap habis masakan buatan sang kekasih, kami berdua kembali ke dapur, nyuci piring bareng... Seperti Echa, Gua dilarang mencuci piring kotor bekas makan kami berdua, tapi Gua keukeuh membantunya, hasilnya ya basah-basahan dan saling usil colak-colek meperin busa sabun cuci piring.
"Ha ha ha...",
"Tuh idung kamu berbusa, lucu tau Za, ha ha ha...", tawanya puas.
"Hadeuh, sama aja Mba, tuh rambut kamu juga ada busa sabunnya.. he he he...",
"Sekalian mandi abis ini Mba, dah bau acem kamu dari siang hehehehe...", balas Gua.
"Iiih.. Bau acem tapi masih nyiumin aja huuu...".
"Nikmat sih aromanya ehehehe...".
Beres canda bersama sambil mencuci piring, kini Mba Siska masuk ke dalam kamar mandi, untuk bersih-bersih dan membilas tubuhnya. Gua ikut mandi ? Maunya sih ngono rek.. Tapi ya Gua masih pingin hidup di dunia kali, megang perut langsingnya aja kena slepet minyak goreng mendidih, apalagi minta mandi bareng, dor beneran nanti, dan alasannya enteng banget, reflek!
"Za, tuh mandi dulu gih, aku udah selesai..", ucapnya setelah berjalan dari arah dapur, dan berhenti di depan pintu kamarnya.
"Oh oke lah..",
"Pinjam handuk ya Mba..", jawab Gua seraya bangkit dari sofa ruang tamu dan menghampirinya.
Kemudian Mba Siska masuk ke dalam kamarnya, membuka lemari pakaian dan mengambil satu handuk baru untuk Gua. Setelah menerima handuk baru darinya, Gua pun bergegas ke kamar mandi untuk membilas tubuh. Sudah pasti luka di tangan Gua akibat 'jatuh dari gunung sebelum mencapai puncak' tidak Gua bilas. Perih Cooiiiyy!
Gua keluar dari kamar mandi dengan memakai celana long-jeans tanpa atasan, handuk Gua kalungkan ke leher, sedangkan kaos, Gua tenteng di tangan kanan. Kembali Gua ke ruang tamu, dan terlihat sosok kekasih hati sedang memainkan laptopnya duduk di sofa ruang tamu. Handuk yang sedari tadi membalut rambutnya yang basah masih dikenakan diatas kepalanya itu, sedangkan balutan pakaiannya masih juga sama, daster batik tanpa lengan. Aish kok jadi mesum lagi ini otak, gak beres dah. Gua mendekatinya lalu cukup tersenyum ketika melihat diatas meja sudah ada secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.
"Wah, makasih banyak Mba, kopinya udah disediain aja nih..",
"Hehehehe..", ucap Gua lalu duduk disampingnya.
"Eh iya Za sama-sama..",
"Pasti kamu pingin ngerokok sambil ngopi kan hi hi hi hi...", jawabnya.
Gua tersenyum kepadanya seraya mencubit pelan hidungnya, "tauu aja kamuuu.. Hehehehe..", lalu,
"Eh, kamu lagi kerja ?", tanya Gua melirik kearah layar laptopnya.
"Iya nih, kerjaan kantor..",
"Dicicil sedikit-sedikit Za, biar enggak numpuk besok, huuftt...".
Duh, kasihan Gua melihatnya yang letih dengan banyaknya kerjaan kantor, belum lagi daribkemarin dia membagi eaktunya untuk menemani Gua belanja, laly hari ini beres-beres kost-an Gua, ditambah masak pula untuk kami berdua. Sedih sih melihatnya kecapean gitu, apalagi sempat Gua buat di menangis juga. Duh...
Gua berinisiatif langsung memijat bahunya pelan.
"Eh ?", dia menengok kearah Gua.
Gua tersenyum, "aku pijitan ya, pasti cape kan hari ini...", ucap Gua.
Plek...Tubuhnya langsung memeluk Gua, wajahnya menyamping bersandar ke dada Gua yang masih tanpa pakaian bagian atas.
"Makasih ya Za, kamu ngertiin aku", ucapnya dengan suara yang pelan dan terasa tulus bagi Gua.
"Sama-sama Mba, makasih kamu udah bantuin aku dari kemarin..",
"Maaf tadi udah buat kamu marah di mall, karena aku ngotot bayarin belanjaan kamu, dan maaf juga sampai buat kamu nangis tadi ya...", ucap Gua seraya membelai punggungnya dengan lembut.
Mba Siska mendongakkan kepalanya kearah wajah Gua, dagunya menempel ke dada ini, dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Eits, gak boleh nangis lagi ah..", ucap Gua sambil tersenyum.
"Enggak kok..",
"Aku seneng, seneng banget malah..", jawabnya.
"Seneng kenapa Mba ?".
"Karena kamu..",
"Karena kamu yang udah mau ngertiin aku juga, makasih ya sayang", jelasnya seraya tersenyum manis kepada Gua.
Lalu Gua kecup keningnya pelan dan kembali memundurkan wajah dan menatapnya lagi. Mba Siska tersenyum lebar.
"Za..".
"Ya ?".
"I Love You..".
Gua pun tersenyum... Cupp... Gua kecup bibirnya kali ini. "I Love You too Mba..", balas Gua.
Saling menatap beberapa detik, Gua rasakan tubuhnya merangkak naik, wajah kami pun semakin dekat dan...
Cupp..
Capcipcupcepcop...
Lama kami saling memagut bibir. Hingga kejadian di depan rumahnya dulu terulang. Rambut Gua sudah dijambaknya karena pagutan bibir semakin menggila, nafasnya menderu. Antara sadar dan nafsu, Gua menimang-nimang... bergerilya apa enggak ya... Tapi Gua pikir dia sedang tidak memegang benda yang membahayakan nyawa Gua, ya paling refleknya nampar aja atau jangan-jangan laptop di meja dikeprukkan ke kepala Gua...
Gua sudahi ciuman ini, karena Gua tersadar bahwa terlalu bahaya jika terlalu lama, bisa semakin liar nanti. Dengan nafas kami yang masih terengah-engah, Gua melihat senyuman dari bibirnya itu.
Cupp.. kecupnya sekilas.
"Mba..".
"Ya ?".
"Aku pulang ya..".
Wajahnya lalu menunjukkan kebingungan, lalu Mba Siska memundurkan wajahnya namun tetap berada dipangkuan Gua.
"Kok pulang ?".
"Udah malam nih, enggak enak sama tetangga kamu..".
"Mana punya tetangga aku disini Za...".
"Ya tetep aja gak enak Mba, tar ada Rt/Rw urusannya aku disuruj nikahin kamu lebih cepet loch.. hehehe...".
"Yaa gak apa-apa dong",
"Malah lebuhvbagus kalo kamu nikahin aku lebih cepet..",
"Biar gak nambah dosa terus akunya hi hi hi hi....".
"Idiih.. Nyalahin aku nih ?".
"Ya emang kamunya yang suka nakal sama aku, hayoo ?".
"Aku nakal karena kamu goda kali Mbaa..".
"Enak aja, mata dan pikiran kamu tuh yang mesum wuuu...".
Kalimat ledekkannya itu membuat bibirnya manyun kearah Gua, tanpa pikir panjang, serang lagi aaah...
Cupa cup... seluruuppss.. Aahh Minum kali Ah! Huahahaha.
"Mmpphh..",
"Muuachh..", bibirnya melepas pagutan Gua.
Gua tersenyum geli kearahnya karena mukanya yang memerah, "huuftt.. Udah ah Mba, aku takut di dor sama kamu kalo kelamaan disini", ucap Gua dengan nafas terengah-engah.
Mba Siska memeluk Gua, seolah-olah tidak membuarkan Gua pulang, tapi yaaa... sayangnya hanya seolah-olah...
"Hati-hati dijalan ya Za, langsung pulang ke kost-an ya, jangan kemana-mana dulu, udah malem soalnya", ucapnya yang masih memeluk Gua.
Jaaah, kirain mau disuruh tinggal lebih lama lagi, ngareplah Gua dikit hehehe...
Pada akhirnya, Gua pamit pulang ke kost-an karena waktu memang semakin larut. Jarak kontrakan Mba Siska dengan kost-an Gua memakan waktu hingga 45 menit lebih, sebenarnya bisa lebih cepat asal tidak macet di jalan raya. Mba Siska menawarkan Gua untuk membawa mobilnya, karena dia tau Gua belum ada kendaraan di Jakarta ini. Si Black masih dipakai Ayahanda, sedangkan si Kiddo menganggur di rumah Nenek, belum sempat Gua membawa salah satunya ke kost-an.
Sekitar pukul 20.45 wib Gua sampai di kost-an, setelah memarkir CieRVi milik sang kekasih, Gua berjalan kearah kamar no.20. Sempat Gua lihat kesebrang kamar, tepat di teras kamar no.3 ada seorang perempuan yang asyik mengobrol dengan seorang lelaki bule. Gua lihat perawakan si perempuan sudah matang, alias dewasa. Mungkin itu yang namanya Bianca, seorang female DJ yang diceritakan Mas Wisnu.
Gua sudah berganti pakaian lebih santai, mengenakan bawahan celana basket dan kaos oblong putih, tapi mata belum juga ingin terpejam, akhirnya Gua memilih untuk duduk di depan kamar, di kursi besi. Suasana kost-an sedikit sepi dari pandangan Gua, tapi beberapa suara alunan musik terdengar bersaut-sautan dimulai dari lantai 1 hingga lantai dasar ini. Entah dari kamar nomor berapa saja lantunan musik yang berbeda aliran itu berkumandang. Perempuan yang kemungkinan besar bernama Bianca sudah tidak ada di depan teras kamarnya, mungkin pergi bersama pria bule tadi, atau jangan-jangan di dalam kamarnya... Ah bodo amatlah. Daripada gak jelas, Gua memilih menge-cek hp seraya membakar sebatang racun, ada beberapa sms yang masuk dan belum sempat Gua buka.
Quote:
Gua pun bergegas berganti celana lagi, mengenakan long-jeans biru, lalu mengambil jaket yang tergantung dibalik pintu kamar, dan memakainya. Setelah mengunci kamar, Gua berjalan kearah gerbang kost-an, mata Gua malah melirik kearah parkiran mobil dan memandangi CieRVi sang kekasih. Pakai mobilnya atau naik ojek ya, pikiran Gua menimang-nimang antara menggunakan kendaraan sang kekasih atau menggunakan jasa ojek. Ah naik ojek ajalah, kan Mba Yu bawa mobil, masa nanti dua mobil jalan-jalannya, gak asyik lah, eh tapi siapa yang mau jalan-jalan juga sih.
Singkat cerita Gua sudah berada di depan kampus setelah membayar 10 ribu rupiah kepada bapak ojek yang mengantar tadi. Tidak lama mobil Mba Yu pun datang, dan berhenti tepat di samping Gua.
"Hai cowok, lagi mangkal ya ?", ucap Mba Yu setelah membuka jendela pintu kemudi.
"Hai Tante, mau booking aku ya Tan ?",
"Ha ha ha ha...", balas Gua menanggapi.
"Iiih enak aja bilang tante-tante!",
"Masih muda gini, Kakak doong.. hi hi hi hi...", balasnya lagi seraya terkekeh.
Setelah saling lempar ejekkan, Gua pun masuk ke pintu kemudi, tentunya Mba Yu bergeser ke jok sebelah. Malam ini, aduh aduh, nampak cantik ini Mba Yu kuuuu.. Selalu buat Gua kesengsem deh kalo dirinya mengenakan jaket sporty putih favoritnya itu, bawahan celan long-jeans biru muda, dan tidak lupa jam pemberian Gua dia kenakan, oh satu lagi, rambut panjang pirangnya dikuncir kuda. Simple but charming bangetsss.
"Kamu udah makan Mba ?", tanya Gua yang masih belum menjalankan mobil.
"Belum, hehehe..", jawabnya tertawa pelan.
"Lah udah malem kok belum makan sih..",
"Mau makan apa nih ?", tanya Gua langsung.
"Pizza aja yu Za..",
"Lagi pingin Pizza hehehe..".
"Sip, berangkaaattt..".
Gua melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju sebuah resto ala Italian. Sekitar 15 menit kami berdua pun sampai di resto tersebut. Mba Yu memesan pizza ukuran kecil, karena Gua masih merasa kenyang setelah makan dengan Mba Siska sebelumnya. Gua memesan salad dan ice lemon tea, beberapa menut kemudian menu pesanan pun sudah dihidangkan diatas meja. Sambil menikmati makanan, kami mengobrol santai seputar kuliah Gua.
"Jadi nanti kamu mau fokus di bidang apa Za ?", tanya Mba Yu setelah menghabiskan 2 potong pizza.
"Belum tau sih Mba, kan ini baru awal, belum ada penjurusan yang spesifik, lagian yang aku tau katanya sih penjurusan nanti pas pkl...", jawab Gua.
"Hmm.. Ya yang penting kamu gak asal milih karena ikutan temen kamu aja Mas, kan ini untuk masa depan kamu toh..".
"Iya Mba, mudah-mudahan sih lancar semua..",
"Ngomong-ngomong kamu kapan masuk kuliah Mba ?", tanya Gua kemudian.
"Satu minggu lagi Za, tapi dari kemarin aku udah ke kost-an sih, beres-beres juga, ditinggal liburan debunya ampun Mas...", jawabnya.
"Ooh, iya pasti gak betah ya kotor gitu.. Eh iya, kamu sekarang pulang ke kost-an mu apa langsung pulang ke rumah Mba ?", tanya Gua lagi.
"Mmm..", Mba Yu berpikir sejenak,
"Kayaknya langsung ke rumah aja Mas, lewat tol..", jawabnya kemudian.
"Wah jangan deh Mba..".
"Kenapa Mas ?".
"Aku khawatir, udah malem ini Mba, udah diatas jam 9 tuh..", jawab Gua seraya melirik ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
"Terus ?",
"Aku pulang ke kost-an aku aja gitu ?".
Gua menggeleng pelan lalu tersenyum, "Kamu pulang ke kost-an aku aja ya, besok pagi baru pulang ke rumah..", jawab Gua akhirnya.
Mba Yu pun tersenyum manis sekali, dan mengangguk malu-malu tapi mau... Hell Yeah!!!
Tonight, the star is shining bright in the sky...
Diubah oleh glitch.7 07-04-2017 13:12
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
2
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 

: