TS
User telah dihapus
NULL
NULL
more than just none
Cerita ini lebih saya kategorikan ke Action-Mistery,yah apapun itu.
sudut pandang orang ketiga(serba tau) dan bahasa indonesia semi baku.
Sinopsis
Bagas,seorang pemuda biasa dipercaya dan diikutsertakan oleh kepolisian untuk membantu menangani kasus-kasus pembunuhan di Ibu Kota.
Keahliannya berhasil menuntun dirinya bergabung ke dalam 'Divisi 1', sebuah grup berisi sekumpulan veteran anak muda dengan keahliannya di masing-masing cabang ilmu forensik.
Rules
- nggak ada peraturan tambahan,bebas aja.
- batasan-batasannya mengacu penuh ke rules H2H & SFTH.
- komentar & teguran langsung saja dilayangkan via Post atau PM.
Warning!
- Cerita ini benang merahnya adalah tentang jagoan lawan penjahat jadi temanya nggak jauh-jauh dari kekerasan.( dengan kata lain kalau kalian sangat tabu dengan kata 'pembunuhan' dan sebagainya, sebaiknya pindah ke bacaan lain ).
- sebagian dari inti cerita ini bukan untuk ditiru atau diidolakan,begitu. ( Hal baik selalu menang jadi jangan tiru yang buruknya )
- Tokoh,Tempat,Kejadian semuanya Fiksi. (Extremely fiksi mungkin)
- Banyak hal terjadi di cerita ini;beberapa masuk akal,beberapa belum bisa dilakukan di jaman ini dan beberapa mungkin mustahil dilakukan di dunia ini.
- Berdasarkan temanya ane pribadi bilang konten cerita ini untuk umur 17 tahun ke atas atau mereka yang sudah mampu menalar cerita fiksi.
- Kentang, pasti! ( TSnya masih belum lancar menulis jadi jeda per part-nya bakalan cukup lama )
- N/A.
Isi Cerita
Spoiler for Ilustrasi karakter:
Spoiler for CHAPTER 1:
Spoiler for CHAPTER 2:
Spoiler for CHAPTER 3:
Spoiler for CHAPTER 4:
Pengumuman tutup lapak (closed permanently)
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 0 suara
Masukkan dan Update Cerita
Cerita GaJe, 1 hari = 10 chapter ( Random )
0%
Cerita biasa, 1 hari = 1 chapter ( 00:00 - 12:00 )
0%
Cerita lumayan, 1 hari = 1 chapter ( 12:00 - 00:00 )
0%
Cerita bagus, 2 hari = 1 chapter ( 17:00 - 20:00 )
0%
Cerita menarik, 3 hari = 2 chapter ( 12:00 & 17:00 )
0%
NULL, 7 hari = 1 chapter ( 15:00 )
0%
Diubah oleh User telah dihapus 11-04-2017 20:43
anasabila memberi reputasi
1
21.4K
98
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#93
Chapter 2 - Side story
Stings
"naah.. kalau gini kan ruangan nggak terlalu sepi" kata si perempuan mengenai anak kecil di sana yang gelisah ketakutan.
"......." Karina diam justru fokus mengamati keadaannya,sedangkan dua lainnya mulai panik terbawa suasana.
terlihat jelas Raka bereaksi terlalu banyak dari sebelumnya,Arya pun saat ini sudah tak lagi menyilangkan kedua tangannya seperti sebelumnya,bisa dibilang itu menandakan sikap kewaspadaannya meningkat.
ada apa dengan mereka? ini cuma anak kecil yang ketakutan,begitu lah kurang lebih yang dipikirkan Karina.
"hehh,perempuan!? aku nggak tega liat ini lama-lama.. gimana cara dapetin 3 kunci sisanya,cepat saja" kata Karina meminta sisa jatah permainan mereka.
"ohh buru-buru banget.."
"...."
"baiklah,kamu pakai kotak bertirai biru di sana,lalu teman lelakimu yang berpakaian merah itu pakai kotak sisanya" jelas si perempuan tersenyum antusias.
"kau bisa ambil kertas di bawah tempat tidur tepat di depanmu,dok" tambah si lelaki bertopi kini untuk Arya.
Karina dan Raka menuju posisi yang dimaksudkan untuk mereka sementara Arya sibuk mencari-cari benda yang dimaksud dengan meraba-rabakan tangannya ke kolong tempat tidur.
sebuah kertas putih berbentuk persegi terlipat sama sisi sebanyak dua kali sehingga membentuk 4 petak di permukaannya.
"buat apa ini? kertas kosong" kata Arya tetap fokus memeriksa detail kertas yang sedang dipegannya.
"kita ke kedua temanmu dulu.. buka tudung kainnya" jawab si pria sekaligus menyuruh kedua lainnya untuk membuka kain penutup kedua box besar di sana.
"...!!!" Karina reflek melompat mundur setelah melihat apa isi boxnya yang ternyata sebuah box berbahan kaca transparan dimana ia bisa melihat isinya dari luar.
"hehmm.. kenapa keget begitu? kenalkan,mereka peliharaanku" kata si perempuan setengah tertawa melihat reaksi Karina di awal tadi.
{ aahhhh.. apaan sih!? itu kalajengking sialan! } batin Karina merasa geli hanya dengan melihatnya saja.
box milik Karina dipenuhi oleh kalajengking dewasa yang sudah berwarna hitam pekat dan beberapa kelabang juga di dasarnya.
sementara box yang sama di depan Raka berisi mungkin ratusan lebah madu yang hampir menutupi semua sisi dari boxnya.
"mereka nggak kalah imut kok sama kupu-kupu kesukaanmu" ledek si perempuan lagi siap dengan permainannya kali ini.
"cepatlah!" bentak Arya memang sudah tak tahan lagi.
mendengar itu,si perempuan yang sudah siap dengan tugasnya pun tak menunda-nundanya lagi.
"di masing-masing box ada satu buah pisau bedah,tugas kalian berdua adalah mengambilnya karena si tinggi,dokter kalian akan membutuhkannya.." jelasnya.
"hehh!" respon Karina tak siap atau lebih karena takut dengan hewan-hewan itu.
"ada pintu seukuran lengan kalian di masing-masing bagian atas boxnya,simpel saja.. masukkan tangan kalian ke dalam box dan ambil bendanya keluar dari sana" lanjutnya.
"untuk apa aku perlu dua buah pisau?" tanya Arya masih mengikuti penjelasan barusan.
"ohh,kamu pintar juga.. sebenarnya kamu cuma butuh satu pisau,hanya saja salah satu dari keduanya sudah ku lapisi racun.. tak berbau,tak berwarna dan tak berbekas"
"....."
"aku sarankan kalian dapat dua-duanya karena salah satunya akan kau pakai pada temanmu dan sisanya akan kau pakai pada anak kecil itu"
"pisau!? untuk apa,hehh!" balas Karina tak mengira fungsinya ditujukan untuk siapa.
"ayo mulai.. kalian boleh ambil salah satu atau keduanya,berharap bukan pisau yang salah yang berakhir pada bocah itu" jawabnya tak menghiraukan.
Karina bolak-balik memeriksa kedua temannya,baik Raka dan Arya tak menandakan mereka punya pilihan lain.
tak luput pula anak kecil yang masih meronta beserta ibunya yang tampil di layar monitor,Karina lihat.
terakhir adalah teman terdekatnya,yakni Jessica yang masih duduk menunduk menekuk lututnya di lantai.
"...." jengkel iya takut pun iya,Karina mencoba memberanikan dirinya membuka pintu box kacanya sedang bibirnya memerah karena digigit oleh dirinya sendiri.
di sisi lain Raka cukup lama juga berdiam diri di sana,ia tak bisa sembarang membuka pintu boxnya karena yang ada di dalamnya adalah ratusan lebah yang siap terbang keluar kalau ia tak siap menutup sisi-sisi pintunya yang terbuka nanti saat tangannya sudah masuk.
"cuma itu aturanmu?" tanya Raka memastikannya.
"yaa~~"
dengan cepat-cepat Raka memulainya terlbih dahulu,tangan kirinya langsung masuk setelah pintu boxnya ia buka,sedang tangan kananya sebisa mungkin menutupi celah-celah pintu yang tersisa agar para lebah tak bisa keluar dari box kaca tersebut.
"..!!!"
puluhan lebah serasa menyengatnya secara serentak,belum juga oleh sisanya yang datang menyusul menyerbu lengannya.
{ hiiiihhh.... } batin Karina kengerian belum memulai apa-apa di tempatnya.
cukup lama Raka mencari benda yang dimaksukan dengan cara meraba-raba dasar box karena terhitung sulit melihat isi box tersebut saat ratusan pasukan lebah saling berterbangan menggerumut tangannya.
Karina memalingkan pandangannya lagi ke box miliknya sendiri,belasan kalajengking dan kelabang seperti siaga padanya dari balik kaca box.
{ ehh,ada benda lain juga di dalam box.. untuk apa? bukannya cuma diminta ambil pisau.. } pikir Karina setelah sedar kalau ada benda lain di dalam sana selain sebuah pisau bedah berwarna merah tujuannya.
"ambil apapun yang bisa kamu ambil.." kata Raka terdengar terburu-buru dari nadanya,mungkin serangan lebah yang bertubi-tubi membuatnya susah fokus untuk mengatakannya dengan pelan.
{ bener juga, ada kemungkinan benda itu juga harus kuambil lagi setelahnya } pikir Karina lagi masih bisa mengikuti maksud Raka.
tangan kananya masuk perlahan sampai terbenam melebihi sikunya,dengan cepat ia berusaha meraih pisau operasi di sisi dasarnya.
ia berasil meraihnya dengan bayaran satu kali sengatan kalajengking raksaksa di sana. ia yang panik langsung menarik tangannya keluar dengan cepat,sialnya sikunya justru membentur sisi pintu box karena posisinya tak lurus dngan lobangnya saat ditarik tadi,alhasil tangannya justru terjebak ke posisi yang salah sedangkan pisau yang sudah berhasil diambilnya kembali jatuh ke sisi lain hanya dalam sekedipan mata saja karena kesalahan barusan.
"aahhh!!" jeritnya menarik lagi tangannya keluar,karena kesalahan barusan dirinya yang sekarang justru jadi terkena 4 kali sengatan, 3 sengatan di beberapa jari tangannya dan satu sisanya sedikit naik ke daerah pergelangan tangan diakibatkan oleh kelabang yang merambat naik dengan cepat ke tangannya saat ia tarik tadi.
"Aryyaaaaaaa..!!" jeritnya kesal juga kini sudah mulai merasakan efek sakit dari racunnya.
Karina menjauh ke belakang dengan terus memegang erat di pergelangan lengannya,tentunya tanpa hasil karena tak ada yang berhasil ia ambil dari box tadi.
"gehh!" gerutu Raka juga lengannya sudah penuh dengan luka sengatan lebah saat berhasil menarik tangannya keluar.
beberapa lebah berhasil ikut keluar karena masih sempat menempel pada tangan Raka sebelum berhasil keluar.
namun yang melegakan adalah fakta kalau dia berhasil mengambil pisaunya,dan beberapa benda yang secara acak ia ambil pula.
"aryaa.. ary- Aryaa!" teriak Karina mulai menangis sambil menahan sakitnya.
"Ar,kita pakai yang aku dapat.. jangan paksain dia" kata Raka memberikan barang-barang hasilnya tadi kemudian pergi menghampiri Karina di sana.
"ya,aku paham" jawab Arya artinya ia harus mengambil resiko kedepannya karena Karina tak mungkin kembali kesana dan mengambil barangnya.
"hoi!? selanjutnya apa? tiga temanku butuh penanganan serius sekarang,cepat selesaikan ini!" bentak Arya tak punya waktu lama-lama untuk kondisi Karina saat ini.
"kamu akan butuh 4 nomor untuk ke depannya.. dan aku sudah menuliskannya di lembar kertas itu,tak kasat mata dan perlu sedikit em- 'pewana merah' untuk membuatnya terlihat" jelas si pria kali ini,sementara si perempuan di sampingnya tak bisa berhenti terkikih menertawakan Karina.
"kau mau darah siapa!?" tanya Arya langsung pada pointnya.
"wow,kau cepat tanggap dengan maksudku.. terserah kau saja,perempuan kecil temanmu atau perempuan satunya" balasnya.
"Karina!?" panggil Arya mantap memilihnya.
Karina berlari menuji Arya dengan harapan ada penanganan pertama terhadap 4 sengatan beracun di tangan kanannya tadi.
tentu itu lah yang diinginkan oleh Arya juga sebagai langkah pertamanya untuk setidaknya mengeluarkan bisa sengatannya yang belum sampai tersebar luas.
Arya dengan yakin menyayatkan pisau di tangannya pada beberapa area tangan Karina,5 lebih sayatan dangkal untuk memastikan ia bisa ikut mengeluarkan bisanya lewat darah yang mengalir keluar tersebut.
"sakit..." rintih Karina lirih di tiga sayatan terakhir paling tidaknya.
darahnya cukup banyak mengalir keluar,tak lupa soal kertas bernomor misteri yang sebelumnya dibicarakan,Arya juga memposisikan setiap tetesannya agar bisa merata di keempat bagian kertasnya.
terlihat sebuah nomor dituliskan dengan ukuran besar di setiap ketiga bagiannya, namun sisa satu bagian yang tak memperlihatkan nomor apapun setelah sudah terlumuri dengan darah.
"coba di sudutnya,bisa saja tertulis dengan ukuran kecil" kata Raka yang masih bisa mengabaikan rasa nyeri di tangan kirinya itu seraya mencabuti satu per satu sengat lebah yang menancap di lengannya.
Arya melepaskan tangan Karina dan beralih sibuk untuk meratakan bercak darah yang membentuk butiran-butiran menggenang di lapisan kertasnya.
sudah berwarna merah merata bagian kertas kosong itu namun tak ia jumpai nomornya.
"sialan!" umpat Arya geram sambil menyadari sesuatu.
"di belakang?" kata Raka juga menebak hal yang sama dengannya.
"sial,satu banding empat.. ini butuh banyak darah lagi kalau kita nggak bisa menebak posisinya sekali jalan"
kertas penuh darah itu pun dibalik oleh mereka,menyisahkan empat petak sisi kertas yang masih putih karena warna darah di sisi lainnya tak menembus ke sisinya saat ini.
"hei,ada yang kelupaan sesutu? si Karina kecil kayaknya nggak baik-baik aja di sana.." kata si perempuan langsung mendapat perhatian keduanya secara otomatis.
"....kita udah bilang di awal kan kalau salah satu pisaunya mengandung racun? lagi pula siapa yang jamin pisau yang kalian pakai itu aman?" tanyanya lagi.
{ ahh! bener!! } Raka langsung panik setelah menyadarinya,ia kemudian memeriksa keadaan Karina yang saat ini berbaring di lantai.
{ aku bisa lupa soal itu.. apa-apaan nih!? } Arya sama berpikirnya.
"Karina?"
"hahh,aku baikan kok.."
Arya lalu terdiam kembali dan memandang pisau kecil yang ia letakkan tadi,berharap ia punya pilihan untuk bisa memakai pisau satunya karena yang satu ini jelaslah yang dilapisi dengan racun.
"tenang aja,ini cuma mati rasa.. agak sesak juga sih nafasku sekarang"
"kamu yakin yang masuk masih bisa ditolerir?"
"......mmmh"
"......"
Arya percaya dengan penilaian Karina selaku yang paling tau sekaligus yang mengalami rasa sakitnya sendiri,ia kembali fokus pada kertas itu bersama Raka.
"pakai otakmu! aku mau jadi sekali coba.. " suruhnya pada Raka,ia sadar kalau masih ada kemungkinan besar racun yang masuk ke kulit Karina bertambah kadarnya jika ia memilih membuat luka sayatan baru lagi dari pada memanfaatkan yang sudah ada.
"berisik! kertas ini lebarnya lbih dari setengah meter persegi" balasnya sembari berfokus.
Raka menunjuk spot sudut kanan bawah sebagai kemungkinan pertamanya dari dua kemungkinan yang paling mendasar,berdasarkan bagaimana bentuk tulisan ketiga angka sebelumnya,lalu sudut angka itu menghadap serta kebiasaan yang ia analisa dari si pria bertopi yang kemungkinan besar adalah yang menulisnya,dengan yakin Raka bahkan menspesifikasikan lokasi tepatnya menurut dia.
Arya kembali meraih telapak tangan Karina dan sebisa mungkin membuat darahnya kembali mengalir dari luka sayatnya sebelumnya.
cukup banyak yang keluar sampai-sampai itu cukup membuat dua blok hasil lipatan di kertasnya terlapisi warna merah walau tak merata ke setiap incinya.
masih tak ingin membuat sayatan lebih banyak lagi Arya sebisa mungkin memanfaatkan kesempatannya sebaik-baiknya,dirinya melipat kertas itu hingga menjadi setengahnya.
dengan begitu dua blok bagian kanan kertas yang terlumuri darah bisa sedikit membekas di dua blok bagian kiri kertasnya setelah saling bertemu tadi.
namun hasilnya yang ia cari tak ada di sana,tak ada angka apapun di keempat blok di sisi kertas tersebut.
"hahahaa... lucu banget" tawa lucu si perempuan membuat ketiganya di sana semakin kesal saja.
"yah,di luar harapanku sih,aku kira kau akan menyayat-nyayat tangan perempuan itu lagi tapi tidak.. well,pilihan yang tepat karena racun di pisau itu setidaknya tak akan hilang sekalipun kau pakai sampai seratus sayatan serius sekali pun" tambah si pria bertopi di layar.
"......" perasaan Arya dan Raka sudah benar-benar sesak dibuatnya.
"BTW.. kalian para cowok mudah banget 'dikendalikan'.. hihhi.." si perempuan melanjutkannya lagi.
Karina yang sudah lemas dan demam tinggi perlahan mngangkat tangan kirinya mengarah ke layar monitor dengan kemudian mengacungkan jari tengahnya dengan kesal ke arah si dua kriminal di sana.
"hihhiihi..." si peremuan itu terus saja terkikih lucu dibuatnya.
{ aku nggak tau jenis racun apa yang ada di pisaunya,yang pasti bisa serangganya sebagian besar sudah dikeluarkan bersamaan dengan sayatan tadi.. paling nggak kemungkinan dia sekarat bisa diperkiarakan akan cukup lama,aku punya cukup waktu harusnya } batin Arya nyengir melihat kelakuan Karina,tentu dengan tetap fokus memperkirakan segala kemungkinan yang bisa terjadi temannya itu.
"ini cuma menyerang syaraf.. aku nggak bakalan mati karna ini" kata Karina terdengar yakin,berhasil membuat kedua temannya ikut lega semntara waktu.
"ahh.. benar-benar yah kamu ini.. bisa punya kesimpulan seyakin itu dari menganalisa kondisimu sendiri,hmmm.." balas si perempuan ikut kagum.
"...pewangi ini juga iya,di balik wanginya kau sebenarnya sedang membuat seisi ruangan ini untuk menjadi lebih panik,aku nggak mungkin salah mengira yang ini" lanjut Karina dengan suara yang masih cukup terdngar oleh lawan bicaranya.
"nehh,ketauan nih~~"
Kembali Arya memotong percakapan yang dianggapnya akan ngulur-ngulur waktu mereka,sekalinya ia dokter segala spesialis dirinya juga masih mengakui kalau ketiga temannya tak mendapat pertolongan tepat waktu maka hasilnya akan sangat buruk dalam perhitungannya.
"kalian sudah punya 3 angka sekarang,sisanya satu harus kalian tebak nantinya.." kata si pria bertopi.
"keterlaluan kau" balas Raka.
"jangan salahkan aku.. sejak awal kan aku nggak bilang kalau keempat angkanya ada di kertas itu semua"
"cepet katakan apa maumu!?" bentak Arya lagi.
"kau selalu bawa gunting kan? aku sudah sembunyikan suatu hal yang menarik di anak kecil itu.."
"......?"
"dimana??? kalian yang harus cari tau sendiri~" beralih ke perempuan yang berbicara kali ini.
"apa maksud kalian?"
"mungkin pakaian anak itu menutupi pandangan kalian.. kalian boleh singkirkan dengan cara kalian,silahkan"
{ pakaiannya? ada sesuatu di tubuh anak ini,begitu?? } batin Raka memikirkannya keras.
"yang satu ini masih hidup dok,salah-salah kau bisa dituntut karena melecehkan anak di bawah umur yah" balas si perempuan nampaknya memberi sinyal pada Arya tentang apa yang harus ia lakukan pada anak itu.
masih sama paniknya dengan di awal,dan jika perkataan Karina soal pewangi ruangan yang mempunyai efek menaikkan kepanikan seseorang maka anak kecil ini bahkan berkemungkinan untuk memberontak lebih keras lagi setelah ini.
Arya mengangkat tepian bawah pakaiannya untuk memeriksa bagian perut anak itu namun semuanya baik-baik saja,terkecuali si anak perempuan itu yang kembali meronta hebat karena ketakutan lagi setelah merasakan kontak fisik dengan orang yang tak dilihatnya.
Arya tak berhenti dan lanjut memeriksa bagian belakang di balik pakaian anak itu,bagian punggung lebih tepatnya.
"....!"
"satu banding sepuluh.. masih dngan pisau yang sama...." jelas si pria belum selesai ketika Arya menggunting pakaian bagian belakang perempuan kecil itu dan mendapati sepuluh bekas luka jaitan di punggungnya,tertulis pula 4 dijit angka acak di atas setiap luka jaitannya menggunakan tinta spidol yang berbeda-beda warna.
"oh GOD!!" keluh Arya pasrah jika menebak-nebak apa permainan selanjutnya.
"semangat dok~ waktunya permainan 'mencari harta karun' sekarang,hehmm.."
--triing..!! (bunyi kotak kedua,tempat kunci gembok anak itu disembunyikan terbuka)
setelah sebelumnya kotak berisi kunci yang berlabelkan leher terbuka berkat keberhasilan Jessica di tantangan pertama,kini tiba kotak dengan kunci berlabel 'tangan' yang terbuka untuk mereka.
"pertama-tama buka kuncinya terlebih dahulu~~" komando si perempuan antusias sekali melihat keduanya berdiri diam membeku di samping anak kecil itu.
# Perlawanan kini di depan mata.
"naah.. kalau gini kan ruangan nggak terlalu sepi" kata si perempuan mengenai anak kecil di sana yang gelisah ketakutan.
"......." Karina diam justru fokus mengamati keadaannya,sedangkan dua lainnya mulai panik terbawa suasana.
terlihat jelas Raka bereaksi terlalu banyak dari sebelumnya,Arya pun saat ini sudah tak lagi menyilangkan kedua tangannya seperti sebelumnya,bisa dibilang itu menandakan sikap kewaspadaannya meningkat.
ada apa dengan mereka? ini cuma anak kecil yang ketakutan,begitu lah kurang lebih yang dipikirkan Karina.
"hehh,perempuan!? aku nggak tega liat ini lama-lama.. gimana cara dapetin 3 kunci sisanya,cepat saja" kata Karina meminta sisa jatah permainan mereka.
"ohh buru-buru banget.."
"...."
"baiklah,kamu pakai kotak bertirai biru di sana,lalu teman lelakimu yang berpakaian merah itu pakai kotak sisanya" jelas si perempuan tersenyum antusias.
"kau bisa ambil kertas di bawah tempat tidur tepat di depanmu,dok" tambah si lelaki bertopi kini untuk Arya.
Karina dan Raka menuju posisi yang dimaksudkan untuk mereka sementara Arya sibuk mencari-cari benda yang dimaksud dengan meraba-rabakan tangannya ke kolong tempat tidur.
sebuah kertas putih berbentuk persegi terlipat sama sisi sebanyak dua kali sehingga membentuk 4 petak di permukaannya.
"buat apa ini? kertas kosong" kata Arya tetap fokus memeriksa detail kertas yang sedang dipegannya.
"kita ke kedua temanmu dulu.. buka tudung kainnya" jawab si pria sekaligus menyuruh kedua lainnya untuk membuka kain penutup kedua box besar di sana.
"...!!!" Karina reflek melompat mundur setelah melihat apa isi boxnya yang ternyata sebuah box berbahan kaca transparan dimana ia bisa melihat isinya dari luar.
"hehmm.. kenapa keget begitu? kenalkan,mereka peliharaanku" kata si perempuan setengah tertawa melihat reaksi Karina di awal tadi.
{ aahhhh.. apaan sih!? itu kalajengking sialan! } batin Karina merasa geli hanya dengan melihatnya saja.
box milik Karina dipenuhi oleh kalajengking dewasa yang sudah berwarna hitam pekat dan beberapa kelabang juga di dasarnya.
sementara box yang sama di depan Raka berisi mungkin ratusan lebah madu yang hampir menutupi semua sisi dari boxnya.
"mereka nggak kalah imut kok sama kupu-kupu kesukaanmu" ledek si perempuan lagi siap dengan permainannya kali ini.
"cepatlah!" bentak Arya memang sudah tak tahan lagi.
mendengar itu,si perempuan yang sudah siap dengan tugasnya pun tak menunda-nundanya lagi.
"di masing-masing box ada satu buah pisau bedah,tugas kalian berdua adalah mengambilnya karena si tinggi,dokter kalian akan membutuhkannya.." jelasnya.
"hehh!" respon Karina tak siap atau lebih karena takut dengan hewan-hewan itu.
"ada pintu seukuran lengan kalian di masing-masing bagian atas boxnya,simpel saja.. masukkan tangan kalian ke dalam box dan ambil bendanya keluar dari sana" lanjutnya.
"untuk apa aku perlu dua buah pisau?" tanya Arya masih mengikuti penjelasan barusan.
"ohh,kamu pintar juga.. sebenarnya kamu cuma butuh satu pisau,hanya saja salah satu dari keduanya sudah ku lapisi racun.. tak berbau,tak berwarna dan tak berbekas"
"....."
"aku sarankan kalian dapat dua-duanya karena salah satunya akan kau pakai pada temanmu dan sisanya akan kau pakai pada anak kecil itu"
"pisau!? untuk apa,hehh!" balas Karina tak mengira fungsinya ditujukan untuk siapa.
"ayo mulai.. kalian boleh ambil salah satu atau keduanya,berharap bukan pisau yang salah yang berakhir pada bocah itu" jawabnya tak menghiraukan.
Karina bolak-balik memeriksa kedua temannya,baik Raka dan Arya tak menandakan mereka punya pilihan lain.
tak luput pula anak kecil yang masih meronta beserta ibunya yang tampil di layar monitor,Karina lihat.
terakhir adalah teman terdekatnya,yakni Jessica yang masih duduk menunduk menekuk lututnya di lantai.
"...." jengkel iya takut pun iya,Karina mencoba memberanikan dirinya membuka pintu box kacanya sedang bibirnya memerah karena digigit oleh dirinya sendiri.
di sisi lain Raka cukup lama juga berdiam diri di sana,ia tak bisa sembarang membuka pintu boxnya karena yang ada di dalamnya adalah ratusan lebah yang siap terbang keluar kalau ia tak siap menutup sisi-sisi pintunya yang terbuka nanti saat tangannya sudah masuk.
"cuma itu aturanmu?" tanya Raka memastikannya.
"yaa~~"
dengan cepat-cepat Raka memulainya terlbih dahulu,tangan kirinya langsung masuk setelah pintu boxnya ia buka,sedang tangan kananya sebisa mungkin menutupi celah-celah pintu yang tersisa agar para lebah tak bisa keluar dari box kaca tersebut.
"..!!!"
puluhan lebah serasa menyengatnya secara serentak,belum juga oleh sisanya yang datang menyusul menyerbu lengannya.
{ hiiiihhh.... } batin Karina kengerian belum memulai apa-apa di tempatnya.
cukup lama Raka mencari benda yang dimaksukan dengan cara meraba-raba dasar box karena terhitung sulit melihat isi box tersebut saat ratusan pasukan lebah saling berterbangan menggerumut tangannya.
Karina memalingkan pandangannya lagi ke box miliknya sendiri,belasan kalajengking dan kelabang seperti siaga padanya dari balik kaca box.
{ ehh,ada benda lain juga di dalam box.. untuk apa? bukannya cuma diminta ambil pisau.. } pikir Karina setelah sedar kalau ada benda lain di dalam sana selain sebuah pisau bedah berwarna merah tujuannya.
"ambil apapun yang bisa kamu ambil.." kata Raka terdengar terburu-buru dari nadanya,mungkin serangan lebah yang bertubi-tubi membuatnya susah fokus untuk mengatakannya dengan pelan.
{ bener juga, ada kemungkinan benda itu juga harus kuambil lagi setelahnya } pikir Karina lagi masih bisa mengikuti maksud Raka.
tangan kananya masuk perlahan sampai terbenam melebihi sikunya,dengan cepat ia berusaha meraih pisau operasi di sisi dasarnya.
ia berasil meraihnya dengan bayaran satu kali sengatan kalajengking raksaksa di sana. ia yang panik langsung menarik tangannya keluar dengan cepat,sialnya sikunya justru membentur sisi pintu box karena posisinya tak lurus dngan lobangnya saat ditarik tadi,alhasil tangannya justru terjebak ke posisi yang salah sedangkan pisau yang sudah berhasil diambilnya kembali jatuh ke sisi lain hanya dalam sekedipan mata saja karena kesalahan barusan.
"aahhh!!" jeritnya menarik lagi tangannya keluar,karena kesalahan barusan dirinya yang sekarang justru jadi terkena 4 kali sengatan, 3 sengatan di beberapa jari tangannya dan satu sisanya sedikit naik ke daerah pergelangan tangan diakibatkan oleh kelabang yang merambat naik dengan cepat ke tangannya saat ia tarik tadi.
"Aryyaaaaaaa..!!" jeritnya kesal juga kini sudah mulai merasakan efek sakit dari racunnya.
Karina menjauh ke belakang dengan terus memegang erat di pergelangan lengannya,tentunya tanpa hasil karena tak ada yang berhasil ia ambil dari box tadi.
"gehh!" gerutu Raka juga lengannya sudah penuh dengan luka sengatan lebah saat berhasil menarik tangannya keluar.
beberapa lebah berhasil ikut keluar karena masih sempat menempel pada tangan Raka sebelum berhasil keluar.
namun yang melegakan adalah fakta kalau dia berhasil mengambil pisaunya,dan beberapa benda yang secara acak ia ambil pula.
"aryaa.. ary- Aryaa!" teriak Karina mulai menangis sambil menahan sakitnya.
"Ar,kita pakai yang aku dapat.. jangan paksain dia" kata Raka memberikan barang-barang hasilnya tadi kemudian pergi menghampiri Karina di sana.
"ya,aku paham" jawab Arya artinya ia harus mengambil resiko kedepannya karena Karina tak mungkin kembali kesana dan mengambil barangnya.
"hoi!? selanjutnya apa? tiga temanku butuh penanganan serius sekarang,cepat selesaikan ini!" bentak Arya tak punya waktu lama-lama untuk kondisi Karina saat ini.
"kamu akan butuh 4 nomor untuk ke depannya.. dan aku sudah menuliskannya di lembar kertas itu,tak kasat mata dan perlu sedikit em- 'pewana merah' untuk membuatnya terlihat" jelas si pria kali ini,sementara si perempuan di sampingnya tak bisa berhenti terkikih menertawakan Karina.
"kau mau darah siapa!?" tanya Arya langsung pada pointnya.
"wow,kau cepat tanggap dengan maksudku.. terserah kau saja,perempuan kecil temanmu atau perempuan satunya" balasnya.
"Karina!?" panggil Arya mantap memilihnya.
Karina berlari menuji Arya dengan harapan ada penanganan pertama terhadap 4 sengatan beracun di tangan kanannya tadi.
tentu itu lah yang diinginkan oleh Arya juga sebagai langkah pertamanya untuk setidaknya mengeluarkan bisa sengatannya yang belum sampai tersebar luas.
Arya dengan yakin menyayatkan pisau di tangannya pada beberapa area tangan Karina,5 lebih sayatan dangkal untuk memastikan ia bisa ikut mengeluarkan bisanya lewat darah yang mengalir keluar tersebut.
"sakit..." rintih Karina lirih di tiga sayatan terakhir paling tidaknya.
darahnya cukup banyak mengalir keluar,tak lupa soal kertas bernomor misteri yang sebelumnya dibicarakan,Arya juga memposisikan setiap tetesannya agar bisa merata di keempat bagian kertasnya.
terlihat sebuah nomor dituliskan dengan ukuran besar di setiap ketiga bagiannya, namun sisa satu bagian yang tak memperlihatkan nomor apapun setelah sudah terlumuri dengan darah.
"coba di sudutnya,bisa saja tertulis dengan ukuran kecil" kata Raka yang masih bisa mengabaikan rasa nyeri di tangan kirinya itu seraya mencabuti satu per satu sengat lebah yang menancap di lengannya.
Arya melepaskan tangan Karina dan beralih sibuk untuk meratakan bercak darah yang membentuk butiran-butiran menggenang di lapisan kertasnya.
sudah berwarna merah merata bagian kertas kosong itu namun tak ia jumpai nomornya.
"sialan!" umpat Arya geram sambil menyadari sesuatu.
"di belakang?" kata Raka juga menebak hal yang sama dengannya.
"sial,satu banding empat.. ini butuh banyak darah lagi kalau kita nggak bisa menebak posisinya sekali jalan"
kertas penuh darah itu pun dibalik oleh mereka,menyisahkan empat petak sisi kertas yang masih putih karena warna darah di sisi lainnya tak menembus ke sisinya saat ini.
"hei,ada yang kelupaan sesutu? si Karina kecil kayaknya nggak baik-baik aja di sana.." kata si perempuan langsung mendapat perhatian keduanya secara otomatis.
"....kita udah bilang di awal kan kalau salah satu pisaunya mengandung racun? lagi pula siapa yang jamin pisau yang kalian pakai itu aman?" tanyanya lagi.
{ ahh! bener!! } Raka langsung panik setelah menyadarinya,ia kemudian memeriksa keadaan Karina yang saat ini berbaring di lantai.
{ aku bisa lupa soal itu.. apa-apaan nih!? } Arya sama berpikirnya.
"Karina?"
"hahh,aku baikan kok.."
Arya lalu terdiam kembali dan memandang pisau kecil yang ia letakkan tadi,berharap ia punya pilihan untuk bisa memakai pisau satunya karena yang satu ini jelaslah yang dilapisi dengan racun.
"tenang aja,ini cuma mati rasa.. agak sesak juga sih nafasku sekarang"
"kamu yakin yang masuk masih bisa ditolerir?"
"......mmmh"
"......"
Arya percaya dengan penilaian Karina selaku yang paling tau sekaligus yang mengalami rasa sakitnya sendiri,ia kembali fokus pada kertas itu bersama Raka.
"pakai otakmu! aku mau jadi sekali coba.. " suruhnya pada Raka,ia sadar kalau masih ada kemungkinan besar racun yang masuk ke kulit Karina bertambah kadarnya jika ia memilih membuat luka sayatan baru lagi dari pada memanfaatkan yang sudah ada.
"berisik! kertas ini lebarnya lbih dari setengah meter persegi" balasnya sembari berfokus.
Raka menunjuk spot sudut kanan bawah sebagai kemungkinan pertamanya dari dua kemungkinan yang paling mendasar,berdasarkan bagaimana bentuk tulisan ketiga angka sebelumnya,lalu sudut angka itu menghadap serta kebiasaan yang ia analisa dari si pria bertopi yang kemungkinan besar adalah yang menulisnya,dengan yakin Raka bahkan menspesifikasikan lokasi tepatnya menurut dia.
Arya kembali meraih telapak tangan Karina dan sebisa mungkin membuat darahnya kembali mengalir dari luka sayatnya sebelumnya.
cukup banyak yang keluar sampai-sampai itu cukup membuat dua blok hasil lipatan di kertasnya terlapisi warna merah walau tak merata ke setiap incinya.
masih tak ingin membuat sayatan lebih banyak lagi Arya sebisa mungkin memanfaatkan kesempatannya sebaik-baiknya,dirinya melipat kertas itu hingga menjadi setengahnya.
dengan begitu dua blok bagian kanan kertas yang terlumuri darah bisa sedikit membekas di dua blok bagian kiri kertasnya setelah saling bertemu tadi.
namun hasilnya yang ia cari tak ada di sana,tak ada angka apapun di keempat blok di sisi kertas tersebut.
"hahahaa... lucu banget" tawa lucu si perempuan membuat ketiganya di sana semakin kesal saja.
"yah,di luar harapanku sih,aku kira kau akan menyayat-nyayat tangan perempuan itu lagi tapi tidak.. well,pilihan yang tepat karena racun di pisau itu setidaknya tak akan hilang sekalipun kau pakai sampai seratus sayatan serius sekali pun" tambah si pria bertopi di layar.
"......" perasaan Arya dan Raka sudah benar-benar sesak dibuatnya.
"BTW.. kalian para cowok mudah banget 'dikendalikan'.. hihhi.." si perempuan melanjutkannya lagi.
Karina yang sudah lemas dan demam tinggi perlahan mngangkat tangan kirinya mengarah ke layar monitor dengan kemudian mengacungkan jari tengahnya dengan kesal ke arah si dua kriminal di sana.
"hihhiihi..." si peremuan itu terus saja terkikih lucu dibuatnya.
{ aku nggak tau jenis racun apa yang ada di pisaunya,yang pasti bisa serangganya sebagian besar sudah dikeluarkan bersamaan dengan sayatan tadi.. paling nggak kemungkinan dia sekarat bisa diperkiarakan akan cukup lama,aku punya cukup waktu harusnya } batin Arya nyengir melihat kelakuan Karina,tentu dengan tetap fokus memperkirakan segala kemungkinan yang bisa terjadi temannya itu.
"ini cuma menyerang syaraf.. aku nggak bakalan mati karna ini" kata Karina terdengar yakin,berhasil membuat kedua temannya ikut lega semntara waktu.
"ahh.. benar-benar yah kamu ini.. bisa punya kesimpulan seyakin itu dari menganalisa kondisimu sendiri,hmmm.." balas si perempuan ikut kagum.
"...pewangi ini juga iya,di balik wanginya kau sebenarnya sedang membuat seisi ruangan ini untuk menjadi lebih panik,aku nggak mungkin salah mengira yang ini" lanjut Karina dengan suara yang masih cukup terdngar oleh lawan bicaranya.
"nehh,ketauan nih~~"
Kembali Arya memotong percakapan yang dianggapnya akan ngulur-ngulur waktu mereka,sekalinya ia dokter segala spesialis dirinya juga masih mengakui kalau ketiga temannya tak mendapat pertolongan tepat waktu maka hasilnya akan sangat buruk dalam perhitungannya.
"kalian sudah punya 3 angka sekarang,sisanya satu harus kalian tebak nantinya.." kata si pria bertopi.
"keterlaluan kau" balas Raka.
"jangan salahkan aku.. sejak awal kan aku nggak bilang kalau keempat angkanya ada di kertas itu semua"
"cepet katakan apa maumu!?" bentak Arya lagi.
"kau selalu bawa gunting kan? aku sudah sembunyikan suatu hal yang menarik di anak kecil itu.."
"......?"
"dimana??? kalian yang harus cari tau sendiri~" beralih ke perempuan yang berbicara kali ini.
"apa maksud kalian?"
"mungkin pakaian anak itu menutupi pandangan kalian.. kalian boleh singkirkan dengan cara kalian,silahkan"
{ pakaiannya? ada sesuatu di tubuh anak ini,begitu?? } batin Raka memikirkannya keras.
"yang satu ini masih hidup dok,salah-salah kau bisa dituntut karena melecehkan anak di bawah umur yah" balas si perempuan nampaknya memberi sinyal pada Arya tentang apa yang harus ia lakukan pada anak itu.
masih sama paniknya dengan di awal,dan jika perkataan Karina soal pewangi ruangan yang mempunyai efek menaikkan kepanikan seseorang maka anak kecil ini bahkan berkemungkinan untuk memberontak lebih keras lagi setelah ini.
Arya mengangkat tepian bawah pakaiannya untuk memeriksa bagian perut anak itu namun semuanya baik-baik saja,terkecuali si anak perempuan itu yang kembali meronta hebat karena ketakutan lagi setelah merasakan kontak fisik dengan orang yang tak dilihatnya.
Arya tak berhenti dan lanjut memeriksa bagian belakang di balik pakaian anak itu,bagian punggung lebih tepatnya.
"....!"
"satu banding sepuluh.. masih dngan pisau yang sama...." jelas si pria belum selesai ketika Arya menggunting pakaian bagian belakang perempuan kecil itu dan mendapati sepuluh bekas luka jaitan di punggungnya,tertulis pula 4 dijit angka acak di atas setiap luka jaitannya menggunakan tinta spidol yang berbeda-beda warna.
"oh GOD!!" keluh Arya pasrah jika menebak-nebak apa permainan selanjutnya.
"semangat dok~ waktunya permainan 'mencari harta karun' sekarang,hehmm.."
--triing..!! (bunyi kotak kedua,tempat kunci gembok anak itu disembunyikan terbuka)
setelah sebelumnya kotak berisi kunci yang berlabelkan leher terbuka berkat keberhasilan Jessica di tantangan pertama,kini tiba kotak dengan kunci berlabel 'tangan' yang terbuka untuk mereka.
"pertama-tama buka kuncinya terlebih dahulu~~" komando si perempuan antusias sekali melihat keduanya berdiri diam membeku di samping anak kecil itu.
# Perlawanan kini di depan mata.
0




















