Akupun menegok kebelakang dan ternyata aku menabrak Wina.
“Win, sory gua ga sengaja”, kataku sambil membangunkan Wina
“ga apa-apa ko”, kata Wina sambil membersihkan roknya yang kotor
“dek lug a apa-apa?”, tanya teh Suci
“ga apa-apa teh, lu bener ga apa-apa kan Win?”, kataku mencoba meyakinkan
“iya ga apa-apa ko”, kata Wina sambil berlalu menuju pintu gerbang
“lu si teh jadi aja gua nabrak orang kan”, kataku
“lah, lu ngapain jalan mundur sih, ngaco. Malah gua di salahin”, kata teh Suci
Akupun kembali berjalan kea rah DPR.
“eh dek tunggu, nih tadi di jatohin sama Wina, lu balikin gih”, katanya sambil memberikan kertas.
“apaan nih?”, kataku
“mana gua tau dek, lu mah aneh ah”, kata teh Suci
“gua kejar dulu deh bentar”, aku pun berlari keluar gerbang.
Dari kejauhan bisa ku lihat Wina jalan ke arah kampus.
“Wina! Wina!”, kataku memanggilnya
Dia pun menoleh
“ini punya lu jatoh tadi”, kataku
Diapun memegang kertas itu lalu membukanya, tak lama melipat kertas itu kembali
‘lu nemu dimana?”, katanya
“tadi jatoh waktu lu jatoh”, kataku
“ga lu baca?”, lanjutnya
“kaga”, kataku
Dia langsung membalikan badannya dan pergi meninggalkan ku. Akupun tak ambil pusing lalu kembali ke DPR.
“udah lu kasih dek?”, kata teh Suci
“udeh”, kataku
“kenapa lu dek?”, tanya teh Suci
“tau ah”, kataku lalu duduk di DPR
“Bilang sama kakak lu ada apa?”, kata teh Suci mengusap kepalaku
Akupun menghela nafas panjang
“gua ngasihin kertasnya tadi, boro-boro makasih, gua langsung di tinggal”, kataku
“lu liat isi kertasnya?”, kata teh Suci
“kaga lah”, kataku yang pelan-pelan merasa ngantuk
“bagus deh kalo ga lu baca”, kata teh Suci
“lu tau isinya?”, kataku
Teh Suci hanya tersenyum
“mulai deh ngantuknya”, kata teh Suci sambil tetap mengusap kepalaku
“abisnya enak, gua jadi ngantuk”, kataku
“tidur di rumah sih dek”, kata teh Suci
“hmp”, kataku
Perlahan tapi pasti akupun mulai memeluk lututku dan memejamkan mata.
“jangan tidur sih, masa gua di tinggal”, kata teh Suci
“gua ngantuk”, kataku
“balik sana”, katanya
“males”, kataku
“balik lah dek”, lanjutnya
Aku tidak menjawabnya, lalu hp ku bergetar. Saat kulihat ternyata telepon dari Rathi
Quote:
“halo yang”, kataku
“yaaaaaang! Aku kangen!”, teriaknya
“kamu lagi apa? Sama siapa? Dimana?”, katanya
“masih di sekolah, duduk d DPR, sama….”, omonganku di potong
“kak Suci ya??”, tanya Rathi
“iya, kok tau?”, kataku
“kamu jujur banget sih yang”, katanya
“lah, emang kenapa?”, tamyaku
“ga apa-apa sih, aku kira kamu bakal bohong”, katanya
“eh, kamu belum jawab tau dari mana?”, kataku
“dia sms aku yang, dia ngirim foto kamu juga”, katanya
Akupun langsung melirik teh Suci, dia mengangkat kedua alisnya
“foto apa yang?”, kataku
“foto kamu lagi duduk yang”, katanya
“kamu ada dimana?”, kataku
“lagi di rumah sodara ini, ada yang nikahan yang, bagus deh tempatnya. Garden party gitu. Coba kamu ada disini kan aku ga kesepian”, kata Rathi
“ya gimana aku pengen istirahat”, kataku
“Teostra istirahat itu di rumah, bukan di sekolah, udah gitu sama cewe lain lagi. Huuuuu”, katanya
“maaf-maaf”, kataku
“yaudah nanti kalo udah sampe rumah aku telepon lagi ya. Dah sayang”, kata Rathi lalu menutup telepon
“lu laporan ke Rathi?”, kataku ke teh Suci
“hehehe. Boleh kali dek gua laporan”, katanya
“gua ga bilang ga boleh, tapi sampe segitunya”, kataku
Dia hanya tersenyum.
“dek ikut gua buruan”, kata teh Suci menarik tanganku
“mau kemana dah”, kataku
“lu diem aja, ayo ikut gua”, lanjutnya
Kamipun berjalan cepat ke luar gerbang lalu ke arah kampus, lalu teh Suci berhenti sebentar lalu menarikku kembali memasuki area kampus tapi bagian belakang. Di sana ada lapangan kecil, kamipun bersembunyi di balik tembok sambil melihat ke arah lapangan
“dek, lu diem di sini, jangan ngapa-ngapain”, kata
“mau ngapain sih kita teh?”, kataku
“udah lu diem aja”, katanya
Kamipun mengintip ke arah lapangan, aku bisa melihat Wina dengan seorang laki-laki. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Kuperhatikan baik-baik ternyata itu si X yang pernah membuat masalah denganku.
“aku mau putus!!”, terdengar teriakan Wina
Disitu langsug terjadi cekcok mulut yang berakhir dengan si X menampar Wina
“dek, lu mau ngapain”, kata teh
“ya nolongin Wina lah, lu gimana sih!”, kataku dengan nada kesal
“dek kan udah gua bilang lu jangan…..”, kata-katanya terpotong dan teh Suci melihat ke arah lain
Yap, “silver’ berada tepat di belakangku. Tangan teh Suci memegang erat tanganku. Saat ku lihat ke arah lapangan ternyata si X tidak sendiri, ada 2 orang temannya disana, Wina terlihat sedang menangis.
“ayo dek kita lapor security kampus”, kata teh Suci
“kelamaan teh, Wina udah di pegangin tuh”, kataku
“jangan Teo, kita lapor aja”, kata teh Suci
“TOLONG!!”, terdengar teriakan Wina
Akupun langsung berlari menghampiri mereka
“TEO!!”, teriak teh Suci
Sambil berlari aku memukul si X, dia terjatuh, lalu kedua temannya melepaskan Wina dan berusaha menyerangku. Terjadi baku hantam yang tidak bisa dihindari sampai akhirnya kedua teman si X mundur dan aku sedang memegang sebuah batu, posisi si X sedang terjatuh saat akan ku hantam kepala si X.
“bruukk”, aku terjatuh
“BEGOO!! DASAR BEGOOO!!”, kata teh Suci yang membantingku lalu mengunci tanganku
Sekedar info teh Suci dari SD sampai kelas 2 SMP masih aktif ekskul karate, jadi bukan hal mustahil baginya membantingku.
“LU MAU BUNUH ANAK ORANG?!!”, teriaknya
“lepasin ini batu!”, lanjutnya
Akupun melepaskan batu tersebut, akupun mengatur nafas, dan aku mulai tenang
“sakit teh”, kataku
Lalu teh Suci melepaskan tanganku. Aku masih terbaring dan ku lihat teh Suci menghampiri Wina lalu memeluknya. Ku lihat juga si X dan temannya yang terbaring. Akupun berdiri dan menghela nafas.
“Teo!”, kata teh Suci agak berteriak
Aku hanya mengangkat kedua tanganku tanda menyerah. Lalu menghampiri Wina.
“lu ga apa-apa?”, tanyaku
Wina hanya mengangguk. Teh Suci masih mencoba menenangkannya. Lalu membawa nya keluar kampus, dan akupun mengikutinya. Kami duduk di taman kampus, teh Suci meninggalkan aku dan Wina lalu pergi membeli minum, tak lama teh Suci kembali dan memberikan minum padaku dan Wina.
“bentar ya Win gua ngomong sama si BEGO yang satu ini”, kata teh Suci dengan menekankan di kata BEGO dan menarikku
“dek lu tu kebangetan ya, udah gua suruh diem juga”, kata the Suci
“tapi the….”, dia memotong omonganku
“ga ada tapi-tapi, lu bisa bunuh orang tau ga kalo lu ga bisa ngontrol emosi lu”, katanya
“yang gua takutin kalo lu emosi itu “temen” lu bakal ikut campur kaya tadi”, lanjutnya
“maksudnya?”, kataku
“dek, gua tau lu ga ada dasar bela diri yang kuatkan? Lu juga jarang banget berantem kan?”, kata the Suci
“terus?”, kataku
“tapi dari cara lu berantem tadi itu bukan kaya amatir, lu lawan 3 orang loh dek, tapi lu Cuma lecet-lecet doang, ga ada bekas pukulan apapun. Itu ga normal dek”, lanjutnya
Saat ku perhatikan memang bajuku kotor tapi tidak ada rasa sakit di bagian tubuh manapun
“jadi gua minta ini yang terkhir lu kaya gini. Gua takut”, kata the Suci lalu meninggalkanku
Akupun terdiam dan duduk di bangku terdekat, apa memang ada yang aneh dengan diriku ini. Siapa “silver” sebenarnya. Pertanyaan-pertanyaan pun memenuhi kepalaku, pertanyaan dengan jawaban yang mengejutkan di akhirnya