- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#124
Kisah keSembilan - Mahluk di langit-langit
Kejadian ini terjadi ketika kami berlibur ke pulau kampung halaman Desy. (yang tidak kenal Desy, wajib baca season 1 (horror) Diary - Link ada di page one)
Pulau yang terkenal dengan pantai yang banyak dan beberapa di antaranya menjadi obyek wisata.
Kami berempat, aku, Ayano, Desy dan William. Kami memutuskan untuk mencari obyek pantai yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung.
Untuk mencapai pantai itu, kami butuh waktu 3 jam waktu perjalanan dengan mobil sewaan. Dengan berbekal GPS, untungnya kami bisa sampai dengan selamat tanpa tersasar.
Kalau sampai tersasar, bisa-bisa itu akan menambahkan satu halaman lagi di pengalaman mengerikanku.
Padahal yang terjadi pada waktu itu di villa sudah cukup mengerikan...
Villa yang kumaksud itu adalah cottage yang kami sewa di dekat pantai tempat kami akan berlibur. Cottage itu didirikan dari kayu, yang menurut Ayano kemungkinan sengaja dibuat begitu untuk menghindari karat karena angin laut.
"Kayaknya agak ngeri ya?" komentar Desy ketika melihat kondisi cottage yang memang sudah agak tua. Sebenarnya komentar itu menyuarakan isi hatiku.
Memang terlihat sedikit mengerikan...
Ayano memeluk pundakku "Tenang, nggak usah takut, El.." katanya menenangkan.
Aku mengangguk. Yah, nggak perlu takut kan? toh udah ada pengusir setan di sini. Pikirku sambil tersenyum-senyum sendiri.
Yah... ternyata seperti biasa..
Aku salah...
---
Setelah selesai bermain-main di pantai, aku benar-benar kelelahan...
Ayano sampai harus memijat betisku yang terasa kram karena terlalu banyak berlarian di pantai.
Tapi itu hanya sebentar saja karena dia harus mohon diri untuk memasak makan malam kami.
Jadilah aku hanya sendirian berada di kamar itu.
Aku sedang mencoba memejamkan mataku ketika mendengar suara derak kayu yang datang dari atas.
Sepertinya dari plafon kayu itu.
Aku membuka mataku dan melihat ke arah datangnya suara itu..
Tidak ada apa-apa... mungkin tikus?
Aku berpikir untuk segera akan memberitahukannya pada Ayano. Tikus dan bahan makanan yang sangat banyak yang kami sengaja bawa merupakan perpaduan yang tidak cocok, pikirku.
Aku baru saja beranjak turun perlahan dari tempat tidur dengan maksud untuk menemui Ayano ketika bunyi derak kayu terdengar kembali.
Kali ini terdengar bagaikan kayu yang digeser.
Aku melihat ke langit-langit yang terbuat dari kayu-kayu berjejer itu.
Dan melihat ada sebuah celah yang tersembunyi di antara dua kayu yang berjejer itu.
Aku yakin sebelumnya celah itu tidak ada di sana. Susunan kayu di langit-langit terlihat begitu rapat. Jadi aku pasti sudah melihat celah itu ketika tadi aku melihat ke arahnya.
Karena itu aku yakin kalau celah itu baru saja terbentuk.
Tapi...
Tikus macam apa yang bisa menggeser kayu seberat itu?
'Kriett.....'
Aku memicingkan mataku ke arah celah kayu itu ketika mendengar bunyi derak itu lagi.
Dan...
Sepasang mata menatapku kembali dari celah sempit itu.
Kedua mata itu terlalu besar untuk dikatakan sebagai tikus, dan juga bukan mata manusia. Aku sangat yakin mata itu adalah mata binatang. Entah mengapa instingku mengatakan demikian.
"Hisssss....." aku mendengar desis dari mahluk apapun yang sedang bersembunyi di balik celah kayu itu.
'Kreetttt.... kreetttt....'
Bunyi itu....
Seperti bunyi keratan di kayu...
Dan kemudian sepasang mata itu berkelebat menghilang.
Tapi suara dari balik rongga langit-langit terdengar jelas. Seperti suara gerakan cepat sesuatu dari baliknya.
'ssrrkk, srrkkk, srrrkkkk!!'
'Krettt!!!' "HISSSSS!!!!"
Tiba-tiba celah kayu tepat di atasku membuka, dan mahluk itu menampakkan taringnya dari celah-celah itu.
"Ahh!!!" dengan refleks aku melompat mundur karena terkejut.
'Sreekkk..srekkk..sreekkk..sreekkk!!!' terdengar bunyi garukan yang sangat cepat di atasku.
Mahluk itu bermaksud untuk membuka jalannya turun!!!
![kaskus-image]()
Aku segera berlari keluar kamar dengan panik dan takut, sama sekali tidak berani menghentikan langkahku sebelum akhirnya aku mendapati Ayano yang sedang memasak di dapur cottage ini.
Begitu melihatku, Ayano langsung membentangkan tangannya dan menerimaku di pelukannya. "Ada apa?" tanyanya.
"Ada... ada.... sesuatu di plafon" kataku.
"Apa?!.... hmm... Wil, take over dulu masakannya sebentar!" kata Ayano sambil meletakkan sendok pengaduk kualinya.
Ayano dan aku berjalan masuk ke kamarku. Tidak ada celah apapun di langit-langit kamarku lagi. Semua kayu tersusun dengan rapi dan rapat.
Aku memandangnya dengan tidak percaya "Tadi... ada....".
"Koko percaya, El..." kata Ayano.
Aku menatapnya "Lihat tuh.." katanya kemudian sambil menunjuk ke arah lantai.
Aku mengikuti arah tangannya.
"Astaga...." gumamku.
Di lantai yang ditunjuk oleh Ayano, terdapat beberapa baris goresan yang berjejer rapi, ditambah dengan bekas tetesan air yang tercecer di dekat goresan itu.
Ayano mendekat dan memegang goresan itu "Ini goresan kuku...." simpulnya ketika menyentuh bekas di lantai itu.
"Berarti cairan itu kemungkinan air liur dari mahluk itu" katanya lagi.
Kemudian Ayano melihat ke sekeliling dan kemudian terlihat seperti menyadari sesuatu.
Dia berjalan ke arah lemari kayu di pojokan kamar ini. Aku mengikutinya dengan pandanganku.
"Ini..." gumamnya sambil menyentuh lemari.
"Dia turun dari sini..." kata Ayano "Lihat.." katanya lagi sembari menunjuk pada pinggiran langit-langit kayu.
"Ah...!" desahku terkejut ketika menyadari adanya bekas-bekas cakaran yang mirip dengan cakaran di lantai, namun lebih kecil.
"El..." bisik Ayano "Sepertinya mahluk apapun itu yang tadinya ngumpet di langit-langit kamar ini sudah turun..."
Aku merasa lututku gemetar mendengar kata-kata Ayano itu.
"Dan.. kalau koko lihat dari bekas cakarannya.... sepertinya mahluk itu lumayan gede. Minimal tangannya segede tangan manusia..."
"Apa.. itu mahluk jadi-jadian, ko?" tanyaku takut.
"Bisa jadi sih... soalnya gedenya nggak masuk akal..." jawabnya.
Oh Tuhan.... mengapa harus ada saja hal-hal yang berhubungan dengan 'mereka' di setiap kali kami berlibur.
"El... kamu jangan tidur sendiri deh ya..?" kata Ayano "Kamu sama koko aja malem ini..." katanya lagi.
"Eh?? ummm.... apa aku nggak sama ci Desy aja?" tanyaku "Nggak enak dong sama mereka kalau kita sekamar, ko?".
Ayano mengangguk "Tau, tapi koko khawatirnya kamu yang diincer.." katanya.
Oh.. betul juga...
Bukan cuma sekali aku diincar oleh 'mereka'...
Akhirnya aku setuju "Baiklah..."
"Hmm, nanti koko yang akan jelasin ke mereka."
"Koko bakal ceritain soal mahluk di langit-langit itu juga?"
Ayano berpikir sejenak "Kayaknya itu bakal bikin Desy takut. Gimana menurut kamu?"
"Itu juga yang aku takutin...."
"Kalo gitu nanti gampang deh.. biar koko atur....
... mudah-mudahan aja nggak ada kejadian apa-apa..." kata Ayano yang seakan menyuarakan kekhawatiranku.
Aku mengangguk.. ya.. mudah-mudahan saja...
"Kalau gitu koko lanjut masak dulu.. kamu pindahin barang kamu ke kamar koko aja dulu" kata Ayano.
"Ok" jawabku.
Dan tak lama kemudian aku menemukan diriku sedang sibuk memindahkan koperku ke kamar yang ditempati Ayano.
Dan aku merasa seperti seseorang sedang memperhatikanku.
Aku menengok dan melihat Ayano sedang menatapku dari jauh. Dia sedang berdiri bersender pada tembok dan tersenyum sangat lebar padaku.
Aku membalas senyumnya dan berkata "Udah selesai masaknya ko? bantuin please?" tanyaku.
Namun Ayano hanya tersenyum menyeringai dan beranjak pergi.
Aku heran dengan hal itu. Tidak biasanya dia mengindahkan permintaanku....
Ah mungkin dia nggak dengar karena terlalu jauh.. pikirku menghilangkan prasangka buruk di hati.
Tapi aku masih memikirkan hal tersebut sampai tiba-tiba sebuah suara mengejutkan aku.
"Udah beres El? mau koko bantuin?.... eh? kamu kenapa? kok kaget begitu?"
Ayano yang tiba-tiba muncul dibelakangku dan membuatku melompat karena terkejut.
"Kaget karena koko tau-tau muncul!" kataku sambil mencoba menenangkan jantungku yang hampir melompat keluar.
"Ahh.. sory-sory... koko cuma khawatir kamu susah sendirian beres-beres. Makanya buru-buru selesaiin masaknya" kata Ayano.
"Eh? tadi aku minta koko bantuin malah koko langsung pergi aja tuh" tuduhku.
"Haa? nggak salah tuh, El? koko barusan keluar dari dapur lho. Dan langsung ke tempat kamu"
Apa? apa tadi katanya?
"Lho...bukannya tadi koko ada di ruang tengah?"
"Sayaaang, koko barusan kelar masak. Tanya aja si Willy" kata Ayano.
Eeehhh??? lalu yang kulihat itu siapa?
"Tuhh, tanya si Willy noh" kata Ayano sambil menunjuk ke arah William yang sedang berdiri di dekat tangga.
"Wil, bro. Elisa nggak percaya gue daritadi ada di dapur sama lo" kata Ayano ke arah William.
Namun, William tidak menjawab dan hanya tersenyum lebar.
Menyeringai...
"Mirip...."
"Hah?"
"Mirip sama koko yang tadi aku lihat... tersenyum kayak gitu.." kataku kepada Ayano.
"Haa? masa sih?"
Ketika kami berdua menengok kembali ke arah tangga, sosok William yang tadi sudah menghilang.
"Lha? kemana tu anak? Wiiiill??!!" teriak Ayano.
"Apaan sih!? lu kayak perlu di susuin aja manggil-manggil mulu" William berkata dengan gusar sambil masuk dari pintu samping "Ada apaan sih, bro?"
"Hoooiii.. kalian berdua kesurupan??" tanya William kemudian karena aku dan Ayano melihatnya tanpa berkedip.
"Barusan lo dari luar?"
"Iyalah, gua barusan sama Desy. Mang lo pikir darimana lagi?"
"Bukannya mau naik ke atas?"
"Atas apaan? gudang? ya nggak mungkin lah. Mo ngapain juga gue ke atas" jawab William.
Aku dan Ayano saling bertatapan.
William menatap kami dengan curiga "Nah... ini sebenernya ada apaan? ada sesuatu yang perlu gua tau?"
Aku menatap Ayano dan berkata padanya "Cerita aja deh ko... ini kayaknya rada-rada ngeri deh..."
---
Ayano menceritakan pengalaman aneh yang barusan saja kami lihat, William tampak berpikir setelah mendengar cerita itu "Hmm.. kayaknya gua kudu kasih tau Desy..." gumam William.
"Kalau lo pikir Desy perlu tau, do it, bro" kata Ayano "Gua cuma khawatir menimbulkan kepanikan aja tadi. Tapi kalau kayak begini, sepertinya Desy memang perlu tau"
"Yap" angguk William setuju.
Ketika kami baru saja hendak keluar untuk mencari Desy, kami melihat Desy sedang masuk ke dalam rumah dari kejauhan.
"Nah, panjang umur orangnya baru diomongin" kata William "Des!! bentar deh.. ada yang perlu kukasih tau" teriak William memanggil Desy.
Desy yang kami lihat hanya menengok ke arah kami dan...
Menyeringai....
"Des?" panggil William bingung.
Ayano segera beranjak maju dan berlari ke arah sosok Desy itu "Itu bukan Desy!!" teriaknya ke William.
"Hah?"
"Mahluk itu!!"
William berpikir sejenak dan ikut berlari ke arah sosok yang menyerupai Desy itu.
"Hihihihihihi..." tawa nyaring mahluk itu sembari berbalik ke arah pintu. Mahluk itu mendesis dan berlari ke luar cottage masih dengan sosok Desy.
Kecepatan lari mahluk itu sangat cepat, kecepatan yang sangat tidak mungkin apabila dilakukan sendiri oleh Desy yang kurang ahli dalam hal olahraga.
Pengejaran berlanjut sampai ke luar pagar cottage. Kami kehilangan sosok mahluk itu ketika dia berbelok ke batu karang besar yang menyembunyikan seluruh tubuhnya.
"Kalian ngapain?" sebuah suara mengejutkan kami.
Desy sedang berdiri di belakang kami dengan wajah bingung "Wil? kamu ngapain? aku bingung kamu nggak balik-balik taunya..."
William melangkah ke arah Desy dan menatap gadis itu dengan saksama.
"Itu kayaknya yang beneran, Wil" ujar Ayano.
"Cara bedainnya gimana?" tanya William.
"Mahluk itu kayaknya nggak bisa ngomong..." kata Ayano lagi.
"Apa? apa sih? kalian lagi ngomong apa?" Desy sepertinya merasakan atmosfir tegang yang terjadi di antara kami semua.
William maju dan menceritakan perihal keanehan yang kami alami. Ayano menambahkan sedikit dengan mengatakan bahwa dugaannya si shapeshifter ini - nama yang kami berikan untuk mahluk itu - memiliki tujuan tertentu selain hanya membuat kericuhan di antara kami. Karena kalau melihat cakar mahluk itu, dan besarnya taring (menurut keteranganku) mahluk itu, rasanya aneh kalau dia sengaja menggunakan sosok manusia yang lebih
"Terlalu banyak keanehan yang berhubungan sama mahluk itu..." kata Ayano.
Kami semua mengangguk menyetujuinya. "Apa kita pindah aja?" tanya William. Desy yang berdiri di sebelahnya tampak pucat mendengarnya.
"Sepertinya bagusan begitu..." kata Ayano menatapku.
"Aku setuju, Ko.." kataku sambil menatap ke arah Desy yang mengangguk perlahan juga.
Kamipun bersama-sama kembali pulang ke cottage kami untuk bersiap-siap pergi dari situ dengan segera.
Kami kembali ke cottage hanya untuk mendapati kalau hampir seluruh kayu pada cottage sudah penuh ditandai oleh garis-garis cakaran.
"Woah..." desah kami semua melihat pemandangan yang kacau balau itu.
"Kita harus cepet-cepet pergi dari sini..." kata Ayano dengan suara sedikit panik.
"Kenapa, ko?"
"Koko ngerasa, sepertinya mahluk itu marah... atau sedang unjuk diri..."
"Unjuk diri?" tanya William.
"Ngeliatin kalau dia bisa aja membuat kita sama seperti keadaan cottage ini..." jelas Ayano.
Aku menelan ludah membayangkan perkataan Ayano itu.
"Ayo deh.. Wil, lo temenin Desy sembari beres-beres... El, ayo kita beresin barang-barang kamu.." kata Ayano sambil menarikku ke kamar.
Aku mengikutinya, dan kejutan lebih menakutkan lagi menungguku di kamar...
Keadaan kamar Ayano sangat mengerikan...
Bekas cakaran yang ada di luar kamar sama sekali tidak ada apa-apanya ketika melihat keadaan di kamar ini.
Kalau bekas cakaran di luar berwarna putih, seperti kapur putih, maka di kamar ini bekas cakaran itu berwarna hitam pekat, ditambah banyaknya bekas-bekas cipratan darah berceceran memenuhi kamar.
"Apa.. apa-apaan ini..." gumam Ayano.
"Ah!" teriakku ketika melihat tas koper kami yang diletakkan di pojok ruangan juga menjadi korban cakaran dan bekas darah itu.
Tas kami benar-benar rusak parah, termasuk baju-baju yang ada di dalamnya.
"El...?" panggil Ayano, dia mendekatiku dan menyeka air mata yang bahkan aku tidak sadar sudah turun.
"Udah, nanti kita belanja sama-sama yang baru ya. Sekarang ambil aja dulu. Kita harus cepetan pergi.." bujuk Ayano.
Aku menelan kesedihanku melihat baju-baju yang beberapa adalah kesayanganku, atau yang memiliki memori tersendiri, khususnya bersama Ayano sudah hancur berantakan.
---
Kami semua menaiki mobil sewaan yang untungnya baik-baik saja.
Ketika meninggalkan tempat itu, tanpa sengaja aku menengok kembali ke rumah itu melalui kaca spion.
Dan aku melihat diriku sendiri!!!!
Aku melihat sosokku sendiri keluar dari rumah itu dengan seringaian lebar.
Kemudian perlahan-lahan, wajah menyeringai itu berubah perlahan-lahan.
Dimulai dari taring-taring yang menyeruak keluar dari bibir sosok yang sangat mirip denganku itu.
Kemudian kulit mahluk itu berubah menjadi abu-abu, diikuti oleh bola matanya yang membulat seperti mata ikan.
Perubahan mengerikan itu dilanjutkan dengan menciutnya tubuh mahluk itu dan memanjangnya tungkai-tungkainya.
Kalau diibaratkan, sosok asli mahluk itu mungkin seperti kacang yang masih dengan kulitnya dengan keempat tungkai yang sangat panjang.
Mahluk itu menyeringai sekali lagi dengan deretan taringnya yang tajam dan merayap masuk kembali ke dalam rumah itu.
===
Sekembalinya kami ke kota, kami langsung mencari ke empunya cottage itu dan menceritakan segala sesuatunya.
Pemilik cottage itu tampak sangat pucat, namun bersikeras untuk tetap mengatakan tidak mengetahui perihal mahluk yang kami ceritakan itu. Untungnya, bapak itu masih mau mengembalikan uang kami.
Seperginya kami dari rumah bapak pemilik cottage, aku merasakan kejanggalan dari pembicaraan kami.
Namun, tidak setelah Ayano mengatakannya baru aku menyadari keanehan dari pembicaraan kami.
Keanehan pertama menurut Ayano adalah sikap dari bapak itu. Yang mengatakan tidak mengetahui soal mahluk yang kami jumpai itu, namun sangat ketakutan ketika mendengarnya.
Keanehan kedua adalah seberapa cepatnya bapak itu menyetujui untuk mengembalikan uang kami yang dipergunakan untuk menyewa cottage itu.
Keanehan ketiga adalah kenapa bapak itu tidak menuntut ganti rugi kepada kami, padahal kami sudah menceritakan kalau cottage itu berada dalam kondisi rusak parah pada saat kami tinggalkan karena ulah mahluk itu.
Dan keanehan terakhir, adalah ketakutan yang tidak wajar dari bapak itu ketika kami memperlihatkan bukti tas kami yang rusak parah. Bapak itu begitu ketakutan sampai berteriak kepadaku untuk segera menyingkirkan tasku yang rusak dari hadapannya.
Ini benar-benar pengalaman yang sangat aneh bagiku...
Mahluk itu... mahluk apa itu sebenarnya?
Dan apa tujuannya menampakkan diri padaku? dan pada kami semua?
Spoiler for Mahluk di langit-langit:
Kejadian ini terjadi ketika kami berlibur ke pulau kampung halaman Desy. (yang tidak kenal Desy, wajib baca season 1 (horror) Diary - Link ada di page one)
Pulau yang terkenal dengan pantai yang banyak dan beberapa di antaranya menjadi obyek wisata.
Kami berempat, aku, Ayano, Desy dan William. Kami memutuskan untuk mencari obyek pantai yang tidak terlalu ramai oleh pengunjung.
Untuk mencapai pantai itu, kami butuh waktu 3 jam waktu perjalanan dengan mobil sewaan. Dengan berbekal GPS, untungnya kami bisa sampai dengan selamat tanpa tersasar.
Kalau sampai tersasar, bisa-bisa itu akan menambahkan satu halaman lagi di pengalaman mengerikanku.
Padahal yang terjadi pada waktu itu di villa sudah cukup mengerikan...
Villa yang kumaksud itu adalah cottage yang kami sewa di dekat pantai tempat kami akan berlibur. Cottage itu didirikan dari kayu, yang menurut Ayano kemungkinan sengaja dibuat begitu untuk menghindari karat karena angin laut.
"Kayaknya agak ngeri ya?" komentar Desy ketika melihat kondisi cottage yang memang sudah agak tua. Sebenarnya komentar itu menyuarakan isi hatiku.
Memang terlihat sedikit mengerikan...
Ayano memeluk pundakku "Tenang, nggak usah takut, El.." katanya menenangkan.
Aku mengangguk. Yah, nggak perlu takut kan? toh udah ada pengusir setan di sini. Pikirku sambil tersenyum-senyum sendiri.
Yah... ternyata seperti biasa..
Aku salah...
---
Setelah selesai bermain-main di pantai, aku benar-benar kelelahan...
Ayano sampai harus memijat betisku yang terasa kram karena terlalu banyak berlarian di pantai.
Tapi itu hanya sebentar saja karena dia harus mohon diri untuk memasak makan malam kami.
Jadilah aku hanya sendirian berada di kamar itu.
Aku sedang mencoba memejamkan mataku ketika mendengar suara derak kayu yang datang dari atas.
Sepertinya dari plafon kayu itu.
Aku membuka mataku dan melihat ke arah datangnya suara itu..
Tidak ada apa-apa... mungkin tikus?
Aku berpikir untuk segera akan memberitahukannya pada Ayano. Tikus dan bahan makanan yang sangat banyak yang kami sengaja bawa merupakan perpaduan yang tidak cocok, pikirku.
Aku baru saja beranjak turun perlahan dari tempat tidur dengan maksud untuk menemui Ayano ketika bunyi derak kayu terdengar kembali.
Kali ini terdengar bagaikan kayu yang digeser.
Aku melihat ke langit-langit yang terbuat dari kayu-kayu berjejer itu.
Dan melihat ada sebuah celah yang tersembunyi di antara dua kayu yang berjejer itu.
Aku yakin sebelumnya celah itu tidak ada di sana. Susunan kayu di langit-langit terlihat begitu rapat. Jadi aku pasti sudah melihat celah itu ketika tadi aku melihat ke arahnya.
Karena itu aku yakin kalau celah itu baru saja terbentuk.
Tapi...
Tikus macam apa yang bisa menggeser kayu seberat itu?
'Kriett.....'
Aku memicingkan mataku ke arah celah kayu itu ketika mendengar bunyi derak itu lagi.
Dan...
Sepasang mata menatapku kembali dari celah sempit itu.
Kedua mata itu terlalu besar untuk dikatakan sebagai tikus, dan juga bukan mata manusia. Aku sangat yakin mata itu adalah mata binatang. Entah mengapa instingku mengatakan demikian.
"Hisssss....." aku mendengar desis dari mahluk apapun yang sedang bersembunyi di balik celah kayu itu.
'Kreetttt.... kreetttt....'
Bunyi itu....
Seperti bunyi keratan di kayu...
Dan kemudian sepasang mata itu berkelebat menghilang.
Tapi suara dari balik rongga langit-langit terdengar jelas. Seperti suara gerakan cepat sesuatu dari baliknya.
'ssrrkk, srrkkk, srrrkkkk!!'
'Krettt!!!' "HISSSSS!!!!"
Tiba-tiba celah kayu tepat di atasku membuka, dan mahluk itu menampakkan taringnya dari celah-celah itu.
"Ahh!!!" dengan refleks aku melompat mundur karena terkejut.
'Sreekkk..srekkk..sreekkk..sreekkk!!!' terdengar bunyi garukan yang sangat cepat di atasku.
Mahluk itu bermaksud untuk membuka jalannya turun!!!

Aku segera berlari keluar kamar dengan panik dan takut, sama sekali tidak berani menghentikan langkahku sebelum akhirnya aku mendapati Ayano yang sedang memasak di dapur cottage ini.
Begitu melihatku, Ayano langsung membentangkan tangannya dan menerimaku di pelukannya. "Ada apa?" tanyanya.
"Ada... ada.... sesuatu di plafon" kataku.
"Apa?!.... hmm... Wil, take over dulu masakannya sebentar!" kata Ayano sambil meletakkan sendok pengaduk kualinya.
Ayano dan aku berjalan masuk ke kamarku. Tidak ada celah apapun di langit-langit kamarku lagi. Semua kayu tersusun dengan rapi dan rapat.
Aku memandangnya dengan tidak percaya "Tadi... ada....".
"Koko percaya, El..." kata Ayano.
Aku menatapnya "Lihat tuh.." katanya kemudian sambil menunjuk ke arah lantai.
Aku mengikuti arah tangannya.
"Astaga...." gumamku.
Di lantai yang ditunjuk oleh Ayano, terdapat beberapa baris goresan yang berjejer rapi, ditambah dengan bekas tetesan air yang tercecer di dekat goresan itu.
Ayano mendekat dan memegang goresan itu "Ini goresan kuku...." simpulnya ketika menyentuh bekas di lantai itu.
"Berarti cairan itu kemungkinan air liur dari mahluk itu" katanya lagi.
Kemudian Ayano melihat ke sekeliling dan kemudian terlihat seperti menyadari sesuatu.
Dia berjalan ke arah lemari kayu di pojokan kamar ini. Aku mengikutinya dengan pandanganku.
"Ini..." gumamnya sambil menyentuh lemari.
"Dia turun dari sini..." kata Ayano "Lihat.." katanya lagi sembari menunjuk pada pinggiran langit-langit kayu.
"Ah...!" desahku terkejut ketika menyadari adanya bekas-bekas cakaran yang mirip dengan cakaran di lantai, namun lebih kecil.
"El..." bisik Ayano "Sepertinya mahluk apapun itu yang tadinya ngumpet di langit-langit kamar ini sudah turun..."
Aku merasa lututku gemetar mendengar kata-kata Ayano itu.
"Dan.. kalau koko lihat dari bekas cakarannya.... sepertinya mahluk itu lumayan gede. Minimal tangannya segede tangan manusia..."
"Apa.. itu mahluk jadi-jadian, ko?" tanyaku takut.
"Bisa jadi sih... soalnya gedenya nggak masuk akal..." jawabnya.
Oh Tuhan.... mengapa harus ada saja hal-hal yang berhubungan dengan 'mereka' di setiap kali kami berlibur.
"El... kamu jangan tidur sendiri deh ya..?" kata Ayano "Kamu sama koko aja malem ini..." katanya lagi.
"Eh?? ummm.... apa aku nggak sama ci Desy aja?" tanyaku "Nggak enak dong sama mereka kalau kita sekamar, ko?".
Ayano mengangguk "Tau, tapi koko khawatirnya kamu yang diincer.." katanya.
Oh.. betul juga...
Bukan cuma sekali aku diincar oleh 'mereka'...
Akhirnya aku setuju "Baiklah..."
"Hmm, nanti koko yang akan jelasin ke mereka."
"Koko bakal ceritain soal mahluk di langit-langit itu juga?"
Ayano berpikir sejenak "Kayaknya itu bakal bikin Desy takut. Gimana menurut kamu?"
"Itu juga yang aku takutin...."
"Kalo gitu nanti gampang deh.. biar koko atur....
... mudah-mudahan aja nggak ada kejadian apa-apa..." kata Ayano yang seakan menyuarakan kekhawatiranku.
Aku mengangguk.. ya.. mudah-mudahan saja...
"Kalau gitu koko lanjut masak dulu.. kamu pindahin barang kamu ke kamar koko aja dulu" kata Ayano.
"Ok" jawabku.
Dan tak lama kemudian aku menemukan diriku sedang sibuk memindahkan koperku ke kamar yang ditempati Ayano.
Dan aku merasa seperti seseorang sedang memperhatikanku.
Aku menengok dan melihat Ayano sedang menatapku dari jauh. Dia sedang berdiri bersender pada tembok dan tersenyum sangat lebar padaku.
Aku membalas senyumnya dan berkata "Udah selesai masaknya ko? bantuin please?" tanyaku.
Namun Ayano hanya tersenyum menyeringai dan beranjak pergi.
Aku heran dengan hal itu. Tidak biasanya dia mengindahkan permintaanku....
Ah mungkin dia nggak dengar karena terlalu jauh.. pikirku menghilangkan prasangka buruk di hati.
Tapi aku masih memikirkan hal tersebut sampai tiba-tiba sebuah suara mengejutkan aku.
"Udah beres El? mau koko bantuin?.... eh? kamu kenapa? kok kaget begitu?"
Ayano yang tiba-tiba muncul dibelakangku dan membuatku melompat karena terkejut.
"Kaget karena koko tau-tau muncul!" kataku sambil mencoba menenangkan jantungku yang hampir melompat keluar.
"Ahh.. sory-sory... koko cuma khawatir kamu susah sendirian beres-beres. Makanya buru-buru selesaiin masaknya" kata Ayano.
"Eh? tadi aku minta koko bantuin malah koko langsung pergi aja tuh" tuduhku.
"Haa? nggak salah tuh, El? koko barusan keluar dari dapur lho. Dan langsung ke tempat kamu"
Apa? apa tadi katanya?
"Lho...bukannya tadi koko ada di ruang tengah?"
"Sayaaang, koko barusan kelar masak. Tanya aja si Willy" kata Ayano.
Eeehhh??? lalu yang kulihat itu siapa?
"Tuhh, tanya si Willy noh" kata Ayano sambil menunjuk ke arah William yang sedang berdiri di dekat tangga.
"Wil, bro. Elisa nggak percaya gue daritadi ada di dapur sama lo" kata Ayano ke arah William.
Namun, William tidak menjawab dan hanya tersenyum lebar.
Menyeringai...
"Mirip...."
"Hah?"
"Mirip sama koko yang tadi aku lihat... tersenyum kayak gitu.." kataku kepada Ayano.
"Haa? masa sih?"
Ketika kami berdua menengok kembali ke arah tangga, sosok William yang tadi sudah menghilang.
"Lha? kemana tu anak? Wiiiill??!!" teriak Ayano.
"Apaan sih!? lu kayak perlu di susuin aja manggil-manggil mulu" William berkata dengan gusar sambil masuk dari pintu samping "Ada apaan sih, bro?"
"Hoooiii.. kalian berdua kesurupan??" tanya William kemudian karena aku dan Ayano melihatnya tanpa berkedip.
"Barusan lo dari luar?"
"Iyalah, gua barusan sama Desy. Mang lo pikir darimana lagi?"
"Bukannya mau naik ke atas?"
"Atas apaan? gudang? ya nggak mungkin lah. Mo ngapain juga gue ke atas" jawab William.
Aku dan Ayano saling bertatapan.
William menatap kami dengan curiga "Nah... ini sebenernya ada apaan? ada sesuatu yang perlu gua tau?"
Aku menatap Ayano dan berkata padanya "Cerita aja deh ko... ini kayaknya rada-rada ngeri deh..."
---
Ayano menceritakan pengalaman aneh yang barusan saja kami lihat, William tampak berpikir setelah mendengar cerita itu "Hmm.. kayaknya gua kudu kasih tau Desy..." gumam William.
"Kalau lo pikir Desy perlu tau, do it, bro" kata Ayano "Gua cuma khawatir menimbulkan kepanikan aja tadi. Tapi kalau kayak begini, sepertinya Desy memang perlu tau"
"Yap" angguk William setuju.
Ketika kami baru saja hendak keluar untuk mencari Desy, kami melihat Desy sedang masuk ke dalam rumah dari kejauhan.
"Nah, panjang umur orangnya baru diomongin" kata William "Des!! bentar deh.. ada yang perlu kukasih tau" teriak William memanggil Desy.
Desy yang kami lihat hanya menengok ke arah kami dan...
Menyeringai....
"Des?" panggil William bingung.
Ayano segera beranjak maju dan berlari ke arah sosok Desy itu "Itu bukan Desy!!" teriaknya ke William.
"Hah?"
"Mahluk itu!!"
William berpikir sejenak dan ikut berlari ke arah sosok yang menyerupai Desy itu.
"Hihihihihihi..." tawa nyaring mahluk itu sembari berbalik ke arah pintu. Mahluk itu mendesis dan berlari ke luar cottage masih dengan sosok Desy.
Kecepatan lari mahluk itu sangat cepat, kecepatan yang sangat tidak mungkin apabila dilakukan sendiri oleh Desy yang kurang ahli dalam hal olahraga.
Pengejaran berlanjut sampai ke luar pagar cottage. Kami kehilangan sosok mahluk itu ketika dia berbelok ke batu karang besar yang menyembunyikan seluruh tubuhnya.
"Kalian ngapain?" sebuah suara mengejutkan kami.
Desy sedang berdiri di belakang kami dengan wajah bingung "Wil? kamu ngapain? aku bingung kamu nggak balik-balik taunya..."
William melangkah ke arah Desy dan menatap gadis itu dengan saksama.
"Itu kayaknya yang beneran, Wil" ujar Ayano.
"Cara bedainnya gimana?" tanya William.
"Mahluk itu kayaknya nggak bisa ngomong..." kata Ayano lagi.
"Apa? apa sih? kalian lagi ngomong apa?" Desy sepertinya merasakan atmosfir tegang yang terjadi di antara kami semua.
William maju dan menceritakan perihal keanehan yang kami alami. Ayano menambahkan sedikit dengan mengatakan bahwa dugaannya si shapeshifter ini - nama yang kami berikan untuk mahluk itu - memiliki tujuan tertentu selain hanya membuat kericuhan di antara kami. Karena kalau melihat cakar mahluk itu, dan besarnya taring (menurut keteranganku) mahluk itu, rasanya aneh kalau dia sengaja menggunakan sosok manusia yang lebih
"Terlalu banyak keanehan yang berhubungan sama mahluk itu..." kata Ayano.
Kami semua mengangguk menyetujuinya. "Apa kita pindah aja?" tanya William. Desy yang berdiri di sebelahnya tampak pucat mendengarnya.
"Sepertinya bagusan begitu..." kata Ayano menatapku.
"Aku setuju, Ko.." kataku sambil menatap ke arah Desy yang mengangguk perlahan juga.
Kamipun bersama-sama kembali pulang ke cottage kami untuk bersiap-siap pergi dari situ dengan segera.
Kami kembali ke cottage hanya untuk mendapati kalau hampir seluruh kayu pada cottage sudah penuh ditandai oleh garis-garis cakaran.
"Woah..." desah kami semua melihat pemandangan yang kacau balau itu.
"Kita harus cepet-cepet pergi dari sini..." kata Ayano dengan suara sedikit panik.
"Kenapa, ko?"
"Koko ngerasa, sepertinya mahluk itu marah... atau sedang unjuk diri..."
"Unjuk diri?" tanya William.
"Ngeliatin kalau dia bisa aja membuat kita sama seperti keadaan cottage ini..." jelas Ayano.
Aku menelan ludah membayangkan perkataan Ayano itu.
"Ayo deh.. Wil, lo temenin Desy sembari beres-beres... El, ayo kita beresin barang-barang kamu.." kata Ayano sambil menarikku ke kamar.
Aku mengikutinya, dan kejutan lebih menakutkan lagi menungguku di kamar...
Keadaan kamar Ayano sangat mengerikan...
Bekas cakaran yang ada di luar kamar sama sekali tidak ada apa-apanya ketika melihat keadaan di kamar ini.
Kalau bekas cakaran di luar berwarna putih, seperti kapur putih, maka di kamar ini bekas cakaran itu berwarna hitam pekat, ditambah banyaknya bekas-bekas cipratan darah berceceran memenuhi kamar.
"Apa.. apa-apaan ini..." gumam Ayano.
"Ah!" teriakku ketika melihat tas koper kami yang diletakkan di pojok ruangan juga menjadi korban cakaran dan bekas darah itu.
Tas kami benar-benar rusak parah, termasuk baju-baju yang ada di dalamnya.
"El...?" panggil Ayano, dia mendekatiku dan menyeka air mata yang bahkan aku tidak sadar sudah turun.
"Udah, nanti kita belanja sama-sama yang baru ya. Sekarang ambil aja dulu. Kita harus cepetan pergi.." bujuk Ayano.
Aku menelan kesedihanku melihat baju-baju yang beberapa adalah kesayanganku, atau yang memiliki memori tersendiri, khususnya bersama Ayano sudah hancur berantakan.
---
Kami semua menaiki mobil sewaan yang untungnya baik-baik saja.
Ketika meninggalkan tempat itu, tanpa sengaja aku menengok kembali ke rumah itu melalui kaca spion.
Dan aku melihat diriku sendiri!!!!
Aku melihat sosokku sendiri keluar dari rumah itu dengan seringaian lebar.
Kemudian perlahan-lahan, wajah menyeringai itu berubah perlahan-lahan.
Dimulai dari taring-taring yang menyeruak keluar dari bibir sosok yang sangat mirip denganku itu.
Kemudian kulit mahluk itu berubah menjadi abu-abu, diikuti oleh bola matanya yang membulat seperti mata ikan.
Perubahan mengerikan itu dilanjutkan dengan menciutnya tubuh mahluk itu dan memanjangnya tungkai-tungkainya.
Kalau diibaratkan, sosok asli mahluk itu mungkin seperti kacang yang masih dengan kulitnya dengan keempat tungkai yang sangat panjang.
Mahluk itu menyeringai sekali lagi dengan deretan taringnya yang tajam dan merayap masuk kembali ke dalam rumah itu.
===
Sekembalinya kami ke kota, kami langsung mencari ke empunya cottage itu dan menceritakan segala sesuatunya.
Pemilik cottage itu tampak sangat pucat, namun bersikeras untuk tetap mengatakan tidak mengetahui perihal mahluk yang kami ceritakan itu. Untungnya, bapak itu masih mau mengembalikan uang kami.
Seperginya kami dari rumah bapak pemilik cottage, aku merasakan kejanggalan dari pembicaraan kami.
Namun, tidak setelah Ayano mengatakannya baru aku menyadari keanehan dari pembicaraan kami.
Keanehan pertama menurut Ayano adalah sikap dari bapak itu. Yang mengatakan tidak mengetahui soal mahluk yang kami jumpai itu, namun sangat ketakutan ketika mendengarnya.
Keanehan kedua adalah seberapa cepatnya bapak itu menyetujui untuk mengembalikan uang kami yang dipergunakan untuk menyewa cottage itu.
Keanehan ketiga adalah kenapa bapak itu tidak menuntut ganti rugi kepada kami, padahal kami sudah menceritakan kalau cottage itu berada dalam kondisi rusak parah pada saat kami tinggalkan karena ulah mahluk itu.
Dan keanehan terakhir, adalah ketakutan yang tidak wajar dari bapak itu ketika kami memperlihatkan bukti tas kami yang rusak parah. Bapak itu begitu ketakutan sampai berteriak kepadaku untuk segera menyingkirkan tasku yang rusak dari hadapannya.
Ini benar-benar pengalaman yang sangat aneh bagiku...
Mahluk itu... mahluk apa itu sebenarnya?
Dan apa tujuannya menampakkan diri padaku? dan pada kami semua?
1
Kutip
Balas