- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.5K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#281
Part 10 - Masa Lalu Menyedihkan Tuan Putri
PART 10 - Masa Lalu Menyedihkan Tuan Putri
Quote:
Akhirnya si tuan putri berjalan bersama kami. Meskipun posisi si tuan putri berada disamping kiriku sementara mereka berada disamping kananku dan dibelakangku. Mereka masih menjaga jarak mengingat kenyataan bahwa si tuan putri bukanlah manusia lagi. Ditengah tengah perjalanan, “Kalian boleh panggil aku Sastri. Aku tidak marah” ucapnya. “Baiklah, Sastri. Tapi apa boleh kami memanggilmu dengan Atri atau Wedia saja? Karena lebih enak menyebutnya dimulut kami” sambungku. Dan dia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju yang dibarengi anggukan dari mereka juga. Ini mengisyaratkanku untuk tak canggung lagi memanggil tuan putri itu hanya dengan nama saja.
Anehnya di dunia ini kami tidak merasakan lapar maupun haus tapi kami dapat merasakan emosi, stamina dan kondisi kami seperti hanlnya di dunia nyata. Padahal kami sedari malam semenjak kami terbangun belum ada satupun makanan masuk ke mulut kami. Aku memilih untuk tetap diam saja dan tak menanyakan ini kepada mereka semua. “Atri, usia kamu berapa sekarang?” tanya Mutiya tiba tiba. “Usiaku? Sewaktu masih hidup aku berusia 24 tahun berdasrkan penanggalan Jawa kuno” jawabnya. “Berarti berdasarkan penanggalan Masehi kamu sewaktu itu berusia hampir 25 tahun. Masih muda sekali kamu ternyata” jawab Mutiya lagi.
Kami sampai di sebuah rumah jaman dulu yang dindingnya terdiri dari papan kayu yang diikat bersusun dan atapnya terbuat dari dedaunan kering yang disusun berlapis lapis. Sementera itu pondasi bawahnya merupakan bebatuan yang sama persis dengan apa yang kami temukan di site penggalian kami. Didalam rumah ini tidak terlalu gelap karena konstruksinya berbeda dengan rumah modern. Di rumah ini cahaya dapat masuk dari sela sela papan kayu itu dan celah antara dinding kayu dan atap. Kami bertujuh langsung masuk dan mengambil posisi duduk. Tampak jelas wajah wajah mereka berbeda dengan yang kulihat sebelumnya. Wajah wajah mereka penuh emosi bercampur aduk menyiratkan bahwa ingin segera pulang.
Anehnya di dunia ini kami tidak merasakan lapar maupun haus tapi kami dapat merasakan emosi, stamina dan kondisi kami seperti hanlnya di dunia nyata. Padahal kami sedari malam semenjak kami terbangun belum ada satupun makanan masuk ke mulut kami. Aku memilih untuk tetap diam saja dan tak menanyakan ini kepada mereka semua. “Atri, usia kamu berapa sekarang?” tanya Mutiya tiba tiba. “Usiaku? Sewaktu masih hidup aku berusia 24 tahun berdasrkan penanggalan Jawa kuno” jawabnya. “Berarti berdasarkan penanggalan Masehi kamu sewaktu itu berusia hampir 25 tahun. Masih muda sekali kamu ternyata” jawab Mutiya lagi.
Kami sampai di sebuah rumah jaman dulu yang dindingnya terdiri dari papan kayu yang diikat bersusun dan atapnya terbuat dari dedaunan kering yang disusun berlapis lapis. Sementera itu pondasi bawahnya merupakan bebatuan yang sama persis dengan apa yang kami temukan di site penggalian kami. Didalam rumah ini tidak terlalu gelap karena konstruksinya berbeda dengan rumah modern. Di rumah ini cahaya dapat masuk dari sela sela papan kayu itu dan celah antara dinding kayu dan atap. Kami bertujuh langsung masuk dan mengambil posisi duduk. Tampak jelas wajah wajah mereka berbeda dengan yang kulihat sebelumnya. Wajah wajah mereka penuh emosi bercampur aduk menyiratkan bahwa ingin segera pulang.
----------------------
Quote:
”Baiklah, aku akan memberitahukan sesuatu kepada kalian semua. Apa yang menjadi tanda tanya bagi kalian selama ini” ucap Atri memulai pembicaraan. “Sudarma, aku pernah menyebutkannya kepada kalian bukan? Ya, dialah yang membuat keadaan menjadi seperti ini” sambungnya lirih. “Kami ini sebenarnya adalah penduduk dari keturunan sebuah kerajaan di pedalaman di Bali. Kami memilih untuk kabur dari sana karena paham kami tidak sesuai dengan mereka. Pelarian pertama leluhurku adalah sebuah tempat di pulau Jawa. Mereka pun bercampur dengan mereka disana. Hidup bersama dan memiliki keturunan anak cucu yang sudah bercampur darah dengan orang Jawa. Tapi itu semua berubah ketika mereka datang menyerang”. “Siapa mereka Atri? Apakah yang dari Bali juga datang menyusul kalian, membalaskan dendam?” aku memotong perkataannya. “Bukan, sewaktu leluhurku pergi dari Bali, hampir semua penduduk yang tersisa dibantai dengan cara yang keji. Mereka mati sisa sia karena perbedaan paham”.
“Leluhurku yang telah lari dan hidup di Jawa tepatnya di sebuah daerah di pesisir utara Jawa bernama Kureman. Daerah itu mungkin daerah itu sudah terhapus dari muka bumi karena juga dibantai habis oleh para penyerang. Mereka yang menyerang leluhurku berasal dari kerajaan Majapahit. Mereka tidak menghendaki paham kami begitu tahu kami semua bukanlah murni orang Jawa. Desa mereka itu berada di pinggir pantai dan memiliki jarak perjalanan 4 hari dari desa terdekat karena desa leluhurku berada di balik perbukitan yang menghadap pantai. Ketika desa leluhurku dahulu kala diserang, aku belum lahir dan kakek nenek buyutku memilih mengungsi lagi. Namun hanya sedikit yang selama, mungkin sekitar seratusan orang saja. Sisanya meregang nyawa dibantai secara keji dan menjadi budak sampai mati” sambungnya sambil meneteskan air mata.
Aku dan mereka terdiam mendengarkan serita tuan putri. Kami terkejut akan kenyataan bahwa jaman dahulu kala perbedaan paham dapat menjadi satu alasan pembantaian. Tak ubahnya jaman sekarang yang sering terjadi hal seperti itu. “Leluhurku pun pergi dari sana meninggalkan apa yang sudah dibangun berpuluh puluh tahun dengan susay payah. Semua musnah dalam satu hari saja. Mereka melarikan diri menuju sebuah tempat di selatan pulau Sumatera ini. Tapi itu tak berlangsung lama karena para pendatang luar dari Holland sudah menguasai pemerintahan disana dan mulai mengusik mereka. Pelarian pun diteruskan dengan kapal kapal leluhurku. Memang setiap pelarian dengan kapal kapal itu leluhurku berhenti di pantai pantai namun mereka terus menuju utara karena mereka yakin lebih tenang semakin ke utara, menjauhi orang orang Majapahit itu dan Holland itu” matanya seperti berkaca kaca seakan ingin menumpahkan air matanya.
“Kakek Nenek buyutku yang menceritakan itu semua kepada kami turun temurun. Akhirnya mereka sampai di sebuah pantai di dekat sini. Ketika mereka mendarat, mereka pikir akan aman dari gangguan yang terdahulu semuanya. Tapi leluhurku sadar ketika melihat sebuah jalan kecil yang sudah terhampar. Akhirnya, Kakek Nenek buyutku sadar bahwa tak mungkin berlari dan akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan menyeberangi jalan itu dan menuju perbukitan ini. Mereka pun memutuskan bahwa ini adalah tempat terakhir untuk menetap. Mulailah mereka mendirikan bangunan bangunan dasar seperti kerajaan kami sebelumnya di Bali. Melanjutkan apa yang telah ada sebelum sebelumnya. Singkat waktu berlalu, hidup kami yang tenang tak pernah terusik meskipun kami tahu para orang orang Holland sudah berkuasa di daerah di luar kami. Dengan ilmu leluhur kami, kerajaan kami menjadi tertutup dari orang orang luar. Termasuk orang asli tanah ini, Melayu dan Batak”.
“Ketenangan itu tak lama, mungkin hanya sekitar 200 tahun saja. Sewaktu itu aku sudah lahir dan beranjak dewasa. Begitu juga dengannya, Sudarma. Darah kami memang sudah bercampur aduk selama masa perpindahan kami termasuk ada beberapa pasangan yang ikut dari pantai pantai tempat kami singgah selama pelayaran pelarian itu. Mulailah muncul benih benih perpecahan berdasarkan darah. Sudarma...” tiba tiba dia tak sanggup berkata lagi dan meneteskan air mata. Aku sadar ini bukan waktu yang tepat baginya untuk berhenti menceritakan keadaan yang sejujurnya. Aku pun melompat kesisinya, kurangkul tangannya. Sekali lagi aku sadar, dia bukan manusia tapi aku tahu dia tetap wanita yang butuh pelukan hangat tempat bersandar ketika bersedih. Aku merangkulnya, ku dekapkan kepalanya di bahuku. Kubiarkan dia menangis dibahuku. Mereka pun terdiam semua menyaksikan kami berdua. Tangannya pun mencengkram erat tanganku seakan akan dia telah melihat kenyataan pahit. Bak sepasang kekasih, begitu dekatnya kami berdua.
“Sudarma merupakan adik tiriku karena Ayahku sang raja tak sanggup memberikan keturunan lelaki sehingga Ibu dari Sudarma diangkat menjadi istri kedua Ayahku. Tapi, kami terpisah oleh ketentuan bahwa putri raja dan putra raja berbeda Ibu harus dibesarkan terpisah dan tidak boleh berada dalam satu wilayah Istana. Kehidupannya di luar Istana mungkin lolos dari pantauan Ayahku dan ditutup tutupin oleh orang orang yang akan melakukan kudeta terhadap Ayahku. Sementara itu aku di Istana, mulailah diwariskan ilmu ilmu ghaib, ilmu kerajaan, ilmu perang dan ilmu kepercayaan leluhurku. Begitu juga Sudarma, tapi dia diberikan dengan jalan yang salah. Alirannya benar benar hitam, penuh kebencian dan amarah. Tak lama berselang, niat kudeta mereka tercium Ayahku. Lantas Ayahku dan seluruh sesepuh petinggi kerajaan memutuskan menangkap dan membantai mereka semua yang terlibat. Tak terkecuali Ibunya Sudarma. Dia digantung bersama dengan para tetua sesepuh di alun alun Istana”.
“Setelah pembantaian itu, Sudarma kecil yang akhirnya lolos dan selamat tenyata dibawa oleh sepasang penyihir jauh kedalam hutan di luar batas kerajaan ini. Belasan tahun berlalu, entah apa yang terjadi kepada sepasang penyihir itu, Sudarma berhasil masuk kembali ke dalam kerajaan ini. Dia menolong beberapa orang dari binatang buas di hutan. Lantas kamipun menyambutnya disini. Mengharapkan dia tinggal didalam kerajaan ini. Dan iya pun menyetujuinya. Entah ilmu apa yang melekat dibadannya, sehingga para guruku dan penasihat ghaib kerajaan ini tak mampu mendeteksi masa lalunya dan hanya melihat dia sebagai seorang pengembara dari selatan Sumatera. Tapi, rupanya itu hanya akal bulusnya sebagai topeng untuk kembali menguasai kerajaan ini. Aku menduga itu semua diajarkan oleh sepasang penyihir tua itu. Dia pun perlahan lahan membangun kembali sebuah pergerakan untuk mengkudetakan Ayahku. Tapi kali ini berjalan mulus, Ayahku tak mengetahuinya karena hampir semua prajurit dan petinggi pasukan kerajaan, sebagian sesepuh dan orang orang tuaberpengaruh disini sudah dibawah kendalinya”.
“Sudarma sangat mirip denganmu Aldi, bahkan seperti kembaranmu” matanya menatapku tajam dalam pelukanku. “Singkat cerita, dalam waktu sebntar saja dia berhasil menunjukkan tajinya dan dapat membuat Ayahku yakin untuk menikahiku. Aku sedari awal tetap menolak, namun Ayahku tetap memaksakan dan akhirnya itu semua itu terjadi tanpa sanggup aku menolaknya. Pernikahan pun terlaksana dan semuanya hadir. Setelah pernikahan aku berusaha mencintainya dan akhirnya itu berhasil. Tapi, aku tak tahu akal bulusnya dibalik semua hal ini. Aku benar benar mencintai dan menyayanginya. Bahkan aku rela bercinta dengannya tanpa henti terus menerus semau dia seuka dia” nadanya lirih seperti tak rela, tak ikhlas itu terjadi. “Sampais saat itu tiba, setahun setelah pernikahan kami. Kudeta pun meledak, pergolakan pun terjadi. Pembantaian disana sini terjadi dengan keji. Lihatlah kerangka kerangka yang kalian temukan sewaktu itu. Itu adalah rakyatku yang dibunuhnya. Mereka adalah korban tak berdosa dari pengkhianatan Sudarma, dari dendamnya terhadap Ayahku”.
Aku terhenyak mengetahui kenyataan itu, bibirku diam terbisu seribu bahasa. Bahkan mereka semua pun begitu juga. Tak ada satupun kata kata yang keluar dari mulut mereka. Dari dalam rumah itu terlihat jelas matahari semakin meninggi, tapi kami merasakan tubuh kami sudah lelah. Benar benar lelah sakit karena seluruh tangisan, emosi dan perasaan ini. “Badanku benar benar sakit, aku ingin beristirahat sebentar” ucap Cut yang sudah merebahkan badannya. “Iya, aku juga. badanku terasa sangat lelah, seluruh tangisan ini emosi ini membuatku lemah” sambung Mutiya yang memang dikenal sebagai cewek puitis. “baiklah kita beristirahat sebentar. Tidurlah kalian karena perkalanan kita masih panjang dan kalian akan butuh energi yang cukup banyak” jawab Atri iba. Tinggalah kami berdua dalam posisi saling merangkul satu sama lain, dua makhluk yang berbeda jenis dan alamnya.
Entah kenapa perasaan aku benar benar bercampur aduk, disatu sisi aku mulai merasakan iba terhadap tuan putri ini yang mulai menumbuhkan rasa sukaku padanya. Tapi, disatu sisi rasa cintaku dan sayangku pada Mirna terus tumbuh dan semakin kuat selama perjalanan ini. Hatiku berkecamuk hebat seperti badai petir dengan tornado di lautan lepas. Tanpa sadar, bibirku mulai mendekat ke pipinya. Aku mencium pipinya cukup lama. Lalu dia menggerakkan kepalanya, memberikan bibirnya untuk kucium. Kamipun merubah posisi kami saling berhadapan. Dia pun mulai merebahkan dirinya ke lantai, kedua tanganku mencengkram kedua tangannya. Perlahan lahan baju kami mulai tersingkap, terbuka sendiri oleh kekuatan ghaibnya. Aku tak peduli, tak ada rasa takutku melihatnya. Entah apa yang merasukiku tiba tiba. Kami pun saling berpelukan erat tanpa sehelai benang pun di tubuh kami. Akhirnya peristiwa itu pun terjadi, aku menuruti kemauannya keinginan kuatnya untuk mencumbunya. Yang tanpa aku sadari ternyata aktivitas kami berdua ini disaksikan oleh kelima wanita itu. Mirna Maafkan aku...
“Leluhurku yang telah lari dan hidup di Jawa tepatnya di sebuah daerah di pesisir utara Jawa bernama Kureman. Daerah itu mungkin daerah itu sudah terhapus dari muka bumi karena juga dibantai habis oleh para penyerang. Mereka yang menyerang leluhurku berasal dari kerajaan Majapahit. Mereka tidak menghendaki paham kami begitu tahu kami semua bukanlah murni orang Jawa. Desa mereka itu berada di pinggir pantai dan memiliki jarak perjalanan 4 hari dari desa terdekat karena desa leluhurku berada di balik perbukitan yang menghadap pantai. Ketika desa leluhurku dahulu kala diserang, aku belum lahir dan kakek nenek buyutku memilih mengungsi lagi. Namun hanya sedikit yang selama, mungkin sekitar seratusan orang saja. Sisanya meregang nyawa dibantai secara keji dan menjadi budak sampai mati” sambungnya sambil meneteskan air mata.
Aku dan mereka terdiam mendengarkan serita tuan putri. Kami terkejut akan kenyataan bahwa jaman dahulu kala perbedaan paham dapat menjadi satu alasan pembantaian. Tak ubahnya jaman sekarang yang sering terjadi hal seperti itu. “Leluhurku pun pergi dari sana meninggalkan apa yang sudah dibangun berpuluh puluh tahun dengan susay payah. Semua musnah dalam satu hari saja. Mereka melarikan diri menuju sebuah tempat di selatan pulau Sumatera ini. Tapi itu tak berlangsung lama karena para pendatang luar dari Holland sudah menguasai pemerintahan disana dan mulai mengusik mereka. Pelarian pun diteruskan dengan kapal kapal leluhurku. Memang setiap pelarian dengan kapal kapal itu leluhurku berhenti di pantai pantai namun mereka terus menuju utara karena mereka yakin lebih tenang semakin ke utara, menjauhi orang orang Majapahit itu dan Holland itu” matanya seperti berkaca kaca seakan ingin menumpahkan air matanya.
“Kakek Nenek buyutku yang menceritakan itu semua kepada kami turun temurun. Akhirnya mereka sampai di sebuah pantai di dekat sini. Ketika mereka mendarat, mereka pikir akan aman dari gangguan yang terdahulu semuanya. Tapi leluhurku sadar ketika melihat sebuah jalan kecil yang sudah terhampar. Akhirnya, Kakek Nenek buyutku sadar bahwa tak mungkin berlari dan akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan menyeberangi jalan itu dan menuju perbukitan ini. Mereka pun memutuskan bahwa ini adalah tempat terakhir untuk menetap. Mulailah mereka mendirikan bangunan bangunan dasar seperti kerajaan kami sebelumnya di Bali. Melanjutkan apa yang telah ada sebelum sebelumnya. Singkat waktu berlalu, hidup kami yang tenang tak pernah terusik meskipun kami tahu para orang orang Holland sudah berkuasa di daerah di luar kami. Dengan ilmu leluhur kami, kerajaan kami menjadi tertutup dari orang orang luar. Termasuk orang asli tanah ini, Melayu dan Batak”.
“Ketenangan itu tak lama, mungkin hanya sekitar 200 tahun saja. Sewaktu itu aku sudah lahir dan beranjak dewasa. Begitu juga dengannya, Sudarma. Darah kami memang sudah bercampur aduk selama masa perpindahan kami termasuk ada beberapa pasangan yang ikut dari pantai pantai tempat kami singgah selama pelayaran pelarian itu. Mulailah muncul benih benih perpecahan berdasarkan darah. Sudarma...” tiba tiba dia tak sanggup berkata lagi dan meneteskan air mata. Aku sadar ini bukan waktu yang tepat baginya untuk berhenti menceritakan keadaan yang sejujurnya. Aku pun melompat kesisinya, kurangkul tangannya. Sekali lagi aku sadar, dia bukan manusia tapi aku tahu dia tetap wanita yang butuh pelukan hangat tempat bersandar ketika bersedih. Aku merangkulnya, ku dekapkan kepalanya di bahuku. Kubiarkan dia menangis dibahuku. Mereka pun terdiam semua menyaksikan kami berdua. Tangannya pun mencengkram erat tanganku seakan akan dia telah melihat kenyataan pahit. Bak sepasang kekasih, begitu dekatnya kami berdua.
“Sudarma merupakan adik tiriku karena Ayahku sang raja tak sanggup memberikan keturunan lelaki sehingga Ibu dari Sudarma diangkat menjadi istri kedua Ayahku. Tapi, kami terpisah oleh ketentuan bahwa putri raja dan putra raja berbeda Ibu harus dibesarkan terpisah dan tidak boleh berada dalam satu wilayah Istana. Kehidupannya di luar Istana mungkin lolos dari pantauan Ayahku dan ditutup tutupin oleh orang orang yang akan melakukan kudeta terhadap Ayahku. Sementara itu aku di Istana, mulailah diwariskan ilmu ilmu ghaib, ilmu kerajaan, ilmu perang dan ilmu kepercayaan leluhurku. Begitu juga Sudarma, tapi dia diberikan dengan jalan yang salah. Alirannya benar benar hitam, penuh kebencian dan amarah. Tak lama berselang, niat kudeta mereka tercium Ayahku. Lantas Ayahku dan seluruh sesepuh petinggi kerajaan memutuskan menangkap dan membantai mereka semua yang terlibat. Tak terkecuali Ibunya Sudarma. Dia digantung bersama dengan para tetua sesepuh di alun alun Istana”.
“Setelah pembantaian itu, Sudarma kecil yang akhirnya lolos dan selamat tenyata dibawa oleh sepasang penyihir jauh kedalam hutan di luar batas kerajaan ini. Belasan tahun berlalu, entah apa yang terjadi kepada sepasang penyihir itu, Sudarma berhasil masuk kembali ke dalam kerajaan ini. Dia menolong beberapa orang dari binatang buas di hutan. Lantas kamipun menyambutnya disini. Mengharapkan dia tinggal didalam kerajaan ini. Dan iya pun menyetujuinya. Entah ilmu apa yang melekat dibadannya, sehingga para guruku dan penasihat ghaib kerajaan ini tak mampu mendeteksi masa lalunya dan hanya melihat dia sebagai seorang pengembara dari selatan Sumatera. Tapi, rupanya itu hanya akal bulusnya sebagai topeng untuk kembali menguasai kerajaan ini. Aku menduga itu semua diajarkan oleh sepasang penyihir tua itu. Dia pun perlahan lahan membangun kembali sebuah pergerakan untuk mengkudetakan Ayahku. Tapi kali ini berjalan mulus, Ayahku tak mengetahuinya karena hampir semua prajurit dan petinggi pasukan kerajaan, sebagian sesepuh dan orang orang tuaberpengaruh disini sudah dibawah kendalinya”.
“Sudarma sangat mirip denganmu Aldi, bahkan seperti kembaranmu” matanya menatapku tajam dalam pelukanku. “Singkat cerita, dalam waktu sebntar saja dia berhasil menunjukkan tajinya dan dapat membuat Ayahku yakin untuk menikahiku. Aku sedari awal tetap menolak, namun Ayahku tetap memaksakan dan akhirnya itu semua itu terjadi tanpa sanggup aku menolaknya. Pernikahan pun terlaksana dan semuanya hadir. Setelah pernikahan aku berusaha mencintainya dan akhirnya itu berhasil. Tapi, aku tak tahu akal bulusnya dibalik semua hal ini. Aku benar benar mencintai dan menyayanginya. Bahkan aku rela bercinta dengannya tanpa henti terus menerus semau dia seuka dia” nadanya lirih seperti tak rela, tak ikhlas itu terjadi. “Sampais saat itu tiba, setahun setelah pernikahan kami. Kudeta pun meledak, pergolakan pun terjadi. Pembantaian disana sini terjadi dengan keji. Lihatlah kerangka kerangka yang kalian temukan sewaktu itu. Itu adalah rakyatku yang dibunuhnya. Mereka adalah korban tak berdosa dari pengkhianatan Sudarma, dari dendamnya terhadap Ayahku”.
Aku terhenyak mengetahui kenyataan itu, bibirku diam terbisu seribu bahasa. Bahkan mereka semua pun begitu juga. Tak ada satupun kata kata yang keluar dari mulut mereka. Dari dalam rumah itu terlihat jelas matahari semakin meninggi, tapi kami merasakan tubuh kami sudah lelah. Benar benar lelah sakit karena seluruh tangisan, emosi dan perasaan ini. “Badanku benar benar sakit, aku ingin beristirahat sebentar” ucap Cut yang sudah merebahkan badannya. “Iya, aku juga. badanku terasa sangat lelah, seluruh tangisan ini emosi ini membuatku lemah” sambung Mutiya yang memang dikenal sebagai cewek puitis. “baiklah kita beristirahat sebentar. Tidurlah kalian karena perkalanan kita masih panjang dan kalian akan butuh energi yang cukup banyak” jawab Atri iba. Tinggalah kami berdua dalam posisi saling merangkul satu sama lain, dua makhluk yang berbeda jenis dan alamnya.
Entah kenapa perasaan aku benar benar bercampur aduk, disatu sisi aku mulai merasakan iba terhadap tuan putri ini yang mulai menumbuhkan rasa sukaku padanya. Tapi, disatu sisi rasa cintaku dan sayangku pada Mirna terus tumbuh dan semakin kuat selama perjalanan ini. Hatiku berkecamuk hebat seperti badai petir dengan tornado di lautan lepas. Tanpa sadar, bibirku mulai mendekat ke pipinya. Aku mencium pipinya cukup lama. Lalu dia menggerakkan kepalanya, memberikan bibirnya untuk kucium. Kamipun merubah posisi kami saling berhadapan. Dia pun mulai merebahkan dirinya ke lantai, kedua tanganku mencengkram kedua tangannya. Perlahan lahan baju kami mulai tersingkap, terbuka sendiri oleh kekuatan ghaibnya. Aku tak peduli, tak ada rasa takutku melihatnya. Entah apa yang merasukiku tiba tiba. Kami pun saling berpelukan erat tanpa sehelai benang pun di tubuh kami. Akhirnya peristiwa itu pun terjadi, aku menuruti kemauannya keinginan kuatnya untuk mencumbunya. Yang tanpa aku sadari ternyata aktivitas kami berdua ini disaksikan oleh kelima wanita itu. Mirna Maafkan aku...
erman123 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas