- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#67
PART II
Kakek terdiam. Lama juga Kakek termenung.
Kakek bangun berdiri di muka pintu. Tangan kanannya memegang tiang pintu. Kakek duduk kembali.
“Biasanya tuyul itu ada orang yang memeliharanya. Dia musti sepasang. Ada jantan-betinanya. Rumahmu pernah kemasukan ?”
“Pernah, dia menyerupai kucing hitam. Ketika bertemu dengan kami dia langsung menghilang.”
Dengan keterangan adik bungsunya itu, Kakek dapat menduga bahwa tuyul itu masih belum mempunyai pasangan. Dan orang yang memelihara akan berusaha mencari pasangannya.
Kakek lalu memberitahu adik bungsunya, masalah itu bisa diatasi atau dilenyapkan dengan syarat dia harus tinggal di Hulu Kuang agak lama sedikit. Untuk mencari pemilik tuyul itu memakan waktu. Memerlukan beberapa syarat yang tertentu.
“Kerjanya sulit, tapi harapan masih ada karena pemilik masih mencari pasangannya” jelas Kakek dengan tenang.
“Bagaimana caranya ?” Tanya isteri adik bungsu Kakek.
Mendengarkan pertanyaan itu, Kakek tersenyum panjang sambil memijit pangkal dagu.
“Kita tunggu kalau ada perempuan mati beranak pertama kali (sulung), baru bisa menangkap majikannya. ” Bicara Kakek itu membuat adik bungsu Kakek dan isterinya berpandangan.
Dalam kepala isteri adik bungsu Kakek mulai terbayang tentang perempuan‐perempuan di Kampung Hulu Kuang yang mengandung anak pertama. Ada lima orang semuanya.
Atas persetujuan warga kampung Hulu Kuang, Kakek diminta tinggal di kampung tersebut selama dua bulan untuk memusnahkan tuyul yang mengganggu kampung mereka.
Nasib Kakek dan saya agak baik. Baru tiga minggu di Hulu Kuang, terdengar salah seorang dari penduduk kampung itu meninggal dunia ketika melahirkan anak pertama. Anak dan ibu mati serentak. Kakek pergi ke rumah keluarga yang malang itu. Kakek turut juga menghantarkan jenazah ibu dan anak itu ke tanah pekuburan.
Tetapi begitu Kakek pulang dari tanah kubur, Kakek tidak dapat tidur sepanjang malam. Dia didatangi dengan berbagai mimpi yang mengerikan dan menakutkan. Kakek membuka kertas firasat yang dibawanya. Waktu dia membaca firasat itu Kakek mendengar suara perempuan membujuk anak yang menangis di bawah rumah.
Kakek membuka pintu. Kakek melihat satu cahaya berekor panjang naik ke udara dari tanah perkuburan.
Kakek pun mengejutkan saya. Kalaulah bukan Kakek yang mengejutkan saya di tengah malam buta itu sudah pasti terkena sumpah serapah saya. Karena Kakek, saya tidak dapat berbuat apa‐apa. Terpaksa saya terima dengan manis muka, meskipun hati meradang dengan perbuatannya.
“Kenapa, Kek?” tanya saya sambil mengosok‐gosok kelopak mata. Kakek tersenyum sambil meraba‐raba kumis bengkoknya yang seperti tanduk banteng jantan. Sekali‐kali kumisnya turut bergerak.
“Kita sudah hampir sampai pada tujuan.”
“Tujuan apa, Kek?”
“Mencari orang yang jadi majikan tuyul.”
“Kalau Kakek paham, baguslah.”
Kakek merebahkan badannya di sisi saya.
Saya tidak sadar waktu Kakek bangun. Bila saya buka kelopak mata, Kakek sudah menyelesaikan sembahyang subuh.
Dia memaksa saya pergi ke perigi sendirian untuk mengambil air sembahyang.
Saya patuh dengannya.
Kakek tidak dapat dapat melupakan kebiasaannya berjalan di atas batu‐batuan sambil membasuh muka dan badannya dengan air embun waktu pagi.
Kakek tidak mengambil semua air embun di daun kayu untuk membasuh muka dan badannya. Dia memilih jenis daun yang tidak berduri atau gatal. Cara dia menyapu air ke muka juga agak ganjil. Dia memulai dari pangkal dagu terus ke atas hingga sampai ke akar rambut. Kemudian baru dia membasuh keningnya. Terakhir, memasukkan air ke dalam lubang hidung hingga bersin.
Kemudian Kakek akan memijak rumput hijau tujuh kali ke arah matahari naik dan enam langkah ke arah matahari terbenam.
Kebiasaannya itu dikerjakannya juga sewaktu dia berada di Ulu Kuang dekat Chemor. Apa yang Kakek lakukan saya terpaksa mengerjakannya dan Kakek berjanji, pada suatu hari kelak, bila umur saya genap dua puluh satu tahun dia akan memberi beberapa bacaan yang perlu dibaca bila mandi air embun.
Pagi itu, berjalanlah saya bersama Kakek di pinggir Kampung Ulu Kuang sambil mandi air embun. Saya berasa nyaman melihat matahari pagi dengan sinar yang kilau‐kilauan di celah‐celah pohon besar. Ketika sinar matahari itu menikam air embun di ujung daun, kelihatan bermanik‐manik dan sungguh menarik sekali.
Damai dan terhibur hati saya mendengan bunyi kicauan burung hutan yang bermacam ragam dan bermacam rupa yang terbang dan melompat dari dahan ke dahan. Sambil berjalan Kakek memberitahu nama‐nama burung yang saya lihat.
Sewaktu matahari mula meninggi satu galah, saya dan Kakek sudah jauh meninggalkan pinggir Kampung Ulu Kuang. Kami memasuki satu jalanan kecil menuju ke arah sebuah anak bukit. Di kaki bukit itu nampak sebuah pohon berdinding tepas (bambu) dan beratapkan daun rumbia(palem). Tiangnya dari kayu hutan jenis bulat. Dalam jarak lima puluh langkah dekat halaman pondok itu Kakek berhenti berjalan.
“Kenapa, Kek?” Tanya saya ragu‐ragu.
Kakek diam. Kedua belah tangannya dilekatkan diatas dada. Kedua belah kelopak matanya dirapatkan. Kakek melangkah tujuh langkah ke depan dan berdiri diatas kedua belah tumit kakinya beberapa detik. Bila matanya terbuka dan kedua belah tangan diluruskan serta telapak kaki memijak tanah, Kakek kelihatan tersenyum.
“Memang tidak salah penglihatanku malam tadi. Cahaya dari tanah kuburan itu menuju ke sini, “Dengan tenang Kakek bersuara.
Saya jadi termangu‐mangu.
“Kita balik, kalau kita maju, kita bahaya,”
Kakek pun menarik tangan saya. Kami berputar balik menuju rumah adik Kakek.
Sepanjang jalan pulang itu Kakek tidak banyak berbicara. Dia lebih banyak memerhatikan gerak gerik rumput dan dedaunan. Saya paham benar, bila Kakek berbuat demikian artinya dia menumpahkan seluruh perhatinnya pada sesuatu benda yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia biasa. Saya kira, pikiran dan perasaannya tertumpu ke satu alam yang lain.
Saya tidak berani bertanya padanya tentang hal itu. Saya takut dia naik darah. Kalau Kakek naik darah, saya kena maki dengan percuma. Kalau Kakek tidak maki, dia akan melototkan biji matanya sebesar telur ayam hutan.
“Jauh berjalan pagi ini?” Tanya adik Kakek begitu kami tiba di kaki tangga.
Dia baru saja melepaskan ayam di reban(kandang ayam di kolong rumah). Saya tidak menjawab kecuali tersenyum panjang.
“Seperti biasa,” balas Kakek.
Kami terus membasuh kaki dan memijak tangga naik ke rumah.
Di ruang tengah rumah sudah tersedia sarapan. Air kopi pekat dan rebus ubi kayu serta kelapa parut.
“Rumah siapa dekat belukar itu?” Kakek mengemukakan pertanyaan.
Adik Kakek terdiam mengingati sesuatu. “Rumah Kidon.”
“Orang sini juga?”
“Tidak, seperti kita juga berasal tanah seberang.”
“Orang Padang atau orang Jambi?”
Pertanyaan Kakek itu tidak segera dijawab oleh adiknya.
Saya sudah berhenti makan ubi rebus. Isteri adik Kakek sudah turun untuk pergi ke ladang. Bila pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, Kakek tidak lagi mau mengemukakan pertanyaan.
Dia terus menghirup air kopi dengan tenang.
“Dari Sumatra. Katanya keturunan Batak,” Tiba‐tiba saja adik Kakek bersuara.
“Ada bini tidak?” secara tidak sengaja saya bertanya.
Kakek melotot tajam pada saya.
“Dah mati, bininya orang Kedah, emak bapanya bininya menetap di Muara Kangsar” Menerangkan adik Kakek dengan jujur.
“Ada anak?’ Cepat‐cepat Kakek menimpali.
“Tak ada, bininya itu mati ketika melahirkan anak pertama,”
“Hummmm…,” suara Kakek perlahan. Dia menekan pipi kirinya dengan tangan kanan.
Dengan terus‐terang Kakek menyatakan pada adiknya bahwa dia memerlukan tinggal di Ulu Kuang paling sedikit enam bulan. Kakek juga meminta adiknya membuat sebuah pondok untuk dirinya dengan alasan senang untuk beramal ibadat serta berusaha menghancurkan majikan tuyul.
Permintaan Kakek itu tidak memberatkan untuk dipenuhi oleh adiknya.
Seminggu kemudian, terpacaklah sebuah pondok baru di Ulu Kuang Chemor yang didirikan secara gotong‐royong oleh penduduk. Saya dan Kakek pun pindah ke pondok baru.
Persoalan yang tidak menyenangkan hati saya bila duduk di pondok baru ialah bila bulan purnama. Pada saat itu kelihatanlah beberapa ekor harimau besar di depan pondok. Dari atas pondok Kakek melompat ke tanah lalu bersilat dengan harimau‐harimau itu.
Jika Kakek malas turun karena badannya terlalu letih, harimau‐harimau itu akan menjulurkan ekornya dari celah lantai bambu. Kakek akan mencium atau mengurut‐urut ekor harimau itu sambil membelitkannya di lehernya.
Bila terdengar bunyi suara burung celepuk atau burung hantu, barulah Kakek memerintahkan harimau‐harimau peliharaannya pulang.
“Ambilkan aku kain putih, mangkuk putih, taruh air dalam mangkuk putih separuh saja, kain putih letakkan ke dinding!” Kakek mengeluarkan perintah pada saya malam itu.
Kalau tidak salah, malam itu malam Rabu kira‐kira pukul sepuluh. Apa yang diperintahkan Kakek saya kerjakan dengan senang hati.
Kakek duduk bersila di tengah pondok. Asap kemenyan dari dupa meliuk‐liuk memenuhi ruang pondok. Baunya semerbak. Kakek mengatur tujuh piring di depannya. Piring sebelah kanan ditaruh batang lengkuas, sementara di sebelah kiri ditaruh sebatang serai. Piring tengah ditaruh darah ayam yang disembelih petang tadi.
Tiba‐tiba seekor kucing hitam melompat masuk ke tengah pondok melalui pintu yang terbuka. Kucing itu melihat muka Kakek dengan tajam.
Kakek menghalaunya. Kucing itu tidak mau bergerak. Saya lihat Kakek mengeluarkan sedikit tulang‐tulang ikan dari kantung yang terletak sebelah kanannya. Kakek melemparkan tulang‐tulang ikan kering itu pada kucing hitam.
Tiba‐tiba batang lilin yang menyala padam. Saya menyalakan lilin tersebut. Saya lihat kucing hitam sudah hilang dan tempatnya diganti oleh sebungkus kain hitam. Saya kenal, kain hitam itu kepunyaan Kakek.
Kakek menyuruh saya memadamkan lampu minyak tanah. Sebatang lilin yang bercahaya dipadamkannya. Keadaan dalam rumah jadi agak samar‐samar dan sepi sekali. Bunyi katak dan cengkerik jelas kedengaran. Sayup‐sayup terdengar suara burung hantu ganas di ranting. Atap pondok bagaikan bergerak‐gerak ditiup angin. Serentak dengan itu terdengar bunyi air menimpa atap pondok.
Bulu roma saya tegak berdiri bila terdengar bunyi suara orang perempuan ketawa dan menangis tersedu‐sedu, dekat pohon tembusu di belakang pondok.
“Suara sundel bolong. Tenang cucuku. Tenang kita mencari jalan kebaikan dan bukan jalan jahat,” Bisik Kakek ke telinga saya.
Kakek tidak bergerak bila sekeping batu besar meluncur masuk ke dalam pondok. Batu itu tepat mengenai pangkal bahu kiri Kakek. Bila batu jatuh di lantai, pondok kecil bergegar .
Kakek tidak peduli. Dengan pertolongan cahaya lilin saya melihat ke pintu. Satu makhluk besar tanpa tangan tanpa kaki dan kepala berdiri di situ.
Kakek menarik wajah saya. Dia suruh saya melihat air dalam mangkuk putih. Di luar guruh bersahut‐sahutan sedangkan cuaca malam itu cukup baik.
“Jangan Pedulikan semua itu,! Sekarang kau lihat kain putih itu, apa yang kau lihat jangan kau ceritakan pada siapapun, kalau kau cerita juga akibatnya kau tanggung sendiri!”Kata Kakek.
Dia lalu menabur kemenyan di atas bara dalam dupa.
Quote:
Kakek terdiam. Lama juga Kakek termenung.
Kakek bangun berdiri di muka pintu. Tangan kanannya memegang tiang pintu. Kakek duduk kembali.
“Biasanya tuyul itu ada orang yang memeliharanya. Dia musti sepasang. Ada jantan-betinanya. Rumahmu pernah kemasukan ?”
“Pernah, dia menyerupai kucing hitam. Ketika bertemu dengan kami dia langsung menghilang.”
Dengan keterangan adik bungsunya itu, Kakek dapat menduga bahwa tuyul itu masih belum mempunyai pasangan. Dan orang yang memelihara akan berusaha mencari pasangannya.
Kakek lalu memberitahu adik bungsunya, masalah itu bisa diatasi atau dilenyapkan dengan syarat dia harus tinggal di Hulu Kuang agak lama sedikit. Untuk mencari pemilik tuyul itu memakan waktu. Memerlukan beberapa syarat yang tertentu.
“Kerjanya sulit, tapi harapan masih ada karena pemilik masih mencari pasangannya” jelas Kakek dengan tenang.
“Bagaimana caranya ?” Tanya isteri adik bungsu Kakek.
Mendengarkan pertanyaan itu, Kakek tersenyum panjang sambil memijit pangkal dagu.
“Kita tunggu kalau ada perempuan mati beranak pertama kali (sulung), baru bisa menangkap majikannya. ” Bicara Kakek itu membuat adik bungsu Kakek dan isterinya berpandangan.
Dalam kepala isteri adik bungsu Kakek mulai terbayang tentang perempuan‐perempuan di Kampung Hulu Kuang yang mengandung anak pertama. Ada lima orang semuanya.
Atas persetujuan warga kampung Hulu Kuang, Kakek diminta tinggal di kampung tersebut selama dua bulan untuk memusnahkan tuyul yang mengganggu kampung mereka.
Nasib Kakek dan saya agak baik. Baru tiga minggu di Hulu Kuang, terdengar salah seorang dari penduduk kampung itu meninggal dunia ketika melahirkan anak pertama. Anak dan ibu mati serentak. Kakek pergi ke rumah keluarga yang malang itu. Kakek turut juga menghantarkan jenazah ibu dan anak itu ke tanah pekuburan.
Tetapi begitu Kakek pulang dari tanah kubur, Kakek tidak dapat tidur sepanjang malam. Dia didatangi dengan berbagai mimpi yang mengerikan dan menakutkan. Kakek membuka kertas firasat yang dibawanya. Waktu dia membaca firasat itu Kakek mendengar suara perempuan membujuk anak yang menangis di bawah rumah.
Kakek membuka pintu. Kakek melihat satu cahaya berekor panjang naik ke udara dari tanah perkuburan.
Quote:
Kakek pun mengejutkan saya. Kalaulah bukan Kakek yang mengejutkan saya di tengah malam buta itu sudah pasti terkena sumpah serapah saya. Karena Kakek, saya tidak dapat berbuat apa‐apa. Terpaksa saya terima dengan manis muka, meskipun hati meradang dengan perbuatannya.
“Kenapa, Kek?” tanya saya sambil mengosok‐gosok kelopak mata. Kakek tersenyum sambil meraba‐raba kumis bengkoknya yang seperti tanduk banteng jantan. Sekali‐kali kumisnya turut bergerak.
“Kita sudah hampir sampai pada tujuan.”
“Tujuan apa, Kek?”
“Mencari orang yang jadi majikan tuyul.”
“Kalau Kakek paham, baguslah.”
Kakek merebahkan badannya di sisi saya.
Saya tidak sadar waktu Kakek bangun. Bila saya buka kelopak mata, Kakek sudah menyelesaikan sembahyang subuh.
Dia memaksa saya pergi ke perigi sendirian untuk mengambil air sembahyang.
Saya patuh dengannya.
Kakek tidak dapat dapat melupakan kebiasaannya berjalan di atas batu‐batuan sambil membasuh muka dan badannya dengan air embun waktu pagi.
Kakek tidak mengambil semua air embun di daun kayu untuk membasuh muka dan badannya. Dia memilih jenis daun yang tidak berduri atau gatal. Cara dia menyapu air ke muka juga agak ganjil. Dia memulai dari pangkal dagu terus ke atas hingga sampai ke akar rambut. Kemudian baru dia membasuh keningnya. Terakhir, memasukkan air ke dalam lubang hidung hingga bersin.
Kemudian Kakek akan memijak rumput hijau tujuh kali ke arah matahari naik dan enam langkah ke arah matahari terbenam.
Kebiasaannya itu dikerjakannya juga sewaktu dia berada di Ulu Kuang dekat Chemor. Apa yang Kakek lakukan saya terpaksa mengerjakannya dan Kakek berjanji, pada suatu hari kelak, bila umur saya genap dua puluh satu tahun dia akan memberi beberapa bacaan yang perlu dibaca bila mandi air embun.
Pagi itu, berjalanlah saya bersama Kakek di pinggir Kampung Ulu Kuang sambil mandi air embun. Saya berasa nyaman melihat matahari pagi dengan sinar yang kilau‐kilauan di celah‐celah pohon besar. Ketika sinar matahari itu menikam air embun di ujung daun, kelihatan bermanik‐manik dan sungguh menarik sekali.
Quote:
Damai dan terhibur hati saya mendengan bunyi kicauan burung hutan yang bermacam ragam dan bermacam rupa yang terbang dan melompat dari dahan ke dahan. Sambil berjalan Kakek memberitahu nama‐nama burung yang saya lihat.
Sewaktu matahari mula meninggi satu galah, saya dan Kakek sudah jauh meninggalkan pinggir Kampung Ulu Kuang. Kami memasuki satu jalanan kecil menuju ke arah sebuah anak bukit. Di kaki bukit itu nampak sebuah pohon berdinding tepas (bambu) dan beratapkan daun rumbia(palem). Tiangnya dari kayu hutan jenis bulat. Dalam jarak lima puluh langkah dekat halaman pondok itu Kakek berhenti berjalan.
“Kenapa, Kek?” Tanya saya ragu‐ragu.
Kakek diam. Kedua belah tangannya dilekatkan diatas dada. Kedua belah kelopak matanya dirapatkan. Kakek melangkah tujuh langkah ke depan dan berdiri diatas kedua belah tumit kakinya beberapa detik. Bila matanya terbuka dan kedua belah tangan diluruskan serta telapak kaki memijak tanah, Kakek kelihatan tersenyum.
“Memang tidak salah penglihatanku malam tadi. Cahaya dari tanah kuburan itu menuju ke sini, “Dengan tenang Kakek bersuara.
Saya jadi termangu‐mangu.
“Kita balik, kalau kita maju, kita bahaya,”
Kakek pun menarik tangan saya. Kami berputar balik menuju rumah adik Kakek.
Sepanjang jalan pulang itu Kakek tidak banyak berbicara. Dia lebih banyak memerhatikan gerak gerik rumput dan dedaunan. Saya paham benar, bila Kakek berbuat demikian artinya dia menumpahkan seluruh perhatinnya pada sesuatu benda yang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia biasa. Saya kira, pikiran dan perasaannya tertumpu ke satu alam yang lain.
Saya tidak berani bertanya padanya tentang hal itu. Saya takut dia naik darah. Kalau Kakek naik darah, saya kena maki dengan percuma. Kalau Kakek tidak maki, dia akan melototkan biji matanya sebesar telur ayam hutan.
“Jauh berjalan pagi ini?” Tanya adik Kakek begitu kami tiba di kaki tangga.
Dia baru saja melepaskan ayam di reban(kandang ayam di kolong rumah). Saya tidak menjawab kecuali tersenyum panjang.
“Seperti biasa,” balas Kakek.
Kami terus membasuh kaki dan memijak tangga naik ke rumah.
Di ruang tengah rumah sudah tersedia sarapan. Air kopi pekat dan rebus ubi kayu serta kelapa parut.
“Rumah siapa dekat belukar itu?” Kakek mengemukakan pertanyaan.
Adik Kakek terdiam mengingati sesuatu. “Rumah Kidon.”
“Orang sini juga?”
“Tidak, seperti kita juga berasal tanah seberang.”
“Orang Padang atau orang Jambi?”
Pertanyaan Kakek itu tidak segera dijawab oleh adiknya.
Saya sudah berhenti makan ubi rebus. Isteri adik Kakek sudah turun untuk pergi ke ladang. Bila pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, Kakek tidak lagi mau mengemukakan pertanyaan.
Dia terus menghirup air kopi dengan tenang.
“Dari Sumatra. Katanya keturunan Batak,” Tiba‐tiba saja adik Kakek bersuara.
“Ada bini tidak?” secara tidak sengaja saya bertanya.
Kakek melotot tajam pada saya.
“Dah mati, bininya orang Kedah, emak bapanya bininya menetap di Muara Kangsar” Menerangkan adik Kakek dengan jujur.
“Ada anak?’ Cepat‐cepat Kakek menimpali.
“Tak ada, bininya itu mati ketika melahirkan anak pertama,”
“Hummmm…,” suara Kakek perlahan. Dia menekan pipi kirinya dengan tangan kanan.
Quote:
Dengan terus‐terang Kakek menyatakan pada adiknya bahwa dia memerlukan tinggal di Ulu Kuang paling sedikit enam bulan. Kakek juga meminta adiknya membuat sebuah pondok untuk dirinya dengan alasan senang untuk beramal ibadat serta berusaha menghancurkan majikan tuyul.
Permintaan Kakek itu tidak memberatkan untuk dipenuhi oleh adiknya.
Seminggu kemudian, terpacaklah sebuah pondok baru di Ulu Kuang Chemor yang didirikan secara gotong‐royong oleh penduduk. Saya dan Kakek pun pindah ke pondok baru.
Persoalan yang tidak menyenangkan hati saya bila duduk di pondok baru ialah bila bulan purnama. Pada saat itu kelihatanlah beberapa ekor harimau besar di depan pondok. Dari atas pondok Kakek melompat ke tanah lalu bersilat dengan harimau‐harimau itu.
Jika Kakek malas turun karena badannya terlalu letih, harimau‐harimau itu akan menjulurkan ekornya dari celah lantai bambu. Kakek akan mencium atau mengurut‐urut ekor harimau itu sambil membelitkannya di lehernya.
Bila terdengar bunyi suara burung celepuk atau burung hantu, barulah Kakek memerintahkan harimau‐harimau peliharaannya pulang.
“Ambilkan aku kain putih, mangkuk putih, taruh air dalam mangkuk putih separuh saja, kain putih letakkan ke dinding!” Kakek mengeluarkan perintah pada saya malam itu.
Kalau tidak salah, malam itu malam Rabu kira‐kira pukul sepuluh. Apa yang diperintahkan Kakek saya kerjakan dengan senang hati.
Kakek duduk bersila di tengah pondok. Asap kemenyan dari dupa meliuk‐liuk memenuhi ruang pondok. Baunya semerbak. Kakek mengatur tujuh piring di depannya. Piring sebelah kanan ditaruh batang lengkuas, sementara di sebelah kiri ditaruh sebatang serai. Piring tengah ditaruh darah ayam yang disembelih petang tadi.
Tiba‐tiba seekor kucing hitam melompat masuk ke tengah pondok melalui pintu yang terbuka. Kucing itu melihat muka Kakek dengan tajam.
Kakek menghalaunya. Kucing itu tidak mau bergerak. Saya lihat Kakek mengeluarkan sedikit tulang‐tulang ikan dari kantung yang terletak sebelah kanannya. Kakek melemparkan tulang‐tulang ikan kering itu pada kucing hitam.
Quote:
Tiba‐tiba batang lilin yang menyala padam. Saya menyalakan lilin tersebut. Saya lihat kucing hitam sudah hilang dan tempatnya diganti oleh sebungkus kain hitam. Saya kenal, kain hitam itu kepunyaan Kakek.
Kakek menyuruh saya memadamkan lampu minyak tanah. Sebatang lilin yang bercahaya dipadamkannya. Keadaan dalam rumah jadi agak samar‐samar dan sepi sekali. Bunyi katak dan cengkerik jelas kedengaran. Sayup‐sayup terdengar suara burung hantu ganas di ranting. Atap pondok bagaikan bergerak‐gerak ditiup angin. Serentak dengan itu terdengar bunyi air menimpa atap pondok.
Bulu roma saya tegak berdiri bila terdengar bunyi suara orang perempuan ketawa dan menangis tersedu‐sedu, dekat pohon tembusu di belakang pondok.
“Suara sundel bolong. Tenang cucuku. Tenang kita mencari jalan kebaikan dan bukan jalan jahat,” Bisik Kakek ke telinga saya.
Kakek tidak bergerak bila sekeping batu besar meluncur masuk ke dalam pondok. Batu itu tepat mengenai pangkal bahu kiri Kakek. Bila batu jatuh di lantai, pondok kecil bergegar .
Kakek tidak peduli. Dengan pertolongan cahaya lilin saya melihat ke pintu. Satu makhluk besar tanpa tangan tanpa kaki dan kepala berdiri di situ.
Kakek menarik wajah saya. Dia suruh saya melihat air dalam mangkuk putih. Di luar guruh bersahut‐sahutan sedangkan cuaca malam itu cukup baik.
“Jangan Pedulikan semua itu,! Sekarang kau lihat kain putih itu, apa yang kau lihat jangan kau ceritakan pada siapapun, kalau kau cerita juga akibatnya kau tanggung sendiri!”Kata Kakek.
Dia lalu menabur kemenyan di atas bara dalam dupa.
Diubah oleh mufidfathul 07-04-2017 04:02
ciptoroso memberi reputasi
1
Kutip
Balas
Tutup