- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.7K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#209
Part 8 - Bak Pertir Di Siang Bolong
Part 8 - Bak Petir Di Siang Bolong
Quote:
Perlahan lahan kuperhatikan wajah wajah wanita wanita ini. Aku sampai hati tidak tega melihat mereka. Aku membayangkan nasib mereka yang masih muda harus mengalami peristiwa ini, terlebih lagi terhadap Yani, Lidya dan Setiani yang sudah memiliki anak dan suami. Bagaimana nanti nasib anak anak mereka tanpa ibu mereka disisi mereka, ah aku tak sanggup membayangkannya.sempat terlintas niat jahatku terhadap mereka dalam keadaan seperti ini, aku pikir karena sudah memiliki suami mungkin tidak akan ada jejak kejahatanku. Tapi, tak sanggup aku melakukannya karena aku teringat karma akan berlaku dikemudian hari.
Mereka tertidur pulas dengan sisa sisa air mata yang masih menempel dipipi mereka. Sementara itu aku teringat akan peralatanku di tas yang aku gantungkan dikakiku. Aku sadar tas itu tidak ada lagi. Kemana pikirku, tak mungkin aku lepaskan di tenda mereka tadi. Terjatuhkah tapi tak mungkin karena tas itu terikat cukup kuat. Dengan tas itu mungkin saja aku dapat menyalakan radio telepon portabel buatanku untuk memanggil bala bantuan. Entah siapa saja dalam jangkauannya aku ingin seseorang mendengarku dan datang menolong kami.
Mereka tertidur pulas dengan sisa sisa air mata yang masih menempel dipipi mereka. Sementara itu aku teringat akan peralatanku di tas yang aku gantungkan dikakiku. Aku sadar tas itu tidak ada lagi. Kemana pikirku, tak mungkin aku lepaskan di tenda mereka tadi. Terjatuhkah tapi tak mungkin karena tas itu terikat cukup kuat. Dengan tas itu mungkin saja aku dapat menyalakan radio telepon portabel buatanku untuk memanggil bala bantuan. Entah siapa saja dalam jangkauannya aku ingin seseorang mendengarku dan datang menolong kami.
--------------------------------
Quote:
Kedua tentara muda yang berhasil kembali ke markas mereka itu masih dalam keadaan terkejut. Mereka disambut dengan tidak hormat layaknya prajurit yang desersi atau melarikan diri dari tugas. Niat mereka menjumpai komandan markas pun tersampaikan. Dengan kawalan petugas Polisi Militer, kedua tentara itu menjumpai Jenderal bintang satu pimpinan mereka. Tapi, tangan mereka telah diborgol dengan erat karena para Polisi Militer tersebut tidak serta merta percaya akan cerita mereka berdua. Terlebih lagi wajah mereka seperti orang kebingungan layaknya seorang pria terkena minuman keras dan mengoceh tak karuan. Tapi, tak mungkin juga mereka lari karena berada di sarang mereka sendiri dengan penjagaan cukup ketat dimasanya.
20 menit mereka bercerita di dalam ruangan sang Jenderal. Dengan disaksikan beberapa perwira militer sang kaki dan tangan Jenderal yang telah menaruh rasa amarah kepada kedua tentara muda ini. Sang Jenderal mengambil nafas panjang, dia masih tak percaya dengan cerita mereka. Lantas sang Jenderal menyuruh salah satu perwira menyambungkan komunikasi radio mereka ke ruangannya. Percobaan menghubungi pasukan tadi pun dilakukan. Tapi hanya suara statis dan tanpa jawaban seseorang diujung radio. Berkali kali perwira komunikasi memperbaiki saluran namun tetap sama, nihil hasilnya. Pria Sulawesi yang telah meraih gelar Jenderalnya setelah perang kemerdekaan RI tersebut berpikir panjang. Berat rasanya mengirimkan pasukan lagi tapi harus untuk mencari jawaban akan nasib mereka.
20 menit mereka bercerita di dalam ruangan sang Jenderal. Dengan disaksikan beberapa perwira militer sang kaki dan tangan Jenderal yang telah menaruh rasa amarah kepada kedua tentara muda ini. Sang Jenderal mengambil nafas panjang, dia masih tak percaya dengan cerita mereka. Lantas sang Jenderal menyuruh salah satu perwira menyambungkan komunikasi radio mereka ke ruangannya. Percobaan menghubungi pasukan tadi pun dilakukan. Tapi hanya suara statis dan tanpa jawaban seseorang diujung radio. Berkali kali perwira komunikasi memperbaiki saluran namun tetap sama, nihil hasilnya. Pria Sulawesi yang telah meraih gelar Jenderalnya setelah perang kemerdekaan RI tersebut berpikir panjang. Berat rasanya mengirimkan pasukan lagi tapi harus untuk mencari jawaban akan nasib mereka.
------------------------------------
Quote:
Berangkatlah pasukan yang lebih besar ke tempat tersebut, kedua tentara muda yang telah dilepaskan borgolnya menunjukkan jalan. Percobaan percobaan menghubungi pasukan tersebut tetap dilakukan disepanjang jalan yang merka lalui. Sang Jenderal tetap memonitor kegiatan mereka setiap 20 menit sekali lewat radio untuk mencegah semakin banyak berkurangnya anak buahnya oleh apa yang mereka duga sebagai “musuh”. Pagi ini mereka benar benar bersiap tempur penuh untuk tak mengulangi peristiwa hari sebelumnya. Tampak wajah wajah pasukan tersebut penuh kekhawatiran dan juga ketakutan. Setelah 5 jam perjalanan yang dimulai subuh pagi, mereka pun sampai.
Kali ini mereka meringsek masuk perlahan dengan mulut terus berkomat kamit tanpa henti seperti membaca puluhan doa tanpa henti. Dan mereka pun dikejutkan dengan pemandangan aneh. Puluhan senjata api laras pendek dan panjang tergeletak begitu saja di tanah. Beberapa buah jeep militer dan sebuah panser yang telah terbalik diam begitu saja. Tak ada siapapun disana bahkan jejak jejak darah pun tidak ada. Tapi, masih jelas tersisa kehancuran semak bwlukar dan pepohonan yang telah ditinggalkan. Belasan batang pohon patah dan tumbang rubuh ke tanah. Daun daun yang berguguran karena tembakan menutupi tanah. Ranting ranting dan dahan pohon masih tetap tergeletak di tanah.
Hal ini mereka sampaikan ke Jenderal mereka dan sang Jenderal memerintahkan mencari mereka tak jauh dari tempat itu. Berpencarlah pasukan tersebut mencari teman teman mereka yang sudah hilang terlebih dahulu. 2 jam pencarian tak membuahkan hasil, mereka pun lantas menyimpulkan bahwa teman teman mereka sudah terlebih dahulu desersi. Dengan cepat mereka mengemasi persenjataan dan kendaraan yang telah ditinggalkan untuk dibawa kembali pulang ke markas dari tempat itu. Mereka sepakat bahwa ini bukan urusan manusia lagi. Tanpa memeperdulikan nasib temana teman mereka, pasukan tersebut pulang ke markas tersebut. kedua tentara muda ini pun diperlakukan kembali dengan normal tak seperti sebelumnya. Tampak wajah sang Jenderal masih kesal dan marah bercampur bingung dan penasaran, tapi apa daya karena dia yakin dia sudah melakukan yang terbaik.
Kali ini mereka meringsek masuk perlahan dengan mulut terus berkomat kamit tanpa henti seperti membaca puluhan doa tanpa henti. Dan mereka pun dikejutkan dengan pemandangan aneh. Puluhan senjata api laras pendek dan panjang tergeletak begitu saja di tanah. Beberapa buah jeep militer dan sebuah panser yang telah terbalik diam begitu saja. Tak ada siapapun disana bahkan jejak jejak darah pun tidak ada. Tapi, masih jelas tersisa kehancuran semak bwlukar dan pepohonan yang telah ditinggalkan. Belasan batang pohon patah dan tumbang rubuh ke tanah. Daun daun yang berguguran karena tembakan menutupi tanah. Ranting ranting dan dahan pohon masih tetap tergeletak di tanah.
Hal ini mereka sampaikan ke Jenderal mereka dan sang Jenderal memerintahkan mencari mereka tak jauh dari tempat itu. Berpencarlah pasukan tersebut mencari teman teman mereka yang sudah hilang terlebih dahulu. 2 jam pencarian tak membuahkan hasil, mereka pun lantas menyimpulkan bahwa teman teman mereka sudah terlebih dahulu desersi. Dengan cepat mereka mengemasi persenjataan dan kendaraan yang telah ditinggalkan untuk dibawa kembali pulang ke markas dari tempat itu. Mereka sepakat bahwa ini bukan urusan manusia lagi. Tanpa memeperdulikan nasib temana teman mereka, pasukan tersebut pulang ke markas tersebut. kedua tentara muda ini pun diperlakukan kembali dengan normal tak seperti sebelumnya. Tampak wajah sang Jenderal masih kesal dan marah bercampur bingung dan penasaran, tapi apa daya karena dia yakin dia sudah melakukan yang terbaik.
--------------------------------
Quote:
Warga kampungku bermusyawarah sore harinya dengan penuh tanda tanya. Hujan yang turun membasuh bumi menghalangi niat Ayahku yang sudah sangat penasaran akan kondisiku untuk pergi terlebih dahulu bersama Ayah teman temanku juga. Pak Kepling tak mampu berkata banyak karena ini seperti diluar pengetahuannya. Sementara itu, Iryawan yang merupakan petugas radio CB kami yang tetap stand by di kampungku masih terus memanggil manggil menggunakan radio CB di mobilnya. Berbagai percobaan telah dilakukannya termasuk menggunakan radio CB dari mobil lain memanggil kami juga. tapi hasilnya tetap sama, nihil.
Warga yang berkumpul di rumah Pak Kepling memilih menunggu kedatangan anggota TNI POLRI yang merupakan mitra bhabinkamtibmas kampungku. Disaat saat seperti ini, mereka menjadi andalan warga kampungku seperti peristiwa pencurian ternak kambing setahun yang lalu. Para pencuri itu datang dengan mobil pick up dan mereka bersenjatakan senjata api laras pendek. Kami warga desa yang sudah emosi akibat terlalu sering menjadi mangsa para pencuri ternak sudah memmergokinya namun apa daya ketika sebuah tembakan dari para pencuri itu membubarkan kami. Namun, yang tak disangka sangka datang. Bapak Bapak TNI POLRI mitra bhabinkamtibmas kampungku datang membantu dan membalas tembakan para pencuri itu. Dua pencuri itu pun tewas terkena timah panas petugas, sementara dua rekannya berusaha kabur namun menjadi santapan empuk kami.
Ditengah tengah hujan yang deras, mereka pun tiba di rumah Pak Kepling. Mereka langsung mendengarkan cerita dari Iryawan sang operator radio CB. Begitu juga dari derita dari Pak Kepling. Wajah wajah mereka tampak kaget dan penuh rasa penasaran berbeda dengan wajah wajah orang kampungku yang sudah ketakutan. Hingga pukul delapan malam musywarah itu selesai dan dtelah ditarik kesimpulan. Keeseokan harinya akan ada dua pasukan TNI POLRI yang turun ke kampungku untuk menyusul kami ditambah bantuan dari BNPB dan SAR. Tak ketinggalan juga anak anak MAPALA USU dan UNIMED teman teman akrab para mahasiswa ini akan membantu karena malam ini mereka akan sampai di kampungku. Iryawan memanggil mereka juga untuk menolong kami yang sudah kehilangan kontak.
Warga yang berkumpul di rumah Pak Kepling memilih menunggu kedatangan anggota TNI POLRI yang merupakan mitra bhabinkamtibmas kampungku. Disaat saat seperti ini, mereka menjadi andalan warga kampungku seperti peristiwa pencurian ternak kambing setahun yang lalu. Para pencuri itu datang dengan mobil pick up dan mereka bersenjatakan senjata api laras pendek. Kami warga desa yang sudah emosi akibat terlalu sering menjadi mangsa para pencuri ternak sudah memmergokinya namun apa daya ketika sebuah tembakan dari para pencuri itu membubarkan kami. Namun, yang tak disangka sangka datang. Bapak Bapak TNI POLRI mitra bhabinkamtibmas kampungku datang membantu dan membalas tembakan para pencuri itu. Dua pencuri itu pun tewas terkena timah panas petugas, sementara dua rekannya berusaha kabur namun menjadi santapan empuk kami.
Ditengah tengah hujan yang deras, mereka pun tiba di rumah Pak Kepling. Mereka langsung mendengarkan cerita dari Iryawan sang operator radio CB. Begitu juga dari derita dari Pak Kepling. Wajah wajah mereka tampak kaget dan penuh rasa penasaran berbeda dengan wajah wajah orang kampungku yang sudah ketakutan. Hingga pukul delapan malam musywarah itu selesai dan dtelah ditarik kesimpulan. Keeseokan harinya akan ada dua pasukan TNI POLRI yang turun ke kampungku untuk menyusul kami ditambah bantuan dari BNPB dan SAR. Tak ketinggalan juga anak anak MAPALA USU dan UNIMED teman teman akrab para mahasiswa ini akan membantu karena malam ini mereka akan sampai di kampungku. Iryawan memanggil mereka juga untuk menolong kami yang sudah kehilangan kontak.
----------------------------------------
Quote:
Pagi menjelang dan matahari sudah bersinar cerah. Kelima wanita ini perlahan lahan kubangunkan dari tidur mereka. Wajah wajah mereka langsung kaget begitu melihat aku didepan mereka. Mereka pun sadar kalau mereka masih tetap di hutan bersamaku. “Di, bagaimana ini? Apa kita harus pergi dari sini?” wajah Cut yang pasrah membuatku bingung juga. “Aku aku aku... Aku bingung Bu. Aku sendiri juga tidak tahu kita dimana” jawabku lirih. Kami berenam terpaku terdiam duduk saling mengelilingi. Tiba tiba angin berhembus kencang. Dingin sekali menusuk kulit kami yang membuat kami saling erat berdekatan. Mereka pun tak sungkan lagi untuk menempelkan badan mereka ke tubuhku. Tak kuhiraukan lagi apa yang terjadi meskipun aku dapat merasakan buah dada mereka menempel dilengan dan punggungku.
Tiba tiba saja dari kejauhan tampak seseorang datang kearah kami. Seperti seorang wanita yang berjalan perlahan lembut sekali. Tidak mungkin! Itu dia si tuan putri itu! Langsung saja kelima wanita disekelilingku menundukkan wajah mereka dan mulai menangis perlahan. Sementara itu sang tuan putri terus mendekat kearah kami. Perlahan lahan tampak jelas pakaiannya yang indah, selendang hijau keemasan yang menjulur panjang ketanah. Badannya yang langsing dibalut dengan pakaian tradisionalnya tapi menonjolkan buah dadanya yang padat dan membentuk liukan tubuhnya sangat jelas terlihat. Wajahnya sangat ramah dan senyumannya lebar kearahku. Tepat hanya 3 meter di depan kami dia pun berhenti. Kali ini kakinya menyentuh tanah tidak seperti kemarin.
“Apa apa maumu? Kenapa kami harus seperti ini?” tanyaku perlahan dengan penuh emosi. “Aldi, aku terpaksa tapi harus. Hanya dengan inilah mungkin kamu bisa membantu mereka” jawab tuan putri itu. Kelima mahasiswi itu perlahan lahan menaikkan wajah mereka melihat kearah tuan putri itu. “Tak apa apa, jangan takut. Aku hanya minta bantuan kalian” sambung tuan putri itu. “Lalu dimana teman temanku, sahabatku dan yang lainnya?” tanyaku memberanikan diri mencoba berdiri yang tetap ditahan oleh mereka. Tapi aku tetap berdiri dan saling berhadapan dengan tuan putri itu. Aku mendekatinya hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya bahkan puting susunya terlihat samar samar dibalik balutan kain yang menutup kedua buah dadanya.
“Mereka tidak apa apa. Mereka masih hidup. Jiwa kalian semua yang kubawa kemari”sambungnya. Apa? Tidak mungkin? Gila? Bak disambar petir, jawabannya membuatku lemas tak berdaya. Aku kaget bukan main, lantas tubuhku dimana? Bagaimana jika jiwa kami tak kembali? “Tolomg kembalikan kami seperti semula” pintaku sembari melihat ke arah mereka yang sudah mulai meneteskan air mata. Wajah mereka seperti tanpa harapan akan dapat hidup kembali. Mereka sudah pasrah, siap mati namun masih tidak rela. “Kenapa... Kenapa harus mereka? Kenapa mereka ikut juga? Mereka tidak tahu apa apa bukan?” nadaku datar sambil menunjuk kelima wanita dibelakangku. “Bantu mereka, bimbing mereka menuju cahaya”. “Siapa itu mereka?” “Mereka rakyatku, masih ingat kamu penampakan kemarin hari? Seorang Ibu yang tengah mengandung akan melahirkan?” tanya dia dengan wajah memelas. “Ya, aku masih ingat”. “Dia itu Ibuku”, jawabannya langsung mengagetkanku. Rasa lemas menjalar tambah kuat disekujur tubuhku. Tanganku gemetar, seperti orang terkena parkinson.
“Lalu, mengapa kau tunjukkan padaku semua ini? Apa maksudmu tuan putri?” hardikku kepadanya. “Tenanglah, kamu itu pria baik. Aku tahu kamu bisa membantu rakyatku” sambungnya lagi. “Kemarilah, jangan takut” sambungnya lagi. Aku seperti tertarik maju mendekatinya, tak kuasa badanku menolak perintahnya. Sesampainya aku didepannya, dia langsung memeluk erat tubuhku. Sontak saja aku kaget bukan main, aku dipeluk hantu! Meskipun dia cantik aku sadar dia bukan manusia. Kelima wanita dibelakangku hanya bisa terpana melihat pemandangan ini tepat terjadi dihadapan mereka. Perasaan mereka campur aduk, antara takut dengan penasaran bahkan bingung. “Lepaskan aku, tolong lepaskan aku” pintaku memelas kepada tuan putri itu. “Sebentar lagi” jawabnya perlahan dengan nada seperti merindukan seseorang.
Perlahan lahan tanpa sadar tuan putri itu merubah posisi tangannya dipunggungku. Wajahnya kini bertatapan langsung dengan wajahku. Hidung kami saling menempel. Lalu bibirnya perlahan maju menuju bibirku mencium bibirku perlahan lahan. Lalu dia menurunkan wajahnya bersandar didadaku. Rambutnya yang wangi menusuk tajam hidungku. Buah dadanya yang besar terasa sangat padat menempel ditubuhku. Meskipun dia hanya hantu, tapi apa yang kualami sekarang ini terasa sangat nyata. Pelukannya seperti merindukan seseorang yang dia cintai. Tapi kenapa harus aku? Perlahan lahan dia menaikkan kembali wajahnya. Bibirnya terbuka dan “Di, cumbu aku...”. Petir terasa menyambarku, aku kaget semakin bukan main. “Kenapa? Kenapa? Harus aku?” tanyaku lirih. Tiba tiba saja dia melepaskan pelukan ini dan melayang mundur beberapa meter kebelakang. “Maaf Aldi, aku minta maaf” dan dia pun menghilang sambil menangis.
Tiba tiba saja dari kejauhan tampak seseorang datang kearah kami. Seperti seorang wanita yang berjalan perlahan lembut sekali. Tidak mungkin! Itu dia si tuan putri itu! Langsung saja kelima wanita disekelilingku menundukkan wajah mereka dan mulai menangis perlahan. Sementara itu sang tuan putri terus mendekat kearah kami. Perlahan lahan tampak jelas pakaiannya yang indah, selendang hijau keemasan yang menjulur panjang ketanah. Badannya yang langsing dibalut dengan pakaian tradisionalnya tapi menonjolkan buah dadanya yang padat dan membentuk liukan tubuhnya sangat jelas terlihat. Wajahnya sangat ramah dan senyumannya lebar kearahku. Tepat hanya 3 meter di depan kami dia pun berhenti. Kali ini kakinya menyentuh tanah tidak seperti kemarin.
“Apa apa maumu? Kenapa kami harus seperti ini?” tanyaku perlahan dengan penuh emosi. “Aldi, aku terpaksa tapi harus. Hanya dengan inilah mungkin kamu bisa membantu mereka” jawab tuan putri itu. Kelima mahasiswi itu perlahan lahan menaikkan wajah mereka melihat kearah tuan putri itu. “Tak apa apa, jangan takut. Aku hanya minta bantuan kalian” sambung tuan putri itu. “Lalu dimana teman temanku, sahabatku dan yang lainnya?” tanyaku memberanikan diri mencoba berdiri yang tetap ditahan oleh mereka. Tapi aku tetap berdiri dan saling berhadapan dengan tuan putri itu. Aku mendekatinya hingga aku bisa mencium aroma tubuhnya bahkan puting susunya terlihat samar samar dibalik balutan kain yang menutup kedua buah dadanya.
“Mereka tidak apa apa. Mereka masih hidup. Jiwa kalian semua yang kubawa kemari”sambungnya. Apa? Tidak mungkin? Gila? Bak disambar petir, jawabannya membuatku lemas tak berdaya. Aku kaget bukan main, lantas tubuhku dimana? Bagaimana jika jiwa kami tak kembali? “Tolomg kembalikan kami seperti semula” pintaku sembari melihat ke arah mereka yang sudah mulai meneteskan air mata. Wajah mereka seperti tanpa harapan akan dapat hidup kembali. Mereka sudah pasrah, siap mati namun masih tidak rela. “Kenapa... Kenapa harus mereka? Kenapa mereka ikut juga? Mereka tidak tahu apa apa bukan?” nadaku datar sambil menunjuk kelima wanita dibelakangku. “Bantu mereka, bimbing mereka menuju cahaya”. “Siapa itu mereka?” “Mereka rakyatku, masih ingat kamu penampakan kemarin hari? Seorang Ibu yang tengah mengandung akan melahirkan?” tanya dia dengan wajah memelas. “Ya, aku masih ingat”. “Dia itu Ibuku”, jawabannya langsung mengagetkanku. Rasa lemas menjalar tambah kuat disekujur tubuhku. Tanganku gemetar, seperti orang terkena parkinson.
“Lalu, mengapa kau tunjukkan padaku semua ini? Apa maksudmu tuan putri?” hardikku kepadanya. “Tenanglah, kamu itu pria baik. Aku tahu kamu bisa membantu rakyatku” sambungnya lagi. “Kemarilah, jangan takut” sambungnya lagi. Aku seperti tertarik maju mendekatinya, tak kuasa badanku menolak perintahnya. Sesampainya aku didepannya, dia langsung memeluk erat tubuhku. Sontak saja aku kaget bukan main, aku dipeluk hantu! Meskipun dia cantik aku sadar dia bukan manusia. Kelima wanita dibelakangku hanya bisa terpana melihat pemandangan ini tepat terjadi dihadapan mereka. Perasaan mereka campur aduk, antara takut dengan penasaran bahkan bingung. “Lepaskan aku, tolong lepaskan aku” pintaku memelas kepada tuan putri itu. “Sebentar lagi” jawabnya perlahan dengan nada seperti merindukan seseorang.
Perlahan lahan tanpa sadar tuan putri itu merubah posisi tangannya dipunggungku. Wajahnya kini bertatapan langsung dengan wajahku. Hidung kami saling menempel. Lalu bibirnya perlahan maju menuju bibirku mencium bibirku perlahan lahan. Lalu dia menurunkan wajahnya bersandar didadaku. Rambutnya yang wangi menusuk tajam hidungku. Buah dadanya yang besar terasa sangat padat menempel ditubuhku. Meskipun dia hanya hantu, tapi apa yang kualami sekarang ini terasa sangat nyata. Pelukannya seperti merindukan seseorang yang dia cintai. Tapi kenapa harus aku? Perlahan lahan dia menaikkan kembali wajahnya. Bibirnya terbuka dan “Di, cumbu aku...”. Petir terasa menyambarku, aku kaget semakin bukan main. “Kenapa? Kenapa? Harus aku?” tanyaku lirih. Tiba tiba saja dia melepaskan pelukan ini dan melayang mundur beberapa meter kebelakang. “Maaf Aldi, aku minta maaf” dan dia pun menghilang sambil menangis.
Diubah oleh fandi.bin.stres 01-04-2017 05:59
erman123 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas