- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.5K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#171
Part 7 - Dan Bencana Pun Dimulai
Part 7 - Dan Bencana Pun Dimulai
Quote:
Januari 1966, sepasukan tentara meringsek masuk kedalam hutan. Mereka bersenjatakan lengkap, mulai dari senjata api laras pendek hingga mortir bahkan membawa juga senjata api mesin. Tak ketinggalan puluhan kotak amunisi yang berbeda ukuran mereka bawa. Wajah wajah mereka tampak begitu waspada. Penuh dengan kehati hatian akan kondisi sekitarnya. Langkah kaki mereka seakan tak terhenti memburu target mereka. Semua persiapan yang mereka lakukan tak lain dan tak bukan pasti atas perintah atasan mereka. Perintah mereka jelas dan tanpa ragu untuk memburu pejabat senior, staf, anggota dan simpatisan partai terlarang bersimbol palu arit yang telah menumpahkan darah sembilan jenderal ke dalam sebuah lubang dalam keadaan tragis.
Wajah wajah garang tak bersahaja itu berbaris maju terus tanpa henti meskipun teriknya panas menyengat. RPKAD(Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat), badge simbol korps mereka. Beberapa mobil jeep sisa rampasan perang kemerdekaan dari Jepang tampak sebagai kendaraan tempur andalan mereka. Sebuah panser tahun 1930 buatan Belanda tampak dibelakang mereka menyusul mereka mengangkut amunisi dan perbekalan mereka. Tiba tiba saja langkah kaki mereka terhenti seperti terhadang oleh sesuatu. Sebuah penampakan bayangan terlihat oleh mereka, seperti berlari sekencang kencangnya diantara rimbunan dedaunan.
Tanpa komando, suara tembakan pertama meraung ditengah kesunyian hutan mengawali serentetan tembakan lainnya. Ratusan peluru terlontar dari moncong senjata ke segala arah. Mortir dan granat pun meluncur dari tengah tengah pasukan ke depan. Menghantam permukaan tanah dengan sangat keras menyebabkan lubang yang begitu besar. Ranting, dahan dan cabang cabang pepohonan tercabik cabik patah terbang ke segala arah merontokkan dedaunannya. Batang batang besar pohon terluka akibat hantaman timah panas yang keluar dari moncong senjat mereka. Pasukan itu mengerahkan kemapuan penuhnya.
Wajah wajah garang tak bersahaja itu berbaris maju terus tanpa henti meskipun teriknya panas menyengat. RPKAD(Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat), badge simbol korps mereka. Beberapa mobil jeep sisa rampasan perang kemerdekaan dari Jepang tampak sebagai kendaraan tempur andalan mereka. Sebuah panser tahun 1930 buatan Belanda tampak dibelakang mereka menyusul mereka mengangkut amunisi dan perbekalan mereka. Tiba tiba saja langkah kaki mereka terhenti seperti terhadang oleh sesuatu. Sebuah penampakan bayangan terlihat oleh mereka, seperti berlari sekencang kencangnya diantara rimbunan dedaunan.
Tanpa komando, suara tembakan pertama meraung ditengah kesunyian hutan mengawali serentetan tembakan lainnya. Ratusan peluru terlontar dari moncong senjata ke segala arah. Mortir dan granat pun meluncur dari tengah tengah pasukan ke depan. Menghantam permukaan tanah dengan sangat keras menyebabkan lubang yang begitu besar. Ranting, dahan dan cabang cabang pepohonan tercabik cabik patah terbang ke segala arah merontokkan dedaunannya. Batang batang besar pohon terluka akibat hantaman timah panas yang keluar dari moncong senjat mereka. Pasukan itu mengerahkan kemapuan penuhnya.
--------------------------------
Quote:
“Tahan tembakan!” teriak sang komandan pasukan. “Kalian berdua maju ke depan, lihat sasaran kita!” perintah sang komandan menunjuk dua orang prajurit muda didepan pasukan agar maju kedepan mengecek keadaan. Kedua pemuda berkulita hitam tersebut lari dengan senjata laras panjang dengan bayonet dimoncongnya menghunus kedepan. Tatapan mata mereka penuh kewaspadaan bahkan berkedip pun tidak. “Aarrrggghhhhhhhhhhhh!!!” kedua pemuda Jawa itu berteriak sekencang kencangnya memenuhi kesunyian pasca tembakan senjata mereka terhenti. Seluruh pasukan diliputi rasa cemas dan takut karena teriakan mereka berdua. Bukan tanpa sebab, teriakan mereka berdua seperti menghadapi malaikat maut dengan cepat.
“Maju Pak?” tanya sang pengemudi jeep ke komandannya. Wajah sang komandan masih ragu dan bimbang namun penuh seribu tanda tanya akan nasib kedua orang anggotanya. Tanpa ragu, sang komandan memerintahkan semuanya maju tanpa henti. “Maju, semuanya! Siaga senjata! Tembak apapun yang bergerak!” perintah sang komandan yang disusul langkah kaki dan deru kendaraan meringsek maju kedepan menyusul kedua rekan mereka yang sedari tadi sudah maju terlebih dahulu. Tiba tiba saja raungan senjata saling bersahutan diantara mereka. Teriakan teriakan pasrah ketakutan mereka saling bersahutan dengan letusan peluru. Ledakan granat pun menyusul diantara rimbunan pepohonan. Mobil mobil jeep dan panser pasukan tersebut berjalan maju tanpa henti menghantam pohon dan berhenti. Dua diantara mobil tersebut terbalik hingga roda diatas.
Sunyi mencekam tanpa adanya suara seseorang. Bahkan langkah kakipun tidak terdengar. Deru mesin kendaraan mereka pun hilang. Puluhan pucuk senjata tergeletak begitu saja ditanah. Kotak kotak amunisi yang kosong dan terisi bertebaran. Keadaan yang tadi sangat gaduh penuh tembakan, ledakan dan teriakan hilang ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang terlihat, bahkan mayat mayat pun tak ada. Jejak jejak tetesan darah pun tidak terlihat. Tiba tiba saja dua orang pasukan tanpa senjata muncul dari titik awal pemberhentian mereka sebelum kontak senjata itu terjadi. Mereka diam ketakutan, wajahnya pucat pasi seputih susu melihat apa yang terjadi pada rekan rekan mereka. Entah apa yang merasuki mereka, mereka pun langsung memutar langkah kaki mereka menuju arah pertama mereka datang. Apapun yang mereka baru saja lihat bukan merupakan hal yang normal bagi manusia biasa. Kedua pemuda Jawa tersebut berhasil lembali ke markas utama mereka dan memanggil bala bantuan.
“Maju Pak?” tanya sang pengemudi jeep ke komandannya. Wajah sang komandan masih ragu dan bimbang namun penuh seribu tanda tanya akan nasib kedua orang anggotanya. Tanpa ragu, sang komandan memerintahkan semuanya maju tanpa henti. “Maju, semuanya! Siaga senjata! Tembak apapun yang bergerak!” perintah sang komandan yang disusul langkah kaki dan deru kendaraan meringsek maju kedepan menyusul kedua rekan mereka yang sedari tadi sudah maju terlebih dahulu. Tiba tiba saja raungan senjata saling bersahutan diantara mereka. Teriakan teriakan pasrah ketakutan mereka saling bersahutan dengan letusan peluru. Ledakan granat pun menyusul diantara rimbunan pepohonan. Mobil mobil jeep dan panser pasukan tersebut berjalan maju tanpa henti menghantam pohon dan berhenti. Dua diantara mobil tersebut terbalik hingga roda diatas.
Sunyi mencekam tanpa adanya suara seseorang. Bahkan langkah kakipun tidak terdengar. Deru mesin kendaraan mereka pun hilang. Puluhan pucuk senjata tergeletak begitu saja ditanah. Kotak kotak amunisi yang kosong dan terisi bertebaran. Keadaan yang tadi sangat gaduh penuh tembakan, ledakan dan teriakan hilang ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang terlihat, bahkan mayat mayat pun tak ada. Jejak jejak tetesan darah pun tidak terlihat. Tiba tiba saja dua orang pasukan tanpa senjata muncul dari titik awal pemberhentian mereka sebelum kontak senjata itu terjadi. Mereka diam ketakutan, wajahnya pucat pasi seputih susu melihat apa yang terjadi pada rekan rekan mereka. Entah apa yang merasuki mereka, mereka pun langsung memutar langkah kaki mereka menuju arah pertama mereka datang. Apapun yang mereka baru saja lihat bukan merupakan hal yang normal bagi manusia biasa. Kedua pemuda Jawa tersebut berhasil lembali ke markas utama mereka dan memanggil bala bantuan.
---------------------------
Quote:
Puluhan kerangka yang kami temukan keadaannya sangat miris sekali. Beberapa kerangka terlihat bagian tengkorak kepalanya ada yang berlubang dengan berbagai ukuran, ada yang terbelah dari berbagai sisi bahkan ada yang hancur remuk seperti kepala manusia terlindas ban truck trailer beroda 20. Di beberapa bagian kerangka lainnya terlihat beberapa tulang sudah retak, patah bahkan remuk total dan yang lebih buruknya tampak seperti dipotong hidup hidup. Bukan hanya satu kerangka saja yang mengalaminya. Tapi hampir semuanya dan ini merupakan tanda tanda bahwa mereka mengalami sebuah kejadian peristiwa yang mengerikan sebelum mereka mati. Dari berbagai bentuk kerusakan kerangkanya dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa mereka terlindas ataupun tergiling hidup hidup oleh ban truck pengangkut peti kemas ataupun dump truck. Tapi, tak mungkin sebab dimasa mereka mati yang dilihat dari tebalnya lapisan tanah mereka terkubur, belum ada kendaraan seperti itu.
Kedalaman lapisan tanah tempat mereka beristirahat sampai kami temukan memang tidak sampai satu meter. Tapi itu adalah rata rata kedalamannya karena di beberapa bagian ada yang sampai satu meter, setengah meter, 30 cm, bahkan hanya beberapa cm saja. Hal ini menandakan bahwa rentang waktu kematian mereka tak lebih dari kisaran waktu 100 tahun saja. “Pak, perasaan kami tak enak ini” ucap Jali lirih, salah seorang pemuda kampungku ke para arkeolog. “Tidak apa apa kok. Kita kan disini untuk menyelidiki mereka. Siapa tahu kita bisa membantu mereka” sambung Pak Usman enteng. Tampak wajah wajah pemuda kampungku yang ikut serta sudah mulai pucat pasi bahkan aku sudah mendengar beberapa akan merencanakan makar alias turun gunung diam diam. Tapi, pikiranku seperti berkata lain yang mungkin malam ini bisa menjadi malam terakhir kami.
Kedalaman lapisan tanah tempat mereka beristirahat sampai kami temukan memang tidak sampai satu meter. Tapi itu adalah rata rata kedalamannya karena di beberapa bagian ada yang sampai satu meter, setengah meter, 30 cm, bahkan hanya beberapa cm saja. Hal ini menandakan bahwa rentang waktu kematian mereka tak lebih dari kisaran waktu 100 tahun saja. “Pak, perasaan kami tak enak ini” ucap Jali lirih, salah seorang pemuda kampungku ke para arkeolog. “Tidak apa apa kok. Kita kan disini untuk menyelidiki mereka. Siapa tahu kita bisa membantu mereka” sambung Pak Usman enteng. Tampak wajah wajah pemuda kampungku yang ikut serta sudah mulai pucat pasi bahkan aku sudah mendengar beberapa akan merencanakan makar alias turun gunung diam diam. Tapi, pikiranku seperti berkata lain yang mungkin malam ini bisa menjadi malam terakhir kami.
-------------------------------
Quote:
Langit terlihat gelap, awan mendung terus mendekat kearah kami. Gumpalan awan awan tersebut seperti membawa jumlah air yang cukup banyak. Dari kejauhan sayup sayup terdengar petir saling bersahutan. Kilatan kilatan petir di atas sana samar samar terlihat dari tempat kami berdiri menandakan bahwa hujan kali ini cukup deras. Tak berapa lama tetes demi tetes hujan turun menghantam kami yang lambat laun turun semakin deras. Hujan ini berhasil membuat kami berhenti dan beranjak menuju tenda masing masing mencari perlindungan. Karena paniknya aku berusaha menghindari hujan, tak sengaja aku masuk ke tenda para wanita tersebut. “Aduh, Bu sepertinya saya salah masuk tenda ini. Saya minta maaf” ucapku memulai pembicaraan ditengah tengah mereka dalam kondisi cuaca seperti ini. “Gak papa Di, namanya hujan. Ya pasti panik memang” jawab Mutiya.
Aku memilih duduk didekat pintu tenda sembari terus mengintip keluar ke arah derasnya tetesan air hujan yang datang bersama angin kencang diiringi kilatan petir yang saling bersahutan. Terdengar telingaku mereka membicarakan gaya hidup pria Indonesia dengan wanita wanita bule itu. Sementara itu di mobil komunikasi, Pak Tejo mencoba berkomunikasi dengan Base Station di kampung. Berulang kali dia memanggil lewat radio namun tak ada jawaban hanya suara statis yang terdengar terus menerus. Sepertinya tidak ada siapapun disana atau tidak ada stasiun disana. Padahal berdasarkan pengakuan para mahasiswa pria yang ikut dalam rombongan ini dan pemilik mobil ini, radio tersebut sangat tangguh dan sering mereka gunakan dalam berbagai kegiatan off roader tanpa terkendala cuaca.
Duaaarrrrrrrrr..... Sebuah sambaran petir cukup keras menghantam kami. Cahanya begitu terang memnyilaukan mata kami dan suaranya sangat menggelegar membuat telinga kami bergema seakan akan telinga kami tuli. Para wanita di tenda ini langsung berpelukan erat menatap satu sama lain dan menatapku juga. Sementara aku hanya terdiam duduk dipintu tenda dan tanganku hanya mampu menggenggam erat alas tidur tenda ini. Hening serasa seperti tak ada satupun suara terdengar bahkan hujan yang begitu deras diluar tenda tidak terdengar. Lalu tanpa aba aba dan peringatan, duuuaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrr........ Sambaran kedua terjadi dan mataku langsung gelap. Samar samar kulihat para wanita tersebut sudah roboh duluan barulah mataku terpejam. Aku merasakan gelap yang teramat sangat seperti jatuh kedalam sebuah lobanghitam dimensi lain.
Aku memilih duduk didekat pintu tenda sembari terus mengintip keluar ke arah derasnya tetesan air hujan yang datang bersama angin kencang diiringi kilatan petir yang saling bersahutan. Terdengar telingaku mereka membicarakan gaya hidup pria Indonesia dengan wanita wanita bule itu. Sementara itu di mobil komunikasi, Pak Tejo mencoba berkomunikasi dengan Base Station di kampung. Berulang kali dia memanggil lewat radio namun tak ada jawaban hanya suara statis yang terdengar terus menerus. Sepertinya tidak ada siapapun disana atau tidak ada stasiun disana. Padahal berdasarkan pengakuan para mahasiswa pria yang ikut dalam rombongan ini dan pemilik mobil ini, radio tersebut sangat tangguh dan sering mereka gunakan dalam berbagai kegiatan off roader tanpa terkendala cuaca.
Duaaarrrrrrrrr..... Sebuah sambaran petir cukup keras menghantam kami. Cahanya begitu terang memnyilaukan mata kami dan suaranya sangat menggelegar membuat telinga kami bergema seakan akan telinga kami tuli. Para wanita di tenda ini langsung berpelukan erat menatap satu sama lain dan menatapku juga. Sementara aku hanya terdiam duduk dipintu tenda dan tanganku hanya mampu menggenggam erat alas tidur tenda ini. Hening serasa seperti tak ada satupun suara terdengar bahkan hujan yang begitu deras diluar tenda tidak terdengar. Lalu tanpa aba aba dan peringatan, duuuaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrr........ Sambaran kedua terjadi dan mataku langsung gelap. Samar samar kulihat para wanita tersebut sudah roboh duluan barulah mataku terpejam. Aku merasakan gelap yang teramat sangat seperti jatuh kedalam sebuah lobanghitam dimensi lain.
-------------------------------
Quote:
Sebuah tangan menarikku, menyadarkanku. Kepalaku masih terasa berat seperti dihantam sebuah benda. Perlahan terdengar suara wanita dari team rombongan kami memanggilku. “Aldi, bangun, bangun Aldi, tolong kita ini!” Suara Cut langsung jelas terdengar di telingaku. Dia tepat berada disamping kiriku sementara yang lainnya saling berkumpul berpegangan tangan disamping kananku. Ntah kemana para bule wanita, aku tidak dapat melihatnya. Kulihat keadaan sekitar, ternyata kami tidak lagi berada di tenda tempat kami berada sebelumnya. Sekarang kami berada di tengah tengah hutan yang gelap danhanya ditemani dua buah obor yang tergantung di pohon dikiri dan kanan kami. Tidak, tidak mungkin ini! Dimana kami sekarang? Apakah kami sudah mati? Atau hanya mimpi?
Tak berapa lama kelima wanita itu menangis, perlahan lahan hingga mulai kuat sekuat kuatnya. Aku menhardik mereka, “Hentikan Bu! Jangan menangis lagi! Semakin kuat kalian menangis maka kita semakin bahaya! Hewan buas atau entah apapun bisa datang menangkap kita!”. Akhirnya tangisan mereka pun terhenti dan kami saling mendekat. Mulut mereka terdiam tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun. “Dengar Bu, sepertinya kita ada ditengah tengah jalan, lebih baik kita menghindar ke pinggir saja. Jikalau ada yang lewat mengecek obor tersebut kita tidak akan tertangkap” aku memulai perintah yang langsung mereka turuti. Kamipun berpegangan tangan bergeser menjauh dari jalanan yang diterangin sepasang obor tersebut masuk menuju hutan. Namun, kami tetap dapat melihat obor tersebut dan siapapun yang akan melewati jalan tersebut.
Tak berapa lama kelima wanita itu menangis, perlahan lahan hingga mulai kuat sekuat kuatnya. Aku menhardik mereka, “Hentikan Bu! Jangan menangis lagi! Semakin kuat kalian menangis maka kita semakin bahaya! Hewan buas atau entah apapun bisa datang menangkap kita!”. Akhirnya tangisan mereka pun terhenti dan kami saling mendekat. Mulut mereka terdiam tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun. “Dengar Bu, sepertinya kita ada ditengah tengah jalan, lebih baik kita menghindar ke pinggir saja. Jikalau ada yang lewat mengecek obor tersebut kita tidak akan tertangkap” aku memulai perintah yang langsung mereka turuti. Kamipun berpegangan tangan bergeser menjauh dari jalanan yang diterangin sepasang obor tersebut masuk menuju hutan. Namun, kami tetap dapat melihat obor tersebut dan siapapun yang akan melewati jalan tersebut.
---------------------------------
Quote:
Aku tersentak, terbangun dari tidurku dan kudapati kami saling berpelukan di hutan ini. Erat kami berpelukan untuk menghalau hawa dingin yang menusuk tulang ini. Aku merasakan seperti ada orang yang berjalan dikejauhan. Aku pastikan melihat kearah obor tersebut. Dan benar saja, seorang pria dengan pakaian tradisional berjalan dengan memegang sebuah obor di tangannya lengkap dengan sebilah senjata tajam di pinggangnya. Pakaian oria tersebut tak asing dengan penampakan yang terjadi padaku kemaren malam. Apakah kami kembali ke tempat mereka? Lantas kenapa hanya kami berenam saja? Lalu kemanakah 3 miss miss bule itu? Anggota team yang lain dimanakah mereka berada? Dan ketiga orang sahabatku kemana?
Aku merenung berharap aku dapat pergi dari sini dan kembali ke kampungku. Tapi, aku sadar karena aku dan mereka bukan lagi berada di dunia kami. Kami mungkin telah dibawa oleh makhluk tertentu kedunianya. Aku yakin sekali dan makin yakin ini ada sangkut pautnya dengan penampakan wanita berpakaian putri raja beberapa waktu yang lalu. Apakah ini adalah kerajaannya? Lantas mengapa kami dibawanya kemari? Apakah ini nasib korban makhluk gaib pikirku? Aku menangis sejadi jadinya karena aku tahu mungkin aku tidak dapat melihat lagi kedua orang tuaku, adikku, saudaraku bahkan Mirna yang akan kupersunting nanti. Komat kamit mulutku membaca berbagai surat dalam Al-Quran yang telah kuhafal. Aku pun melantunkan perlahan Ayat Kursi sembari meneteskan air mata.
Aku merenung berharap aku dapat pergi dari sini dan kembali ke kampungku. Tapi, aku sadar karena aku dan mereka bukan lagi berada di dunia kami. Kami mungkin telah dibawa oleh makhluk tertentu kedunianya. Aku yakin sekali dan makin yakin ini ada sangkut pautnya dengan penampakan wanita berpakaian putri raja beberapa waktu yang lalu. Apakah ini adalah kerajaannya? Lantas mengapa kami dibawanya kemari? Apakah ini nasib korban makhluk gaib pikirku? Aku menangis sejadi jadinya karena aku tahu mungkin aku tidak dapat melihat lagi kedua orang tuaku, adikku, saudaraku bahkan Mirna yang akan kupersunting nanti. Komat kamit mulutku membaca berbagai surat dalam Al-Quran yang telah kuhafal. Aku pun melantunkan perlahan Ayat Kursi sembari meneteskan air mata.
sirluciuzenze dan jenggalasunyi memberi reputasi
2
Kutip
Balas