Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#1011
PART 15


"Za kita berangkat sekarang ya, mungkin satu jam lagi mereka sampai rumah..", ucapnya.

"Oh oke",
"Barang-barang kamu enggak ada yang ketinggalan ?", tanya Gua.

"Enggak kok, cuma pakaian aja nih di tas...", jawabnya.

Setelah Gua memastikan semua pintu rumah terkunci dengan aman, kami pun masuk ke dalam mobil. Gua nyalakan mesin si Black, menunggu beberapa menit lalu mobil mulai meninggalkan halaman rumah Nenek.

"Za, tadi kamu ada perlu apa ke rumah Pak Rw ?", tanyanya ketika kami masih dalam perjalanan.

"Ada yang aku obrolin sama Mba Siska", jawab Gua tanpa menoleh ke kiri.

"Eumm..",
"Boleh aku tau soal apa ?", ucapnya terdengar hati-hati dengan nada suara yang pelan.

Gua menggelengkan kepala lalu menengok kearahnya dan tersenyum, "Belum saatnya kamu tau..", jawab Gua lagi dengan tetap tersenyum.

"Oh okey, maaf ya", ucapnya lalu membalas senyuman Gua dan mengelus punggung tangan kiri Gua yang berada diatas persneling.

Pukul 12 siang Gua sudah berada di rumahnya, selang setengah jam kemudian, keluarganya pun datang lalu di ikuti oleh keluarga Gua. Kami semua bercengkrama saling memohon maaf layaknya lebaran kepada saudara. Yang belum hadir disini hanyalah Ayahanda. Gua dengar dari Om Gua, Beliau akan menyusul ke sini langsung dari Bandung.

Obrolan seputar pekerjaan Om Gua dan Papahnya menjadi topik pertemuan keluarga kami. Sedangkan Gua dan Echa menikmati makanan khas dari kampung halaman Papahnya itu di ayunan halaman belakang rumahnya.

"Za, kamu bilang tadi putusnya kamu dengan Sherlin karena Luna ?", tanyanya.

"Ya bukan salah Luna juga, aku gak bisa nyalahin Luna aja kalo nyatanya aku sendiri terbawa suasana waktu itu..", jawab Gua.

Echa menggeleng pelan, lalu menghela napas kasar.

"Ya aku rasa emang wajar sih kalo Luna sampai bisa buat kamu tergoda",
"Walaupun rasanya aku enggak suka dengan kenyataan ini, tapi aku harus akui kalo Luna memang cantik..", jelasnya.

"Kesalahan yang udah aku lakukan bukan hal yang bisa diterima dengan mudah oleh Sherlin..",
"Jauh-jauh hari Sherlin udah ngingetin aku, kalo dia enggak suka dengan Luna, dan minta aku jauhin Luna",
"Nyatanya ?, Aahh.. Semuanya udah terlambat..", sesal Gua mengingat kembali kenangan bersama Luna dan Mba Yu.

Echa hanya menatap Gua tanpa senyuman, lalu kedua tangannya memegang satu tangan kanan Gua.

"Belum terlambat kok Za, buktinya kamu dengan Sherlin masih bisa berteman baik kan ?",
"Seenggaknya kalian bisa jadi teman..",
"Jarang kan ada pasangan yang putus karena orang ketiga lalu mereka masih bisa berteman baik ?", jelasnya lagi.

Gua hanya bisa menganggukkan kepala menanggapi ucapannya itu. Lalu kami berdua kembali ke dalam rumah.

Gua lihat ternyata sudah ada Ayahanda yang sedang duduk disamping Om Gua, mereka berdua sedang mengobrol dengan Papah dan Mamahnya Echa di ruang tamu, sedangkan Nenek dan Tante Gua berada di kamar tamu rumah ini, menidurkan si kecil.

Gua salami Ayahanda yang langsung datang kesini setelah dari Bandung, begitupun Echa yang mencium tangan Beliau setelah Gua. Lalu kami berdua duduk berdua disalah satu sofa yang masih kosong. Entah kenapa semuanya malah menatap kami seraya tersenyum. Gua dan Echa jelas kebingungan, dan kami berdua pun malah saling memandang satu sama lain, sepertinya apa yang ada dipikiran kami sama. 'Ada apa sih ?'.

Sebelumnya, saat Gua bertemu diawal dengan kedua orangtua Echa, Gua banyak mengobrol dengan Mamahnya, dan dengan Papahnya belum sempat Gua mengobrol panjang lebar, karena ketika mereka datang, Papahnya Echa sedang menelpon seseorang, alhasil Gua hanya menyalami Beliau dan langsung mengobrol dengan Istrinya itu bersama Echa.

"Apa kabar Za ?", tanya Papahnya kepada Gua.

"Alhamdulilah baik Pah", jawab Gua,
"Papah apa kabar ?", lalu balik bertanya.

"Alhamdulilah baik juga..",
"Gimana kuliah mu ?", tanyanya lagi.

"Lancar, baru awal semester soalnya", jawab Gua lagi.

"Baguslah..",
"Ada hal yang mau Papah bicarakan ke kamu Za..", ucapannya kali ini penuh penekanan.

Seketika itu juga suasana ruang tamu yang berisikan enam orang ini mendadak hening, tidak ada suara obrolan dan tawa seperti sebelumnya.

"Soal apa ya Pah ?", tanya Gua bingung.

"Ini sebuah permintaan", nadanya tegas, seolah-olah bukan permintaan, melainkan perintah.

Setidaknya itu yang Gua rasakan, sebuah perintah atasan berpangkat tinggi kepada anak buahnya. Bagaimanapun pembawaan Beliau tidak terlepas dari jabatannya di militer. Karakter seorang pemimpin yang penuh kharisma dan wibawa yang tinggi. Cukup membuat semua orang yang ada di dalam ruang tamu ini terdiam dan tidak ada yang berani mengintrupsi.

"Permintaan ?", tanya Gua lagi mengulang ucapannya.

"Berikan kebahagiaan kepadanya ya..", jawabnya sambil melirik seorang perempuan di sebelah Gua.

Gua pun mengikuti arah mata Beliau, Gua menengok ke kiri, dimana Echa duduk tepat di sebelah Gua. Lalu kembali Gua menengok kepada Papahnya.

"Kebahagiaan ?",
"Kebahagiaan bagaimana ?", tanya Gua lagi yang jelas semakin bingung dengan apa yang Beliau maksud.

"Jadikan Echa pendamping hidup kamu", tandasnya seraya tersenyum kepada Gua.

Sontak Gua terkejut dengan apa yang diucapkan Beliau, rasanya seperti hal yang tidak pernah akan Gua dengar diumur Gua yang belum juga menginjak 19 tahun. Gua menelan ludah, lalu melirik ke Wanita disampingnya, sang istri pun ikut tersenyum kepada Gua, lalu Gua tengok kepada Om Gua, sama, semua tersenyum termasuk Echa kecuali satu orang. Ayahanda. Ya, Ayahanda Gua hanya menatap Gua tanpa ekspresi apapun, Beliau menyandarkan punggung ke bahu sofa dibelakangnya, mengatupkan kedua tangannya diatas pahanya, memandang Gua lekat-lekat tanpa senyuman, tanpa emosi, tanpa ekspresi yang bisa Gua tangkap. Entahlah apa yang ada dipikiran Ayanda saat ini.

Gua menghela napas pelan, lalu terkekeh sambil menggelengkan kepala.

"Kebahagiaan macam apa yang bisa saya berikan untuk anak Papah ?", tanya Gua kepada Papahnya Echa,
"Saya masih terlalu muda untuk menjalani apa yang Papah pinta..", lanjut Gua.

"Oh tentunya kamu tau hal apa yang bisa membuat Echa bahagia..", jawabnya,
"Sebuah pernikahan tidak harus dilangsungkan pada saat umur kalian berdua menginjak 20 tahun toh ?", lanjutnya,
"Dan materi, pekerjaan atau apapun itu yang menyangkut duniawi tidak perlu kamu pusingkan..", lalu Beliau tersenyum.

Gw menggigit bibir bawah, lalu memejamkan mata, kedua tangan Gua terkepal kuat. Lalu Gua rasakan ada tangan lembut yang mengelus punggung tangan kiri ini. Gua menghela napas lagi ketika punggung tubuh Gua pun disentuh oleh tangan lembutnya.

"Za, orangtua tentunya ingin yang terbaik untuk anaknya",
"Begitupun kami.. Harapan Papah dan keluarga kamu adalah pernikahan kalian",
"Papah dan keluarga mu sudah membicarakan hal ini sejak kalian masih kecil", lanjut Papahnya Echa.

"Tapi Saya rasa tidak perlu secepat ini Mas..", potong Ayahanda,
"Elsa dan Reza masih kuliah",
"Biarkan mereka menyelesaikan pendidikannya dulu", lanjut Ayahanda kepada Papahnya Echa.

"Dik Altar, kita sudah membicarakan ini toh ?",
"Kita semua setuju dengan rencana pernikahan mereka sebelum saya pensiun..",
"Kuliah mereka berdua masih bisa diteruskan walaupun statusnya nanti sudah jadi suami-istri, dan itu bukan masalah yang besar", jawab Beliau panjang lebar.

"Akan jadi masalah yang besar dikemudian hari, karena saya tau..",
"Anak saya belum mampu untuk berumah tangga Mas", ucap Ayahanda,
"Mentalnya belum mampu untuk menghadapi tekanan dalam kehidupan berumah tangga",
"Tentunya kita semua tidak ingin melihat mereka berpisah ditengah jalan kan Mas ?", tandas Ayahanda dengan nada yang halus dan sopan.

Suasana di ruang tamu ini pun terasa berbeda, tidak seramah seperti sebelumnya, sedikit ada ketegangan diantara dua kepala keluarga. Gua memang tidak menginginkan melepas masa lajang di usia yang masih terlalu muda untuk menikah, dan apa yang Ayahanda katakan benar. Gua belum mampu untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami saat ini. Tapi bagaimanapun, Gua juga tidak ingin ada perpecahan diantara keluarga kami berdua.

"Mas Sigit...",
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada keluarga besar Mas",
"Saya rasa pernikahan ini harus ditunda dulu..",
"Biarkan Reza mendapatkan pengalaman hidupnya, begitupun dengan Elsa", lanjut Ayahanda,
"Dan...",
"Untuk kamu Elsa...", ucap Ayahanda kali ini kepada Elsa.

"Iya Om ?", ucap Elsa.

"Kamu tidak keberatan kan ?",
"Menunggu Reza, dan diri kamu pribadi menjadi lebih dewasa lagi dengan pengalaman kalian hingga nanti tiba saatnya kalian sudah cukup untuk menjalani bahtera rumah tangga", lanjut Ayahanda.

Gua melirik kepada Echa, dia tersenyum kepada Ayahanda.

"Enggak Om..",
"Aku enggak keberatan sama sekali untuk menunggu...", jawabnya yakin tanpa beban.

Ayahanda pun ikut tersenyum kepada Echa. Lalu sekarang kami semua menatap kepada sang kepala keluarga rumah ini.

Beliau tersenyum kepada Gua dan Echa, memejamkan mata seraya mengangguk pelan, lalu berdiri dari duduknya. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana kanan dan kiri.

Sambil berdiri tegap, Beliau menatap tajam kearah Ayahanda.

"Dik Altar, pastikan Reza datang ke rumah ini lagi dua tahun kedepan dengan niat untuk melamar Elsa".

Ayahanda balik menatap tajam kepada lelaki bintang satu itu. Lalu Ayahanda menyunggingkan senyuman menantang, dan mengangguk satu kali.

...

Sekarang Gua dan Elsa berada di teras rumahnya.

"Za, soal obrolan tadi jangan dijadiin beban ya..",
"Maafin ucapan Papah", ucap Elsa yang berdiri dihadapan Gua.

"Enggak kok Teh, santai aja ha ha ha ha...", jawab Gua.

Lalu Echa tersenyum dan memegangi pipi kanan Gua.

"Teh, aku janji akan selalu jagain kamu..",
"Tapi menjaga kamu bukan berarti kita harus terikat dalam satu hubungan kan ?".

"Iya Za, aku paham maksud kamu",
"Aku tau kamu akan selalu jagain aku..",
"Kalau memang itu menjadi tugas kamu, biarkan aku yang akan merjuangin cinta ini..",
"Aku yang akan berusaha untuk membuat kamu mencintai aku", jelasnya lalu memeluk Gua.

Gua balas pelukkannya, mendekapnya dengan erat, lalu membelai lembut rambutnya.

"Maafin aku Teh",
"Biarkan lah untuk saat ini semuanya mengalir apa adanya",
"Dan jika memang nanti aku sudah bisa membalas cinta kamu, aku pastikan enggak akan melepaskan kamu dari sisi ku..", ucap Gua.

Lalu Gua rasakan wajahnya semakin terbenam di dada ini.

"Aku yakin kamu tau siapa yang terbaik pada akhirnya Za...",
"Aku enggak peduli dan enggak takut untuk bersaing dengan perempuan manapun..",
"Karena impian aku adalah kamu", ucapnya lirih.

"Makasih untuk cinta kamu..", balas Gua.

Tidak lama, kami berdua melepaskan pelukkan, lalu berganti kini Gua yang memegangi kedua pipinya, Gua lihat Echa tersenyum tanpa airmata, syukurlah dia tidak menangis.

"Aku pamit dulu ya..".

"Ke rumah Sherlin ?".

Gua mengangguk pelan. Lalu Echa tersenyum dan mengecup kening Gua.

Cup...

"Hati-hati di jalan ya Za..",
"Jangan kebut-kebutan", ucapnya.

"Okey...",
"Aku pamit dulu ke dalam deh..", ucap Gua lagi.

Lalu Gua pun pamit kepada keluarga Echa dan Keluarga Gua. Gua sempat melihat semuanya baik-baik saja, tidak ada adu argumen ataupun suasana yang tegang seperti sebelumnya. Malah Gua lihat Ayahanda sedang tertawa bersama Papahnya Echa, entah apa yang mereka obrolkan sekarang. Singkat cerita Gua sudah menyalami semua orang yang ada di dalam rumah ini. Kemudian Gua kembali keluar rumah menuju si Black. Echa berdiri di luar pintu kemudi ketika Gua sudah berada di dalam bangku kemudi.

"Za..".

"Ya ?".

"Salam untuk Sherlin ya..".

"Okey..".


.........


Teras rumah Mba Yu, pukul 17.00 wib.

Desiran angin yang kami rasakan di teras ini membuat Mba Yu memejamkan matanya. Gua tau dia sedang menikmati suasana sore hari, suasana yang sama, sama seperti dahulu saat kami berdua masih berstatus sebagai sepasang kekasih.

"Mas..",
"Aku kangen masa-masa saat kita bersama dulu..", ucapnya dengan mata masih terpejam.

"Oh ya ?",
"Kenapa ?", tanya Gua dengan tetap menatap langit sore.

"Aku kangen kebersamaan kita..",
"Aku kangen sama cemburunya kamu, galaknya kamu, nyebelinnya kamu, dan...", ucapannya terhenti.

Mba Yu menegakkan tubuhnya, lalu menengok kearah Gua, kami berdua saling menatap. Entah mungkin perasaan yang sama yang saat ini kami rasakan membuat kami sama-sama tersenyum.

"Dan aku kangen sama kasih sayang kamu Mas".

Gua menggeser posisi duduk lalu mendekatinya, Gua belai rambut atasnya lalu turun membelai lembut wajahnya.

"Aku takut mengulang kesalahan yang sama..",
"Aku belum bisa benar-benar ngejaga hati ini untuk kamu",
"Tapi aku tetap menyayangi kamu sampai sekarang, aku berusaha untuk selalu ngejaga kamu walaupun kita hanya sekedar teman..",
"Dan mungkin untuk kita bisa balikkan seperti dulu bukan sekarang Mba". jelas Gua.

Mba Yu terdiam sejenak, entah apa yang ada dipikirannya, lalu yang kami lakukan hanyalah saling menatap beberapa lama. Lalu Gua memberikan sebuah kado kecil untuknya.

"Ini apa Mas ?", tanyanya.

"Buka aja..", jawab Gua tersenyum.

Mba Yu pun membuka kertas kado yang membalut barang yang Gua beli untuknya. Lalu bungkusan kado pun terbuka semua dan memperlihatkan sebuah kotak jam tangan berlogo ceklist.

"Mas.. Ini..",
"Ini untuk apa ?",
"Maksud aku dalam rangka apa ?", tanyanya dengan wajah yang cukup terkejut melihat barang digenggamannya itu.

"Dalam rangka kasih kejutan aja buat kamu...",
"Enggak ada apa-apa kok, hehehe..".

"Makasih banyak ya Mas, aku suka banget sama jam tangannya",
"Ditambah warnanya, warna favorit aku...", ucapnya seraya mengenakan jam itu pada pergelangan tangan kanannya.

Lalu suara Desi membuat kami berdua menengok kearah pintu rumah.

"Mba, ada telpon tuh..", ucap Desi yang berdiri diambang pintu rumah.

"Eum ?",
"Telpon dari siapa ?", tanya balik Mba Yu.

"Dari Mas Feri..", jawabnya.

Gua melihat respon Mba Yu yang malas, lalu sambil berdiri, dia sedikit ngedumel.

"Orang gak mau ngomong kok malah nelpon ke rumah sih.. Hiih..!", ucapnya sambil berjalan ke dalam rumah.

Gua hanya memperhatikan Mba Yu yang semakin jauh dan masuk ke dalam rumahnya, Desi masih berada di ambang pintu, lalu menengok kearah Gua ketika Kakaknya itu sudah semakin jauh masuk kedalam.

"Mas..".

"Ya Des ?".

"Feri itu nama mantannya si Mba..".

"Terus ?".

"Iiiihhh.. Mas Eza enggak cemburu apa ?".

"Ha ha ha ha...",
"Ya enggak lah Des, ngapain cemburu ?",
"Kan aku bukan pacarnya Mba mu lagi sekarang".

"Iya aku juga tau kalo itu Mas..",
"Tapi seenggaknya Mas Eza bisa ngungkapin perasaan cemburu dong, karena Mba masih dideketin sama mantannya..",
"Eh sebentar...",
"Atau jangan-jangan...",
"Mas Eza udah gak sayang sama Mba ku ya ?!".

Gua menghela napas lalu tersenyum geli mendengar ucapan Desi. Gua berdiri dari duduk lalu mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambil sebatang.

"Des, denger ya..",
"Perasaan aku ke Mba mu enggak berubah sampai sekarang..", ucap Gua lalu menyelipkan sebatang rokok tadi ke mulut ini dan membakarnya,
"Fuuuuuhh....",
"Aku tetap sayang sama Mba mu sampai kapan pun..",
"Dan...",
"Rasa cemburu bukanlah sebuah bukti bahwa kita cukup sayang kepada orang itu..", jelas Gua kepadanya.

"Terus apa dong ?", tanyanya lagi.

"Menjaganya lebih penting dari sekedar cemburu.. Dan itu cukup membuktikan bahwa kita menyayangi seseorang".

.........


Taman Kota, 19.30 wib.

Vera dan Gua sama-sama tersenyum. Gua lihat ketulusannya terpancar dari ekspresi wajahnya. Lalu Vera mendekatkan wajahnya sambil memejamkan mata. Gua tersenyum semakin lebar, lalu...

Tep...Gua menahan bibirnya dengan menempelkan satu jari ke bibirnya.

"Suatu saat nanti, aku yang akan mencium bibir kamu duluan..",
"Dan jika hari itu tiba, aku akan nyatain perasaan aku ke kamu Ve..", ucap Gua.

"Aku pasti menunggu kamu..",
"Love You...", jawabnya.

Cup... Dikecupnya pipi Gua sebentar, lalu Vera memeluk Gua kembali dan menyandarkan kepalanya di bahu ini.

'Semoga apa yang aku jalani ini benar, setidaknya untuk saat ini, biarlah aku membiarkan kamu menunggu untuk beberapa lama. Aku gak akan tega untuk menyakiti hati kamu. Dan jika suatu saat itu sampai kejadian, aku akan menebusnya dengan apa pun yang kamu ucapkan, sumpah serapah mu, agar aku mendapatkan maaf mu Ve'., Ucap Gua dalam hati.

"Ve, kita pulang ya..",
"Udah larut, kamu juga kan pasti masih cape karena baru sampai..", ucap Gua kepadanya.

"Iya Za, ya udah yu..", jawabnya seraya melepaskan pelukkannya.

Gua pun memacu si Black dari taman kota ini untuk menuju ke rumah Nona Ukhti. Sekitar lima belas menit kami pun sampai di depan rumah Nona Ukhti.

"Za mau masuk dulu ?", tanyanya setelah melepaskan seatbelt.

"Mmm.. Lain kali ya Ve, maaf",
"Aku masih ada perlu soalnya..", jawab Gua.

"Ooh gitu, ya udah oke deh..",
"Kamu hati-hati di jalan ya Sayang, jangan ngebut bawa mobilnya..", ucapnya.

"Iya Ve, aku gak akan kebut kok bawa mobilnya..",
"Salam untuk Papah kamu ya, maaf belum bisa nemuin Beliau..", ucap Gua lagi.

"Okey Sayang...".

Lalu dia, Nona Ukhti Vera, perempuan dengan pakaian gamis dan hijab berwarna biru mudanya itu mengulurkan tangan kepada Gua. Gua sempat bingung dan dia tersenyum kepada Gua. Gua pun tersenyum lebar ketika Gua menyambut tangannya.

Cup... Nona Ukhti Vera mencium punggung tangan kanan Gua.

Seolah-olah dia ingin menujukkan bahwa dirinya pantas untuk menjadi istri yang baik dan taat pada suaminya. Setelah itu dirinya pun pamit keluar mobil.

"Assalamualaikum Za..", ucapnya dari luar mobil dan sedikit menunduk untuk melihat Gua dari jendela pintu mobil yang sudah Gua turunkan sebelumnya.

"Walaikumsalam Ve..",
"Aku pulang ya..".

.........

Gua sudah memarkirkan mobil di halaman rumah Nenek, Gua lihat mobil Holden Om Gua dan si Kiddo sudah terparkir rapih. Pintu rumah pun sudah terbuka.

Gua masuk ke dalam ruang tamu dan menyalami semua keluarga Gua yang sudah pulang dari rumah Echa. Lalu setelah itu Gua menuju kamar dan bergegas membilas tubuh di dalam kamar mandi. Selesai bersih-bersih, Gua pun mengenakan pakaian rapih lagi, baju polo warna merah dengan long-jeans hitam.

"Mau kemana lagi kamu ?", tanya Ayahanda dari pintu kamar.

"Ada janji Yah..",
"Mau makan di luar", jawab Gua sambil menengok kearah Beliau.

"Hm...",
"Sama perempuan ?", tanya Ayahanda lagi.

"Iya Yah".

"Pacar kamu ?".

....

"Iya".


***


Gua kembali berada di dalam mobil celica, memacunya pelan di jalan raya kota ini.

"Za, kamu enggak alergi makan seafood kan ?", tanya seorang perempuan cantik di bangku sebelah kemudi.

"Enggak kok..",
"Tenang aja..", jawab Gua tanpa menengok kearahnya karena fokus pada jalanan di depan.

Sekitar 20 menit kemudian Gua sudah memarkirkan mobil di depan warung tenda yang menyediakan menu laut. Gua mematikan mesin mobil, lalu membuka seatbelt.

"Za..".

"Heum ?".

"Makasih ya..".

"Untuk apa ?".

Dirinya membuka seatbelt yang melingkar pada tubuhnya, lalu mendekatkan tubuh kepada Gua.

Cup...Dikecup mesra pipi kiri ini.

"Makasih sudah mengakhiri penantian aku selama ini", ucapnya dengan wajah yang tepat berada di depan wajah Gua.

Gua tersenyum lalu mengangguk pelan, lalu Gua belai rambutnya, Gua tundukkan sedikit kepalanya.

Cup... Gua kecup keningnya.

"Aku sayang kamu Za..".

"Aku juga sayang kamu Mba..".
Diubah oleh glitch.7 30-03-2017 23:57
dany.agus
fatqurr
fatqurr dan dany.agus memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.