- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#45
PART II
Begitu sampai ke kaki tangga, segera Kakek meminta tolong Kepala kampung untuk meminjamkan senapan kampung pada siapapun yang memiliki senapan.
“Buat apa?” Kepala kampung bertanya penuh ragu,.
“Buat menembak gagak untuk menolong Timah.”
“Begitu…” suara Kepala kampung menurun.
Dia segera mencari senapan kampung. Setengah jam kemudian Kepala kampung kembali dengan senapan di bahu dan menyerahkan pada Kakek.
Kakek coba membidik dengan senapan itu. Dia memegang laras senapan dengan telapak tangan kanan. Dengan tenang Kakek memasukkan peluru kedalam laras senapan, kemudian dia meludahi telapak tangan kanan dua tiga kali. Popor senapan digosoknya dengan telapak tangan yang berair liur itu.
Kakek menembakkan senapan ke arah sepasang burung gagak yang terbang rendah mencari ulat daun pisang di kawasan rumah Kepala Kampung. Kakek segera mengambilnya segera. Bangkai gagak itu digantung pada dahan pohon Mangga dekat rumah Kepala Kampung.
Kakek naik ke rumah. Waktu hari mulai remang‐remang senja Kakek menuju ke pangkal pohon Mangga . Dia menepuk bangkai gagak tiga kali sambil menabur garam halus di bangkai gagak tersebut. Gerak-gerik Kakek itu saya perhatikan dengan teliti dari Jendela rumah Kepala Kampung.
“Suami Si Timah itu mengamalkan ilmu yang salah… memelihara jin semasa hidupnya “Begitulah Kakek menyatakan pada Kepala kampung segera setelah dia masuk ke dalam rumah. Dengan jujur Kepala kampung menyatakan dia memang tidak tahu walaupun suami Timah kawan karibnya.
Kepala kampung juga mengakui terdapat beberapa kejadian aneh pada diri almarhum suami Timah. Diantaranya, dia selalu ditemukan oleh warga kampung bekerja di ladang pada waktu malam seorang diri, memperbaiki rumah waktu malam, mencari kayu waktu malam seorang diri. Anehnya, ketika orang‐orang melihat hal itu , suami Timah didapati tidak pergi ke mana‐mana, sedang mengobrol pepesan kosong dengan Kepala kampung di rumahnya.
Bila Kepala kampung bertanya tentang hal itu kepada suami Timah. Dia mengingkari yang demikian itu. Malah menuduh orang‐orang kampung membuat cerita yang bukan‐bukan karena dengki dengan kehidupannya. Dan dengan penjelasannya itu Kepala kampung tidak bertanyanya lagi.
Setelah menunaikan sembahyang magrib Kakek mengajak saya pergi ke suatu kawasan hutan tebal. Dia menjinjing bangkai gagak dengan tenang. Saya lihat mulut Kakek berkumat kamit membaca sesuatu. Kakek menyuruh saya bersembunyi di balik pohon besar. Kakek meletakkan bangkai gagak yang sudah dipanggang itu di kawasan lapang. Kakek menyalakan api. Dia duduk di depan api unggun itu sambil berpeluk tubuh.
Dengan pertolongan cahaya api itu , saya melihat satu makhluk hitam besar berdiri di depan Kakek. Serentak saya mendengar bermacam‐macam bunyi. Ada bunyi suara orang menangis dan tertawa. Ada suara gendang dipukul.
“Aku tidak bertujuan jahat, aku minta kau ambil anakmu kembali. Kamu dari jin dan kami dari manusia. Tidak sama cara hidupnya,” suara Kakek meninggi. Makhluk hitam itu bertambah besar. Dua tiga pohon besar yang dirempuhnya habis tumbang.
Seluruh kawasan itu saya rasa seperti dilanda angin ribut topan yang amat kuat. Saya mendengan bunyi burung gagak berbunyi dan dalam saat itu juga bangkai burung gagak Kakek terbang menuju ke makhluk itu. suasana menjadi tenang. Makhluk hitam hilang dari pandangan saya. Kakek segera bangun dan mendapatkan saya.
“Kita ke rumah Timah,” perintah Kakek. Saya pun ikut perintahnya.
Bukanlah suatu perkara mudah berjalan dalam gelap. Dua tiga kali saya tersungkur tapi bangun kembali. Akhirnya kami sampai rumah Timah. Lama juga kami di situ. Tidak ada suatu pun yang dapat kami lihat. Semuanya seperti biasa.
Kakek mengajak saya pulang ke rumah Kepala Kampung. Kakek menunaikan sembahyang Isha.
Sesudah makan, Kakek mengajak Kepala kampung ke rumah Timah kembali. Kali ini, Kakek menyuruh saya dan Kepala kampung berpencar, mencari tempat aman masing‐masing. Kakek memakai baju hitam. Dia membawa tiga batang serai, tiga puntung kayu yang sudah menjadi arang serta sebatang paku. Kakek tidak memakai celana hitam, dia memakai celana kuning dan mengikat kepalanya dengan kain putih.
Badan mulai merasa kedinginan. Embun malam mulai menitik. Angin malam yang bergerak melewati dedaunan di halaman rumah. Dedaunan yang tertiup itu melahirkan bunyi tidak menentu. Bunyi katak bersahut‐sahutan sesekali terdengar bunyi suara anjing bersahutan dengan bunyi suara burung hantu dan celepuk.
Saya lihat pintu rumah Timah berkuak dengan sendirinya. Sinar lampu minyak tanah menerangi sebagian dari halaman rumah itu. saya lihat ada bayang‐bayang hitam berdiri di muka pintu. Bersama dengan itu terdengar bunyi suara orang lelaki batuk terus menerus. Saya berlari mendekati Kakek. Saya duduk di sisinya, tiba Kakek menyepak pangkal paha saya, saya kontan terduduk.
“Jangan mendekat!,” Serunya.
Saya pun segera menjauh darinya. Kakek membakar kemayan dan membakar sesuatu. Dari rumah Timah terdengar suara lelaki. Anjing kian kuat melolong. Saya mendengar kicau burung murai ditengah malam. Bulu roma saya berdiri. Kepala kampung datang ke tempat kami.
Perhatian kami tertumpu pada pintu rumah Timah yang terbuka. Saya lihat seorang lelaki sedang duduk di muka pintu sambil menghisap rokok. Mukanya tidak begitu jelas kelihatan. Angin malam terus bertiup.
“Kau kenal siapa itu?” tanya Kakek pada Kepala Kampung. Kepala kampung terdiam. Dia terus menitikkan perhatian pada rumah Timah.
“Latif, Suami Timah,” katanya pendek. Kakek menganggukkan kepala. Kakek meletakkan tiga batang serai di depannya. Tangannya menggenggam paku.
“Itu bukan latif, Itu hantu !” kata Kakek.
Baru saja Kakek selesai berbicara, sekeping batu melayang ke arah Kepala Kampung. Karena Kepala kampung juga pandai bersilat, dia mengelak. Batu menumbuk pangkal pohon. Kakek mencabut keris lalu menikam tanah. Ketika Kakek mencabut keris pintu rumah Timah tertutup dengan sendirinya. Kami bertiga masuk ke bawah rumah Timah. Kami mendengar Timah berbicara sesuatu. Kami juga mendengar suara tawa Timah merayu dan suara lelaki sedang dipenuhi birahi yang kuat. Suara Timah bertambah manja, melenguh, dan mengerang kenikmatan.
“Hantu itu sedang menyetubuhi Timah,” Kakek memberitahu Kepala Kampung.
Quote:
Begitu sampai ke kaki tangga, segera Kakek meminta tolong Kepala kampung untuk meminjamkan senapan kampung pada siapapun yang memiliki senapan.
“Buat apa?” Kepala kampung bertanya penuh ragu,.
“Buat menembak gagak untuk menolong Timah.”
“Begitu…” suara Kepala kampung menurun.
Dia segera mencari senapan kampung. Setengah jam kemudian Kepala kampung kembali dengan senapan di bahu dan menyerahkan pada Kakek.
Kakek coba membidik dengan senapan itu. Dia memegang laras senapan dengan telapak tangan kanan. Dengan tenang Kakek memasukkan peluru kedalam laras senapan, kemudian dia meludahi telapak tangan kanan dua tiga kali. Popor senapan digosoknya dengan telapak tangan yang berair liur itu.
Kakek menembakkan senapan ke arah sepasang burung gagak yang terbang rendah mencari ulat daun pisang di kawasan rumah Kepala Kampung. Kakek segera mengambilnya segera. Bangkai gagak itu digantung pada dahan pohon Mangga dekat rumah Kepala Kampung.
Quote:
Kakek naik ke rumah. Waktu hari mulai remang‐remang senja Kakek menuju ke pangkal pohon Mangga . Dia menepuk bangkai gagak tiga kali sambil menabur garam halus di bangkai gagak tersebut. Gerak-gerik Kakek itu saya perhatikan dengan teliti dari Jendela rumah Kepala Kampung.
“Suami Si Timah itu mengamalkan ilmu yang salah… memelihara jin semasa hidupnya “Begitulah Kakek menyatakan pada Kepala kampung segera setelah dia masuk ke dalam rumah. Dengan jujur Kepala kampung menyatakan dia memang tidak tahu walaupun suami Timah kawan karibnya.
Kepala kampung juga mengakui terdapat beberapa kejadian aneh pada diri almarhum suami Timah. Diantaranya, dia selalu ditemukan oleh warga kampung bekerja di ladang pada waktu malam seorang diri, memperbaiki rumah waktu malam, mencari kayu waktu malam seorang diri. Anehnya, ketika orang‐orang melihat hal itu , suami Timah didapati tidak pergi ke mana‐mana, sedang mengobrol pepesan kosong dengan Kepala kampung di rumahnya.
Bila Kepala kampung bertanya tentang hal itu kepada suami Timah. Dia mengingkari yang demikian itu. Malah menuduh orang‐orang kampung membuat cerita yang bukan‐bukan karena dengki dengan kehidupannya. Dan dengan penjelasannya itu Kepala kampung tidak bertanyanya lagi.
Setelah menunaikan sembahyang magrib Kakek mengajak saya pergi ke suatu kawasan hutan tebal. Dia menjinjing bangkai gagak dengan tenang. Saya lihat mulut Kakek berkumat kamit membaca sesuatu. Kakek menyuruh saya bersembunyi di balik pohon besar. Kakek meletakkan bangkai gagak yang sudah dipanggang itu di kawasan lapang. Kakek menyalakan api. Dia duduk di depan api unggun itu sambil berpeluk tubuh.
Quote:
Dengan pertolongan cahaya api itu , saya melihat satu makhluk hitam besar berdiri di depan Kakek. Serentak saya mendengar bermacam‐macam bunyi. Ada bunyi suara orang menangis dan tertawa. Ada suara gendang dipukul.
“Aku tidak bertujuan jahat, aku minta kau ambil anakmu kembali. Kamu dari jin dan kami dari manusia. Tidak sama cara hidupnya,” suara Kakek meninggi. Makhluk hitam itu bertambah besar. Dua tiga pohon besar yang dirempuhnya habis tumbang.
Seluruh kawasan itu saya rasa seperti dilanda angin ribut topan yang amat kuat. Saya mendengan bunyi burung gagak berbunyi dan dalam saat itu juga bangkai burung gagak Kakek terbang menuju ke makhluk itu. suasana menjadi tenang. Makhluk hitam hilang dari pandangan saya. Kakek segera bangun dan mendapatkan saya.
“Kita ke rumah Timah,” perintah Kakek. Saya pun ikut perintahnya.
Bukanlah suatu perkara mudah berjalan dalam gelap. Dua tiga kali saya tersungkur tapi bangun kembali. Akhirnya kami sampai rumah Timah. Lama juga kami di situ. Tidak ada suatu pun yang dapat kami lihat. Semuanya seperti biasa.
Quote:
Kakek mengajak saya pulang ke rumah Kepala Kampung. Kakek menunaikan sembahyang Isha.
Sesudah makan, Kakek mengajak Kepala kampung ke rumah Timah kembali. Kali ini, Kakek menyuruh saya dan Kepala kampung berpencar, mencari tempat aman masing‐masing. Kakek memakai baju hitam. Dia membawa tiga batang serai, tiga puntung kayu yang sudah menjadi arang serta sebatang paku. Kakek tidak memakai celana hitam, dia memakai celana kuning dan mengikat kepalanya dengan kain putih.
Badan mulai merasa kedinginan. Embun malam mulai menitik. Angin malam yang bergerak melewati dedaunan di halaman rumah. Dedaunan yang tertiup itu melahirkan bunyi tidak menentu. Bunyi katak bersahut‐sahutan sesekali terdengar bunyi suara anjing bersahutan dengan bunyi suara burung hantu dan celepuk.
Saya lihat pintu rumah Timah berkuak dengan sendirinya. Sinar lampu minyak tanah menerangi sebagian dari halaman rumah itu. saya lihat ada bayang‐bayang hitam berdiri di muka pintu. Bersama dengan itu terdengar bunyi suara orang lelaki batuk terus menerus. Saya berlari mendekati Kakek. Saya duduk di sisinya, tiba Kakek menyepak pangkal paha saya, saya kontan terduduk.
“Jangan mendekat!,” Serunya.
Quote:
Saya pun segera menjauh darinya. Kakek membakar kemayan dan membakar sesuatu. Dari rumah Timah terdengar suara lelaki. Anjing kian kuat melolong. Saya mendengar kicau burung murai ditengah malam. Bulu roma saya berdiri. Kepala kampung datang ke tempat kami.
Perhatian kami tertumpu pada pintu rumah Timah yang terbuka. Saya lihat seorang lelaki sedang duduk di muka pintu sambil menghisap rokok. Mukanya tidak begitu jelas kelihatan. Angin malam terus bertiup.
“Kau kenal siapa itu?” tanya Kakek pada Kepala Kampung. Kepala kampung terdiam. Dia terus menitikkan perhatian pada rumah Timah.
“Latif, Suami Timah,” katanya pendek. Kakek menganggukkan kepala. Kakek meletakkan tiga batang serai di depannya. Tangannya menggenggam paku.
“Itu bukan latif, Itu hantu !” kata Kakek.
Baru saja Kakek selesai berbicara, sekeping batu melayang ke arah Kepala Kampung. Karena Kepala kampung juga pandai bersilat, dia mengelak. Batu menumbuk pangkal pohon. Kakek mencabut keris lalu menikam tanah. Ketika Kakek mencabut keris pintu rumah Timah tertutup dengan sendirinya. Kami bertiga masuk ke bawah rumah Timah. Kami mendengar Timah berbicara sesuatu. Kami juga mendengar suara tawa Timah merayu dan suara lelaki sedang dipenuhi birahi yang kuat. Suara Timah bertambah manja, melenguh, dan mengerang kenikmatan.
“Hantu itu sedang menyetubuhi Timah,” Kakek memberitahu Kepala Kampung.
Araka dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup