- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.5K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#107
Part 6 - Kuburan???
Part 6 - Kuburan?
Quote:
Malam semakin larut dan menandakan bahwa kami harus segera tidur untuk mengistirahatkan mata kami agar fit dan segar keesokan harinya. Memang aktifitas penggalian ini memerlukan ketajaman mata yang cukup jeli karena mungkin saja sebuah petunjuk kecil terlewat ketika tanah sudah mulai digali. Beberapa anggota team bergantian berjaga malam termasuk aku dan 3 orang sahabatku. Tak lain dan tak bukan kami berjaga malam bergantian untuk menghindari bahaya tambahan seperti adanya manusia jahat lainnya atapun hewan buas yang lagi kelaparan.
----------------------
Quote:
“Di, kok diam aja? Udah minum sesajen tadi sebelom berangkat?” tanya Marsinto setengah tertawa. “Udah, aku dikasih susu gantung tadi” sambutku tertawa. “Tapi Di, kau gak digangguin lagi setelah kejadian itu?” tanya Marsinto penasaran dengan nada setengah berbisik. Mungkin dia melihat sikapku yang sedikit aneh malam ini sehingga dia bertanya soal penampakan baru lagi. Tidak, tidak mungkin kuberitahukan lagi kepadanya. Cukup aku saja yang memendamnya. “Nggak, nggak lagi To. Tapi kalo penampakan susu gantung di sungai sering” sambungku tertawa lebar. Yups, memang benar sungai di belakang kampungku sering kami jadikan lokasi mengintip ria karena banyak Ibu Ibu muda, paruh baya dan gadi remaja putri mandi dan bahkan kadang kala dari remaja gadis putri itu tidak menutup dadanya.
“To, ambilkan roti itulah. Aku lapar kali” sambungku lagi. “Aku mimpi beberapa hari yang lalu Di, didatengin sama cewek. Dia bertanya soal dirimu” sambung Marsinto dengan wajah yang serius. Aku tahu dia tidak mengisenginku kali ini. “Serius lah bro...” sambungku sambil melumat roti tawar. “Iya, didalam mimpiku dia tanya aku siapa itu dirimu. Aku cerita aja semuanya ke dia. Pakaiannya persis sama dengan penampakan cewek itu yang di pos jaga ronda. Aku masih bingung lihatnya, kenapa bertanya soal dirimu lewat aku. Kok gak langsung datengin dirimu aja”. “Ntah mana tahu dipikirnya ente pembantuku atau asistenku kali To” sambungku sambil berupaya mengalihkan topik pembicaraan yang aku sudah tahu pasti kemana arah ujungnya. “Dasar gendeng, habis ini berobat sana ke puskesmas Di” balasnya lagi.
Malam ini kami lalui dengan begitu tenang meskipun ada gangguan kecil seperti ular yang masuk ke salah satu tenda dan membuat sebagian dari kami panik ketakutan. Walaupun hanya ular kecil dan jika menggigit tidak terlalu berbahaya namun tidak setiap orang berani berhadapan langsung dengan reptil melata tersebut. Syukurlah seluruh peralatan penunjang kelistrikan yang memberikan pencahayaan bagi tenda tenda kami tidak mengalami masalah dan tetap menyala hingga pagi hari.
“To, ambilkan roti itulah. Aku lapar kali” sambungku lagi. “Aku mimpi beberapa hari yang lalu Di, didatengin sama cewek. Dia bertanya soal dirimu” sambung Marsinto dengan wajah yang serius. Aku tahu dia tidak mengisenginku kali ini. “Serius lah bro...” sambungku sambil melumat roti tawar. “Iya, didalam mimpiku dia tanya aku siapa itu dirimu. Aku cerita aja semuanya ke dia. Pakaiannya persis sama dengan penampakan cewek itu yang di pos jaga ronda. Aku masih bingung lihatnya, kenapa bertanya soal dirimu lewat aku. Kok gak langsung datengin dirimu aja”. “Ntah mana tahu dipikirnya ente pembantuku atau asistenku kali To” sambungku sambil berupaya mengalihkan topik pembicaraan yang aku sudah tahu pasti kemana arah ujungnya. “Dasar gendeng, habis ini berobat sana ke puskesmas Di” balasnya lagi.
Malam ini kami lalui dengan begitu tenang meskipun ada gangguan kecil seperti ular yang masuk ke salah satu tenda dan membuat sebagian dari kami panik ketakutan. Walaupun hanya ular kecil dan jika menggigit tidak terlalu berbahaya namun tidak setiap orang berani berhadapan langsung dengan reptil melata tersebut. Syukurlah seluruh peralatan penunjang kelistrikan yang memberikan pencahayaan bagi tenda tenda kami tidak mengalami masalah dan tetap menyala hingga pagi hari.
----------------------
Quote:
Pagi hari yang cerah, matahari bersinar terang diatas lebatnya rimbunan dedaunan pepohonan diatas tenda tenda kami. Tepat pukul tujuh pagi sebagian besar anggota team sudah bangun dan bersiap siap menuju sungai kecil dengan jarak hanya sekitar 100 meter dari kami. Sungai kecil tersebutsudah kami lalui ketika akan mencapai site ini kemarin. Aku yang bangun sejak pukul enam pagi sudah mulai mempersiapkan menu makanan yang akan disajikan kepada seluruh anggota team nanti sebagai sarapan pagi. Meskipun hanyalah ikan kalengan, mie instant dan nasi serta beberapa buah roti sebagai sarapan untuk para bule bule itu aku tetap berusaha memberikan sebuah cita rasa khusus agar terkesan seperti tetap berada di rumah.
Dari tenda para wanita keluarlah Yani, Lidya dan Cut masih memakai jaket tebal mereka. Wajah mereka terlihat cantik meskipun baru saja bangun pagi dan khususnya Yani dan Lidya yang sudah berstatus istri orang lain, mereka berdua terlihat seperti anak gadis saja. “Di, pagi benar udah bangun?” tanya Lidya yang terus menggosok gosokkan kedua telapak tangannya. “Iya Bu, udah biasa saya bangun pagi. Ini sekalian saya siapkan sarapan pagi kita semua” jawabku dengan tangan yang masih sibuk mengiris iris bawang dan cabai merah sebagai bumbu. “Yang lain belom bangun kan Di?”. “Belom Bu” jawabku singkat. “Ya udah ntar temanin kami semua ke sungai itu ya. Kami mau mandi dulu bersih bersih. Mumpung yang lain belom bangun” balas Yani. Aku mengangguk saja keheranan. Dalam hatiku, yang benar saja mereka mengajakku menemani mereka. “Yan, kata miss miss ini mereka gak mandi pagi ini karena hawa dinginnya. Mereka mandi nanti sore katanya” Mutiya menimpali seraya bangkit keluar tenda bersama Setia.
Aku meninggalkan pekerjaanku menyiapkan sarapan pagi. Mereka pun mengambil handuk dan perlengkapan mandi mereka sementara aku mematikan lampu lampu yang menerangi tenda dan mengalihkan arus listrik dari genset ke baterai kering inverter. Berangkatlah kami menuju sungai kecil tersebut. Sesampainya disana aku mempersilahkan mereka untuk mengganti baju terlebih dahulu baru aku akan turun ke sungai juga untuk membasuh badanku ala kadarnya. Setelah selesai aku menjaga jarak dengan mereka meskipun aku masih tetap dapat melihat mereka dengan pakaian minim yang cukup seksi. “Di, gak kedinginan kamu?” tanya Mutiya. “Gak Bu, udah terbiasa dengan air seperti ini dinginnya di rumah. Kan kami biasanya mandi jam lima pagi sebelum ke sawah atau ke ladang” sambungku dengan wajah tertunduk. “Gak takut Bu dengan pakaian seperti itu mandi disini, apalagi ada saya disini” tanyaku pura pura lugu. “Gak ah, soalnya kami udah tahu dirimu dari Ibumu. Kamu kan gak bakalan macam macam” balas Cut.
Sementara mereka mandi, aku memperhatikan sekeliling. Mataku tiba tiba terfokus dengan sosok dibalik pepohonan. Sosok itu mirip seorang wanita muda. Tidak.... Itu dia, si tuan putri! Sedari tadi dia memperhatikan kami disini. Aku bimbang, apakah harus aku beritahukan kepada mereka tentang penampakan ini atau tidak. Lama aku memperhatikan sosok itu. “Aldi, kamu pria baik. Ini aku yang berbicara” sebuah suara tiba tiba ada dikepalaku. Suara tersebut bukanlah suara mereka dan hanya mereka saja 5 orang wanita yang bisa berbahasa Indonesia. Aku bimbang, apakah harus memberitahukan mereka atau tidak. Aku membalasnya pelan, “Kamu siapa? Kenapa kamu terus menghantuiku? Mendatangiku seperti ingin menyampaikan sesuatu?”. Sosok itu membalas dengan nanda yang lembut, “Kamu akan tahu nanti jawabannya. Kamu pasti akan mengetahuinya”. Sontak saja aku langsung berpaling dan akan memberitahukan mereka. Tapi ketika kupalingkan wajahku lagi sosok itu menghilang. Sontak saja semua bulu dibadanku langsung berdiri. Kakiku gemetar, kurasakan panas badanku naik turun. Tapi aku kuatkan diriku karena aku yakin makhluk itu pasti punya niat yang baik.
Dari tenda para wanita keluarlah Yani, Lidya dan Cut masih memakai jaket tebal mereka. Wajah mereka terlihat cantik meskipun baru saja bangun pagi dan khususnya Yani dan Lidya yang sudah berstatus istri orang lain, mereka berdua terlihat seperti anak gadis saja. “Di, pagi benar udah bangun?” tanya Lidya yang terus menggosok gosokkan kedua telapak tangannya. “Iya Bu, udah biasa saya bangun pagi. Ini sekalian saya siapkan sarapan pagi kita semua” jawabku dengan tangan yang masih sibuk mengiris iris bawang dan cabai merah sebagai bumbu. “Yang lain belom bangun kan Di?”. “Belom Bu” jawabku singkat. “Ya udah ntar temanin kami semua ke sungai itu ya. Kami mau mandi dulu bersih bersih. Mumpung yang lain belom bangun” balas Yani. Aku mengangguk saja keheranan. Dalam hatiku, yang benar saja mereka mengajakku menemani mereka. “Yan, kata miss miss ini mereka gak mandi pagi ini karena hawa dinginnya. Mereka mandi nanti sore katanya” Mutiya menimpali seraya bangkit keluar tenda bersama Setia.
Aku meninggalkan pekerjaanku menyiapkan sarapan pagi. Mereka pun mengambil handuk dan perlengkapan mandi mereka sementara aku mematikan lampu lampu yang menerangi tenda dan mengalihkan arus listrik dari genset ke baterai kering inverter. Berangkatlah kami menuju sungai kecil tersebut. Sesampainya disana aku mempersilahkan mereka untuk mengganti baju terlebih dahulu baru aku akan turun ke sungai juga untuk membasuh badanku ala kadarnya. Setelah selesai aku menjaga jarak dengan mereka meskipun aku masih tetap dapat melihat mereka dengan pakaian minim yang cukup seksi. “Di, gak kedinginan kamu?” tanya Mutiya. “Gak Bu, udah terbiasa dengan air seperti ini dinginnya di rumah. Kan kami biasanya mandi jam lima pagi sebelum ke sawah atau ke ladang” sambungku dengan wajah tertunduk. “Gak takut Bu dengan pakaian seperti itu mandi disini, apalagi ada saya disini” tanyaku pura pura lugu. “Gak ah, soalnya kami udah tahu dirimu dari Ibumu. Kamu kan gak bakalan macam macam” balas Cut.
Sementara mereka mandi, aku memperhatikan sekeliling. Mataku tiba tiba terfokus dengan sosok dibalik pepohonan. Sosok itu mirip seorang wanita muda. Tidak.... Itu dia, si tuan putri! Sedari tadi dia memperhatikan kami disini. Aku bimbang, apakah harus aku beritahukan kepada mereka tentang penampakan ini atau tidak. Lama aku memperhatikan sosok itu. “Aldi, kamu pria baik. Ini aku yang berbicara” sebuah suara tiba tiba ada dikepalaku. Suara tersebut bukanlah suara mereka dan hanya mereka saja 5 orang wanita yang bisa berbahasa Indonesia. Aku bimbang, apakah harus memberitahukan mereka atau tidak. Aku membalasnya pelan, “Kamu siapa? Kenapa kamu terus menghantuiku? Mendatangiku seperti ingin menyampaikan sesuatu?”. Sosok itu membalas dengan nanda yang lembut, “Kamu akan tahu nanti jawabannya. Kamu pasti akan mengetahuinya”. Sontak saja aku langsung berpaling dan akan memberitahukan mereka. Tapi ketika kupalingkan wajahku lagi sosok itu menghilang. Sontak saja semua bulu dibadanku langsung berdiri. Kakiku gemetar, kurasakan panas badanku naik turun. Tapi aku kuatkan diriku karena aku yakin makhluk itu pasti punya niat yang baik.
----------------------
Quote:
Setelah semua selesai mandi dan sarapan, tepat pukul 9 pagi penggalian pertama dimulai. Kami mulai dari titik dimana batu pertama kami temukan. Penggalian dari bawah formasi batu pondasi tersebut untuk memastikan seberapa dalamnya batu itu tertimbun tanah. Belum sampai satu meter, tiba tiba mata cangkul membentur sesuatu yang keras dan bunyinya nyaring sekali. “Apa itu?” teriak salah satu dari kami. “Ambilkan saya sekop bundar dan ember auger” perintah Pak Tarmizi ke Martin Orke yang sedari tadi mendampinginya. Setelah kedua alat itu datang, penggalian dilanjutkan dengan disaksikan oleh kami semua. Perlahan lahan tanah dan pasir disingkirkan sehingga mulai terlihatlah benda tersebut. Benda tersebut berwarna putih susu dan memiliki retakan. “That’s a skull, Sir”(Itu adalah tengkorak, Pak) ucap Nathan Flint. “I am sure that’s a human skull”(Aku yakin itu adalah tengkorak manusia) sambung Doughlas Brent. “Beri saya ruang, saya akin ada kerangka utuh dibawah sini” perintak Pak Tarmizi. Dan kamipun menyingkir untuk memberikan ruang kepadanya.
Dan benar saja, terdapat sebuah kerangka utuh yang tertimbun tanah dan pasir. Semua anggota team masih kaget dengan temuan tersebut. “Luar biasa, belum selesai kita menggali bebatuan itu kita sudah dapat petunjuk para penghuninya” timpal Syahril. Perlahan lahan kuas digosokkan dikerangka tersebut membersihkan seluruh sisa tanah yang menempel. Kereangka itu utuh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi sepertinya di kealanya terdapat lubang besar yang bukan karena tersentuh cangkul tadi. “Looks like this one got hit on the head. A hard smash i think”(sepertinya kerangka yang satu ini mendapat pukulan dikepala, sebuah pukulan keras aku pikir) Nathan mengomentarinya. “Hey, look at the bottom. I think it’s another one”(lihat kebawah. Sepertinya itu adalah kerangka yang lainnya) sambung Clara.
Yep, benar saja ada kerangka lainnya dibawahnya. Sepertinya ada banyak kerangka disini. Bagi para pemuda kampungku mereka terlihat ketakutan dan cukup menjaga jarak karena melihat kerangka manusia ini. Bagi mereka mungkin ini adalah pengalaman pertama melihat kerangka manusia utuh dari dekat secara langsung. Namun, bagiku melihat kerangka seperti ini aku tidak takut. Tapi, jika kerangka itu bergerak dapat kupastikan kakiku akan langsung terpompa hebat dengan adrenalin berlari sekencang kencangnya tanpa tentu arah. Ember ember disiapkan, kuas ditambah, sekop tambahan terus digunakan. Tiang tiang kecil ditambatkan dengan jarak satu meter diantara tiang. Dan semua team dari universitas tersebut turun kecuali Jack dan Sarah yang notabennenya mereka bukan adalah geolog.
Dan benar saja, terdapat sebuah kerangka utuh yang tertimbun tanah dan pasir. Semua anggota team masih kaget dengan temuan tersebut. “Luar biasa, belum selesai kita menggali bebatuan itu kita sudah dapat petunjuk para penghuninya” timpal Syahril. Perlahan lahan kuas digosokkan dikerangka tersebut membersihkan seluruh sisa tanah yang menempel. Kereangka itu utuh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tapi sepertinya di kealanya terdapat lubang besar yang bukan karena tersentuh cangkul tadi. “Looks like this one got hit on the head. A hard smash i think”(sepertinya kerangka yang satu ini mendapat pukulan dikepala, sebuah pukulan keras aku pikir) Nathan mengomentarinya. “Hey, look at the bottom. I think it’s another one”(lihat kebawah. Sepertinya itu adalah kerangka yang lainnya) sambung Clara.
Yep, benar saja ada kerangka lainnya dibawahnya. Sepertinya ada banyak kerangka disini. Bagi para pemuda kampungku mereka terlihat ketakutan dan cukup menjaga jarak karena melihat kerangka manusia ini. Bagi mereka mungkin ini adalah pengalaman pertama melihat kerangka manusia utuh dari dekat secara langsung. Namun, bagiku melihat kerangka seperti ini aku tidak takut. Tapi, jika kerangka itu bergerak dapat kupastikan kakiku akan langsung terpompa hebat dengan adrenalin berlari sekencang kencangnya tanpa tentu arah. Ember ember disiapkan, kuas ditambah, sekop tambahan terus digunakan. Tiang tiang kecil ditambatkan dengan jarak satu meter diantara tiang. Dan semua team dari universitas tersebut turun kecuali Jack dan Sarah yang notabennenya mereka bukan adalah geolog.
----------------------
Quote:
3 jam penggalian dilakukan tanpa henti. Lubang ekskavasi semakin diperluas hingga mencapai 30 meter persegi. Tampak sudah susunan kerangka manusia saling bertimpa menumpuk jadi satu saling bertindihan. Terlihat ukuran kerangka tersebut seperti kerangka orang dewasa dan anak anak bercampur jadi satu. Miris sekali pemandangan itu kuperhatikan terus menerus. Mereka seperti dibantai satu persatu lalu mayatnya buang ke dalam satu lobang dan dibiarkan membusuk. Dan terkubur sampai sekarang.
Aku langsung teringat kepada penampakan wanita tadi yang sempat berbicara padaku pagi ini. Aku yakin ini semua erat kaitannya dengannnya. Apakah itu pertanda buruk atau tidak aku berharap ini bukanlah sebuah bencana bagi kami. Karena puluhan bahkan mungkin ratusan kerangka ini terlihat seperti sangat menderita sebelum mati. Memang tak wajar melihat puluhan kerangka manusia utuh bertumpuk dalam satu tempat. Seperti pembantaian masal yang terjadi di negara negara lain pikirku. Sebagai contoh, Bosnia, German, Cech, Vietnam bahkan Indonesia sendiri pada masa penumpasan PKI setelah pemberontakan mereka yang gagal di tahun 1965 dan itu pun masih banyak lain di seluruh pelosok bumi ini yang belum terungkap.
Kami pun juga mendokumentasikan kerangka kerangka tersebut dengan kamera digital yang kami bawa. Sebagai bentuk bukti adanya sebuah peradaban yang telah dimusnahkan oleh sesuatu hal. Lalu Pak Tejo menghubungi Base Station meminta agar pihak TNI POLRI mendatangkan Dinas Purbakala Nasional dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Dan mereka pun setuju mengingat temuan kami yang cukup besar ini. Bisa saja kuburan kerangka ini merupakan sisa dari pembantaian masa pembersihan PKI atau memang benar benar situs sejarah yang hilang.
Perasaan kami yang timbuk campur aduk, rasa senang karena situs sudah ditemukan, gembira, takut dengan kerangka ini bahkan khawatir terpancar dari wajah wajah kami semua kecuali para bule itu yang selalu tenang menyikapinya. “Pak, ada balasan dari radio dari Base Station!” teriak Yoshua yang tetap stand-by didepan radio CB. Pak Tejo dan Pak Usman segera bergegas menuju tenda. Tak berapa lama kemudian mereka kembali dan mengumumkan bahwa team dari negara akan datang 2 hari kemudian karena harus menunggu beberapa orang dari Jakarta. Dan selama itu juga kami akan melanjutkan penggalian dan pemetaan terhadap situs ini. Semoga saja malam ini kami baik baik saja, gumamku dalam hati. Bukan alasan memang tapi setelah penemuan “kolam” kerangka ini aku yakin malam ini kami pasti akan diliputi ketakutan yang amat mencekam.
Aku langsung teringat kepada penampakan wanita tadi yang sempat berbicara padaku pagi ini. Aku yakin ini semua erat kaitannya dengannnya. Apakah itu pertanda buruk atau tidak aku berharap ini bukanlah sebuah bencana bagi kami. Karena puluhan bahkan mungkin ratusan kerangka ini terlihat seperti sangat menderita sebelum mati. Memang tak wajar melihat puluhan kerangka manusia utuh bertumpuk dalam satu tempat. Seperti pembantaian masal yang terjadi di negara negara lain pikirku. Sebagai contoh, Bosnia, German, Cech, Vietnam bahkan Indonesia sendiri pada masa penumpasan PKI setelah pemberontakan mereka yang gagal di tahun 1965 dan itu pun masih banyak lain di seluruh pelosok bumi ini yang belum terungkap.
Kami pun juga mendokumentasikan kerangka kerangka tersebut dengan kamera digital yang kami bawa. Sebagai bentuk bukti adanya sebuah peradaban yang telah dimusnahkan oleh sesuatu hal. Lalu Pak Tejo menghubungi Base Station meminta agar pihak TNI POLRI mendatangkan Dinas Purbakala Nasional dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Dan mereka pun setuju mengingat temuan kami yang cukup besar ini. Bisa saja kuburan kerangka ini merupakan sisa dari pembantaian masa pembersihan PKI atau memang benar benar situs sejarah yang hilang.
Perasaan kami yang timbuk campur aduk, rasa senang karena situs sudah ditemukan, gembira, takut dengan kerangka ini bahkan khawatir terpancar dari wajah wajah kami semua kecuali para bule itu yang selalu tenang menyikapinya. “Pak, ada balasan dari radio dari Base Station!” teriak Yoshua yang tetap stand-by didepan radio CB. Pak Tejo dan Pak Usman segera bergegas menuju tenda. Tak berapa lama kemudian mereka kembali dan mengumumkan bahwa team dari negara akan datang 2 hari kemudian karena harus menunggu beberapa orang dari Jakarta. Dan selama itu juga kami akan melanjutkan penggalian dan pemetaan terhadap situs ini. Semoga saja malam ini kami baik baik saja, gumamku dalam hati. Bukan alasan memang tapi setelah penemuan “kolam” kerangka ini aku yakin malam ini kami pasti akan diliputi ketakutan yang amat mencekam.
----------------------
Quote:
Kabar ditemukannya tulang belulang manusia di site yang kami tuju membuat warga kampungku geger dan penasaran. Bu Kepling atau istrinya Pak Kepling memang terkenal dengan hobinya yang “bocor” alias gosip mania. Sehingga seluruh pembicaraan diradio CB tadi pun langsung berpindah mulut ke mulut di kampungku. Kabar penemuan ini membuat keluargaku resah mengkhawatirkanku disana. Dan bukan hanya keluargaku namun seluruh warga kampungku mengingat adanya pantangan tabu mengganggu makam orang lain yang sudah tenang.
Tak ketinggalan juga bagi Mbah Wagimin dan Mbah Suroso ikut beraksi. Kedua Mbah yang terkenal pendiam ini mulai angkat bicara dan memutuskan akan berangkat ke site keesokan harinya didampingin warga kampung yang lain. Tapi, sebuah rahasia diungkapkan oleh kedua Mbah ini kepada warga kampungku yang membuat warga kampungku pun langsung ketakutan dan cemas. Apa yang sebenarnya mereka rahasiakn selama ini sehingga mereka hanya diam saja. Terlebih karena mereka jugalah daerah sekitar site penggalian kami ini langka bahkan tidak pernah sekalipun dimasuki warga kampungku. Kenapa mereka memilih diam seribu bahasa ketika pertemuan di rumah Pak Kepling kemaren hari, apa karena mereka sudah tua tak mau terlibat atau mereka memilih bungkam karena tabu.
Tak ketinggalan juga bagi Mbah Wagimin dan Mbah Suroso ikut beraksi. Kedua Mbah yang terkenal pendiam ini mulai angkat bicara dan memutuskan akan berangkat ke site keesokan harinya didampingin warga kampung yang lain. Tapi, sebuah rahasia diungkapkan oleh kedua Mbah ini kepada warga kampungku yang membuat warga kampungku pun langsung ketakutan dan cemas. Apa yang sebenarnya mereka rahasiakn selama ini sehingga mereka hanya diam saja. Terlebih karena mereka jugalah daerah sekitar site penggalian kami ini langka bahkan tidak pernah sekalipun dimasuki warga kampungku. Kenapa mereka memilih diam seribu bahasa ketika pertemuan di rumah Pak Kepling kemaren hari, apa karena mereka sudah tua tak mau terlibat atau mereka memilih bungkam karena tabu.
sirluciuzenze dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas