- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#33
PART =3 (end)
Kakek memanggil saya. Sewaktu saya sampai dekat Kakek, saya merasa pangkal celana saya basah. Sesungguhnya, saya tidak sadar kapan saya kencing dalam celana. Kakek suruh saya membakar obor daun kelapa. Saya patuh dengan perintahnya. Tatkala obor daun kelapa sudah terbakar, kawasan sekitar tanah kubur yang digali oleh Anjang Dollah terang.
“Kau lihat !” Kakek menuding dengan jari kelingkingnya ke dalam lubang kubur. Lubang kubur saya tengok.
Anjang Dollah terbaring di dalamnya. Seluruh mukanya berdarah. Di sebelahnya terdapat mayat seorang perempuan, kepalanya sudah terpisah dengan badan. Kain kafannya sudah koyak dan berdarah.
“Perbuatan yang dikutuk oleh Allah. Perbuatan sesat yang terpisah dari ajaran agama. Cuma orang yang tidak beriman dan tidak percaya kepada Allah saja yang berani berbuat kerja laknat ini,” Kakek bersungut-sungut panjang. Saya merenung wajah Kakek. Wajahnya penuh kesal. Memang, di luar dugaan Kakek, bahwa Dukun Anjang Dollah bisa mengerjakan perbuatan yang tidak diridhai oleh agama Islam.
“Apa yang musti kita kerjakan, Kek?” saya bertanya Kakek. Lama juga Kakek termenung di situ. Saya tidak tahu apa yang difikirkannya.
“Sebagai orang Islam, Anjang Dollah tidak boleh dibiarkan begini. Dia harus dimandikan, dikafani dan dikubur serta dibacakan talkin,” Jawab Kakek.
“Siapa yang mau mengurusi semuanya ini?”
“Siapa lagi?... kita yang mesti menyelesaikannya,” Kakek berkata tegas.
“Dia mengerjakan perbuatan yang salah, biarkan dia di situ!” bantah saya.
Kakek tersenyum. Suara burung hantu dan celepuk terus bersahut‐sahutan, tapi suara salak anjing sudah tidak ada lagi. Bunyi dahan jatuh masih kedengaran.
“Kau salah…! Kita tahu dia memang beragama Islam. Persoalan dia mengerjakan perbuatan yang tidak baik, itu persoalan dia dengan Tuhan,” Kakek memberitahu saya.
Kakek membuat keputusan yang tepat. Dia mau memberitahu pada seluruh penduduk tentang peristiwa yang menimpa diri Anjang Dollah. Dia mau memaklumkan hal itu ke seluruh kampung. Kakek juga mengharap pada siapa saja yang mengambil ilmu salah atau yang berguru dengan Anjang Dollah supaya bertaubat dan membuang semua ilmu itu dan kembali ke jalan Allah.
Saya merenung ke dalam kubur kembali. Saya lihat mayat perempuan mati beranak itu masih berdarah, saya perkirakan perempuan itu tentu saja baru dikubur. Hal itu saya tanyakan pada Kakek.
“Agaknya dia mati semalam,” kata Kakek.
Dia menarik tangan saya keluar dari kawasan pekuburan. Kami putar balik menuju kampung. Bila sampai di kampung nanti, Kakek mau melaporkan perkara itu kepada penghulu. Kami kembali melintasi tanah sawah yang luas terbentang. Kali ini saya tidak mau berjauhan dengan Kakek. Kakek tahu perasaan hati saya. Dia menyuruh saya memegang pinggang celananya.
Baru saja kami sampai di mulut kampung, saya dan Kakek bertemu dengan Imam Hamid. Dia agak terkejut bila kami katakan bahwa kami baru saja kembali dari tanah kubur.
“Ada apa?” tanya Imam Hamid.
“Panjang ceritanya… Ah, Pak Imam ini mau kemana?” Tanya Kakek.
Imam Hamid terdiam. Kemudian dia memberitahu kami, bahwa dia juga mau pergi ke pekuburan.
“Untuk apa?” Kakek mengemukakan Pertanyaan. Imam Hamid diam sejenak.
“Anakku, Sepinah, meninggal karena beranak. Sudah dikubur semalam.”
“Kami tidak tahu,” jawab Kakek.
“Salahku, aku mau menguburnya cepat. Tiba‐tiba, semalaman ini hatiku teringat dia selalu. Aku takut kuburannya dikorek orang. Kau sendiri tahulah sekarang, kuburan perempuan mati beranak suka digali orang,” Kata Imam Hamid.
Mendengar perkataan Imam Hamid itu, wajah Kakek segera berubah. Dia mulai ragu dengan apa yang dituturkan oleh Imam Hamid. Jauh dalam hati Kakek, timbul satu pertanyaan apakah Imam Hamid berkongsi dengan Anjang Dollah dalam perkara ini? Kakek terus menepuk bahu Imam Hamid dan mengajak dia pulang. Imam Hamid keberatan. Kakek terus membujuk. Ada sesuatu yang mau ditanya oleh Kakek pada Imam Hamid. Kalau Imam Hamid membuat kerja terlarang, dia mau membujuknya supaya kembali ke jalan Allah.
“Ke rumah saya saja malam ini. Ada hal yang mau saya tanya pada Pak Imam,” kata Kakek. Mendengar nada bicara Kakek itu muka Imam Hamid berubah menjadi pucat.
Imam Hamid mengedutkan dahinya hingga berlapis empat. Dia renung muka Kakek. Dia renung muka saya hingga kepucatan yang terpancar di wajahnya hilang.
“Pentingkah?” Tanyanya agak ragu.
“Memang penting. Masalah yang mau diceritakan ini ada hubungannya dengan diri Pak Imam.”
“Dengan diri saya ?”
“Iya,” Kakek anggukkan kepala.
Tanpa banyak bicara Imam Hamid mengikuti Kakek dan saya ke rumah. Kami bertiga duduk bersila di anjung rumah. Seperti biasa, Kakek bila bertutur kata suka bersandar. Lutut sebelah kakinya berdiri. Ini memang amalan Kakek. Menurut Kakek duduk begitu bukan duduk yang kosong. Duduk yang ada makna. Sulit kalau musuh mau menyerang. Susah hantu setan mau menggoda.
“Apa dia masalah yang penting itu?” Imam Hamid mulai mendesak. Kakek tersenyum. Serentak dengan itu nenek pun meletakkan tiga cawan kopi di depan kami.
“Begini,” Kakek menggeliat dan terus bercerita :
“Anjang Dollah sudah mati, pagi esok kita terpaksa mengurus mayatnya untuk dikubur. Dia mati dibunuh setan yang dibelanya.” Imam Hamid terkejut. Kemudian dia senyum. Sepasang matanya merauti paras Kakek. Saya cuma diam saja. Tidak baik campur orang tua‐tua berbicara.
“Pemintaan saya diberkati Allah.” Itu yang terhambur dari mulut Imam Hamid. Matanya bercahaya memandang muka saya.
“Dengan apa Pak Imam membinasakan kerja laknat itu? “Kakek bertanya.
Imam Hamid menggosok batang hidungnya beberapa kali.
“Dengan ayat Quran, kau harus tahu tidak ada kuasa yang dapat mengatasi kekuasaan Tuhan. Lagi pula dalam Quran sudah lengkap semuanya. Perbuatan jahat memang tidak diberkati Tuhan.” Itulah yang diberitahu oleh Imam Hamid pada Kakek. Kakek menganggukkan kepala.
Imam Hamid pun selanjutnya bercerita pada Kakek tentang diri Anjang Dollah. Menurut Imam Hamid, Anjang Dollah memanglah dukun yang tidak bersih. Ia tidak mengamalkan ilmu kedudukannya untuk kebaikan manusia. Dia bekerja bergurukan setan. Kerjanya menggali kubur perempuan mati beranak. Suka mengambil kain kafan dan rambut orang yang baru mati beranak.
“Agaknya dia dukun sihir Pak Imam,” Dengan mendadak Kakek bersuara.
Imam Hamid mengakuinya sambil berkata, ” Dia sudah dipengaruhi setan. Sanggup mengambil darah orang mati beranak untuk makanan setan yang dipeliharanya.”
“Siapa pula yang di belanya itu ?” saya tanya.
Kakek merenung dengan marah pada saya.
“Hantu itu, adik perempuannya sendiri…! Dia gorok kepalanya , sayangnya hal itu tidak diketahui oleh siapapun.”
“Dahsyatnya!” ujar Kakek.
“Memang dahsyat! Dan aku menduga dia akan menggali kubur anakku. Jadi aku bersiap untuk menghadapinya.” Imam Hamid berhenti bercerita.
Dia minta diri untuk pulang ke rumahnya.
Mulai saat malam itulah, Kakek mengetahui bahwa Imam Hamid bukan orang sembarangan. Dia banyak ilmu dunia dan akhirat. Sifat orang terpuji ada pada diri Imam Hamid karena dia tidak mau menunjukkan kemahirannya di mata orang banyak. Inilah yang mengagumkan diri Kakek.
Setelah Imam Hamid pulang. Saya dan Kakek tidak dapat tidur. Rumah Kami diganggu dengan bermacam‐macam cara. Pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Kelambu terbakar sendiri. Dan paling mengerikan bila rumah dilempari dengan batu dan kayu. Kakek tidak bertindak, dia cuma membiarkan saja. Dia cukup tenang duduk di tengah rumah.
Ketika Kakek mau pergi ke perigi untuk mengambil air sembahyang. Dia terkejut. Ruangan luas di anjung rumahnya penuh dengan daun buluh dan batang pisang.
“Setan, semuanya kerja setan,” keluh Kakek. Dia terus ke perigi. Saya juga ikut ke perigi. Kami sembahyang subuh bersama. Begitu selesai Kami sembahyang, semua daun pisang dan batang buluh hilang.
Pagi itu, kami berdua segera pergi ke tanah kubur. Ketika sampai di kawasan tanah pekuburan, Imam Hamid dan beberapa orang kawannya sudah berada di situ. Mayat Anjang Dollah sudah dimasukkan ke dalam karung. Dua orang anak muda sudah membopong karung yang berisi mayat Anjang Dollah.
Kakek segera menemui Imam Hamid dan minta diri untuk melihat mayat Anjang Dollah. Permintaan Kakek itu tidak ditolaknya. Begitu Kakek melihat mayat Anjang Dollah dalam karung, air mukanya segera berubah. Jadi cemas.
“Kenapa jadi seperti itu ?” Kakek dengan tiba‐tiba bersuara.
“Itulah pembalasan yang dapat kita lihat, bila orang melakukan perbuatan yang bertentangan hukum Allah,” bisik Imam Hamid pada Kakek. Mayat Anjang Dollah pun dibawa ke rumah. Dia dimandikan dan dikafani, akhirnya disemadikan di tanah pekuburan.
Quote:
Kakek memanggil saya. Sewaktu saya sampai dekat Kakek, saya merasa pangkal celana saya basah. Sesungguhnya, saya tidak sadar kapan saya kencing dalam celana. Kakek suruh saya membakar obor daun kelapa. Saya patuh dengan perintahnya. Tatkala obor daun kelapa sudah terbakar, kawasan sekitar tanah kubur yang digali oleh Anjang Dollah terang.
“Kau lihat !” Kakek menuding dengan jari kelingkingnya ke dalam lubang kubur. Lubang kubur saya tengok.
Anjang Dollah terbaring di dalamnya. Seluruh mukanya berdarah. Di sebelahnya terdapat mayat seorang perempuan, kepalanya sudah terpisah dengan badan. Kain kafannya sudah koyak dan berdarah.
“Perbuatan yang dikutuk oleh Allah. Perbuatan sesat yang terpisah dari ajaran agama. Cuma orang yang tidak beriman dan tidak percaya kepada Allah saja yang berani berbuat kerja laknat ini,” Kakek bersungut-sungut panjang. Saya merenung wajah Kakek. Wajahnya penuh kesal. Memang, di luar dugaan Kakek, bahwa Dukun Anjang Dollah bisa mengerjakan perbuatan yang tidak diridhai oleh agama Islam.
“Apa yang musti kita kerjakan, Kek?” saya bertanya Kakek. Lama juga Kakek termenung di situ. Saya tidak tahu apa yang difikirkannya.
“Sebagai orang Islam, Anjang Dollah tidak boleh dibiarkan begini. Dia harus dimandikan, dikafani dan dikubur serta dibacakan talkin,” Jawab Kakek.
“Siapa yang mau mengurusi semuanya ini?”
“Siapa lagi?... kita yang mesti menyelesaikannya,” Kakek berkata tegas.
“Dia mengerjakan perbuatan yang salah, biarkan dia di situ!” bantah saya.
Kakek tersenyum. Suara burung hantu dan celepuk terus bersahut‐sahutan, tapi suara salak anjing sudah tidak ada lagi. Bunyi dahan jatuh masih kedengaran.
“Kau salah…! Kita tahu dia memang beragama Islam. Persoalan dia mengerjakan perbuatan yang tidak baik, itu persoalan dia dengan Tuhan,” Kakek memberitahu saya.
Kakek membuat keputusan yang tepat. Dia mau memberitahu pada seluruh penduduk tentang peristiwa yang menimpa diri Anjang Dollah. Dia mau memaklumkan hal itu ke seluruh kampung. Kakek juga mengharap pada siapa saja yang mengambil ilmu salah atau yang berguru dengan Anjang Dollah supaya bertaubat dan membuang semua ilmu itu dan kembali ke jalan Allah.
Saya merenung ke dalam kubur kembali. Saya lihat mayat perempuan mati beranak itu masih berdarah, saya perkirakan perempuan itu tentu saja baru dikubur. Hal itu saya tanyakan pada Kakek.
“Agaknya dia mati semalam,” kata Kakek.
Dia menarik tangan saya keluar dari kawasan pekuburan. Kami putar balik menuju kampung. Bila sampai di kampung nanti, Kakek mau melaporkan perkara itu kepada penghulu. Kami kembali melintasi tanah sawah yang luas terbentang. Kali ini saya tidak mau berjauhan dengan Kakek. Kakek tahu perasaan hati saya. Dia menyuruh saya memegang pinggang celananya.
Quote:
Baru saja kami sampai di mulut kampung, saya dan Kakek bertemu dengan Imam Hamid. Dia agak terkejut bila kami katakan bahwa kami baru saja kembali dari tanah kubur.
“Ada apa?” tanya Imam Hamid.
“Panjang ceritanya… Ah, Pak Imam ini mau kemana?” Tanya Kakek.
Imam Hamid terdiam. Kemudian dia memberitahu kami, bahwa dia juga mau pergi ke pekuburan.
“Untuk apa?” Kakek mengemukakan Pertanyaan. Imam Hamid diam sejenak.
“Anakku, Sepinah, meninggal karena beranak. Sudah dikubur semalam.”
“Kami tidak tahu,” jawab Kakek.
“Salahku, aku mau menguburnya cepat. Tiba‐tiba, semalaman ini hatiku teringat dia selalu. Aku takut kuburannya dikorek orang. Kau sendiri tahulah sekarang, kuburan perempuan mati beranak suka digali orang,” Kata Imam Hamid.
Mendengar perkataan Imam Hamid itu, wajah Kakek segera berubah. Dia mulai ragu dengan apa yang dituturkan oleh Imam Hamid. Jauh dalam hati Kakek, timbul satu pertanyaan apakah Imam Hamid berkongsi dengan Anjang Dollah dalam perkara ini? Kakek terus menepuk bahu Imam Hamid dan mengajak dia pulang. Imam Hamid keberatan. Kakek terus membujuk. Ada sesuatu yang mau ditanya oleh Kakek pada Imam Hamid. Kalau Imam Hamid membuat kerja terlarang, dia mau membujuknya supaya kembali ke jalan Allah.
“Ke rumah saya saja malam ini. Ada hal yang mau saya tanya pada Pak Imam,” kata Kakek. Mendengar nada bicara Kakek itu muka Imam Hamid berubah menjadi pucat.
Imam Hamid mengedutkan dahinya hingga berlapis empat. Dia renung muka Kakek. Dia renung muka saya hingga kepucatan yang terpancar di wajahnya hilang.
“Pentingkah?” Tanyanya agak ragu.
“Memang penting. Masalah yang mau diceritakan ini ada hubungannya dengan diri Pak Imam.”
“Dengan diri saya ?”
“Iya,” Kakek anggukkan kepala.
Tanpa banyak bicara Imam Hamid mengikuti Kakek dan saya ke rumah. Kami bertiga duduk bersila di anjung rumah. Seperti biasa, Kakek bila bertutur kata suka bersandar. Lutut sebelah kakinya berdiri. Ini memang amalan Kakek. Menurut Kakek duduk begitu bukan duduk yang kosong. Duduk yang ada makna. Sulit kalau musuh mau menyerang. Susah hantu setan mau menggoda.
Quote:
“Apa dia masalah yang penting itu?” Imam Hamid mulai mendesak. Kakek tersenyum. Serentak dengan itu nenek pun meletakkan tiga cawan kopi di depan kami.
“Begini,” Kakek menggeliat dan terus bercerita :
“Anjang Dollah sudah mati, pagi esok kita terpaksa mengurus mayatnya untuk dikubur. Dia mati dibunuh setan yang dibelanya.” Imam Hamid terkejut. Kemudian dia senyum. Sepasang matanya merauti paras Kakek. Saya cuma diam saja. Tidak baik campur orang tua‐tua berbicara.
“Pemintaan saya diberkati Allah.” Itu yang terhambur dari mulut Imam Hamid. Matanya bercahaya memandang muka saya.
“Dengan apa Pak Imam membinasakan kerja laknat itu? “Kakek bertanya.
Imam Hamid menggosok batang hidungnya beberapa kali.
“Dengan ayat Quran, kau harus tahu tidak ada kuasa yang dapat mengatasi kekuasaan Tuhan. Lagi pula dalam Quran sudah lengkap semuanya. Perbuatan jahat memang tidak diberkati Tuhan.” Itulah yang diberitahu oleh Imam Hamid pada Kakek. Kakek menganggukkan kepala.
Imam Hamid pun selanjutnya bercerita pada Kakek tentang diri Anjang Dollah. Menurut Imam Hamid, Anjang Dollah memanglah dukun yang tidak bersih. Ia tidak mengamalkan ilmu kedudukannya untuk kebaikan manusia. Dia bekerja bergurukan setan. Kerjanya menggali kubur perempuan mati beranak. Suka mengambil kain kafan dan rambut orang yang baru mati beranak.
“Agaknya dia dukun sihir Pak Imam,” Dengan mendadak Kakek bersuara.
Imam Hamid mengakuinya sambil berkata, ” Dia sudah dipengaruhi setan. Sanggup mengambil darah orang mati beranak untuk makanan setan yang dipeliharanya.”
“Siapa pula yang di belanya itu ?” saya tanya.
Kakek merenung dengan marah pada saya.
“Hantu itu, adik perempuannya sendiri…! Dia gorok kepalanya , sayangnya hal itu tidak diketahui oleh siapapun.”
“Dahsyatnya!” ujar Kakek.
“Memang dahsyat! Dan aku menduga dia akan menggali kubur anakku. Jadi aku bersiap untuk menghadapinya.” Imam Hamid berhenti bercerita.
Dia minta diri untuk pulang ke rumahnya.
Mulai saat malam itulah, Kakek mengetahui bahwa Imam Hamid bukan orang sembarangan. Dia banyak ilmu dunia dan akhirat. Sifat orang terpuji ada pada diri Imam Hamid karena dia tidak mau menunjukkan kemahirannya di mata orang banyak. Inilah yang mengagumkan diri Kakek.
Quote:
Setelah Imam Hamid pulang. Saya dan Kakek tidak dapat tidur. Rumah Kami diganggu dengan bermacam‐macam cara. Pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Kelambu terbakar sendiri. Dan paling mengerikan bila rumah dilempari dengan batu dan kayu. Kakek tidak bertindak, dia cuma membiarkan saja. Dia cukup tenang duduk di tengah rumah.
Ketika Kakek mau pergi ke perigi untuk mengambil air sembahyang. Dia terkejut. Ruangan luas di anjung rumahnya penuh dengan daun buluh dan batang pisang.
“Setan, semuanya kerja setan,” keluh Kakek. Dia terus ke perigi. Saya juga ikut ke perigi. Kami sembahyang subuh bersama. Begitu selesai Kami sembahyang, semua daun pisang dan batang buluh hilang.
Pagi itu, kami berdua segera pergi ke tanah kubur. Ketika sampai di kawasan tanah pekuburan, Imam Hamid dan beberapa orang kawannya sudah berada di situ. Mayat Anjang Dollah sudah dimasukkan ke dalam karung. Dua orang anak muda sudah membopong karung yang berisi mayat Anjang Dollah.
Kakek segera menemui Imam Hamid dan minta diri untuk melihat mayat Anjang Dollah. Permintaan Kakek itu tidak ditolaknya. Begitu Kakek melihat mayat Anjang Dollah dalam karung, air mukanya segera berubah. Jadi cemas.
“Kenapa jadi seperti itu ?” Kakek dengan tiba‐tiba bersuara.
“Itulah pembalasan yang dapat kita lihat, bila orang melakukan perbuatan yang bertentangan hukum Allah,” bisik Imam Hamid pada Kakek. Mayat Anjang Dollah pun dibawa ke rumah. Dia dimandikan dan dikafani, akhirnya disemadikan di tanah pekuburan.
Diubah oleh mufidfathul 29-03-2017 01:20
Araka dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas
Tutup