- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#32
PART=2
Sesungguhnya janji yang diberikan oleh Kakek pada Anjang Dollah satu penyiksaan pada diri saya.
Jika waktu yang dijanjikan sampai, berangkatlah saya dengan Kakek menuju ke rumah Anjang Dollah. Kami terpaksa menggunakan obor yang dibuat dari daun kelapa untuk menyinari jalan. Malam cukup gelap. Tidak ada satupuni bintang di langit. Sepanjang perjalanan telinga kami dipenuhi dengan suara katak dan suara burung celepuk dan burung hantu. Bulu romaku tegak berdiri, bila terdengar suara lolongan anjing sayup‐sayup dari pinggir kampung.
Bulan di langit mula ditutupi awan. Angin kian keras bertiup. Bunyi dedaunan yang bergesekan satu sama lainnya amat menakutkan. Dan Kakek terus melangkah dengan tenang. Api yang memakan daun kelapa, sekejap terang, sekejap suram.
“Kenapa kita jalan lewat sini, Kek ?” tanya saya. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Kakek. Bunga‐bunga api dari obor daun kelapa jatuh di atas bumi. Saya tidak tahu kenapa Kakek lewat jalan ini. Kenapa dia tidak mau lewat jalan biasa yang mudah dan cepat. Tidak perlu melintas tanah sawah yang luas terbentang.
Saya yang memakai baju khas Melayu terpaksa menggulung lengan baju hingga ke siku, sendal karet dan ujung celana hitam saya mula basah diresapi oleh air embun. Langkah Kakek sangat lancar. Obor kelapa diangkatnya tinggi‐tinggi.
“Kita musti putar balik, ikut jalan lain kek,” saya mengemukakan usul. Kakek berhenti. Dia cacakkan obor daun kelapa tepi batas. Kakek membuang lintah yang hinggap di kaki celananya.
“kenapa musti putar balik, ikut sini dekat,” Kakek cabut obor daun kelapa. Saya diam.
Perkataannya tidak boleh dibantah. Saya melangkah dengan hati‐hati. Salah langkah nanti jatuh ke dalam sawah. Cahaya dari obor daun kelapa menerangi rumpun‐rumpun padi yang baru pecah anak. Sesekali terdengar bunyi ikan gabus melompat dalam air sawah. Suara burung hantu dan celepuk saling bersautan. Bulan sudah tidak mengeluarkan sinarnya. Awan telah menutupi permukaan bulan. Suara lolongan anjing kian bertambah keras. Daun‐daun dari pohon besar yang memagari batas sebelah kanan bergerak hebat. Angin malam cukup keras bertiup.
Badanku terasa cukup dingin.
“Semakin cepat kita sampai semakin baik,” suara Kakek parau. Dia menoleh ke arah saya.
“Saya kedinginan, Kek! Aih, Jauh sekali… ?”
“Ah, sebentar lagi sampai, sekarang kau jalan dulu, biar aku ikuti dari belakang.” Itulah perintah Kakek. Badanku jadi mengeletar. Berbagai macam perkara buruk datang dalam hati saya.
“Kek, jalan duluan! saya tidak tahu jalannya,” saya berdalih.
“Kau tidak tahu, atau kau takut?” Kakek ketawa. Dia memaksa saya jalan duluan. Saya tidak ada pilihan lain. Saya menuruti perintahnya. Saya dan Kakek sampai di sebuah jembatan. Kakek menyuruh saya ke belakang. Lama juga dia berhenti di tepi jembatan itu sambil merenung pada air yang mengalir.
“Jalan ke depan lagi, di sana ada titian. Tidak sulit kita melompat,” ucap Kakek dengan tenang. Kami berjalan dan berhenti di bawah pohon mangga telur yang berdaun lebat.
Perkataan Kakek memang tepat, di pangkal pohon mangga telur terdapat titian batang pinang. Kami menyeberangi dengan selamat. Dari situ kami mendaki bukit kecil yang penuh dengan pohon pisang hutan. Selesai mendaki bukit itu, kami bertemu dengan jalan tanah merah yang lebarnya kira‐kira dua kaki.
“Ikuti jalan ini, ke utara!” ujar Kakek sambil meraba ulu golok peraknya. Saya menganggukkan kepala dua-tiga kali. Berjalanlah saya dengan Kakek. Suara burung hantu terus juga berdentam di lubang telinga. Kami melintasi sebuah tanah pekuburan. Dari sinar api obor daun kelapa itu, saya melihat batu‐batu nisan terpacak dengan gagahnya. Suara burung hantu kian keras. Suara salak anjing kian dekat terdengar. Pohon‐pohon puding dan pohon‐pohon kecil lain di sekitar tanah pekuburan saya lihat bergerak‐gerak, bagaikan ada benda yang menggoncangnya.
Awan tebal yang melindungi bulan mula beredar, dan sinar bulan mulai menerangi sebagian dari jalan yang kami lalui. Tiba‐tiba awan tebal datang kembali menutupi bulan dan obor kelapa yang saya bawa pun padam. Kakek berhenti, dia membakar obor kelapa yang baru. Memang Kakek membawa dua tiga obor daun kelapa untuk digunakan dalam saat-saat keadaan yang tertentu.
“Jalan cepat dikit! Aku rasa hati ini tidak tentram di sini,” Kakek menyuarakan suara hatinya. Saya diam.
“Langkah panjang dikit,” tambah Kakek lagi. Saya hanya bisa menganggukkan kepala saja. Tidak lebih dari itu. Angin malam yang bertiup menjatuhkan dedaunan tua dan ranting‐ranting. Berderai‐derai bunyinya. Bagaikan orang mematahkan kayu kering. Saya mula terasa cemas, tapi saya tidak mengemukakannya pada Kakek.
Saya dan Kakek berjalan dan terus berjalan.Tujuan kami agar sampai di rumah Anjang Dollah secepat mungkin. Barangkali Anjang Dollah sudah bersila di muka pintu menanti kedatangan kami, atau Anjang Dollah sudah menyediakan semua barang yang digunakannya untuk kami, fikir saya dalam hati.
Tanah pekuburan tua sudah agak jauh kami tinggalkan. Dada saya terasa lapang, tapi batin saya terus menyumpah serapah. Suara burung hantu seakan‐akan mengikuti langkah kami. Kakek berhenti berjalan.
“Siapa itu?” suaranya perlahan. Saya merenung ke depan. Saya melihat benda putih berjalan terhincut‐hincut (bengkok, tidak lurus) di depan Kami. Karena bulan ditutupi awan tebal dan cahaya dari obor Kakek tidak menyala dengan benar, saya tidak dapat melihat dengan jelas benda tersebut.
“Barangkali ada orang mau lewat,” Kakek bersuara tenang. Saya juga sependapat dengan Kakek. Suara burung hantu dan celepuk bertambah galak. Salakkan anjing bertalu‐talu, sayup‐sayup dan memanjang pula, bagaikan orang menangis di malam sepi. Benda putih terus menghampiri kami. Tatkala Kakek mau menegurnya, benda putih tersebut itu pun hilang entah ke mana. Saya tidak dapat memastikan apakah dia masuk ke dalam hutan pohon pisang di kanan, atau masuk ke dalam belukar di kiri jalan.
Benda putih itu menjelma di depan kami lagi.
“Bukan manusia,” Kakek berbisik di telinga saya. Serentak dengan itu dia memadamkan api obor daun kelapa.
“Kita ke tepi, biarkan dia lewat,” perintah Kakek. Saya patuh pada perintah Kakek. Kami berdiri di balik pohon karet besar. Benda putih itu melintas di depan kami. Saya tidak dapat melihat bentuk mukanya. Apa yang saya lihat pada benda putih itu berjalan tanpa kaki. Tidak mempunyai kepala. Berjalan menuju kawasan tanah pekuburan.
Saya dan Kakek melihat Anjang Dollah datang membawa cangkul.
“Ada apa nih, kek?” tanya saya pada Kakek.
“Kau diam, kau ikut saja apa yang aku perintah,”
“Baik kek,” saya menoleh ke kiri dan ke kanan. Kakek melangkah ke jalan tanah merah. Dia menarik tangan saya mengikuti langkah Anjang Dollah menuju ke kawasan pekuburan. Saya menurut saja.
Dua-tiga kali saya tersungkur karena menyepak batu‐batu nisan. Kakek berhenti. Saya mendongak ke langit, awan tebal sudah berlalu dari sisi bulan. Dengan pertolongan sinar bulan enam belas (16 kalender qamariah, 1-2 hari setelah purnama), kami dapat melihat apa yang dilakukan oleh Anjang Dollah. Dia sedang mencangkul tanah kuburan. Benda putih duduk dekat batu nisan.
Anjang Dollah dapat menyelesaikannya dalam waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Seluruh badannya dibasahi peluh, tampak berminyak‐minyak ditampar sinar rambulan enam belas. Dia duduk di pangkal pohon cempedak. Kemudian dia berkata pada kawannya yang nampak putih itu. Benda putih tanpa kepala dan kaki itu, bagaikan berayun‐ayun, bergerak dan berhenti di depan Anjang Dollah.
“Hai sahabatku, tunggu di sini. Biarkan aku ambil kain kafan dan rambut perempuan, kemudian kau bawa barang‐barang itu pulang ke rumah kita. Kau tunggu aku di sana. Aku tidak bisa pulang bersama, karena banyak pekerjaan yang mau aku selesaikan,” itulah yang dikatakan oleh Anjang Dollah pada sahabatnya.
Anjang Dollah terjun ke dalam kubur. Dia mengambil kain kafan perempuan mati beranak dan rambutnya. Lama juga Anjang Dollah berada di dalam lubang kubur. Benda putih tanpa kepala dan kaki berlegar‐legar di tepi kubur. Kadang‐kadang dia nampak bagaikan duduk di akar pohon cempedak. Suara burung hantu kian gamat. Suara celepuk bersahut‐sahutan. Lolong anjing bersahutan. Suara dahan kayu berlaga satu sama lainnya jelas kedengaran di tiup angin malam. Ranting tua dan daun tua gugur ke bumi.
Saya bagaikan mendengar bunyi orang berjalan di belakangku. Bila ditoleh, tidak ada apa‐apa. Saya juga terdengar bunyi burung terbang di atas kepala. Bila diperhatikan tidak ada apa‐apa. Bulu tengkukku berdiri tegak. Bermacam-macam hal aneh saya rasakan. Saya merapat pada Kakek yang duduk tenang. Mulutnya membaca sesuatu, saya sendiri tidak tahu apa yang dibaca olehnya.
“Kau ingat, tidak ada benda yang berkuasa di dunia ini, selain daripada Allah yang maha besar. Dan tiada manusia yang bisa melawan kekuasaannya. Ingatlah Allah yang maha besar!” Kakek memberitahuku, tatkala dilihatnya saya mengeletar sendirian.
“Kau lihat ke depan!” Kakek menajamkan mulutnya ke arah kubur yang digali oleh Anjang Dollah. Saya merenung ke depan. Saya lihat benda putih tanpa kepala dan kaki itu terjun ke dalam kubur. Saya mendengar bunyi suara Anjang Dollah terpekik dalam kubur, tanah kubur berterbangan ke udara, serentak dengan itu juga saya mendengar suara mengaum seperti suara harimau dari dalam kubur.
Suara jeritan Anjang Dollah berangsur lemah. Tanpa dapat ditahan, Kakek melesat ke tanah kubur. Kakek mau menolong Anjang Dollah. Dia mengambil sepotong kayu, lalu memukul benda putih yang keluar dari lubang kubur. Setiap kali Kakek memukulnya, benda itu tidak melawan, malah dia mengelak, dan akhirnya gaib (hilang) dari kawasan pekuburan.
Quote:
Sesungguhnya janji yang diberikan oleh Kakek pada Anjang Dollah satu penyiksaan pada diri saya.
Jika waktu yang dijanjikan sampai, berangkatlah saya dengan Kakek menuju ke rumah Anjang Dollah. Kami terpaksa menggunakan obor yang dibuat dari daun kelapa untuk menyinari jalan. Malam cukup gelap. Tidak ada satupuni bintang di langit. Sepanjang perjalanan telinga kami dipenuhi dengan suara katak dan suara burung celepuk dan burung hantu. Bulu romaku tegak berdiri, bila terdengar suara lolongan anjing sayup‐sayup dari pinggir kampung.
Bulan di langit mula ditutupi awan. Angin kian keras bertiup. Bunyi dedaunan yang bergesekan satu sama lainnya amat menakutkan. Dan Kakek terus melangkah dengan tenang. Api yang memakan daun kelapa, sekejap terang, sekejap suram.
“Kenapa kita jalan lewat sini, Kek ?” tanya saya. Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Kakek. Bunga‐bunga api dari obor daun kelapa jatuh di atas bumi. Saya tidak tahu kenapa Kakek lewat jalan ini. Kenapa dia tidak mau lewat jalan biasa yang mudah dan cepat. Tidak perlu melintas tanah sawah yang luas terbentang.
Saya yang memakai baju khas Melayu terpaksa menggulung lengan baju hingga ke siku, sendal karet dan ujung celana hitam saya mula basah diresapi oleh air embun. Langkah Kakek sangat lancar. Obor kelapa diangkatnya tinggi‐tinggi.
“Kita musti putar balik, ikut jalan lain kek,” saya mengemukakan usul. Kakek berhenti. Dia cacakkan obor daun kelapa tepi batas. Kakek membuang lintah yang hinggap di kaki celananya.
“kenapa musti putar balik, ikut sini dekat,” Kakek cabut obor daun kelapa. Saya diam.
Perkataannya tidak boleh dibantah. Saya melangkah dengan hati‐hati. Salah langkah nanti jatuh ke dalam sawah. Cahaya dari obor daun kelapa menerangi rumpun‐rumpun padi yang baru pecah anak. Sesekali terdengar bunyi ikan gabus melompat dalam air sawah. Suara burung hantu dan celepuk saling bersautan. Bulan sudah tidak mengeluarkan sinarnya. Awan telah menutupi permukaan bulan. Suara lolongan anjing kian bertambah keras. Daun‐daun dari pohon besar yang memagari batas sebelah kanan bergerak hebat. Angin malam cukup keras bertiup.
Badanku terasa cukup dingin.
Quote:
“Semakin cepat kita sampai semakin baik,” suara Kakek parau. Dia menoleh ke arah saya.
“Saya kedinginan, Kek! Aih, Jauh sekali… ?”
“Ah, sebentar lagi sampai, sekarang kau jalan dulu, biar aku ikuti dari belakang.” Itulah perintah Kakek. Badanku jadi mengeletar. Berbagai macam perkara buruk datang dalam hati saya.
“Kek, jalan duluan! saya tidak tahu jalannya,” saya berdalih.
“Kau tidak tahu, atau kau takut?” Kakek ketawa. Dia memaksa saya jalan duluan. Saya tidak ada pilihan lain. Saya menuruti perintahnya. Saya dan Kakek sampai di sebuah jembatan. Kakek menyuruh saya ke belakang. Lama juga dia berhenti di tepi jembatan itu sambil merenung pada air yang mengalir.
“Jalan ke depan lagi, di sana ada titian. Tidak sulit kita melompat,” ucap Kakek dengan tenang. Kami berjalan dan berhenti di bawah pohon mangga telur yang berdaun lebat.
Perkataan Kakek memang tepat, di pangkal pohon mangga telur terdapat titian batang pinang. Kami menyeberangi dengan selamat. Dari situ kami mendaki bukit kecil yang penuh dengan pohon pisang hutan. Selesai mendaki bukit itu, kami bertemu dengan jalan tanah merah yang lebarnya kira‐kira dua kaki.
“Ikuti jalan ini, ke utara!” ujar Kakek sambil meraba ulu golok peraknya. Saya menganggukkan kepala dua-tiga kali. Berjalanlah saya dengan Kakek. Suara burung hantu terus juga berdentam di lubang telinga. Kami melintasi sebuah tanah pekuburan. Dari sinar api obor daun kelapa itu, saya melihat batu‐batu nisan terpacak dengan gagahnya. Suara burung hantu kian keras. Suara salak anjing kian dekat terdengar. Pohon‐pohon puding dan pohon‐pohon kecil lain di sekitar tanah pekuburan saya lihat bergerak‐gerak, bagaikan ada benda yang menggoncangnya.
Quote:
Awan tebal yang melindungi bulan mula beredar, dan sinar bulan mulai menerangi sebagian dari jalan yang kami lalui. Tiba‐tiba awan tebal datang kembali menutupi bulan dan obor kelapa yang saya bawa pun padam. Kakek berhenti, dia membakar obor kelapa yang baru. Memang Kakek membawa dua tiga obor daun kelapa untuk digunakan dalam saat-saat keadaan yang tertentu.
“Jalan cepat dikit! Aku rasa hati ini tidak tentram di sini,” Kakek menyuarakan suara hatinya. Saya diam.
“Langkah panjang dikit,” tambah Kakek lagi. Saya hanya bisa menganggukkan kepala saja. Tidak lebih dari itu. Angin malam yang bertiup menjatuhkan dedaunan tua dan ranting‐ranting. Berderai‐derai bunyinya. Bagaikan orang mematahkan kayu kering. Saya mula terasa cemas, tapi saya tidak mengemukakannya pada Kakek.
Saya dan Kakek berjalan dan terus berjalan.Tujuan kami agar sampai di rumah Anjang Dollah secepat mungkin. Barangkali Anjang Dollah sudah bersila di muka pintu menanti kedatangan kami, atau Anjang Dollah sudah menyediakan semua barang yang digunakannya untuk kami, fikir saya dalam hati.
Tanah pekuburan tua sudah agak jauh kami tinggalkan. Dada saya terasa lapang, tapi batin saya terus menyumpah serapah. Suara burung hantu seakan‐akan mengikuti langkah kami. Kakek berhenti berjalan.
“Siapa itu?” suaranya perlahan. Saya merenung ke depan. Saya melihat benda putih berjalan terhincut‐hincut (bengkok, tidak lurus) di depan Kami. Karena bulan ditutupi awan tebal dan cahaya dari obor Kakek tidak menyala dengan benar, saya tidak dapat melihat dengan jelas benda tersebut.
“Barangkali ada orang mau lewat,” Kakek bersuara tenang. Saya juga sependapat dengan Kakek. Suara burung hantu dan celepuk bertambah galak. Salakkan anjing bertalu‐talu, sayup‐sayup dan memanjang pula, bagaikan orang menangis di malam sepi. Benda putih terus menghampiri kami. Tatkala Kakek mau menegurnya, benda putih tersebut itu pun hilang entah ke mana. Saya tidak dapat memastikan apakah dia masuk ke dalam hutan pohon pisang di kanan, atau masuk ke dalam belukar di kiri jalan.
Benda putih itu menjelma di depan kami lagi.
“Bukan manusia,” Kakek berbisik di telinga saya. Serentak dengan itu dia memadamkan api obor daun kelapa.
“Kita ke tepi, biarkan dia lewat,” perintah Kakek. Saya patuh pada perintah Kakek. Kami berdiri di balik pohon karet besar. Benda putih itu melintas di depan kami. Saya tidak dapat melihat bentuk mukanya. Apa yang saya lihat pada benda putih itu berjalan tanpa kaki. Tidak mempunyai kepala. Berjalan menuju kawasan tanah pekuburan.
Saya dan Kakek melihat Anjang Dollah datang membawa cangkul.
Quote:
“Ada apa nih, kek?” tanya saya pada Kakek.
“Kau diam, kau ikut saja apa yang aku perintah,”
“Baik kek,” saya menoleh ke kiri dan ke kanan. Kakek melangkah ke jalan tanah merah. Dia menarik tangan saya mengikuti langkah Anjang Dollah menuju ke kawasan pekuburan. Saya menurut saja.
Dua-tiga kali saya tersungkur karena menyepak batu‐batu nisan. Kakek berhenti. Saya mendongak ke langit, awan tebal sudah berlalu dari sisi bulan. Dengan pertolongan sinar bulan enam belas (16 kalender qamariah, 1-2 hari setelah purnama), kami dapat melihat apa yang dilakukan oleh Anjang Dollah. Dia sedang mencangkul tanah kuburan. Benda putih duduk dekat batu nisan.
Anjang Dollah dapat menyelesaikannya dalam waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Seluruh badannya dibasahi peluh, tampak berminyak‐minyak ditampar sinar rambulan enam belas. Dia duduk di pangkal pohon cempedak. Kemudian dia berkata pada kawannya yang nampak putih itu. Benda putih tanpa kepala dan kaki itu, bagaikan berayun‐ayun, bergerak dan berhenti di depan Anjang Dollah.
“Hai sahabatku, tunggu di sini. Biarkan aku ambil kain kafan dan rambut perempuan, kemudian kau bawa barang‐barang itu pulang ke rumah kita. Kau tunggu aku di sana. Aku tidak bisa pulang bersama, karena banyak pekerjaan yang mau aku selesaikan,” itulah yang dikatakan oleh Anjang Dollah pada sahabatnya.
Anjang Dollah terjun ke dalam kubur. Dia mengambil kain kafan perempuan mati beranak dan rambutnya. Lama juga Anjang Dollah berada di dalam lubang kubur. Benda putih tanpa kepala dan kaki berlegar‐legar di tepi kubur. Kadang‐kadang dia nampak bagaikan duduk di akar pohon cempedak. Suara burung hantu kian gamat. Suara celepuk bersahut‐sahutan. Lolong anjing bersahutan. Suara dahan kayu berlaga satu sama lainnya jelas kedengaran di tiup angin malam. Ranting tua dan daun tua gugur ke bumi.
Saya bagaikan mendengar bunyi orang berjalan di belakangku. Bila ditoleh, tidak ada apa‐apa. Saya juga terdengar bunyi burung terbang di atas kepala. Bila diperhatikan tidak ada apa‐apa. Bulu tengkukku berdiri tegak. Bermacam-macam hal aneh saya rasakan. Saya merapat pada Kakek yang duduk tenang. Mulutnya membaca sesuatu, saya sendiri tidak tahu apa yang dibaca olehnya.
“Kau ingat, tidak ada benda yang berkuasa di dunia ini, selain daripada Allah yang maha besar. Dan tiada manusia yang bisa melawan kekuasaannya. Ingatlah Allah yang maha besar!” Kakek memberitahuku, tatkala dilihatnya saya mengeletar sendirian.
“Kau lihat ke depan!” Kakek menajamkan mulutnya ke arah kubur yang digali oleh Anjang Dollah. Saya merenung ke depan. Saya lihat benda putih tanpa kepala dan kaki itu terjun ke dalam kubur. Saya mendengar bunyi suara Anjang Dollah terpekik dalam kubur, tanah kubur berterbangan ke udara, serentak dengan itu juga saya mendengar suara mengaum seperti suara harimau dari dalam kubur.
Suara jeritan Anjang Dollah berangsur lemah. Tanpa dapat ditahan, Kakek melesat ke tanah kubur. Kakek mau menolong Anjang Dollah. Dia mengambil sepotong kayu, lalu memukul benda putih yang keluar dari lubang kubur. Setiap kali Kakek memukulnya, benda itu tidak melawan, malah dia mengelak, dan akhirnya gaib (hilang) dari kawasan pekuburan.
Araka dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas
Tutup