- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog Bersama Jin
...
TS
mufidfathul
Dialog Bersama Jin
INDEX
Quote:
NEW UPDATE/11-5-2017
ACT. 08: JERITAN DALAM KUBUR, part I
Part II
Part III.
NEW UPDATE/6-6-2017
Act.09:PEMUJA ILMU KELELAWAR part I
Part II
Part III
Part IV
Part V
NEW UPDATE/7-6-2017
Part VI
Part VII
Quote:
Lokasi: Malaysia
Penulis : Tamar Jalis
ACT 01 : BERBURU
Quote:
Suatu petang dalam tahun 1960. Kakek yang sudah menjangkau usia 57 tahun, membersihkan senapan kampung berlaras satu di anjung rumahnya. Dengan tenang dia berkata pada saya “Kamu tidak usah jadi pemburu.”
“Kenapa kek?” Dia tidak terus menjawab.
Kakek terus menimang‐nimang senapannya. Kemudian Kakek ambil golok perak, dia mengasah golok di batu dekat kepala tangga. Dan saya masih menanti jawaban dari Kakek.
“Aku tak mau cucu‐cucu aku jadi pemburu,” tiba‐tiba Kakek bersuara. Dia duduk di anjung rumah kembali. Mendengar ucapannya itu saya buat keputusan tidak akan mengajukan sembarangan pertannyaan lagi padanya. Kakek mudah naik darah, kalau selalu ditanya atau dipersoalkan. Dia juga tidak suka orang membangkang ucapannya, terutamanya dari anak‐anak cucunya sendiri.
Kakek memang handal berburu. Tidak banyak orang kampung Mandi Upeh seperti Kakek. Cukup asyik dengan kegemaran berburunya, hampir seluruh hutan Jajahan Dinding dijelajahnya. Orang‐orang kampung menganggap Kakek bukan pemburu sembarangan. Pemburu yang ada isi, kalau tidak masakan dia berani masuk ke dalam hutan yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Kakek tidak menembak sembarangan pada binatang‐binatang buruannya. Dia akan memilih tepat dikening diantara kedua mata binatang itu.
Dan setiap kali Kakek masuk hutan dia akan memulai langkah kaki kiri dahulu. Kedua belah tumitnya tidak memijak bumi, kecuali sesudah lima tapak melangkah. Setelah itu Kakek berhenti, dia membaca sesuatu, lalu mematah ranting kayu yang berada di bawah ketiak kanannya lalu dilemparkanya sebelah kiri.
Kakek mendapat senapan bukan karena dia Penjaga Hutan atau AP. Dia minta sendiri pada kerajaan dengan alasan mau menjaga tanahnya yang seluas lima belas ekar (1 ekar = 0.4 H) yang ditanam dengan karet, durian dari serangan monyet dan babi hutan. Pemintaan Kakek dipenuhi oleh Inggeris, sesudah pegawai polisi, tuan DO serta penghulu dan ketua kampung memeriksa tanah Kakek.
Kakek beli senapan dari Taiping di tahun 1949. Sejak itulah Kakek giat berburu dengan senapan. Sebelum itu Kakek hanya berburu dengan membuat jerat dan sebagainya. Banyak peristiwa‐peristiwa aneh yang Kakek lalui sepanjang kariernya. Dan saya di antara cucu yang selalu mendengar cerita‐cerita Kakek itu, karena saya selalu menolongnya mencangkul di kebun, kadang‐kadang menjadi temannya ke surau.
Kakek terlalu menyayangiku, karena saya adalah cucu lelaki yang pertama dari anak sulungnya yaitu ibu saya. Saya tahu apa kelemahan Kakek dan kegemaranya. Dia pemurah dan suka mendengar orang mengaji Al‐Quran, kebetulan pula saya cucunya yang agak terkenal membaca al‐Al‐Quran di kampung itu. Kakek tidak kikir mengeluarkan uangnya untuk diberikan kepada orang mengaji tapi Kakek tidak memberikannya sendiri melainkan melalui saya.
Biasanya, kalau Kakek menyuruh memberi sepuluh ringgit, saya hanya memberikan separuh saja, yang separuh lagi masuk saku saya.
Quote:
Pernah Kakek bercerita pada saya: "Suatu ketika Kakek dan kawan‐kawannya masuk hutan dekat dengan Gunung Tunggal di Kawasan Segari berdekatan denga Pantai Remis. Kawasan itu tidak pernah dimasuki oleh manusia. Kakek dan kawan‐kawannya berhasil menembak beberapa ekor binatang. Karena terlalu asyik berburu, tanpa disadari Kakek telah terpisah dengan seekor rusa besar. Kakek mengikutnya dengan teliti. Kakek membidik rusa itu dari sebelah kiri dan mengambil tempat di balik batang pohon besar. Kakek mengarahkan moncong senapan pada kepala rusa. Dia yakin sasarannya akan tepat pada tempat yang dimaunya. Tetapi rusa itu bagaikan mengerti dan mempunyai pengalaman. Dia mempermainkan Kakek, seperti mempermainkan kucing. Rusa merendahkan badannya kemudian menyelinap di depan Kakek dan terus hilang.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Kakek terkejut dan bercampur heran, tapi Kakek bukanlah manusia yang mudah putus asa. Dia mencari bekas jejak rusa itu. Diperhatikannya ke arah mana tapak rusa itu lari. Dia mencium daun‐daun kering yang terdapat di situ. Akhirnya, Kakek merapatkan telinganya di atas tanah. Dia mengeluh, ternyata bekas tapak rusa itu sukar diperolehinya. Waktu Kakek berputar‐putar di situ, seekor rusa lain muncul di depan Kakek. Rusa itu jauh lebih besar dan tegap dari rusa yang pertama tadi. Matanya berkilau‐kilau bagaikan menentang mata Kakek yang terbeliak karena terkejut.
Kakek tidak melepaskan peluang dan terus melepaskan tembakan. Kakek gembira, tembakannya tepat mengenai kening rusa itu. Dia mencabut golok perak di tangan untuk menyembelih rusa. Golok ditayangkan di depan matanya. Kakek membaca sesuatu dan menghentakkan ulu golok ke tanah.
Bila Kakek memulai langkah. Rusa itu segera bangun. Di depan mata Kakek sekarang wujud dua ekor rusa. Serentak dengan itu dada Kakek berdebar. Dia mula terasa ada sesuatu yang kurang baik akan terjadi. Terdengar kokok ayam hutan. Kakek melepaskan tembakan. Kena pada salah seekor rusa itu di kening. Rusa itu rebah dan bangun kembali menjadi tiga ekor. Kakek yakin ada sesuatu kejadian yang lain di balik semuanya itu. Tapi, Kakek bukannya manusia lemah semangat, kalau tidak masakan dia berani meninggalkan kampung halamannya di Aceh, berperahu ke Pengkalan Bharu dan bermukim di kawasan Bruas. Kakek terus menembak bertalu‐talu. Rusa terus menjadi tiga, empat, lima, enam dan tujuh. Kokok ayam hutan bertambah nyaring.
Daun‐daun hutan di keliling Kakek bergerak‐gerak bagaikan digoncang orang. Tanah yang dipijaknya jadi bersih tanpa sehelai daun. Kakek menumbuk tanah dengan tangan kiri. Terasa daging pangkal lehernya bergerak‐gerak. Kakek tersenyum. Dia tahu peristiwa ini mesti dihadapi dengan cara lain. Dia teringat pesan leluhur neneknya dari tanah seberang, kalau berburu binatang dan terasa daging pangkal leher bergerak, alamatnya yang diburu bukan binatang lagi, tapi boleh jadi penunggu hutan atau setan dan bangsa Jin.
Kakek letakkan senapan di atas tanah. Dia duduk bertafakur mengumpulkan tenaga batin sambil membaca mentera yang diamalkannya. Melalui pancaindera batin Kakek, Kakek dapat melihat dengan jelas, bahawa rusa itu adalah jin penunggu hutan itu.
Muka Kakek jadi merah padam, mengucur peluh, gigi dikatupkan rapat‐rapat. Mata Kakek tidak berkelip. Dia melihat di depannya,berdiri makhluk berbadan besar, matanya merah menyala, rambut panjang sampai ke tumit. Giginya besar, dua giginya di sebelah kiri dan kanan terjulur keluar, seperti gading gajah. Dia diapit oleh enam jin yang sama hebat dengannya.
“Kurang ajar, manusia laknat,” suara itu bergema, daun‐daun hutan bergerak seperti ditiup angin. Kakek diam bertafakur.
“Kau tahu kesalahan kau manusia ?” Tambah suara itu . Punggung Kakek terus dibasahi peluh. Kakek diam, dia sudah menutup lobang‐lobang kelemahan tubuhnya dengan ilmu batin yang dipusakainya dari leluhur neneknya, hingga jin itu tidak berpeluang menyatukan dirinya ke dalam tubuh Kakek.
“Tidak,” jawab Kakek dengan berani.
“Kau masuk ke dalam kawasan larangan ku.”
“Aku sudah meminta izin.”
“Aku tidak mengizinkan.” Jawab jin itu dengan keras. Dua batang giginya yang terjulur bergerak‐gerak.
“Kalau kau tidak mengizinkanya, kenapa kau tidak memberi isyarat, ketika aku masuk tadi.” Cukup tenang Kakek menjawab. Dia sudah bersiap menghadapi semuanya.
“Kau manusia biadap,” pekik jin itu, pokok hutan bergerak‐gerak.
Perdebatan Kakek dengan jin semakin panas, secara perlahan‐lahan pembicaraan itu bertukar kepada pertarungan kebatinan. Kemampuan dan kekuatan Kakek benar‐benar teruji. Mata Kakek bercahaya garang dengan urat‐urat timbul di dahi dan lengannya. Peluhnya jangan dikira terus menerus membasahi seluruh badan.
Kakek tahu kalau dia kalah. Dia akan rebah ke bumi. Seluruh badannya akan lebam. Jadi Kakek bertekad untuk melawan dengan cara apapun. Di waktu pertempuran itulah Kakek berasa cuping telinga sebelah kirinya lembik. Kakek senyum, satu tanda baik. Kemenangan akan berada di pihaknya. Kakek terus mengucapkan begini :
Jong keli jong, tali cemati tebang buluh bunting pagi melemang………
Belum pun tamat Kakek mengucapkan mentera itu. Dia berasa pangkal belikatnya keras seperti batu. Kakek tidak bisa bergerak ke kiri maupun ke kanan. Kakek terus berteriak dengan menyeru nama guru ilmu batinnya, serentak dengan itu Kakek mengambil senapan seraya berkata : "Kalau aku kalah, aku rebah, kalau aku menang, aku berdiri dan kau pulang ke tempat asalmu."
Kakek pun melepaskan satu tembakan kepada rusa. Tepat tembakan Kakek kena pada kening rusa. Rusa yang berjumlah tujuh ekor itu hilang entah ke mana. Kawasan itu jadi sepi.
Pemandangan Kakek kembali normal yang ujud di depannya sekarang ialah sebatang pokok pohon besar dengan akar‐akar bergayutan yang mencecah muka bumi.
Kakek menang dalam pertarungan itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Kakek segera mencari ranting kayu yang bercabang tujuh yang mengarah ke matahari jatuh. Ranting kayu bercabang tujuh itu Kakek tikam ke bumi. Cabang yang tujuh ke bawah. Lepas itu Kakek memotong cabang tujuh lalu berkata : “Ini kawasan manusia, dan kau telah pulang ke tempat asalmu.”
Kakek pun mencari arah, dia mulai masuk tadi. Dia duduk di situ lebih kurang setengah jam. Kemudian baru kawan‐kawannya pulang. Semua binatang buruan di masukkan ke dalam mobil bak Ford Angldia kepunyaan Kakek.
Dalam perjalanan pulang Kakek dan kawan‐kawannya singgah di pekan Pengkalan Bharu. Mereka makan dan minum kopi disebuah warung dekat surau. Secara kebetulan pula pemilik warung itu adalah kenalan Kakek yang sama‐sama datang dari Aceh. Kakek pun menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Menurut pemilik warung itu, setiap pemburu yang berjumpa dengan rusa yang berjumlah tujuh, selalu sulit untuk keluar dari kawasan hutan, kalau keluar pun dia tidak akan sehat atau separuh gila.
“Biasanya bila meraka sampai di rumah, mereka terus sakit dan meninggal, sewaktu sakit itulah mereka tidak tentu arah, kalau salah pengobatan atau tidak berjumpa dengan 'Orang pintar' penyakit itu akan menjangkiti pada anaknya, biasanya yang sakit menimpa pada anak bungsu.” Terang pemilik warung itu pada Kakek. Kakek terdiam kemudian Kakek mengajak pemilik warung itu ke tepi sungai. Kakek minta pemilik warung itu memandikannya dengan air yang bercampur dengan daun tujuh jenis, untuk menghindarkankan badi rusa itu mengikuti Kakek balik ke rumah.
Walau bagaimanapun, Kakek terhindar dari serangan penyakit. Malah, kegemarannya untuk berburu bertambah giat dan hebat. Asal terdengar saja ada kawasan terdapat landak, kancil atau kijang, Kakek tidak akan melepaskan peluang untuk berburu. Kalau tidak bisa waktu siang, dia akan pergi waktu malam. Berburu adalah suatu kerja yang amat dicintai oleh Kakek.
Kalau sudah tiba waktunya Kakek untuk berburu. Siapapun jangan mencoba menghalangi. Dia tidak peduli. Kalau dilarang juga Kakek naik darah. Selalu yang menjadi korban kemarahan Kakek ialah nenek saya yang tidak bergitu senang dengan sikap Kakek itu. Selain dari berburu Kakek cukup rajin belajar ilmu‐ilmu kebatinan. Kakek pernah bertapa di Gua Ulu Licin tujuh hari tujuh malam tanpa makan sebiji nasi, tapi tubuh Kakek tidak susut.
Kalau ada Orang Pintar mengobati orang dengan cara kebatinan, Kakek tidak segan‐segan berkawan dan mencuri ilmu dari orang pintar itu. Anehnya, Kakek tidak berkeinginan untuk menjadi seorang Paranormal. “Semua yang dicari hanya sekadar untuk pelindung diri,” kata Kakek.
Diubah oleh mufidfathul 07-06-2017 20:53
doelviev dan 7 lainnya memberi reputasi
8
80.1K
Kutip
263
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
mufidfathul
#31
ACT. 02= KENCING DI CELANA SENDIRI
PART=1
“Mari ikut aku ke rumah Anjang Dollah,” kata Kakek pada saya suatu hari.
Seperti biasanya, pemintaan Kakek itu tidak dapat saya tolak. Dengan rasa kecewa saya meninggalkan kumpulan kawan‐kawanku yang sedang bermain galah panjang di depan rumah Kakek.
“Ada keperluan apa?” tanya saya
“Ikut sajalah!, Aku dengar cerita Anjang Dollah itu pandai mengobati orang kena sampuk (kemasukan jin), aku akan belajar cara dia mengobatinya. Kalau boleh aku akan belajar darinya.”
“Belajar buat apa ?” balas saya.
Kakek tersenyum dan terus berkata, “Belajar untuk tahu apa salahnya? Tidak merugikan kita.”
Setelah mendengar perkataannya itu, saya pun tidak mengeluarkan sembarangan persoalan atau pertanyaan.
Berjalanlah saya dengan Kakek petang itu menuju ke Kampung Gelung Gajah yang jaraknya lebih kurang tiga batu (1 batu= 1.6 km) dari kampung Kami. Melintasi dua tiga anak sungai. Dan rumah Anjang Dollah letaknya agak terpencil dari rumah‐rumah di situ. Berada di pinggir sebuah kolam dan berhadapan dengan sebuah belukar kecil.
Lebih kurang pukul empat petang, sampailah kami di rumah Anjang Dollah. Kami dipersilahkan naik. Kakek selanjutnya menyatakan bahwa kedatangannya adalah untuk melihat bagaimana cara dia mengobati orang yang terkena sampuk.
“Apa salahnya,” balas Anjang Dollah dengan senyum bangga. Anjang Dollah pun mempersilahkan kami masuk ke dalam sebuah bilik kecil.
Di dalam bilik itu penuh dengan barang‐barang pengobatan seperti kemenyan hantu, buah limau, buah kelapa dan tempat membakar kemenyan. Di tepi bilik terdapat sebuah kursi dengan tilam dan bantal bersarung kain hitam. Bantal dan tilam itu sudah buruk benar. Bila saya menghampirinya hidung saya tidak tertahan mencium bau apak dari bantal dan tilam.
Ketika saya mau membuka kain tilam yang menutupi kursi itu saya ditahan oleh Anjang Dollah.
“Jangan,” suara Anjang Dollah keras.
Saya duduk kembali. Hati saya ingin tahu, siapakah gerangan yang tidur di situ. Saya yakin ada orang yang tidur di atas kursi itu, karena bila saya perhatikan kain hitam itu bagaikan bergerak‐gerak mengikuti tarikan nafas manusia.
“Siapa yang berbaring itu?,” Kakek bertanya pula. Anjang Dollah merenung muka Kakek. Saya mulai resah tidak menentu.
“Sahabat saya. Budak saya. Bisa disuruh keluar waktu malam dan balik pagi.” Anjang Dollah menjelaskan pada Kakek. Saya dan Kakek pun menganggukkan kepala. “Dia tidur kayaknya?” tanya saya lagi.
“Dia tidak tidur,” sahut Anjang Dollah.
“Kalau tidak tidur kenapa tidak dibangunkan?” Tanya Kakek.
“Dia malu bertemu orang.” Itulah jawaban Anjang Dollah. Jawaban itu sebenarnya tidak memuaskan hati saya. Dan saya mau bertanya lagi.
Ketika saya mau membuka mulut, Kakek segera mencubit bahu saya. Pahamlah saya, bahwa Kakek tidak mau saya menpersoalkan lebih lanjut tentang apa yang berada di atas kursi.
Anjang Dollah meninggalkan kami di dalam bilik. Ada tamu datang ke rumahnya.
Sepeninggalan Anjang Dollah itu, bulu romaku mula berdiri. Rasa takut datang dalam hati saya. Kalaulah tidak ada Kakek di samping pasti tempat itu saya tinggalkan. Anjang Dollah datang. Dia minta kami duduk di ruang tengah.
Di ruang tengah itu terdapat sorang perempuan muda. Duduk bersila di atas lantai. Perempuan muda itu datang ke rumah Anjang Dollah karena mau meminta tolong mengobati adiknya yang menjerit dan meraung tidak tentu arah seperti orang gila (meracau).
“Adik saya kena ‘kiriman’ orang Pak Anjang,” kata perempuan itu dengan muka agak muram.
“Dia terpaksa diikat dengan tali di tiang rumah,” tambah perempuan itu lagi.
Anjang Dollah mengigit bibir dan terus merapatkan gigi atas dengan gigi bawah beberapa kali. Tanpa berbicara sepatahpun. Anjang Dollah terus ke dapur. Datang kembali ke ruang tengah dengan mangkuk putih yang penuh berisi air.
“Mari masuk ke dalam bilik saya,” Anjang Dollah menjemput perempuan, Kakek dan saya. Kami pun masuk ke dalam biliknya. Anjang Dollah bersila di depan kursi. Matanya merenungi air dalam mangkuk putih sambil mulutnya membaca sesuatu. Entah apa yang dibacanya saya pun tidak tahu. Dia menoleh ke belakang merenungi perempuan muda seraya berkata, “Kau pulang dulu!”
Bila perempuan itu sampai dekat muka pintu, Anjang Dollah memanggilnya kembali dan menyuruh perempuan itu duduk di depannya. Perempuan itu mengikuti semua perintahnya itu. Anjang Dollah terus membaca sesuatu. Lebih kurang sepuluh menit Anjang Dollah berbuat begitu. Mukanya berubah menjadi hitam. Matanya jadi hijau berkilai. Separuh anggota badannya mengeletar, seperti orang kedinginan. Lama juga Anjang Dollah jadi begitu.
Hati saya, Tuhan saja yang tahu, betapa takutnya saya ketika itu. Ketika wajahnya berubah seperti keadaan biasa, barulah Anjang Dollah bersuara, tapi suaranya bertukar menjadi parau.
“Siapa nama adikmu,” tanya Anjang Dollah pada perempuan itu.
“Aishah.”
“Berapa umurnya?”
“Sembilan belas tahun.”
“Siapa nama emaknya.”
“Hamidah.”
Begitu selesai Anjang Dollah bertanya dan mendapata jawaban dari perempuan itu. Dia segera bangun dan terus merapat ke kursi.
Berdiri di situ agak lama juga sambil tangan kanannya memegang pangkal dagunya.
“Hai sahabatku yang setia, pergilah engkau ke tempat asalmu, ambillah sehelai rambut perempuan yang mati beranak,” kata Anjang Dollah. Kain hitam mula bergerak.
Kakek duduk dengan tenang. Saya merasakan mau buang air kecil, juga terasa mau buang air besar. Saya jadi serba salah. Rasa mau buang kecil dan air besar itu hilang juga, bila saya terfikir kalau waktu buang air kecil atau buang air besar kain hitam itu akan datang pada saya. Buruk akibatnya.
“Pergilah sahabatku,” ulang Anjang Dollah. Dengan tiba‐tiba kain hitam terjatuh atas lantai. Apa yang saya lihat di atas kursi ialah bantal dan tilam bergerak sendiri. Tilam bagaikan digulung oleh orang.
“Dia sudah pergi,” kata Anjang Dollah pada Kakek. Kakek pun mengangguk kepalanya. Anjang Dollah pun mengambil kain hitam dan terus memberikan pada perempuan muda itu.
“Kau letakkan kain hitam ke muka adikmu tujuh senja, lepas itu kalau tidak juga sembuh, kau datang ke mari lagi,” kata Anjang Dollah.
Dan perempuan itu pun memberikan uang pada Anjang Dollah. Dengan tenang perempuan itu meninggalkan rumah Anjang Dollah.
“Ini baru sedikit saja. Minggu depan kalau kalian datang, kalian boleh lihat cara lain saya mengobati. Saya bisa kenalkan kamu berdua dengan sahabat saya itu,” hebat benar Anjang Dollah.
“Saya akan datang lagi,” sahut Kakek.
“Datanglah, tapi kalau datang malam,ya!”
“Baiklah.” Kakek memberikan janji.
PART=1
Quote:
“Mari ikut aku ke rumah Anjang Dollah,” kata Kakek pada saya suatu hari.
Seperti biasanya, pemintaan Kakek itu tidak dapat saya tolak. Dengan rasa kecewa saya meninggalkan kumpulan kawan‐kawanku yang sedang bermain galah panjang di depan rumah Kakek.
“Ada keperluan apa?” tanya saya
“Ikut sajalah!, Aku dengar cerita Anjang Dollah itu pandai mengobati orang kena sampuk (kemasukan jin), aku akan belajar cara dia mengobatinya. Kalau boleh aku akan belajar darinya.”
“Belajar buat apa ?” balas saya.
Kakek tersenyum dan terus berkata, “Belajar untuk tahu apa salahnya? Tidak merugikan kita.”
Setelah mendengar perkataannya itu, saya pun tidak mengeluarkan sembarangan persoalan atau pertanyaan.
Berjalanlah saya dengan Kakek petang itu menuju ke Kampung Gelung Gajah yang jaraknya lebih kurang tiga batu (1 batu= 1.6 km) dari kampung Kami. Melintasi dua tiga anak sungai. Dan rumah Anjang Dollah letaknya agak terpencil dari rumah‐rumah di situ. Berada di pinggir sebuah kolam dan berhadapan dengan sebuah belukar kecil.
Lebih kurang pukul empat petang, sampailah kami di rumah Anjang Dollah. Kami dipersilahkan naik. Kakek selanjutnya menyatakan bahwa kedatangannya adalah untuk melihat bagaimana cara dia mengobati orang yang terkena sampuk.
“Apa salahnya,” balas Anjang Dollah dengan senyum bangga. Anjang Dollah pun mempersilahkan kami masuk ke dalam sebuah bilik kecil.
Di dalam bilik itu penuh dengan barang‐barang pengobatan seperti kemenyan hantu, buah limau, buah kelapa dan tempat membakar kemenyan. Di tepi bilik terdapat sebuah kursi dengan tilam dan bantal bersarung kain hitam. Bantal dan tilam itu sudah buruk benar. Bila saya menghampirinya hidung saya tidak tertahan mencium bau apak dari bantal dan tilam.
Ketika saya mau membuka kain tilam yang menutupi kursi itu saya ditahan oleh Anjang Dollah.
“Jangan,” suara Anjang Dollah keras.
Saya duduk kembali. Hati saya ingin tahu, siapakah gerangan yang tidur di situ. Saya yakin ada orang yang tidur di atas kursi itu, karena bila saya perhatikan kain hitam itu bagaikan bergerak‐gerak mengikuti tarikan nafas manusia.
“Siapa yang berbaring itu?,” Kakek bertanya pula. Anjang Dollah merenung muka Kakek. Saya mulai resah tidak menentu.
“Sahabat saya. Budak saya. Bisa disuruh keluar waktu malam dan balik pagi.” Anjang Dollah menjelaskan pada Kakek. Saya dan Kakek pun menganggukkan kepala. “Dia tidur kayaknya?” tanya saya lagi.
“Dia tidak tidur,” sahut Anjang Dollah.
“Kalau tidak tidur kenapa tidak dibangunkan?” Tanya Kakek.
“Dia malu bertemu orang.” Itulah jawaban Anjang Dollah. Jawaban itu sebenarnya tidak memuaskan hati saya. Dan saya mau bertanya lagi.
Ketika saya mau membuka mulut, Kakek segera mencubit bahu saya. Pahamlah saya, bahwa Kakek tidak mau saya menpersoalkan lebih lanjut tentang apa yang berada di atas kursi.
Quote:
Anjang Dollah meninggalkan kami di dalam bilik. Ada tamu datang ke rumahnya.
Sepeninggalan Anjang Dollah itu, bulu romaku mula berdiri. Rasa takut datang dalam hati saya. Kalaulah tidak ada Kakek di samping pasti tempat itu saya tinggalkan. Anjang Dollah datang. Dia minta kami duduk di ruang tengah.
Di ruang tengah itu terdapat sorang perempuan muda. Duduk bersila di atas lantai. Perempuan muda itu datang ke rumah Anjang Dollah karena mau meminta tolong mengobati adiknya yang menjerit dan meraung tidak tentu arah seperti orang gila (meracau).
“Adik saya kena ‘kiriman’ orang Pak Anjang,” kata perempuan itu dengan muka agak muram.
“Dia terpaksa diikat dengan tali di tiang rumah,” tambah perempuan itu lagi.
Anjang Dollah mengigit bibir dan terus merapatkan gigi atas dengan gigi bawah beberapa kali. Tanpa berbicara sepatahpun. Anjang Dollah terus ke dapur. Datang kembali ke ruang tengah dengan mangkuk putih yang penuh berisi air.
“Mari masuk ke dalam bilik saya,” Anjang Dollah menjemput perempuan, Kakek dan saya. Kami pun masuk ke dalam biliknya. Anjang Dollah bersila di depan kursi. Matanya merenungi air dalam mangkuk putih sambil mulutnya membaca sesuatu. Entah apa yang dibacanya saya pun tidak tahu. Dia menoleh ke belakang merenungi perempuan muda seraya berkata, “Kau pulang dulu!”
Bila perempuan itu sampai dekat muka pintu, Anjang Dollah memanggilnya kembali dan menyuruh perempuan itu duduk di depannya. Perempuan itu mengikuti semua perintahnya itu. Anjang Dollah terus membaca sesuatu. Lebih kurang sepuluh menit Anjang Dollah berbuat begitu. Mukanya berubah menjadi hitam. Matanya jadi hijau berkilai. Separuh anggota badannya mengeletar, seperti orang kedinginan. Lama juga Anjang Dollah jadi begitu.
Hati saya, Tuhan saja yang tahu, betapa takutnya saya ketika itu. Ketika wajahnya berubah seperti keadaan biasa, barulah Anjang Dollah bersuara, tapi suaranya bertukar menjadi parau.
“Siapa nama adikmu,” tanya Anjang Dollah pada perempuan itu.
“Aishah.”
“Berapa umurnya?”
“Sembilan belas tahun.”
“Siapa nama emaknya.”
“Hamidah.”
Quote:
Begitu selesai Anjang Dollah bertanya dan mendapata jawaban dari perempuan itu. Dia segera bangun dan terus merapat ke kursi.
Berdiri di situ agak lama juga sambil tangan kanannya memegang pangkal dagunya.
“Hai sahabatku yang setia, pergilah engkau ke tempat asalmu, ambillah sehelai rambut perempuan yang mati beranak,” kata Anjang Dollah. Kain hitam mula bergerak.
Kakek duduk dengan tenang. Saya merasakan mau buang air kecil, juga terasa mau buang air besar. Saya jadi serba salah. Rasa mau buang kecil dan air besar itu hilang juga, bila saya terfikir kalau waktu buang air kecil atau buang air besar kain hitam itu akan datang pada saya. Buruk akibatnya.
“Pergilah sahabatku,” ulang Anjang Dollah. Dengan tiba‐tiba kain hitam terjatuh atas lantai. Apa yang saya lihat di atas kursi ialah bantal dan tilam bergerak sendiri. Tilam bagaikan digulung oleh orang.
“Dia sudah pergi,” kata Anjang Dollah pada Kakek. Kakek pun mengangguk kepalanya. Anjang Dollah pun mengambil kain hitam dan terus memberikan pada perempuan muda itu.
“Kau letakkan kain hitam ke muka adikmu tujuh senja, lepas itu kalau tidak juga sembuh, kau datang ke mari lagi,” kata Anjang Dollah.
Dan perempuan itu pun memberikan uang pada Anjang Dollah. Dengan tenang perempuan itu meninggalkan rumah Anjang Dollah.
“Ini baru sedikit saja. Minggu depan kalau kalian datang, kalian boleh lihat cara lain saya mengobati. Saya bisa kenalkan kamu berdua dengan sahabat saya itu,” hebat benar Anjang Dollah.
“Saya akan datang lagi,” sahut Kakek.
“Datanglah, tapi kalau datang malam,ya!”
“Baiklah.” Kakek memberikan janji.
Diubah oleh mufidfathul 29-03-2017 00:12
Araka dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Kutip
Balas
Tutup