- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#802
PART 12
Sore hari kami berdua sudah berada di jalan raya ke daerah atas, tentunya bersama si Black.
"Za, lumayan macet ya ternyata..", ucapnya.
"Iya Teh, namanya juga liburan, walaupun ini baru hari kedua lebaran, tetep aja namanya tempat wisata pasti ramai..", jawab Gua.
Memang jalan raya kini ramai kendaraan, tapi walaupun begitu, tidak sepadat yang Gua perkirakan, bisa dibilang ramai lancar, tidak sampai padat merayap.
"Teh, nanti nyobain sate kelinci yuk..",
"Kamu udah pernah nyobain belum ?", tanya Gua.
"Belum Za..",
"Emang enak ya ?", tanyanya balik.
"Katanya sih enak, kayak daging ayam rasanya...", jawab Gua tetap fokus ke jalanan di depan.
Kurang-lebih 2.5 jam perjalanan kami berdua sampai di tempat tujuan setelah mengantri di jalan raya karena cukup padatnya wisatawan lokal yang berlibur ke sini juga.
Kebun teh ditambah suasana pegunungan yang sangat indah, dan juga udara yang segar tidak seperti di tengah kota membuat Echa tersenyum. Ekspresi bahagia yang ditunjukkan pada wajahnya membuat Gua ikut masuk dalam perasaan bahagianya itu.
"Za, kita kesana yuk..", ucapnya seraya menunjuk ke jalan setapak ditengah perkebunan teh ini.
Gua pun mengikutinya berjalan dari belakang, hingga kami berdua berada di tengah-tengah perkebunan teh. Ternyata tidak banyak yang masuk ke dalam perkebunan teh seperti kami, mungkin wisatawan lainnya lebih memilih bersantai dan menikmati pemandangan di depan gerbang tempat wisata. Karena di depan gerbang ada restoran dua tingkat yang tempatnya sangat nyaman dan enak untuk bercengkrama bersama keluarga.
Kami berhenti di dekat sebuah pohon, entah pohon apa ini. Echa menyapukan pandangannya memandangi suasana yang sejuk di sore ini. Gua tersenyum melihat dirinya ketika Echa merentangkan kedua tangannya lalu memutar tubuhnya. Seolah-olah kesejukkan dan tempat ini merenggut semua beban kehidupannya.
"Teh..",
"Suka dengan suasananya ?", tanya Gua ketika dirinya membelakangi Gua.
"Selalu... Aku selalu suka dengan suasana pegunungan nan sejuk seperti ini..", jawabnya tanpa membalikkan badan.
"Kamu bahagia ?", tanya Gua lagi.
"Aku bahagia..", jawabnya masih membelakangi Gua,
"Dan kebahagiaan ini akan bertambah kalau kamu menyambut cintaku Za..", kali ini tubuhnya sudah berbalik di depan Gua.
Suara angin yang beradu dengan dedaunan teh mengiringi senyuman di bibir ini. Gua menatap sosok seorang perempuan yang berdiri tepat empat meter di hadapan Gua.
Angin yang masih bertiup membuat helaian rambut menutupi sisi wajahnya, namun Gua masih bisa melihat lengkung senyuman indah terukir di bibirnya. Gua melangkah mendekatinya, menyibakkan helaian-helaian rambut yang menutupi wajahnya itu. Kedua mata kami saling bertemu. Sosok perempuan yang sangat istimewa ini membuat perasaan Gua mengatakan bahwa 'sambutlah cintanya'. Tapi tidak dengan logika dan bibir Gua, ada perasaan takut akan menyakiti dirinya kelak. Sulit untuk Gua mengeluarkan kata-kata yang membuatnya yakin akan apa yang dia harapkan.
Penyambutan cinta yang selama ini dinantinya membuat hati Gua bimbang. Haruskah sekarang ?. Hingga pada akhirnya, jemari tangan kanannya menyapa pipi kiri Gua.
"Za...",
"Aku cinta sama kamu", ucapnya dengan suara lirih.
Gua hanya bisa menatapnya tanpa bisa mengatakan apapun, sama seperti di malam itu, dan juga sama seperti tadi pagi. Gua selalu menghindar dan berlari dari pertanyaan ataupun pernyataannya. Jahat kah Gua mendiamkannya selama ini ? Menutup mata bahwa seorang perempuan yang sangat istimewa sudah menunggu Gua selama ini. Satu hal yang Gua selalu pikirkan tentang dirinya, Gua takut menyakitinya, Gua takut akan ketidak mampuan hati Gua menjaga perasaannya.
"Aku takut nyakitin kamu..",
"Aku belum bisa menyambut cinta kamu Teh..",
"Jika aku memaksakan, maka aku yakin kamu akan terluka pada akhirnya",
"Dan aku enggak mau hal itu terjadi sama kamu...", jelas Gua kepadanya.
"Kenapa kamu yakin akan nyakitin aku suatu saat nanti ?", tanyanya dengan telapak tangan yang masih menempel di sisi wajah Gua.
"Aku enggak bisa bilang alasan apa yang sampe hati aku bakal nyakitin kamu...",
"Ini hanya ketakutan aku, dan aku enggak berharap itu semua bakal kejadian..", jawab Gua.
"Kamu tau Za..",
"Selalu ada hati yang tersakiti dalam sebuah hubungan..",
"Pertemanan ataupun percintaan, selalu.. Dan selalu begitu..
"Ada saja orang yang tersakiti..",
"Sekarang, kalau kita enggak berani melangkah dan mencoba, untuk apa kita hidup ?",
"Bukankah sebuah hubungan adalah salah satu bagian dari perjalanan hidup kita Za ?", jelasnya kepada Gua.
"Betul Teh...",
"Tapi bukan berarti aku rela melihat kamu tersakiti..".
"Kalau begitu buat aku bahagia".
Ruang kosong di hati ini tiba-tiba saja terisi perasaan yang entah tidak bisa Gua ungkapkan. Rasanya Gua ingin mengatakan 'Ya' untuk menyambut cintanya, tapi sekali lagi, logika Gua menahannya.
Gua mengaitkan tangan kebelakang pinggangnya, memeluknya erat, menyandarkan dagu ke bahunya. Tangannya pun membalas pelukkan Gua, mendekap erat punggung Gua. Lalu Gua berbisik...
"Aku belum bisa, maafin aku Teh..".
"Berapa lama lagi aku harus menunggu kamu ?".
....
Kami berdua berlari ditengah rintikan hujan di kebun teh ini, mencari tempat berteduh, namun sejauh mata memandang tidak ada satupun saung atau bangunan yang bisa menolong kami dari butiran air yang jatuh dari langit.
Gua melepaskan jaket lalu menutupi kepalanya, kini kami berjalan cepat berdampingan menuju pintu keluar.
"Za, kita langsung ke mobil ?", tanyanya sedikit berteriak karena suaranya beradu dengan bunyi gemercik air.
"Iya Teh..",
"Enggak ada tempat neduh soalnya..", jawab Gua.
Kami pun akhirnya sampai di area parkiran mobil. Gua memintanya mengenakan jaket sebagai pelindung kepala agar dia tidak kehujanan, sedangkan Gua berlari menuju pintu kemudi. Kini kami berdua sudah berada di dalam mobil dengan pakaian yang cukup basah.
"Langsung pulang ?", tanya Gua sembari menyalakan mesin si Black.
"Makan dulua ya Za..", jawabnya.
"Mau makan apa ?", tanya Gua lagi sambil mengendarai mobil mundur.
"Katanya tadi mau ajak aku nyobain sate kelinci ?".
"Oh.. Oke...",
"Eh..",
"Tapi baju kamu cukup basah, langsung pulang aja ya ?",
"Nanti kamu masuk angin Teh..", ucap Gua lagi.
"Enggak tembus kok Za..",
"Enggak apa-apa, ini kan yang basah sweater aku, gak sampai kedalam..", jawabnya.
Gua pun memacu si Black keluar dari area wisata dan kami berdua sudah berada di jalan raya lagi. Kerasnya butiran air yang menghantam kaca depan membuat Gua harus lebih hati-hati mengemudikan mobil.
"Teh, beneran enggak apa-apa ?".
"Heum ?",
"Apanya ?".
"Itu baju kamu beneran gak tembus ?",
"Nanti masuk angin loch...".
"Iya Za, enggak apa-apa..",
"Malah kalo kita enggak makan dulu jadi masuk angin beneran..".
"Yakin enggak tembus ?".
"Ya ampun, enggak Za, enggak",
"Nih pegang aja sendiri!!", ucapnya sambil menarik sweaternya kedepan.
Gua pun meraba bagian sweater diperutnya itu dengan tangan kiri. Basah sweaternya, tapi mana Gua tau kalau tembus atau enggak ke baju dibalik sweater itu. Gua pun tanpa sadar menarik sweater bagian bawahnya lalu memegang baju kaos perutnya.
Plaakk..
"Adaaww..", teriak Gua sambil menarik tangan dari atas perutnya yang masih tertutupi baju.
"Hiiii.. Mau ngapain sih ?!",
"Maen tarik sweater aku aja!", ucapnya kesal setelah memukul tangan Gua.
"Maaf.. Maaf Teh..",
"Enggak sengaja, aku cuma mau mastiin aja tembus apa enggak basahnya..",
"Maaf ya, beneran aku gak ada niat apa-apa..", jawab Gua meminta maaf dengan tulus.
"Iya..", jawabnya dengan wajah yang bete.
"Maafin aku dong",
"Beneran Teh, aku enggak sengaja..", ucap Gua lagi.
"Ya udah iyaa Ezaaa..".
Gua pun kembali fokus mengemudikan si Black. Setengah jam kemudian Gua hentikan mobil di sisi jalan, tepat di samping sebuah warung makan sederhana. Hujan diluar masih turun walaupun sudah tidak sederas sebelumnya, kembali Gua meminta Echa memakai jaket Gua untuk menutupi kepalanya.
Kami berdua berlari kecil ke warung makan pinggir jalan ini. Di dalam warung ternyata tidak ramai pembeli, hanya ada empat orang yang berpasangan sedang menikmati makanan di meja depan mereka.
"Pak, sate kelincinya 20 tusuk ya...", ucap Gua kepada Bapak penjual.
"Pakai lontong A' ?", tanyanya.
"Iya Pak, dua porsi ya lontongnya..",
"Oh ya, bumbu kecap Pak satenya ya, sama minumnya satu teh manis panas dan satu teh tawar panas Pak..", ucap Gua lagi.
"Muhun A'.."
"Mangga, calik heula A'..", jawabnya mempersilahkan Gua duduk.
Gua dan Echa duduk bersebalahan di bangku plastik dan meja kayu sederhana di warung makan sate kelinci ini. Rintikan hujan yang terlihat dari dalam sini kembali deras, sepertinya air langit yang turun petang ini akan membasahi kota Gua sepanjang hari.
Sambil menunggu makanan pesanan kami datang, Echa menelpon Mamahnya, lebih tepatnya dia yang sedang ditelpon. Gua pun mengeluarkan hp dari saku celana untuk sekedar mengecek sms ataupun mungkin telpon yang masuk.
Ternyata benar ada sms yang masuk ke hp Gua, lalu Gua pun membuka sms tersebut.
Selesai berbalas sms dengan Nona Ukhti, Gua pun mengantongi hp kedalam saku celana jeans. Gua lihat Echa masih asyik telponan dengan Mamahnya. Tidak lama menu sate kelinci berikut lontong dan dua minuman datang, lalu disajikan di atas meja makan di depan kami berdua.
Gua menunggu Echa selesai menelpon dan barulah kami bersama-sama menyantap makanan. Seperti kebiasaannya sejak dahulu, Echa menyantap makanan tanpa berbicara sedikitpun, alhasil Gua pun jadi lebih cepat menghabiskan makanan.
"Enak juga Za, bener rasanya kayak daging ayam ya..", ucap Echa setelah selesai meminum teh manis hangatnya.
"Iya, aku juga baru sih nyobain..",
"Jadi enggak mengecewakan toh makanannya ?", tanya Gua.
Echa tersenyum lalu mengacungkan satu jempol kepada Gua.
"Apa kabar Papah sama Mamah Teh ?", tanya Gua kemudian.
"Alhamdulilah mereka baik Za..",
"Mereka titip salam untuk kamu", jawabnya.
"Alhamdulilah kalau baik semua Teh",
"Oh makasih, walaikumsalam",
"Besok berangkat jam berapa mereka dari Solo Teh ?", tanya Gua lagi.
"Eumm.. Selesai shalat subuh katanya sih..",
"Oh iya, besok kamu ke rumah juga ya, sekalian ketemu mereka..", ucapnya.
"Oke Teh...".
Oke oke oke aja Gua. Besok jadwal padat banget. Nona Ukhti pasti ingin ketemu, belum lagi hari ini gagal ketemu Mba Siska, jadinya pasti besok Gua harus nemuin dia. Masih untung Mba Yu belum pulang dari mudiknya. Tambah lagi sekarang keluarga Echa besok pulang dan meminta Gua untuk nemuin. Hadeuuh...
...
Sekarang kami berdua sudah sampai di jalan raya tengah kota. Hujan diluar sudah reda, meyisakan butiran air yang menempel pada kaca mobil dan jalanan yang basah.
"Za, ke rumah aku dulu ya..",
"Aku mau ambil baju lagi untuk nanti malam..", ucap Echa ketika kami sebentar lagi sampai di rumah Nenek.
"Oh.. Ke rumah kamu dulu, ya udah oke..", jawab Gua.
Gua pun melewati komplek perumahan Nenek, sempat Gua melihat sebuah mobil sedan berwarna merah masuk ke dalam komplek perumahan Nenek, rasanya Gua pernah lihat mobil itu, tapi Gua lupa dimana. Akhirnya Gua melajukan si Black menuju ke arah jalan rumah Echa. Gua lihat jam digital di dashboard sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Sekitar 15 menit kami berdua sudah sampai di depan rumah Echa. Setelah satpam rumahnya membukakan gerbang, Gua pun memarkirkan si Black di halaman parkir rumahnya. Kemudian kami berdua turun dari mobil dan menuju pintu utama rumah.
"Assalamualaikum Bi..", ucap Echa ketika pintu dibuka kan oleh Bibi (art).
"Walaikumsalam..",
"Eh Non Echa, loch sama A' Eza...",
"Abis jalan-jalan ya ?", tanya Bibi seraya tersenyum kearah kami berdua.
"Iya Bi, abis dari atas..",
"Nyobain sate kelinci..", jawab Gua.
"Oh ya, ini Bi ada sate kelinci buat Bibi sama Pak Satpam..",
"Dicicipi ya Bi..", ucap Echa seraya memberikan bungkusan sate kelinci yang dia beli tadi.
"Aduh makasih banyak ya Non..",
"Alhamdulilah..", ucap Bibi menerima bungkusan makanan lalu tersenyum sumringah.
"Ya udah, aku ke kamar dulu ya Bi..", pamitnya kepada Bibi,
"Za, sebentar ya, aku cuma ambil pakaian aja...", ucapnya kali ini kepada Gua.
"Oke Teh..", jawab Gua, lalu Echa beranjak masuk ke dalam rumahnya.
Gua duduk di bangku teras rumahnya. Bibi yang memang belum kembali masuk ke dalam rumah pun menawari Gua minum.
"A', mau minum apa ?", tanyanya.
"Eh enggak usah Bi, makasih, udah kenyang tadi makan sama minum bareng Echa.. He he he..", tolak Gua.
"Oh, ya udah..",
"Kalo gitu Bibi masuk ke dalam dulu ya A'..", ucap Bibi pamit masuk ke dalam rumah.
Gua pun duduk sendirian dibangku teras rumah keluarga Echa. Hanya melamun memandangi rintikan hujan yang masih deras turun dari langit di luar sana, ke taman rumahnya itu. Tidak lama, Echa pun kembali keluar rumah, menghampiri Gua yang berada di terasnya ini. Gua lihat dia sudah berganti pakaian atasnya, sweater putih yang basah tadi sore sudah berganti dengan jaket berwarna pink, dan ditangannya sudah ada tas berukuran sedang yang Gua yakin isinya adalah pakaian miliknya.
"Yuk Za, langsung berangkat lagi..", ajaknya sambil mengenakan sandal model wanita.
"Okey..", jawab Gua seraya bangkit dari bangku.
Kami berdua hendak menuju mobil ketika Pak satpam membuka gerbang depannya, Gua dan Echa langsung melirik kearah gerbang, sama-sama ingin tau siapa yang bertamu malam-malam begini. Sebuah mobil model minibus memasuki halaman parkiran, lalu turunlah seorang lelaki yang memang sudah Gua rindukan dari malam takbiran.
"Assalamualaikum Sa..", ucapnya setelah berdiri beberapa meter dari hadapan Gua dan Echa.
"Walaikumsalam", ucap Echa dingin.
Gua tersenyum melihatnya, lalu bergegas menuju si Black, membuka pintunya dan mengambil hammer.
"Sa.. Gua kesini mau..", ucapannya terpotong.
Duuagh!! Bunyi sebuah tendangan tepat mengenai kepala bagian belakangnya.
Si Bajing*n langsung tersungkur ke depan dan jatuh tepat ditangga teras.
"Ezaa!", teriak Echa berlari menuruni anak tangga teras,
"Udaah stoopp!", ucapnya ketika sudah memeluk Gua.
"Wooiii Anj*ng!",
"Urusan kita belum selesai kemarin!"
"Bangun Lu J**ng!!", ucap Gua seraya mencoba melepaskan kaitan tangan Echa pada punggung Gua.
"Eza! udaaah..",
"Udah jangan berantem Za!",
"Lepasin itu palu Za, lepas!", teriak Echa sambil mencoba mengambil palu ditangan kanan Gua.
"Amanat Teh..", ucap Gua.
"Amanat ? Maksudnya ?", tanya Echa bingung.
"Amanat Ayah, aku harus remukin jarinya si Bajing*n yang lentik itu..",
"He he he he", jawab Gua lalu terkekeh.
Echa melotot kepada Gua. Lalu mencubit hidung Gua penuh kegemasan.
"Aaawww...",
"Sakiittt...", teriak Gua.
"Udah deh gak usah diperpanjang lagi!", ucapnya.
"Sa, dan Euu.. Bang.. ",
"Maaf, Gue kesini cuma mau minta maaf secara langsung ke Elsa..",
"Sumpah Gue enggak ada niat apapun selain minta maaf Bang..", ucap si Bajing*n Evan yang sudah kembali berdiri sambil memegangi kepala belakangnya yang terkena tendangan Gua tadi.
"Udah ya Van",
"Gue enggak mau lagi liat Lo",
"Gue enggak mau ketemu Lo, jadi sebaiknya Lo pergi dari sini sekarang!", ucap Echa tegas.
"Iya Sa, Gue enggak akan deketin Lu lagi, maafin Gue Sa", jawab si Bajing*n.
"Ya udah, sekarang pulang deh!", usir Echa.
"Maafin Gue sekali lagi ya Sa, Bang.. Gue pamit dulu...",
"Assalamualaikum..", ucapnya.
"Walaikumsalam".
Echa sudah melepaskan pelukkannya daritadi pada tubuh Gua. Kami berdua melihat Si Bajing*n berjalan menunduk kearah mobilnya. Ketika dia membuka pintu kemudi mobil, Gua berlari menghampirinya.
Gua raih rambut bagian atas kepalanya dari belakang dengan kasar, lalu Gua tarik dan membantingnya ke depan Kap mobilnya.
Dugh!
Gua remas keras wajahnya, posisi wajahnya miring, tertekan tangan kiri Gua ke bodi depan mobilnya. Lalu tangan Gua yang masih menggenggam palu pun Gua dekatkan ke arah hidungnya.
Lu semua tau kan palu ada beberapa jenisnya. Biasanya dua sisi palu itu ada bagian untuk memukul paku yang berbentuk pipih dan sisi lainnya berbentuk tajam dengan belahan ditengahnya, yang fungsinya untuk mencabut paku. Sekarang, bagian sisi tajam palu untuk mencabut paku itu Gua tempelkan, bukan, lebih tepatnya Gua masukkan sisi tajamnya itu ke lubang hidungnya.
Echa berlari lalu memeluk Gua dari belakang, berusaha menarik tubuh Gua sambil meminta Gua melepaskan si Bajing*n.
"J*ng! Denger!",
"Seharusnya Gua remukkin jari-jari lentik Lu itu!",
"Tapi rasanya lebih bagus Gua bongkar ini sumur penciuman Lu!", ucap Gua kepada si Bajing*n lalu menarik keatas palunya sehingga membuat si Bajing*n berteriak kesakitan.
"Aaaarrrghhh.. Amppunn Baaangng!! Aampuun!! Aawww..", teriaknya.
"Ezaaa!! Udah! Lepasin Zaaa!!", teriak Echa,
"PAK SATPAAAAMM!!",
"PAAAK.. TOLOONGIIIN!!", teriak Echa lagi kali ini kearah pos satpam.
Gua tersenyum lebar ketika kucuran darah pekat mengalir indah dari dalam hidungnya lalu membasahi sisi palu yang tajam itu. Nikmatnyaaa..
"AARRGGHH... SAKIITTT.. AAMPUUUNN!!! AARGH!!", teriak si Bajing*n meraung-raung kesakitan karena tarikan palu pada hidungnya semakin Gua tarik keatas lagi dan darah yang keluar pun semakin banyak.
Pak Satpam yang berlari menghampiri kami pun akhirnya berhasil menarik tubuh Gua dan Gua pun melepaskan siksaan pada si Bajing*n.
Gua lihat si Bajing*n menggelapar diatas kap mobilnya itu, dan memegangi hidungnya dengan kedua tangannya.
"Pak, tolong panggil Bibi, bilang sama Bibi bawain kotak p3k ya Pak.", ucap Echa kepada Pak satpam.
"Baik Non", Pak satpam pun berlari ke dalam rumah.
"Eza! Keterlaluan kamu!",
"Kamu tuh apa-apaan sih!",
"Mau bunuh dia!", ucap Echa dengan raut muka yang benar-benar marah kepada Gua.
Seumur-umur, Gua belum pernah melihatnya semarah itu, terlebih kepada Gua. Otak Gua yang masih dilingkupi darah yang mendidih karena amarah dan hati yang diliputi emosi tidak terima dengan ucapan Echa.
"Kamu belain dia ?", tanya Gua dengan nada dingin.
"Enggak Za!",
"Tapi kamu tuh keterlaluan!",
"Kamu mau bunuh orang ?!", jawabnya dengan penuh emosi.
"Kamu bilang aku keterlaluan ?",
"Lupa kamu apa yang udah dia perbuat ke wajah kamu ?", nada bicara Gua masih dingin.
Echa terdiam.
"LUPA ?!!",
"MASIH MAU BELAIN DIA SEKARANG ?! HAH ?!!"
"JAWAB!!!", habis sudah kesabaran Gua dan meluapkannya hingga berteriak kepada Echa.
Echa langsung tersentak hingga memundurkan wajahnya. Gua tidak memperdulikan Echa yang masih shock karena sikap Gua tadi. Gua berbalik badan melangkah menghampiri si Bajing*n yang masih kesakitan diatas kap mobilnya. Gua lempar keatas palu agar berbalik ke sisi pipihnya dan kembali menangkapnya.
Dagh!! Bunyi suara palu beradu dengan tulang dengkulnya.
"UAAHHH.. AARGGH!!", teriak si Bajing*n lagi.
"Mampus Lu J*ng!", ucap Gua sembari mengayunkan palu keatas dan mengarahkannya ke tulang kepalanya.
Settt
Tlaangg Palu terlempar ke sisi lain halaman parkir.
Gua menengok ke samping.
"Udah Mas, udah", ucap Pak satpam yang ternyata tadi merebut palu dari tangan Gua,
"Lihat itu sudah kesakitan, bahaya Mas",
"Ingat Mas ada hukum", lanjutnya.
Gua menghela napas pelan lalu tersenyum sembari menggelengkan kepala. Lalu sebuah pelukkan dari Echa menenangkan Gua.
"Za, lumayan macet ya ternyata..", ucapnya.
"Iya Teh, namanya juga liburan, walaupun ini baru hari kedua lebaran, tetep aja namanya tempat wisata pasti ramai..", jawab Gua.
Memang jalan raya kini ramai kendaraan, tapi walaupun begitu, tidak sepadat yang Gua perkirakan, bisa dibilang ramai lancar, tidak sampai padat merayap.
"Teh, nanti nyobain sate kelinci yuk..",
"Kamu udah pernah nyobain belum ?", tanya Gua.
"Belum Za..",
"Emang enak ya ?", tanyanya balik.
"Katanya sih enak, kayak daging ayam rasanya...", jawab Gua tetap fokus ke jalanan di depan.
Kurang-lebih 2.5 jam perjalanan kami berdua sampai di tempat tujuan setelah mengantri di jalan raya karena cukup padatnya wisatawan lokal yang berlibur ke sini juga.
Kebun teh ditambah suasana pegunungan yang sangat indah, dan juga udara yang segar tidak seperti di tengah kota membuat Echa tersenyum. Ekspresi bahagia yang ditunjukkan pada wajahnya membuat Gua ikut masuk dalam perasaan bahagianya itu.
"Za, kita kesana yuk..", ucapnya seraya menunjuk ke jalan setapak ditengah perkebunan teh ini.
Gua pun mengikutinya berjalan dari belakang, hingga kami berdua berada di tengah-tengah perkebunan teh. Ternyata tidak banyak yang masuk ke dalam perkebunan teh seperti kami, mungkin wisatawan lainnya lebih memilih bersantai dan menikmati pemandangan di depan gerbang tempat wisata. Karena di depan gerbang ada restoran dua tingkat yang tempatnya sangat nyaman dan enak untuk bercengkrama bersama keluarga.
Kami berhenti di dekat sebuah pohon, entah pohon apa ini. Echa menyapukan pandangannya memandangi suasana yang sejuk di sore ini. Gua tersenyum melihat dirinya ketika Echa merentangkan kedua tangannya lalu memutar tubuhnya. Seolah-olah kesejukkan dan tempat ini merenggut semua beban kehidupannya.
"Teh..",
"Suka dengan suasananya ?", tanya Gua ketika dirinya membelakangi Gua.
"Selalu... Aku selalu suka dengan suasana pegunungan nan sejuk seperti ini..", jawabnya tanpa membalikkan badan.
"Kamu bahagia ?", tanya Gua lagi.
"Aku bahagia..", jawabnya masih membelakangi Gua,
"Dan kebahagiaan ini akan bertambah kalau kamu menyambut cintaku Za..", kali ini tubuhnya sudah berbalik di depan Gua.
Suara angin yang beradu dengan dedaunan teh mengiringi senyuman di bibir ini. Gua menatap sosok seorang perempuan yang berdiri tepat empat meter di hadapan Gua.
Angin yang masih bertiup membuat helaian rambut menutupi sisi wajahnya, namun Gua masih bisa melihat lengkung senyuman indah terukir di bibirnya. Gua melangkah mendekatinya, menyibakkan helaian-helaian rambut yang menutupi wajahnya itu. Kedua mata kami saling bertemu. Sosok perempuan yang sangat istimewa ini membuat perasaan Gua mengatakan bahwa 'sambutlah cintanya'. Tapi tidak dengan logika dan bibir Gua, ada perasaan takut akan menyakiti dirinya kelak. Sulit untuk Gua mengeluarkan kata-kata yang membuatnya yakin akan apa yang dia harapkan.
Penyambutan cinta yang selama ini dinantinya membuat hati Gua bimbang. Haruskah sekarang ?. Hingga pada akhirnya, jemari tangan kanannya menyapa pipi kiri Gua.
"Za...",
"Aku cinta sama kamu", ucapnya dengan suara lirih.
Gua hanya bisa menatapnya tanpa bisa mengatakan apapun, sama seperti di malam itu, dan juga sama seperti tadi pagi. Gua selalu menghindar dan berlari dari pertanyaan ataupun pernyataannya. Jahat kah Gua mendiamkannya selama ini ? Menutup mata bahwa seorang perempuan yang sangat istimewa sudah menunggu Gua selama ini. Satu hal yang Gua selalu pikirkan tentang dirinya, Gua takut menyakitinya, Gua takut akan ketidak mampuan hati Gua menjaga perasaannya.
"Aku takut nyakitin kamu..",
"Aku belum bisa menyambut cinta kamu Teh..",
"Jika aku memaksakan, maka aku yakin kamu akan terluka pada akhirnya",
"Dan aku enggak mau hal itu terjadi sama kamu...", jelas Gua kepadanya.
"Kenapa kamu yakin akan nyakitin aku suatu saat nanti ?", tanyanya dengan telapak tangan yang masih menempel di sisi wajah Gua.
"Aku enggak bisa bilang alasan apa yang sampe hati aku bakal nyakitin kamu...",
"Ini hanya ketakutan aku, dan aku enggak berharap itu semua bakal kejadian..", jawab Gua.
"Kamu tau Za..",
"Selalu ada hati yang tersakiti dalam sebuah hubungan..",
"Pertemanan ataupun percintaan, selalu.. Dan selalu begitu..
"Ada saja orang yang tersakiti..",
"Sekarang, kalau kita enggak berani melangkah dan mencoba, untuk apa kita hidup ?",
"Bukankah sebuah hubungan adalah salah satu bagian dari perjalanan hidup kita Za ?", jelasnya kepada Gua.
"Betul Teh...",
"Tapi bukan berarti aku rela melihat kamu tersakiti..".
"Kalau begitu buat aku bahagia".
Ruang kosong di hati ini tiba-tiba saja terisi perasaan yang entah tidak bisa Gua ungkapkan. Rasanya Gua ingin mengatakan 'Ya' untuk menyambut cintanya, tapi sekali lagi, logika Gua menahannya.
Gua mengaitkan tangan kebelakang pinggangnya, memeluknya erat, menyandarkan dagu ke bahunya. Tangannya pun membalas pelukkan Gua, mendekap erat punggung Gua. Lalu Gua berbisik...
"Aku belum bisa, maafin aku Teh..".
"Berapa lama lagi aku harus menunggu kamu ?".
....
Kami berdua berlari ditengah rintikan hujan di kebun teh ini, mencari tempat berteduh, namun sejauh mata memandang tidak ada satupun saung atau bangunan yang bisa menolong kami dari butiran air yang jatuh dari langit.
Gua melepaskan jaket lalu menutupi kepalanya, kini kami berjalan cepat berdampingan menuju pintu keluar.
"Za, kita langsung ke mobil ?", tanyanya sedikit berteriak karena suaranya beradu dengan bunyi gemercik air.
"Iya Teh..",
"Enggak ada tempat neduh soalnya..", jawab Gua.
Kami pun akhirnya sampai di area parkiran mobil. Gua memintanya mengenakan jaket sebagai pelindung kepala agar dia tidak kehujanan, sedangkan Gua berlari menuju pintu kemudi. Kini kami berdua sudah berada di dalam mobil dengan pakaian yang cukup basah.
"Langsung pulang ?", tanya Gua sembari menyalakan mesin si Black.
"Makan dulua ya Za..", jawabnya.
"Mau makan apa ?", tanya Gua lagi sambil mengendarai mobil mundur.
"Katanya tadi mau ajak aku nyobain sate kelinci ?".
"Oh.. Oke...",
"Eh..",
"Tapi baju kamu cukup basah, langsung pulang aja ya ?",
"Nanti kamu masuk angin Teh..", ucap Gua lagi.
"Enggak tembus kok Za..",
"Enggak apa-apa, ini kan yang basah sweater aku, gak sampai kedalam..", jawabnya.
Gua pun memacu si Black keluar dari area wisata dan kami berdua sudah berada di jalan raya lagi. Kerasnya butiran air yang menghantam kaca depan membuat Gua harus lebih hati-hati mengemudikan mobil.
"Teh, beneran enggak apa-apa ?".
"Heum ?",
"Apanya ?".
"Itu baju kamu beneran gak tembus ?",
"Nanti masuk angin loch...".
"Iya Za, enggak apa-apa..",
"Malah kalo kita enggak makan dulu jadi masuk angin beneran..".
"Yakin enggak tembus ?".
"Ya ampun, enggak Za, enggak",
"Nih pegang aja sendiri!!", ucapnya sambil menarik sweaternya kedepan.
Gua pun meraba bagian sweater diperutnya itu dengan tangan kiri. Basah sweaternya, tapi mana Gua tau kalau tembus atau enggak ke baju dibalik sweater itu. Gua pun tanpa sadar menarik sweater bagian bawahnya lalu memegang baju kaos perutnya.
Plaakk..
"Adaaww..", teriak Gua sambil menarik tangan dari atas perutnya yang masih tertutupi baju.
"Hiiii.. Mau ngapain sih ?!",
"Maen tarik sweater aku aja!", ucapnya kesal setelah memukul tangan Gua.
"Maaf.. Maaf Teh..",
"Enggak sengaja, aku cuma mau mastiin aja tembus apa enggak basahnya..",
"Maaf ya, beneran aku gak ada niat apa-apa..", jawab Gua meminta maaf dengan tulus.
"Iya..", jawabnya dengan wajah yang bete.
"Maafin aku dong",
"Beneran Teh, aku enggak sengaja..", ucap Gua lagi.
"Ya udah iyaa Ezaaa..".
Gua pun kembali fokus mengemudikan si Black. Setengah jam kemudian Gua hentikan mobil di sisi jalan, tepat di samping sebuah warung makan sederhana. Hujan diluar masih turun walaupun sudah tidak sederas sebelumnya, kembali Gua meminta Echa memakai jaket Gua untuk menutupi kepalanya.
Kami berdua berlari kecil ke warung makan pinggir jalan ini. Di dalam warung ternyata tidak ramai pembeli, hanya ada empat orang yang berpasangan sedang menikmati makanan di meja depan mereka.
"Pak, sate kelincinya 20 tusuk ya...", ucap Gua kepada Bapak penjual.
"Pakai lontong A' ?", tanyanya.
"Iya Pak, dua porsi ya lontongnya..",
"Oh ya, bumbu kecap Pak satenya ya, sama minumnya satu teh manis panas dan satu teh tawar panas Pak..", ucap Gua lagi.
"Muhun A'.."
"Mangga, calik heula A'..", jawabnya mempersilahkan Gua duduk.
Gua dan Echa duduk bersebalahan di bangku plastik dan meja kayu sederhana di warung makan sate kelinci ini. Rintikan hujan yang terlihat dari dalam sini kembali deras, sepertinya air langit yang turun petang ini akan membasahi kota Gua sepanjang hari.
Sambil menunggu makanan pesanan kami datang, Echa menelpon Mamahnya, lebih tepatnya dia yang sedang ditelpon. Gua pun mengeluarkan hp dari saku celana untuk sekedar mengecek sms ataupun mungkin telpon yang masuk.
Ternyata benar ada sms yang masuk ke hp Gua, lalu Gua pun membuka sms tersebut.
Quote:
Selesai berbalas sms dengan Nona Ukhti, Gua pun mengantongi hp kedalam saku celana jeans. Gua lihat Echa masih asyik telponan dengan Mamahnya. Tidak lama menu sate kelinci berikut lontong dan dua minuman datang, lalu disajikan di atas meja makan di depan kami berdua.
Gua menunggu Echa selesai menelpon dan barulah kami bersama-sama menyantap makanan. Seperti kebiasaannya sejak dahulu, Echa menyantap makanan tanpa berbicara sedikitpun, alhasil Gua pun jadi lebih cepat menghabiskan makanan.
"Enak juga Za, bener rasanya kayak daging ayam ya..", ucap Echa setelah selesai meminum teh manis hangatnya.
"Iya, aku juga baru sih nyobain..",
"Jadi enggak mengecewakan toh makanannya ?", tanya Gua.
Echa tersenyum lalu mengacungkan satu jempol kepada Gua.
"Apa kabar Papah sama Mamah Teh ?", tanya Gua kemudian.
"Alhamdulilah mereka baik Za..",
"Mereka titip salam untuk kamu", jawabnya.
"Alhamdulilah kalau baik semua Teh",
"Oh makasih, walaikumsalam",
"Besok berangkat jam berapa mereka dari Solo Teh ?", tanya Gua lagi.
"Eumm.. Selesai shalat subuh katanya sih..",
"Oh iya, besok kamu ke rumah juga ya, sekalian ketemu mereka..", ucapnya.
"Oke Teh...".
Oke oke oke aja Gua. Besok jadwal padat banget. Nona Ukhti pasti ingin ketemu, belum lagi hari ini gagal ketemu Mba Siska, jadinya pasti besok Gua harus nemuin dia. Masih untung Mba Yu belum pulang dari mudiknya. Tambah lagi sekarang keluarga Echa besok pulang dan meminta Gua untuk nemuin. Hadeuuh...
...
Sekarang kami berdua sudah sampai di jalan raya tengah kota. Hujan diluar sudah reda, meyisakan butiran air yang menempel pada kaca mobil dan jalanan yang basah.
"Za, ke rumah aku dulu ya..",
"Aku mau ambil baju lagi untuk nanti malam..", ucap Echa ketika kami sebentar lagi sampai di rumah Nenek.
"Oh.. Ke rumah kamu dulu, ya udah oke..", jawab Gua.
Gua pun melewati komplek perumahan Nenek, sempat Gua melihat sebuah mobil sedan berwarna merah masuk ke dalam komplek perumahan Nenek, rasanya Gua pernah lihat mobil itu, tapi Gua lupa dimana. Akhirnya Gua melajukan si Black menuju ke arah jalan rumah Echa. Gua lihat jam digital di dashboard sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Sekitar 15 menit kami berdua sudah sampai di depan rumah Echa. Setelah satpam rumahnya membukakan gerbang, Gua pun memarkirkan si Black di halaman parkir rumahnya. Kemudian kami berdua turun dari mobil dan menuju pintu utama rumah.
"Assalamualaikum Bi..", ucap Echa ketika pintu dibuka kan oleh Bibi (art).
"Walaikumsalam..",
"Eh Non Echa, loch sama A' Eza...",
"Abis jalan-jalan ya ?", tanya Bibi seraya tersenyum kearah kami berdua.
"Iya Bi, abis dari atas..",
"Nyobain sate kelinci..", jawab Gua.
"Oh ya, ini Bi ada sate kelinci buat Bibi sama Pak Satpam..",
"Dicicipi ya Bi..", ucap Echa seraya memberikan bungkusan sate kelinci yang dia beli tadi.
"Aduh makasih banyak ya Non..",
"Alhamdulilah..", ucap Bibi menerima bungkusan makanan lalu tersenyum sumringah.
"Ya udah, aku ke kamar dulu ya Bi..", pamitnya kepada Bibi,
"Za, sebentar ya, aku cuma ambil pakaian aja...", ucapnya kali ini kepada Gua.
"Oke Teh..", jawab Gua, lalu Echa beranjak masuk ke dalam rumahnya.
Gua duduk di bangku teras rumahnya. Bibi yang memang belum kembali masuk ke dalam rumah pun menawari Gua minum.
"A', mau minum apa ?", tanyanya.
"Eh enggak usah Bi, makasih, udah kenyang tadi makan sama minum bareng Echa.. He he he..", tolak Gua.
"Oh, ya udah..",
"Kalo gitu Bibi masuk ke dalam dulu ya A'..", ucap Bibi pamit masuk ke dalam rumah.
Gua pun duduk sendirian dibangku teras rumah keluarga Echa. Hanya melamun memandangi rintikan hujan yang masih deras turun dari langit di luar sana, ke taman rumahnya itu. Tidak lama, Echa pun kembali keluar rumah, menghampiri Gua yang berada di terasnya ini. Gua lihat dia sudah berganti pakaian atasnya, sweater putih yang basah tadi sore sudah berganti dengan jaket berwarna pink, dan ditangannya sudah ada tas berukuran sedang yang Gua yakin isinya adalah pakaian miliknya.
"Yuk Za, langsung berangkat lagi..", ajaknya sambil mengenakan sandal model wanita.
"Okey..", jawab Gua seraya bangkit dari bangku.
Kami berdua hendak menuju mobil ketika Pak satpam membuka gerbang depannya, Gua dan Echa langsung melirik kearah gerbang, sama-sama ingin tau siapa yang bertamu malam-malam begini. Sebuah mobil model minibus memasuki halaman parkiran, lalu turunlah seorang lelaki yang memang sudah Gua rindukan dari malam takbiran.
"Assalamualaikum Sa..", ucapnya setelah berdiri beberapa meter dari hadapan Gua dan Echa.
"Walaikumsalam", ucap Echa dingin.
Gua tersenyum melihatnya, lalu bergegas menuju si Black, membuka pintunya dan mengambil hammer.
"Sa.. Gua kesini mau..", ucapannya terpotong.
Duuagh!! Bunyi sebuah tendangan tepat mengenai kepala bagian belakangnya.
Si Bajing*n langsung tersungkur ke depan dan jatuh tepat ditangga teras.
"Ezaa!", teriak Echa berlari menuruni anak tangga teras,
"Udaah stoopp!", ucapnya ketika sudah memeluk Gua.
"Wooiii Anj*ng!",
"Urusan kita belum selesai kemarin!"
"Bangun Lu J**ng!!", ucap Gua seraya mencoba melepaskan kaitan tangan Echa pada punggung Gua.
"Eza! udaaah..",
"Udah jangan berantem Za!",
"Lepasin itu palu Za, lepas!", teriak Echa sambil mencoba mengambil palu ditangan kanan Gua.
"Amanat Teh..", ucap Gua.
"Amanat ? Maksudnya ?", tanya Echa bingung.
"Amanat Ayah, aku harus remukin jarinya si Bajing*n yang lentik itu..",
"He he he he", jawab Gua lalu terkekeh.
Echa melotot kepada Gua. Lalu mencubit hidung Gua penuh kegemasan.
"Aaawww...",
"Sakiittt...", teriak Gua.
"Udah deh gak usah diperpanjang lagi!", ucapnya.
"Sa, dan Euu.. Bang.. ",
"Maaf, Gue kesini cuma mau minta maaf secara langsung ke Elsa..",
"Sumpah Gue enggak ada niat apapun selain minta maaf Bang..", ucap si Bajing*n Evan yang sudah kembali berdiri sambil memegangi kepala belakangnya yang terkena tendangan Gua tadi.
"Udah ya Van",
"Gue enggak mau lagi liat Lo",
"Gue enggak mau ketemu Lo, jadi sebaiknya Lo pergi dari sini sekarang!", ucap Echa tegas.
"Iya Sa, Gue enggak akan deketin Lu lagi, maafin Gue Sa", jawab si Bajing*n.
"Ya udah, sekarang pulang deh!", usir Echa.
"Maafin Gue sekali lagi ya Sa, Bang.. Gue pamit dulu...",
"Assalamualaikum..", ucapnya.
"Walaikumsalam".
Echa sudah melepaskan pelukkannya daritadi pada tubuh Gua. Kami berdua melihat Si Bajing*n berjalan menunduk kearah mobilnya. Ketika dia membuka pintu kemudi mobil, Gua berlari menghampirinya.
Gua raih rambut bagian atas kepalanya dari belakang dengan kasar, lalu Gua tarik dan membantingnya ke depan Kap mobilnya.
Dugh!
Gua remas keras wajahnya, posisi wajahnya miring, tertekan tangan kiri Gua ke bodi depan mobilnya. Lalu tangan Gua yang masih menggenggam palu pun Gua dekatkan ke arah hidungnya.
Lu semua tau kan palu ada beberapa jenisnya. Biasanya dua sisi palu itu ada bagian untuk memukul paku yang berbentuk pipih dan sisi lainnya berbentuk tajam dengan belahan ditengahnya, yang fungsinya untuk mencabut paku. Sekarang, bagian sisi tajam palu untuk mencabut paku itu Gua tempelkan, bukan, lebih tepatnya Gua masukkan sisi tajamnya itu ke lubang hidungnya.
Echa berlari lalu memeluk Gua dari belakang, berusaha menarik tubuh Gua sambil meminta Gua melepaskan si Bajing*n.
"J*ng! Denger!",
"Seharusnya Gua remukkin jari-jari lentik Lu itu!",
"Tapi rasanya lebih bagus Gua bongkar ini sumur penciuman Lu!", ucap Gua kepada si Bajing*n lalu menarik keatas palunya sehingga membuat si Bajing*n berteriak kesakitan.
"Aaaarrrghhh.. Amppunn Baaangng!! Aampuun!! Aawww..", teriaknya.
"Ezaaa!! Udah! Lepasin Zaaa!!", teriak Echa,
"PAK SATPAAAAMM!!",
"PAAAK.. TOLOONGIIIN!!", teriak Echa lagi kali ini kearah pos satpam.
Gua tersenyum lebar ketika kucuran darah pekat mengalir indah dari dalam hidungnya lalu membasahi sisi palu yang tajam itu. Nikmatnyaaa..
"AARRGGHH... SAKIITTT.. AAMPUUUNN!!! AARGH!!", teriak si Bajing*n meraung-raung kesakitan karena tarikan palu pada hidungnya semakin Gua tarik keatas lagi dan darah yang keluar pun semakin banyak.
Pak Satpam yang berlari menghampiri kami pun akhirnya berhasil menarik tubuh Gua dan Gua pun melepaskan siksaan pada si Bajing*n.
Gua lihat si Bajing*n menggelapar diatas kap mobilnya itu, dan memegangi hidungnya dengan kedua tangannya.
"Pak, tolong panggil Bibi, bilang sama Bibi bawain kotak p3k ya Pak.", ucap Echa kepada Pak satpam.
"Baik Non", Pak satpam pun berlari ke dalam rumah.
"Eza! Keterlaluan kamu!",
"Kamu tuh apa-apaan sih!",
"Mau bunuh dia!", ucap Echa dengan raut muka yang benar-benar marah kepada Gua.
Seumur-umur, Gua belum pernah melihatnya semarah itu, terlebih kepada Gua. Otak Gua yang masih dilingkupi darah yang mendidih karena amarah dan hati yang diliputi emosi tidak terima dengan ucapan Echa.
"Kamu belain dia ?", tanya Gua dengan nada dingin.
"Enggak Za!",
"Tapi kamu tuh keterlaluan!",
"Kamu mau bunuh orang ?!", jawabnya dengan penuh emosi.
"Kamu bilang aku keterlaluan ?",
"Lupa kamu apa yang udah dia perbuat ke wajah kamu ?", nada bicara Gua masih dingin.
Echa terdiam.
"LUPA ?!!",
"MASIH MAU BELAIN DIA SEKARANG ?! HAH ?!!"
"JAWAB!!!", habis sudah kesabaran Gua dan meluapkannya hingga berteriak kepada Echa.
Echa langsung tersentak hingga memundurkan wajahnya. Gua tidak memperdulikan Echa yang masih shock karena sikap Gua tadi. Gua berbalik badan melangkah menghampiri si Bajing*n yang masih kesakitan diatas kap mobilnya. Gua lempar keatas palu agar berbalik ke sisi pipihnya dan kembali menangkapnya.
Dagh!! Bunyi suara palu beradu dengan tulang dengkulnya.
"UAAHHH.. AARGGH!!", teriak si Bajing*n lagi.
"Mampus Lu J*ng!", ucap Gua sembari mengayunkan palu keatas dan mengarahkannya ke tulang kepalanya.
Settt
Tlaangg Palu terlempar ke sisi lain halaman parkir.
Gua menengok ke samping.
"Udah Mas, udah", ucap Pak satpam yang ternyata tadi merebut palu dari tangan Gua,
"Lihat itu sudah kesakitan, bahaya Mas",
"Ingat Mas ada hukum", lanjutnya.
Gua menghela napas pelan lalu tersenyum sembari menggelengkan kepala. Lalu sebuah pelukkan dari Echa menenangkan Gua.
Diubah oleh glitch.7 28-03-2017 21:54
JabLai cOY dan dany.agus memberi reputasi
3
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 

: