Kaskus

Story

bunbun.orenzAvatar border
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):


And I know
There's nothing I can say
To change that part

But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak

I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead



- Famous Last Words by MCR -


JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA


Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha


Quote:


Spoiler for Special Thanks:


***



Spoiler for From Me:


Versi PDF Thread Sebelumnya:

MyPI PDF

Credit thanks to Agan njum26



[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)

Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini


Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
drakenssAvatar border
snf0989Avatar border
ugalugalihAvatar border
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7Avatar border
glitch.7
#723
PART 11


Pikiran Gua berkecamuk, antara yakin dan tidak yakin. Apa yang Dia ucapkan tadi malah membebani pikiran Gua, alhasil Gua harus rela begadang, berguling ke kanan-kiri diatas karpet lantai kamar.

"A..", ucap Ayahanda dari atas ranjang kamar Gua.

"Eh, iya Yah ?", ucap Gua cukup terkejut, ternyata Beliau belum tidur.

"Belum tidur ?", tanyanya kali ini seraya bangun dari ranjang Gua.

Gua menengok ke kiri, dimana ranjang Gua berada. "Belum..", Jawab Gua.

Beliau tersenyum, kali ini dirinya benar-benar bangun dan berdiri di dekat tv kamar.

"Keluar A'..",
"Kita ngobrol di luar..", ucapnya setelah mengenakan kaos oblong putih.

...

Gua dan Ayahanda sekarang berada di teras depan kamar. Dua cangkir kopi hitam sudah tersaji diatas meja setelah sebelumnya Gua buat di dapur.

Prak...

"Cerutu A'..", ucap Beliau setelah melempar tempat cerutu kuba nya yang berbahan stainless berwarna silver.

Gua menggeleng sambil melirik kepada Beliau.

"Ada rokok ?", tanyanya lagi sembari memotong salah satu ujung cerutu dengan cigar cutter.

"Ada Yah..", ucap Gua ragu-ragu.

"Ya udah ambil sana..", perintahnya.

Gua pun mengambil sebungkus rokok semboro merah dari saku jaket yang tergantung di belakang pintu kamar. Lalu kembali ke teras, duduk berhadapan dengan Ayahanda.

"Obrolan santai antara laki-laki malam ini..",
"Bukan antara anak dan orangtua.."
"Bakar rokok mu..", ucapnya.

Gua ragu, benar-benar ragu. Kalau sampai Beliau menjebak, mampus sudah pipi Gua dihajar Beliau pasti. Gua hanya memutar-mutar bungkus rokok ditangan kanan sembari menundukkan kepala.

"Udah bakar A'..", ucapnya lagi sambil menghembuskan asap cerutu dari hidungnya.
"Santai aja, enggak apa-apa..", lanjutnya.

"Ii.. Iya Yah..", jawab Gua, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.

"Kenapa kamu enggak bisa tidur ?", tanyanya.

Gua menggeleng pelan.

"Soal wanita ?", tanyanya.

Gua menganggukkan kepala kali ini. Namun masih menunduk.

"Kamu tau satu fakta soal keluarga Sang Jendral ?", lanjutnya.

Gua mendongakkan kepala dengan kening yang berkerut. Cukup rasanya menunjukkan bahwa Gua tidak mengetahui fakta apapun dan bingung atas ucapan Beliau tadi.

"Gini..",
"Keluarga mereka..".

Beliau pun menceritakan sesuatu yang akhirnya membuat Gua terkejut. Rasa tidak percaya akan apa yang Ayahanda ceritakan juga membuat Gua berpikir, apa iya mereka se-konservatif itu pola pikirnya. Damn.

"Jadi, tanpa kejadian waktu itu pun memang sudah begitu niatnya A'...", ucap Beliau setelah bercerita.

"Terus, sekarang kita semua terima gitu aja ?", tanya Gua mulai ada rasa yang terusik dalam hati.

Ayahanda kembali tersenyum, lalu menghisap kuat cerutunya, hingga bara di ujung cerutu itu Gua lihat menyala terang.

"Fuuuuuhh....", hembusan asap cerutunya memenuhi langit teras,
"This is you're life...",
"Chose wisely Young-man...", ucapnya kemudian.

Gua menimang-nimang, apa iya Beliau akan tutup mata jika Gua memilih 'sisi kiri'. Akhirnya Gua pun membakar sebatang rokok yang sedari tadi terselip di jemari ini tanpa malu dan takut kepada laki-laki di hadapan Gua itu. Hembusan asap yang keluar dari mulut ini Gua arahkan ke bawah, ke kolong meja teras.

"Aku belum tau akan gimana kedepannya...", ucap Gua.

"Kebahagian masa depan kamu dengan 'nya' jelas di depan mata..", ucap Beliau lagi.

Gua tersentak kaget mendengar ucapannya lagi.

"Tapi..",
"Itu dari sudut pandang kami semua...", ucapnya,
"Bukan dari sudut pandang orang yang akan menjalaninya..", kali ini Beliau menunjuk Gua dengan cerutunya itu, lalu tersenyum.

Gua pun tersenyum, paham betul apa yang dimaksud Beliau.

"A..",
"Kamu tau..",
"Wanita dengan Laki-laki itu hampir mirip dalam satu hal..",

"Hal apa ?", tanya Gua.

"Perasaan dendam dan kebahagiaan..", jawabnya seraya mematikan cerutu yang masih tersisa setengah itu,
"Jika kamu buat mereka sakit hati, maka kamu akan menebusnya dengan sakit yang lebih mengenaskan...", ucapnya kali ini sambil berdiri,
"Dan jika kamu buat mereka bahagia sekali saja...",
"Maka mereka akan memberikan kamu kebahagiaan berkali-kali lipat..", tandasnya seraya masuk ke dalam kamar lagi.

Gua tertegun mendengar ucapan Beliau, menerawang jauh kepada beberapa hal. Lalu Gua tersenyum kecut, well... You're the best i ever had.


***


Gua terbangun karena gerakan di lengan kiri Gua semakin terasa. Gua mengerjapkan mata sebentar, lalu memicingkan mata kepada seorang lelaki berambut gondrong dengan kalung rantai dan bandulnya model peluru runcing tergantung di lehernya.

"Bangun udah siang..",
"Pinjam stnk motor mu A'..", ucapnya.

Dengan kepala yang sedikit pusing karena kurang tidur semalaman, Gua pun susah payah bangun dan terduduk sebentar. Lalu Gua mengucek kedua mata.

"Mau kemana Yah ?", tanya Gua melirik ke lelaki yang membangunkan Gua itu.

"Jalan-jalan..", jawabnya sambil mengenakan jaket berbahan jeans berwarna biru muda yang memutih dengan robekkan di beberapa bagian.

"Asyik... Kemana Yah ?"
"Sama siapa ?", tanya Gua lagi.

Beliau langsung membalikkan badan menatap Gua lekat-lekat.

"Cerewet kamu, kayak Emak-emak aja..", jawabnya.

Jiirr, nanya baik-baik malah kena semprot, cuplis juga nih Bokap.

Gua pun berdiri lalu berjalan kearah pintu, merogoh saku celana bagian belakang dan mengambil dompet. Gua keluarkan stnk si Kiddo dan memberikannya kepada Ayahanda. Lalu seperti transaksi tukar guling kendaraan, Beliau juga memberikan stnk si Black kepada Gua.

"Ada bensinnya gak motor mu ?", tanya Beliau sembari mengantongi stnk si Kiddo.

"Ada lah, penuh... Jarang dipake..", jawab Gua.

"Oh baguslah..",
"Ayah pulang lusa A, pinjam motornya dulu..", ucapnya sambil melangkah keluar kamar.

"Yah..",
"Mau kemana ? Pakai mobil aja kalau jauh..", tawar Gua.

"Enggak usah, Ayah mau touring sama teman SMA ke Bandung...", jawabnya lagi.

"Hoo..",
"Berapa motor Yah ?".

"Dua..", lalu Beliau berlalu ke depan teras.

Singiiiittt, dua motor touring ? Ah bener-bener dah! Bokap belom sarapan pasti. Hadeuh...

Gua melirik ke jam dinding di dalam kamar ini. Wah beneran Gua dibohongin. Ternyata baru jam 6 pagi. Hadeuh, mana enggak akan bisa tidur lagi kalo udah bangun gini. Gua pun langsung berjalan ke arah ruang makan ketika mendengar suara bising si Kiddo dinyalakan di halaman rumah.

Di meja makan sudah ada Tante Gua, anaknya dan Echa. Gua menyapa mereka santai lalu menarik kursi di sebelah Echa.

"Pagi cantik..", ucap Gua kepada Echa.

"Pagi ganteng..", jawabnya penuh senyuman.

Gua melihat Echa yang sedang mengoleskan selai cokelat ke satu sisi roti tawar. Mungkin karena Tante Gua melihat Gua yang memandangi Echa tanpa berkedip, beliau langsung tertawa pelan.

"Kenapa Te ?", tanya Gua melirik kepada Tante yang duduk di sebrang Gua dan Echa.

"Enggak apa-apa..",
"Seneng aja ngeliat pasangan pengantin baru udah mesra-mesraan pagi gini.. Hi hi hi hi...", jawab Tante Gua kembali tertawa pelan.

"Cocok gak Te ?", tanya Echa sambil tersipu malu.

"Ya cocoklah Cha..",
"Masa enggak cocok udah saling melengkapi gitu... Hi hi hi..", jawab Tante Gua lagi.

"Masa sih ?"
"Tapi Eza nya bimbang tau Te..",
"Gak berani ngelamar aku kayaknya...", ucap Echa melirik kearah Gua kali ini.

Gua mengerenyitkan kening membalas tatapannya. Lalu bola mata Gua putar keatas sambil menjulurkan lidah.

"Ah si Eza ma gitu dari dulu Cha..",
"Bimbang terus kalau ngadepin perempuan..",
"Keterlaluan kalo dia ngelepas kamu..", ucap Tante Gua.

"Kenapa emangnya Te kalo aku lepasin Echa ?", tanya Gua penasaran.

"Ya sekarang coba bawa kesini perempuan selain Echa...",
"Dari dulu kata Nenek, perempuan yang kamu bawa beda-beda terus, masa kamu gak bisa liat yang tulus di depan mata sih Za ?", jelas Tante Gua.

Yeee, Tante Gua belum kenal aja sama Mba Yu dan Nona Ukhti. Kurang tulus apa itu perempuan dua coba. Sayang Gua gak berani ngomong gara-gara ada Bidadari Surga di samping Gua.

"Tuh kan diem...",
"Udah buruan lamar aja Za perempuan disebelah kamu ini..", ucap Tante Gua lagi.

Gua menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Nenek setuju kalau kamu sama Echa Za..", ucap suara seroang ibu sepuh dari sisi kiri Gua.

Gua dan yang lainnya pun menengok ke sisi kiri, disana terlihat Nenek sedang berdiri di ambang pintu kamarnya sambil melipat sajadah.

"Nenek rasa cuma Echa yang bisa meredam kamu..",
"Karena Sherlin yang Nenek dukung pun akhirnya pupus juga kan ?", lanjut Nenek sambil tersenyum.

"Meredam ?", tanya Gua bingung.

"Meredam mata kamu yang suka jelalatan dan hasrat kamu yang suka goyah Za, ha ha ha ha...", malah Tante Gua yang menimpali.

Gua lihat Echa hanya menggeleng pelan sambil terkekeh. Gua pun langsung mengambil satu potong roti diatas piring dan melahapnya seraya bangkit dari kursi makan.

"Yeee si Eza malah mabur...",
"Terus gimana Za ?", ucap Tante Gua lagi.

Gua berhenti melangkahkan kaki, lalu berbalik menghadap ke mereka lagi.

"Kalau Echa siap makan rebus batu ama goreng aer sih hayu aja nikah besok juga.. Langsung ta lamar iki Cah Ayu...", jawab Gua sambil mengunyah roti.

Syuuutt...
Pluuk...


Potongan roti tepat sasaran mengenai kening Gua yang dilempar oleh Tante.

"Sembarangan! Ya kerja lah..",
"Kan kuliah sambil kerja bisa Za!",
"Enak aja anak orang mau diajak susah.. Dasar Wedus Gembel kamu!", sungut Tante Gua.

Akhirnya kami semua pun tertawa kecuali... Echa. Gua lihat Echa tersenyum kearah Gua. Entah apa maksud senyumannya itu. Gua pun kembali melangkah kearah kamar mandi di dekat dapur.

...

Jam 8 pagi Gua sedang duduk di sofa teras depan kamar, menghisap si racun, tentunya dengan kondisi yang sudah mandi dan ganteng maksimal.

"Ini Za...", ucap Echa sambil menaruh secangkir kopi hitam manis diatas meja.

"Eh ?",
"Makasih Teh...",
"Tau darimana aku suka ngopi hitam ?", tanya Gua.

"Dari Nenek..",
"Katanya kamu suka ngerokok ditemani secangkir kopi hitam..", jawabnya kemudian duduk di sofa sebrang Gua.

Gua memang sering ketahuan Nenek merokok sambil ngopi di teras ini, awalnya pastilah Gua kena ceramahnya, lalu mungkin karena bosan menceramahi Gua, akhirnya Nenek pun membiarkan Gua menghisap racun. Maaf ya Nek...

Gua sungkan sebenarnya merokok dihadapan Echa. Tapi ketika Gua akan mematikan rokok ke asbak kaca, Echa menggelengkan kepala.

"Gak apa-apa Za..",
"Sekali-kali aja ya, jangan keseringan..",
"Aku tau enggak mudah kok berhenti ngerokok, Papah juga kan begitu..",
"Tapi Papah berhenti ketika aku umur 3 tahun.. Karena aku yang minta Beliau untuk berhenti waktu itu...", ucapnya sambil tersenyum.

Diabetes Gua lama-lama dikasih senyumannya... Ugh.. Kecup sini bibirnya Teh, eh kening maksudnya.

"Besok mau berangkat jam berapa Teh ?", tanya Gua.

Echa tersenyum lagi dan lagi!, lalu menggelengkan kepala.

"Enggak tau ?",
"Ya udah pagi-pagi aja ya, nanti siang kita ke rumah kamu dulu, beres-beres pakaian kamu...", ucap Gua.

"Bukan...",
"Enggak usah ke Solo Za..", ucapnya.

"Loch ? Kenapa ?", tanya Gua heran.

"Tadi malam Mamah nelpon, katanya besok juga sudah pulang kesini lagi..", jawabnya.

"Laah.. Cuma sebentar di sana keluarga mu Teh ?".

"Iya, soalnya mereka khawatir sama aku disini katanya..",
"Padahal aku udah bilang lagi nginap di rumah Nenek dari malam takbiran..", jawabnya.

Bagi Echa, Nenek Gua adalah Neneknya juga, begitupun keluarganya. Jadi Mamah dan Papahnya mengerti jika Echa bilang sedang di rumah Nenek, pasti yang dimaksud adalah Nenek Gua.

"Hoo.. Gitu..",
"Terus kamu enggak mau jalan kemana gitu Teh ?", tanya Gua lagi setelah menghembuskan asap ke sisi lain.

"Eeummm...",
"Kemana yaa..",
"Ah! Ke atas yu Za ?", ucapnya seolah-olah menemukan ide brilian.

"Kapan ?".

"Hari ini aja, nanti berangkat sore, oke ? Oke ya, sip deal!", putusnya sendiri.

Gua hanya terkekeh lalu mengangkat satu jempol kepadanya seraya mengerlingkan mata. Lalu kami pun mengobrol berbagai hal, dari mulai kapan masuk kuliah lagi sampai putusnya hubungan Heri dengan dirinya. Echa yang memang tidak ada rasa sayang apalagi cinta dengan Heri memilih mengakhiri hubungan mereka di saat mereka baru kelas dua SMA. Mungkin, mungkin ya, setelah Echa menyatakan perasaannya dulu ke Gua dan ehm, Gua tolak. Dia pun memutuskan hubungannya dengan Heri, ditambah ternyata Heri kuliah di luar negeri sekarang. Lalu statusnya sekarang single, sama kan kayak Gua. Apakah ini tanda, bahwa Gua dan Dia bisaaaa... Bisa jadi kakak-adik lagi huahahahaha.

"Sekarang lagi deket sama siapa Teh ?", tanya Gua setelah meneguk sedikit kopi.

"Ada sama satu cowok..", jawabnya.

"Wiih.. Sama temen satu kampus kah ?".

"Bukan.. Beda kampus..".

"Oooh.. Gantengan mana sama aku Teh ?", tanya Gua lagi.

"Sama gantengnya sama kamu, Ha ha ha...", jawabnya sambil tertawa.

Wah kampret, siapa cowok yang gantengnya nyaingin Gua dimata Echa. Bahaya ini, bisa-bisanya tebar pesona ke Teteh tercinta Gua.

"Baik enggak orangnya ?", tanya Gua lagi.

"Baik kok..",
"Cuma...", ucapannya terhenti, lalu wajahnya tertunduk.

Gelagat gak baik nih, jangan-jangan cowok kampret nih yang deket sama Echa.

"Cuma kenapa Teh ?".

"Cuma aku enggak tau perasaan dia sama apa enggak dengan perasaan aku..", jawabnya.

Lah lah lah, makin kampret, jadi si Teteh beneran suka nih ama cowok itu. Wah gak bisa dibiarin ini ma. Tapi kan Gua bukan siapa-siapa ya, lagian Gua kok malah gak terima gini dia suka sama cowok lain.

"Teh.. Kamu suka sama cowok itu ?", tanya Gua makin penasaran.

Echa tersenyum dengan wajah yang masih tertunduk, lalu jemari lentiknya menyelipkan helaian rambut yang berada di sisi kanan wajahnya ke belakang telinganya.

"Suka",
"Banget...", jawabnya dengan wajah yang merona.

Anjriiitttt! Beneran ini te ? Doi suka pake banget ama tuh cowok! Ah elah, Gua kudu liat siapa tuh cowok yang bikin hati Teteh Gua jatuh kedalam perangkapnya.

"Serius ?".

"Serius..",
"Aku suka sama dia udah lama..", jawabnya lagi.

"Udah lama ?",
"Berarti temen lama kamu dong ?",
"Dari kapan suka sama tuh cowok ?", tanya Gua semakin menggebu-gebu.

"Iya, sahabat aku sendiri..",
"Dari kecil..", jawabnya kini menatap mata Gua lekat-lekat dan tersenyum lebar.

Duaarr!!!

Mayday, mayday, mayday, i'm hit and going down...
Siaaallll Gua kena rudal Echa!

Bibir Gua rasanya kelu, hati berdegup kencang, mata Gua menatap wajahnya dengan ekspresi bengong. Kenapa jadi gini. Semalam dia nyinggung soal nikahan yang jelas langsung membuat Gua terdiam dan tidak menjawab ucapannya, lalu Gua memilih keluar kamarnya dengan alasan untuk tidur. Sekarang ? Gencar amat serangannya!!! Gua mau ngelak apa lagi ini. Pusing Gua.

"Eeuu..",
"Sii.. Siapa cowok itu Teh ?", tanya Gua terbata.

Ini pertanyaan bodoh, jelas bodoh dan makin dalam aja Gua menginjak ranjau. Siap-siap menghindar lagi juga udah enggak mungkin.

"K-A-M-U", jawabnya dengan lantang dan penuh penekanan.

"He he he..",
"Canda aja kamu Teh..",
"Masa aku sih ha ha ha..", biasa lah membohongi diri sendiri Gua.

"Canda ?", ucapnya sambil mengerenyitkan kening,
"Za..",
"Kamu tau berapa lama aku mendam perasaan ini ke kamu ?",
"Sampai aku beraniin diri ngungkapin ini semua dan akhirnya kamu tolak...",
"Kamu pernah gak sih Za sekali aja mikirin perasaan aku ?! Sedikit aja Za..",
"Pernah ?", ucapnya dengan perasaan emosi.

Gua membuang muka lalu mematikan rokok. Gua mengusap wajah sekali, lalu mendengus pelan. Lalu Gua sandarkan kepala kebelakang, ke sofa. Satu tangan Gua kini menutupi wajah. Gua tidak bisa menjawab pertanyaan Echa, otak Gua tidak bisa memberikan sugesti yang baik untuk menjawab pertanyaanya.

"Za, kamu mau tau kenapa aku bisa bertahan selama ini ?", lanjutnya.

Gua masih dengan posisi yang sama dan terdiam.

"Karena perasaan cinta aku ke kamu yang begitu besar Za..".

Tiba-tiba ucapan Ayahanda terlintas di otak Gua, ucapan yang tadi pagi Beliau katakan sukses menyadarkan Gua.

"Buat dia bahagia, maka dia akan membuat kamu bahagia berkali-kali lipat".
Diubah oleh glitch.7 27-03-2017 22:06
dany.agus
fatqurr
JabLai cOY
JabLai cOY dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.