- Beranda
- Stories from the Heart
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
...
TS
fandi.bin.stres
Ekspedisi Kota Misteri Berdarah
Hallo Agan Sista semuanya...
Spoiler for TOP THREAD:
Alhmadulillah...
Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Akhirnya ini thread jadi Top Thread juga...
Terima kasih kepada Om Momod, Agan Sista Kaskuser semuanya...
saya terharu berat
: ( 

Spoiler for first:
Setelah sekian lama menjadi member
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
akhirnya saya mendapat inspirasi untuk membuat sebuah cerita misteri wal horor
Spoiler for second:
Threat misteri wal horor yang gwe buat kali ini tentang ekspedisi kota misteri yang sudah lama hilang ditelan bumi namun kembali digali oleh beberapa orang


Spoiler for third:
Tanpa banyak cas cis cus
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Silahkan dinikmati cerita saya nie
Spoiler for fourth:
Dalam cerita saya ini terkandung unsur BB +20rate atau Mengandung Materi Berbau Dewasa
Spoiler for filler:
Ini sih namanya bagian filler, bukan side story atau ntah apa sejenisnya...
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
tujuannya simpel, untuk menutupi mata rantai cerita yang hilang antara satu part dengan part lainnya maupun didalam part itu sendiri...
No Chit Chat anymore, just enjoy it Guys...
Filler Section 1
Filler Section 2
Filler Section 3
After Ending
Spoiler for last:
WARNING!!!
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Cerita saya ini memiliki durasi update sekitar lebih 14 hari saja atau 2 minggu lebih untuk menghindari "kentang" berterbangan dimana mana
Pembaca yang baik budiman itu dapat memberi komeng ke TS


Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya




Pembaca yang dimuliakan derajatnya itu sekiranya


Jika agan sista berkenan untuk mendapat pahala lebih, mohon TS diberi




Tapi tolong dengan sangat TS jangan


Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan



Sakit gan sista rasanya

Tapi lebih parah rasa sakitnya jumpa sama mantan

Diubah oleh fandi.bin.stres 14-05-2017 04:13
exc@libur dan 8 lainnya memberi reputasi
9
137.5K
Kutip
676
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
fandi.bin.stres
#53
Part 3 - bertemu langsung dengan team arkeolog
Part 3 - Bertemu langsung dengan team arkeolog
Quote:
“TIDDDAAAKKKKK!!!”. “Bang, kenapa Bang? Ada apa Bang? Ngucap Bang” tiba tiba suara Mirna terdengar ditelingaku. Aku pun terbangun membuka mataku perlahan. “Bang ngucap Bang, Abang mimpi buruk itu”. “Mirnaaaaa” panggilku sambil memeluknya kuat. Wajahnya begitu kaget penuh tanda tanya terheran heran melihatku. “Tadi Abang lihat kalian semua terkapar tergeltak terluka berat. Wajah kalian penuh darah. Tubuh kalian penuh luka. Semua orang yang ada di kampung kita ini!”. “Ih, Abang nie buat takut Adik aja, Cuma mimpi itu Bang. Masa sampai nangis gitu” balasnya dengan nada tertawa berusaha menghiburku menyadarkanku bahwa itu semua hanyalah bung bunga tidur belaka.
“Cerita sama Adek dulu Bang, mimpi Abang seperti apa? Dingin kali tangan Abang ini” tanya dia sembari memegang tanganku erat. “Gini Dek, tadi dalam mimpi Abang, kita semua yang ada di kampung kita ini luka luka hebat. Bahkan ada yang sudah tewas. Abang berjalan sendiri di tengah jalanan tapi bukan di kampung kita ini. Abang seperti berada di sebuah kota tua jaman Belanda. Tapi, rumah rumahnya sudah hancur, sebagian rubuh dengan tanah, sebagian rusak berat, sebagian terbakar hebat, sebagian kecil masih utuh. Lalu tidak berapa lama Abang melihat kalian tergeletak ditanah. Abang coba hampiri, namun sebuah cahaya dari belakang mengagetkan Abang” aku berhenti sejenak menghela nafas. “Terus Bang?” “Dari cahaya itu Abang lihat sebuah bola hitam hitam dengan cahaya disekelilingnya. Bola tersebut hitam pekat, namun cahaya disekitarnya merah bercampur orange seperti gerhana matahari. Benar benar mengerikan. Lalu bola cahaya hitam itu terbang ke arah kalian semua, Abang pun berlari juga. Tapi tak lama kemudian, bola cahaya hitam itu meledak dengan amat dhasyat, luar biasa sekali sampai Abang terlempar karenanya” nafasku mulai teratur namun aku masih shock.
“Udah Bang, nie minum teh manis dari Emak. Udah dingin ini” sembari memberikan teh manis yang sudah dingin kemulutku. “Sepertinya Adek tahu kenapa Abang dapat mimpi seperti itu” balasnya lagi sambil tersenyum. “Kenapa Dek?”mataku melotot. “Makanya kurangin nonton anime tuh si Naruto, tuh bola cahayanya kan mirip ama jurus mautnya Naruto kalau udah berubah jadi rubah ekor sembilan” dia tertawa keras meledekku. Spontan saja teh manis tadi tersembur kencang membuatku batuk. “Eh, nie anak minta digampar yach!” aku terbatuk batuk pelan. “Mirip sih mirip tapi gak segitunya kaleee” balasku sembari memukul pantatnya. “Sakit Bang! Belom jadi Istri Abang udah kejam kali ama Adek”. “Biarin, masa ngejek Abang habis kena mimpi buruk”. Ku ingat ingat memang mirip sih sama bola Biju-dama punya Kurama, si rubah ekor sembilan Naruto, tapi ach sudahlah mungkin Mirna benar, ini mungkin gegara tuh anime. Memang bukan hanya diriku yang suka dengan anime ini, tapi Mirna juga. Itu semua gara gara jalinan asmara kami dahulu kala.
“Cerita sama Adek dulu Bang, mimpi Abang seperti apa? Dingin kali tangan Abang ini” tanya dia sembari memegang tanganku erat. “Gini Dek, tadi dalam mimpi Abang, kita semua yang ada di kampung kita ini luka luka hebat. Bahkan ada yang sudah tewas. Abang berjalan sendiri di tengah jalanan tapi bukan di kampung kita ini. Abang seperti berada di sebuah kota tua jaman Belanda. Tapi, rumah rumahnya sudah hancur, sebagian rubuh dengan tanah, sebagian rusak berat, sebagian terbakar hebat, sebagian kecil masih utuh. Lalu tidak berapa lama Abang melihat kalian tergeletak ditanah. Abang coba hampiri, namun sebuah cahaya dari belakang mengagetkan Abang” aku berhenti sejenak menghela nafas. “Terus Bang?” “Dari cahaya itu Abang lihat sebuah bola hitam hitam dengan cahaya disekelilingnya. Bola tersebut hitam pekat, namun cahaya disekitarnya merah bercampur orange seperti gerhana matahari. Benar benar mengerikan. Lalu bola cahaya hitam itu terbang ke arah kalian semua, Abang pun berlari juga. Tapi tak lama kemudian, bola cahaya hitam itu meledak dengan amat dhasyat, luar biasa sekali sampai Abang terlempar karenanya” nafasku mulai teratur namun aku masih shock.
“Udah Bang, nie minum teh manis dari Emak. Udah dingin ini” sembari memberikan teh manis yang sudah dingin kemulutku. “Sepertinya Adek tahu kenapa Abang dapat mimpi seperti itu” balasnya lagi sambil tersenyum. “Kenapa Dek?”mataku melotot. “Makanya kurangin nonton anime tuh si Naruto, tuh bola cahayanya kan mirip ama jurus mautnya Naruto kalau udah berubah jadi rubah ekor sembilan” dia tertawa keras meledekku. Spontan saja teh manis tadi tersembur kencang membuatku batuk. “Eh, nie anak minta digampar yach!” aku terbatuk batuk pelan. “Mirip sih mirip tapi gak segitunya kaleee” balasku sembari memukul pantatnya. “Sakit Bang! Belom jadi Istri Abang udah kejam kali ama Adek”. “Biarin, masa ngejek Abang habis kena mimpi buruk”. Ku ingat ingat memang mirip sih sama bola Biju-dama punya Kurama, si rubah ekor sembilan Naruto, tapi ach sudahlah mungkin Mirna benar, ini mungkin gegara tuh anime. Memang bukan hanya diriku yang suka dengan anime ini, tapi Mirna juga. Itu semua gara gara jalinan asmara kami dahulu kala.
--------------------
Quote:
Sore itu, sekitar pukul setengah empat sore aku dipanggil ke rumah Pak Kepling untuk bertemu dengan team arkeolog tersebut. Sesampainya aku di rumah Pak Kepling sudah hadir Pak Tejo, selaku ketua team dengan 6 rekannya, termasuk 3 orang pria bule. Aku mengambil posisi duduk dekat pintu. Namun, tak berapa lama kemudian masuk juga 3 “bocah gundul” sahabatku dengan 3 pemuda lainnya yang terhitung masih temanku juga walaupun tidak akrab. “Sudah hadir semuanya ya. Kita langsung saja” pembukaan oleh Pak Kepling. “Jadi maksud saya mengundang adek adek smua disini agar bisa berkenalan dengan team arkeolog itu. Mungkin Dek Aldi sudah berkenalan dengan Ibu Ibu arkeolog itu”. Nih orang gak tahu kalau sedetik pun saya belum sempat ngobrol sama Ibu Ibu arkeolog itu meskipun mereka sudah memutuskan rumahku sebagai home stay mereka.
“Sepertinya saya lebih enak menggunakan bahasa awam saja ya Pak Kades. Jadi, perkenalkan, nama saya Sutejo Wirahadi Kusuma, saya seorang dosen ilmu sejarah di Universitas Gajah Mada dan juga Wakil Rektor 2 UGM. Disebelah kanan pertama saya yang pertama ini Satriadi Mandala, dosen ilmu sejarah di Universitas Brawijaya. Selanjutnya Tarmizi Djalil, dosen ilmu antroplogi atau ilmu hubungan manusia di Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya Usman Taha, dosen geologi atau ilmu bumi di Universitas Gajah Mada. Berikutnya adalah Jack McVerne, peneliti USGS atau badan meterologi geofisika Amerika. Kemudian Nathan Flint, arkeolog dari Washington University, Amerika Serikat dan terakhir adalah Doughlas Brent, arkeolog dari UCL, University College London, Inggris. Bapak Bapak ini semua adalah orang orang yang ahli dibidangnya. Termasuk 3 Bapak Mister dari dari luar negeri ini. Mereka ikut misi ini dikarenakan berkat adanya foto dari satelit mereka maka kani dapat melakukan misi ekspedisi ini. Mungkin dengan adanya misi ini kita dapat menemukan kembali sebuah peradaban yang pernah hilang dari catatan sejarah” demikian Pak Tejo mengakhiri kata katanya yang disambut senyuman cerah.
“Sir, i wanna know who is here can speaking English well enough”(Pak, aku ingin tahu siapa disini yang bisa berbahasa Inggris dengan baik?) tanya Jak McVerne kepada Pak Tejo. Sementara itu Pak Kepling, sahabatku dan temanku hanya bisa bengong ketika mendengarnya. “Me, Sir” jawabku langsung tanpa penuh ragu. “Oh, you are. I will need you later son. I will show you some satellite pictures”(Oh, dirimu. Aku akan butuh dirimu nanti. Aku akan menunjukkanmu beberapa gambar satelit) sambut si pria kepala botak ini. Aku hanya menganguk saja sambil tersenyum tapi didalam hatiku berkata, enak aja manggil son, emang aku anakmu apa. “Eh Di, tuh bule ngomong apa?” tanya Karto. “Dia tanya apa si Aldi masih jomblo apa gak soalnya dia punya anak cewek di Amerika sana” Pak Kepling langsung menyambut. Aku, Pak Tejo, Pak Satriadi, Pak Tarmizi dan Pak Usman tertawa keras mendengarnya. “Ah yang benar Pak? Masa sih Aldi segitu hebatnya?” sambung Soriman, teman kami dengan wajah bengong. “Gak Sor, Bapak itu tanya yang laen. Gak usah percaya kata Pak Kepling, palingan Pak Kepling Cuma bisa yes no yes no aja” sambungku tertawa.
Acara masih berlanjut dengan permaparan kecil mengenai profesi mereka masing masing. Termasuk para bule bule itu. Bagiku hal ini bukan sesuatu yang baru karena aku sudah sering membacanya lewat internet. Tapi bagi mereka, warga kampungku, merupakan sesuatu yang aneh bagi mereka. Maklumlah, hanya sekitar selusinan orang saja yang berani keluar dari kampung melanjutkan pendidikan. Dikarenakan faktor ekonomi juga sebenarnya. Tapi, umumnya bagi kami disini hasil bumi sudah mencukupi bahkan berlebih lebih. Mungkin jika di cek setiap kepala keluarga memiliki tabungan puluhan juta bahkan ratusan di bank BRI. Bahkan beberapa warga kampungku sudah ada yang membeli mobil, perabot mewah bahkan peralatan elektronik mewah seperti home theater. Ditambah lagi dengan sikap cuek anak anak disini yang kurang mau peduli dengan hal hal seperti itu. Maklumin saja, sudah banyak tertular virus sinetron tak jelas dari TV.
“Sepertinya saya lebih enak menggunakan bahasa awam saja ya Pak Kades. Jadi, perkenalkan, nama saya Sutejo Wirahadi Kusuma, saya seorang dosen ilmu sejarah di Universitas Gajah Mada dan juga Wakil Rektor 2 UGM. Disebelah kanan pertama saya yang pertama ini Satriadi Mandala, dosen ilmu sejarah di Universitas Brawijaya. Selanjutnya Tarmizi Djalil, dosen ilmu antroplogi atau ilmu hubungan manusia di Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya Usman Taha, dosen geologi atau ilmu bumi di Universitas Gajah Mada. Berikutnya adalah Jack McVerne, peneliti USGS atau badan meterologi geofisika Amerika. Kemudian Nathan Flint, arkeolog dari Washington University, Amerika Serikat dan terakhir adalah Doughlas Brent, arkeolog dari UCL, University College London, Inggris. Bapak Bapak ini semua adalah orang orang yang ahli dibidangnya. Termasuk 3 Bapak Mister dari dari luar negeri ini. Mereka ikut misi ini dikarenakan berkat adanya foto dari satelit mereka maka kani dapat melakukan misi ekspedisi ini. Mungkin dengan adanya misi ini kita dapat menemukan kembali sebuah peradaban yang pernah hilang dari catatan sejarah” demikian Pak Tejo mengakhiri kata katanya yang disambut senyuman cerah.
“Sir, i wanna know who is here can speaking English well enough”(Pak, aku ingin tahu siapa disini yang bisa berbahasa Inggris dengan baik?) tanya Jak McVerne kepada Pak Tejo. Sementara itu Pak Kepling, sahabatku dan temanku hanya bisa bengong ketika mendengarnya. “Me, Sir” jawabku langsung tanpa penuh ragu. “Oh, you are. I will need you later son. I will show you some satellite pictures”(Oh, dirimu. Aku akan butuh dirimu nanti. Aku akan menunjukkanmu beberapa gambar satelit) sambut si pria kepala botak ini. Aku hanya menganguk saja sambil tersenyum tapi didalam hatiku berkata, enak aja manggil son, emang aku anakmu apa. “Eh Di, tuh bule ngomong apa?” tanya Karto. “Dia tanya apa si Aldi masih jomblo apa gak soalnya dia punya anak cewek di Amerika sana” Pak Kepling langsung menyambut. Aku, Pak Tejo, Pak Satriadi, Pak Tarmizi dan Pak Usman tertawa keras mendengarnya. “Ah yang benar Pak? Masa sih Aldi segitu hebatnya?” sambung Soriman, teman kami dengan wajah bengong. “Gak Sor, Bapak itu tanya yang laen. Gak usah percaya kata Pak Kepling, palingan Pak Kepling Cuma bisa yes no yes no aja” sambungku tertawa.
Acara masih berlanjut dengan permaparan kecil mengenai profesi mereka masing masing. Termasuk para bule bule itu. Bagiku hal ini bukan sesuatu yang baru karena aku sudah sering membacanya lewat internet. Tapi bagi mereka, warga kampungku, merupakan sesuatu yang aneh bagi mereka. Maklumlah, hanya sekitar selusinan orang saja yang berani keluar dari kampung melanjutkan pendidikan. Dikarenakan faktor ekonomi juga sebenarnya. Tapi, umumnya bagi kami disini hasil bumi sudah mencukupi bahkan berlebih lebih. Mungkin jika di cek setiap kepala keluarga memiliki tabungan puluhan juta bahkan ratusan di bank BRI. Bahkan beberapa warga kampungku sudah ada yang membeli mobil, perabot mewah bahkan peralatan elektronik mewah seperti home theater. Ditambah lagi dengan sikap cuek anak anak disini yang kurang mau peduli dengan hal hal seperti itu. Maklumin saja, sudah banyak tertular virus sinetron tak jelas dari TV.
--------------------
***SELURUH PERCAKAPAN BAHASA INGGRIS DIBAWAH INI TIDAK DIMUAT, HANYA BAHASA INDONESIA NYA SAJA MENGINGAT RULES/PERATURAN KASKUS-team editing saya, para bidadari cantik yang telah menjadi sahabat saya

***Quote:
Setelah acara pemaparan dan perkenalan selesai, Sir Jack memanggilku sembari menunjuk ke arah mobil. Aku pun menyusulnya. Perlahan lahan pintu mobil dibukanya. Aku pun masih terdiam belum bertanya apapun. Pertama dia menyiapkan sebuah piringan satelit kecil dengan kabel panjang menjuntai. Tampak dipiringan satelit tersebut tertulis USGS(UNITED SATES GEOLOGICAL SURVEY), lambang negara Amerika, NASA dan lainnya. Lalu dia mengeluarkan laptop dengan lambang apel miliknya dan menyalakannya. Lalu dia menghubungkan kabel kabel piringan satelitnya dengan sebuah inverter dan modem lalu menghubungkan kabel USB dari modem tersebut ke laptopnya.
Setelah layar menyala dan koneksi ok, dia Log-in terlebih dahulu untuk mengakses fotonya. “Ini foto foto yang saya akan tunjukkan ke kamu” pria botak ini memulai pembicaraan. “Pastinya kamu sudah mengenal dengan baik daerah di sini?”. “Iya benar Pak, ini adalah posisi kita sekarang” tunjuk tanganku ke arah atap rumah yang berdekatan digambar tersebut. Memang ada tanda penunjuk lokasi menandakan posisi dia dan bukan hanya posisinya melainkan ada 14 titik dengan warna berbeda. “Ini 6 titik yang warnanya sama adalah mobil kami. Lalu ini adalah beberapa peralatan penanda yang ada didalam mobil mobil ini” sambungnya. “Ini jalan utama menuju ke bukit” jariku menunjuk sebuah jalan berliku liku di tengah sawah digambar tersebut.
Gambar pun berganti dengan sebuah gambar yang luar biasa. Tampak banyak garis garis di gambar tersebut. Aku yakin itu adalah citra satelit kota misteri tersebut.”Apakah ini sasaran kita Pak?”. “Benar sekali. Garis garis tipis ini kami curigai sebagai bekas bekas atau sisa sisa bangunan tertentu. Sedangkan garis garis tebal ini kami curigai sebagai sisa sisa jalan raya. Lalu kotak kotak ini mungkin saja bekas bangunan rumah” tunjuk tangannya ke arah layar laptopnya. Memang tampak di layar laptopnya gambaran dari bekas sebuah kota. Aku langsung mengetahuinya karena sudah terbiasa melihatnya. Tapi, anehnya bagaimana mungkin itu bisa ada di bukit tersebut. “Apakah pernah ada seseorang di kampung ini pernah menemukan tembikar, gerabah ataupun peningglan sejarah? Mungkin saja seperti kapak purba?”. “Spertinya belum pernah Pak karena kalaupun sudah yang menemukannya pasti akan tersia ke seluruh kampung bahkan sampai ke kota” sahutku semangat.
Gambar terus kami perbesar menuju arah kampung dengan mengikuti jalan keluar dari kampung menuju bukit. Tampak petak petak sawah orang kampungku dari atas. Benar benar cantik, warnanya hijau sekali karena belum memasuki masa panen. Seperti karpet besar yang dibentangkan. “Berarti kita akan mulai dari titik ini lalu menyusuri jalan ini bukan?” tanya dia sembari membuka GPS locator dari kotaknya. “Iya Pak, kita mulai dari kampung ini lalu menggunakan jalan ini”. “Oke, saya sudah menandai koordinat kordinatnya lalu aka saya simpan di GPS locator ini” timpalnya seraya tangannya sibuk berganti program antara citra satelit maupun GPS program. Dan rasa penasaranku mengenai kira kira seperti apa kota misteri itu membuatku ingin menganalisa citra satelit itu mendorongku untuk menyalin gambar tersebut ke HP ku. Dengan berani ku tanya, “Pak, boleh saya salin gambarnya ke laptop saya karena saya akan menganalisanya juga. Mungkin saya bisa menemukan sesuatu yang dapat menjadi penanda kita berangkat besok hari”. “Oke, berikan HP mu”. Dan gambar pun tersalin ke HP 4G Android ku merek Samsung ini.
Setelah layar menyala dan koneksi ok, dia Log-in terlebih dahulu untuk mengakses fotonya. “Ini foto foto yang saya akan tunjukkan ke kamu” pria botak ini memulai pembicaraan. “Pastinya kamu sudah mengenal dengan baik daerah di sini?”. “Iya benar Pak, ini adalah posisi kita sekarang” tunjuk tanganku ke arah atap rumah yang berdekatan digambar tersebut. Memang ada tanda penunjuk lokasi menandakan posisi dia dan bukan hanya posisinya melainkan ada 14 titik dengan warna berbeda. “Ini 6 titik yang warnanya sama adalah mobil kami. Lalu ini adalah beberapa peralatan penanda yang ada didalam mobil mobil ini” sambungnya. “Ini jalan utama menuju ke bukit” jariku menunjuk sebuah jalan berliku liku di tengah sawah digambar tersebut.
Gambar pun berganti dengan sebuah gambar yang luar biasa. Tampak banyak garis garis di gambar tersebut. Aku yakin itu adalah citra satelit kota misteri tersebut.”Apakah ini sasaran kita Pak?”. “Benar sekali. Garis garis tipis ini kami curigai sebagai bekas bekas atau sisa sisa bangunan tertentu. Sedangkan garis garis tebal ini kami curigai sebagai sisa sisa jalan raya. Lalu kotak kotak ini mungkin saja bekas bangunan rumah” tunjuk tangannya ke arah layar laptopnya. Memang tampak di layar laptopnya gambaran dari bekas sebuah kota. Aku langsung mengetahuinya karena sudah terbiasa melihatnya. Tapi, anehnya bagaimana mungkin itu bisa ada di bukit tersebut. “Apakah pernah ada seseorang di kampung ini pernah menemukan tembikar, gerabah ataupun peningglan sejarah? Mungkin saja seperti kapak purba?”. “Spertinya belum pernah Pak karena kalaupun sudah yang menemukannya pasti akan tersia ke seluruh kampung bahkan sampai ke kota” sahutku semangat.
Gambar terus kami perbesar menuju arah kampung dengan mengikuti jalan keluar dari kampung menuju bukit. Tampak petak petak sawah orang kampungku dari atas. Benar benar cantik, warnanya hijau sekali karena belum memasuki masa panen. Seperti karpet besar yang dibentangkan. “Berarti kita akan mulai dari titik ini lalu menyusuri jalan ini bukan?” tanya dia sembari membuka GPS locator dari kotaknya. “Iya Pak, kita mulai dari kampung ini lalu menggunakan jalan ini”. “Oke, saya sudah menandai koordinat kordinatnya lalu aka saya simpan di GPS locator ini” timpalnya seraya tangannya sibuk berganti program antara citra satelit maupun GPS program. Dan rasa penasaranku mengenai kira kira seperti apa kota misteri itu membuatku ingin menganalisa citra satelit itu mendorongku untuk menyalin gambar tersebut ke HP ku. Dengan berani ku tanya, “Pak, boleh saya salin gambarnya ke laptop saya karena saya akan menganalisanya juga. Mungkin saya bisa menemukan sesuatu yang dapat menjadi penanda kita berangkat besok hari”. “Oke, berikan HP mu”. Dan gambar pun tersalin ke HP 4G Android ku merek Samsung ini.
--------------------
Quote:
Sesampainya di rumah langsung aku buka gambar gambar tersebut di laptopku, totalnya ada 4 gambar. Kuperhatikan bentuk kota itu perlahan lahan. Kusatukan semua gambar itu. “Astaga! Bagian tengah kota itu sepertinya hancur membentuk sebuah lubang besar! Apakah benar mimpiku itu merupakan kenyataan? Apakah benar kota itu hancur karena ledakan? Memang tampak dari gambar citra satelit tersebut sisa sisa bangunan yang masih utuh membentuk garis garis lurus berada di luar lubang tersebut. Dan bekas lubang tersebut seperti ada ledakan hebat dari dalamnya. Ledakan itu seperti menghancurkan tengah kota tersebut.
Tiba tiba angin berhembus kencang disekelilingku. Perasaan aneh ini datang kembali. Bulu kudukku pun merinding hebat. Eits, apakah dia datang lagi kemari? Janganlah, cukup sekali itu saja, gumamku dalam hati. Kututup laptopku dan langsung bergegas ke arah pintu depan melewati ruang depan diamana para Ibu Ibu arkeolog tersebut disana sedang mengobrol dengan Ibuku dan tetanggaku. Aku memilih hanya menyapa mereka saja. Belum genap ku langkahkan kakiku ke pintu keluar, aku sadar rokokku dan mancisku tertinggal. Lumayan pikirku karena baru kubeli tadi di warung sewaktu pulang.
Langsung kakiku kuputar balikkan arahnya menuju kamar kembali. Sampai di kamar kulihat rokokku dan mancisku masih adem ayem di atas tempat tidur. Langsung ku ambil, masukkan saku dan beranjak kembali. Tiba tiba... “Aldi...” sebuah suara wanita memanggilku dari samping kiriku diarah lemariku. Gila! Siapa ini, gak mungkin Mirna karena suaranya lebih halus dari Mirna. Dan dia pun sudah pulang dari tadi siang untuk membantu Ibunya. Tanpa cas cis cus, kukuatkan iman, kupalingkan wajahku ke sana. Tapi, tidak ada siapa siapa disana. Ach, apakah ini hanya persaaanku saja? Atau aku butuh istirahat?
Tiba tiba angin berhembus kencang disekelilingku. Perasaan aneh ini datang kembali. Bulu kudukku pun merinding hebat. Eits, apakah dia datang lagi kemari? Janganlah, cukup sekali itu saja, gumamku dalam hati. Kututup laptopku dan langsung bergegas ke arah pintu depan melewati ruang depan diamana para Ibu Ibu arkeolog tersebut disana sedang mengobrol dengan Ibuku dan tetanggaku. Aku memilih hanya menyapa mereka saja. Belum genap ku langkahkan kakiku ke pintu keluar, aku sadar rokokku dan mancisku tertinggal. Lumayan pikirku karena baru kubeli tadi di warung sewaktu pulang.
Langsung kakiku kuputar balikkan arahnya menuju kamar kembali. Sampai di kamar kulihat rokokku dan mancisku masih adem ayem di atas tempat tidur. Langsung ku ambil, masukkan saku dan beranjak kembali. Tiba tiba... “Aldi...” sebuah suara wanita memanggilku dari samping kiriku diarah lemariku. Gila! Siapa ini, gak mungkin Mirna karena suaranya lebih halus dari Mirna. Dan dia pun sudah pulang dari tadi siang untuk membantu Ibunya. Tanpa cas cis cus, kukuatkan iman, kupalingkan wajahku ke sana. Tapi, tidak ada siapa siapa disana. Ach, apakah ini hanya persaaanku saja? Atau aku butuh istirahat?
erman123 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas