Terkejut
Quote:
“yang aku bimbel dulu ya, kamu jangan aneh-aneh yang, awas da Wina tuh godain kamu terus”, kata Rathi
“iya yang, kamu hati-hati”, kataku
“dadah”, Rathi pun dengan cepat mengecup pipiku lalu berlari ke luar gerbang
“enak ya punya cewe perhatian kaya gitu”, kata teh Suci yang mengagetkanku
“eh teh”, kataku gugup
“kecil-kecil udah cium-cium nih”, katanya sambil mencubit pipiku
“aduh teh sakit dah, ampun”, kataku
“baris sana udah pada ngumpul tuh kelas 1 nya”, katanya
Akupun berlari kearah lapangan dan mengatur barisan kelas 1.
“hei”, sapa seseorang
“apa Win?”, kataku agak ketus
“jutek banget sih lu”, katanya
“bodo”, kataku
Kelas 1 lalu di beri pengarahan oleh pak Wan. Kami di beri pengarahan oleh kelas 3, untuk kerjasama yang lebih baik kamipun di bagi kelompok dan aku berpasangan dengan Wina.
“kalian ber 6 gimana caranya gerakan dasar harus di perbaiki, tentuin cara kalian sendiri, nanti setelah kalian di gabung harus ada perubahan”, kata teh Suci lalu pergi meninggalkan kami
“ayo mulai gerakan dasarnya”, kata Wina
“Siapa yang mau ngomando?”, tanya seseorang
“Teo, komando”, kata Wina
“lah napa harus gua”, kataku
“suara lu itu lantang, 1 sekolah juga bisa denger kalo lu teriak”, jawabnya sambil tertawa
“sue lu, ogah ah”, kataku
“udah lah Teo ayo, lu aja jadi komandan”, kata temanku
“tuh kan udah lu aja”, kata Wina
“iye bawel”, kataku
Kamipun memulai latihan perkelompok. Sekitar 3 menit latihan kamipun mengambil rehat sebentar. Ketika yang lain membeli minum aku duduk di DPR.
“sendirian aja lu”, kata Wina
“lu ga sama yang laen? Apa hobi lu gangguin gua Win?”, kataku
“parah banget lu sama gua”, katanya yang duduk di sampingku
Aku pun bersandar di pohon.
“kayanya lu suka banget nongkrong di sini”, kata Wina
Aku tidak terlalu menanggapinya
“sesayang apa sih lu sama Rathi?”, tanya Wina
“kenapa emang?”, kataku
“gua penasaran aja lu sampe milih Rathi daripada Luna”, katanya
“hmmmm”, gumamku
“jawab napa sih kalo di tanya”, kata Wina
“lu ga perlu tau Win”, kataku
“kenapa emang?”, tanyanya
“bukan buat publik”, kataku
“berapa lama sih kita udah kenal?”, lanjutnya
“baru beberapa bulan semenjak di ekskul aja sih”, kataku
“lu anggep gua apa?”, katanya
“napa dah lu Win”, kataku
“ga apa-apa pengen tau aja”, kata Wina
“temen”, kataku
“lu kemana-mana sama Rathi, terus lu lebih milih Rathi, sekarang lu anggep Luna itu siapa?”, katanya
Akupu melirik tajam padanya dan tidak menjawab pertanyaannya
“jawab Teo”,lanjutnya
“penting ya Win gua cerita ke lu, kan gua udah bilang bukan buat publik”, kataku kesal
“apa Luna jadi orang yang ga penting lagi buat lu? Abis seneng-seneng terus lu buang gitu aja?”, kata Wina menatapku sinis
Akupun langsung bangkit dan pergi meninggalkan Wina.
“Teo tunggu!”. Kata Wina agak berteriak
Akupun menghentikan langkahku.
“apa lagi?!”, akupun meninggikan suaraku
Wina langsung diam
“kalo lu ga tau apa-apa tentang gua mendingan lu diem Win”, kataku
Terlihat yang lain sudah kembali, akupun pergi ke dalam sekolah, lalu ke kelas dan duduk di sana, menenangkan diri. Ku hela nafasku sedalam mungkin, mencoba mengembalikan moodku yang sudah rusak karena pertanyaan Wina. Sekitar 10 menit aku kembali ke lapangan dari kejauhan bisa ku lihat teh Suci menatapku dengan tajam, ya aku pasti di marahi habis-habisan. Akupun kembali ke barisan.
“dari mana dek?”, tanya teh Suci
“toilet teh”, kataku
Latihan pun kembali berlanjut dan kelompok yang tadi di pecah di jadikan 1, namun masih ada kekurangan pada tim kami, sekitar jam 16.30 latihan dan di hentikan.
“latihan hari ini cukup dulu, minggu depan kita ada latihan bareng sama sama SMP 12 dan SMA 6, kita latihannya di SMA 6, sekalian buat persiapan lomba di sana”, pak Wan
Kamipun membubarkan diri. Lalu kami kembali ke ruangan ekskul mengambil tas kami. Aku tidak langsung pulang melainkan diam di kantin, waktu itu kantin hanya ada abang jus yang masih stand by, jadi aku memesan jus untuk menghilangkan dahaga.
“kamu kenapa sih dek tadi?”, tanya teh Suci yang datang tiba-tiba dari belakang
“eh teh, ga ada apa-apa teh”, kataku
“ga usah bohong dek gua tau ada yang aneh sama lu tadi”, kata teh Suci
“beneran ga ada apa-apa teh”, kataku lalu duduk di bangku
“beneran ga da apa-apa ya? Jangan sampe bohong lu sama gua”, katanya
“kaga teh, im fine”, kataku
“gaya lu dek pake b.ing segala. Kelakuan lu kaya anak gaul”, katanya sambil menoyor kepalaku
“mau gimana kebiasaan ngobrol sama pak Josh gua”, kataku
“pantesan, gua sering denger ada anak kelas 2 yang enak di ajak ngobrol sama pak Josh, ternyata elu toh”, kata teh Suci sambil mencubit pipiku
“gua balik dulu lah, jangan balik malem-malem, kalo bisa langsung balik jangan lama-lama di sekolah kalo lu mau aman”, lanjutnya
“hah apaan?”, kataku
“kaga, dah gua balik”, teh Suci pun meninggalkan ku
“dasar gajelas lu teh”, kataku
Setelah habis minum jus, akupun bayar dan rasanya aku ingin pergi ke toilet. Toilet yang paling dekat posisinya di sebelah kantin. Saat ku langkahkan kaki
“stop”, suara “Silver” terdengar dari belakang
Saat ketengok ke belakang memang dia ada di sana sedang bediri. Aku melanjutkan langkahku tiba-tiba “silver” beerada di depanku membuat ku sedikit loncat kebelakang
“kenapa a?”, kata abang jus
“ga ada apa-apa bang”, kataku
Akupun melanjutkan jalanku melewati “silver”, setelah dari toilet akupun keluar. Aku kaget ada yang berdiri di depan pintu toilet.