- Beranda
- Stories from the Heart
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
...
TS
ayanorei
(HORROR) Kisah Untuk Malam Seratus Lilin - (Diary Gadis Bermata Indigo return)
Hallo All,
We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

We come back!!

thanks all for HT
Setelah sekian lama vakum di Kaskus dan hanya menulis di tempat lain. Akhirnya kami memutuskan kembali. Yap, Ayano dan Elisa kembali akan membagikan kisah kami di Kaskus.
Tadinya, kami tidak berpikir untuk kembali ke Kaskus, tapi ternyata banyak Inbox ke ID ini maupun ke ID Ayanokouji (yang sayangnya sedang bermasalah untuk Login) supaya kami mau kembali melanjutkan cerita di Kaskus ini. Jadi, here we are, we came back.
Post #1 ini akan khusus untuk INDEX. Cerita akan dimulai di Post selanjutnya.
Yang mau baca season 1 nya ada di sini
Quote:
INDEX
Kisah Pertama - Hantu Pembawa Janin
Kisah Kedua - Mereka Mengawasiku?
Kisah Ketiga - Lily (Bagian Pertama)
Kisah keempat - Lily (bagian kedua)
Kisah Kelima - Penguntit (bagian pertama)
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian Kedua)
Kisah Ketujuh - Possession (part 1)
Kisah Kedelapan - Possession (part 2)
Kisah Kesembilan - Mahluk di langit-langit
Kisah Kesepuluh - Susahnya kalau yang ngefans 'mereka'
Kisah Kesebelas - Hantu di gedung tua
Kisah Keduabelas - Ternyata
Kisah Ketigabelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (Bag pertama)
Kisah Keempatbelas - Jumat Kliwon tanggal 13 (bag kedua)
Kisah Kelimabelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (1)
Kisah Keenambelas - Kisah hantu di sekolah - Sri (2)
Kisah Ketujuhbelas - Kisah Hantu di Sekolah - Sri (3)
Kisah Kedelapanbelas - Kisah hantu di sekolah - Belum berakhir
Kisah Kesembilanbelas - Kisah hantu di sekolah - Cerita dari Bi Sumi (1)
Kisah Keduapuluh - Kisah Hantu Disekolah - Cerita dari Bi Sumi (2)
Kisah Keduapuluhsatu - Kisah hantu disekolah - Gangguan Dimulai Lagi
Kisah Keduapuluhdua - Kisah Hantu Disekolah - Terkuak
Kisah KeduapuluhTiga - Kisah Hantu Di Kantor - Prologue
Kisah KeduapuluhEmpat - Kisah Hantu Di Kantor - Putih, Hitam dan Ungu
Kisah KeduapuluhLima - Kisah Hantu di Kantor - Sidestory
Kisah Keduapuluhenam - Kisah hantu di Kantor - Resign
Kisah Keduapuluhtujuh - Kisah Hantu di Kantor - Kembali Bekerja (1)

Diubah oleh ayanorei 20-10-2017 13:04
scorpiolama dan 15 lainnya memberi reputasi
16
119.7K
Kutip
380
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayanorei
#88
Kisah Keenam - Penguntit (Bagian kedua)
Aku terbangun dengan rasa kelelahan yang masih kentara di seluruh tubuhku.
Begitu aku membuka mata, aku mendapati Ayano sedang menatapku dengan ekspresi khawatir.
"Ko? Kenapa......"
"Kamu nggak apa?"
"Eh?"
Kenapa aku sedang berbaring bersama Ayano??!!
Aku terkesiap bangun dan melihat sekeliling...
Aku baru menyadari aku berada satu kasur dengan Ayano.
Astaga, aku baru ingat kejadian kemarin. Aku menyusup masuk ke kamar Ayano dan tidur di dekatnya karena...
Mahluk di luar itu....
Dengan refleks aku melihat ke arah jendela dimana sosok itu menungguiku semalaman dan menghembuskan nafas lega ketika mahluk itu ternyata sudah tidak ada di sana.
"El?" panggil Ayano.
Aku berbalik dan mendapati dia masih menatapku dengan pandangan khawatir.
"Sorry... kemarin aku susah tidur..." kataku menjelaskan.
Ayano menggeleng "Nggak apa. Bukan itu yang koko mau tau. Tapi apa kamu nggak apa?"
Aku mengerenyitkan alisku, bingung.
Ayano mengelus pipiku "Kamu masih pucat, El.... apa kamu nggak apa?"
"Oh....?" aku beranjak dari kasur dan berlari kecil menuju cermin terdekat.
Oh... ampun....
Aku benar-benar terlihat kacau dan berantakan...
"Sorry ko...!" kataku sambil berlari menuju ke arah pintu, ingin melarikan diri secepatnya dari sana. Mana mungkin aku membiarkan Ayano melihat wajahku seperti ini.
"El.. tunggu!!" kata Ayano sambil buru-buru beranjak berdiri "Aw...!!" teriaknya ketika dia berdiri.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik. Ayano sedang meringis dan memegang bahunya.
Oh.... iya....
Arggh.... sudahlah...
Aku menyerah... biarlah Ayano melihat tampang seperti nenek lampir ini ... rutukku dalam hati.
Aku berjalan kembali mendekat ke Ayano "Ko? masih sakit lukanya? aku ganti perbannya ya....?" tanyaku sambil mendekatinya.
Ayano menangkap tanganku yang kuulurkan untuk menyentuh bahunya dan menarikku mendekat. "Nanti.... kamu kasihtau koko dulu, kamu kenapa semalam? apa yang bikin kamu takut? dan barusan kamu mau kemana?" desak Ayano.
Aku menggeliat ingin melepaskan diri dari pelukan Ayano, tapi dia tetap tidak bergeming.
"Aku malu tau... mukaku berantakan banget.... mau mandi..." keluhku sambil meminta dia melepaskan tangannya dari tanganku.
Dia melonggarkan tangannya yang memegang tanganku, tapi mengeratkan tangannya yang ada di pinggangku. "Ko.. lepas... aku mau periksa luka koko..." pintaku.
"Kasihtau dulu kamu kenapa kemarin malem..." desaknya lagi.
"Kan aku udah bilang - ...." Ayano menyentuh bibirku dengan tangannya dan menghentikan perkataanku. "Koko mau tau apa maksud kata-kata 'diluar.. diluar...' yang kamu sebutin selama kamu tidur..." tanya Ayano.
"Itu cuma...."
"El... please? kamu keringat dingin dan ngingau. Nggak mungkin cuma sesuatu yang nggak penting... kasihtau atau nggak koko lepas...."
Kalah... terpaksa aku mengatakan semua yang terjadi kemarin malam. Tentang mahluk yang terus mengikuti aku di luar... alasan mengenai kenapa aku menjadi masuk ke kamar Ayano.
"Kenapa kamu nggak bangunin koko....?" desak Ayano... lagi....
Aku tidak menjawab dan hanya menunjuk ke perban Ayano. Ayano berpikir sejenak dan mengerti apa maksudku "Oh... benar juga...."
"Udah? aku cek ya lukanya..." kataku.
Ayano menurut dan duduk di kasur, sementara aku membuka perbannya.
Dan aku menatap keanehan yang tidak dapat kupercaya di depan mataku.
Luka Ayano kemarin, saat aku mengobatinya sangat parah. Luka koyak yang masuk sampai sekitar 1/2 cm ke dalam dagingnya. Luka seperti terkena cakaran binatang buas. Ditambah dengan daging yang koyak.
Kalau bukan karena hari sudah larut, aku akan memaksa Ayano untuk pergi ke rumah sakit, tidak peduli apa yang akan dikatakan Dokter mengenai luka parah seperti cakaran binatang buas yang didapat di tengah-tengah kota seperti ini...
Tapi.. yang kulihat di depan mataku, adalah tiga goresan hitam, bagaikan bekas hangus yang melintang di sepanjang punggung Ayano..
Luka koyak itu sudah hilang sama sekali...
Aku menyentuh bekas luka itu... permukaan hangus itu terasa lebih kasar daripada lainnya...
"Essshhh...." Ayano meringis kesakitan ketika aku menyentuh garis hangus itu...
"Eh.. sorry... masih sakit ya?" tanyaku.
"Mayan... tambah parah nggak?" Ayano bertanya kembali.
"Aku... bingung mau bilang ini tambah parah atau enggak...."
Aku mendeskripsikan keadaan lukanya itu pada Ayano. Dia sama bingungnya denganku.
"Gimana ini ko?" tanyaku takut.
"Ya udah, mungkin nggak berarti apa-apa..." kata Ayano "Bisa aja memang sembuhnya cepet karena luka karena 'mereka' sih..."
"Tapi aku khawatir ntar jadi kenapa-kenapa..."
Ayano berpikir sejenak, kemudian akhirnya berkata "Kita telepon oma Elly saja?" tanyanya.
"Ah... iya.. bener itu ko!!!" teriakku.
Maka, setelah aku mandi dan bertukar baju, aku segera mendesak Ayano untuk menelepon nenek Elly.
Percakapan dengan nenek Elly tergolong singkat. Karena aku terlalu terburu-buru untuk mengetahui perihal mahluk yang mengikutiku dan terutama mengenai luka Ayano..
"Itu adalah mahluk pesunggihan... kamu sepertinya nggak sengaja mengganggu ritual atau nggak sengaja masuk ke daerah mangsa mahluk itu, Elisa" kata nenek Elly dengan tenang.
"Mengenai luka di punggung Ayano, kemungkinan mahluk itu adalah tipe mahluk yang memangsa benda hidup sampai jadi busuk atau mati. Tapi biasanya mangsanya itu adalah tumbuhan atau binatang. Apa kamu ketemu di deket yang banyak tumbuhan?"
"Iya, oma, pas aku jalan, di sebelahnya itu taman..."
"Berarti biasanya mahluk itu dilepas sama yang punya di taman itu. Untuk makan nyawa tumbuhan atau serangga. Nggak sengaja kamu memasuki wilayah dia sementara dia lagi dilepas untuk cari makan. Masalahnya, bau kamu itu akan bikin mereka bernafsu buat ngejar kamu, Elisa"
"Kalau makan nyawa... berarti...."
Sekarang aku ketakutan... apa berarti karena kecerobohanku kini nyawa Ayano jadi taruhannya? apa cakaran itu akan membuat Ayano mati?
"Elisa.. Elisa... jangan khawatir" kata nenek Elly menenangkan "Mahluk itu nggak sampai segitu bahayanya. Dia cuma bisa ambil nyawa serangga, nggak kuat untuk bunuh manusia. Tapi, tetap luka itu beracun. Harus dibersihkan"
"Racun?" aku merasa seluruh darah terhisap dari wajahku.
"Tenang, Elisa. Kamu hanya perlu cuci luka dengan air kelapa yang dicampur garam. Dan air kelapa yang masih baru, langsung dari buahnya yang dimasukkan garam ke dalamnya, supaya airnya masih murni, tidak tersentuh apapun yang sifatnya duniawi. Garamnya juga harus disendok dengan sendok yang bukan dari besi, cukup dua sendok saja, atau bisa langsung dituang saja ke kelapanya. Seharusnya setelah dicuci lukanya sudah tidak akan apa-apa..."
"Ohh..... baiklah... akan kucoba..."
"Dan satu lagi, Elisa. Kamu bilang mahluk itu mengikuti kamu?"
"I-iya, Oma..."
"Kalau begitu, kamu dan Ayano sama-sama dalam bahaya. Mahluk itu mungkin sudah mengenal bau kamu, jadi akan datang lagi mencari kamu malam ini. Sedangkan Ayano sudah kena sekali racun dari mahluk itu. Jangan sampai kena kedua kalinya"
"Kenapa, Oma?"
"Satu kali tidak akan membunuh, tapi Oma juga tidak tau kalau sampai kena lagi kedua kalinya..."
"Ohhh...." aku merasa seluruh badanku lemas ketika mendengar penjelasan dari nenek Elly.
"Elisa, kamu harus cepat bersihkan luka Ayano. Dan malam ini juga, mahluk itu pasti datang lagi mencari kamu. Hari ini kamu harus selesaikan...."
"Gimana caranya selesaiin, Oma?"
"Kasih teleponnya ke Ayano. Kamu nggak akan cukup kuat untuk ngelakuinnya..."
"Hah? ke koko?....."
"Iya"
"Tapi.. kata Oma, koko kan nggak boleh sampai kena lagi?....."
"Ya, memang nggak akan kena lagi"
"Kita harus tangkap mahluk itu, supaya tidak berani ganggu kalian lagi"
"Tapi..."
"Kasih handphonenya ke koko, El..." Ayano tiba-tiba berkata di sampingku "Koko udah denger. Sini, kasih ke koko, supaya kita tau cara ngatasin mahluk itu"
"Tapi, Ko...." rengekku
Ayano hanya memberiku senyuman setengah khasnya "Nggak apa. Justru ini kan supaya nggak kena bahaya lagi" katanya membujukku.
Dengan sedikit ragu aku menyerahkan ponselku pada Ayano. Kemudian dia berbicara dengan nenek Elly dan mengangguk-angguk seiring pembicaraan dan ekspresinya terlihat serius.
Sepertinya pembicaraan mereka masih akan berlangsung beberapa lama, oleh karena itu, aku menelepon Cindy dan meminta tolong padanya untuk mencarikan aku kelapa dan garam seperti yang diperintahkan oleh nenek Elly tadi. Aku sengaja tidak melibatkan Desy, karena meskipun dia selalu mencoba untuk menolong, tapi pada dasarnya, Desy juga tidak terlalu cocok dengan urusan dunia lain, seperti Ayano dulu...
Sementara itu, Ayano sepertinya sudah selesai menelepon nenek Elly, namun langsung melanjutkannya dengan menelepon temannya, aku mengenal suara William, temannya yang sudah dapat dikatakan hampir seperti saudara sendiri.
Aku hanya mendengar sedikit kata-kata Ayano, sesuatu seperti aquarium atau semacamnya.
Setelah selesai menelepon, Ayano berbalik kepadaku dan berkata "Ayo, kita sarapan dulu. Nanti malem baru kita perang"
"Perang?" tanyaku terkejut.
"Ya.. perang. Mahluk itu harus segera ditangani. Kalau tidak gawat untuk kita berdua"
Aku mengangguk dengan perasaan khawatir.
"Tenang El... kata oma Elly mahluk itu munculnya pasti malam, sama seperti kemarin" kata Ayano menenangkanku sambil berjalan ke dapur.
---
Selama seharian, aku dilanda kekhawatiran akan konfrontasi dengan mahluk itu lagi.
Dan ketika pada akhirnya jam mencapai jam sembilan malam, aku mulai ketakutan...
Ayano menyiapkan benda-benda yang diperintahkan oleh nenek Elly tepat di depan jendela ruang tengah. Tempat aku dan Ayano menunggu kedatangan mahluk itu.
Benda-benda itu ditumpuk di atas kursi dan ditutupi oleh kain hitam sehingga aku tidak tau apa isinya.
Tadi siang aku sudah membersihkan luka di punggung Ayano sesuai petunjuk yang kudapatkan dari nenek Elly. Dan itu bukan pengalaman yang dapat dikatakan menyenangkan bagiku.
Sesuai petunjuk, aku menuangkan garam ke dalam buah kelapa yang baru kubuka. Kemudian menuangkan air kelapa bercampur garam itu ke punggung Ayano.
Ayano meraung ketika luka menghitam di punggungnya terkena air kelapa bergaram itu. Asap hitam berbau busuk membubung ketika cairan itu mengenai bekas luka Ayano.
Ajaibnya, luka yang tadinya terlihat busuk dan menghitam itu mengelotok dan menyisakan luka baret kecil yang memanjang di punggung Ayano, luka yang tidak terlalu serius dibandingkan dengan luka koyak atau luka membusuk yang sebelumnya berada di sana.
Anehnya, kelapa yang airnya dipakai untuk membasahi luka di punggung Ayano kulitnya menjadi gelap dan sedikit berkerut. Seakan menyerap 'hangus' dari punggung Ayano itu.
'Teng..Teng..Teng...'
Suara jam mengagetkanku. Pukul 21:30 menit...
Dan tidak ada satupun tanda-tanda dari mahluk itu...
Aku melihat jam dinding....
lewat satu menit...
Dua menit...
"Ko? apa nggak datang ya dia?"
"Enggak tau juga.. tapi kata oma Elly, harusnya malam ini 'dia' bakal nyari kita lagi. Nyari kamu khususnya..." jawab Ayano.
"Tapi nggak ada yang datang.. udah mau jam sepuluh lho.." kataku.
Aku mulai merasakan kantuk dan bersender ke pundak Ayano ketika tiba-tiba mencium bau yang menyengat hidung. Bau wangi dan bau busuk yang seakan-akan saling berlomba menutupi bau satu sama lainnya.
"Ko...!!" aku berteriak kepada Ayano.
"Ya, koko juga cium... tapi koko nggak bisa lihat wujud mahluk itu.. apa dia sudah masuk?"
"Eh....? masuk??"
"Iya... koko buka jendela itu..." kata Ayano sambil menunjuk jendela di depan kami.
"Hahh!!!??" teriakku terkejut.
Dan bersamaan dengan teriakanku, aku mendengar bunyi 'kresek' ringan dari jendela.
"Ko!!" seruku sambil menggenggam erat lengan Ayano.
"Dia masuk ya?" bisik Ayano "Kasih kode koko kalau dia udah deket sama 'kurungan' itu..." kata Ayano sambil menunjuk ke arah benda yang ditutupi kain hitam itu.
Aku menelan ludah dan mengangguk.
Perlahan-lahan, aku bisa melihat kaki dari mahluk itu yang berwarna hitam pekat dan berbentuk seperti kaki manusia kecuali jarinya yang banyak. Entahlah, aku tidak sempat menghitungnya, tapi mungkin sekitar tujuh atau delapan jadi di satu kaki dan semuanya berkuku melengkung seperti cakar.
Kemudian keseluruhan tubuh mahluk itu keluar dari balik gorden.
![kaskus-image]()
Mahluk itu berdiri kurang lebih dua sampai tiga meter di depanku.
Dia berbentuk seperti manusia, kecuali tubuhnya yang hitam bagaikan arang dan berkerak-kerak seolah seluruh tubuhnya ditempeli oleh lumpur yang sudah mengering.
Tangannya panjang dan ramping, berkebalikan dengan kakinya yang berjari banyak, aku hanya melihat ada tiga jari yang besarnya sama di tangannya. Namun, kuku yang ada di jari-jari tangannya lebih panjang dan lurus, bagaikan pisau. Kuku itu berkilat keunguan berbahaya.
Kuku itulah yang melukai punggung Ayano... pikirku dalam hati.
Mahluk itu memakai cawat terkoyak-koyak yang tidak mampu menutupi (maaf) kemaluannya yang... (maaf sekali lagi) berbentuk aneh, selayaknya kemaluan lelaki yang terpelintir dan membusuk dengan bentol-bentol kemerahan di sekujurnya. Hal itu membuatku hampir muntah dan mengalihkan mataku dari sosok mahluk itu dengan menyembunyikan mukaku di balik tubuh Ayano.
"Lis?" bisik Ayano.
"Dia... masih berdiri di depan situ..." balasku berbisik.
Kemudian padanganku sampai ke bagian wajah mahluk itu.
Aku baru menyadari, kalau mahluk itu memiliki rambut, dan bahkan rambutnya cukup panjang dan mengembang bagaikan surai singa. Namun, warnanya sangat terang keperakan dan cenderung transparan hingga hampir tidak terlihat kecuali kalau melihat langsung yang berada di kepalanya. Rambut itu berkilauan indah, kontras dengan wajah mahluk itu yang sukses membuatku bermimpi buruk selama beberapa hari.
Mulai dari giginya, gigi mahluk seperti gigi manusia yang tumbuh tidak beraturan dan membusuk hingga terlihat kekuningan dan beberapa diantaranya bahkan berwarna kehijauan. Mahluk itu tidak memiliki bibir, malahan dengan mengerikan, sekeliling mulut mahluk itu dipenuhi oleh daging yang berwarna kemerahan dengan kulit terkoyak.
Hidung mahluk itu tidak kalah mengerikannya dengan bentuk bagaikan hidung manusia yang dipotong separuh, menyisakan dua lubang yang dikelilingi oleh daging yang terlihat masih basah oleh darah.
Hal terakhir adalah mata mahluk itu....
Matanya yang jauh lebih besar dari mata manusia, kurang lebih sebesar telur Ayam, memenuhi sebagian besar kepalanya. Manik matanya terlihat tidak dapat diam, dan bergerak dengan liar seakan mempelajari seluruh tubuhku dan Ayano. Manik mata itulah yang selalu muncul dalam mimpiku. Dengan gerakan liarnya, keatas, bawah, kiri, kanan dengan cepat dan selalu bergerak, membuatku seakan sedang diawasi penuh oleh mahluk mengerikan itu....
"Grooaakkkk!!!" Mahluk itu mengeluarkan suara bagaikan suara kodok namun lebih serak lagi.
Dan mulai melangkah mendekati kami, sambil menghunuskan jari-jari penuh cakarnya di depan dadanya.
"Ko... dia ngedeket..." kataku.
"Kasihtau kalau dia udah semeter dari itu.." kata Ayano, kembali menunjuk benda yang tertutup kain itu.
Mahluk itu terus melangkah, dan semakin dia mendekat, kedua bau yang tajam dan saling berlawanan itupun makin tercium olehku.
Sampai akhirnya mahluk itu hampir menabrak benda yang ditutup itulah, aku menarik lengan baju Ayano dan berkata "Dia udah disampingnya ko!!" teriakku panik.
Dengan cepat, Ayano menarik ujung dari kain hitam yang menutup benda yang diletakkan di atas kursi itu.
Sebuah akuarium.
Dengan cermin di dalamnya.
"GROAAK!!??"
Aku hampir tidak percaya dengan penglihatanku ketika mahluk itu seakan 'tercebur' dan menghilang ke dalam akuarium itu. Membuat akuarium itu bergetar dengan tidak wajar.
"Lis? udah masuk?!" tanya Ayano sambil berdiri.
"Eh?? ah... iya ko... udah!! udah masuk!!" teriakku.
Ayano langsung berlari dan menyambar akuarium itu.
Kemudian berlari ke toilet kami dan menyiram akuarium itu dengan (mohon maaf sekali lagi) air berwarna kekuningan yang belakangan kuketahui sebagai air seni.
Akuarium itu bergetar makin kencang ketika terkena basahan air itu, dan kemudian pecah...
Dan aku menyadari sesuatu yang janggal... Aku memperhatikan pecahan kaca akuarium yang berserakan, dan menyadari, cermin yang tadinya berada di dalam akuarium itu menghilang entah kemana...
"Sudah beres...." Ayano berkata.
Aku masih terdiam bahkan setelah Ayano menyakinkanku beberapa kali dan terus memaksa Ayano untuk menemaniku duduk di ruang itu.
Sampai akhirnya aku tertidur karena kelelahan..
Keesokan paginya, Ayano membangunkanku dan mengajakku ke ruang tengah. Di sana dia menunjuk ke kursi yang kemarin kami gunakan untuk meletakkan akuarium 'pengurung' mahluk itu.
Di sana, di atas kursi itu kini terletak sebuah wadah kecil dari kaca, yang berisikan cairan berwarna keemasan.
Ayano mengambil wadah itu dan menunjukkannya padaku...
Di dalamnya terdapat dua bunga kecil berwarna putih dan sebilah bentuk seperti keris yang luar biasa kecil, kira-kira hanya seukuran dua ruas jariku.
Benda tersebut membuat perasaanku tidak enak, jadi kami memutuskan untuk mengirimkannya pada nenek Elly. Yang kurang lebih diterima oleh beliau beberapa hari kemudian, dan dinamakan oleh nenek Elly : mustika bunga kantil dan Keris Hyang Mot...
Sampai sekarang, ketika nenek Elly sudah meninggal pun, aku dan Ayano tidak mengerti arti dan kegunaan benda itu..
Spoiler for Penguntit - Bagian kedua:
Aku terbangun dengan rasa kelelahan yang masih kentara di seluruh tubuhku.
Begitu aku membuka mata, aku mendapati Ayano sedang menatapku dengan ekspresi khawatir.
"Ko? Kenapa......"
"Kamu nggak apa?"
"Eh?"
Kenapa aku sedang berbaring bersama Ayano??!!
Aku terkesiap bangun dan melihat sekeliling...
Aku baru menyadari aku berada satu kasur dengan Ayano.
Astaga, aku baru ingat kejadian kemarin. Aku menyusup masuk ke kamar Ayano dan tidur di dekatnya karena...
Mahluk di luar itu....
Dengan refleks aku melihat ke arah jendela dimana sosok itu menungguiku semalaman dan menghembuskan nafas lega ketika mahluk itu ternyata sudah tidak ada di sana.
"El?" panggil Ayano.
Aku berbalik dan mendapati dia masih menatapku dengan pandangan khawatir.
"Sorry... kemarin aku susah tidur..." kataku menjelaskan.
Ayano menggeleng "Nggak apa. Bukan itu yang koko mau tau. Tapi apa kamu nggak apa?"
Aku mengerenyitkan alisku, bingung.
Ayano mengelus pipiku "Kamu masih pucat, El.... apa kamu nggak apa?"
"Oh....?" aku beranjak dari kasur dan berlari kecil menuju cermin terdekat.
Oh... ampun....
Aku benar-benar terlihat kacau dan berantakan...
"Sorry ko...!" kataku sambil berlari menuju ke arah pintu, ingin melarikan diri secepatnya dari sana. Mana mungkin aku membiarkan Ayano melihat wajahku seperti ini.
"El.. tunggu!!" kata Ayano sambil buru-buru beranjak berdiri "Aw...!!" teriaknya ketika dia berdiri.
Aku menghentikan langkahku dan berbalik. Ayano sedang meringis dan memegang bahunya.
Oh.... iya....
Arggh.... sudahlah...
Aku menyerah... biarlah Ayano melihat tampang seperti nenek lampir ini ... rutukku dalam hati.
Aku berjalan kembali mendekat ke Ayano "Ko? masih sakit lukanya? aku ganti perbannya ya....?" tanyaku sambil mendekatinya.
Ayano menangkap tanganku yang kuulurkan untuk menyentuh bahunya dan menarikku mendekat. "Nanti.... kamu kasihtau koko dulu, kamu kenapa semalam? apa yang bikin kamu takut? dan barusan kamu mau kemana?" desak Ayano.
Aku menggeliat ingin melepaskan diri dari pelukan Ayano, tapi dia tetap tidak bergeming.
"Aku malu tau... mukaku berantakan banget.... mau mandi..." keluhku sambil meminta dia melepaskan tangannya dari tanganku.
Dia melonggarkan tangannya yang memegang tanganku, tapi mengeratkan tangannya yang ada di pinggangku. "Ko.. lepas... aku mau periksa luka koko..." pintaku.
"Kasihtau dulu kamu kenapa kemarin malem..." desaknya lagi.
"Kan aku udah bilang - ...." Ayano menyentuh bibirku dengan tangannya dan menghentikan perkataanku. "Koko mau tau apa maksud kata-kata 'diluar.. diluar...' yang kamu sebutin selama kamu tidur..." tanya Ayano.
"Itu cuma...."
"El... please? kamu keringat dingin dan ngingau. Nggak mungkin cuma sesuatu yang nggak penting... kasihtau atau nggak koko lepas...."
Kalah... terpaksa aku mengatakan semua yang terjadi kemarin malam. Tentang mahluk yang terus mengikuti aku di luar... alasan mengenai kenapa aku menjadi masuk ke kamar Ayano.
"Kenapa kamu nggak bangunin koko....?" desak Ayano... lagi....
Aku tidak menjawab dan hanya menunjuk ke perban Ayano. Ayano berpikir sejenak dan mengerti apa maksudku "Oh... benar juga...."
"Udah? aku cek ya lukanya..." kataku.
Ayano menurut dan duduk di kasur, sementara aku membuka perbannya.
Dan aku menatap keanehan yang tidak dapat kupercaya di depan mataku.
Luka Ayano kemarin, saat aku mengobatinya sangat parah. Luka koyak yang masuk sampai sekitar 1/2 cm ke dalam dagingnya. Luka seperti terkena cakaran binatang buas. Ditambah dengan daging yang koyak.
Kalau bukan karena hari sudah larut, aku akan memaksa Ayano untuk pergi ke rumah sakit, tidak peduli apa yang akan dikatakan Dokter mengenai luka parah seperti cakaran binatang buas yang didapat di tengah-tengah kota seperti ini...
Tapi.. yang kulihat di depan mataku, adalah tiga goresan hitam, bagaikan bekas hangus yang melintang di sepanjang punggung Ayano..
Luka koyak itu sudah hilang sama sekali...
Aku menyentuh bekas luka itu... permukaan hangus itu terasa lebih kasar daripada lainnya...
"Essshhh...." Ayano meringis kesakitan ketika aku menyentuh garis hangus itu...
"Eh.. sorry... masih sakit ya?" tanyaku.
"Mayan... tambah parah nggak?" Ayano bertanya kembali.
"Aku... bingung mau bilang ini tambah parah atau enggak...."
Aku mendeskripsikan keadaan lukanya itu pada Ayano. Dia sama bingungnya denganku.
"Gimana ini ko?" tanyaku takut.
"Ya udah, mungkin nggak berarti apa-apa..." kata Ayano "Bisa aja memang sembuhnya cepet karena luka karena 'mereka' sih..."
"Tapi aku khawatir ntar jadi kenapa-kenapa..."
Ayano berpikir sejenak, kemudian akhirnya berkata "Kita telepon oma Elly saja?" tanyanya.
"Ah... iya.. bener itu ko!!!" teriakku.
Maka, setelah aku mandi dan bertukar baju, aku segera mendesak Ayano untuk menelepon nenek Elly.
Percakapan dengan nenek Elly tergolong singkat. Karena aku terlalu terburu-buru untuk mengetahui perihal mahluk yang mengikutiku dan terutama mengenai luka Ayano..
"Itu adalah mahluk pesunggihan... kamu sepertinya nggak sengaja mengganggu ritual atau nggak sengaja masuk ke daerah mangsa mahluk itu, Elisa" kata nenek Elly dengan tenang.
"Mengenai luka di punggung Ayano, kemungkinan mahluk itu adalah tipe mahluk yang memangsa benda hidup sampai jadi busuk atau mati. Tapi biasanya mangsanya itu adalah tumbuhan atau binatang. Apa kamu ketemu di deket yang banyak tumbuhan?"
"Iya, oma, pas aku jalan, di sebelahnya itu taman..."
"Berarti biasanya mahluk itu dilepas sama yang punya di taman itu. Untuk makan nyawa tumbuhan atau serangga. Nggak sengaja kamu memasuki wilayah dia sementara dia lagi dilepas untuk cari makan. Masalahnya, bau kamu itu akan bikin mereka bernafsu buat ngejar kamu, Elisa"
"Kalau makan nyawa... berarti...."
Sekarang aku ketakutan... apa berarti karena kecerobohanku kini nyawa Ayano jadi taruhannya? apa cakaran itu akan membuat Ayano mati?
"Elisa.. Elisa... jangan khawatir" kata nenek Elly menenangkan "Mahluk itu nggak sampai segitu bahayanya. Dia cuma bisa ambil nyawa serangga, nggak kuat untuk bunuh manusia. Tapi, tetap luka itu beracun. Harus dibersihkan"
"Racun?" aku merasa seluruh darah terhisap dari wajahku.
"Tenang, Elisa. Kamu hanya perlu cuci luka dengan air kelapa yang dicampur garam. Dan air kelapa yang masih baru, langsung dari buahnya yang dimasukkan garam ke dalamnya, supaya airnya masih murni, tidak tersentuh apapun yang sifatnya duniawi. Garamnya juga harus disendok dengan sendok yang bukan dari besi, cukup dua sendok saja, atau bisa langsung dituang saja ke kelapanya. Seharusnya setelah dicuci lukanya sudah tidak akan apa-apa..."
"Ohh..... baiklah... akan kucoba..."
"Dan satu lagi, Elisa. Kamu bilang mahluk itu mengikuti kamu?"
"I-iya, Oma..."
"Kalau begitu, kamu dan Ayano sama-sama dalam bahaya. Mahluk itu mungkin sudah mengenal bau kamu, jadi akan datang lagi mencari kamu malam ini. Sedangkan Ayano sudah kena sekali racun dari mahluk itu. Jangan sampai kena kedua kalinya"
"Kenapa, Oma?"
"Satu kali tidak akan membunuh, tapi Oma juga tidak tau kalau sampai kena lagi kedua kalinya..."
"Ohhh...." aku merasa seluruh badanku lemas ketika mendengar penjelasan dari nenek Elly.
"Elisa, kamu harus cepat bersihkan luka Ayano. Dan malam ini juga, mahluk itu pasti datang lagi mencari kamu. Hari ini kamu harus selesaikan...."
"Gimana caranya selesaiin, Oma?"
"Kasih teleponnya ke Ayano. Kamu nggak akan cukup kuat untuk ngelakuinnya..."
"Hah? ke koko?....."
"Iya"
"Tapi.. kata Oma, koko kan nggak boleh sampai kena lagi?....."
"Ya, memang nggak akan kena lagi"
"Kita harus tangkap mahluk itu, supaya tidak berani ganggu kalian lagi"
"Tapi..."
"Kasih handphonenya ke koko, El..." Ayano tiba-tiba berkata di sampingku "Koko udah denger. Sini, kasih ke koko, supaya kita tau cara ngatasin mahluk itu"
"Tapi, Ko...." rengekku
Ayano hanya memberiku senyuman setengah khasnya "Nggak apa. Justru ini kan supaya nggak kena bahaya lagi" katanya membujukku.
Dengan sedikit ragu aku menyerahkan ponselku pada Ayano. Kemudian dia berbicara dengan nenek Elly dan mengangguk-angguk seiring pembicaraan dan ekspresinya terlihat serius.
Sepertinya pembicaraan mereka masih akan berlangsung beberapa lama, oleh karena itu, aku menelepon Cindy dan meminta tolong padanya untuk mencarikan aku kelapa dan garam seperti yang diperintahkan oleh nenek Elly tadi. Aku sengaja tidak melibatkan Desy, karena meskipun dia selalu mencoba untuk menolong, tapi pada dasarnya, Desy juga tidak terlalu cocok dengan urusan dunia lain, seperti Ayano dulu...
Sementara itu, Ayano sepertinya sudah selesai menelepon nenek Elly, namun langsung melanjutkannya dengan menelepon temannya, aku mengenal suara William, temannya yang sudah dapat dikatakan hampir seperti saudara sendiri.
Aku hanya mendengar sedikit kata-kata Ayano, sesuatu seperti aquarium atau semacamnya.
Setelah selesai menelepon, Ayano berbalik kepadaku dan berkata "Ayo, kita sarapan dulu. Nanti malem baru kita perang"
"Perang?" tanyaku terkejut.
"Ya.. perang. Mahluk itu harus segera ditangani. Kalau tidak gawat untuk kita berdua"
Aku mengangguk dengan perasaan khawatir.
"Tenang El... kata oma Elly mahluk itu munculnya pasti malam, sama seperti kemarin" kata Ayano menenangkanku sambil berjalan ke dapur.
---
Selama seharian, aku dilanda kekhawatiran akan konfrontasi dengan mahluk itu lagi.
Dan ketika pada akhirnya jam mencapai jam sembilan malam, aku mulai ketakutan...
Ayano menyiapkan benda-benda yang diperintahkan oleh nenek Elly tepat di depan jendela ruang tengah. Tempat aku dan Ayano menunggu kedatangan mahluk itu.
Benda-benda itu ditumpuk di atas kursi dan ditutupi oleh kain hitam sehingga aku tidak tau apa isinya.
Tadi siang aku sudah membersihkan luka di punggung Ayano sesuai petunjuk yang kudapatkan dari nenek Elly. Dan itu bukan pengalaman yang dapat dikatakan menyenangkan bagiku.
Sesuai petunjuk, aku menuangkan garam ke dalam buah kelapa yang baru kubuka. Kemudian menuangkan air kelapa bercampur garam itu ke punggung Ayano.
Ayano meraung ketika luka menghitam di punggungnya terkena air kelapa bergaram itu. Asap hitam berbau busuk membubung ketika cairan itu mengenai bekas luka Ayano.
Ajaibnya, luka yang tadinya terlihat busuk dan menghitam itu mengelotok dan menyisakan luka baret kecil yang memanjang di punggung Ayano, luka yang tidak terlalu serius dibandingkan dengan luka koyak atau luka membusuk yang sebelumnya berada di sana.
Anehnya, kelapa yang airnya dipakai untuk membasahi luka di punggung Ayano kulitnya menjadi gelap dan sedikit berkerut. Seakan menyerap 'hangus' dari punggung Ayano itu.
'Teng..Teng..Teng...'
Suara jam mengagetkanku. Pukul 21:30 menit...
Dan tidak ada satupun tanda-tanda dari mahluk itu...
Aku melihat jam dinding....
lewat satu menit...
Dua menit...
"Ko? apa nggak datang ya dia?"
"Enggak tau juga.. tapi kata oma Elly, harusnya malam ini 'dia' bakal nyari kita lagi. Nyari kamu khususnya..." jawab Ayano.
"Tapi nggak ada yang datang.. udah mau jam sepuluh lho.." kataku.
Aku mulai merasakan kantuk dan bersender ke pundak Ayano ketika tiba-tiba mencium bau yang menyengat hidung. Bau wangi dan bau busuk yang seakan-akan saling berlomba menutupi bau satu sama lainnya.
"Ko...!!" aku berteriak kepada Ayano.
"Ya, koko juga cium... tapi koko nggak bisa lihat wujud mahluk itu.. apa dia sudah masuk?"
"Eh....? masuk??"
"Iya... koko buka jendela itu..." kata Ayano sambil menunjuk jendela di depan kami.
"Hahh!!!??" teriakku terkejut.
Dan bersamaan dengan teriakanku, aku mendengar bunyi 'kresek' ringan dari jendela.
"Ko!!" seruku sambil menggenggam erat lengan Ayano.
"Dia masuk ya?" bisik Ayano "Kasih kode koko kalau dia udah deket sama 'kurungan' itu..." kata Ayano sambil menunjuk ke arah benda yang ditutupi kain hitam itu.
Aku menelan ludah dan mengangguk.
Perlahan-lahan, aku bisa melihat kaki dari mahluk itu yang berwarna hitam pekat dan berbentuk seperti kaki manusia kecuali jarinya yang banyak. Entahlah, aku tidak sempat menghitungnya, tapi mungkin sekitar tujuh atau delapan jadi di satu kaki dan semuanya berkuku melengkung seperti cakar.
Kemudian keseluruhan tubuh mahluk itu keluar dari balik gorden.
Mahluk itu berdiri kurang lebih dua sampai tiga meter di depanku.
Dia berbentuk seperti manusia, kecuali tubuhnya yang hitam bagaikan arang dan berkerak-kerak seolah seluruh tubuhnya ditempeli oleh lumpur yang sudah mengering.
Tangannya panjang dan ramping, berkebalikan dengan kakinya yang berjari banyak, aku hanya melihat ada tiga jari yang besarnya sama di tangannya. Namun, kuku yang ada di jari-jari tangannya lebih panjang dan lurus, bagaikan pisau. Kuku itu berkilat keunguan berbahaya.
Kuku itulah yang melukai punggung Ayano... pikirku dalam hati.
Mahluk itu memakai cawat terkoyak-koyak yang tidak mampu menutupi (maaf) kemaluannya yang... (maaf sekali lagi) berbentuk aneh, selayaknya kemaluan lelaki yang terpelintir dan membusuk dengan bentol-bentol kemerahan di sekujurnya. Hal itu membuatku hampir muntah dan mengalihkan mataku dari sosok mahluk itu dengan menyembunyikan mukaku di balik tubuh Ayano.
"Lis?" bisik Ayano.
"Dia... masih berdiri di depan situ..." balasku berbisik.
Kemudian padanganku sampai ke bagian wajah mahluk itu.
Aku baru menyadari, kalau mahluk itu memiliki rambut, dan bahkan rambutnya cukup panjang dan mengembang bagaikan surai singa. Namun, warnanya sangat terang keperakan dan cenderung transparan hingga hampir tidak terlihat kecuali kalau melihat langsung yang berada di kepalanya. Rambut itu berkilauan indah, kontras dengan wajah mahluk itu yang sukses membuatku bermimpi buruk selama beberapa hari.
Mulai dari giginya, gigi mahluk seperti gigi manusia yang tumbuh tidak beraturan dan membusuk hingga terlihat kekuningan dan beberapa diantaranya bahkan berwarna kehijauan. Mahluk itu tidak memiliki bibir, malahan dengan mengerikan, sekeliling mulut mahluk itu dipenuhi oleh daging yang berwarna kemerahan dengan kulit terkoyak.
Hidung mahluk itu tidak kalah mengerikannya dengan bentuk bagaikan hidung manusia yang dipotong separuh, menyisakan dua lubang yang dikelilingi oleh daging yang terlihat masih basah oleh darah.
Hal terakhir adalah mata mahluk itu....
Matanya yang jauh lebih besar dari mata manusia, kurang lebih sebesar telur Ayam, memenuhi sebagian besar kepalanya. Manik matanya terlihat tidak dapat diam, dan bergerak dengan liar seakan mempelajari seluruh tubuhku dan Ayano. Manik mata itulah yang selalu muncul dalam mimpiku. Dengan gerakan liarnya, keatas, bawah, kiri, kanan dengan cepat dan selalu bergerak, membuatku seakan sedang diawasi penuh oleh mahluk mengerikan itu....
"Grooaakkkk!!!" Mahluk itu mengeluarkan suara bagaikan suara kodok namun lebih serak lagi.
Dan mulai melangkah mendekati kami, sambil menghunuskan jari-jari penuh cakarnya di depan dadanya.
"Ko... dia ngedeket..." kataku.
"Kasihtau kalau dia udah semeter dari itu.." kata Ayano, kembali menunjuk benda yang tertutup kain itu.
Mahluk itu terus melangkah, dan semakin dia mendekat, kedua bau yang tajam dan saling berlawanan itupun makin tercium olehku.
Sampai akhirnya mahluk itu hampir menabrak benda yang ditutup itulah, aku menarik lengan baju Ayano dan berkata "Dia udah disampingnya ko!!" teriakku panik.
Dengan cepat, Ayano menarik ujung dari kain hitam yang menutup benda yang diletakkan di atas kursi itu.
Sebuah akuarium.
Dengan cermin di dalamnya.
"GROAAK!!??"
Aku hampir tidak percaya dengan penglihatanku ketika mahluk itu seakan 'tercebur' dan menghilang ke dalam akuarium itu. Membuat akuarium itu bergetar dengan tidak wajar.
"Lis? udah masuk?!" tanya Ayano sambil berdiri.
"Eh?? ah... iya ko... udah!! udah masuk!!" teriakku.
Ayano langsung berlari dan menyambar akuarium itu.
Kemudian berlari ke toilet kami dan menyiram akuarium itu dengan (mohon maaf sekali lagi) air berwarna kekuningan yang belakangan kuketahui sebagai air seni.
Akuarium itu bergetar makin kencang ketika terkena basahan air itu, dan kemudian pecah...
Dan aku menyadari sesuatu yang janggal... Aku memperhatikan pecahan kaca akuarium yang berserakan, dan menyadari, cermin yang tadinya berada di dalam akuarium itu menghilang entah kemana...
"Sudah beres...." Ayano berkata.
Aku masih terdiam bahkan setelah Ayano menyakinkanku beberapa kali dan terus memaksa Ayano untuk menemaniku duduk di ruang itu.
Sampai akhirnya aku tertidur karena kelelahan..
Keesokan paginya, Ayano membangunkanku dan mengajakku ke ruang tengah. Di sana dia menunjuk ke kursi yang kemarin kami gunakan untuk meletakkan akuarium 'pengurung' mahluk itu.
Di sana, di atas kursi itu kini terletak sebuah wadah kecil dari kaca, yang berisikan cairan berwarna keemasan.
Ayano mengambil wadah itu dan menunjukkannya padaku...
Di dalamnya terdapat dua bunga kecil berwarna putih dan sebilah bentuk seperti keris yang luar biasa kecil, kira-kira hanya seukuran dua ruas jariku.
Benda tersebut membuat perasaanku tidak enak, jadi kami memutuskan untuk mengirimkannya pada nenek Elly. Yang kurang lebih diterima oleh beliau beberapa hari kemudian, dan dinamakan oleh nenek Elly : mustika bunga kantil dan Keris Hyang Mot...
Sampai sekarang, ketika nenek Elly sudah meninggal pun, aku dan Ayano tidak mengerti arti dan kegunaan benda itu..
2
Kutip
Balas